Bertemu dan Berbagi Itu Sumber Energi

Bertemu dan Berbagi Itu Sumber Energi,

by Sopril Amir

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu”

begitu syair lagu “Yogyakarta” dari KLa Project itu mengalun, spontan kami semua tersengat bersemangat. “Aduh lagu ini bagusnya nanti saja, pas kita sudah selesai,” kata Heni H. Yusuf yang berdiri di dalam kelas, tengah menanti ibu-ibu warga Bukit Duri yang hendak mengambil bingkisan sebelum pulang.

Ya, kami saat itu tengah berbagi, dalam rangka reuni (untuk kesekiankalinya, hahaha) Kagama Virtual di SD Pendidikan Rakyat II di Bukit Duri. Pertemuan kami kali ini pada awalnya ingin ikut berbagi, membantu korban banjir Jakarta. Kebetulan banjir awal tahun ini tergolong meluap besar, termasuk tradisi banjir lima tahunan. Dari hasil berembug di rumah R Kristiawan Kristiawan, kami menyimpulkan bahwa bantuan pasti sangat banyak, jangan-jangan bantuan dari kami, yang tidak banyak dan jenisnya sama dengan lainnya, akan “kurang nendang”, seperti menggarami laut. Lalu terbetik ide, bagaimana kalau kita membantunya sesudah banjir saja? Ini mungkin melawan arus, ketika trend bantuan menyurut mengiringi banjir yang pulang, kami malah datang menghampiri, tapi tidakkah itu bagus juga? Lalu disepakati mencari lokasi yang sekiranya masih perlu bantuan setelah banjir, yang terpikir adalah sekolah. Karena bisa saja sanitasi sekolah itu rusak hanyut terseret banjir, sementara bantuan sedikit sekali mengarah ke sana.

Ketua panitia tertunjuk, Alfian Rasyid, rupanya type cukup rajin dan tangguh. Dia rajin menyisir tempat yang sekiranya layak dibantu. Singkat cerita, didapatlah Kampung Melayu Kecil di kawasan Bukit Duri ini. Tapi tunggu dulu, rencana bantuan kami ternyata tidak laku. Masyarakat di sini, sudah cukup akrab dengan banjir dan juga sudah sering mendapat bantuan terkait banjir. Karena itu, mereka ingin, kalau masih mau membantu, kami membawa bantuan jenis lain saja. Berupa apa? Warga bilang ada kenakalan remaja, kasus HIV/AIDS sudah pula muncul. Waks! Kami tak menyiapkan diri ke sana.

Tapi janji sudah terucap, operasi bantuan harus tetap digelar, meski tak langsung menjawab permintaan. Panitia kemudian memutuskan untuk membuat penyuluhan mengenai penanganan gizi anak dikala bencana dan membantu peringatan Hari Kartini di SD setempat.

Pengumuman dan undangan, serta press release dibuat dan disebar. Kami berkabar kepada sesama Kagama di Jakarta, online atau pun off line, bahwa akan ada pertemuan di sebuah titik di Jakarta. Tidak hanya bertemu, alias kopdar, tapi pertemuan itu akan jadi ajang berbagi dengan warga setempat.

Lalu jadilah.

Sebagian warga Kagama Virtual pun datang dan bercengkerama di halaman sekolah. Aku sendiri, datang agak telat, karena kesasar, hehe. Bersama Raisah Suarni dan bang Ujang Syafnir, kami berbagi cerita tentang pekerjaan dan kehidupan di Jakarta yang tak jauh dari minat kami bersama: kebijakan publik.

Mumpung masih sepi, sebagian warga Kagama sedang membantu peringatan hari Kartini, kami sempatkan diri untuk bertukar cerita dan, apalagi kalau bukan, photo bersama. Di sini aku ketemu lagi dengan Lei, Utty Damayanti dan pertamakali dengan Linda Tjhin. Ada bintang tamu impor dari Yogya, Milona Ilza Sakantira dan Eka Priastana Putra. Dipandu Aroem Naroeni, kami lalu berkenalan satu sama lain, sambil menulis lagu pesanan untuk dinyanyikan kelompok Klik Kustik, termasuk pula lagu Yogyakarta nan legendaris itu. Saat itu juga kami sempatkan untuk makan siang. Dan saat itu pula menyempatkan diri untuk menyapa dan menggoda pengantin “agak” baru, Imtiyaz dan Rio.

Pertemuan kami harus berakhir separuh jalan, karena ibu-ibu warga sekitar yang diundang penyuluhan telah mulai berdatangan. Kami persilakan para warga duduk di barisan kursi yang tersedia. Entah mantera apa yang disemburkan panitia, penyuluhan ini laris manis. Peserta membludak. Kursi di bawah tenda di tengah lapangan sekolah itu dengan cepat habis terpakai. Lapangan segera penuh sesak. Apalagi tak lama hujan pun turun, dari sedikit dengan cepat menjadi deras. Mungkin karena memang sudah akrab dengan hujan, tak tampak cemas di wajah ibu-ibu dan anak warga akan kedatangan hujan yang deras. Tenda tak tertutup sempurna dan atapnya tempias, tak membuat keceriaan di muka mereka pergi. Penyuluhan, meski harus bersaing dengan desau hujan dan genangan di kaki, berlangsung lancar.

