The magic of tea

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Minggu sore aku bersama anak-anak meluncur ke kedai teh lare solo untuk bergabung dengan teman-teman mengikuti acara "The magic of tea". Wow.... acaranya pasti seru seperti yang pernah kuikuti di Bogor beberapa tahun lalu. Kalau dulu di Bogor mendengarkan bersama acara kopdar KV Jabodetabek, maka kali ini aku bergabung bersama KV Jogja.

Seperti biasa mas Bambang langsung ke inti acara, acara bertahuk "The magic of tes" inipun mengalir dengan sangat lancar, tahu-tahu sudah maghrib dan aku harus meninggalkan acara ini.

Read more… 532 more words

Setelah melewati proses penelitian, para ilmuwan akhirnya memiliki penjelasan mengapa teh hijau baik untuk otak. Menurut para ilmuwan, hal itu terletak pada sifat kimia dari teh hijau yang bisa mempengaruhi produksi sel-sel otak, sehingga bisa meningkatkan memori dan pembelajaran. Hari ini kita mendapat ilmu teh dari pakar teh mas Bambang Lare Solo dalam acara The magic of tea. Tulisan mas Bambang ada juga di blog ini, silahkan simak disini., judulnya Teh-wangi-melati-teh-hijau-atau-teh-hitam.

DERU UGM tiba di Jakarta

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Tim DERU UGM tiba di Jakarta hari ini. Tim yang sudah terbiasa menangani masalah bencana ini akan mulai bergerak setelah bekerja sama dengan tim lainnya yang sudah lebih dulu ada di lokasi dan sudah bergerak dengan sistem kerja masing-masing. DERU adalah singkatan dari Disaster Response Unit yang dibentuk khusus untuk menangani bencana yang ada dan mendokumentasikannya sebagai pembelajaran untuk penanganan selanjutnya.

Read more… 474 more words

Mari kita peduli kepada para korban Banjir Jakarta. Salurkan bantuan anda melalui rekening UGM Peduli Bencana, atas nama Rektor UGM di Bank Mandiri dengan no rekening 137.0000.767.778 (SWIFT Code: BMRIIDJA)

Peduli Banjir Jakarta

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post

Gerakan Peduli Banjir Jakarta langsung terbentuk sore ini begitu melihat kondisi lapangan yang makin memprihatinkan. Berita perkembangan terbaru dari BMKG mengindikasikan hujan dan banjir akan terus berlangsung selama tiga hari ke depan. Diperkirakan keadaan banjir akan terus berlangsung esok hari dan mungkin akan lebih buruk dari hari ini. Joko Wi juga sudah mengumumkan kondisi Jakarta ada pada status kondisi tanggap darurat. 

Read more… 298 more words

Rekening Kagama Virtual (KV) Peduli Banjir Jakarta : BCA An. Heni Hendriyati. No. 8990369934. (konfirmasi pengiriman dana via SMS ke ponsel Heni 08158207176) Rekn. Mandiri a.n AA Sagung Indriani Oka. No. 1660.0002.07498. (konfirmasi pengiriman dana via SMS ke ponsel Indri 081804050864)

Potret Wanita dalam "7 Jendela Kaca"

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Potret Wanita dalam "7 Jendela Kaca" tampil dengan apik di Taman Budaya Yogyakarta, 11-12 Januari 2013. Selama dua hari para penonton disuguhi dua pementasan yang sama persis, meskipun di sana-sini ada detil yang berbeda. Hari pertama pementasan biasanya bisa juga merupakan gladi resik untuk pementasan hari ke dua, sehingga pada hari ke dua akan muncul beberapa perubahan di beberapa detil adegan.

Read more… 610 more words

Mbah Gati sutradara Teater Gadjah Mada akhirnya sukses mementaskan 7 Jendela Kaca di TBY (Taman Budaya Yogyakarta), 11-12 Januari 2013. Menyusul nanti di kota-kota lain. +++ koran KR 7 Jendela Kaca 800 x 600

Menghijaukan Merapi

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Tanggal 9 Desember 2012 lalu, rombongan "pecinta alam" dari berbagai fakultas, berbagai tingkatan umur dan berbagai macam model tingkah lakunya, tumplek bleg di lereng Merapi dengan satu tujuan "menghijaukan Merapi". Beberapa bis mengangkut rombongan itu dengan didahului oleh pembuka jalan, sehingga perjalanan menjadi sangat lancar. Sayangnya bis nomor 15 yang kunaiki mengalami gangguan pada filter solarnya. Akibatnya kita menyerah dan turun dari bis untuk pindah ke bis lain.

Read more… 721 more words

Salut buat para aktifis Kagama Virtual yang sudah melakukan kegiatan nyata mengkampanyekan gerakan ''Satu Pohon, Satu Alumni'' dan memperkenalkan pentingnya pendidikan lingkungan hidup kepada orang tua dan anak-anak. Kegiatan ini diharapkan akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang betapa pentingnya mengubah gaya hidup yang lebih pro lingkungan dalam upaya mengurangi carbon footprint (jejak karbon).   Gunung Merapi

Kagama Night : Dadang masih seperti yang dulu

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

25 tahun lalu aku sering nonton Dadang menyanyikan lagu-lagu Queen, seperti penonton lain, akupun ikut jingkrak-jingkrak. Tak nyana hari ini aku ikut acara Kagama Night dan melihat Dadang masih seperti dulu. Vocal yang penuh dan stamina yang masih belum banyak berubah, meskipun nafas mungkin sudah tidak sepanjang dulu.

Beberapa lagu dilantunkan dan harus diakui Dadang menyanyi dengan hati. Banyak teman lamanya muncul malam ini dan itu membuat nyanyiannya menjadi lebih bermakna.

Read more… 517 more words

Tembang-tembang lawaspun memenuhi Gelanggang Mahasiswa dan panitia Kagama Goes Green seperti mendapat pelampiasan akan capeknya menjadi panitia dan capeknya melakukan perjalanan tanpa banyak istirahat. Sejak sore mereka sudah bekerja keras mengatur peserta yang naik kereta api Taksaka dan kini ketika kelelahan itu bertemu dengan vocal Dadang, maka lupalah mereka akan lelahnya badan.

#SinauSEO : Page Rank (PR) 4

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Kulihat sisi kanan blogku, dibawah ajakan follow twitterku ada petunjuk nilai Page Rank (PR) 4. Wah rupanya nilai PR-ku balik lagi ke angka 4, setelah sempat turun ke angka 3.

Selama ini banyak blogger yang mencoba mengejar page rank dengan berbagai cara. Mulai dari ilmu putih, abu-abu sampai ilmu hitam. Dengan ilmu putih, memang PR akan sangat lama didapat. Apalagi kalau kita malas melakukan update isi blog.

