Terjebak Ikut Nari Gangnam Versi Nekat di Temu Kangen Kagama di Ancol

KAGAMA GATHERING at Ancol (Kagangnam Style)

oleh Hery Muhendra

Weekend, salah satu hal yang paling dinanti. Biasanya weekend diisi dengan full time relax, jalan jalan, kumpul keluarga atau sekedar nyuci2 baju kotor terus ngegelosor di lantai berjam jam. Apapun weekendmu, gunakan waktu dengan bijak, karena yang mau gw share ini adalah salah satu weekend gw yang cukup menarik. Ada yang ga biasa di weekend ini, ada satu agenda yang terus saja mengusik hati sanubari.

Berawal dari obrolan ringan di tempat karoke, beberapa minggu sebelumnya bersama beberapa anggota Kagama Virtual munculah ide untuk menghabiskan hari minggu tanggal 7 Oktober ini di Jakarta, ada acara KAGAMA gathering yang bertempat di Ecovention Hall Ecopark. Ide ini awalnya terdengar seperti basa basi, yak karena tempat kerja gw yang udah ga di Jakarta lagi tentunya membutuhkan waktu dan biaya klo harus ke Jakarta terlebih hanya untuk satu hari. Tapi seiring berjalannya waktu mendekati hari H, rasa kangen memuncak. Entah ada dorongan apa yang memaksa gw tetap harus kesana, mungkin that was called home. Setelah dipikir pikir, enggak lah ga mungkin masa gw anggep ancol home, emang gw badut ancol?? Terlepas dari alesan knapa gw ngotot ke Ancol, gw yakin satu hal, disana gw bakal disambut keluarga besar gw, KAGAMA family.

Pagi buta gw harus ngejer kereta terpagi dari Kota Cirebon, aneh karena bangun pagi itu sesuatu yang tabu dan sulit untuk di realisasikan buat gw. Terpaksa minta bantuan bidadari-bidadari untuk membangunkan, dan dengan susah payah kereta itu terkejar juga, tentunya terkejar dalam posisi masih di parkiran stasiun karena berhasil datang  5 menit lebih awal, prestasi. Perjalanan di kereta diiringi lagu lagu John Mayer dan Mr.Big menambah syahdu perjalanan ini, ga kerasa sampai dengan selamat di Stasiun Gambir yang suasananya Alhamdulillah macet total.

Stasiun Gambir adalah meeting point gw yang pertama karena disitu gw harus nunggu temen, si Diajeng DIY peringkat harapan dua yang gw tau tabiatnya aga unik. Hari itu nampaknya dia ga mandi, atau terlalu terburu buru mandi nampaknya, hahaha. Sebut saja Icha namanya. Macet yang terjadi di gambir disebabkan oleh pameran alusista yang diadakan oleh TNI dalam rangka merayakan ulang tahun TNI. Monas mendadak rame dan hal itu juga yang membuat si Icha harus jalan kaki cukup jauh, kita pun resmi ngaret.

Setelah berdiskusi cukup panjang dan alot mengenai keefektifitasan penggunaan busway atau ojek, akhirnya kita memilih taxy sebagai jalan tengah. Dengan harapan macet ini pasti berlalu,dan harapan itu walau tipis menjadi kenyataan. Sampai pintu Ancol kita hanya menunjukan poster yang gw print asal asalan, ternyata langsung diperbolehkan masuk. Masuk, definisi masuk disini adalah masuk ke area Ancol yang besar dengan segala nama tempatnya, sang supir give up dengan mengangkat tangannya, kita Cuma bisa geleng geleng sambil nutup idung tanda ga tau juga. Akhirnya kita nemuin satpam yang dengan baiknya memberi tau arah, belok kanan mentok ke kiri dan luruuus. Karena terlalu banyak belokan ke kanan ataupun yang ke kiri, kami resmi menghabiskan 15 menit tour di dalam ancol mencari alamat.  Baru pada satpam yang ketiga, akhirnya kami dapat menemukan gedung convention hall ecopark. Dan kegembiraan baru saja dimulai.

Indoor, satu hal yang aga missed dari perkiraan gw. Mana mungkin bisa bebas berekpresi, disuasana indoor yang kaku dan pengap, lampu gelap dan yang pasti fokus penonton semua akan ke depan. Tapi hal itu bukan lah sesuatu yang menjadi masalah buat kita, kita dalam hal ini melingkupi seluruh serdadu lengkap Kagama Virtual, baik om om senangnya, tante tante enerjiknya, atau pemuda pemudi tanggung penuh pesonanya, fyi gw masuk golongan yang terakhir. Baru masuk pintu, senyum senyum ramah langsung menyambut dan gw larut dalam obrolan, seketika ditarik ke depan untuk berbaris menghadap ribuan penonton, tanpa tau tujuannya apa gw nurut aja, di barisan depan penonton sudah berjejer orang orang penting sekelas Anis Baswedan, Roy Suryo, Rektor Ugm dan Sekjen PP Kagama Pak Budi Wignyosukarto. Mati gaya, sangat. Namun entah kenapa bersama sama semua itu terasa menyenangkan.

Kreatif, acara terbilang cukup menarik karena dari awal kita sudah dituntut untuk berinteraksi sesama alumni ugm. Untuk memfasilitasi tujuan tersebut panitia membuat beberapa lomba dan salah satunya adalah lomba dance secara spontan, dengan berbekal pemegang juara tahun kemarin Kavir berencana untuk perform dengan thema gangnam style versi jawa. Dance satu ini memang sedang populer sekali walaupun menurut gw gerakannya ga lebih dari njatilan versi korea yang terkena dampak globalisasi. Jauh jauh hari gw udah nolak untuk ikut karena takut ngerusak, emang dance kayanya bukan specialisasi gw dengan badan yang kian berat hari demi hari badanku tak selincah dulu lagi. Apa daya, dengan sedikit tarikan dan dorongan gw sukses terjebak ikut nari gangnam style versi jowo, dikutip perkataan mba laeliyatul bukan versi jawa  tapi versi nekat.

Di awali dengan koprolan maut mas Alfian Rasyid, diikuti dengan gerakan gerakan gangnam yang spontan tapi (mudah mudahan) menghibur, diiringi saweran saweran receh dan ditutup oleh formasi aneh mas Puthut dan Mas Irvan. Kombinasi yang super unik menurut gw, ga bakal ada yang mendefinisikan indah mungkin, tapi lebih di definisikan superr seruu dan supeer spontan. Jempol buat semua serdadu kavir yang memutus urat malunya sesaat kemarin. Sayangnya moment kagangnam style tidak banyak yang mengabadikan, penonton semua sibuk melongo, tertawa atau menutup muka saking malunya. Gw juga ga pernah nyesel ikut terlibat di dance itu, pengalaman yang cukup aneh tapi selalu lucu dan menghibur jika diingat.

Acara temu kangen kagama tersebut dibuat bukannya tanpa bintang tamu, beberapa artis ibu kota seperti Ikang Fauzy dan Sammy Simonangkir turut andil menghibur. Rocker dari warga Kavir sendiri lebih atraktif lagi membuat serdadu kavir tumpah riuh ke depan stage. Lagu lagu berbeat kencang dan lagu lagu melow bergantian menghibur. Sepanjang acara serdadu kavir jingkrak jingkrak, ada yang sibuk foto foto, ada yang sibuk loncat loncat, ada juga yang sibuk foto sambil loncat loncat. Acara itu ditutup dengan pengumuman pemenang lomba, dan Kagangnam Style versi kavir mendapatkan juara II. Jangan tanya alasannya, aga berbau magic dan mukjizat kita bisa menang juara dua! Hahaha. Doanya kuat mungkin, semoga acara acara selanjutnya akan tetap seperti ini, dengan khas dari keluarga kavir, penuh semangat, hangat dan gak biasa. We are Kavir family, and im proud of it.

Pentas KV di Ancol Bermodal Nekad dan 1 Motor Vixion

cari-cari video flashmob

sebelum pentas, Sabtu 6 Oktober 2012 kami latihan di Depok. Hanya 5 orang yang latihan dan 3 supporter yang datang. Saat itu ada Alfian, Tisna, Rio, Laeli, dan Ulfia yang ikut latihan, sedangkan Imtiyaz, Mas Mimi, dan Siti mensupport kami. hari Sabtu banyak yang sudah memiliki agenda tersendiri, jadi dimaklumi yang bisa datang latihan segelintir saja. Yang penting saat tampil sebanyak sekitar 25 personel bisa menggoyang ballroom.

motor Vixion milik Rio yang digondol maling.

Selain modal nekad, pentas ini juga bermodal 1 Vixion! X_X. Saat latihan ada musibah, motor Vixion milik teman kami, Rio, hilang. Padahal sudah dikunci gembok depan dan belakang. Kami saat itu latihan di lantai dua. Motor di bawah, di dalam gerbang, di sampingnya ada motor lain dan bahkan di belakangnya tertutup mobil. Saat itu ada penjual bakso keliling yang melihat pencurian itu tapi diancam dengan todongan pistol oleh pelaku.

coba-coba pilih koreo.

Latihan dimulai sekitar pukul 10.30 pagi. Kami latihan dengan cari inspirasi dari beberapa video flashmob Gangnam Style di internet. Usai latihan sekitar pukul 16, selanjutnya kami rencana ke Jl. Margonda untuk bergabung dengan Mbak Ayi untuk makan bersama. Saat itu Alfian hendak pulang lebih dulu karena mau malem mingguan (eh! :p), saat turun ke lantai 1,  aku hendak mengantarnya sampai gerbang sembari bilang, “Fian, fotoin aku dengan motor Rio ya.” Sejak latihan di atas, entah kenapa aku ingin sekali foto di atas motor itu, rasanya ingin segera turun mau foto. Karena motor itu memang keren. “Memang motor Rio di parkir dimana?” tanya Fian. Saat itulah kami baru menyadari ternyata motor tidak ada di tempat.

saat di kantor polisi.