Di tepi lapangan, pintu beberapa kelas terbuka. Di sana, panitia mengadakan lomba melukis pot untuk anak sekolah, temanya “Bumiku Emakku”. Entah karena sungkan atau gagal mendapatkan orang yang bersedia, panitia menyeretku untuk jadi juri dadakan. Dengan tampilan yang dibagus-baguskan, jadilah aku bersama ketua panitia, juri lomba lukis. Dilihat dari senyum malu tapi semangat beberapa anak, sepertinya penampilan kami berhasil.

Lepas dari juri dadakan, aku kembali bergabung dengan Heni dan Milona bersiap menyambut rombongan ibu-ibu warga yang menjemput bingkisan sebelum pulang. Bingkisan kecil itu berisi minyak, beras dan gula, volumenya tentu jauh dari sumbangan yang biasa diterima ibu-ibu itu, tapi kami berharap semoga itu tetap cukup membantu. Saat itulah, lagu Yogyakarta pesanan terlantunkan.

Semangat kami yang sudah mulai menurut menjelang akhir acara mendadak naik lagi. Yogyakarta, kota yang mempertemukan kami semua dan mungkin sekaligus jadi momen pembentukan karakter kami hingga seperti sekarang.

Pembagian bingkisan berjalan lancar. Kami berkumpul lagi di lapangan, lagu pesanan lainnya terus dinyanyikan, dan kami pun ikut berdendang. Kursi kami tumpuk, kami pun merapat. Lelah belum terasa, justru semangat keakraban yang terus bertambah. Kami terus bergurau dan bernyanyi hingga kami pulang. Mungkin inilah yang membuat kami ketagihan bertemu dan bertemu lagi. Dengan bertemu, bersama, berbagi tak membuat rugi, tapi malah jadi sumber energi.

Cari Satu Cinta di Antara Ribuan Orang, Yang Kutemukan Kegilaan, Receh, dan Persahabatan.