Read more… 571 more words

Selama ini banyak blogger yang mencoba mengejar page rank dengan berbagai cara. Mulai dari ilmu putih, abu-abu sampai ilmu hitam. Dengan ilmu putih, memang PR akan sangat lama didapat. Apalagi kalau kita malas melakukan update isi blog. Kisah mendapat PR tinggi tentu hanya menjadi impian saja.

Dekontaminasi ala Ariya Hidayat

Reblogged from Namaku Bank Al:

Tadi siang aku ikut mendengarkan ceramah dari seorang selebriti dari lembah silikon yg bernama Ariya Hidayat. Menurut beliau ada lima hal buruk yg sering dilakukan orang dan perlu diubah atau dengan istilahnya Ariya adalah Dekontaminasi.

Lima hal tersebut adalah:

  1. suka mengikuti arus
  2. mencari jalan pintas
  3. membeli rasa aman
  4. optimisasi yg sub optimal
  5. menilai hanya yg kasat mata

Selain point-point yang sudah disampaikan Ariya di atas, ada juga beberapa catatan lain yg aku sempat catat ketika mendengarkan sesi webex tersebut yaitu:

Read more… 87 more words

Seseorang baru bisa disebut pakar kalau sudah 10 ribu jam ! tinggalkan jalan pintas

#KagamaGoesGreen : Donor Darah

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post

"#KagamaGoesGreen : Donor Darah jadinya tanggal berapa mas Eko?"

"Tanggal 8 Desember 2012 mas"

"Mas Herry Zudianto, mantan Walikota Jogja apa ikutan?"

"Insya Allah ikutan mas. Beliau kan bosnya PMI DIY, jadi mestinya ikut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah dalam rangkaian kegiatan KagamaGpoesGreen ini"

"Siip mas, semoga sukses ya mas"

"Amin. Ikutan donor darah kan mas?"

"Hmm... mas Eko ikut juga ya?"

Read more… 478 more words

Acara donor darah memang selalu menakutkan bagi yang belum pernah melakukannya, tapi sangat menyenangkan bagi yang sudah pernah melakukannya. Bagaimana tidak menarik, kegiatan DD (Donor Darah) adalah kegiatan yang menbuat badan kita semakin sehat dan efek sampingnya adalah mengalirnya pahala buat kita.

#KagamaGoesGreen 8-9 Desember 2012

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post

"Sudah ndaftar acara #KagamaGoesGreen 8-9 Desember 2012?", tanyaku pada seorang alumni UGM yang kebetulan ngobrol di sebuah moda transportasi.

Ternyata alumni UGM itu banyak banget, sehingga ketika kita mulai mencoba mencari tahu siapa saja yang ada di sekeliling kita, maka bermunculanlah para alumni UGM di sekelilingku. Mereka terdiri dari anak muda sampai orang tua yang terlihat begitu bersemangat menikmati hidup ini.

Read more… 469 more words

Di Jogja sendiri akan banyak ragam acaranya. Puncaknya tentu acara peresmian Hutan Pendidikan Konservasi Koesnadi Hardjasoemantri (HPKKH). Seperti kita tahu bahwa Prof. Koesnadi merupakan sosok yang mengedepankan semangat pembangunan dengan mengkolaborasi pengelolaan lingkungan hidup dan itulah yang ingin ditularkan pada semua insan yang terlibat acara ini.
Tiket KA Bima 7 Desember 2012

KV Goes Green – Kopdar dan Peresmian HPKKH 8-9 Desember 2012

Acara KV Goes Green – Kopdar dan Peresmian HPKKH masih tanggal 8-9 Desember 2012, tapi kalau tidak beli tiket sekarang takutnya pas hari H malah sudah tidak kebagian tiket. Sering kejadian merasa masih jauh harinya dan kemudian berleha-leha ternyata mendekati hari H terpaksa “nubras-nubras” nyari tiket.

Kemarin mbak Krisma ngasih tahu aku kalau aku dapat tugas sebagai penyambut tamu di Stasiun Tugu bersama komunitas SLRT (Sepeda Listrik Roda Tiga). Aku setengah tersenyum membalas pesan mbak Krisma, “aku kan dari Jakarta bareng rombongan KV Jakarta, masak ikut menyambut rombongan Jakarta?”

Jadilah mbak Krisma baru tahu kalau aku itu kadang di Jakarta dan kadang di Jogja, kadang malah tidak di Jogja dan tidak di Jakarta. Hahaha… dasar makhluk tidak jelas posisinya.

Akhirnya kuputuskan ikut pesan mbak Krisma untuk bergabung dengan tim KV Jogja menyambut rombongan dari Jakarta yang rencananya akan naik KA Taksaka, artinya berangkat dari Gambir jam 20.45 wib. Akupun memilih naik KA Bima, sehingga aku bisa mendahului rombongan KV Jakarta dan bisa ngobrol dulu dengan tim penyambutan.

Hari Minggu pagi, akupun menjelaskan acara ini ke komunitas SLRT UGM saat menempuh rute pendek ke embung Tambak Bayan Jogjakarta. Tampaknya teman-teman anggota komunitas SLRT sangat antusias menyambut acara ini.

SLRT di depan Gelanggang Mahasiswa

SLRT di depan Gelanggang Mahasiswa

“Mas Eko, hari Rabu ini, Sri Sultan akan menjenguk BLPT Jogja dan akan melihat SLRT dan SLRE (Sepeda Listrik Roda Emat). Jadi kalau beliau bisa ikut meramaikan acara ini tentu akan makin bermakna acara gowes itu”

Acara penyambutan tim KV Jakarta ini memang dalam rangka Go Green dan Gowes pagi sekalian peresmian HPKKH (Hutan Pendidikan Konservasi Koesnadi Hardjasoemantri) Taman Nasional Gunung Merapi.

Banyak kegiatan yang akan menjadi isi acara itu. Beberapa minggu lalu, draft acara ini kubaca di FB, kurang lebih seperti tertulis di bawah ini.

+++

+ Jumat malam tgl 7 Desember – Nyepur bareng-bareng Gambir – Tugu (TAKSAKA)

+ Sabtu pagi tgl 8 Desember – Arak-arakan andong/dokar dari Stasiun Tugu ke Bunderan UGM/Pendopo Wisma Kagama, terus sarapan bareng-bareng di Boulevard UGM/Gelanggang UGM.

+ Sesiangan bisa diisi acara macem-macem, misal:
* Rally Foto (sudah bisa dimulai sejak dari Gambir dengan tema Go Green)
* Lomba Inovasi Limbah Plastik untuk anak-anak
* Fun games
* dll

+ Sabtu sore, bareng-bareng ke Desa Wisata Sambi.

+ Sabtu malam, pentas seni, api unggun dan menginap di camping ground Desa Wisata dan rumah-rumah penduduk di sekitaran Desa Wisata Sambi.

+ Minggu pagi 9 Desember – Lava Tour, berangkat bareng-bareng dari Desa Sambi menuju lokasi HPKKH – TNGM (Hutan Pendidikan Konservasi Koesnadi Hardjasoemantri – Taman Nasional Gunung Merapi) untuk Seremoni Peresmian HPKKH.

