Pentas KV di Ancol Bermodal Nekad dan 1 Motor Vixion

cari-cari video flashmob

sebelum pentas, Sabtu 6 Oktober 2012 kami latihan di Depok. Hanya 5 orang yang latihan dan 3 supporter yang datang. Saat itu ada Alfian, Tisna, Rio, Laeli, dan Ulfia yang ikut latihan, sedangkan Imtiyaz, Mas Mimi, dan Siti mensupport kami. hari Sabtu banyak yang sudah memiliki agenda tersendiri, jadi dimaklumi yang bisa datang latihan segelintir saja. Yang penting saat tampil sebanyak sekitar 25 personel bisa menggoyang ballroom.

motor Vixion milik Rio yang digondol maling.

Selain modal nekad, pentas ini juga bermodal 1 Vixion! X_X. Saat latihan ada musibah, motor Vixion milik teman kami, Rio, hilang. Padahal sudah dikunci gembok depan dan belakang. Kami saat itu latihan di lantai dua. Motor di bawah, di dalam gerbang, di sampingnya ada motor lain dan bahkan di belakangnya tertutup mobil. Saat itu ada penjual bakso keliling yang melihat pencurian itu tapi diancam dengan todongan pistol oleh pelaku.

coba-coba pilih koreo.

Latihan dimulai sekitar pukul 10.30 pagi. Kami latihan dengan cari inspirasi dari beberapa video flashmob Gangnam Style di internet. Usai latihan sekitar pukul 16, selanjutnya kami rencana ke Jl. Margonda untuk bergabung dengan Mbak Ayi untuk makan bersama. Saat itu Alfian hendak pulang lebih dulu karena mau malem mingguan (eh! :p), saat turun ke lantai 1,  aku hendak mengantarnya sampai gerbang sembari bilang, “Fian, fotoin aku dengan motor Rio ya.” Sejak latihan di atas, entah kenapa aku ingin sekali foto di atas motor itu, rasanya ingin segera turun mau foto. Karena motor itu memang keren. “Memang motor Rio di parkir dimana?” tanya Fian. Saat itulah kami baru menyadari ternyata motor tidak ada di tempat.

saat di kantor polisi.

Lalu Fian, Tisna, Rio, dan aku mencari dengan motor menembus ke segala arah jalan di area itu. Karena kami berada di kompleks perumahan militer, kami sempat lapor ke tentara. Tetapi karena mereka hanya bertanggungjawab terhadap keamanan di dalam asrama, maka kami disarankan lapor polisi saja. Kemudian barulah kami bolak-bolak ke kantor polisi untuk melapor, lalu menjemput polisi untuk olah TKP ke rumah (saat itu mobil polisi sedang keluar tugas semua, jadi kami harus memfasilitasi kendaraan untuk jemput, kami jemput mereka pakai taksi), mengantar lagi polisi dan saksi, lalu pemeriksaan lagi. Kantor Polsek Cimanggis jaraknya cukup jauh dan ditambah sore itu macet, sekitar 40 menit untuk menempuhnya, hingga tak terasa kami pulang dari kantor polisi sekitar pukul 9 malam. Rio dan Iim diantar Ulfia dengan mobil. Alfian mengantarkan pulang si penjual bakso. Saat itu semua bisa saling diandalkan untuk segera mengambil sikap dan mengurus segala sesuatunya. Salut buat Alfian, Rio, Tisna, Ulfia, dan Iim. Turut prihatin untuk Rio, semoga segera mendapatkan ganti rizki yang lebih baik. Saat pulang malam itu baru saya ingat bahwa sepanjang hari sejak jam 11 pagi teman-teman belum makan. X_X (Pantesan lututku gemeteran). Saat itu ikut shock dan tidak nafsu makan, berita motor ilang memang tiap hari bisa dilihat di TV, tapi baru kali ini menyaksikan kehilangan di depan mata, dalam keadaan pengamanan yang cukup pula.

saat instal pemotong lagu ternyata trial, jadi mau dipotong pake gunting ajah.

Bolak-balik dalam keadaan genting dan derai hujan, tak terasa waktu tiba-tiba semakin malam. Saat itu urusan musik belum kelar, karena sepanjang hari kami belum berhasil memotong dan menggabung lagu. Saat itu yang bisa memotong lagu hanya Mas Mimi, dan dia sudah pulang sebelum kejadian motor hilang. Malam itu dia datang lagi ke kantor polisi untuk mengantarku pulang dan memotong lagu hingga pukul 11 malam. Terima kasih Mas Mimi. Dalam kantuk dan betis berkonde, aku kirimkan lagu hasil potongan ke Fian dkk sebagai back-up. “Kok lagunya cuma 2 menit?” tanya Fian dan Tisna kompak. “Tambahin lagi dong.” Zzzzzzz. Aku pusing, rasanya udah nggak bisa mikir soal lagu, kutinggal bobo.

Paginya, jreeeeng! Aku sebenarnya cemas, ntar pentas entah seperti apa, latihan belum optimal dan jangan-jangan teman-teman kelelahan. Tapi ternyata, hari H, semua tetap semangat. Bahkan Rio yang kehilangan motor pun tetap semangat pentas. Sebelumnya dia bilang, jika tidak ketemu motornya sudah diikhlaskan, jika masih rejekinya, Insyaallah kembali. Sip! Jadi, semua pun terbawa semangat. Ternyata teman-teman yang lain yang tak ikut latihan, dengan mudahnya mau gabung dan bersedia menggila. Dan hasilnya? Tadaaaaa! Baca di sini aja. Terima kasih semuanya. Kalian memang bener-bener kompak, seru, dan syalalala.

Cheers!

Depok, 11 September 2012.

Nur Laeliyatul Masruroh.

Menggila 2 Menit, Pentas Kagangnam Style Juara II di Temu Kangen Kagama 2012

PARODI JOGET KUDA JINGKRAK

KViers saat kalem, setelah menggila.

Euforia Kagama Virtual (Kviers) dalam acara Temu Kangen Kagama di Ecopark Ancol, Minggu 7 Oktober 2012 sepertinya masih terasa hingga kini. Bagaimana tidak, pasukan Merah Hitam itu sepanjang acara riang mondar mandir memenuhi depan panggung, berjoget bebas melengkapi (atau bahkan melebihi) performer utamanya.

Jogetnya pause demi foto dulu. Hebohnya melebihi performer utamanya Sammy Kerispatih.

Mereka tidak saja riang, tetapi juga nekad. Kenekadan itu dimulai sejak group paduan suara berbaju putih-putih (entah apa nama groupnya) menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada, teman-teman Kaviers yang berpakaian dominan merah dan hitam itu duduk berbaris 2 saf persis di depan panggung, juga ketika Ikang Fauzi dan Keris Patih perform, mereka pun turut meriahkan dengan berarak joget bebas di tempat yang sama.

     Terlebih saat pentas utama mereka, Gangnam versi KV alias Kagangnam Style, berlangsung heboh dan spontan. Mereka menggila 2 menit dengan iringan musik Gangnam Style versi Jowo Style digabung versi aslinya milik Psy. Tidak hanya saat pentas, tetapi sepanjang acara aksi mereka menyita perhatian penonton. Dari manakah datangnya sekelompok Merah Hitam itu? Kompak bener? Bahkan, saat pentas mereka menarik Wakil Rektor yang berada di antara penonton untuk ikut joget. Nekad bener!

   

Maksud hati mau niru K-Pop, tapi alamaak susahnya! #Duh Gusti, sinten niki?

“Naje neun ttasaroun ingan jeogin yeoja. Keopi hanjanui yeo yureul. Huo ewyo. Hayyaah, iki opo tho?” Seorang lelaki ingin menunjukan kemampuan gaya K-Pop pada si perempuan. Karena tidak fasih mengucap bahasa Korea, dia perlu membaca teks. Dia bermaksud meniru Korea Pop, bernyanyi dengan bahasa mereka dan bergaya seperti mereka, tapi ternyata alamaak susahnya.

    “Aku wong Jowo, senajan ora iso koyo ngono. Hei, ayo podo jogo budoyo. Hei.” Si lelaki sebagai orang Jawa, meski tidak bisa bergaya ala Korea, ingin meyakinkan untuk menjaga budaya saja. Itulah konsep yang mulanya ingin disampaikan oleh Kagangnam Style. Jaga budaya? Kok begini jadinya? Ups!

   Lupakan soal tema jaga budaya. Mereka itu kami. Pentas kami, Kagangnam Style, bukan sedang membawa tema tersebut, bukan juga untuk merusak budaya. Kami bukan dancer, bukan performer, dan bukan pula juara lomba baris-baris tingkat kecamatan. Kami mungkin semacam orang-orang nekad, nggilani, kreatif, dan semangat menghibur. Justru karena kenekadan itulah yang mungkin mengantarkan kami menjadi juara II. Juara I diraih oleh Fakultas Kedokteran yang menyajikan tarian daerah. Acara yang dihadiri ribuan alumni UGM itu menampilkan kompetisi pentas sekitar 7 kelompok, diantaranya Fakultas Kedokteran, Kagama Virtual, Fisipol, Teknik Arsitektur, dll.

Joget kuda jingkrak oleh Kagama Virtual ini terinspirasi dari K-Pop Gangnam Style yang akhir-akhir masih ramai dibicarakan. Gangnam style sendiri konon sebenarnya parodi gaya orang-orang borjuis di sebuah tempat di Korea yang bernama Gangnam. Sedangnya dance-nya sendiri, menurut penyanyi dan rapper Korea yang mempopolerkan gaya itu, Psy, bahwa Gangnam dance pada dasarnya adalah tari dengan imaging the horse. Karena itu banyak koreo yang meniru gerakan kuda. Gerakan dasarnya sangat mudah, yaitu hentakan kaki kanan-kiri-kanan-kanan dan kiri-kanan-kiri-kiri dengan goyangan khas mirip kuda berjingkrak.

karena belum menemukan dokumentasi pentas, ini versi latihan sesaat sebelum pentas.

Pentas yang berlangsung selama 2 menit (tepatnya 2 menit dan 12 detik) dengan jumlah personel sekitar 25 itu, sebagian gerakan dilakukan secara spontan. Sebagian yang lain terinspirasi dari gabungan flashmob Gangnam Style yang banyak bermunculan di Youtube. Termasuk video dari Jowo Style, yaitu parodi Gangnam Style versi Jawa yang musiknya digunakan di menit pertama pentas mereka. Menit kedua menggunakan musik asli Psy dengan volume lebih keras dari menit pertama untuk menciptakan semangat hentakan berlipat.

      Pada kompetisi pentas itu ternyata tidak hanya Kagama Virtual yang menampilkan musik Gangnam, ada kelompok lain di acara tersebut juga menampilkan pentas dengan musik yang senada. Musik ini memang sedang sangat popoler. Padahal pada awal September 2012, musik ini hanya diketahui oleh para penggemar K-Pop. Namun, karena jogetnya yang khas, popularitasnya melejit dan mendunia. Di Youtube juga banyak ditemukan flashmob Gangnam dari berbagai negara. Dengan berbagai parodi yang tidak menghilangkan gerakan dasar kuda jingkrak.

KViers benar-benar menghadirkan kuda jingkrak. Ckckck!

eh, nemu receh

Gangnam versi KViers juga menampilkan adegan kuda-kudaan seperti yang dilakukan Psy. Adegan spontanitas yang bisa dipastikan mencuri perhatian penonton. Selain itu, saat adegan robot dance,  kami rebutan koin receh yang tumpah dari saku salah satu personel. Jangan tanya apa maksudnya yah, nikmati saja. :D

     Selamat menikmati. Semoga tidak menyesal menonton kami, karena kami sungguh menikmati joget nekad ini. Terima kasih tidak terjadi penggalangan sandal penonton atas kegilaan ini. :D

PS. 1. Berhubung juru kamera dan juru video KV malah ikut joget, jadi  foto pentas yang representatif tidak terdokumentasi. Menunggu penonton ada yang memberitahu kami bahwa mereka memiliki foto kami. :D

2. Selain modal nekad, pentas ini juga bermodal 1 Vixion, selengkapnya baca di sini.

Depok, 10 Oktober 2012.

Nur Laeliyatul Masruroh

Kopdar Ngumpulin Tanda Tangan

Photo by Novian Wijaya

“Mas pernah pacaran dengan kembang kampus?” tanya seorang perempuan memulai perkenalan dengan laki-laki yang sedang berdiri di antara kerumunan. Perempuan itu sembari menyodorkan selembar kertas dan pena, sekaligus minta tanda tangan. Apa nggak ada topik lain ya, mulai perkenalan kok dengan pertanyaan seperti itu? Tunggu dulu, ini bukan perkenalan biasa. Acara ospek? Hm, ikuti dulu lanjutannya.

“Diantara kolom ini ada yang sesuai dengan njenengan, Mbak?” pertanyaan kali ini untuk perempuan berjilbab yang sedang duduk di halaman bertenda. Seorang yang bertanya itu masih dengan kertas berkolom dan pulpen untuk mengumpulkan tanda tangan.

Di teras bertenda, Komplek PJA DPR RI, D3-300

“Oh, aku cinlok dengan Mas Ganjar saat KKN,” jawab mbak Atik, istri tuan rumah sembari menandatangani sebuah kolom. Mereka, sekitar 70 orang yang berkerumun pernah menjadi mahasiswa di kampus UGM Yogyakarta. Saat itu, Ahad 16 September 2012, bukan sedang kegiatan ospek, melainkan acara reuni Kagama Virtual sekagus syawalan di kediaman Mas Ganjar Pranowo di komplek Perumahan Anggota DPR RI, Kalibata, Jakarta Selatan.