Lalu Fian, Tisna, Rio, dan aku mencari dengan motor menembus ke segala arah jalan di area itu. Karena kami berada di kompleks perumahan militer, kami sempat lapor ke tentara. Tetapi karena mereka hanya bertanggungjawab terhadap keamanan di dalam asrama, maka kami disarankan lapor polisi saja. Kemudian barulah kami bolak-bolak ke kantor polisi untuk melapor, lalu menjemput polisi untuk olah TKP ke rumah (saat itu mobil polisi sedang keluar tugas semua, jadi kami harus memfasilitasi kendaraan untuk jemput, kami jemput mereka pakai taksi), mengantar lagi polisi dan saksi, lalu pemeriksaan lagi. Kantor Polsek Cimanggis jaraknya cukup jauh dan ditambah sore itu macet, sekitar 40 menit untuk menempuhnya, hingga tak terasa kami pulang dari kantor polisi sekitar pukul 9 malam. Rio dan Iim diantar Ulfia dengan mobil. Alfian mengantarkan pulang si penjual bakso. Saat itu semua bisa saling diandalkan untuk segera mengambil sikap dan mengurus segala sesuatunya. Salut buat Alfian, Rio, Tisna, Ulfia, dan Iim. Turut prihatin untuk Rio, semoga segera mendapatkan ganti rizki yang lebih baik. Saat pulang malam itu baru saya ingat bahwa sepanjang hari sejak jam 11 pagi teman-teman belum makan. X_X (Pantesan lututku gemeteran). Saat itu ikut shock dan tidak nafsu makan, berita motor ilang memang tiap hari bisa dilihat di TV, tapi baru kali ini menyaksikan kehilangan di depan mata, dalam keadaan pengamanan yang cukup pula.

saat instal pemotong lagu ternyata trial, jadi mau dipotong pake gunting ajah.

Bolak-balik dalam keadaan genting dan derai hujan, tak terasa waktu tiba-tiba semakin malam. Saat itu urusan musik belum kelar, karena sepanjang hari kami belum berhasil memotong dan menggabung lagu. Saat itu yang bisa memotong lagu hanya Mas Mimi, dan dia sudah pulang sebelum kejadian motor hilang. Malam itu dia datang lagi ke kantor polisi untuk mengantarku pulang dan memotong lagu hingga pukul 11 malam. Terima kasih Mas Mimi. Dalam kantuk dan betis berkonde, aku kirimkan lagu hasil potongan ke Fian dkk sebagai back-up. “Kok lagunya cuma 2 menit?” tanya Fian dan Tisna kompak. “Tambahin lagi dong.” Zzzzzzz. Aku pusing, rasanya udah nggak bisa mikir soal lagu, kutinggal bobo.

Paginya, jreeeeng! Aku sebenarnya cemas, ntar pentas entah seperti apa, latihan belum optimal dan jangan-jangan teman-teman kelelahan. Tapi ternyata, hari H, semua tetap semangat. Bahkan Rio yang kehilangan motor pun tetap semangat pentas. Sebelumnya dia bilang, jika tidak ketemu motornya sudah diikhlaskan, jika masih rejekinya, Insyaallah kembali. Sip! Jadi, semua pun terbawa semangat. Ternyata teman-teman yang lain yang tak ikut latihan, dengan mudahnya mau gabung dan bersedia menggila. Dan hasilnya? Tadaaaaa! Baca di sini aja. Terima kasih semuanya. Kalian memang bener-bener kompak, seru, dan syalalala.

Cheers!

Depok, 11 September 2012.

Nur Laeliyatul Masruroh.

Tiket KA Bima 7 Desember 2012

KV Goes Green – Kopdar dan Peresmian HPKKH 8-9 Desember 2012

Acara KV Goes Green – Kopdar dan Peresmian HPKKH masih tanggal 8-9 Desember 2012, tapi kalau tidak beli tiket sekarang takutnya pas hari H malah sudah tidak kebagian tiket. Sering kejadian merasa masih jauh harinya dan kemudian berleha-leha ternyata mendekati hari H terpaksa “nubras-nubras” nyari tiket.

Kemarin mbak Krisma ngasih tahu aku kalau aku dapat tugas sebagai penyambut tamu di Stasiun Tugu bersama komunitas SLRT (Sepeda Listrik Roda Tiga). Aku setengah tersenyum membalas pesan mbak Krisma, “aku kan dari Jakarta bareng rombongan KV Jakarta, masak ikut menyambut rombongan Jakarta?”

Jadilah mbak Krisma baru tahu kalau aku itu kadang di Jakarta dan kadang di Jogja, kadang malah tidak di Jogja dan tidak di Jakarta. Hahaha… dasar makhluk tidak jelas posisinya.

Akhirnya kuputuskan ikut pesan mbak Krisma untuk bergabung dengan tim KV Jogja menyambut rombongan dari Jakarta yang rencananya akan naik KA Taksaka, artinya berangkat dari Gambir jam 20.45 wib. Akupun memilih naik KA Bima, sehingga aku bisa mendahului rombongan KV Jakarta dan bisa ngobrol dulu dengan tim penyambutan.

Hari Minggu pagi, akupun menjelaskan acara ini ke komunitas SLRT UGM saat menempuh rute pendek ke embung Tambak Bayan Jogjakarta. Tampaknya teman-teman anggota komunitas SLRT sangat antusias menyambut acara ini.

SLRT di depan Gelanggang Mahasiswa

SLRT di depan Gelanggang Mahasiswa

“Mas Eko, hari Rabu ini, Sri Sultan akan menjenguk BLPT Jogja dan akan melihat SLRT dan SLRE (Sepeda Listrik Roda Emat). Jadi kalau beliau bisa ikut meramaikan acara ini tentu akan makin bermakna acara gowes itu”

Acara penyambutan tim KV Jakarta ini memang dalam rangka Go Green dan Gowes pagi sekalian peresmian HPKKH (Hutan Pendidikan Konservasi Koesnadi Hardjasoemantri) Taman Nasional Gunung Merapi.

Banyak kegiatan yang akan menjadi isi acara itu. Beberapa minggu lalu, draft acara ini kubaca di FB, kurang lebih seperti tertulis di bawah ini.

+++

+ Jumat malam tgl 7 Desember – Nyepur bareng-bareng Gambir – Tugu (TAKSAKA)

+ Sabtu pagi tgl 8 Desember – Arak-arakan andong/dokar dari Stasiun Tugu ke Bunderan UGM/Pendopo Wisma Kagama, terus sarapan bareng-bareng di Boulevard UGM/Gelanggang UGM.

+ Sesiangan bisa diisi acara macem-macem, misal:
* Rally Foto (sudah bisa dimulai sejak dari Gambir dengan tema Go Green)
* Lomba Inovasi Limbah Plastik untuk anak-anak
* Fun games
* dll

+ Sabtu sore, bareng-bareng ke Desa Wisata Sambi.

+ Sabtu malam, pentas seni, api unggun dan menginap di camping ground Desa Wisata dan rumah-rumah penduduk di sekitaran Desa Wisata Sambi.

+ Minggu pagi 9 Desember – Lava Tour, berangkat bareng-bareng dari Desa Sambi menuju lokasi HPKKH – TNGM (Hutan Pendidikan Konservasi Koesnadi Hardjasoemantri – Taman Nasional Gunung Merapi) untuk Seremoni Peresmian HPKKH.

+ Minggu siang persiapan balik ke Jakarta.

+ Minggu malam 9 Desember – Nyepur bareng-bareng Tugu – Gambir (TAKSAKA), Senin subuh sampai di Jatinegara/

NOTE:
masih sangat dimungkinkan format dan mata acara yang berbeda.

+++

Saat ini panitia sudah sering berkoordinasi dan melakukan berbagai kopdar untuk memuluskan acara ini. Jadi tinggal nunggu Kopdar Akbar di DKI tanggal 7 Oktober 2012, yang akan dipakai sebagai ajang pemanasan acara “KV Goes Green – Kopdar dan Peresmian HPKKH 8-9 Desember 2012″

Salam sehati

Tiket KA Bima 7 Desember 2012

Tiket KA Bima 7 Desember 2012

Kopdar Ngumpulin Tanda Tangan

Photo by Novian Wijaya

“Mas pernah pacaran dengan kembang kampus?” tanya seorang perempuan memulai perkenalan dengan laki-laki yang sedang berdiri di antara kerumunan. Perempuan itu sembari menyodorkan selembar kertas dan pena, sekaligus minta tanda tangan. Apa nggak ada topik lain ya, mulai perkenalan kok dengan pertanyaan seperti itu? Tunggu dulu, ini bukan perkenalan biasa. Acara ospek? Hm, ikuti dulu lanjutannya.

“Diantara kolom ini ada yang sesuai dengan njenengan, Mbak?” pertanyaan kali ini untuk perempuan berjilbab yang sedang duduk di halaman bertenda. Seorang yang bertanya itu masih dengan kertas berkolom dan pulpen untuk mengumpulkan tanda tangan.

Di teras bertenda, Komplek PJA DPR RI, D3-300

“Oh, aku cinlok dengan Mas Ganjar saat KKN,” jawab mbak Atik, istri tuan rumah sembari menandatangani sebuah kolom. Mereka, sekitar 70 orang yang berkerumun pernah menjadi mahasiswa di kampus UGM Yogyakarta. Saat itu, Ahad 16 September 2012, bukan sedang kegiatan ospek, melainkan acara reuni Kagama Virtual sekagus syawalan di kediaman Mas Ganjar Pranowo di komplek Perumahan Anggota DPR RI, Kalibata, Jakarta Selatan.

Para tamu yang hadir adalah alumni UGM dari berbagai angkatan dan berbagai fakultas, jadi tidak semua saling kenal. Makanya perlu dibuat perkenalan khusus untuk memudahkan saling mengingat. Setiap peserta dibagi satu lembar kertas yang berisi 25 kotak. Masing-masing kotak berisi keterangan khusus, diantaranya “pernah pacaran dengan kembang kampus”, “memakai kaos Kagama Virtual”, “pernah cinlok saat KKN” dll. Mereka saling mencari tanda tangan teman yang sesuai dengan keterangan kolom.