+ Minggu siang persiapan balik ke Jakarta.

+ Minggu malam 9 Desember – Nyepur bareng-bareng Tugu – Gambir (TAKSAKA), Senin subuh sampai di Jatinegara/

NOTE:
masih sangat dimungkinkan format dan mata acara yang berbeda.

+++

Saat ini panitia sudah sering berkoordinasi dan melakukan berbagai kopdar untuk memuluskan acara ini. Jadi tinggal nunggu Kopdar Akbar di DKI tanggal 7 Oktober 2012, yang akan dipakai sebagai ajang pemanasan acara “KV Goes Green – Kopdar dan Peresmian HPKKH 8-9 Desember 2012″

Salam sehati

Tiket KA Bima 7 Desember 2012

Tiket KA Bima 7 Desember 2012

Gowes Guyub Membelah Jakarta Hari H : 2 September 2012

Gowes Guyub Membelah Jakarta Hari H : 2 September 2012

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

"Saya siapkan diri saya untuk jadi pemasaran SLERET, silahkan ditaruh di kantor kementrian agar bisa dilihat siapapun yang datang ke Jakarta"

Sambutan dari Pak Djokir, Djoko Kirmanto, Menteri PU membuat para peserta Gowes Guyub bertepuk tangan meriah. Sleret adalah istilah slang dari SLRT alias Sepeda Listrik Roda Tiga. Sebuah nama yang bagus dan menjual, merupakan perwujudan dari sebuah sepeda serba guna untuk mereka yang mempunyai kendala khusus dalam bersepeda.

Read more… 497 more words

Gowes Guyub Membelah Jakarta Hari H : 2 September 2012 Gowes Guyub Membelah Jakarta Hari H : 2 September 2012
Demo sepeda (amat) mini

Gowes Guyub membelah Jakarta 2 September 2012

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Tak terasa tanggal 2 September 2012 tinggal beberapa hari lagi dan aku masih juga belum dapat sepeda untuk acara gowes guyub 2012 membelah Jakarta. Sepeda lipat Dahonku sudah kulipat dan kukirim ke Jogja, sehingga aku harus beli sepeda baru atau meminjam milik teman-teman pesepeda Jakarta.

Masalahnya kalau meminjam sepeda teman, maka kita harus mengembalikan dan biasanya semangat meminjam dengan semangat mengembalikan sepeda berbeda cukup jauh, jadi kuputuskan saja untuk meminjam sepeda panitia.

Read more… 447 more words

Gowes Guyub 2012 membelah Jakarta. Demo sepeda (amat) mini

Mana lebih bagus XL, Halo, 3, Indosat, Axis atau Smartfren ?

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

"Pak Eko, mana lebih bagus XL Halo, 3, Indosat, Axis atau Smartfren untuk ponsel Android?"

"Kalau untuk BB, mana lebih bagus Axis apa Indosat ya?"

"Apa ada paket Smartfren untuk BB?"

"Katanya sinyal 3 untuk Ipad bagus ya pak?"

Beberapa pertanyaan senada sering ditanyakan padaku dan aku selalu menjawabnya dengan jawaban yang kurang memuaskan mereka. Buktinya mereka selalu mengejar dengan pertanyaan lain.

Read more… 529 more words

Mencoba reblog tulisan tentang Provider internet yang banyak menerima komentar.
Biawak narsis di Pulau Rambut 6

Sasaran KPK Gathering : Pulau Rambut

Reportase versi mbak Laeliyatul Masruroh

Pulau Rambut 0

Akhirnya keinginan saya ke Kepulauan Seribu jadi kenyataan. Setelah sekian kali janjian sama teman-teman, sulit mempertemukan jadwal pergi ke sana bersama, akhirnya ketika Group Kagama Virtual -Keluarga Alumi Universitas Gadjah Mada yang diawali bertemu secara virtual-,mengumumkan akan mengadakan reuni di Kepulauan Seribu, tanpa pikir panjang saya langsung daftar.

Untuk mendapatkan kesempatan ke sana, tidaklah terkabul begitu saja. Saat mendaftar, saya bahkan masuk waiting list dahulu, karena peserta terbatas 60. Lalu akhirnya bisa mendapatkan kesempatan setelah diantara 60 orang yang lebih dulu daftar ada yang membatalkan. Asiiik.

Beberapa hari sebelum berangkat, diantara sekian banyak teman itu, sejujurnya hanya satu nama yang benar-benar saya kenal cukup lama, yaitu Dhanti. Kami bersahabat sudah 10 tahun, sejak di kampus UGM. Lainnya, ada yang sudah kenal via Group BBM, sesama alumni JS, ataupun hanya lihat foto dan kalimat-kalimatnya yang beredar di Group Kagama. Eh iya, ada Ulfia, teman yang pernah sekali bertemu ketika acara reuni Kagama di MetroTV, Februari 2012 lalu. Malam sebelum berangkat, saya menginap di rumah Ulfia, karena paginya akan berangkat bareng dijemput mobil Mbak Ayi (Lestari Octavia).

Sebelum berangkat, saya mencari informasi tentang Pulau Rambut. Saat itu baru tahu pulau tersebut ternyata berupa hutan, berlumpur, tidak berpenghuni, dan tentu saja tidak ada penjual. Kami akan menginap di pos jaga atau bikin tenda, bukan di penginapan. Hah?! Terus terang, selama ini saya bukan termasuk orang yang suka jalan-jalan ke medan berat seperti hutan atau pegunungan. Saya hanya khawatir tubuh saya nggak kuat di medan seperti itu, lalu seandainya sakit akan merepotkan orang. Hehe. Ya sudahlah tidak apa-apa, yang lebih penting silaturrahimnya, bertemu kawan-kawan baru, sodara-sodara baru. Bertemu teman-teman sealmamater meski dulu di kampus sama sekali belum pernah bertemu, tetapi biasanya segera akrab dan seperti menemukan sodara lama.

Saya tinggal di Depok, yang ternyata tak jauh dari rumah Ulfia. Ketika Ulfia menjemput, dia bilang bawaan saya banyak banget. Dia bilang cuma bawa diri dan tas slempang kecil. Hah?! Saya pikir, saya membawa barang-barang sesuai dengan petunjuk panitia. Bahkan masih kurang, tidak membawa sleeping bag, karena tidak punya. Satu tas ransel digendong, satu tas tangan, satu lagi tas untuk jaket tebal. Isinya lengkap, baju 3 potong dan pakaian dalam, peralatan mandi, mukena, selimut tebal, obat-obat pribadi, kaos kaki, kaos tangan, topi, senter, make up, cemilan, dan air mineral 1800 liter. Bahkan tadinya saya mau bawa koper beroda. Beginilah tipikal anak rumahan yang hendak pergi ke hutan, rempong! :D

Lalu, pagi-pagi kami dijemput Mbak Ayi dan Mas Sholeh, di jalanan kami mengangkut juga Mbak Andi Rahmah, Mbak Raisah, Pak Endro, dan Pak WWB. Satu mobil berdelapan! Saat di Bandara Soekarno Hatta barulah kami bertemu dengan teman-teman lain, wajah-wajah yang bagi saya asing.