Para tamu yang hadir adalah alumni UGM dari berbagai angkatan dan berbagai fakultas, jadi tidak semua saling kenal. Makanya perlu dibuat perkenalan khusus untuk memudahkan saling mengingat. Setiap peserta dibagi satu lembar kertas yang berisi 25 kotak. Masing-masing kotak berisi keterangan khusus, diantaranya “pernah pacaran dengan kembang kampus”, “memakai kaos Kagama Virtual”, “pernah cinlok saat KKN” dll. Mereka saling mencari tanda tangan teman yang sesuai dengan keterangan kolom.

Beginilah ruang tengah rumah dinas anggota DPR RI. :)

Selanjutnya acara agak berbeda dengan reuni-reuni Kagama sebelumnya. Karena Mas Ganjar baru saja mendaftar calon Gubernur Jawa Tengah, dalam sambutannya tak bisa dihindari muncul muatan politik. Mas Ganjar menyinggung tentang pengelolaan pajak bangsa ini yang belum optimal. Juga hal-hal yang bisa dikonstruksikan dalam konteks kepemimpinan. Selain itu anggota DPR Komisi IV dari fraksi PDIP ini mengaku memiliki strategi gerakan khusus, namun tidak bisa diungkapkan saat itu. Lhoh kenapa? Saat itu kebetulan dia menjawab pertayaan dari teman kader PKS. “Strategi tidak akan saya kasih kecuali PKS juga akan mendukung saya hari ini! “ sahutnya. Gelak tawa teman-teman pun pecah di ruang tamu. Suasana makin seru dan hujan banyolan lantaran kehadiran senior Mas Puthut Gambul, Mas Hasto, dan Mas Irvan yang punya sejuta komentar. Membuat acara tambah gerrr.

“Ssst.. ssst…sst..” bisik-bisik, awas inteligen dimana-mana.

                Saat makan siang dan waktu ibadah, mereka menikmati acara bebas. Yang di dekat pintu sedang ngobrol soal pekerjaan, yang di kursi makan sedang nostalgia jaman kuliah, yang di teras ngobrol ngalor ngidul, yang di pojokan sedang curhat masalah gebetan, dan yang di ujung tenda samar-samar terdengar nama Jokowi disebut-sebut. Ah iya, sekian hari lagi pemilihan Gubernur DKI. Jokowi sebagai kandidat DKI 1 sekaligus keluarga alumni UGM, tentunya tidak mengherankan jika punya pendukung dari kalangan teman-teman sealmamaternya. Pantas saja sejumlah orang berbaju kotak-kotak hadir di sana. Entah penyusup atau memang Kagama juga ya? Hihi. Juga, penulis buku tentang Jokowi, yang juga anggota Kagama, hadir di sana.

Duh, nyanyinya jangan keras-keras Mbak, Mas. Khawatir didengar produser rekaman. Khawatir ditolak! :p

Meski acara diwarnai nuansa politik, jangan pikir acara ini lantas membosankan. Buat yang tidak tertarik politik pun, punya ruang untuk hal lain. Bahkan, karaoke di teras bertenda sampai sore. Dengan suara pas-pasan, dan lebih banyak yang fals, diiringi organ tunggal, mereka nyanyi lagu-lagu lawas. Ini karena menyesuaikan yang pegang alat musik, koleksinya hanya lagu-lagu lama. Maklumlah, yang bersangkutan angkatan senior. Untunglah, ada satu lagu yang familiar oleh semua generasi. “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut…” lagu Yogyakarta ini membawa mereka kembali ke masa kampus. Merekatkan kembali kenangan-kenangan yang mungkin hampir retak. Termasuk kenangan seperti yang tercantum di salah satu kolom lembar perkenalan, kenangan bagi mereka yang pernah memiliki cerita dengan kembang kampus.

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, 17 September 2012.

Kebersamaan itu indah…

Kebersamaan itu indah…  
oleh: Aroem Naroeni

Berawal dari acara buka bersama di Taman Ismail Marzuki, mas Ganjar Pranowo menyampaikan undangannya untuk semua anggota KV untuk halal bihalal di rumah beliau. Akhirnya hari ini Minggu 16 September 2012, terselanggara acara halal bihalal keluarga KV. Diawali dengan permainan yang dipimpin Mba Umi Gita untuk saling mengenal dengan hadiah yang uhuyyyyyyyy!!:-). Kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi tentang membangun jiwa kepemimpinan KAGAMA. Bagaimana kita bisa membangunnya untuk bangsa dan negara. Mungkin kesempatan untuk generasi perubahan belum ada tetapi kita harus memulainya.

Selanjutnya adalah acara makan bersama dan nyanyi bersama.:-)  

O yaaa mas Novian sempat membuat slide kegiatan KV yang dimulai dari sejarah berdirinya UGM, masa-masa kuliah yang unyu-unyu sampai kegiatan KV yang berawal dari berapa gelintir orang, berkembang dengan berbagai kegiatan KLC, KV Inc, Beasiswa,KPK, Hutan Pendidikan dan Konservasi Kusnadi Harjasumantri (HPKKH) dll.Mas Ryan dan mas Sinyo bercerita, dulu awalnya kita cuma berempat berkumpul sekarang sudah seperti sekarang. Banyak rencana-rencana bermunculan dari lomba foto, bedah buku, diskusi lanjutan dengan mas Ganjar….dll. Semua penuh antusias, penuh energi…..semoga semangat dan energi ini tertularkan ke yang lain dan setidaknya 1000 orang akan berkumpul di Merapi bulan Desember ini…………… SEMOGAAA!!    

Terima kasih untuk mas Ganjar Pranowo dan Mbak Atik….. Dan semua rekan yang membantu acara ini.

Berikut daftar hadir tetapi belum semua mengisi…. Sepertinya lebih dari 80 orang…. Terima kasih sudah datang. Dan maaf tidak bisa menyapa satu persatu , semoga di lain waktu bisa saling dekat.

  Daftar hadir :
1. Ganjar Pranowo
2. Atik
3. Aroem Naroeni
4. Irvan Kristanto
5. Indarto
6. Ryan Wuryanto
7. Heni Yusuf
8. Tri Harso S
9. Puthut Gambul
10. Novian Wijaya
11. Imitiyaz hawan
12. Sandya Yudha
13. Nur hatta luqman S
14. Cyndi Silvia
15. Alfian WS
16.Nur laeliyatul masruroh
17. Sinyo TW
18. Bima
19.Fadil
20.Mustofa
21.Engga kebaca
22.Rudy Umbara
23.Ulfia Mutiara
24.Lestari Octavia
25.Swandita adinata
26.Umi Gita
27 Raisah Suarni
28. Hendi Noor Irawan
29. Ajianto Dwi Nugroho
30. Utty Damayanti
31. Alief Afrian bargayu
32. M. Budi Santoso
33.Fajar Suryagama
34.Wied W winakto
35. Ujang Syafrir
36. Listiya manggiasih
37. Agus dwi praptana
38. Nara
39. Wira
40. Irawan
41.Ririn
42.Afif
43. Tisna
44. Yan
45. Nurul amri
46. Agus S
47. Iwan Hermawan
48.Ahmad fajar
49.Firda
50. Dewi nur cs
51. Putri kharisma
52.Yogaswara t g
53. Indah permata
54. Nita
56. Yunan novaris
57. Iwan manasa
58. Pendhi
59.Mayadi
60. Demo
61. Emelia Ratna Sari Dewi
62. Adhi Setyo
63. R. Agung wibowo putro
64. Andri Firsa
65. Dian Hidayat
66.Deny Purwo sambodo
67. Taufiq
68. Niken
69. Wibowo Arif
70. Andi Rahmah

Foto-foto bisa dilihat di : Kopdar Syawalan Kagama Virtual jakarta 1433 H

Kopdar Jepret, KVers Bersama Arbain Rambey

             Mengasah skill tentu saja penting bagi setiap orang. Ketrampilan apapun itu, jika seseorang mengusainya, dia akan menjadi yang terbaik di bidangnya. Atau, setidaknya bisa menunjang pekerjaannya. Atau, untuk having fun saja juga boleh. Termasuk fotografi. Jika dulu kemampuan fotografi hanya dimiliki kalangan tertentu seperti jurnalis foto atau fotografer studio, kini dimana-mana orang bisa memotret. Sebagian dari mereka mungkin tidak puas dengan hanya bisa jepret, tetapi ingin tahu lebih dalam bagaimana ilmu jepret itu. Berangkat dari itulah teman-teman Kagama Virtual (Kvers) di Jabodetabek berkumpul belajar motret di ODPS (Occi Digital Photography School), Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Sabtu 1 September 2012.

           Peserta yang awalnya ditargetkan 35, ternyata melebihi kuota hingga 40 orang. Mereka dari Jabodetabek, bahkan ada yang dari luar itu. Sebenarnya daya magnet apa yang membuat mereka bersedia meluangkan waktu ke sana? Padahal Jakarta yang macet dan jalanan ruwet seringkali bikin malas orang-orang untuk bepergiaan. Apalagi hanya untuk belajar motret. Bukankah cukup utak-atik sendiri fitur-fitur kamera di rumah? Tentu mereka punya alasan sendiri. “Dari SMA aku sudah minat foto-foto je. Kalau aku ikut kegiatan ini karena acara Kagama, jadi wajib dateng hukumnya, silaturahmi.” demikian alasan Alfian Rasyid, alumni Geofisika fakultas MIPA.

         Lain dengan Alfian, Sofyan Khoirul Anwar, alumni Teknik Geodesi, beralasan “Bukan karena tertarik fotografi, namun karena ingin bertemu teman-teman dan mempererat silaturahmi.” Lhoh!? Sofyan ini tinggal di Bekasi, menuju Jakarta Utara tentu saja bukan jarak yang pendek. Ditambah sepanjang jalan lalu lintas padat merayap dibalut terik matahari yang begitu menyengat. Namun, dia bela-belain datang.

          Sedangkan Mbak Utty Damayanti juga punya alasan sendiri. Selain ingin tahu tentang fotografi, secara umum/sedikit teknisnya, katanya juga ingin, “ketemu temen-teman dan bonus foto-foto yang fun!”

         Oke deh. Apapun alasannya, belajar sesuatu yang dikemas dengan acara berkumpul dengan teman-teman sealmamater memang bisa menjadi alasan penting untuk mengalahkan kendala. Termasuk kendala macet dan malas keluar rumah. Di sana bukan hanya berkumpul belajar fotografi, tetapi menemukan keluarga kedua. Teman-teman yang aman dan nyaman untuk berbagi. “Bukankah Rasulullah bersabda, siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diperbanyak rezekinya hendaknya ia memperpanjang silaturahmi.” tambah Sofyan mempertegas alasannya. Hoho.

Arbain Rambey mengenakan kaos Kelompok Fotografi Kagama buatan KVers. Photo by Eka Novianto N.

Apapun judul acaranya, ketika Kagama Virtual mengadakan “kopi darat” konon memang punya daya tarik tersendiri. Anggotanya terus bertambah. Kegiatannya makin variasi. Suasananya pun makin hangat. Lain waktu jika diadakan pelatihan membuat jamu, pesertanya pun mungkin akan banyak. Ups! Tapi kali ini tentang belajar motret dulu. Pematerinya nggak tanggung-tanggung, kami mengundang fotografer profesional, Arbain Rambey. Redaktur foto Kompas ini jurnalis yang memiliki keahlian dalam fotografi dan penulisan sekaligus.

                Melalui layar proyektor, sore itu Mas Arbain menunjukkan bagaimana mengatur komposisi objek alam dalam pemotretan. Seperti tajuk pohon, perahu sampan, dan sungai dalam satu frame. Gambar yang diambil dengan meletakkan perahu berada di bagian kanan, tentu hasilnya berbeda ketika motret dari angle lain. Arah datangnya cahaya matahari juga akan mempengaruhi hasil foto. Satu obyek alam bisa dipotret dengan berbagai sudut pandang. Keuntungannya, “Bisa dijual ke dua pihak yang berbeda,” ujar mas Arbain.

            Selain itu dibahas juga tentang bagaimana memotret objek manusia dengan latar belakang  alam ataupun bangunan. Menurut Arbain, saat pemotretan, objek manusianya bukan malah menjauh ke belakang mendekati bangunan, tetapi justru maju hingga separuh badan saja yang nampak dengan latar belakang bangunan yang penuh.

            Setelah mendapatkan sekian materi teknik fotografi, lalu mau diapakan hasil jepretan kita? Untuk koleksi pribadi dong atau dipajang di Facebook! Oh, kalau itu wajib. Selain itu, bisakah agar bernilai daya jual? Bagaimana caranya? Arbain mengatakan, seringlah untuk mengunggah hasil jepretan kita di internet, terutama situs yang memang memberi ruang fotografi. Di sana akan membuka peluang foto jepretan kita dilirik untuk kemudian dibeli. Bahkan, Arbain mengaku hidupnya 100% dari fotografi. Dia juga bercerita pernah diundang ke Eropa lantaran seorang nun jauh di sana tertarik dengan karyanya hingga ingin menggunakan keahlian fotografinya.

Tadaaaaa! Inilah salah satu hasilnya. ;-) . Photo by Alfian Rasyid.