Beginilah ruang tengah rumah dinas anggota DPR RI. :)

Selanjutnya acara agak berbeda dengan reuni-reuni Kagama sebelumnya. Karena Mas Ganjar baru saja mendaftar calon Gubernur Jawa Tengah, dalam sambutannya tak bisa dihindari muncul muatan politik. Mas Ganjar menyinggung tentang pengelolaan pajak bangsa ini yang belum optimal. Juga hal-hal yang bisa dikonstruksikan dalam konteks kepemimpinan. Selain itu anggota DPR Komisi IV dari fraksi PDIP ini mengaku memiliki strategi gerakan khusus, namun tidak bisa diungkapkan saat itu. Lhoh kenapa? Saat itu kebetulan dia menjawab pertayaan dari teman kader PKS. “Strategi tidak akan saya kasih kecuali PKS juga akan mendukung saya hari ini! “ sahutnya. Gelak tawa teman-teman pun pecah di ruang tamu. Suasana makin seru dan hujan banyolan lantaran kehadiran senior Mas Puthut Gambul, Mas Hasto, dan Mas Irvan yang punya sejuta komentar. Membuat acara tambah gerrr.

“Ssst.. ssst…sst..” bisik-bisik, awas inteligen dimana-mana.

                Saat makan siang dan waktu ibadah, mereka menikmati acara bebas. Yang di dekat pintu sedang ngobrol soal pekerjaan, yang di kursi makan sedang nostalgia jaman kuliah, yang di teras ngobrol ngalor ngidul, yang di pojokan sedang curhat masalah gebetan, dan yang di ujung tenda samar-samar terdengar nama Jokowi disebut-sebut. Ah iya, sekian hari lagi pemilihan Gubernur DKI. Jokowi sebagai kandidat DKI 1 sekaligus keluarga alumni UGM, tentunya tidak mengherankan jika punya pendukung dari kalangan teman-teman sealmamaternya. Pantas saja sejumlah orang berbaju kotak-kotak hadir di sana. Entah penyusup atau memang Kagama juga ya? Hihi. Juga, penulis buku tentang Jokowi, yang juga anggota Kagama, hadir di sana.

Duh, nyanyinya jangan keras-keras Mbak, Mas. Khawatir didengar produser rekaman. Khawatir ditolak! :p

Meski acara diwarnai nuansa politik, jangan pikir acara ini lantas membosankan. Buat yang tidak tertarik politik pun, punya ruang untuk hal lain. Bahkan, karaoke di teras bertenda sampai sore. Dengan suara pas-pasan, dan lebih banyak yang fals, diiringi organ tunggal, mereka nyanyi lagu-lagu lawas. Ini karena menyesuaikan yang pegang alat musik, koleksinya hanya lagu-lagu lama. Maklumlah, yang bersangkutan angkatan senior. Untunglah, ada satu lagu yang familiar oleh semua generasi. “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut…” lagu Yogyakarta ini membawa mereka kembali ke masa kampus. Merekatkan kembali kenangan-kenangan yang mungkin hampir retak. Termasuk kenangan seperti yang tercantum di salah satu kolom lembar perkenalan, kenangan bagi mereka yang pernah memiliki cerita dengan kembang kampus.

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, 17 September 2012.

Gowes Guyub Membelah Jakarta Hari H : 2 September 2012

Gowes Guyub Membelah Jakarta Hari H : 2 September 2012

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

"Saya siapkan diri saya untuk jadi pemasaran SLERET, silahkan ditaruh di kantor kementrian agar bisa dilihat siapapun yang datang ke Jakarta"

Sambutan dari Pak Djokir, Djoko Kirmanto, Menteri PU membuat para peserta Gowes Guyub bertepuk tangan meriah. Sleret adalah istilah slang dari SLRT alias Sepeda Listrik Roda Tiga. Sebuah nama yang bagus dan menjual, merupakan perwujudan dari sebuah sepeda serba guna untuk mereka yang mempunyai kendala khusus dalam bersepeda.

Read more… 497 more words

Gowes Guyub Membelah Jakarta Hari H : 2 September 2012 Gowes Guyub Membelah Jakarta Hari H : 2 September 2012

Kopdar Jepret, KVers Bersama Arbain Rambey

             Mengasah skill tentu saja penting bagi setiap orang. Ketrampilan apapun itu, jika seseorang mengusainya, dia akan menjadi yang terbaik di bidangnya. Atau, setidaknya bisa menunjang pekerjaannya. Atau, untuk having fun saja juga boleh. Termasuk fotografi. Jika dulu kemampuan fotografi hanya dimiliki kalangan tertentu seperti jurnalis foto atau fotografer studio, kini dimana-mana orang bisa memotret. Sebagian dari mereka mungkin tidak puas dengan hanya bisa jepret, tetapi ingin tahu lebih dalam bagaimana ilmu jepret itu. Berangkat dari itulah teman-teman Kagama Virtual (Kvers) di Jabodetabek berkumpul belajar motret di ODPS (Occi Digital Photography School), Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Sabtu 1 September 2012.

           Peserta yang awalnya ditargetkan 35, ternyata melebihi kuota hingga 40 orang. Mereka dari Jabodetabek, bahkan ada yang dari luar itu. Sebenarnya daya magnet apa yang membuat mereka bersedia meluangkan waktu ke sana? Padahal Jakarta yang macet dan jalanan ruwet seringkali bikin malas orang-orang untuk bepergiaan. Apalagi hanya untuk belajar motret. Bukankah cukup utak-atik sendiri fitur-fitur kamera di rumah? Tentu mereka punya alasan sendiri. “Dari SMA aku sudah minat foto-foto je. Kalau aku ikut kegiatan ini karena acara Kagama, jadi wajib dateng hukumnya, silaturahmi.” demikian alasan Alfian Rasyid, alumni Geofisika fakultas MIPA.

         Lain dengan Alfian, Sofyan Khoirul Anwar, alumni Teknik Geodesi, beralasan “Bukan karena tertarik fotografi, namun karena ingin bertemu teman-teman dan mempererat silaturahmi.” Lhoh!? Sofyan ini tinggal di Bekasi, menuju Jakarta Utara tentu saja bukan jarak yang pendek. Ditambah sepanjang jalan lalu lintas padat merayap dibalut terik matahari yang begitu menyengat. Namun, dia bela-belain datang.

          Sedangkan Mbak Utty Damayanti juga punya alasan sendiri. Selain ingin tahu tentang fotografi, secara umum/sedikit teknisnya, katanya juga ingin, “ketemu temen-teman dan bonus foto-foto yang fun!”

         Oke deh. Apapun alasannya, belajar sesuatu yang dikemas dengan acara berkumpul dengan teman-teman sealmamater memang bisa menjadi alasan penting untuk mengalahkan kendala. Termasuk kendala macet dan malas keluar rumah. Di sana bukan hanya berkumpul belajar fotografi, tetapi menemukan keluarga kedua. Teman-teman yang aman dan nyaman untuk berbagi. “Bukankah Rasulullah bersabda, siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diperbanyak rezekinya hendaknya ia memperpanjang silaturahmi.” tambah Sofyan mempertegas alasannya. Hoho.

Arbain Rambey mengenakan kaos Kelompok Fotografi Kagama buatan KVers. Photo by Eka Novianto N.

Apapun judul acaranya, ketika Kagama Virtual mengadakan “kopi darat” konon memang punya daya tarik tersendiri. Anggotanya terus bertambah. Kegiatannya makin variasi. Suasananya pun makin hangat. Lain waktu jika diadakan pelatihan membuat jamu, pesertanya pun mungkin akan banyak. Ups! Tapi kali ini tentang belajar motret dulu. Pematerinya nggak tanggung-tanggung, kami mengundang fotografer profesional, Arbain Rambey. Redaktur foto Kompas ini jurnalis yang memiliki keahlian dalam fotografi dan penulisan sekaligus.

                Melalui layar proyektor, sore itu Mas Arbain menunjukkan bagaimana mengatur komposisi objek alam dalam pemotretan. Seperti tajuk pohon, perahu sampan, dan sungai dalam satu frame. Gambar yang diambil dengan meletakkan perahu berada di bagian kanan, tentu hasilnya berbeda ketika motret dari angle lain. Arah datangnya cahaya matahari juga akan mempengaruhi hasil foto. Satu obyek alam bisa dipotret dengan berbagai sudut pandang. Keuntungannya, “Bisa dijual ke dua pihak yang berbeda,” ujar mas Arbain.

            Selain itu dibahas juga tentang bagaimana memotret objek manusia dengan latar belakang  alam ataupun bangunan. Menurut Arbain, saat pemotretan, objek manusianya bukan malah menjauh ke belakang mendekati bangunan, tetapi justru maju hingga separuh badan saja yang nampak dengan latar belakang bangunan yang penuh.

            Setelah mendapatkan sekian materi teknik fotografi, lalu mau diapakan hasil jepretan kita? Untuk koleksi pribadi dong atau dipajang di Facebook! Oh, kalau itu wajib. Selain itu, bisakah agar bernilai daya jual? Bagaimana caranya? Arbain mengatakan, seringlah untuk mengunggah hasil jepretan kita di internet, terutama situs yang memang memberi ruang fotografi. Di sana akan membuka peluang foto jepretan kita dilirik untuk kemudian dibeli. Bahkan, Arbain mengaku hidupnya 100% dari fotografi. Dia juga bercerita pernah diundang ke Eropa lantaran seorang nun jauh di sana tertarik dengan karyanya hingga ingin menggunakan keahlian fotografinya.

Tadaaaaa! Inilah salah satu hasilnya. ;-) . Photo by Alfian Rasyid.

Meskipun tema acara kali ini “Travelling Photography” namun tidak terbatas hanya soal itu. Peserta boleh bertanya apa saja tentang fotografi dalam kategori apapun. Termasuk fotografi jurnalistik dan studio. Acara diakhiri menjajal praktek fotografi di studio dengan pencahayaan lampu. Seperti biasa, lebih banyak yang dipotret daripada yang motret. Hu-ha, dimaklumi. Oh ya, Arbain sempat menyinggung singkat mengenai sejarah narsis. Berawal dari seorang pemuda bernama Narcissus yang sering bercermin di air karena begitu mencintai dirinya sendiri sehingga tidak bosan melihat wajah sendiri. Jadi, “Foto narsis itu syah!” kira-kira begitu kata Arbain. Baiklah, siap? Satu dua, jepret! ;-)

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, Minggu 2 September 2012.