Dari bandara, kami menuju Tanjung Pasir untuk persiapan naik kapal dan pembagian kaos. Kaosnya ada dua warna, hitam dan putih, desainnya OK banget, meski ukuran terkecil M masih kedodoran buat saya. Di sini suara toa Indri, panitia acara, terdengar untuk pertama kali, untuk mengabsen dan membagi kaos.

Pulau Rambut 1

Lalu, kami naik kapal menuju Pulau Rambut. Saya lupa menghitung waktu, tapi kira-kira 1 jam. Gelombang air laut sedang cukup besar, yang mabuk laut disarankan minum obat.

Sampai di bibir pantai Pulau Rambut, kami disambut dengan sampah-sampah berserakan. Sayang sekali area konservasi seperti ini dipenuhi sampah yang tidak bisa terurai. Banyak plastik, karet ban bekas, sandal jepit, sepatu, juga beberapa sandal bermerk, sayangnya cuma sebelah. Haha.

Setelah meletakkan barang bawaan, suara toa Indri kembali memanggil kami. Sembari menunggu makan siang datang, kami berkenalan dengan permainan. Nama saya Laeli, saya ingin ke Bulan membawa Lampu Peromaks. Boleh? “Boleh.” Kata teman-teman. Sip! Siapa namamu? Lalu, permainan Hujan Badai. Selanjutnya kami dibagi kelompok laki-laki dan perempuan, untuk permainan lagi. Pokoknya seru deh.

Pulau Rambut 3

Makan siang telah siap. Makan siang didatangkan dari pulau seberang. Pulau Untung Jawa, pulau terdekat dengan Pulau Rambut. Di Pulau tersebut konon airnya tidak asin. Nuansa di Pulau untung Jawa juga konon seperti di kota, banyak rumah dan area pertokoan. Kami makan siang yang enak. Ikan laut bakar, sayur kangkung, cumi tepung goreng, dan sambal kecap yang mantap. Mungkin karena ikannya segar ditambah rasa lapar, dilidah rasanya sangat lezat.

Setelah jamaah shalat dhuhur yang di-jamak-qosor dengan ashar, kami berangkat menyusuri hutan, kelompok saya menuju Menara Pandang, untuk melihat bermacam burung yang beterbangan dan duduk di ranting pohon. Menara dibuat dari baja, kami perlu menaiki tangga yang cukup membuat jantung berdebar. Apalagi bagi yang takut ketinggian. Turunnya lebih menyeramkan. Tetapi menyesal kalau tidak mencoba. Karena di atas sana, pemandangannya sangat indah. Jika pakai topi, pastikan terikat kuat. Karena topi salah satu teman kami terbang ditiup anging, nyangkut di tajuk pohon.

Di sepanjang jalan setapak menuju ke sana, kami menemukan pohon dari keluarga Jeruk, kata pemandu jalan, itu tanaman endemik Pulau Rambut. Banyak juga ditemukan Jati pasir, Waru Pantai, Kepuh, dan gadung. Buah kepuh sekilas dari jauh seperti apokat, begaitu juga pohonnya. Umbi gadung ini juga berserakan di sepanjang area hutan, untuk memakannya perlu pengolahan khusus.

Sepanjang perjalanan tidak saya temukan sama sekali tumbuhan keluarga benalu. Hanya ada jenis liana entah apa namanya yang menempel di pohon. Batangnya menempel dan menembus batang tanaman inang, namun akarnya menghujam ke tanah, saya yakin bukan dari keluarga benalu. Mungkin juga karena burung-burung di sana juga didominasi oleh burung sejenis elang, pemakan ikan. Hanya sedikit burung yang memakan buah-buahan. Sedangkan penyebaran biji benalu dibantu oleh burung-burung jenis tertentu.

Biawak narsis di Pulau Rambut 6

Biawak narsis di Pulau Rambut 6

Di sebuah papan di dekat pos jaga, juga terdaftar sejumlah hewan yang bisa ditemui di pulau tersebut. Diantaranya yang besar seperti biawak dan ular berbisa cincin emas. Dalam perjalanan, kami menemukan keduanya. Ular cincin emas kami temui di atas pohon. Menurut penjaga pantai, ular itu sudah seminggu di atas pohon tersebut. Biasanya setelah makan tikus atau bangkai burung, mereka tertidur cukup lama. Sedangkan biawak ditemukan ketika hari menjelang sore. Biawak ini pergi ke pantai pada pagi hari, lalu sorenya pulang ke hutan untuk kemudian tidur di bawah gorong-gorong di sekitar pohon besar.

Di dalam hutan, ada banyak rawa yang ditumbuhi pohon bakau, patahan koral dari laut berserakan seperti tulang diantara akar nafas yang muncul di sana sini. Banyak lubang di sana sini, konon lubang pintu rumah kepiting besar. Saya lulusan Biologi, tapi sepertinya baru pertama kali lihat langsung dari dekat ekosistem seperti ini. Huahahaha.

Setelah jalan-jalan masuk hutan, kami kembali lagi ke Pos Jaga dan tenda. Lalu menjelang magrib, sebagian besar kami masuk hutan lagi ke suatu area untuk mengabadikan momen sunset. Saya berada di rombongan terakhir. Sekitar 6 orang rombongan terakhir ini kehilangan jejak peserta di depannya. Maka kami bolak balik coba-coba arah malah nyasar, akhirnya balik ke tenda. Kami bingung, harus lari ke hutan atau belok ke pantai. Mungkin ini yang dirasakan oleh panyair puisi Kulari ke Hutan, yang dibacakan Dian Sastro dalam film Ada Apa dengan Cinta. Halah! Saya menuju ke dermaga bergabung dengan teman yang sudah ada di sana sejak tadi. Teman yang lainnya yang tadi nyasar, berangkat lagi setelah menemukan satu pemandu yang paham area.

Pulau Rambut 2

Saya menghabiskan senja di dermaga, menikmati matahari yang perlahan tenggelam. Kawanan burung bolak balik terbang, ombak masih terus berdebur kencang. Indah sekali. Menikmati sunset sembari mendengarkan cerita teman-teman angkatan yang lebih tua, tentang kuliah dan kos jaman dulu, jaman mesin ketik. Seru dan serasa saya masih muda banget. Wkwkwk.