Meskipun tema acara kali ini “Travelling Photography” namun tidak terbatas hanya soal itu. Peserta boleh bertanya apa saja tentang fotografi dalam kategori apapun. Termasuk fotografi jurnalistik dan studio. Acara diakhiri menjajal praktek fotografi di studio dengan pencahayaan lampu. Seperti biasa, lebih banyak yang dipotret daripada yang motret. Hu-ha, dimaklumi. Oh ya, Arbain sempat menyinggung singkat mengenai sejarah narsis. Berawal dari seorang pemuda bernama Narcissus yang sering bercermin di air karena begitu mencintai dirinya sendiri sehingga tidak bosan melihat wajah sendiri. Jadi, “Foto narsis itu syah!” kira-kira begitu kata Arbain. Baiklah, siap? Satu dua, jepret! ;-)

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, Minggu 2 September 2012.

arum

Saya Tidak Lagi Virtual

Saya tidak lagi virtual
oleh Aroem Naroeni

Saya lupa tepatnya kapan ada sebuah pesan di email masuk yang isinya mengundang untuk ikut milis Kagama. Dari topik-topik ringan.. Oh dia tahu juga ya tentang ini.. Oh dia tahu juga yang tentang itu.
Dari situlah semua berawal.
Dan saya pikir di dunia maya okelah.. Tidak akan ada yang tahu tentang diri saya. Dan saya akan tetap menjadi pribadi yang maya di milis ini. Invitation Kopdar selalu saya cuekin karena saya tetap ingin menjadi pribadi yang virtual.

Sampai akhirnya datang undangan dari sahabat lama yang bertahun-tahun tidak ketemu dan tempat kopdar sangat dekat dengan tempat saya tinggal, rasanya sulit menemukan alasan untuk menolak.

Kopdar Bebek Kaleyo, Jakarta (Sumber: Sulastama Raharja)

Membayangkan diri di tengah orang-orang yang tidak dikenal mesti bakalan garing!
Tetapi ternyata semua bisa berjalan lancar. Saya bilang pada diri saya ini akan jadi yang pertama dan yang terakhir.

Tapi ternyata teman saya datang lagi di Jakarta.. Oke.. Yang kedua, tempat agak jauh tapi saya akan usahakan.


Kopdar Bebek Ginyo, Jakarta (Sumber: Sulastama Raharja)

Ouft!! .. Sudahlah yg kedua pasti akan jadi yang terakhir.

Kemudian bermunculanlah grup2 BB Kagama Virtual. Semua kelihatan akrab di grup.
Akhirnya saya beranikan diri ikut kopdar lagi tapi teman lama saya itu tidak ada.

Dan akhirnya menyambunglah ke kopdar-kopdar yang lain.
Lebaran ini adalah lebaran pertama saya dengan Kagama Virtual.
Dan sungguh mengagetkan semua serasa sudah melebur menjadi satu… Ada kedekatan, ada jalinan, ada keinginan untuk bersama, dari Yogya, Solo, Semarang, Gunung Kidul dll di sekitar Yogya. Dari waktu liburan yang sangat terbatas mereka menyempatkan diri berkumpul satu hari demi sebuah keluarga yang bernama Kagama Virtual.
Kesempatan lain adalah bertemu lagi di sebuah kesempatan “KVers Nyolo”
Jalan-jalan bareng mengeksplorasi kota JokoWi ini sungguh sangat menyenangkan dengan tuan rumah yang sangat ramah, baik hati merengkuh seperti sebuah keluarga beneran.

Kopdar Syawalan KAGAMAVirtual MATARAM RAYA (Sumber: Haris Yunant)

#bentar, aku menyeka airmata dulu, mbrebes mili kiii :)

Apakah yang membuat ikatan itu makin kuat dan makin kuat ?
Apapun jawabannya saya bisa masuk keluarga ini “It’s my destiny”
Karena saya tidak pernah merencanakannya, semua seperti didukung oleh alam semesta :)

KV-ers Nyolo – Kuliner dan Blanja-blanji (Sumber: Sulastama Raharja )

Akhirnya menemukan kakak, adik, saudara kembar virtual dan menjelma menjadi makhluk nyata..
Saya tidak lagi virtual…

Cheers,
Aroem

catatan: untuk bergabung ke milis KAGAMA, silahkan kirim email kosong ke alumniugm+subscribe@googlegroups.com

Bukber 3

Reuni, Bukan Hanya Tempat Singgah, Tapi Rumah

Sebagai pendatang di suatu kota, siapapun pasti ingin memiliki banyak teman. Mencari komunitas yang bukan hanya tempat singgah, tetapi juga rumah. Dimana di sana kita bisa menemukan keluarga kedua. Itulah mengapa kita menjadi merasa memiliki hubungan kekeluargaan ketika di perantauan bertemu dengan teman sealmamater. Karena itu, teman-teman alumni UGM yang berada di Depok mengadakan acara Buka Bersama pada Sabtu, 28 Juli 2012 di Pondok Laras, Depok.

Sore itu diawali dengan 6 orang di Pondok Laras. Ada yang sebelumnya sudah saling kenal, ada yang belum. “Kayaknya aku nggak asing denganmu. Apakah kita pernah kenal?” itu pertanyaan saya untuk Adit. Alumni Peternakan, angkatan 2005. “Tapi dimana ya?” Setelah diingat-ingat, ternyata kami memang pernah kenal. Enam tahun lalu, kami pernah berkegiatan dalam satu tim. Pendampingan sekolah darurat di Bantul, usai gempa Mei 2006. Setelah itu saling kehilangan kontak. Baru ketika reuni kecil itu, kami dipertemukan kembali. Alhamdulillah.

Begitulah, reuni mempertemukan tulang-tulang yang berserakan. Mempertemukan Mas Mimi (Sriyanto, Akuntansi 2000), Adit, dan Ivan Manbaul Munir (Peternakan 2005) yang ternyata dulu pernah satu kos di Klebengan. Acara ini ngobrol bebas, saling bercerita dan menanyakan tentang kesibukan selama ini. Dan tentang apa saja. Acara dibuka oleh Tisna Surya Adi Prenanto (Sosiologi, 2005), dilanjutkan Kultum oleh Adit. Saya juga bertemu dengan dua teman yang pernah satu kos di Asrama Putri Pertiwi, Pogung Kidul. Siti Zuhriyyah Musthofa (Biologi 2000, istri Sriyanto) dan Desti Isnaeni (Biologi 2005). Saat itu hadir juga Ajeng Prameswari (Administrasi Negara 2007, pacar Tisna :) ). Kami yang duluan datang, menunggu teman-teman lain yang masih terjebak macet.

Acara tambah ramai karena diantara kami ada 4 balita. Putra mas Ivan, putra Mas Mimi, dan dua putra putri pasangan Mbak Ayi (Lestari Octavia, Kimia 1994)-Mas Muhammad Sholeh (Teknik Mesin 1996).  Oh iya, Mas Ivan datang bersama istrinya, putranya masih berumur hitungan bulan.

Kemudian satu persatu berdatangan. Ada Septy Nurul (Teknik Geodesi, 2005), Sofyan Khairul Anwar (Teknik Geodesi 2005), Widiantoro (Hukum 2003), dan Ulfia Mutiara (Farmasi 2005). Jadi, berapakah jumlah semua yang hadir? Coba deh hitung. :)

Saat itu acara ramai sekali. Bukan hanya karena kelompok kami, tetapi juga kelompok lain di meja sebelah. Dalam bulan Ramadhan seperti ini memang musimnya Buka Bersama, rumah makan selalu penuh pengunjung. Apalagi Pondok Laras. Untuk bisa pesan tempat tersebut, butuh perjuangan tersendiri. Hoho.

Saat perkenalan, suara kami tertelan oleh bising di sekitarnya. Makanya kami harus menyebut nama berkali-kali. Perlu dicek ulang apakah satu sama lain saling ingat nama. Ketika diantara kami ternyata ada yang lupa nama teman, sebelum pulang dia harus cuci piring. Untunglah semua pulang tanpa harus cuci tangan dulu, apalagi cuci piring. :p

Pondok Laras

Di Depok, ada beberapa pilihan rumah makan yang oke buat ngumpul. Saat itu pilihan kami jatuh pada Pondok Laras karena kami mencari tempat makan selain mall. Di sana saungnya oke dan tempatnya strategis. Selain itu, harganya cukup terjangkau. Harga tiap menu makanan besar kira-kira Rp. 30-60 ribu. Bandingkan dengan Rice Bowl Detos yang permenu minimal Rp.110.000an.  Jadi berapakah iuran perorang? Sebenarnya tergantung pilihan menu masing-masing. Jika uang iuran berlebih, akan disumbangkan ke kas Beasiswa Kagama Virtual. Saat itu uang sisa Rp. 159.000. Uang dibawa Ulfia untuk segera ditransfer kepada yang berhak.

Acara ini merupakan bagian dari acara-acara Buka Bersama Kagama Virtual di wilayah lain. Reuni-reuni seperti ini memang dapat mengikatkan kembali kontak yang telah lepas. Atau menambah ikatan baru. Diharapkan juga bisa makin mempererat silaturrahim dan membuka banyak jalan kebaikan. Kita yang tadinya merasa sendiri di suatu kota, kini bisa menemukan komunitas yang (semoga) bukan hanya tempat singgah, tetapi juga “rumah.” Tempat dimana hati-hati kita berkumpul. Tempat yang aman dan nyaman untuk berbagi dan bercanda. Jiaaah! :p. Kita akan bertemu lagi di acara-acara reuni atau kopdar Kagama berikutnya. Insyaallah.

Arbain Rambey : Yang Terpenting dari Fotografi adalah Kemampuan Melihat

“Kamera hanya alat! Sebuah foto tercipta dengan pilihan posisi, pilihan komposisi dan pilihan saat yg tepat untuk menjepretkan rana. “Arbain Rambey.

Maksudnya bagaimana ya quote di atas? Baiklah, ayo kita temui langsung narasumbernya. Kelompok Fotografi Kagama (KFK) akan mengadakan acara Travelling Photography pada Sabtu, 1 September 2012. Lokasi di ODPS Kelapa Gading Work#6, Apartement Summit Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tepatnya pukul 14.00-17.00. Rencananya kita akan dipandu oleh fotografer profesional Arbain Rambey (redaktur foto Kompas, jurnalis yang menguasai fotografi dan penulisan sekaligus).

Menurut lelaki alumni Teknik Sipil ITB itu, “Bagus atau buruk itu tergantung kebutuhan. Semua kamera diperkirakan bagus oleh produsernya, maka dilepas ke pasaran.” Jadi, kalau kita ingin belajar fotografi dengan kamera apapun, ponsel sekalipun, nggak masalah kan?

Acara ini terbuka untuk alumni UGM yang tertarik fotografi, yang pemula, yang amatir, ataupun yang sudah jago.  Beberapa catatan ringkas dan bernas tentang fotografi dari twitter Mas Arbain perlu kita simak :

Apakah kamera saku cukup bagus? Iya! Terutama kalau dilihat kepraktisannya…

Kamera saku juga selalu ada di dalam tas fotografer profesional sekali pun..

Kamera saku 6 Megapiksel sudah sangat cukup untuk membuat foto cetakan 30×20 cm dengan SANGAT BAGUS…..

Bagus atau buruk itu tergantung kebutuhan. Semua kamera diperkirakan bagus oleh produsernya, maka dilepas ke pasaran…

Kamera mahal + tas murahan itu ibarat udah dandan dan nyalon abis2an tapi lalu sandalan ke pesta….

Memakai barang2 terbaik dlm fotografi, sedikit banyak memacu kita utk jg membuat karya2 yg lbh baik…Kalau bersemangat jangan nanggung..

Kamera memang hanya alat, tp bgmn pun Anda tergantung dia….Perlakukan dengan baik!

Out of focus/misfocus itu kalau yg difokus meleset, tapi ada bagian lain tajam….Soft focus itu tajam tapi lembut…

Foto jurnalistik sejatinya berwarna krn realita mmg berwarna. Kini, jika menampilkan hitam putih, harus menyebutkan bhw aslinya berwarna

Backfocusing adl: yg tajam di bagian belakang yg diincar…Frontfocusing sebaliknya….Keduanya akibat kesalahan kalibrasi lensa..

Kerja berat akan terasa sangat ringan kalau ditinggal tidur…(Arbain Rambey, Maret 2011, sedang ngantuk banget…!)

Foto jurnalistik tak perlu model release…. Motret presiden aja bebas kok….

Fotografi digital, selama kameranya OK, kemungkinan kesalahan cuma di metering…sisanya bisa dikoreksi dan diulangi pasca pemotretan..

Harga lensa adalah harga optik…stabil, malah cenderung naik…Kamera adalah harga teknologi yg cepat basi…..

kamera spt Leica, harganya bukan semata harga bahan…dia juga positioning…memilh pangsa pasar/kelas pembeli nya….

Tapi, kalau udah beli kamera, pakai saja…jangan mikir kamera untuk investasi…

Jangan menunda beli kamera hanya karena ingin harganya turun…kapan belinya? Harga terus turun kok…..

Belilah kamera pada saat Anda yakin sedang memerlukannya….Kalau merasa msh bisa menunda, tunda saja! Artinya sebenarnya Anda blm butuh

Para profesional makai kamera gak sempat lihat harga karena semahal apa pun kelau diperlukan, ya harus dibeli…

Beli kamera itu untuk dipakai. Kalau Anda sempat menyesal membeli merek tertentu, berarti Anda beli kamera sekadar untuk punya….

Setelah dipakai lebih dari 4 tahun, kalau kamera digital Anda mati, tak usah mikir untuk reparasi. Udahlah, beli baru saja..

Masih belum puas dengan penjelasan singkat-singkat itu kan? Makanya, ayo ikutan acaranya. Cuma Rp. 50.000 kok (untuk snack dan minum, selebihnya akan disumbangkan untuk beasiswa KAGAMA Virtual). Jangan lupa daftar yah.

Biarlah UGM menjadi perekat bangsa

Biarlah UGM menjadi perekat bangsa
“kisah KKN-ku”
oleh: Rovicky Dwi Putrohari

Konon kabarnya materi KKN ini paling sering digugat dalam pembahasan pelajaran di Universitas gadjah Mada … Bahkan ketika setiap membahas kurikulum Mata Kuliah Kerja Nyata Selalu disorot sebagai penghambat, sebagai beban menambah waktu belajar. Ini KKN yang artinya “Kuliah Kerja Nyata” looh … bukan KKN yang digonjang- ganjing saat ini !!.