oleh : Cindy Silvia Hadi
                 Berawal dari event Pesbuk tentang reuni kagama, aku mulai merencakan untuk bisa rehat sejenak dari rutinitas. Aku mengajukan jadwal cuti hingga bulan Desember nanti, dan atasanku hanya berkata “its okey.” Yes! Teriakku dalam hati. Di kalenderku tak mengenal weekend, dan tanggal bisa mendadak menjadi “merah” (libur) ketika ada kata “it’s okey” dari pihak yang berwenang.
                Satu minggu sebelum hari kebebasanku, aku memantau info-info kegiatan melalui gadget. “besok ber-gangnam versi jowo style ya” membaca sambil melongo dan garuk2 kepala. Apalagi nie ya? “Hatchi!!” video kiriman mba Laely masuk di BBM. Ngakak sendiria liat video nya.
                   Kamis malam aku sudah tiba di Bekasi. Kacamata, okey. Kain sifon, okey. Baju merah, okey. Kupastikan tak ada yang tertinggal, karena aku malas mencari2nya lagi.
           Jum’at…
             Sabtu…
              Horee, hari Minggu!!! Ini pertama kalinya naik kereta sendirian, antara ragu dan was-was. Berbekal informasi yang didapat, tiba di stasiun Klender pukul 07.30 dan  aku tidak ketinggalan kereta. Entah kenapa, hari itu sepertinya dress code nya merah, banyak banget orang berlalu lalang menggunakan baju merah. Berharap ada salah satu diantara mereka yang berniat datang ke reuni Kagama. Sepertinya harapan itu hanyalah sebuah harapan. Ha ha ha, hanya kebetulan banyak yang menggunakan baju merah. Meeting point nya di stasiun kota. Menunggu Indri yang terlambat datang, akhirnya aku memutuskan untuk sarapan pagi terlebih dahulu.
Indri dan Ndari datang… lets go to Ancol and we will having fun!!
Tidak pake bingung , tidak pake kesasa, kami tiba di Ecovention Hall Ecopark, banyak orang dominan menggunakan baju merah. Kalau yang ini tak diragukan lagi, pasti mau reuni Kagama. Di sini aku bertemu dengan teman-teman yang kenal berawal dari social media. Setelah bercipika cipiki, dan say hai, kami diajak untuk gladi bersih tarian Jowo Style. Dibilang gladi bersih, tapi nggak seperti gladi bersih. Ada yang sibuk menyapa teman, ada yang hanya melihat latihannya, dan ada sibuk dengan kameranya. Gladi bersih selama 20 menit, dirasa sudah cukup dan siap membaur dengan teman-teman lainnya.
                Aku bertemu dengan senior yang juga partner kerja selama 1 tahun, memang sengaja kami janjian disini. Tapi dia memilih untuk resign dan meninggalkanku seorang diri menjadi baby sister untuk para nila-nila ku… >_<
           Alumni paduan suara menjadi pembuka acara reuni. Tiba-tiba “maju… maju!” Apa ya? Dan ngapain ya? Aku mengikuti teman-teman Kagama Virtual berdiri di depan panggung tanpa mengerti maksud dan tujuannya. Ternyata menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada dan diperkenalkan sebagai panitia “Kagama Goes Green”.
          Kami menunggu jadwal aksi panggung sembari bercakap-cakap, menyapa teman lama, makan, bercanda. “pertunjukan kedua, Kagama Virtual” duo MC memanggil kami. Diawali salto dari Alfian kemudian diikuti teman-teman yang bermodalkan “nekat” untuk meramaikan dan menunjukkan kekompakannya. Lagu berdurasi 2 menit, ditutup dengan atraksi ngesot dari Mas Irvan.
            Setelah berganganam ria, rasa nya kaki, tangan, dan badan masih ingin digerakkan. Kami selalu meramaikan dan membuat penuh pelataran panggung. Dan mungkin merusak suasana penonton yang hanya duduk di bangku. Ada sebuah lagu, aku lupa judulnya, ada beberapa alumni ke depan panggung dan menarikan poco-poco. Rasanya gerakan poco-poco yang sudah dikombinasikan kurang familiar bagi kami. Kami tetap bertahan di depan panggung tetapi sudah mulai tangan dan kaki di goyang, ajeb-ajeb.
               Bintang tamunya Ikang Fauzy dan Sammy Simonangkir. “Saya Alumni dari MM UGM, jika rekan-rekan alumni kasian pada saya, silahkan beli album saya yang di jual di Stan Depan” kata Ikang Fauzy. PROMO !!!
                 Kita heboh di depan panggung ternyata dilihat oleh orang orang penting sekelas Anis Baswedan, Roy Suryo, Rektor Ugm dan Sekjen PP Kagama Pak Budi Wignyosukarto.Tapi cuek aja tuh! Lanjutin lagi ajeb-ajebnya mang!
                   “Tiba-tiba cinta datang kepadaku, saat kumulai mencari cinta. Tiba-tiba cinta datang kepadaku, kuharap dia rasakan yang sama”
Hm, aku menemukan sesosok yang menarik, mau kenalan tapi nggak pede. Cukup curi-curi pandang. Intermezo! Kalimat Mbak Laely (2012) berikut ini mewakili apa yang yang ada di hatiku, “Sebenarnya saya mencari satu cinta di antara ratusan atau ribuan orang itu, tapi yang kutemukan kegilaan, receh, dan persahabatan. “
           Hohoho.
           Saat yang ditunggu tiba, pengumuman lomba tari spontanitas. “Juara 2, Kagama Virtual mendapatkan Rp. 1.500.000 ” ujar MC. Yippyy… !!! Beberapa dari kami bersorak-sorak. Untuk merayakan kemenangan kami, maka reuni kali ini ditutup dengan Foto keluarga Kagama Virtual. Dan hadiah tersebut akan kami sumbangkan untuk Beasiswa Kagama Virtual.
              Bagiku, Reuni kali ini selain bertemu dengan teman-teman tetapi juga berolahraga dan menggalang dana untuk Beasiswa Kagama Virtual. Capek, seneng, dan pengen ikut lagi.
Menantikan Reuni “Kagama Goes Green” yang akan diadakan di Yogyakarta tanggal 8-9 Desember 2012. kalau kata mba Aroem “Aku tak lagi Virtual.

Terjebak Ikut Nari Gangnam Versi Nekat di Temu Kangen Kagama di Ancol

KAGAMA GATHERING at Ancol (Kagangnam Style)

oleh Hery Muhendra

Weekend, salah satu hal yang paling dinanti. Biasanya weekend diisi dengan full time relax, jalan jalan, kumpul keluarga atau sekedar nyuci2 baju kotor terus ngegelosor di lantai berjam jam. Apapun weekendmu, gunakan waktu dengan bijak, karena yang mau gw share ini adalah salah satu weekend gw yang cukup menarik. Ada yang ga biasa di weekend ini, ada satu agenda yang terus saja mengusik hati sanubari.

Berawal dari obrolan ringan di tempat karoke, beberapa minggu sebelumnya bersama beberapa anggota Kagama Virtual munculah ide untuk menghabiskan hari minggu tanggal 7 Oktober ini di Jakarta, ada acara KAGAMA gathering yang bertempat di Ecovention Hall Ecopark. Ide ini awalnya terdengar seperti basa basi, yak karena tempat kerja gw yang udah ga di Jakarta lagi tentunya membutuhkan waktu dan biaya klo harus ke Jakarta terlebih hanya untuk satu hari. Tapi seiring berjalannya waktu mendekati hari H, rasa kangen memuncak. Entah ada dorongan apa yang memaksa gw tetap harus kesana, mungkin that was called home. Setelah dipikir pikir, enggak lah ga mungkin masa gw anggep ancol home, emang gw badut ancol?? Terlepas dari alesan knapa gw ngotot ke Ancol, gw yakin satu hal, disana gw bakal disambut keluarga besar gw, KAGAMA family.