Demo sepeda (amat) mini

Gowes Guyub membelah Jakarta 2 September 2012

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Tak terasa tanggal 2 September 2012 tinggal beberapa hari lagi dan aku masih juga belum dapat sepeda untuk acara gowes guyub 2012 membelah Jakarta. Sepeda lipat Dahonku sudah kulipat dan kukirim ke Jogja, sehingga aku harus beli sepeda baru atau meminjam milik teman-teman pesepeda Jakarta.

Masalahnya kalau meminjam sepeda teman, maka kita harus mengembalikan dan biasanya semangat meminjam dengan semangat mengembalikan sepeda berbeda cukup jauh, jadi kuputuskan saja untuk meminjam sepeda panitia.

Read more… 447 more words

Gowes Guyub 2012 membelah Jakarta. Demo sepeda (amat) mini

[Chapter 3] Pulau Rambut, Kelor, Onrust dalam cerita

masih berlanjut

Sebuah Kepedulian akan Alam

SUNRISES 05.00 WIB Pulau Rambut bagian Timur

Pagi hari menjelang matahari terbit, kami berjalan menuju kearah pesisir sebelah timur. Berjalan ditepi pantai yang menghampar, dengan melewati tumpukan sampah yang tercecer disemua sisi. Sebuah spot yang sangat luas sudah menghampar, semua segera memasang kuda-kuda, kamerapun sudah siap untuk membidik. Walaupun ada beberapa sedikit “pisuhan” namun acara pagi itu bisa dikategorikan sukses menangkap momen sunrise, walaupun tidak pas, karena tertutup mega. Setelah puas dalam acara pemotretan, para peserta kembali ke pondokan untuk makan pagi dengan nasi uduk yang sudah disediakan.

“Sun rise di ufuk sebelah timur”

Menanam Bakau 08.00 WIB

Acara selanjutnya ialah penanaman bibit bakau di pulau itu, bakau mempunyai peran penting untuk menjaga ekosistem di tempat itu, serta bisa menyerap co2 dalam jumlah yang besar. Hampir semua terjun ke rawa itu, menggali lumpur untuk kemudian menanam bakau. Banyak momen-momen yang lucu seperti kisah-kasih Dewo-Ulfia yang terekam kamera, Anita yang tidak bisa bergerak leluasa, momen unpredictable mba Ratih serta masih banyak momen yang lainnya yang bisa dilihat pada foto yang sudah beredar.

Setelahnya, kami tidak lupa pula untuk sedikit membantu membersihkan tempat itu, walaupun usaha itu sepertinya kurang maksimal dikarenakan tumpukan sampah yang sudah sangat kronis. Namun setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi semua sampah itu. Semoga Tuhan selalu melindungi mu.

“menanam bakau”

Menuju Kelor Island 12.00 WIB

Sebelum kami meninggalkan pulau rambut ini, sembari menunggu kapal jemputan, indri dengan semangat 45 tetap berusah untuk memeriahkan acara. Berduet dengan mas Eshape, menyapa dan meminta pendapat para peserta gathering. Salah empat nya ialah seperti berikut dibawah:

Irvan Kristanto

Yang pasti….
banyak perjalanan bersama rombongan yang sdh aku ikuti… selalu ada kesan yang dalam..
perjalanan kemarin, sangat menyenangkan (sebenarnya, tidak ada yang tidak menyenangkan dalam hidupku wkwkwkwk)….
kombinasi teman2 yang asyik… banyak bisa belajar untuk hidup lebih baik…
belajar dari alam…. menghadapi ombak… jangan takut kepada ombak….. (yang tidak ada ombaknya… yaaa bak mandi)…
ingat ucapan Rama Rambini: petualang, yang berlayar solo dr USA ke Bali…. saat2 laut tenang…. tak ada ombak, dia malah jadi depresi dan pengen bunuh diri.
nenek moyang kita orang pelaut…. kenapa takut ombak?… kalaupun haraus mati, kan cuma sekali… (saya nggak bisa berenang, tapi yaaa enjoy saja).
hantu2 pulau rambut, kemarin misuh2 semua… karena nggak bisa beraksi dan menikmati angin pantai…

Laeliyatul Masruroh

membawa kenangan yang tak terlupakan. Menemukan teman-teman baru, sodara-sodara baru, dan tentu saja foto-foto bagus dari kamera kawan-kawan fotografer. Terima kasih untuk semuanya yang telah mengupayakan acara ini, sehingga semua berlangsung dengan penuh kesan.

Cindy Silvia

Dua hari yang tak terlupakan,

okey deh,, ada beberapa perjalanan yang masih dalam waiting list..

Sampai Jumpa di gathering Jogjakarta di bulan Desember 2012… !!

Hery Muhendra

Walaupun bangga, tapi tetap ada kekhawatiran…untuk masuk suatu komunitas itu diperlukan frekuensi pemikiran,selera,atau kebiasaan yg sama. No offense, tyap org punya kharakter yg berbeda2. Berbeda culture,umur,profesi,kebiasaan. Semakin gw pikirin, semakin panik. Gathering bersama org2 yg umurnya diatas gw rata2,dgn Yogyakarta sebagai 1 unsur yg menyatukan kita..Gw bayangin bakal berasa di arisan bapak2 dan ibu2 dengan backsound lagu jawa dan semua memakai blangkon,khidmat. Absurd,boring dan bkin cepet tua hehe. Sempet ingin mengundurkan diri, namun apadaya sudah membayar. Akhirnya kami brgkat pagi2 ke gathering point Bandara, dengan tekad yg penting pantaaaii! gw emang aneh, penggila pantai yg ga bisa berenang.okesip ga usah diterusin bicara kekurangan gw

Sekitar pukul 12.20 an kapal pun merapat, semua peserta pun mengangkat semua barang bawaan untuk diangkat menuju kapal kayu. Perjalanan menuju pulau kelor memakan waktu sekitar 30 menitan. Dengan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ombak yang cenderung belum tinggi kapal berlayar menuju pulau itu. Diperjalanan saya melihat aliran sampah, seperti sebuah garis yang membentang dan membelah lautan, aliran sampah itu teramat sangat menyakitkan. Yuk mari kurangi penggunaan Styrofoam, serta mempergunakan barang yang bisa dipakai berulang.

Oh mami… Pulau kelor sangatlah indah, pulau kecil itu begitu menawan. Pantai yang lumayan bersih dengan pasir putih menghiasi sekelilingnya, namun sayang panas nya menyengat. Tentu saja semua bisa menikmati alam kelor yang sangat luar biasa indah ini. Dan disini Indri menjadi primadona para photographer. Semua lensa menyorotnya, semua takluk dibawah kakinya. Woala..

“sangat indah”

Pulau kecil ini sangat cocok untuk pasangan yang ingin melaksanakan poto prewednya, suasana serta panorama yang bisa diambil sangatlah pas dan menarik. Deburan ombak pun tidak begitu besar dengan desiran angin yang meniup sangat santainya.

Hanya ada satu kata yang bisa saya katakan untuk pulau kecil ini, indah, cantik, dan eksotis.

Akhir dari sebuah Perjalanan Photography

Sayonara

Setelah menghabiskan waktu di pulau kelor rombongan melanjutkan singgah ke pulau berikutnya, pulau onrust. Di pulau ini kami hanya sekitar 2 jam saja, untuk mengisi logistik sebelum berangkat ke Jakarta lagi. Kebetulan saya tidak menjelajahi pulau ini, maka saya kutipkan saja dari tulisan mba Laely

Kutip

Setelah itu kami ke Pulau Onrust, di sini banyak pengunjung dan tentu saja banyak penjual. Tidak semenarik Pulau Kelor, tapi di sini ada reruntuhan bangunan tua dan pepohonan yang asri, bukan hutan. Bagus juga untuk pemotretan. Tentu saja, acara kami kan judulnya Photography Gathering. Pesertanya lebih banyak yang suka dipoto dari pada yang moto. Namanya juga pecinta fotografi, bisa juga pecinta foto pribadi. Wkwkw.  Saya tidak punya kamera besar, hanya bawa kamera HP. Tidak punya kamera bagus tidak papa, yang penting pulang bawa oleh-oleh foto-foto bagus. :D .  Kami makan siang di Pulau onrust untuk kemudian dilanjutkan perjalanan kapal menuju ke Tanjung Pasir. Selanjutnya pulang ke rumah masing-masing.

End kutip

Sungguh menyenangkan dua hari acara gathering tersebut, banyak bertemu dengan teman baru, terutama teman yang sudah sangat mahir bermain kamera (berbeda dengan saya yang belum mahir berkamera, hanya mengandalkan intuisi untuk menulis saja)

“kami”

Terima kasih temans semua atas semua pengalaman indahnya

Matur nuwun untuk semua antusiasme nya

Thank you untuk semua keceriaannya

Arigato gozaimasta untuk semua hasil fotonya

 Tri H Sulistiyo, Jakarta 30 May 2012

(terima kasih untuk temans semua atas fotonya, Sehingga bisa melengkapi goresan sederhana ini, dikarenakan tanpa foto temans semua, maka goresan ini hanya akan menjadi susunan kata semu tanpa makna)

[Chapter 2] Pulau Rambut, Kelor, Onrust dalam cerita

dan kemudian cerita ini akan masih terus berlanjut…

Pulau Rambut 10.04 WIB

Acara pertama ialah Ice breaking yang dikomandoi oleh mba Any Re dan mas Eko Eshape dengan embernya. Semua riuh menjadi satu, semua lebur menjadi sebuah campuran yang semakin terikat oleh sebuah pemicu kecil di ice breaking itu. Dan tidak lupa peran Indriani Oka yang sangat bagus dalam memeriahkan sebuah show. Salut untuk mereka bertiga yang sangat kompak dalam mendirijeni acara. Namun, acara tersebut harus segera berakhir, karena makan siang yang ditunggu sudah datang. Makan siang dengan sayur kangkung dengan ikan tentu saja, yang sangat nikmat untuk mengisi logistik yang sudah kosong semenjak pagi hari.