Dulu KKN katanya sebagai bagian dari pengabdian masyarakat, makanya diurus oleh LPM. Juga sebagai ajang percobaan aplikasi ilmu yang sudah dipelajari di kuliah. …. buat beberapa mahasiswa dipakai juga untuk ajang mencari jodoh …. Ajang interaksi … pokoke interaksi komplit-plit

Ngomong-ngomong soal KKN-UGM. Ada banyak pengalaman yang saya peroleh dari KKN tahun 1986, buat sayapengalaman selama dua bulan di desa Butuh … sebuah desa kecil di Kutoarjo adalah pengalaman penting dalam perjalanan hidup. Disana saya awalnya bingung juga … mau ngapain mahasiswa geologi yang calon “tukang insinyur batu akik” ini ke desa. Lah wong aku jelas tahu ndak ada pelajaran geologi yang bakalan aku terapkan … rasanya ndak ada satupun mata pelajaran geologi yang bisa aku manfaatkan. … Teman-teman dari dokter gigi, dari pertanian, dari peternakan hingga temen-temen dari Teknik Sipil sibuk merencanakan program kerja, mengatur jadwal, menghubungi instansi, hingga mencari sponsor. Aku bingung musti kerja apa … apa aku yang mahasiswa geologi ini nggak bisa membantu masyarakat desaku ini ? ……Apakah aku hanya bisa menjadi pembantu temen-temen mahasiswa dari disiplin ilmu lain ini ? …. Frustasi menyelimutiku dalam minggu-minggu pertama. … aku sampek mikir jelek juga …. kenapa disini tidak ada tanah longsor …. kenapa disini nggak ada gempa … kenapa juga disini nggak ada pertambangan … atau apapun lah yang berhubungan dengan ilmu yang kupelajari.

Frustrasi …. !

Aku akhirnya hanya banyak membantu teman-teman mahasiswa UGM lain yang memang jauh dari disiplin ilmu yang sedang saya pelajari waktu itu. Aku bahkan ikutan menangkap ayam yang mau diimunisasi .. unik juga ngejar-ngejar ayam diwaktu sore. Aku juga banyak membantu temen kedokteran gigi untuk memberi pelajaran “gogok” gigi massal (kan sulit ngomong gosok gigi kalo ada sikat dimulut) … wuiiih … asyiik juga ngumpulin anak-anak SD untuk diajarin gogok gigi. Hingga suatu saat aku kebagian untuk berbicara didepan masyarakat desa … ya betul … didepan masyarakat desa yang serba lugu … yang selalu bilang “nggih …!” secara serentak. ….
Akupun tersentak …. kaget …
Ahhh … barangkali beginilah wajah saudaraku yang didesa ….
Ahhh … barangkali beginilah kalo mau berhadapan dengan masyarakat indonesia yang asli

Aku ngebayang … kalo aku bicara didepan mahasiswa geologi aku pasti udah didebat habis …. Tapi aku bisa apa kalo mereka hanya bilang …”nggiiiih”

Ketika kembali dari KKN akupun sepertinya tidak merasakan manfaat apapun dari KKN ini, aku malah bersorak ketika akan selesainya masa KKN ini.

Saat ini setelah aku bekerja hampir 18 tahun di sebuah perusahaan perminyakan …. Aku banyak merasakan adanya sesuatu yang aku rasakan perbedaannya dengan teman-teman kolegaku yang tidak pernah mengikti KKN…. Mereka lulus dari universitas yang tidak mempunyai program KKN … saat-saat berhadapan dengan masyarakat desa …. Juga bahkan saat-saat berhadapan dengan kolega seprofesi maupun yang berbeda profesi sekali pun, aku merasa ada perbedaan yang ternyata juga dirasakan oleh temen-temenku dari UGM. Aku selalu saja berusaha mengerti apa yang menjadi tujuan proyek-proyek mereka … aku berusaha tahu apa langkah yang sesuai dengan kaidah keilmuan yang dia ikuti.….. toleransi keilmuanku muncul mungkin karena KKN, saat aku berusaha membantu teman-temanku dari profesi lain untuk berkiprah.”,

Keberagaman dalam percampuran.

Indonesia ini terdiri dari berbagai macam suku, dengan berbagai bahasa juga adat-istiadat. Kalao mau melihat miniatur Indonesia bisa kita lihat di Jawa. Kalau mau melihat miniaturnya lagi ada di Jogja, tempat berkumpulnya masyarakat Indonesia dalam belajar mencari ilmu. Kalau mau lebih kecil lagi untuk lingkungan kampus, maka Universitas Gadjah Mada bisa menjadi miniatur intelektual Indonesia. Universitas Gadjah Mada memang unik. Keaneka ragaman jurusan juga keaneka ragaman mahasiswa menjadi ciri unik dari universitas ini. Dulu ketika pergantian tahun ajaran yang sibuk dengan penerimaan mahasiswa baru sering terlontar adanya kekurangan mahasiswa dari sebuah provinsi. Aku dulu sempet kaget …. “Looh kok enak … wong ndak pinter-pinter banget kok bisa diterima di UGM …?”. Tapi ada hasil yg lain yg akhirnya dirasakan ketika bekerja nantinya.

UGM Semen Perekat

Dalam sebuah bangunan yang kokoh sangat dimungkinkan karena susunan batu-bata yang kokoh. Universitas Gadjah Mada barangkali bukan penghasil batuan yang kokoh … namun penghasil semen perekat yang kuat merekatkan batu-bata ini. Dan sudah tidak heran kalo anda masuk di lembaga pemerintahan juga di pemda-pemda di Indonesia ini anda pasti ketemu alumni UGM. Aku lihat sepintas Alumni UGM memang lebih banyak di lingungan yang kurang menonjol. Mereka memang bukan sebagai tokoh sentral dibandingkan rekan sekolega alumni dari Uni-Uni yang lain. … mereka bukan batu-bata, mereka semen perekat.

Barangkali Alumni UGM lebih banyak yang menjadi perekat bangsa. Menjadi semen-semen yang kokoh ini dibentuk bukan hanya saat hidup di Jogja saja, namun juga saat-saat belajar di kampus … termasuk sewaktu KKN ini. Dimana antar mahasiswa yang berbeda disiplin ilmu bersama-sama belajar untuk bekerja sama. Dimana antar mahasiswa belajar berinteraksi untuk saling menyelami. Dimana mahasiswa belajar untuk toleransi dengan disiplin ilmu lain.

Saat aku KKN dulu belum keras terdengar kata “Team Work”saat itu belum nyaring kata-kata “Network”. Di UGM sudah ada program KKN jauuuh sebelum aku mendengar kata-kata manis itu …. Kata-kata yang selalu mengingatkanku dengan program KKN di Butuh. Kutoarjo.

Sayang sekali kalo program ini dihapuskan hanya karena dianggap memperlambat kuliah …

Salam
Rovicky Dwi Putrohar (1990)

Fajar di Dermaga

Fajar di Dermaga 

oleh: Hasanudin Abdurakhman

Ketika memilih untuk menerima lamaran Karim empat tahun yang lalu Limah tidak berfikir untuk jadi ibu rumah tangga. Hanya ibu rumah tangga, yang sehari-harinya hanya perlu mengurus rumah, masak, serta merawat anak. Limah sudah biasa bekerja mencari nafkah. Waktu keluarga Karim melamar pada neneknya di kampung, Limah berusia 15 tahun, sedang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota. Ia memutuskan untuk kembali ke kampung dan menikah karena ia tahu, jadi pembantu tak akan pernah mengubah nasibnya. Ia ingin punya suami, dan bersamanya ia berjuang mengubah nasib.

Limah tak pernah menyangka Karim akan melamarnya. Orang tua Karim cukup berada dan terpandang. Ayahnya seorang tengkulak kopra. Ia membeli kopra dari petani di kampung, lalu mengangkutnya dengan kapal motor miliknya untuk dijual ke kota. Kini kabarnya ia tak cuma berbisnis kopra. Ia mulai mengembangkan usahanya dengan membuka usaha penggergajian kayu yang cukup besar di kampung lain.

Di samping itu Ayah Karim juga pengurus mesjid kampung yang sering memberi khutbah Jumat maupun hari raya. Karim sejak kecil sering dilibatkan ayahnya pada urusan mesjid. Sejak berumur sepuluh tahun ia sudah jadi muazin. Karim juga cukup tampan. Dengan semua itu tak sulit bagi Karim untuk mendapatkan istri dari keluarga lain yang berada dan terpandang.

Entah mengapa pilihan Karim jatuh pada Limah. Mungkin Karim jatuh cinta pada Limah sejak kecil. Rumah mereka memang berdekatan. Karim hanya setahun lebih tua dari Limah. Sejak kecil mereka sering main bersama.

Limah memutuskan untuk menikah bukan karena lamaran itu datang dari keluarga Karim yang berada dan terpandang. Ia hanya menginginkan seorang suami, seorang lelaki. Seorang pemimpin. Limah tumbuh tanpa lindungan seorang lelaki. Ayah dan emaknya mati oleh wabah kolera saat ia berumur dua tahun. Sejak itu Limah dibesarkan oleh neneknya dalam kemiskinan. Saat Limah berumur dua belas tahun, neneknya meninggal. Hidup Limah tertolong karena ada yang kebetulan membutuhkan pembantu rumah tangga di kota. Di usia itu ia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Di hari-hari pertama sebagai istri Karim dilalui Limah dengan suka cita. Meski sesungguhnya Limah merasakan banyak kecanggungan. Ia canggung dengan makanan lezat yang sehari-hari dapat ia makan. Ia bahkan canggung duduk semeja dengan keluarga Karim. Biasanya ia makan di sudut dapur di rumah majikannya. Itupun setelah semua orang di rumah itu makan. Bukan makan bersama. Limah juga canggung dengan pakaian bagus yang ia kenakan.

Hari-hari di rumah Karim tak begitu melelahkan. Ia hanya membantu pekerjaan rumah Emak Karim. Itupun bersama saudara jauh Karim yang ikut tinggal di rumah itu. Boleh dikata tak banyak pekerjaan yang mesti dilakukan oleh Limah. Mungkin begitulah seharusnya seorang menantu di keluarga berada.

Tapi tak lama Limah bisa menikmati semua itu. Ia merasa ada yang salah dengan pernikahan ini. Ia tak menemukan seorang lelaki pemimpin pada sosok Karim. Karim bukan pemimpin, bukan pekerja keras. Ia memang bangun sangat pagi. Sebelum subuh Karim sudah bangun, mandi, lalu pergi ke mesjid. Di situ ia salat malam dan mengaji hingga subuh tiba, saat dia kemudian mengumandangkan azan. Pulang dari mesjid Karim makan pagi, lalu pergi tidur lagi. Karim tak bekerja. Jarang sekali dia membantu ayahnya.

Ayah Karim juga jarang bekerja. Ia lebih banyak di rumah atau di mesjid untuk beribadah. Ayah Karim memang sudah cukup uzur. Di samping itu dia punya karyawan yang mengurus usahanya. Tapi Karim tidak uzur. Dalam fikiran Limah, dia harus bekerja.

Beberapa bulan di rumah keluarga Karim barulah Limah paham. Karim memang merasa tak perlu bekerja. Untuk apa bekerja? Karim anak tunggal. Semua milik ayahnya akan diwarisinya kelak. Karim merasa nyaman dengan itu semua. “Kita harus mensyukuri semua ini, Limah. Karena itulah aku banyak-banyak beribadah.”begitu penjelasan Karim suatu ketika. Karim memang tekun beribadah. Lebih tekun dari ayahnya.

Limah tak bisa membantah Karim. Kadang ia merasa keterlaluan. Ia hidup berkecukupan. Suaminya bukan lelaki jahat. Karim seorang ahli ibadah. Mengapa Limah masih merasa tak puas? Limah kadang merasa ketidakpuasannya itu tak patut. Tapi ia juga risau.

Limah ingin seorang suami yang pemimpin, yang membangun hidupnya dengan tangannya sendiri. Bukan benalu yang seumur hidup menumpang makan dari orang lain. Karim harus dipisahkan dari induknya, ia harus berhenti menyusu. Limah mengajak Karim pindah, punya rumah sendiri. Karim sontak menolak.

“Apa perlakuan ayah dan emakku padamu tak patut?” tanya Karim tak paham.

“Bukan itu.” jawab Limah. “Aku ingin rumah tangga kita mandiri.”

Emak Karim lebih keberatan lagi. Ia merasa Limah terlalu banyak menuntut pada anak kesayangannya. “Rupanya kebaikan kami selama ini tak membuatmu senang, Limah. Hidup macam apa lagi yang kau inginkan?” katanya pedas.

Ayah Karim sepertinya lebih paham. Ia memerintahkan Karim mengelola salah satu kebunnya yang belum jadi benar. Di atas tanah kebun itu sudah berdiri rumah sederhana, yang sudah ada saat kebun ini dibeli oleh ayah Karim. Dengan perbaikan di sana sini rumah itu jadi layak dihuni sebuah keluarga baru.

Berumah sendiri ternyata tak membuat Karim berubah. Ia tetap Karim yang lama, yang enggan bekerja. Ia lebih suka berlama-lama di mesjid untuk beribadah. “Harta tak akan kita bawa mati, berapapun banyaknya kita punya.” kata Karim. “Hanya pahala amal ibadah yang membawa kita ke akhirat.”