Pagi buta gw harus ngejer kereta terpagi dari Kota Cirebon, aneh karena bangun pagi itu sesuatu yang tabu dan sulit untuk di realisasikan buat gw. Terpaksa minta bantuan bidadari-bidadari untuk membangunkan, dan dengan susah payah kereta itu terkejar juga, tentunya terkejar dalam posisi masih di parkiran stasiun karena berhasil datang  5 menit lebih awal, prestasi. Perjalanan di kereta diiringi lagu lagu John Mayer dan Mr.Big menambah syahdu perjalanan ini, ga kerasa sampai dengan selamat di Stasiun Gambir yang suasananya Alhamdulillah macet total.

Stasiun Gambir adalah meeting point gw yang pertama karena disitu gw harus nunggu temen, si Diajeng DIY peringkat harapan dua yang gw tau tabiatnya aga unik. Hari itu nampaknya dia ga mandi, atau terlalu terburu buru mandi nampaknya, hahaha. Sebut saja Icha namanya. Macet yang terjadi di gambir disebabkan oleh pameran alusista yang diadakan oleh TNI dalam rangka merayakan ulang tahun TNI. Monas mendadak rame dan hal itu juga yang membuat si Icha harus jalan kaki cukup jauh, kita pun resmi ngaret.

Setelah berdiskusi cukup panjang dan alot mengenai keefektifitasan penggunaan busway atau ojek, akhirnya kita memilih taxy sebagai jalan tengah. Dengan harapan macet ini pasti berlalu,dan harapan itu walau tipis menjadi kenyataan. Sampai pintu Ancol kita hanya menunjukan poster yang gw print asal asalan, ternyata langsung diperbolehkan masuk. Masuk, definisi masuk disini adalah masuk ke area Ancol yang besar dengan segala nama tempatnya, sang supir give up dengan mengangkat tangannya, kita Cuma bisa geleng geleng sambil nutup idung tanda ga tau juga. Akhirnya kita nemuin satpam yang dengan baiknya memberi tau arah, belok kanan mentok ke kiri dan luruuus. Karena terlalu banyak belokan ke kanan ataupun yang ke kiri, kami resmi menghabiskan 15 menit tour di dalam ancol mencari alamat.  Baru pada satpam yang ketiga, akhirnya kami dapat menemukan gedung convention hall ecopark. Dan kegembiraan baru saja dimulai.

Indoor, satu hal yang aga missed dari perkiraan gw. Mana mungkin bisa bebas berekpresi, disuasana indoor yang kaku dan pengap, lampu gelap dan yang pasti fokus penonton semua akan ke depan. Tapi hal itu bukan lah sesuatu yang menjadi masalah buat kita, kita dalam hal ini melingkupi seluruh serdadu lengkap Kagama Virtual, baik om om senangnya, tante tante enerjiknya, atau pemuda pemudi tanggung penuh pesonanya, fyi gw masuk golongan yang terakhir. Baru masuk pintu, senyum senyum ramah langsung menyambut dan gw larut dalam obrolan, seketika ditarik ke depan untuk berbaris menghadap ribuan penonton, tanpa tau tujuannya apa gw nurut aja, di barisan depan penonton sudah berjejer orang orang penting sekelas Anis Baswedan, Roy Suryo, Rektor Ugm dan Sekjen PP Kagama Pak Budi Wignyosukarto. Mati gaya, sangat. Namun entah kenapa bersama sama semua itu terasa menyenangkan.

Kreatif, acara terbilang cukup menarik karena dari awal kita sudah dituntut untuk berinteraksi sesama alumni ugm. Untuk memfasilitasi tujuan tersebut panitia membuat beberapa lomba dan salah satunya adalah lomba dance secara spontan, dengan berbekal pemegang juara tahun kemarin Kavir berencana untuk perform dengan thema gangnam style versi jawa. Dance satu ini memang sedang populer sekali walaupun menurut gw gerakannya ga lebih dari njatilan versi korea yang terkena dampak globalisasi. Jauh jauh hari gw udah nolak untuk ikut karena takut ngerusak, emang dance kayanya bukan specialisasi gw dengan badan yang kian berat hari demi hari badanku tak selincah dulu lagi. Apa daya, dengan sedikit tarikan dan dorongan gw sukses terjebak ikut nari gangnam style versi jowo, dikutip perkataan mba laeliyatul bukan versi jawa  tapi versi nekat.

Di awali dengan koprolan maut mas Alfian Rasyid, diikuti dengan gerakan gerakan gangnam yang spontan tapi (mudah mudahan) menghibur, diiringi saweran saweran receh dan ditutup oleh formasi aneh mas Puthut dan Mas Irvan. Kombinasi yang super unik menurut gw, ga bakal ada yang mendefinisikan indah mungkin, tapi lebih di definisikan superr seruu dan supeer spontan. Jempol buat semua serdadu kavir yang memutus urat malunya sesaat kemarin. Sayangnya moment kagangnam style tidak banyak yang mengabadikan, penonton semua sibuk melongo, tertawa atau menutup muka saking malunya. Gw juga ga pernah nyesel ikut terlibat di dance itu, pengalaman yang cukup aneh tapi selalu lucu dan menghibur jika diingat.