“mengenal satu dengan yang lain”

Gerilya Di Hutan 14.00-16.00 WIB

Dibagi menjadi dua kelompok, kami mulai memasuki kawasan hutan lindung itu. Ada dua tujuan utama yaitu sarang burung (bird nest) serta menara pengawas. Memasuki hutan, kami disambut oleh Ular berwarna hijau dengan dipadu corak hitam dan emas yang sedang berteduh diatas rindangnya pohon, namun panasnya udara siang itu membuat sang predator hanya bermalas malasan dengan tidur menggelantung. Tak lama kemudian, rombongan besar sampai dipersimpangan jalan menuju tujuan utama. Disana, kami disambut oleh Biawak yang berlengak lenggok seolah berada di atas biawakwalk. Semua lensa pun segera terbidik ke arah mas Biawak. Dipersimpangan tersebut, grup pertama langsung menuju ke menara pengawas, sedang grup kedua menuju ke bird nest. Kami pun melewati sarang Elang Laut, akan tetapi sang Elang tidak mau keluar dari sarangnya, dikarenakan dia sedang mengeram (Elang ini sebenarnya muncul lagi keesokan harinya, namun ketika mau dikejar, Elang itu sudah tidak nampak lagi).

 

“Bluwok”

 I wish I’m a bird,


Kata itu melintas sepersekian detik dimata keenamku. Begitu indah makhluk itu, dia terbang mengepakkan sayapnya, hinggap dengan eloknya, menukik dengan tajamnya serta berteriak dengan garangnya. Namun, banyak manusia yang tidak peduli akan keberadaan dan tempat tinggalnya. Semua mata lensa ini terus beradu, berusaha untuk menangkap setiap detail momen, berusaha untuk membingkai serta mengabadikanmu dalam sebuah frame bernama keindahan. Pak Hata, Mas Haris, Om Luq, Om Eshape, Mas Sandhal, Kang Novian serta temans yang lain pun tidak lupa berusaha menangkap itu semua. Perjalanan ini berakhir disebuah rawa yang merupakan jalan buntu, namun banyak keindahan yang nampak ditempat itu.

 

Berlanjut menuju ke menara pengawas, menara dengan struktur model derik ini masih kuat berdiri, kondisi yang sangat bagus untuk menara yang dibangun pada tahun 1980an. Dengan tinggi sekitar 15-20 meter, dengan rangka baja bentuk angle dengan profil 150×150 mm dilapisi coating yang berfungsi untuk melindungi dari laju korosi. Sesampainya disana, rombongan pun mulai memanjat. Angin bertiup dengan kecepatan lebih dari 20 km/ jam itu menghembus, membelai dan menyambut kami.  Hamparan hutan itu menampar mataku, angin itu masuk dalam jantungku, desiran ombak itu pun tidak lupa melambai kearahku.

                 “aku sadar aku kecil”

                “aku juga mengerti bahwa aku egois”

                “Engkau telah membunuhku”

                “dan aku hanya bisa terdiam membisu”

Menangkap Sunset

Sore hari sekitar pukul 17.00, rombongan ini bergerak mendekati spot untuk mendapatkan foto sunset. Diantara Styrofoam kami berjalan, kadang mengendap bak seorang tentara bayaran yang hendak menyergap musuh yang menanti dengan hulu ledak nuklirnya. Kami pun melewati jalanan Styrofoam  itu, beberapa kali saya digigit oleh nyamuk, melihat biawak yang lari untuk bersembunyi, karena kedatangan tamu asing. Beberapa menit kemudian akhirnya sampailah kami di spot itu. Semua kamera sudah mengarah ke penjuru sang surya menenggelamkan diri, bidikan demi bidikan itu menghujam satu demi satu, semua mengabadikan semua larut dalam suasana temerang nya sang surya.

“Sunset” 

Celetukan Kang WWB

 Malamnya, setelah makan malam dengan sup kerapu yang sangat luar biasa enaknya, Kombinasi bumbu yang sangat pas dilidah serta memanjakan rasa ini sembari menekuk dan menghancurkan daging kerapu yang begitu lembut. Manis, asam, asin serta pedas itu menandakan bahwa kehidupan itu pun terasa seperti itu.

 ”sup kerapu”

Semua peserta gathering berkumpul di depan pondokan. Banyak games seru yang dilakukan, menulis indah dengan tubuh, bernyanyi, membaca dan tentu saja dengan beberapa dorprize yang sangat mengejutkan. Ada yang sangat menyegarkan, dan itu terucap dari celetukan-celetukan kang WWB, dengan gaya yang khas, walaupun sedikit klomoh. Namun karena keklomohan itu lah yang bisa membuat semua orang terpingkal, terjungkal dan terpuaskan. Salut untuk seniman Haiku dan Haiga ini. Satu kata saja ….. Luar biasa.

“sebuah gaya khas”

Peresmian KPK

Dab Irvan membuka latar belakang cerita akan kegiatan ini, sedikit cerita mengawali semuanya. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang diharapkan bisa dilanjutkan sehingga akan banyak hal positif yang dihasilkan, tidak hanya sebatas bertemu, namun keakraban ini diharapkan bisa terjaring dengan kuat, grup kecil ini diharapkan bisa mengionisasi teman yang lain untuk melakukan banyak hal yang positif.

Ya, akhirnya disetujui dengan suara mutlak bahwa namanya KPK.

 

“nama itu”

Menyambut Mimpi 23.00 >> Zzzzzt…

Malam sudah semakin larut, saatnya untuk menarik selimut. Sleeping bag itu saya gelar di bawah pohon, menatap langit berselimutkan angin laut yang menerpa dengan kalemnya. Nampak kesunyian malam dengan deburan ombak membelai pulau itu. Senyap, sepi dan sunyi mulai memberatkan kantung mata ini.

 

Dalam anganku terbayang,

Dalam setiap rasa

Yang tak kan pernah bisa hilang,

walau sekejap

Ingin selalu dekat denganmu,

Enggan hati berpisah,

Larut dalam dekapanmu, setiap saat

 

Selamat tidur Pulau rambut…

bersambung chapter-3

[Chapter 1] Pulau Rambut, Kelor, Onrust dalam cerita

Awalnya perjalanan ini dimulai dari sebuah obrolan santai, beberapa ahli kameragraphy mengemukakan sebuah gagasan, ide serta sebuah plot plan akan sebuah wadah kegiatan yang positif bagi alumni kagama, dan diharapkan semua energi ini bisa tersalurkan dengan pas dan terarah. Selanjutnya untuk menindaklanjuti ide tersebut dibentuk lah team kecil, dan team kecil ini ialah aktor sangat hebat dibalik suksesnya acara gathering Photography di pulau Rambut ini. Namun, sebelum melangkah lebih jauh lagi, mari kita urai siapa sajakah mereka ini.

 ”terbingkai di Pulau Rambut”

Ada om Luq sang maestro Nikon dibantu oleh para wanita super seperti Sagung Indriani Oka, Anita Puspita Negara, Ulfia Mutiara, mba Aroem Naroeni, dan didukung penuh oleh Dewo sang bunga Seroja, tak lupa pula dab Irvan yang selalu support dengan sepenuh tenaga untuk semuanya. Tidak lupa pula big thanks untuk mas Haris Yunant untuk semuanya.

“the actor behind the Show”

Perjalanan ini dimulai dengan mematangkan semua konsep di Blok M, sebuah tempat dilantai lima Blok M Square. Menggenerate serta menganalisa semua persiapan dan memetakan serta mensimulasikan semua kebutuhan selama gathering. Dan setelah semua persiapan clear dan masalah terpecahkan, paginya perjalanan ini pun dimulai.

  

“at Blok M” 

Terminal B1 Soekarno-Hatta 08.00 WIB

Tempat ini merupakan stand pertemuan, kunci dari semua aliran peserta ada ditempat ini. Tangerang, Bandar lampung, Jogja, Magelang dan Jakarta menuju titik ini pada pagi hari, 26 May 2012. Pada pukul 08.00 tepat semua sudah berkumpul menjadi satu kesatuan yang utuh di tempat itu. Perjalanan dengan iring2an mobil pun segera dimulai untuk menuju titik point pertemuan kedua yang berada di tanjung pasir. Semua peserta sudah berkumpul ditempat itu, setelah dilakukan proses absensi dan perkenalan awal, semua peserta bergerak menuju ke dermaga, yang sayangnya kotor dengan sampah. Sebuah Boat tradisional yang terbuat dari Kayu sudah menunggu rombongan, kami pun bergantian satu demi satu naik ke boat tersebut. Segera saja rombongan itu pun diangkut menuju P.Rambut. Pada awalnya saya berpikir disana sangatlah ekstrim, tanpa ada aliran listrik dan sinyal, namun ternyata semua perkiraan saya salah besar.

“meeting point Soekarno Hatta”

Perjalanan dikapal pun sangat lancar, dengan deburan ombak yang sesekali menderu berusaha untuk menembus kapal kayu itu, logistik pun tidak luput dari terjangan air laut, ada beberapa tas yang basah terkena air asin. Kurang lebih 50 menit kapal ini mulai berlabuh di Pulau rambut, sekilas mengamati pada pandangan pertama, “oh My Dog….”

“naik kapal”

Rombongan pun segera menuruni perahu kayu itu, semua logistik diturunkan, namun ada satu keranjang buah lecy yang hilang? Kalau tidak salah ingat saya masih melihat box Lecy itu tergeletak di pantai, waktu itu saya sudah mengangkat box jeruk selain membawa carier di punggung. Namun, yasudahlah jika memang Lecy itu hilang.