Limah tak membantah Karim. Percuma. Karim benar dalam setiap kata yang dia ucapkan. Itulah yang diajarkan agama, Limah tahu itu. Tapi dia juga tahu bahwa sikap Karim tak betul. Hanya saja dia tak tahu cara membantah atau membetulkan sikap itu. Sesekali mereka kehabisan belanja karena kebun yang belum jadi ini tak banyak benar hasilnya. Limah berharap kekurangan itu menyadarkan Karim. Sayangnya Karim kembali berdalil. “Barang siapa yang bertakwa pada Allah, Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan rezekinya datang dari sumber yang tak ia duga.” Jalan keluar itu memang ada, lagi-lagi dari ayah Karim. Lebih tepat lagi dari emaknya. Karim merasa itulah ganjaran atas ibadahnya.

Limah mencoba cara lain. Ia bekerja sendiri. Ia bekerja di kebun, menebas rumput, menggali selokan. Bahkan ia menebang pohon. Berharap Karim malu. Tapi itupun tak mengubah Karim.

Karim bahkan bergeming saat ayahnya jatuh miskin. Usaha penggergajian kayu ternyata gagal. Ayah Karim ditipu orang. Hartanya habis untuk membayar hutang yang dibuat oleh penipu itu. Yang tersisa hanya sebidang kebun tempat di mana rumahnya berdiri. Ayah Karim sudah merasa uzur untuk membangun kembali usahanya. Ia hanya ingin hidup seadanya dari hasil kebun, yang tak cukup banyak untuk dibagi pada keluarga Karim. “Semua ini ujian dari Allah. Setelah kesulitan akan datang kemudahan.” Karim berdalil lagi.

Kesulitan mulai terasa saat bantuan dari emak Karim tak lagi mengalir lancar. Tapi Karim tetap Karim yang berdalil, bukan Karim yang bekerja. “Ada sahabat Rasul ahli ibadah. Ia tak bekerja, hanya beribadah. Saat ia pulang ke rumah, penggiling gandumnya bergerak sendiri, mengeluarkan gandum. Tiada henti, sampai sahabat tadi menyentuh penggiling itu.” katanya mengutip sebuah riwayat.

Limah mulai tak peduli pada dalil-dalil Karim. Ia bekerja keras. Ia bekerja lebih keras saat dia sadar bahwa dia sedang hamil. Dia berharap dia celaka karena terlalu keras bekerja, agar Karim sadar. Tapi Karim tetap berdalil. Limah kembali bekerja tak lama setelah ia melewatkan empat puluh hari seusai melahirkan. Bayi merahnya ia letakkan di atas daun kelapa, bernaung pohon saat ia bekerja. Sementara Karim tekun di mesjid.

Kesabaran Limah akhirnya sampai pada batasnya. “Ceraikan aku, Bang.” pintanya saat bayinya berumur lima bulan. Karim menolak. Tapi Limah tak peduli. Ia memilih untuk pergi meninggalkan Karim. Akhirnya Karim pun tak kuasa menahan. Ia menjatuhkan talak.

Hari masih gelap saat Limah turun dari rumah. Di punggungnya tergantung bungkusan kain batik berisi beberapa helai bajunya dan baju anaknya. Dalam gelap ia berjalan menuju dermaga di muara kampung, tempat ia akan naik kapal menuju ke kota. Limah tak ingin banyak orang kampung tahu soal perceraian dan kepergiannya. Matahari baru menyembul di ufuk timur saat kapal dari kecamatan datang, menjemput penumpang yang hendak ke kota.

Sepanjang perjalanan kapal menuju kota Limah seperti memutar kembali cerita hidupnya. Masih terbayang saat-saat bahagia saat dia naik pelaminan bersama Karim. Ia bukan tak sayang pada Karim. Karim yang selalu lembut pada Limah dan anaknya. Beberapa kali ia menyesal telah membuat keputusan untuk meninggalkan Karim. Tapi bayangan Karim yang selalu berdalil membuat Limah kembali tegar.

Limah yakin pada tujuannya. Ia tak ke kota untuk jadi pembantu. Ia akan berdagang sayur. Selama bekerja sebagai pembantu dulu ia sering disuruh belanja ke pasar. Di situ dia kenal dengan beberapa pedagang sayur, dan sedikit banyak dia belajar dari mereka. “Menjual sayur tak sulit, aku pasti bisa.” Limah meyakinkan dirinya.

Dirabanya stagen yang melilit pingangnya. Di situ tersimpan harta berharga satu-satunya milik Limah. Sebuah gelang peninggalan emaknya. Gelang itu hendak dia jual untuk modal berdagang sayur. Limah tak tahu berapa hasil yang akan dia dapat penjualan gelang itu. Yang ia tahu hasilnya tak akan cukup untuk menyewa rumah tempat tinggal. Tapi Limah tak peduli. “Aku akan tidur di pasar seperti pedagang lain.” tekadnya. Sejenak ia merasakan kegetiran saat teringat bahwa anaknya masih bayi dalam gendongannya. Anak itu berhak tidur di tempat yang lebih layak, bukan di tengah gunungan sayur di pasar. “Maafkan Emak ya nak.”

Genap sehari semalam sudah sejak Limah meninggalkan rumahnya, meninggalkan Karim. Kapal yang ia tumpangi sudah merapat di dermaga. Limah teringat saat ia naik ke dermaga ini lima tahun yang lalu. Saat itu dia masih seorang gadis kecil. Kini ia menggendong bayi di pelukannya. Mesin kapal sudah dimatikan, tapi telinga Limah masih berdengung akibat mendengar raung mesin kapal sehari semalam.

Perlahan Limah naik ke dermaga, menuju mesjid terdekat untuk salat subuh. Di situ Limah hendak menunggu sampai hari terang, saat toko-toko sudah buka. Ia akan mencari toko emas untuk menjual gelangnya.

Limah membasuh mukanya di tempat wudu. Sejuk menyapu wajahnya. Ia sedikit menggigil saat mencuci kaki. Ia menoleh ke dermaga tempat ia naik tadi, berlatar fajar yang mulai menyingsing. Limah menatap dermaga berselimut fajar itu. Ada sedikit rasa khawatir dalam hatinya. Hanya sedikit. Selebihnya adalah keyakinan. Keyakinan bahwa hari-hari esok akan cerah, secerah harapan yang dijanjikan fajar itu.

Tips Persiapan PhD di Jerman

Tips ini disampaikan oleh Mas Ferizal Ramli saat diskusi di tread group Kampung UGM, 19 Juni 2012. Dari pada info hanya melintas di tread, kemudian lenyap, lebih baik saya copy paste di sini. :)

:

Ada hal penting untuk dapat sekolah di Jerman jika kita tidak ingin incar bea siswa. Kunci utamanya adalah dapatkan Professor Pembimbing untuk Program Doktor. Harus diingat filosofis Program Doktor di Jerman itu hubungan antara pembimbing dengan yang dibimbing ibarat Kyai dan Santri. Sangat erat!

Jika disistem Anglo-Saxon maka Professor Pembimbing disebut Supervisor atau Promotor, klo disistem Jerman maka disebut Doktorvater atau Doktormutter alias Bapaknya Doktor atau Ibunya Doktor. Jadinya, Professor pembimbing itu amat berkuasa penuh atas nasib anda seperti nasib anak balita kita yang amat tergantung pada kita.

Oleh karena itu kuncinya cari Professor pembimbing.

Apa tipsnya untuk bisa berburu Professor?
Pertama: Siapkan semua modal anda untuk menjual diri

Kedua: Ikuti saran saya untuk strategi pendekatannya

PERTAMA:

Modal anda adalah:
1. Proposal Riset Doktor yang bagus!

Catatan: Workshop yang akan saya adakan di Yogya salah satu materinya pelatiah bagaimana membuat Proposal Doktor yang bagus. Jika anda sudah kirim CV ke saya melalui email ferizal.ramli@yahoo.com maka nanti akan saya ikut sertakan.

Salah seorang trainer berpengalaman akan ajarakan anda bagaimana membuat proposal riset yang bagus menurut standard Jerman.

2. Membuat CV yang bagus
3. (Akan lebih baik lagi) nilai sekolah Master anda bagus dari Univ yang punya reputasi tinggi
4. Tentu saja memenuhi administrasi TOEFL (klo B. Jerman tidak mutlak karena nanti akan dikasih kursusnya).

KEDUA:
Bagaimana cara berburu Professor?

1. Anda bisa searching di link ini http://www.hochschulkompass.de/en.html

Itu link adalah host yang terhubung diseluruh Univ di Jerman. Nah cari Universitas mana yang menawarkan jurusan yang anda inginkan.

2. Setelah anda menemukan Univ yang tawarkan jurusan yang anda inginkan maka mulai masuk ke websitenya lalu cari nama-2 Professornya.

3. Setelah anda menemukan nama Professor maka segera cari informasi publikasi apa saja serta riset apa saja yang sedang dan sudah dilakukan.

4. Pahami publikasi yang telah di-publish di Jurnal oleh sang Professor tersebut. Cari titik-titik persinggungan antara proposal riset anda dengan publikasi sang Professor tersebut.

5. Setelah anda mendapatkan semua point titik persinggungan, anda tahu persis apa keahlian Professor tersebut maka saatnya anda ontak langsung melalui email.

Tunjukkan bahwa anda sudah melahap semua jurnal-2 yang dipulikasikan si Professor. Ceritakan bahwa anda berminat dengan kajian. Dan minta dia membimbing anda.

Biasanya cara ini langsung membuat Professor jatuh hati pada anda.

6. Untuk wawancara dengan Professor Jerman akan lebih bagus jika ikut Workshop di Yogya bulan September sehingga bisa tahu point mana yang paling penting diartikulasikan saat bicara dengan Professor Jerman

7. Jika anda sudah dapat Letter of Acceptance maka urusan biaya, dll bisa anda bicarakan dengan Professor

“Jadi gampangkan untuk bisa Kuliah Doktor di Jerman? :) ” kata Mas Ferizal.

Indonesia.. garfinkling atau non-garfinkling?

Garfinkling adalah istilah yang dikenalkan Harold Garfinkle utk menamai perilaku orang yang menunjukkan etika/adat tertentu, yang dilakukan tanpa dia sadari bahwa etika/adat tersebut itu ada. Dia contohkan:  misalnya, kita tidak  akan menghalangi orang lain berjalan, atau menyerobot antrian …

Sangat menarik mencermati garfinkling di Indonesia.  Sewaktu mudik di tahun 2010 kemarin,  saat keluar dari kapal,  ada petugas kapal  yg mengatur keluar masuknya mobil dari kapal.  Tentu maksudnya agar lancar.. Toh, tetap ada sebuah mobil berusaha memotong jalan mobil  yang kami naiki  (padahal sesuai petunjuk petugas,  giliran kami dalam antrian berikutnya). Keluar dari jalur tol Cikampek, hingga masuk Bumiayu, begitu banyak sepeda motor mengambil jalan di sebelah kanan, di depan mobil  kami (padahal jatah sepeda menurut undang-undang kan sebelah kiri yah?). Nyaris saja sebuah motor kami “senggol”. Dia ada disebelah kanan kami, sedang mobil di sebelah kiri kami bergerak ke kanan dan kami pun otomatis bergeser ke kanan… Nah lo.. Untung saja walau terkejut dan keseimbangan motornya terganggu, dia masih selamat karena pas tidak ada kendaraan yang datang dari arah depan! — Empat tahun lalu ada kejadian serupa, sebuah motor  menyalip mobil yang kami naiki dari arah kanan, pas kami juga sedang putar balik,  saking kebutnya dia tak sempat ngerem, nabrak kami, dan jatuh.. Huh.. Kami pula yang harus repot menanggung biaya anak istrinya berobat, kontrol, hingga membayari polisi.

Back to mudik, di Purwokerto,  didepan rel KA sudah dipasang pembatas dari tali. Maksudnya pastilah agar kendaraan dari masing-masing arah sudah punya tempat sendiri… Eee… La kok sepeda motor banyak pula yang mengambil tempat di luar tali batas.  Apa dia pikir dari arah depan tidak akan ada kendaraan lain lewat sehingga dia sah-sah saja lewat situ? (akirnya, tali batas pun mereka putus agar mereka masuk ke barisan dan tidak tertabrak kendaraan dari arah depan.. Duh, vandalism, lagi..).  Lebih parah lagi, dijalan yang menanjak, berkelok-kelok, ramai.. kok ya ada sebuah mobil Avansa memaksa menyalib mobil didepannya sehingga  memotong jalan sebuah truk dari arah depan — truk yang membawa beban menumpuk … Tak berani banting stir ke kiri, alhasil truk diam ditempat… Berhadap-hadapan dengan  si Avansa.. Huu.. Akirnya macetlah jalan sampai lama…

Lucu tapi menjengkelkan, adalah saat aku sudah siap masuk kamar kecil di sebuah pom bensin…la kok bisa-bisanya seorang ibu dengan dandanan sangat wah dan trendy muncul dari belakangku, lari kecil, dan langsung masuk ke kamar kecil itu (dengan badan sebesar aku ini, tentunya si ibu pasti  melihat aku  sudah antri terlebih dulu,  pun aku berada pas di depan pintu kamar mandi tersebut lagi)… Wow… sangat tidak tahu etika sekali si ibu ini ya?