Acara temu kangen kagama tersebut dibuat bukannya tanpa bintang tamu, beberapa artis ibu kota seperti Ikang Fauzy dan Sammy Simonangkir turut andil menghibur. Rocker dari warga Kavir sendiri lebih atraktif lagi membuat serdadu kavir tumpah riuh ke depan stage. Lagu lagu berbeat kencang dan lagu lagu melow bergantian menghibur. Sepanjang acara serdadu kavir jingkrak jingkrak, ada yang sibuk foto foto, ada yang sibuk loncat loncat, ada juga yang sibuk foto sambil loncat loncat. Acara itu ditutup dengan pengumuman pemenang lomba, dan Kagangnam Style versi kavir mendapatkan juara II. Jangan tanya alasannya, aga berbau magic dan mukjizat kita bisa menang juara dua! Hahaha. Doanya kuat mungkin, semoga acara acara selanjutnya akan tetap seperti ini, dengan khas dari keluarga kavir, penuh semangat, hangat dan gak biasa. We are Kavir family, and im proud of it.

Kopdar Ngumpulin Tanda Tangan

Photo by Novian Wijaya

“Mas pernah pacaran dengan kembang kampus?” tanya seorang perempuan memulai perkenalan dengan laki-laki yang sedang berdiri di antara kerumunan. Perempuan itu sembari menyodorkan selembar kertas dan pena, sekaligus minta tanda tangan. Apa nggak ada topik lain ya, mulai perkenalan kok dengan pertanyaan seperti itu? Tunggu dulu, ini bukan perkenalan biasa. Acara ospek? Hm, ikuti dulu lanjutannya.

“Diantara kolom ini ada yang sesuai dengan njenengan, Mbak?” pertanyaan kali ini untuk perempuan berjilbab yang sedang duduk di halaman bertenda. Seorang yang bertanya itu masih dengan kertas berkolom dan pulpen untuk mengumpulkan tanda tangan.

Di teras bertenda, Komplek PJA DPR RI, D3-300

“Oh, aku cinlok dengan Mas Ganjar saat KKN,” jawab mbak Atik, istri tuan rumah sembari menandatangani sebuah kolom. Mereka, sekitar 70 orang yang berkerumun pernah menjadi mahasiswa di kampus UGM Yogyakarta. Saat itu, Ahad 16 September 2012, bukan sedang kegiatan ospek, melainkan acara reuni Kagama Virtual sekagus syawalan di kediaman Mas Ganjar Pranowo di komplek Perumahan Anggota DPR RI, Kalibata, Jakarta Selatan.

Para tamu yang hadir adalah alumni UGM dari berbagai angkatan dan berbagai fakultas, jadi tidak semua saling kenal. Makanya perlu dibuat perkenalan khusus untuk memudahkan saling mengingat. Setiap peserta dibagi satu lembar kertas yang berisi 25 kotak. Masing-masing kotak berisi keterangan khusus, diantaranya “pernah pacaran dengan kembang kampus”, “memakai kaos Kagama Virtual”, “pernah cinlok saat KKN” dll. Mereka saling mencari tanda tangan teman yang sesuai dengan keterangan kolom.

Beginilah ruang tengah rumah dinas anggota DPR RI. :)

Selanjutnya acara agak berbeda dengan reuni-reuni Kagama sebelumnya. Karena Mas Ganjar baru saja mendaftar calon Gubernur Jawa Tengah, dalam sambutannya tak bisa dihindari muncul muatan politik. Mas Ganjar menyinggung tentang pengelolaan pajak bangsa ini yang belum optimal. Juga hal-hal yang bisa dikonstruksikan dalam konteks kepemimpinan. Selain itu anggota DPR Komisi IV dari fraksi PDIP ini mengaku memiliki strategi gerakan khusus, namun tidak bisa diungkapkan saat itu. Lhoh kenapa? Saat itu kebetulan dia menjawab pertayaan dari teman kader PKS. “Strategi tidak akan saya kasih kecuali PKS juga akan mendukung saya hari ini! “ sahutnya. Gelak tawa teman-teman pun pecah di ruang tamu. Suasana makin seru dan hujan banyolan lantaran kehadiran senior Mas Puthut Gambul, Mas Hasto, dan Mas Irvan yang punya sejuta komentar. Membuat acara tambah gerrr.

“Ssst.. ssst…sst..” bisik-bisik, awas inteligen dimana-mana.

                Saat makan siang dan waktu ibadah, mereka menikmati acara bebas. Yang di dekat pintu sedang ngobrol soal pekerjaan, yang di kursi makan sedang nostalgia jaman kuliah, yang di teras ngobrol ngalor ngidul, yang di pojokan sedang curhat masalah gebetan, dan yang di ujung tenda samar-samar terdengar nama Jokowi disebut-sebut. Ah iya, sekian hari lagi pemilihan Gubernur DKI. Jokowi sebagai kandidat DKI 1 sekaligus keluarga alumni UGM, tentunya tidak mengherankan jika punya pendukung dari kalangan teman-teman sealmamaternya. Pantas saja sejumlah orang berbaju kotak-kotak hadir di sana. Entah penyusup atau memang Kagama juga ya? Hihi. Juga, penulis buku tentang Jokowi, yang juga anggota Kagama, hadir di sana.