Kondisi pulau rambut, sudah bisa dilihat dari beberapa foto yang beredar, bahwa sampah sudah menyerang dengan ganas tempat itu. Pulau dengan luas sekitar 45 Hektar itu dihuni beberapa satwa burung air (merandai) serta merupakan tempat transit burung migran. Ada sekitar 15 jenis burung air yang menghuni tempat itu (mardiastuti, 1992). Merupakan cagar budaya yang harus kita lestarikan dan kita jaga. Setelahnya semua peserta langsung membongkar bawaan dan beristirahat ditempat itu, sekedar untuk memecah rasa capek yang didapat dari perjalanan singkat tadi.

bersambung chapter-2

Biawak narsis di Pulau Rambut 6

Sasaran KPK Gathering : Pulau Rambut

Reportase versi mbak Laeliyatul Masruroh

Pulau Rambut 0

Akhirnya keinginan saya ke Kepulauan Seribu jadi kenyataan. Setelah sekian kali janjian sama teman-teman, sulit mempertemukan jadwal pergi ke sana bersama, akhirnya ketika Group Kagama Virtual -Keluarga Alumi Universitas Gadjah Mada yang diawali bertemu secara virtual-,mengumumkan akan mengadakan reuni di Kepulauan Seribu, tanpa pikir panjang saya langsung daftar.

Untuk mendapatkan kesempatan ke sana, tidaklah terkabul begitu saja. Saat mendaftar, saya bahkan masuk waiting list dahulu, karena peserta terbatas 60. Lalu akhirnya bisa mendapatkan kesempatan setelah diantara 60 orang yang lebih dulu daftar ada yang membatalkan. Asiiik.

Beberapa hari sebelum berangkat, diantara sekian banyak teman itu, sejujurnya hanya satu nama yang benar-benar saya kenal cukup lama, yaitu Dhanti. Kami bersahabat sudah 10 tahun, sejak di kampus UGM. Lainnya, ada yang sudah kenal via Group BBM, sesama alumni JS, ataupun hanya lihat foto dan kalimat-kalimatnya yang beredar di Group Kagama. Eh iya, ada Ulfia, teman yang pernah sekali bertemu ketika acara reuni Kagama di MetroTV, Februari 2012 lalu. Malam sebelum berangkat, saya menginap di rumah Ulfia, karena paginya akan berangkat bareng dijemput mobil Mbak Ayi (Lestari Octavia).

Sebelum berangkat, saya mencari informasi tentang Pulau Rambut. Saat itu baru tahu pulau tersebut ternyata berupa hutan, berlumpur, tidak berpenghuni, dan tentu saja tidak ada penjual. Kami akan menginap di pos jaga atau bikin tenda, bukan di penginapan. Hah?! Terus terang, selama ini saya bukan termasuk orang yang suka jalan-jalan ke medan berat seperti hutan atau pegunungan. Saya hanya khawatir tubuh saya nggak kuat di medan seperti itu, lalu seandainya sakit akan merepotkan orang. Hehe. Ya sudahlah tidak apa-apa, yang lebih penting silaturrahimnya, bertemu kawan-kawan baru, sodara-sodara baru. Bertemu teman-teman sealmamater meski dulu di kampus sama sekali belum pernah bertemu, tetapi biasanya segera akrab dan seperti menemukan sodara lama.

Saya tinggal di Depok, yang ternyata tak jauh dari rumah Ulfia. Ketika Ulfia menjemput, dia bilang bawaan saya banyak banget. Dia bilang cuma bawa diri dan tas slempang kecil. Hah?! Saya pikir, saya membawa barang-barang sesuai dengan petunjuk panitia. Bahkan masih kurang, tidak membawa sleeping bag, karena tidak punya. Satu tas ransel digendong, satu tas tangan, satu lagi tas untuk jaket tebal. Isinya lengkap, baju 3 potong dan pakaian dalam, peralatan mandi, mukena, selimut tebal, obat-obat pribadi, kaos kaki, kaos tangan, topi, senter, make up, cemilan, dan air mineral 1800 liter. Bahkan tadinya saya mau bawa koper beroda. Beginilah tipikal anak rumahan yang hendak pergi ke hutan, rempong! :D

Lalu, pagi-pagi kami dijemput Mbak Ayi dan Mas Sholeh, di jalanan kami mengangkut juga Mbak Andi Rahmah, Mbak Raisah, Pak Endro, dan Pak WWB. Satu mobil berdelapan! Saat di Bandara Soekarno Hatta barulah kami bertemu dengan teman-teman lain, wajah-wajah yang bagi saya asing.

Dari bandara, kami menuju Tanjung Pasir untuk persiapan naik kapal dan pembagian kaos. Kaosnya ada dua warna, hitam dan putih, desainnya OK banget, meski ukuran terkecil M masih kedodoran buat saya. Di sini suara toa Indri, panitia acara, terdengar untuk pertama kali, untuk mengabsen dan membagi kaos.

Pulau Rambut 1

Lalu, kami naik kapal menuju Pulau Rambut. Saya lupa menghitung waktu, tapi kira-kira 1 jam. Gelombang air laut sedang cukup besar, yang mabuk laut disarankan minum obat.

Sampai di bibir pantai Pulau Rambut, kami disambut dengan sampah-sampah berserakan. Sayang sekali area konservasi seperti ini dipenuhi sampah yang tidak bisa terurai. Banyak plastik, karet ban bekas, sandal jepit, sepatu, juga beberapa sandal bermerk, sayangnya cuma sebelah. Haha.

Setelah meletakkan barang bawaan, suara toa Indri kembali memanggil kami. Sembari menunggu makan siang datang, kami berkenalan dengan permainan. Nama saya Laeli, saya ingin ke Bulan membawa Lampu Peromaks. Boleh? “Boleh.” Kata teman-teman. Sip! Siapa namamu? Lalu, permainan Hujan Badai. Selanjutnya kami dibagi kelompok laki-laki dan perempuan, untuk permainan lagi. Pokoknya seru deh.

Pulau Rambut 3

Makan siang telah siap. Makan siang didatangkan dari pulau seberang. Pulau Untung Jawa, pulau terdekat dengan Pulau Rambut. Di Pulau tersebut konon airnya tidak asin. Nuansa di Pulau untung Jawa juga konon seperti di kota, banyak rumah dan area pertokoan. Kami makan siang yang enak. Ikan laut bakar, sayur kangkung, cumi tepung goreng, dan sambal kecap yang mantap. Mungkin karena ikannya segar ditambah rasa lapar, dilidah rasanya sangat lezat.

Setelah jamaah shalat dhuhur yang di-jamak-qosor dengan ashar, kami berangkat menyusuri hutan, kelompok saya menuju Menara Pandang, untuk melihat bermacam burung yang beterbangan dan duduk di ranting pohon. Menara dibuat dari baja, kami perlu menaiki tangga yang cukup membuat jantung berdebar. Apalagi bagi yang takut ketinggian. Turunnya lebih menyeramkan. Tetapi menyesal kalau tidak mencoba. Karena di atas sana, pemandangannya sangat indah. Jika pakai topi, pastikan terikat kuat. Karena topi salah satu teman kami terbang ditiup anging, nyangkut di tajuk pohon.

Di sepanjang jalan setapak menuju ke sana, kami menemukan pohon dari keluarga Jeruk, kata pemandu jalan, itu tanaman endemik Pulau Rambut. Banyak juga ditemukan Jati pasir, Waru Pantai, Kepuh, dan gadung. Buah kepuh sekilas dari jauh seperti apokat, begaitu juga pohonnya. Umbi gadung ini juga berserakan di sepanjang area hutan, untuk memakannya perlu pengolahan khusus.

Sepanjang perjalanan tidak saya temukan sama sekali tumbuhan keluarga benalu. Hanya ada jenis liana entah apa namanya yang menempel di pohon. Batangnya menempel dan menembus batang tanaman inang, namun akarnya menghujam ke tanah, saya yakin bukan dari keluarga benalu. Mungkin juga karena burung-burung di sana juga didominasi oleh burung sejenis elang, pemakan ikan. Hanya sedikit burung yang memakan buah-buahan. Sedangkan penyebaran biji benalu dibantu oleh burung-burung jenis tertentu.

Biawak narsis di Pulau Rambut 6

Biawak narsis di Pulau Rambut 6

Di sebuah papan di dekat pos jaga, juga terdaftar sejumlah hewan yang bisa ditemui di pulau tersebut. Diantaranya yang besar seperti biawak dan ular berbisa cincin emas. Dalam perjalanan, kami menemukan keduanya. Ular cincin emas kami temui di atas pohon. Menurut penjaga pantai, ular itu sudah seminggu di atas pohon tersebut. Biasanya setelah makan tikus atau bangkai burung, mereka tertidur cukup lama. Sedangkan biawak ditemukan ketika hari menjelang sore. Biawak ini pergi ke pantai pada pagi hari, lalu sorenya pulang ke hutan untuk kemudian tidur di bawah gorong-gorong di sekitar pohon besar.

Di dalam hutan, ada banyak rawa yang ditumbuhi pohon bakau, patahan koral dari laut berserakan seperti tulang diantara akar nafas yang muncul di sana sini. Banyak lubang di sana sini, konon lubang pintu rumah kepiting besar. Saya lulusan Biologi, tapi sepertinya baru pertama kali lihat langsung dari dekat ekosistem seperti ini. Huahahaha.

Setelah jalan-jalan masuk hutan, kami kembali lagi ke Pos Jaga dan tenda. Lalu menjelang magrib, sebagian besar kami masuk hutan lagi ke suatu area untuk mengabadikan momen sunset. Saya berada di rombongan terakhir. Sekitar 6 orang rombongan terakhir ini kehilangan jejak peserta di depannya. Maka kami bolak balik coba-coba arah malah nyasar, akhirnya balik ke tenda. Kami bingung, harus lari ke hutan atau belok ke pantai. Mungkin ini yang dirasakan oleh panyair puisi Kulari ke Hutan, yang dibacakan Dian Sastro dalam film Ada Apa dengan Cinta. Halah! Saya menuju ke dermaga bergabung dengan teman yang sudah ada di sana sejak tadi. Teman yang lainnya yang tadi nyasar, berangkat lagi setelah menemukan satu pemandu yang paham area.

Pulau Rambut 2

Saya menghabiskan senja di dermaga, menikmati matahari yang perlahan tenggelam. Kawanan burung bolak balik terbang, ombak masih terus berdebur kencang. Indah sekali. Menikmati sunset sembari mendengarkan cerita teman-teman angkatan yang lebih tua, tentang kuliah dan kos jaman dulu, jaman mesin ketik. Seru dan serasa saya masih muda banget. Wkwkwk.