Kami berkumpul kembali saat magrib untuk ibadah dan mandi, bagi yang tertarik mandi. Perlu diketahui air asin dan tidak berbusa ketika disabun. Menurut petugas jaga, hanya sabun L*febo* dan sampo *ante** yang mampu menghasilkan busa. Mereka sudah sekian lama di sana, sekian kali uji coba sabun dan sampo. :D

Malamnya kami makan sup ikan dan tumis cumi. Enak sekali. Acara santai ngobrol apa saja. Lalu permainan dipandu oleh Mbak Any Re dan Mas Eko Eshape. Gayeng. Acara selalu heboh jika ada Koh Ivan dan Pak WWB. Banyak permainan, banyak dorprize. Sayangnya saat itu perut saya melilit, datang bulan tiba, obat pereda sakit gak ketemu, akhirnya cuma duduk menyimak.

Pulau Rambut 4

Paginya, sesaat usai subuh kami berangkat ke bagian timur Pulau untuk mengabadikan momen sunrise. Matahari muncul dari sebelah pulau Untung Jawa. Banyak burung terbang, ombak yang berdebur, dan tajuk pohon membuat sunset terekam sempurna. Sayangnya ada penampakan jalan-jalan sehingga mengganggu pemandangan. Wkwkwk. Kami mengambil momen tersebut diantara sampah-sampah berserakan. Plastik, botol, karet, boneka, sandal jepit, sepatu, dan sayangnya lagi-lagi tidak ada sepatu bagus yang sepasang berserakan. Mau buat oleh-oleh je! :D

Selanjutnya kami balik ke tenda untuk makan pagi. Kemudian acara tanam hutan mangrove. Acara tanam bakau di Pulau rambut bagian utara. Perjalanan menyusuri pantai, lalu belok hutan. Lagi-lagi, serasa berada di puisi Tentang Kita yang dibacakan Dian Sastro. Setiap peserta dapat satu bibit bakau. Kami menanam di tanah rawa, diantara pohon bakau lainnya. Kemudian, acara bersih pantai, dengan mengumpulkan sampah ke dalam plastik-plastik besar. Sampah banyak sekali di Pulau Rambut karena ada 13 mulut sungai dari Jakarta dan Tangerang yang menuju ke Pulau tersebut. Kami berhasil mengumpulkan sekian plastik besar, mungkin ini tidak seberapa untuk membersihkannya, tapi setidaknya kami mengurangi sampah dan tentu saja jangan sampai menambah. Sampah-sampah yang sudah terkumpul dalam sekian plastik besar tersebut nantinya akan dibawa oleh petugas ke tempat pembuangan akhir di Pulau Untung Jawa, untuk dibakar di sana. Di Pulau Rambut tidak diijinkan menyalakan api untuk membakar sampah ataupun sekedar menyelakan api unggun. Mungkin karena di sana anginnya kencang dan dekat dengan hutan, banyak ranting kering, dikhawatirkan terjadi kebakaran hutan.

Setelah dari tanam bakau, selanjutnya acara bebas. Ada yang menghabiskan waktu di dermaga, atau sekedar memuaskan mendengarkan ombak sembari merebahkan tubuh di rerumputan. Toa Indri masih selalu terdengar, kali ini tentang kesan-kesan teman-teman mengikuti kegiatan ini. Hei acara belum selesai, karena masih ada 2 pulau yang akan kita lalui.

Setelah berkemas dari Pulau Rambut kami berkapal menuju Pulau Kelor. Perjalanan sekitar 30 menit. Dari jauh, pulau ini nampak eksotis. Dari dekat, ternyata memang indah. Pasirnya putih dan lebih bersih dibandingkan Pulau Rambut. Yang khas adalah sebuah benteng yang dibangun dari batu bata. Bagus sekali untuk foto-foto. Juga puluhan atau bahkan mungkin ratusan tetrapod beton yang sengaja ditanam di bibir pantai. Palau Kelor dipotret dari kapal.

Setelah itu kami ke Pulau Onrust, di sini banyak pengunjung dan tentu saja banyak penjual. Tidak semenarik Pulau Kelor, tapi di sini ada reruntuhan bangunan tua dan pepohonan yang asri, bukan hutan. Bagus juga untuk pemotretan. Tentu saja, acara kami kan judulnya Photography Gathering. Pesertanya lebih banyak yang suka dipoto dari pada yang moto. Namanya juga pecinta fotografi, bisa juga pecinta foto pribadi. Wkwkw. Saya tidak punya kamera besar, hanya bawa kamera HP. Tidak punya kamera bagus tidak papa, yang penting pulang bawa oleh-oleh foto-foto bagus. :D . Kami makan siang di Pulau onrust untuk kemudian dilanjutkan perjalanan kapal menuju ke Tanjung Pasir. Selanjutnya pulang ke rumah masing-masing.

Akhirnya sampai rumah dengan selamat, membawa kenangan yang tak terlupakan. Menemukan teman-teman baru, sodara-sodara baru, dan tentu saja foto-foto bagus dari kamera kawan-kawan fotografer. Terima kasih untuk semuanya yang telah mengupayakan acara ini, sehingga semua berlangsung dengan penuh kesan.

Menanam Pohon Bakau di Pulau Rambut

Menanam Pohon Bakau di Pulau Rambut

Diunggah dari notes Facebook mbak Laeliyatul Masruroh

+++

Foto-foto diambil dari sini dan dari FB hasil karya para fotografer KV

Couching Clinic Photography di Pulau Rambut

“Sekarang ini semua camera sama saja kok, mau Nikon atau Canon pada dasarnya sudah sama. Beda dengan kondisi sepuluh tahun lalu, dimana dua penganut agama (Canon dan Nikon) saling mengklaim merk yang mereka panuti sebagai merk terbaik”

“Benar, kalau mau yang prestise jangan bicara Canon atau Nikon, tapi bicara Hasselblad. Ini camera yang harganya sudah ratusan juta”

“Hahahaha…. padahal spesifikasinya tidak jauh beda dengan Canon atau Nikon ya”

“Kalau mau lagi, boleh tuh tenteng Leica yang harganya sudah milyard”

nikon canon

Diskusi para penggemar fotografi di pulau Rambut ini berlangsung seru. Ilmu para peserta diskusi ini memang sangat beragam dan sangat jauh bedanya, sehingga saat kuusulkan untuk secara resmi diadakan Couching Clinic, mereka malah keberatan. maklum kalau pesertanya tidak homogen mereka akan kesulitan memberikan materinya.

Peserta gathering para pecinta fotografi di Pulau Rambut ini memang terdiri dari berbagai kelas, mulai dari yang tidak bawa camera, yang bawa camera tapi masih sangat amatir, sampai yang sudah tingkat profesional, meskipun mereka tetap tidak mengaku sebagai tukang foto profesional.

Jadilah couching clinic dilakukan secara langsung di lapangan. Kita perhatikan mereka saat melakukan pemotretan dan kita tanya yang bisa kita tanyakan.