Duh, nyanyinya jangan keras-keras Mbak, Mas. Khawatir didengar produser rekaman. Khawatir ditolak! :p

Meski acara diwarnai nuansa politik, jangan pikir acara ini lantas membosankan. Buat yang tidak tertarik politik pun, punya ruang untuk hal lain. Bahkan, karaoke di teras bertenda sampai sore. Dengan suara pas-pasan, dan lebih banyak yang fals, diiringi organ tunggal, mereka nyanyi lagu-lagu lawas. Ini karena menyesuaikan yang pegang alat musik, koleksinya hanya lagu-lagu lama. Maklumlah, yang bersangkutan angkatan senior. Untunglah, ada satu lagu yang familiar oleh semua generasi. “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut…” lagu Yogyakarta ini membawa mereka kembali ke masa kampus. Merekatkan kembali kenangan-kenangan yang mungkin hampir retak. Termasuk kenangan seperti yang tercantum di salah satu kolom lembar perkenalan, kenangan bagi mereka yang pernah memiliki cerita dengan kembang kampus.

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, 17 September 2012.

Kebersamaan itu indah…

Kebersamaan itu indah…  
oleh: Aroem Naroeni

Berawal dari acara buka bersama di Taman Ismail Marzuki, mas Ganjar Pranowo menyampaikan undangannya untuk semua anggota KV untuk halal bihalal di rumah beliau. Akhirnya hari ini Minggu 16 September 2012, terselanggara acara halal bihalal keluarga KV. Diawali dengan permainan yang dipimpin Mba Umi Gita untuk saling mengenal dengan hadiah yang uhuyyyyyyyy!!:-). Kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi tentang membangun jiwa kepemimpinan KAGAMA. Bagaimana kita bisa membangunnya untuk bangsa dan negara. Mungkin kesempatan untuk generasi perubahan belum ada tetapi kita harus memulainya.

Selanjutnya adalah acara makan bersama dan nyanyi bersama.:-)  

O yaaa mas Novian sempat membuat slide kegiatan KV yang dimulai dari sejarah berdirinya UGM, masa-masa kuliah yang unyu-unyu sampai kegiatan KV yang berawal dari berapa gelintir orang, berkembang dengan berbagai kegiatan KLC, KV Inc, Beasiswa,KPK, Hutan Pendidikan dan Konservasi Kusnadi Harjasumantri (HPKKH) dll.Mas Ryan dan mas Sinyo bercerita, dulu awalnya kita cuma berempat berkumpul sekarang sudah seperti sekarang. Banyak rencana-rencana bermunculan dari lomba foto, bedah buku, diskusi lanjutan dengan mas Ganjar….dll. Semua penuh antusias, penuh energi…..semoga semangat dan energi ini tertularkan ke yang lain dan setidaknya 1000 orang akan berkumpul di Merapi bulan Desember ini…………… SEMOGAAA!!    

Terima kasih untuk mas Ganjar Pranowo dan Mbak Atik….. Dan semua rekan yang membantu acara ini.

Berikut daftar hadir tetapi belum semua mengisi…. Sepertinya lebih dari 80 orang…. Terima kasih sudah datang. Dan maaf tidak bisa menyapa satu persatu , semoga di lain waktu bisa saling dekat.

  Daftar hadir :
1. Ganjar Pranowo
2. Atik
3. Aroem Naroeni
4. Irvan Kristanto
5. Indarto
6. Ryan Wuryanto
7. Heni Yusuf
8. Tri Harso S
9. Puthut Gambul
10. Novian Wijaya
11. Imitiyaz hawan
12. Sandya Yudha
13. Nur hatta luqman S
14. Cyndi Silvia
15. Alfian WS
16.Nur laeliyatul masruroh
17. Sinyo TW
18. Bima
19.Fadil
20.Mustofa
21.Engga kebaca
22.Rudy Umbara
23.Ulfia Mutiara
24.Lestari Octavia
25.Swandita adinata
26.Umi Gita
27 Raisah Suarni
28. Hendi Noor Irawan
29. Ajianto Dwi Nugroho
30. Utty Damayanti
31. Alief Afrian bargayu
32. M. Budi Santoso
33.Fajar Suryagama
34.Wied W winakto
35. Ujang Syafrir
36. Listiya manggiasih
37. Agus dwi praptana
38. Nara
39. Wira
40. Irawan
41.Ririn
42.Afif
43. Tisna
44. Yan
45. Nurul amri
46. Agus S
47. Iwan Hermawan
48.Ahmad fajar
49.Firda
50. Dewi nur cs
51. Putri kharisma
52.Yogaswara t g
53. Indah permata
54. Nita
56. Yunan novaris
57. Iwan manasa
58. Pendhi
59.Mayadi
60. Demo
61. Emelia Ratna Sari Dewi
62. Adhi Setyo
63. R. Agung wibowo putro
64. Andri Firsa
65. Dian Hidayat
66.Deny Purwo sambodo
67. Taufiq
68. Niken
69. Wibowo Arif
70. Andi Rahmah