Kami berkumpul kembali saat magrib untuk ibadah dan mandi, bagi yang tertarik mandi. Perlu diketahui air asin dan tidak berbusa ketika disabun. Menurut petugas jaga, hanya sabun L*febo* dan sampo *ante** yang mampu menghasilkan busa. Mereka sudah sekian lama di sana, sekian kali uji coba sabun dan sampo. :D

Malamnya kami makan sup ikan dan tumis cumi. Enak sekali. Acara santai ngobrol apa saja. Lalu permainan dipandu oleh Mbak Any Re dan Mas Eko Eshape. Gayeng. Acara selalu heboh jika ada Koh Ivan dan Pak WWB. Banyak permainan, banyak dorprize. Sayangnya saat itu perut saya melilit, datang bulan tiba, obat pereda sakit gak ketemu, akhirnya cuma duduk menyimak.

Pulau Rambut 4

Paginya, sesaat usai subuh kami berangkat ke bagian timur Pulau untuk mengabadikan momen sunrise. Matahari muncul dari sebelah pulau Untung Jawa. Banyak burung terbang, ombak yang berdebur, dan tajuk pohon membuat sunset terekam sempurna. Sayangnya ada penampakan jalan-jalan sehingga mengganggu pemandangan. Wkwkwk. Kami mengambil momen tersebut diantara sampah-sampah berserakan. Plastik, botol, karet, boneka, sandal jepit, sepatu, dan sayangnya lagi-lagi tidak ada sepatu bagus yang sepasang berserakan. Mau buat oleh-oleh je! :D

Selanjutnya kami balik ke tenda untuk makan pagi. Kemudian acara tanam hutan mangrove. Acara tanam bakau di Pulau rambut bagian utara. Perjalanan menyusuri pantai, lalu belok hutan. Lagi-lagi, serasa berada di puisi Tentang Kita yang dibacakan Dian Sastro. Setiap peserta dapat satu bibit bakau. Kami menanam di tanah rawa, diantara pohon bakau lainnya. Kemudian, acara bersih pantai, dengan mengumpulkan sampah ke dalam plastik-plastik besar. Sampah banyak sekali di Pulau Rambut karena ada 13 mulut sungai dari Jakarta dan Tangerang yang menuju ke Pulau tersebut. Kami berhasil mengumpulkan sekian plastik besar, mungkin ini tidak seberapa untuk membersihkannya, tapi setidaknya kami mengurangi sampah dan tentu saja jangan sampai menambah. Sampah-sampah yang sudah terkumpul dalam sekian plastik besar tersebut nantinya akan dibawa oleh petugas ke tempat pembuangan akhir di Pulau Untung Jawa, untuk dibakar di sana. Di Pulau Rambut tidak diijinkan menyalakan api untuk membakar sampah ataupun sekedar menyelakan api unggun. Mungkin karena di sana anginnya kencang dan dekat dengan hutan, banyak ranting kering, dikhawatirkan terjadi kebakaran hutan.

Setelah dari tanam bakau, selanjutnya acara bebas. Ada yang menghabiskan waktu di dermaga, atau sekedar memuaskan mendengarkan ombak sembari merebahkan tubuh di rerumputan. Toa Indri masih selalu terdengar, kali ini tentang kesan-kesan teman-teman mengikuti kegiatan ini. Hei acara belum selesai, karena masih ada 2 pulau yang akan kita lalui.

Setelah berkemas dari Pulau Rambut kami berkapal menuju Pulau Kelor. Perjalanan sekitar 30 menit. Dari jauh, pulau ini nampak eksotis. Dari dekat, ternyata memang indah. Pasirnya putih dan lebih bersih dibandingkan Pulau Rambut. Yang khas adalah sebuah benteng yang dibangun dari batu bata. Bagus sekali untuk foto-foto. Juga puluhan atau bahkan mungkin ratusan tetrapod beton yang sengaja ditanam di bibir pantai. Palau Kelor dipotret dari kapal.

Setelah itu kami ke Pulau Onrust, di sini banyak pengunjung dan tentu saja banyak penjual. Tidak semenarik Pulau Kelor, tapi di sini ada reruntuhan bangunan tua dan pepohonan yang asri, bukan hutan. Bagus juga untuk pemotretan. Tentu saja, acara kami kan judulnya Photography Gathering. Pesertanya lebih banyak yang suka dipoto dari pada yang moto. Namanya juga pecinta fotografi, bisa juga pecinta foto pribadi. Wkwkw. Saya tidak punya kamera besar, hanya bawa kamera HP. Tidak punya kamera bagus tidak papa, yang penting pulang bawa oleh-oleh foto-foto bagus. :D . Kami makan siang di Pulau onrust untuk kemudian dilanjutkan perjalanan kapal menuju ke Tanjung Pasir. Selanjutnya pulang ke rumah masing-masing.

Akhirnya sampai rumah dengan selamat, membawa kenangan yang tak terlupakan. Menemukan teman-teman baru, sodara-sodara baru, dan tentu saja foto-foto bagus dari kamera kawan-kawan fotografer. Terima kasih untuk semuanya yang telah mengupayakan acara ini, sehingga semua berlangsung dengan penuh kesan.

Menanam Pohon Bakau di Pulau Rambut

Menanam Pohon Bakau di Pulau Rambut

Diunggah dari notes Facebook mbak Laeliyatul Masruroh

+++

Foto-foto diambil dari sini dan dari FB hasil karya para fotografer KV

Couching Clinic Photography di Pulau Rambut

“Sekarang ini semua camera sama saja kok, mau Nikon atau Canon pada dasarnya sudah sama. Beda dengan kondisi sepuluh tahun lalu, dimana dua penganut agama (Canon dan Nikon) saling mengklaim merk yang mereka panuti sebagai merk terbaik”

“Benar, kalau mau yang prestise jangan bicara Canon atau Nikon, tapi bicara Hasselblad. Ini camera yang harganya sudah ratusan juta”

“Hahahaha…. padahal spesifikasinya tidak jauh beda dengan Canon atau Nikon ya”

“Kalau mau lagi, boleh tuh tenteng Leica yang harganya sudah milyard”

nikon canon

Diskusi para penggemar fotografi di pulau Rambut ini berlangsung seru. Ilmu para peserta diskusi ini memang sangat beragam dan sangat jauh bedanya, sehingga saat kuusulkan untuk secara resmi diadakan Couching Clinic, mereka malah keberatan. maklum kalau pesertanya tidak homogen mereka akan kesulitan memberikan materinya.

Peserta gathering para pecinta fotografi di Pulau Rambut ini memang terdiri dari berbagai kelas, mulai dari yang tidak bawa camera, yang bawa camera tapi masih sangat amatir, sampai yang sudah tingkat profesional, meskipun mereka tetap tidak mengaku sebagai tukang foto profesional.

Jadilah couching clinic dilakukan secara langsung di lapangan. Kita perhatikan mereka saat melakukan pemotretan dan kita tanya yang bisa kita tanyakan.

Nikon dari NU (Non UGM)

“Lampu blitz jadi barang haram bagi sebagian tukang foto, karena akan mengurangi nilai natural sebuah obyek”

“Teknik slow speed sangat rentan terhadap gangguan obyek yang tidak diinginkan, jadi lokasi pemotretan harus bebas dari gangguan obyek yang tidak diinginkan oleh pemotret”

Perbedaan tingkat pemahaman dari para peserta acara ini akhirnya menjadi sebab terjadinya beberapa gangguan sesi pemotretan dengan modus slow speed. Frame yang sudah disetel sedemikian rupa ternyata dimasuki oleh obyek yang tidak diinginkan. Hal ini terjadi karena pemahaman yang jauh berbeda terhadap sesi pemotretan sunrise.

Canon

Paa sesi pemotretan tanpa lampu di malam hari hal ini tidak terjadi, karena semua peserta lebih banyak yang ngobrol di tenda, teras maupun meringkuk di kamar, tapi pada sesi pemotretan sunrise, hampir semua peserta ikut di lokasi pemotretan. Para tukang fotopun bisa melakukan explore dermaga dalam gelap malam. Mereka baru berhenti motret ketika batere camera sudah tidak bisa diajak bekerja lagi.

Pada sesi pagi (sunrise), gangguan pertama diawali dari camera pocket yang disetel otomatis, sehingga langsung menghidupkan lampu kilat ketika dipakai untuk memotret.

Gangguan kedua terjadi ketika ada seorang peserta yang berjalan di dalam frame camera. Ketika diminta untuk balik ke pantai dan tidak berdiri di tanggul pantai, dia merasa tidak perlu balik ke pantai, karena dia tidak menyadari bahwa dia sudah masuk dalam frame para pemotret dan sosoknya akan menganggu bidikan para pemotret. Mungkin dia mengira para pemotret mengkhawatirkan dia jatuh ke laut, padahal dia tidak takut jatuh ke laut, jadi kenapa harus balik ke pantai?

Bukaan camera yang berlangsung sampai beberapa menit akan merekam jejak orang yang berjalan di atas tanggul pantai sebagai obyek yang tidak jelas, kecuali kalau orang tersebut mampu diam tanpa bergerak selama kondisi lensa camera sedang merekam gambar.

Ternyata memang sangat asyik mengikuti para profesional melakukan pengambilan gambar. Pada sesi pemotretan burung atau binatang melata, cara pemotretan berbeda lagi. Perlu ada kecepatan yang tinggi untuk menangkap obyek bergerak dan siap mengikuti pergerakan obyek bergerak dengan tembakan ganda, bukan tembakan tunggal.

“Kalau motret burung dan matanya tidak kelihatan rasanya kurang mantap”

“Jadi ingat cameranya mas RDP yang bisa memotret secara beruntun seperti senapan mesin”

“Jangan menakuti obyek, jangan memakai pakaian yang mencolok, dekati dengan hati-hati obyek yang mau dipotret dan jangan sampai obyek terganggu dengan kehadiran kita”

Mengintip obyek dibalik rimbun dedaunan

Dari balik rimbun hutan, para pemotretpun saling berlomba membidik binatang buruan mereka. Sepatu yang cocok, topi dan baju lengan panjang wajib dipakai untuk menghindari gangguan selama pemotretan. Beberapa tempat memang membuat sandal kita jadi hancur, demikian juga kulit kita jadi sering kena duri kalau tidak memakai baju lengan panjang.