Nikon dari NU (Non UGM)

“Lampu blitz jadi barang haram bagi sebagian tukang foto, karena akan mengurangi nilai natural sebuah obyek”

“Teknik slow speed sangat rentan terhadap gangguan obyek yang tidak diinginkan, jadi lokasi pemotretan harus bebas dari gangguan obyek yang tidak diinginkan oleh pemotret”

Perbedaan tingkat pemahaman dari para peserta acara ini akhirnya menjadi sebab terjadinya beberapa gangguan sesi pemotretan dengan modus slow speed. Frame yang sudah disetel sedemikian rupa ternyata dimasuki oleh obyek yang tidak diinginkan. Hal ini terjadi karena pemahaman yang jauh berbeda terhadap sesi pemotretan sunrise.

Canon

Paa sesi pemotretan tanpa lampu di malam hari hal ini tidak terjadi, karena semua peserta lebih banyak yang ngobrol di tenda, teras maupun meringkuk di kamar, tapi pada sesi pemotretan sunrise, hampir semua peserta ikut di lokasi pemotretan. Para tukang fotopun bisa melakukan explore dermaga dalam gelap malam. Mereka baru berhenti motret ketika batere camera sudah tidak bisa diajak bekerja lagi.

Pada sesi pagi (sunrise), gangguan pertama diawali dari camera pocket yang disetel otomatis, sehingga langsung menghidupkan lampu kilat ketika dipakai untuk memotret.

Gangguan kedua terjadi ketika ada seorang peserta yang berjalan di dalam frame camera. Ketika diminta untuk balik ke pantai dan tidak berdiri di tanggul pantai, dia merasa tidak perlu balik ke pantai, karena dia tidak menyadari bahwa dia sudah masuk dalam frame para pemotret dan sosoknya akan menganggu bidikan para pemotret. Mungkin dia mengira para pemotret mengkhawatirkan dia jatuh ke laut, padahal dia tidak takut jatuh ke laut, jadi kenapa harus balik ke pantai?

Bukaan camera yang berlangsung sampai beberapa menit akan merekam jejak orang yang berjalan di atas tanggul pantai sebagai obyek yang tidak jelas, kecuali kalau orang tersebut mampu diam tanpa bergerak selama kondisi lensa camera sedang merekam gambar.

Ternyata memang sangat asyik mengikuti para profesional melakukan pengambilan gambar. Pada sesi pemotretan burung atau binatang melata, cara pemotretan berbeda lagi. Perlu ada kecepatan yang tinggi untuk menangkap obyek bergerak dan siap mengikuti pergerakan obyek bergerak dengan tembakan ganda, bukan tembakan tunggal.

“Kalau motret burung dan matanya tidak kelihatan rasanya kurang mantap”

“Jadi ingat cameranya mas RDP yang bisa memotret secara beruntun seperti senapan mesin”

“Jangan menakuti obyek, jangan memakai pakaian yang mencolok, dekati dengan hati-hati obyek yang mau dipotret dan jangan sampai obyek terganggu dengan kehadiran kita”

Mengintip obyek dibalik rimbun dedaunan

Dari balik rimbun hutan, para pemotretpun saling berlomba membidik binatang buruan mereka. Sepatu yang cocok, topi dan baju lengan panjang wajib dipakai untuk menghindari gangguan selama pemotretan. Beberapa tempat memang membuat sandal kita jadi hancur, demikian juga kulit kita jadi sering kena duri kalau tidak memakai baju lengan panjang.

Kotoran burung sempat kuterima dan meskipun sudah memakai topi, tetap saja kotoran burung itu membasahi baju dan kulit leherku. Banyak sekali kendala saat melakukan sesi pemotretan ini, tetapi herannya semua tetap bersemangat untuk keluar masuk hutan. Sesi pemotretan di hutan memang mengundang bekerjanya adrenalin di tubuh.

“Ayo mas Eko, masuk hutan lagi, lumayan sejam bisa dapat banyak foto sambil nunggu kedatangan kapal”

“Gak usah pakai baju macem-macem, pakai sarung saja sudah beres”

Ajakan ini terpaksa tidak kuikuti karena ada acara pesan dan kesan para peserta sebelum dijemput kembali ke pulau Jawa bagian teluk Naga. Acarapun ditutup dengan sangat manis, karena ternyata semua kesan peserta sangat puas dengan acara ini.

“Saya sudah menyiapkan diri untuk hidup sengsara di pulau Rambut ini, tanpa air tawar, tanpa listrik dan tanpa warung”

“Mandi pakai sabun tetap tidak terasa sedang mandi. Airnya asiin banget”

“Ada cerita seram di balik pulau Rambut ini yang bikin merinding”

Semua hal negatip itu hanya disampaikan tetapi tetap tidak menyurutkan kenikmatan mereka mengikuti acara gathering para pemotret Komunitas Kagama Virtual. Luar biasa semangat kebersamaan ini.

hunting foto

(bersambung)

+++

Spesifikasi Leica H4D-40 adalah sebagai berikut; sensor medium format beresolusi tinggi 40 MP, Hasselblad True Focus dan lensa HC 80mm f/2.8.

Kagama Virtual Gathering : Pulau Rambut

“Suami saya tidak bisa ikutan, jadi saya ajak anak untuk ikut acara ini. Pas lihat perahu yang akan membawa rombongan kita ke Pulau Rambut, hati langsung ciut. Sayang mobil saya sudah terlanjur pulang, jadi akhirnya ikut terbawa arus dan ikut naik perahu. Alhamdulillah, ternyata acaranya keren banget !:-)”

“Saya bukan alumni UGM, tapi ternyata saya langsung akrab dengan peserta gathering photografi ini. Acaranya sangat padat dan menarik. Terima kasih sudah diajak”

“Saya berangkat dengan perasaan akan menjadi yang paling narsis di acara ini, ternyata peserta lain banyak yang lebih narsis dibanding saya”

“Acara yang sangat menarik, apalagi saya langsung mendapat pasien di acara ini. Rekening menyusul ya !:-)”

Berbagai macam testimoni para peserta hampir semuanya senada, meskipun diucapkan dengan gaya berbeda. Ini memang acara gathering yang sangat luar biasa. Baik dari sisi acara, maupun lokasi yang dipilih, Pulau Rambut.

Pulau Rambut

Sebagai pulau yang tertutup untuk kegiatan wisata, maka adalah sebuah keberuntungan rombongan alumni UGM bisa melakukan eksplorasi pulau Rambut ini, dengan ditemani para tukang foto profesional yang tidak pelit ilmu. Tuan rumah dan tamu begitu menyatu dalam semua acara dan saling bersinergi.

Meski sangat sedikit, hanya ratusan buah, rombongan sempat melakukan acara menanam pohon bakau, sebagai kepedulian kita akan rusaknya ekosistem di kepulauan seribu. Pulau yang tidak dipakai untuk kegiatan komersial ini, ternyata secara rutin selalu menerima kiriman sampah dari pulau lain. Sepanjang keliling pulau ini tumpukan sampah merata dan terlihat bukan dari hasil sampah dari pulau ini. Berbagai macam sampah rumah tangga dan styrofoam terlihat mendominasi sampah yang ada di sekeliling pulau.