Foto-foto bisa dilihat di : Kopdar Syawalan Kagama Virtual jakarta 1433 H

Kopdar Jepret, KVers Bersama Arbain Rambey

             Mengasah skill tentu saja penting bagi setiap orang. Ketrampilan apapun itu, jika seseorang mengusainya, dia akan menjadi yang terbaik di bidangnya. Atau, setidaknya bisa menunjang pekerjaannya. Atau, untuk having fun saja juga boleh. Termasuk fotografi. Jika dulu kemampuan fotografi hanya dimiliki kalangan tertentu seperti jurnalis foto atau fotografer studio, kini dimana-mana orang bisa memotret. Sebagian dari mereka mungkin tidak puas dengan hanya bisa jepret, tetapi ingin tahu lebih dalam bagaimana ilmu jepret itu. Berangkat dari itulah teman-teman Kagama Virtual (Kvers) di Jabodetabek berkumpul belajar motret di ODPS (Occi Digital Photography School), Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Sabtu 1 September 2012.

           Peserta yang awalnya ditargetkan 35, ternyata melebihi kuota hingga 40 orang. Mereka dari Jabodetabek, bahkan ada yang dari luar itu. Sebenarnya daya magnet apa yang membuat mereka bersedia meluangkan waktu ke sana? Padahal Jakarta yang macet dan jalanan ruwet seringkali bikin malas orang-orang untuk bepergiaan. Apalagi hanya untuk belajar motret. Bukankah cukup utak-atik sendiri fitur-fitur kamera di rumah? Tentu mereka punya alasan sendiri. “Dari SMA aku sudah minat foto-foto je. Kalau aku ikut kegiatan ini karena acara Kagama, jadi wajib dateng hukumnya, silaturahmi.” demikian alasan Alfian Rasyid, alumni Geofisika fakultas MIPA.

         Lain dengan Alfian, Sofyan Khoirul Anwar, alumni Teknik Geodesi, beralasan “Bukan karena tertarik fotografi, namun karena ingin bertemu teman-teman dan mempererat silaturahmi.” Lhoh!? Sofyan ini tinggal di Bekasi, menuju Jakarta Utara tentu saja bukan jarak yang pendek. Ditambah sepanjang jalan lalu lintas padat merayap dibalut terik matahari yang begitu menyengat. Namun, dia bela-belain datang.

          Sedangkan Mbak Utty Damayanti juga punya alasan sendiri. Selain ingin tahu tentang fotografi, secara umum/sedikit teknisnya, katanya juga ingin, “ketemu temen-teman dan bonus foto-foto yang fun!”

         Oke deh. Apapun alasannya, belajar sesuatu yang dikemas dengan acara berkumpul dengan teman-teman sealmamater memang bisa menjadi alasan penting untuk mengalahkan kendala. Termasuk kendala macet dan malas keluar rumah. Di sana bukan hanya berkumpul belajar fotografi, tetapi menemukan keluarga kedua. Teman-teman yang aman dan nyaman untuk berbagi. “Bukankah Rasulullah bersabda, siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diperbanyak rezekinya hendaknya ia memperpanjang silaturahmi.” tambah Sofyan mempertegas alasannya. Hoho.

Arbain Rambey mengenakan kaos Kelompok Fotografi Kagama buatan KVers. Photo by Eka Novianto N.

Apapun judul acaranya, ketika Kagama Virtual mengadakan “kopi darat” konon memang punya daya tarik tersendiri. Anggotanya terus bertambah. Kegiatannya makin variasi. Suasananya pun makin hangat. Lain waktu jika diadakan pelatihan membuat jamu, pesertanya pun mungkin akan banyak. Ups! Tapi kali ini tentang belajar motret dulu. Pematerinya nggak tanggung-tanggung, kami mengundang fotografer profesional, Arbain Rambey. Redaktur foto Kompas ini jurnalis yang memiliki keahlian dalam fotografi dan penulisan sekaligus.

                Melalui layar proyektor, sore itu Mas Arbain menunjukkan bagaimana mengatur komposisi objek alam dalam pemotretan. Seperti tajuk pohon, perahu sampan, dan sungai dalam satu frame. Gambar yang diambil dengan meletakkan perahu berada di bagian kanan, tentu hasilnya berbeda ketika motret dari angle lain. Arah datangnya cahaya matahari juga akan mempengaruhi hasil foto. Satu obyek alam bisa dipotret dengan berbagai sudut pandang. Keuntungannya, “Bisa dijual ke dua pihak yang berbeda,” ujar mas Arbain.