Dan… kembali ke lampung… yang sudah pasti adalah kembali menghadapi sepeda motor berzig-zag ke kiri ke kanan tiak karuan didepan mobil… Lalu jalanan mulus dijebol dan diberi polisi tidur  (agar menghalangi orang lewat juga kan? Lah knalpot mobil sedan jadi tergesek si polisi tidur be gini? Belum perut yang ikut terhentak-hentak tak nyaman — plus tak aman untuk ibu hamil).  Weleh, la dikampus yang gudangnya etika juga sama saja kok..  Agak-agak  menjengkelkanku  tapi ya membuatku tertawa juga, adalah mobil-mobil  bagus dosen yang diparkir pas di tikungan. Ya bener disitu adem pak, bu… di bawah pohon besar yang rindang sih… Lah tapi anda itu mengganggu  kami-kami yang mau masuk parkiran kampus.. nanti  kalo  mobil anda tergores  kendaraan kami yang masuk dengan akses sempit, hingga body  mobil anda tak mulus lagi,  anda  akan mengomel juga kan? Wah…kayak apa ya rasanya, awal parkir mulus, pas mau pulang kok jadi penyok-penyok? Sama deh dengan mahasiswa. Tak merasa bersalah sama sekali, duduk-duduk atau berdiri ngrumpi di tangga, di jalan, tidak memberi celah bagi orang untuk lewat.. Guru parkir di tikungan, mahasiwa nutupi jalan, xexe…

Menghalangi jalan… termasuk jalan rejeki orang kan? Nah, banyak sekali peristiwa di mana orang mengambil jatah tugas/pekerjaan yang harusnya menjadi hak atau harusnya dibagi bersama dengan rekan kerja yang lain… Yah, namanya juga uang, jabatan,  sayang  sekali ya kalo harus dibagi dengan rekan sejawat; sedang dengan kekuasaannya, uang dan  jabatan itu bisa dimiliki sendiri? — jadi ingat pengalaman saat jabatan atau penugasan  ditawarkan, lalu santai saja ada rekan  menyerobot, dengan bahasa  halusnya (atau kasarnya?) berkomentar  ”Yang jadi …. (nama jabatan) jangan …. (nama orang), dia kan nggak bisa  – atau belum bisa …. (keahlian tertentu). Saya saja, kalau saya pasti lebih mampu untuk … (keahlian tertentu)”.  Duuuh … menjual diri, merasa mampu, dengan tak tahu malu :-(

Kesimpulannya? Pak Garfinkle… dimana pun anda menemukan teori garfinkling.. tapi rupanya tidak  di Indonesia..

Nenek, sang penguat jiwa….

pernahkan anda melabuhkan kepala ke pangkuan nenek, atau orang-orang terdekat & terkasih anda saat masalah terasa “menghimpit”? ingatkah anda akan mereka, akan masa-masa itu?
aku punya banyak nenek.. satu dari ibunya bapakku yang kupanggil simbah, satu dari ibunya ibuku yang kupanggil mamak, serta tiga nenek angkat dari ibuku yang kupanggil ibu dan simbok (ibuku diangkat anak oleh pamannya yang tak beranak, meski sudah punya lima istri. setelah mengangkat anak ibuku, kakek angkatku ini kemudian mengambil istri lagi dan punya anak sendiri. istri yang keenam ini kupanggil simbok..— waktu aku lahir, istri kakek angkatku “tinggal” tiga). selain itu, ada satu bibi ibuku yang sering datang menginap ke rumah kami, pun kami sering menginap dirumah beliau, yang kupanggil simbah putri.

memoriku akan simbah sangat banyak. simbahlah teman tidurku saat aku belum sekolah dan takut segala macam hantu yang sering kudengar ceritanya :) ) bahkan saat masih balita itu, kalau tetangga & saudara ramai-ramai menonton tvri yang menayangkan ketoprak berbau hantu pocong, aku akan ketakutan, dan simbah akan mengendongku ke luar rumah, mengajakku pergi ke warung tetangga yang selalu ramai pembeli atau ke pinggir sawah di depan rumah, dan mengayun-ayunku hingga ku tertidur. setelah aku masuk SD, umurku baru enam tahun dan selalu berangkat dan pulang sekolah tanpa diantar orang dewasa. kadang selintas kulihat sosok simbahku memandangku di kejauhan, di saat aku masih bermain main di sawah sebelum atau sepulang sekolah. juga saat sore hari atau saat liburan sekolah dan aku bermain di sungai atau di kuburan. simbah selalu memijitku dengan lembut saat aku tidur “klisikan” (jawa: gelisah karena kecapaian atau mimpi buruk). simbah juga selalu siap menggantikanku kalau aku tidak bisa “daden” (jawa: membuat api di tungku untuk memasak) atau capek “marut” kelapa — jaman dulu, dengan keluarga yang tinggal di rumah sebanyak 10 orang dan saudara serta tetangga sering mampir untuk makan, simbah atau ibu atau asisten selalu memasak dengan jumlah banyak, sering-sering juga bersantan.

selain simbah, simboklah nenek kedua yang dekat denganku. simbok rajin bercerita disaat aku berangkat tidur. favoritku adalah cindelaras dan ande ande lumut. aku suka sekali simbok bernyanyi “kukuruyuk, jagone cindelaras, omahe tengah alas…” atau “putraku si ande ande lumut.. tumuruno ono putri nggah-unggahi.. putrine sing ayu rupane.. kleting abang iku kang dadi asmane..”.. sepertinya, simbokku sangat bosan bercerita, tapi aku selalu merayunya untuk bercerita lagi dan lagi… hhhmmm, kadang juga kupikir lagu ini tertanam di otakku, seolah simbok menghipnotisku, sehingga aku jadi anak yang besar dengan berbagai masalah, namun tetap gigih dan terus berpegang pada keyakinan bahwa: sebentar lagi masalah ini akan berlalu, aku akan berbahagia.. sebagaimana cindelaras & kleting kuning yang terus berusaha dan akhirnya berhasil keluar dari masalah mereka :D .. oh ya, dan aku adalah putri yang ngunggah-unggahi (melamar duluan) suamiku yang sekarang :D
masakan simbokku sangat enak, meski hanya masakan sederhana yang bahannya diambil dari kebun. aku sering minta atau dianterin makan simbokku yang rumahnya dibelakang rumahku.. favoritku adalah terancam daun kencur/kenikir, jangan bobor, bubur ganyong, bubur garut, rebusan uwi ditaburi kelapa, gethuk, gadhung, tempe koro, pepes simbukan/mlandingan, buntil daun talas, gorengan ulat turi, pecel kembang turi… waduh, banyak sekali :D .. kalau ngambeg, aku sering masuk ke salah satu kamar di rumah simbok dan tidur atau membaca disana hingga sore tiba. biasanya, simboklah yang “ngerih-erih” atau melunakkan hatiku dengan berbagai cerita dan jajanan buatannya sehingga kejengkelanku mereda dan aku mau pulang…

simbah dan simbok mengenal beberapa “teman laki-laki”ku. biasanya simbah atau simbok menemani atau hanya melihat aku ngobrol dengan teman laki laki yang datang ke rumah, duduk bersandar ke dinding dengan kaki terlilit jarit terlipat (jawa: simpuh). salah satu pria yang kutaksir saat abg, adalah tetangga baruku, yang ternyata juga ditaksir teman ngajiku. aku ingat sekali komentar simbokku saat itu: kamu cantik, pandai, banyak teman, sedang temanmu kurang cantik, tak pandai, pun pergaulannya sempit.. untuk apa kamu bersaing mendapat cinta si T, kasihanilah temanmu, mundurlah.. hihihi… rupa-rupanya inilah yang membuat saya sampai sekarang berprinsip tidak mau bersaing dalam cinta :D ucapan yang sama ini dikeluarkan lagi oleh simbok saat orang yang naksir aku saat SMA, bertemu lagi saat aku sudah kuliah, dan dia CLBK serta terus-terusan menyambangiku di kos dan di rumah padahal sudah beristri :D

hanya pacar keduaku yang selalu berusaha menemui simbahku di kamar paling belakang kalau datang ke rumah dan tak melihat simbahku. waktu aku putus dari pacar keduaku, kurasa simbahku tahu, tapi mungkin dia memilih untuk diam dan membiarkanku mengatasi rasa luka sendiri dan bertumbuh karenanya.. padahal biasanya simbah sering bercerita tentang masa lalunya, atau merecokkiku dengan pilihan makanan yang aneh aneh atau dilayani dengan mandi, berdandan, dan merawati bajunya. tapi entah kalau simbah juga berbincang-bincang dengan simbok sebagai yuniornya, mengingat mereka sering rumpis :D simboklah yang kemudian mengajakku bercerita tentang pacarnya, kasihnya yang tak sampai, dan mengatakan bahwa apa yang aku alami, sudah pernah dia alami, dan kalau dia survive, aku juga pasti survive…

uniknya, simbahku tak pernah mengomentari teman-temanku ini, kecuali satu, pacar ketigaku. waktu itu, kami belum pacaran, dan mantan pacar ketiga sedari beberapa tahun sebelumnya sudah sering datang. ucapan simbah yang selalu kukenang dan bahkan sampai sekarang kuingat dan kunasehatkan pada yuniorku adalah “bojo bagus marakke weteng nggerus” .. yang artinya kurang lebih wajah tampan itu hanya menyakiti perut :D tapi benar juga kata simbah, beberapa saat kemudian aku berpacaran yang ketiga kalinya dan pacarku yang ketiga ini minta ampun bener kelakuannya, dimana-mana tebar pesona, kalau ketahuan, pasti jawabnya: loh dia yang naksir aku kok, aku sendiri cuma mencintaimu… :( (

di saat aku remaja, banyak saudara bilang aku 90% mirip simbahku, baik wajah, perawakan, maupun sifat.. sekarang pun aku sering dikomentari “seperti melihat mbah sono (atau mbah peni, nama gadis simbahku)” .. simbahku meninggal disaat aku sudah kuliah .. aku tidak sedih, karena aku sudah “puas” bersamanya, dan simbah pun sudah membentukku dengan segala cerita dan perilakunya.. kenangan indah dan buruk melebur, membuatku dapat melepaskannya … simbok, hingga kini masih banyak cerita & tertawa.. semoga umur panjang melimpahinya dengan kesehatan.

simbah dan simbokku, pahlawanku…
(tulisan ini terinspirasi dari lagu wali band, nenekku pahlawanku)
http://www.youtube.com/watch?v=VpS8bthFNYs&feature=related

“Are you proud of me, Sweetie?”

(kutulis sebagai refleksi diriku saat pembagian rapor anak)

Pertanyaan ini terngiang-ngiang sedari tadi siang dan semakin keras terdengar saat malam ini kunikmati samar samar dentingan lagu-lagu lembut Feelings, Edelweis, Rhythm of the Rain, dkk yang dimainkan Lili dari balik pintu kamarnya. Dua hari ini merupakan hari penerimaan raporku sebagai orang tua. Hari ini aku mendapat penilaian, bagaimana aku “mendidik” kedua putriku, adakah mereka mampu  menjadi diri yang positif, yang mampu mengenali keilahian dalam diri, yang sportif  & bersemangat dalam mengembangkan seluruh potensi diri mereka..  Terasa tidak ada yang “istimewa”, karena bu guru Ais kemarin bilang “Ais sempurna.. ” dan hari ini bu guru Lili pun berkata “subhanalloh, Lili sempurna..” .. Terasa tidak istimewa karena setiap kali aku menerima rapor anakku, ucapan semacam itulah yg selalu kudengar dari guru di sekolah. My children.. they are just fine..

Saat terima rapor, yang dilakukan di sekolah anakku adalah satu per satu wali murid maju menghadap guru, dan disitulah guru memberitahu orang tua apa yang “terjadi” pada sang anak selama satu semester. Setiap wali murid, akan berdiskusi dengan guru selama 10-30 menit. Hari ini pun nyaris sama. Aku berada dikelas selama kurang lebih 40 menit, karena harus mengantri (hari ini antrian didepanku adalah dua ibu dan sepasang suami istri). Dan.. selama ini, nyaris selalu pula aku diajak “diskusi” orangtua teman teman Lili saat antri. Temanya macam macam, kadang mereka menanyakan bagaimana bisa Lili begini begitu (biasanya Lili disebut mandiri, berprestasi, mudah diatur, dst, lalu diikuti: bagaimana caraku mengasuhnya?) .. Tapi lebih banyak lagi adalah pertanyaan yang harus kujawab: kenapa anak mereka begini begitu (temanya biasanya tidak mandiri, manja, belum bisa bertanggung jawab, tidak konsentrasi, ceroboh, kurang berprestasi), dan kadang diakhiri dengan pertanyaan tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan (anak disini tidak saja yang sekelas dengan Lili, tapi bisa jadi yang sudah kuliah). Tentu saja, aku juga sesekali memperhatikan diskusi bu guru dengan wali murid.. Dan yang mereka bicarakan rasa rasanya juga tidak jauh beda dengan diskusi mereka denganku…. Bahwa anak mereka begini & begitu seperti di atas.

Hari pembagian rapor sekolah terasa sebagai hari raporku sebagai orangtua, karena saat itu orang tua murid lain dan guru melihat & menilai peran utamaku dalam  mendidik anak. Namun, aku baru menyadari hari ini, penerimaan rapor anakku terasa “aneh”. Tadi, di luar kelas aku benggong dan ricek pada suamiku “Loh, kok kita selalu cepat kalau ngambil rapor ya? Dihitung hitung, orang tua yang lain bisa sampai 20 menitan..t Tadi kayaknya kita cuma dua menit??” (isinya cuma sedikit bincang & tawa, dan diselingi tawa Lili yang asik bergurau dengan guru??). Aku jadi bertanya tanya sendiri, saat kedua putri kami tidak mendapat masalah apa pun di sekolah, apakah ada kemungkinan sebenarnya mereka punya masalah, dan kamilah yang sesungguhnya keterlaluan sehingga tidak menengarai masalah itu, untuk kemudian didiskusikan & dicari solusinya bersama guru? Dan lagi aku merasa, saat putri putri kami dinilai guru & orang tua lain sebagai anak yang mudah ditangani dan berprestasi, lalu aku ditanyai apa resepnya, aku selalu merasa, mereka sempurna dan berprestasi melalui cara mereka sendiri..  ”They make it on their own”… I did nothing.. Justru aku merasa aku tak “sempurna” sebagai orangtua anak-anakku. Mereka melakukan pembelajaran & menjalani kehidupan yang “sempurna” bukan karena aku yang mengejar anakku untuk mengulang pelajaran, atau menyuruh les ini-itu, mengarahkan mengikuti lomba ini-itu (yang kutahu, banyak ortu yang begitu).. Bahkan kadangkala ada event penting disekolah mereka yang nyaris kulupakan. Aku lebih banyak membaca & menulis laporan pekerjaan sendiri dimeja kerjaku, bukannya bermain atau menuntun mereka belajar. Aku tidak rutin memasak makanan yang sehat & bergizi maupun meladeni keperluan sehari-hari mereka..