Inilah PR (pekerjaan rumah) kita semua.

Menanam pohon bakau di Pulau Rambut

Menanam pohon bakau di Pulau Rambut

Pulau Rambut sebenarnya sangat indah, tapi kalau dibuka untuk umum, tidak bisa dijamin pulau ini akan lebih baik dari kondisi saat ini. Hanya mereka yang cinta akan margasatwa dan ekosistem yang dijamin akan ikut membuat pulau ini menjadi lebih baik.

Rombongan alumni UGM termasuk dari kalangan NU (non UGM), mendarat di pulau ini menjelang makan siang dan langsung kuikat dengan beberapa permainan. Aku awali dengan saling bergandeng tangan, saling memijat sambil bergerak untuk menghilangkan efek males atau capek setelah menyeberang lautan yang berombak.

Perkenalan para peserta kulakukan dengan menyebutkan nama dan barang yang akan mereka bawa bila pergi ke Bulan. Ternyata banyak peserta yang bsia memahaminya dan seperti biasa masih juga ada peserta yang sampai acara selesai belum paham juga dengan “clue’ dari permainan ini.

“Nama saya Eko dan saya akan ke bulan dengan membawa Ember !”

“Nama saya Ona dan saya akan membawa Odol”

Dari dua hal tersebut tentu sudah bisa ditebak hubungan antara nama dan barang yang akan dibawa, tetapi ternyata, seperti biasa, selalu saja ada yang sampai acara selesai masih juga belum paham. Ini memang kelebihan game sederhana “Mau Pergi ke Bulan”.

Setelah acara perkenalan, maka dilanjutkan dengan acara pertandingan antara kelompok cewek dan kelompok cowok yang ternyata jumlahnya berimbang. Permainan ini dimenangkan oleh kelompok cewek, sehingga mereka berhak untuk makan siang lebih dahulu, sementara para cowok melanjutkan persiapan hunting ke hutan untuk menyaksikan satwa, baik yang melata di tanah maupun dan terutama satwa yang terbang di aatas pohon.

Begitu makan siang selesai, maka para cewekpun sudah siap dengan perlengkapan hunting mereka. Mulai dari camera jenis ponsel sampai ke camera semi profesional. Sedangkan beberapa pecinta foto profesional memang terdiri dari kaum bapak yang mempersenjatai dirinya dengan camera plus telelens di atas 300 mm.

Hasil jepretan mereka jelas jauh di atas hasil jepretanku yang hanya mengandalkan Nikon D5100 plus lensa 18-270 mm alias lensa sapu jagad (bersambung)

burung terbang di Pulau Rambut

burung terbang di Pulau Rambut

kopdar omah lodong (1)

Kopdar Omah Lodhong : KV Jogja, 7 April 2012

Mas Dodi sudah nunggu di ruang depan warung “Omah Lodhong” Jogja ketika aku masuk. Kami bersalaman sejenak dan kemudian sudah asyik membahas kambing ETTAWA. Aku baru ngeh kalau kambing itu terlihat sama saja bagiku tetapi terlihat berbeda di mata mas Dodi. Mulai dari bentuk wajahnya, perawakannya, tanduknya sampai ke kupingnya semua punya ciri khas masing-masing.

Cerita tidak berhenti sampai di situ, ternyata ada juga cerita tentang bekam, tentang berbagai obat herbal. Ada sembilan macam obat herbal kalau aku tidka salah ingat, dengan nama khas masing-masing.

“Yang obat pengecil perut itu, mungkin tidak manjur mas atau kurang menarik untuk diiklankan”

“Mengapa?”

“Soalnya yang iklan perutnya gendut!”

kopdar omah lodong (6)

Derai tawa selalu mengiringi setiap kita membahas suatu topik. Sebuah topik yang berat sekalipun selalu ada jeda untuk tertawa bersama, apalagi kalau topik tentang hal yang remeh temeh.

“Ada seorang teman yang tidak suka jengkol, tetapi ternyata dia asyik ngabisin keripik jengkol karena tidak tahu bahwa yang dia makan adalah keripik jengkol”

“Mbak AR itu orang lurus banget lho, sayang tidak bisa gabung di acara ini, kalau ada dia pasti acara ini bisa lebih seru deh !”

“Wah ini kopdar kok isinya makan melulu ya? Nanti yang diupload pasti makanan saja”

kopdar omah lodong (2)

Segala pembicaraan saling sahut menyahut di arena meja bundar Omah Lodhong. Kadang satu topik dibahas bersama, tapi kadang saling silang antara mereka yang berhadapan. Jadilah berbagai topik dibahas bersamaan di antara mereka yang berhadapan duduknya.

Suasana makin rame karena ada yang tidak bisa hadir dan ingin ngobrol dengan kita. Jadilah sebuah ponsel berkeliling di antara kita dan obrolan via telepon itu kadang terasa lucu karena kita hanya mendengar dari salah satu sisi pembicara saja. Kita hanya menebak apa yang diucapkan oleh lawan bicara di ujung telepon satunya.

“Eh foto dulu yuk mumpung masih lengkap”

Kalimat di atas tidak perlu diulang, begitu sang fotographer ambil posisi maka para aktris dan aktorpun langsung pasang action masing-masing. Selesai difoto langsung hasil fotonya diperlihatkan pada yang lain.

kopdar omah lodong (5)

“Wah mas Wahyu kaosnya dipakai mas Eko tuh”

“Dijamin mas Wahyu panas hatinya lihat foto ini”

Belum puas foto duduk acara foto berdiripun dilanjutkan di ruang tengah. Ini memang acara wajib setiap kopdar, “narsis ebrjamaah”.

Tak terasa maghrib sudah berlalu dan acara harus diakhiri. Kopdar yang akan datang kelihatannya akan tidak bis ajauh dari makanan lagi.

“Kita bawa masing-masing dari rumah dan kita santap bersama di acara kopdar yang akan datang yuk”

Nah, ajakan menarik seperti ini pasti akan banyakpeminatnya. Kita tunggu saja acara kopdar yang akan datang. Tentu dengan peserta yang sudah makin saling mengenal dan acara yang lebih terfokus.

“Aku usul tema yang akan datang adalah cerita tentang sembilan obat herbal dan setelah itu baru dilanjutkan acara ngobrol ngalor ngidul”

Tunggu berita dari mbak Bibien untuk kopdar yang akan datang. Yang jelas warung blogger Mie sehati sudah menyiapkan tempat pelatihan mie sehati sebagai ajang pertemuan yang akan datang.