Kotoran burung sempat kuterima dan meskipun sudah memakai topi, tetap saja kotoran burung itu membasahi baju dan kulit leherku. Banyak sekali kendala saat melakukan sesi pemotretan ini, tetapi herannya semua tetap bersemangat untuk keluar masuk hutan. Sesi pemotretan di hutan memang mengundang bekerjanya adrenalin di tubuh.

“Ayo mas Eko, masuk hutan lagi, lumayan sejam bisa dapat banyak foto sambil nunggu kedatangan kapal”

“Gak usah pakai baju macem-macem, pakai sarung saja sudah beres”

Ajakan ini terpaksa tidak kuikuti karena ada acara pesan dan kesan para peserta sebelum dijemput kembali ke pulau Jawa bagian teluk Naga. Acarapun ditutup dengan sangat manis, karena ternyata semua kesan peserta sangat puas dengan acara ini.

“Saya sudah menyiapkan diri untuk hidup sengsara di pulau Rambut ini, tanpa air tawar, tanpa listrik dan tanpa warung”

“Mandi pakai sabun tetap tidak terasa sedang mandi. Airnya asiin banget”

“Ada cerita seram di balik pulau Rambut ini yang bikin merinding”

Semua hal negatip itu hanya disampaikan tetapi tetap tidak menyurutkan kenikmatan mereka mengikuti acara gathering para pemotret Komunitas Kagama Virtual. Luar biasa semangat kebersamaan ini.

hunting foto

(bersambung)

+++

Spesifikasi Leica H4D-40 adalah sebagai berikut; sensor medium format beresolusi tinggi 40 MP, Hasselblad True Focus dan lensa HC 80mm f/2.8.

Kagama Virtual Gathering : Pulau Rambut

“Suami saya tidak bisa ikutan, jadi saya ajak anak untuk ikut acara ini. Pas lihat perahu yang akan membawa rombongan kita ke Pulau Rambut, hati langsung ciut. Sayang mobil saya sudah terlanjur pulang, jadi akhirnya ikut terbawa arus dan ikut naik perahu. Alhamdulillah, ternyata acaranya keren banget !:-)”

“Saya bukan alumni UGM, tapi ternyata saya langsung akrab dengan peserta gathering photografi ini. Acaranya sangat padat dan menarik. Terima kasih sudah diajak”

“Saya berangkat dengan perasaan akan menjadi yang paling narsis di acara ini, ternyata peserta lain banyak yang lebih narsis dibanding saya”

“Acara yang sangat menarik, apalagi saya langsung mendapat pasien di acara ini. Rekening menyusul ya !:-)”

Berbagai macam testimoni para peserta hampir semuanya senada, meskipun diucapkan dengan gaya berbeda. Ini memang acara gathering yang sangat luar biasa. Baik dari sisi acara, maupun lokasi yang dipilih, Pulau Rambut.

Pulau Rambut

Sebagai pulau yang tertutup untuk kegiatan wisata, maka adalah sebuah keberuntungan rombongan alumni UGM bisa melakukan eksplorasi pulau Rambut ini, dengan ditemani para tukang foto profesional yang tidak pelit ilmu. Tuan rumah dan tamu begitu menyatu dalam semua acara dan saling bersinergi.

Meski sangat sedikit, hanya ratusan buah, rombongan sempat melakukan acara menanam pohon bakau, sebagai kepedulian kita akan rusaknya ekosistem di kepulauan seribu. Pulau yang tidak dipakai untuk kegiatan komersial ini, ternyata secara rutin selalu menerima kiriman sampah dari pulau lain. Sepanjang keliling pulau ini tumpukan sampah merata dan terlihat bukan dari hasil sampah dari pulau ini. Berbagai macam sampah rumah tangga dan styrofoam terlihat mendominasi sampah yang ada di sekeliling pulau.

Inilah PR (pekerjaan rumah) kita semua.

Menanam pohon bakau di Pulau Rambut

Menanam pohon bakau di Pulau Rambut

Pulau Rambut sebenarnya sangat indah, tapi kalau dibuka untuk umum, tidak bisa dijamin pulau ini akan lebih baik dari kondisi saat ini. Hanya mereka yang cinta akan margasatwa dan ekosistem yang dijamin akan ikut membuat pulau ini menjadi lebih baik.

Rombongan alumni UGM termasuk dari kalangan NU (non UGM), mendarat di pulau ini menjelang makan siang dan langsung kuikat dengan beberapa permainan. Aku awali dengan saling bergandeng tangan, saling memijat sambil bergerak untuk menghilangkan efek males atau capek setelah menyeberang lautan yang berombak.

Perkenalan para peserta kulakukan dengan menyebutkan nama dan barang yang akan mereka bawa bila pergi ke Bulan. Ternyata banyak peserta yang bsia memahaminya dan seperti biasa masih juga ada peserta yang sampai acara selesai belum paham juga dengan “clue’ dari permainan ini.

“Nama saya Eko dan saya akan ke bulan dengan membawa Ember !”

“Nama saya Ona dan saya akan membawa Odol”

Dari dua hal tersebut tentu sudah bisa ditebak hubungan antara nama dan barang yang akan dibawa, tetapi ternyata, seperti biasa, selalu saja ada yang sampai acara selesai masih juga belum paham. Ini memang kelebihan game sederhana “Mau Pergi ke Bulan”.

Setelah acara perkenalan, maka dilanjutkan dengan acara pertandingan antara kelompok cewek dan kelompok cowok yang ternyata jumlahnya berimbang. Permainan ini dimenangkan oleh kelompok cewek, sehingga mereka berhak untuk makan siang lebih dahulu, sementara para cowok melanjutkan persiapan hunting ke hutan untuk menyaksikan satwa, baik yang melata di tanah maupun dan terutama satwa yang terbang di aatas pohon.

Begitu makan siang selesai, maka para cewekpun sudah siap dengan perlengkapan hunting mereka. Mulai dari camera jenis ponsel sampai ke camera semi profesional. Sedangkan beberapa pecinta foto profesional memang terdiri dari kaum bapak yang mempersenjatai dirinya dengan camera plus telelens di atas 300 mm.

Hasil jepretan mereka jelas jauh di atas hasil jepretanku yang hanya mengandalkan Nikon D5100 plus lensa 18-270 mm alias lensa sapu jagad (bersambung)

burung terbang di Pulau Rambut

burung terbang di Pulau Rambut

Wisata ke Pulau Rambut

Wisata ke Pulau Rambut
oleh 
Eko Eshape

Sabtu-Minggu ini, 26-27 Mei 2012, rombongan cowok dan cewek yang tergabung dalam Kagama Virtual akan berwisata lingkungan ke Pulau Rambut. Inilah lokasi burung-burung bebas berkeliaran dan tugas kita mengabadikan serta merawat habitatnya.

Untuk teman-teman yang akan kePulau Rambut, ini himbauan dari panitia :

PERSIAPAN DAN PERLENGKAPAN

Pulau Rambut merupakan kawasan suaka margasatwa sehingga tidak ada kehidupan sosial masyarakat, hanya ada beberapa bangunan yang dipakai sebagai pos jaga/tempat istirahat, yang nantinya akan digunakan untuk tempat menginap untuk kita, untuk itu ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan ;

  1. Membawa topi rimba dan baju lengan panjang untuk menghindari serbuan kotoran dan muntahan burung. Jika terganggu para penghuni Pulau Rambut sering mengebom dengan kotoran dan ikan yang sudah diproses di temboloknya.
  2. Bilamana khawatir dengan sunburn selama perjalanan dengan kapal, ada baiknya memakai sunblock.
  3. Membawa lotion anti nyamuk bisa membantu mengurangi serbuan nyamuk hutan, meskipun begitu Pulau Rambut bukanlah daerah epidemik Malaria.
  4. Memakai sepatu boot atau sepatu trekking, namun cukup menggunakan sepatu gunung bilamana trekking berjalan mengikuti jalur yang sudah ada.
  5. Membawa air minum 1,5L (wajib) dan makanan pribadi (bagi yang suka ngemil) karena di pulau ini tidak ada pedagang yang berjualan.
  6. Membawa kamera (baik itu kamera HP, kamera poket maupun d/SLR) untuk mengabadikan moment dan temen² disana. Untuk kamera d/SLR disarankan membawa lensa tele (>200 mm)
  7. Membawa teropong untuk acara birdwatching bilamana punya. Pihak BKSD hanya menyediakan beberapa buah saja.
  8. Membawa obat²an pribadi (wajib) untuk mengantisipasi bilamana penyakit datang tiba².
  9. Membawa raincoat dan plastik besar atau tas kedap air untuk mengamankan kamera, teropong, dan peralatan elektronik bilamana hujan turun.
  10. Membawa sleeping bag bilamana merasa lebih nyaman untuk tidur atau alergi terhadap udara malam
  11. Membawa senter untuk membantu penerangan di malam hari & colokan listrik universal/colokan T/roll cable untuk berbagi listrik ketika men-charge peralatan elektronik yg dibawa.
  12. Peralatan Ibadah
  13. Tissue basah
  14. Baju ganti untuk bila ingin berbasah-basahan
  15. Alat pancing bilamana ingin memacing
  16. Sun Glasses untuk bergaya

Rasanya pingin segera pagi dan meluncur ke Pulau Rambut. Tunggu ya hasil foto-foto di pulau rambut ya. Cuma lagi kesulitan nih. Milih bawa Canon 60D atau Nikon D5100 atau G12 Canon saja ya?

  1. Lensa Canon 60 D : 18-55 mm dan 55-250 mm
  2. Lensa Nikon D5100 : 18-55 dan 18-270 mm
  3. Canon G12 : 5x optic dan 20x digital zoom

Nah pilih mana hayo?