Mungkin, yang dapat kujawab dari segala tanya mengapa putri kami “sempurna” dan membuat bangga adalah: I take them for granted… Aku cuma berusaha keras untuk menyayangi mereka apa adanya.. Aaku  menerima kekurangan mereka sebagai bagian dari diri mereka yang merupakan anugrah bagiku. I always said it’s oke for them to be not perfect, to have faults. Dan aku mendukung pengembangan kelebihan/potensi mereka selama mereka menginginkannya. Aku selalu siap tertawa dan menangis bersama mereka kapan pun mereka bercerita tentang hari-hari mereka padaku atau membutuhkan jempol ke atas atau meminta pelukanku. That’s why I never care about jobs or deadlines, kalau anakku sakit atau bahkan cuma merengek terluka ringan. I will leave everything to soothe them, to hug & caress them.  Aku hanya berusaha untuk jujur dalam berkata dan bersikap.  Dan justru rapor hari ini membuatku bertanya pada kedua putriku.. “Ibu bangga pada kalian, tapi banggakah kalian punya ibu seperti Ibumu ini?” Yaaa… kuharap jawabnya ya….. Selalu…..

Satu Hati Sejuta Cinta

“Nur’Aini binti Ma’run,” kata Tek As, menjawab pertanyaan tentang nama lengkap nenek.

Aku mengeja nama itu, dengan lisanku, dengan hatiku, sesaat sebelum membaca al-Fatihah dan surah-surah lain untuknya. Aku menyebut nama itu, ketika mengucapkan do’a memohon ampunan dan rahmat Allah baginya. Namun karena nama itu terasa asing dihatiku, maka akupun menambahkannya dengan panggilan kesayangan kami, Nenek Angah.

Nenek Angah, begitulah namanya yang akrab bagi kami. Nenek Tengah, begitu maksudnya dalam bahasa Indonesia. Beliau memang berada diurutan tengah anak perempuan, diantara nenek kandungku dan Nenek Etek, yang telah terlebih dahulu berpulang ke rahmat Allah. Sosoknya muncul berkelebat di memoriku, seiring lantunan doa dan ayat suci yang kami sampaikan padanya. Dalam kenanganku, ia bagai tak berubah. Sepanjang aku mengingatnya, ia selalu ramah, penuh perhatian dan kasih sayang, dan sangat energik. Bayangkan, ia masih gesit melayani semua pelanggannya di warung kecil depan rumah, masih mengingat semua nama kami, masih terang pikirannya, masih bisa memperhatikan apakah cucu menantunya terlayani dengan baik di rumahnya, masih ini masih itu, sampai akhirnya hipertensi menghentikannya dari semua rutinitas kesehariannya, pada suatu sujud sholat subuhnya di bulan Mei 2012, pada usianya yang hampir 82 tahun.

Nenek koma. Menurut dokter, ada pembuluh darah di otak yang pecah, akibat hipertensi. Hipertensi. Nenek tidak pernah terlihat mengeluh karena hipertensi. Nenek tidak pernah terlihat terganggu dengan hipertensi. Nenek selalu terlihat sehat dan gesit. Ya, pernah nenek dirawat, tapi karena diare.

Dan mulailah hari-hari panjang penuh do’a dan harapan. Satu-satu anak cucu cicit ponakan dan kerabat mengunjungi nenek di rumah sakit. Menyentuh tangannya, membisikkan kata-kata cinta dan do’a di telinganya. Tangan nenek bergerak, airmatanya menetes, menumbuhkan harap bahwa nenek akan segera bangun dan tersenyum kembali. Namun nenek tak pernah benar-benar bangun kembali. Ia berpulang ke rahmat Allah dalam tidur tenangnya. Kami yakin nenek pulang dengan bahagia, mengetahui kami semua mencintainya dengan sepenuh hati. Satu bulan di rumah sakit, cukuplah menjadi bukti bagi nenek, akan kesetiaan dan kasih sayang anak keturunan dan kerabat padanya, baik yang sempat mengunjunginya di rumah sakit ataupun yang mengirimkan salam dan melantunkan do’a dari jauh baginya.

Bagaimana kami tak sayang padanya. Ia selalu penuh sayang pada semua, bahkan terhadapku, terhadap saudara-saudaraku, yang bukan cucu kandungnya. Terhadap ibuku, yang ‘hanya’ anak kakaknya, terhadap ayahku, terhadap kami semua. Dengan 13 orang anak, 30 orang cucu dan 20 orang cicit kandung, ia masih punya stok kasih sayang yang berlimpah untuk ponakan-ponakannya yang yatim piatu dari kecil, untuk cucu-cucu kakak dan adiknya, untuk pelanggan-pelanggan kecil warungnya, anak-anak SD depan rumah. Panggilannnya selalu terasa manis di telinga dan hangat di hati.

Aku ingat, setiap kali aku datang padanya di masa kecilku, ia selalu menyambutku dengan perhatian yang membuat aku merasa jadi cucu paling disayang. Dan itu tak berubah sampai aku beranjak remaja, lalu dewasa, lalu menikah. Ia menyambut suamiku sebagaimana-kukira-ia dulu memperlakukan ayahku. Sst..Ayahku selalu merasa sebagai menantu Kesayangan. Tentu saja, setelah aku dan saudara-saudaraku dan sepupu-sepupuku /cucu-cucu kandungnya besar, kami tahu bahwa nenek menyayangi kami sama besarnya. Luar biasa, bagaimana nenek bisa menanam cinta di hati kami semua sedemikian rupa, sehingga setiap orang merasa jadi yang tersayang baginya? Ia membuat kami merasa ada, merasa berarti, menjadi seseorang.

Airmataku menetes, mengenangkan betapa sedikit baktiku padanya, pada perempuan hebat yang membuat aku merasa punya nenek walau nenek kandungku telah tiada sejak ibuku kecil. Pada perempuan yang dirumahnya aku dilahirkan, yang membantu ibuku merawat dan menjagaku dan saudara-saudaraku ketika bayi, yang memberikan kami ‘kunjungan nenek’ ketika kami masih kecil dan tinggal di kampung terpencil dari desa terpencil di kecamatan terpencil di kota kecil yang tak dekat dari rumahnya. Pada perempuan yang selalu menyelipkan rupiah ke tanganku dan mengisi tas sekolahku dengan gula, teh, biskuit atau apa saja dari rak di warungnya ketika aku mengunjunginya pada akhir pekan ketika sekolah di kota kabupaten yang jauh dari ayah ibu dan saudara-saudaraku. Pada perempuan yang pada usianya yang ke 78 tahun menempuh perjalanan 11 jam dengan mobil, yang 7 jam diantaranya melewati jalanan yang berkelok-kelok yang membuat perut yang tak terbiasa tergoncang dan mengeluarkan isinya dengan ancaman jalan longsor dan berlubang dan jurang curam, demi menghadiri pernikahanku. Pada perempuan yang hatinya dipenuhi cinta hingga menyayangi kami semua sepenuh hati, tanpa membeda-bedakan kami dari hubungan pertalian darah. Pada perempuan yang membuat aku dan saudara-saudaraku tidak hanya mempunyai seorang nenek, tapi juga mempunyai seorang nambo (kakek) penyayang dan belasan makwo dan etek dan mamak yang menyayangi kami seperti ponakan kandungnya. Semoga sepeninggal nenek, kami semua tetap terikat dalam kasih sayang.

Memeluk pusaranya, aku berbisik dalam tangis haru, “Ya Allah, ampunilah Nenek Angah, sayangilah ia, sebagaimana ia menyayangi anak keturunannya dan kami semua ketika kecil, jadikanlah amal soleh kami sebagai amal jariah baginya, tempatkanlah ia bersama orang-orang soleh disisi-Mu, amin.”

Alfatihah ma’a shalawat!

13Juni12,

Mengutip kenanganku dan saudara-saudaraku dan sepupu-sepupuku, special thanks for Dinda Devita..

Photography Gathering KV Lakukan Bersih Pantai

Sampah Kiriman dari 13 Mulut Sungai Jakarta, Kotori Pulau Rambut

Oleh Nur Laeliyatul Masruroh

Image

Sebuah kapal kecil yang mengangkut 60 pecinta fotografi mendarat di Pulau Rambut, salah satu area konservasi di Kepulauan Seribu, pada akhir Mei 2012. Mereka disambut oleh serakan sampah plastik yang tidak sedikit jumlahnya. Sebagai area konservasi yang vegetasi dan satwanya dilindungi, mengapa sampai ada gunungan sampah mengotori pantai? Rupanya sampah ini kiriman dari tempat lain. Menurut penjaga pulau, ada 13 mulut sungai dari Jakarta dan Tangerang yang memuntahkan material sampah ke Pulau Rambut.

Serakan sampah tersebut berupa plastik bungkus, ban bekas, sandal, sepatu, dan berbagai materi yang tidak bisa terurai dalam waktu hitungan tahun. Ombak di bibir pantai Pulau Rambut berdebur besar. Seringkali saat ombak pasang tinggi, air masuk menggenangi area pohon bakau. Sampah-sampah itu pun turut terbawa ombak ke daratan hutan mangrove dan tentu saja mengotori tanahnya.Image

Pulau Rambut secara administratif termasuk dalam Kabupaten Kepulaun Seribu, propinsi DKI Jakarta, memiliki luas 45 hektar, dan merupakan kerajaaan burung. Ribuan burung dengan berbagai jenis beterbangan dan berumah di tajuk pepohonan. Kita bisa melakukan birdwaching di sebuah Menara Pandang di tengah hutan. Ekosistem di sana berupa hutan mangrove dan tidak berpenduduk. Pulau ini bukanlah area wisata untuk umum. Untuk memasuki kawasan tersebut memerlukan ijin khusus dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam, DKI Jakarta. Di pinggir pantainya, kita bisa menikmati pemandangan debur ombak sambil merebahkan tubuh di rerumputan. Meskipun siang terbalut terik matahari, di sana kita bisa dengan nyaman berteduh di bawah kanopi Cemara Pantai yang rindang. Sekawanan burung terbang ke sana kemari membawa sepotong serasah tumbuhan untuk membangun sarang. Mereka membawa daun-daun dan ranting yang menggenang di permukaan laut. Burung-burung tersebut juga sesekali berenang mencari pakan ikan laut. Sayangnya momen indah itu terganggu oleh bau busuk sampah di sana sini.Image

Saat kita memasuki hutan mangrove Pulau Rambut, ditemukan potongan-potongan koral serupa tulang-tulang berserakan di antara akar nafas pohon bakau. Juga, lubang-lubang mulut pintu rumah kepiting besar. Jalan setapak menuju rawa-rawa tersebut tumbuhlah pohon endemik Pulau Rambut, yakni sebuah pohon dari keluarga jeruk. Selain itu berbagai pepohonan termasuk Kepuh, Waru Pantai, dan Jati pasir, mendominasi vegetasi di sana. Umbi Gadung dan sejumlah liana khas juga tumbuh dalam ekosistem tersebut. Ekosistem seperti ini harus dijaga agar tetap lestari. Sampah-sampah yang telanjur masuk ke hutan mangrove bisa merusak tanah dan akhirnya merusak ekosistem.

Para pecinta fotografi tersebut merupakan sekelompok alumni Universitas Gadjah Mada, mendatangi Pulau Rambut bermaksud mengambil gambar untuk mengabadikan momen. Keindahan alam di Pulau Rambut pantas untuk diketahui dan menjadi tempat riset. Adanya gambar-gambar atau video yang dibuat dapat sebagai kontrol perubahan ekosistem beserta kekayaan hayatinya yang terjadi dari waktu ke waktu. Mereka juga menanam bibit bakau yang sudah tersedia di sana. Selain itu melakukan bersih pantai. Mereka mengumpulkan sampah-sampah yang tidak bisa terurai, ke dalam sejumlah plastik besar untuk kemudian dibawa petugas ke tempat pembuangan akhir di Pulau Untung Jawa. Di Pulau Rambut tidak diijinkan menyalakan api untuk membakar sampah ataupun sekedar menyalakan api unggun, mungkin karena di sana banyak ranting kering, dikhawatirkan bisa memicu kebakaran hutan.Image

Bersih pantai tersebut sekilas nampaknya tidak seberapa dalam mengurangi sampah. Namun ini sangat berarti, setidaknya mereka membantu mengurangi dan tentu saja jangan sampai menambah. Meskipun banyak sampah plastik berserakan, namun air lautnya masih jernih dan biru. Karena pulau ini cukup jauh dari aktifitas penduduk. Dari Tanjung Pasir yang terletak di batas Pulau Jawa, untuk mencapai Pulau Rambut memerlukan waktu kurang dari 1 jam menggunakan kapal kayu.

Permasalahan sampah tidak berhenti di bibir pantai Pulau Rambut. Saat kapal kembali ke Tanjung Pasir, mendekati bibir pantai, kita kembali dikejutkan oleh airnya yang sangat keruh. Bukan hanya sampah plastik yang mencemari, tetapi juga limbah cair yang menghitamkan air laut. Jika sampah dan polutan dibiarkan terus menerus mengotori sungai dan laut, akan merusak keseimbangan ekosistem secara keseluruhan di bumi.Image

Mustinya warga Jakarta dan sekitarnya malu membuang sampah di sungai. Hal ini menjadi tanggungjawab bersama untuk tidak meremehkan buang sampah sembarangan. Mungkin seseorang berpikir bahwa satu sampah plastik yang dibuang sembarangan ke sungai tidak akan mempengaruhi kehidupan di bumi. Namun, apa jadinya jika seribu orang berpikiran sama? Seribu plastik akan menyumbat aliran sungai dan saat hujan turun andil bikin banjir. Sungguh, ini bisa dimulai dari diri sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya. Memastikan bahwa di wilayah tempat tinggal kita, terutama di kota, ada pengambilan sampah tiap rumah yang terpadu secara rutin. Pastikan sampah plastik kita hari ini dibuang ke tempat yang tepat.