Sampai ketemu lagi salam sehati buat semua.

kopdar omah lodong (1)

+++

Foto lainnya ada disini

Suguhan Bakmi Jogya dan Wedang uwuh mewarnai Kopdar Prajurit Jatim ini

Menghijaukan Kampus Biru dimulai dari Surabaya

“Kalau Dies UGM tahun ini diramaikan dengan kegiatan sepedaan, maka Prajurit Jatim siap untuk mengadakan acara sepedaan seminggu sebelum acara sepedaan Dies UGM”

“Siapa tahu peserta sepedaan dari Surabaya nantinya bisa juga ikut menghijaukan Kampus Biru”

Sepedaan Dies UGM 18 Desember 2011

Sepedaan Dies UGM 18 Desember 2011

“Kegiatan ini harus jadi, karena sudah banyak mimpi kita yang tidak ketahuan rimbanya”

“Kebanyakan mimpi boleh, tapi lebih baik fokus ke ACTION! Bagaimanapun tanpa ACTION, maka semua mimpi hanya akan jadi mimpi saja”

“Oke, kita sepakat untuk mewujudkan mimpi Sepedaan warga Surabaya memperingati Dies UGM. Besok Selasa, panitia inti langsung kumpul di Posko Kagama Jatim disini (Jatim Expo)”

Prajurit Jatim (3)

Suasana penuh canda di teras Jatim Expo mewarnai seluruh acara kopdar “mendadak” warga Alumni UGM di Surabaya ini. Lucunya host acara ini justru tidak muncul satu orangpun, demikian juga para aktifis muda dari Prajurit UGM Jatim banyak yang ikut-ikut berhalangan hadir.

Seperti ada batas yang tegas di antara para peserta kopdar ini. Satu sisi adalah mereka yang berkepala enam dan lima ditambah beberapa yang berkepala 4. Di sisi lain adalah mereka yang berkepala 2 sampai 3. Bisa ditebak, bahwa yang berkepala 4 lebih, pasti kurang familiar dengan internet sementara itu yang berkepala 3 ke bawah sangat aktif dalam dunia internet. Meskipun begitu mereka tetap gaul melalui socmed masing-masing.

“Kalau gak ada imil, pakai saja SMS. Yang penting kita semua bisa terhubung dan saling berkolaborasi”

Suasana kendaraan bermotor yang terus menemani acara ini (maklum acara kopdari ini diadakan di teras Jatim Expo), ditambah sound system yang kurang keras, membuat para peserta harus ekstra keras untuk menyampaikan apa yang ada di kepalanya. Meski demikian, ternyata cerita dari para pinisepuh membuat suasana semakin cair. Usia mereka boleh dibilang sudah berkepala enam, tapi semangat mereka masih terlihat belum padam.

Satu demi satu semua peserta kopdar menyampaikan perkenalan diri dan cerita singkat tentang perjalanan hidupnya masing-masing.

“Saya menikmati suami yang sudah pensiun. Dulu kalau ingin ngobrol sama suami sulitnya setengah mati, sekarang justru suami yang sulit untuk minta waktu untuk bersosialisasi dengan anggota keluarganya”

“Ini pelajaran buat yang muda-muda, bahwa keluarga tetap nomor satu. Jangan sampai kita mengadakan acara pesta ulang tahun perkawinan tanpa kehadiran anak-anak. Pasti sakit rasanya”

“Kesibukan selalu menjadi kambing hitam saat seharusnya kita bisa menyisihkan waktu untuk keluarga. Kita bekerja untuk keluarga, tapi yang sering terjadi keluarga dinomorduakan karena alasan kerja !”

“Saya ini lulusan Sastra tapi mungkin dikira lulusan ekonomi, sehingga sering kebagian peran sebagai direktur dimana-mana. Maklum hampir separo kuliah saya habis di Gelanggang Mahasiswa”

“Hari ini saya memboyong Mie Jogya ke halaman Jatim Expo ini agar kita selalu terkait dengan Jogya dan mas Agung terpaksa menutup warung mienya di Kutisari karena semua pegawainya diboyong ke halaman ini”

“Saya lulusan S1 tapi tidak malu untuk jualan Mie Jogya, karena saya menemukan passion saya ya di bisnis ini”

“Setahun lebih saya berpikir untuk memulai sebuah ACTION, ternyata seharusnya saya segera action mumpung masih muda, karena saya masih punya banyak waktu untuk melakukan perbaikan kalau ACTION saya salah. Jangan sampai sudah tua baru berpikir ACTION!”

Prajurit Jatim (5)

Kopdar inipun akhirnya jadi ajang curhat masing-masing peserta. Saling berbalas komentar antara sepasang suami istri juga membuat suasana makin cair dan tidak terasa malam sudah semakin larut. Satu kesepakatan tunggal adalah melaksanakan kegiatan Sepeda Ceria (Fun Bike) menyambut Dies UGM pada hari Minggu, 11 Desember 2011.

“Mari kita Hijaukan Kampus Biru dengan sepeda ceria di bulan Desember 2011″

Suguhan Bakmi Jogya dan Wedang uwuh mewarnai Kopdar Prajurit Jatim ini

Suguhan Bakmi Jogya dan Wedang uwuh mewarnai Kopdar Prajurit Jatim ini

+++

Dalam kopdar ini aku curhat tentang konsep Mie Sehati : “Bagaimana agar semua masyarakat menengah ke bawah bisa membuka usaha dengan modal yang relatif kecil”.

Akibatnya, begitu acara selesai aku harus mau melanjutkan sharing tentang mie sehati, yang memang mempunyai jadwal rutin pelatihan mie sehati di Surabaya. Benar kata teman-teman, bahwa aku lebih dikenal sebagai juragan Mie Sehati daripada sebagai lulusan Sipil UGM. Mereka paling senang kalau aku bercerita tentang bagaimana kita Memulai Usaha Bisnis Mie Sehati

Nonton Timnas Merah Putih bersama Kagama Surabaya

Bersama Kagama JATIM Nonton Bareng Timnas Indonesia melawan musuhnya

“Mas, bisa nggak volume tivinya dibesarin”, kataku pada pramusaji Resto Coffee Bean.

“Bentar pak”, jawab sang pramusaji sambil berlalu.

Matakupun terus menatap layar TV 32 inch yang ada di pojok Resto ini. Di belakangku ada rombongan anak muda yang nonton pertandingan pra Piala Duni 2014 ini, tetapi mereka nontonnya setengah hati. Obrolan mereka malah tentang Real Madrid,Ronaldo, Kaka dll.

Sampai babak pertama berakhir,aku masih sendirian saja nonton pertandingan ini. Mbak Des masih di jalan karena harus menghadiri acara pernikahan di tempat lain.

Mas Fajar masih nonton melalui TV Mobilnya, sedangkan mas Jajah entah berada dimana. Menjelang pertengahan turun minum baru mbak Des muncul bersama mas Nazir dan kitapun langsung asyik ngobrol sampai tahu-tahu mas Jajah dan yang lain mulai bermunculan.

Continue reading