Depok, 2 Juni 2012

Ditulis juga untuk riverforlife.org

207512_1839302460126_1167454648_31979762_6668927_n

Sepenggal Kisah Perjalanan

KEULETAN SEORANG PEREMPUAN DI RUMAH MAKAN

Oleh Hirmaningsih Rivai
Medan, 19 Februari 2012

Sebenarnya ini kisah lama, sebuah kisah yang ku dapatkan sewaktu perjalanan mengitari Sumatera Utara di ujung tahun 2010 yang lalu. Beberapa orang teman datang dari Pekanbaru untuk berwisata mengitari Sumatera Utara. Berkaitan dengan keterbatasan waktu, maka kami membuat rencana tempat-tempat apa saja yang dikunjungi beserta urutannya. Tentunya tidak semua tempat yang kami kunjungi, sehingga tempat-tempat yang akan didatangi haruslah disepakati oleh semua orang.

Ada satu tempat yang sangat ingin kami datangi yaitu Hill Park di Sibolangit. Disana ada aneka permainan yang penuh tantangan. Kami berangkat dari Medan Shubuh sekali sehingga ketika sampai di sana, Hill Park belum buka. Kami melanjutkan perjalanan ke air terjun Si Piso-Piso di desa Sitongging. Air dari air terjun ini akan mengalir ke Danau Toba. Jalan menuju ke air terjun merupakan jalan setapak menurun seperti anak tangga dan  sangat curam. Butuh satu jam lebih untuk turun dan 1,5 jam lebih lagi untuk naik kembali. Kami pun terengah-engah, lebih tepatnya saya deh yang kepoyoh-poyoh. Setelah makan siang, kami pergi mandi di pemandian air panas Sibayak. Tentunya selama perjalanan kami berhenti untuk foto-foto di setiap tempat yang indah dan juga makan jagung di daerah Brastagi. Perjalanan pulang ke Medan, kami singgah lagi ke Sibolangit ternyata Hill Parknya sudah keburu tutup. Kami memang selalu kembali ke Medan, karena teman-teman maunya menginap di Medan. Jadi perjalanan selalu dimulai Shubuh.

Teman-teman masih penasaran dengan Hill Park. Padahal esok hari agendanya adalah ke Prapat ke Danau Toba melalui Siantar. Dalam perjalanan ke Medan kami berembug dan memutuskan malam ini ke  Prapat melalui Siantar. Kami berharap pagi sudah menikmati Danau Toba dan ke Pulau Samosir. Siang harus balik ke Sibolangit melalui jalan Brastagi. Kebetulan sopir dari mobil yang kami sewa mengetahui ke dua rute  jalan yang berbeda itu. Jadi pukul 22.00 malam kami meluncur ke Prapat. Sampai sekitar pukul 2.30 dini hari. Istirahat di penginapan yang murah namun bersih. Pagi kami sarapan dan mencari kapal yang ke Samosir. Sayangnya kapalnya tidak kunjung penuh sehingga sejam lebih kapalnya mondar-madir mencari penumpang. Target waktu jadi berantakan. Di Pulau Samosir hanya sebentar. Di kapal kami memutuskan akan memesan nasi kotak saja agar bisa makan di mobil. Hal ini untuk menghemat waktu dan mengejar agar bisa sampai sebelum Hill Park tutup. Ketika kami sampaikan ke Pak Sopir, ia menyatakan ok pada rencana kami dan belumlah terlalu lapar.

Kami singgah ke sebuah rumah makan melayu di Prapat. Memesan nasi kotak untuk 7 orang. Anak muda yang melayani kami  memanggil seorang bapak yang relative masih muda juga, mungkin sekitar usia 40 tahunan. Anak muda tersebut menyampaikan ke si Bapak  bahwa kami pesan makanan yang dikotak. Si Bapak serta merta mengatakan tidak bisa. Bisanya cuma dibungkus saja. Saya mengatakan cuma untuk 7 orang, karena kami mau makan di mobil. Jika dibungkus maka akan sulit menyantapnya. Bapak itu tetap menggelengkan kepalanya dan mengacuhkan kami. Saya mengucapkan terimakasih dan mengatakan: “Maaf tidak jadi.” Tiba-tiba seorang Ibu yang usianya relative sama dengan si Bapak yang sebelumnya melayani pembeli yang lain menghampiri dan menanyakan ke keperlunya berapa kotak.  Ketika di jawab cuma 7 kotak, ia tersenyum sembari berkata oh cuma 7 kotak saja ya. Ia mengatakan maukah kami menunggu sebentar. Lalu ia bergegas masuk ke ruangan lain mengambil kertas bahan untuk pembuat kotak, meminta orang yang pertama melayani kami merangkai kotak itu, lalu mengisi kotak tersebut sesuai dengan pesanan kami. Si Bapak yang tadi langsung pergi dari hadapan kami dan cuek saja. Nampaknya si Ibu yang ramah dan gesit tadi adalah istrinya.

Di mobil kami memperbincangkan perilaku si Bapak dan si Ibu tadi.  Rumah makannya memang cukup besar, rapi bersih dan ramai. Si Ibu memperlakukan si pembeli dengan ramah, berusaha memenuhi kebutuhan pembeli walaupun cuma 7 kotak. Bahkan menyarankan pilihan lauk dan sayur yang mudah untuk disantap selama perjalanan. Memang situasi saat itu sedang ramai sekali. Mungkin bagi si Bapak kehilangan 7 kotak pesanan tidak menjadi masalah. Bagi si Ibu mungkin setiap pembeli adalah rezeki buatnya. Entahlah. Kami hanya merasa si Ibu lebih gesit dan bersungguh-sungguh dalam usahanya. Bahkan salah satu teman perjalananku berujar, mungkin usaha mereka maju dan berhasil lebih karena sikap dan keuletan istrinya. Bisa Jadi.

Konsep berbakti kepada orang tua

Konsep berbakti kepada orang tua

oleh : Lusi Nuryanti

Masih terkait dengan “Semangkuk Bakmi Panas” saya ingin menulis tentang berbakti kepada orang tua. Kewajiban untuk berbakti kepada orang tua saya rasa adalah kewajiban yang tidak dapat dibantah. Semua agama juga menyuruh kita untuk berbakti kepada kedua orang tua kita, terlebih jika mereka sudah tua. Namun terkadang setiap orang menerjemahkan secara operasional kata berbakti ini secara berbeda. Ada yang memaknainya dengan rajin mengirim uang kepada orang tua yang jauh, ada yang merasa harus menemani dan tinggal serumah, dan bentuk operasional yang lain. Saya lihat, latar belakang budaya juga memengaruhi bagaimana seseorang menerjemahkan berbakti ini dalam bahasa yang operasional.

Seperti yang saya lihat di UK, disini saya lihat konsep berbakti kepada orang tua sangat berbeda dengan konsep kebanyakan orang Indonesia. Disini jarang sekali orang tua yang sudah manula tinggal bersama anak-anaknya. Sangat mudah disini menjumpai kakek2/nenek2 yang tertatih2 berjalan ke pasar/supermarket dengan bantuan tongkat atau alat bantu jalan kaki tiga. Sambil membawa tas/keranjang belanja berisi kebutuhan sehari-hari mereka berjalan terseok2. Awal-awal disini saya selalu “mbrebes mili” jika ketemu mereka. Ingin sekali menuntun mereka. Yang terpikir oleh saya, kemana ya anak2/cucu2nya sampai si kakek/nenek dibiarkan belanja sendiri dengan kondisi begitu? Pada sisi positif, saya salut betul dengan kemandirian dan kekuatan mereka, namun di sisi yang lain tetap saja saya terpikir,”tega sekali anak cucunya tidak menemani”. Kata seorang teman Indonesia yang menikah dengan perempuan asli sini, orang2 british asli memang budayanya begitu, jika sudah dewasa dan mandiri..mereka biasanya tidak begitu peduli dengan orang tuanya. Toh, orang tua (diatas 60 tahun) kan sudah menjadi tanggungan pemerintah. Istrinya saja sulit sekali jika diajak berkunjung ke orang tuanya sendiri, padahal mereka sudah 75 tahunan. Maka suaminya lah yang terus mengajak istri ini untuk terus menjaga hubungan dengan orang tuanya.

Itu salah satu contoh betapa budaya sangat memengaruhi operasionalisasi kata berbakti pada orang tua. Saya sendiri kebetulan mengalami ujian dalam menerjemahkan kata berbakti ini. Allah Swt memanggil ibu saya ketika baru sebulan saya tinggal move ke UK untuk mengikuti suami. Dan karena sikon yang sulit, saya tidak bisa pulang saat ibu meninggal dan harus menundanya beberapa bulan. Dan sekarang, saya selalu kepikiran bapak saya yang tinggal sendiri, meskipun berusaha menelpon secara rutin. Sering saya merasa sebagai anak yang kurang berbakti.

Nah, saya yakin banyak teman-teman disini yang juga tinggal jauuh dari orang tua. Bolehkah jika saya minta teman2 berbagi tentang bagaimana teman2 mengoperasionalkan konsep berbakti pada orang tua ini? Everyone is welcome. Secara khusus saya ingin minta Mas Bambang N Karim untuk berbagi pengalaman hidupnya, yang sudah puluhan tahun di Aussie dan jauh dari ibu tercinta. Bagaimana mengelola rasa rindu dan cinta kepada ortu ini? Thanks ya.

IMG-20120214-00894

KOPDAR KV DI RICHMOND CITY

Selamat Siang rekans KV

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Hari ini, saya bisa kopdar dengan Mas Philip Armand Harjanto FE 87 beserta Nyonya (Mbak Yulia) Teknik Sipil 97.

Belio tinggal di Surrey, yang lumayan jauh dari tempat saya menginap (Richmond City), namun demikian beliau merelakan diri untuk meluangkan waktu dan tenaga hanya sekedar untuk menemui saya, dan sekaligus dinner.

Atas waktu, tenaga dan yang jelas telah mentraktir kami berdua untuk dinner masakan Malaysia, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Philip dan Mbak Yulia.

Rasanya bangga sekali KAGAMA ternyata memang sudah go public,,dan bisa bersaing dengan lulusan dari negara2 super maju seperti di Canada ini.

Hidup KAGAMA, salam KV.
Semoga Mas Philip atau mbak Yulia, bisa bergabung di KV milis group ini..

Salam
Sis

KV ERS bareng pak prijanto,happy salma dan sentilan sentilun

KV nampang di Sentilan Sentilun Metro TV

KV nampang di Sentilan Sentilun Metro TV
oleh Umi Gita 

Sabtu, 28 Januari 2012

Pagi pagi bangun pagi langsung ke Bunderan HI. Jam 6.30 ternyata kami sudah dijemput Metro TV buat nampang di acara Sentilan Sentilun. Sampai di Metro TV kami dapat sarapan pagi dan merchandise sabun susu kuda liar hasil karya dan usaha mbak Dhanti (kimia, 2000). Kami pun berkenalan masing masing walau sesaat kala waktu menunggu syuting dimulai. Kami berkumpul ada sekitar 25 orang dari berbagai fakultas, ada dari statistika, sosiologi, hukum, teknik, farmasi dan psikologi.

Jam 9 syuting dimulai. Tapi ternyata Butet belum datang, alhasil kami menunggu sembari bermain game dan berkenalan dengan penonton lain yaitu adik adik mahasiswa dari perguruan tinggi ilmu Al-Quran Ciputat. Juga kenalan dengan produser Sentilan Sentilun yang ternyata Kagama juga, namanya mas faisal (Geografi, 2000).

Akhirnya jam sebelas, Butet sudah datang dan syuting pun dimulai. Sesi pertama menghadirkan tokoh Bang Yos, pasti udah pada tau kan siapa beliau. Bang Yos banyak cerita tentang bagaimana mengatur transportasi ibukota, dia belajar dari Bogota dimana mengusahakan 5 jenis transportasi massal untuk menggantikan transportasi pribadi. Selain itu Bang Yos juga mengungkapkan konsep Megapolitan dimana ada simbiosis mutualisme antara Jakarta dan kota kota penyangganya.

Sesekali ketika ganti adegan, Sentilan (Slamet Raharjo) dan Sentilun (Butet) menyapa kami dan berkata “Liat kalian, aku jadi kangen jogja.”

Sesi kedua menghadirkan Prijanto, wakil gurbenur DKI yang mengundurkan diri. Dia bercerita banyak alasan mengundurkan dirinya karna tak dianggap ada sebagai Wagub. Semua kisah dan bukti surat surat dinas, ia jadikan buku yang judulnya “mengapa saya mundur dari wagub DKI JAKARTA.” yang pada hari itu ia berikan gratis pada penonton.

Ah, hari itu hari yang menyenangkan. Selain bisa berpartisipasi dalam acara Sentilan Sentilun yang kritis namun kocak abis, kami bisa ngumpul kopdar, dan belajar sedikit tentang pertelevisian. Saya cukup memperhatikan bagaimana para kru TV bekerja, ada sutradara, ada kameramen, penyelaras suara dsb. Tertarik juga dengan mas2 kameramen yang tanggap dan berkacamata, sayang, saya tidak berani berkenalan.

29 Januari 2012
Migit