            Selain itu dibahas juga tentang bagaimana memotret objek manusia dengan latar belakang  alam ataupun bangunan. Menurut Arbain, saat pemotretan, objek manusianya bukan malah menjauh ke belakang mendekati bangunan, tetapi justru maju hingga separuh badan saja yang nampak dengan latar belakang bangunan yang penuh.

            Setelah mendapatkan sekian materi teknik fotografi, lalu mau diapakan hasil jepretan kita? Untuk koleksi pribadi dong atau dipajang di Facebook! Oh, kalau itu wajib. Selain itu, bisakah agar bernilai daya jual? Bagaimana caranya? Arbain mengatakan, seringlah untuk mengunggah hasil jepretan kita di internet, terutama situs yang memang memberi ruang fotografi. Di sana akan membuka peluang foto jepretan kita dilirik untuk kemudian dibeli. Bahkan, Arbain mengaku hidupnya 100% dari fotografi. Dia juga bercerita pernah diundang ke Eropa lantaran seorang nun jauh di sana tertarik dengan karyanya hingga ingin menggunakan keahlian fotografinya.

Tadaaaaa! Inilah salah satu hasilnya. ;-) . Photo by Alfian Rasyid.

Meskipun tema acara kali ini “Travelling Photography” namun tidak terbatas hanya soal itu. Peserta boleh bertanya apa saja tentang fotografi dalam kategori apapun. Termasuk fotografi jurnalistik dan studio. Acara diakhiri menjajal praktek fotografi di studio dengan pencahayaan lampu. Seperti biasa, lebih banyak yang dipotret daripada yang motret. Hu-ha, dimaklumi. Oh ya, Arbain sempat menyinggung singkat mengenai sejarah narsis. Berawal dari seorang pemuda bernama Narcissus yang sering bercermin di air karena begitu mencintai dirinya sendiri sehingga tidak bosan melihat wajah sendiri. Jadi, “Foto narsis itu syah!” kira-kira begitu kata Arbain. Baiklah, siap? Satu dua, jepret! ;-)

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, Minggu 2 September 2012.

Demo sepeda (amat) mini

Gowes Guyub membelah Jakarta 2 September 2012

Reblogged from Eshape Blogger Jogja:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Tak terasa tanggal 2 September 2012 tinggal beberapa hari lagi dan aku masih juga belum dapat sepeda untuk acara gowes guyub 2012 membelah Jakarta. Sepeda lipat Dahonku sudah kulipat dan kukirim ke Jogja, sehingga aku harus beli sepeda baru atau meminjam milik teman-teman pesepeda Jakarta.

Masalahnya kalau meminjam sepeda teman, maka kita harus mengembalikan dan biasanya semangat meminjam dengan semangat mengembalikan sepeda berbeda cukup jauh, jadi kuputuskan saja untuk meminjam sepeda panitia.

Read more… 447 more words

Gowes Guyub 2012 membelah Jakarta. Demo sepeda (amat) mini
Kagama Virtual

Lack Of Leadership dan Sebuah Mimpi

Sebuah tulisan sederhana akan sebuah kejadian yang terlaksana dengan sangat apik bersama mas Ganjar Pranowo
TIM  04 Agustus 2012
17:00 – 21:00 WIB
“kagama virtual”
Lack of leadership, itulah yang dapat saya tangkap tentang kultum di Taman Ismail Marjuki Sabtu 4 Agustus 2012 oleh Mas Ganjar Pranowo. Seperti kita semua ketahui bahwa di negeri ini pemimpin yang sangat mempunyai ketegasan dalam bersikap sangatlah jarang dan mungkin bisa dihitung dengan Jari. Salah satunya ialah seseorang yang mempunyai isial JK, dan hal itu memang bisa mengarah ke dua orang Jusuf kala dan Jokowi. Untuk masalah Leadership sendiri, dari lulusan Gadjah Mada sangatlah kurang bisa memunculkan embrio2 muda yang terlihat berbeda dalam sebuah karakter kuat dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang sangat egaliter serta bisa diandalkan untuk mencoba mengurai benang kusut yang sudah melanda dan merusak negeri ini.
“mas Ganjar Pranowo”
Mungkin juga masyarakat sudah muak dengan beberapa model kepemimpinan yang cenderung hanya mengandalkan gaya dan tanpa ada tindakan nyata. Mungkin pemimpin sekaliber Bung Karno itu hanya akan ada setiap seratus tahun sekali untuk bisa muncul dan sudah barang tentu jika dibairkan berlarut akan pasti mengganggu stabilitas negeri ini. Kembali lagi soal Jokowi yang kebetulan tidak bisa hadir dalam pertemuan kemaren, mas Ganjar ternyata pernah mengadakan sebuah pertemuan dengan 4 walikota dan salah satunya ya Jokowi tadi,
“acara di buka oleh kang Gambul”
“mas, kok bisa memindahkan PKL tanpa ada kerusuhan, dilakukan suka rela bahkan dilakukan dengan sebuah kirab budaya yang sangat ramai”
 ”diskusi”
Metode mengambil hati ini yang dilakukan Jokowi, mengajak makan malam selama kurang lebih 54 kali para pedagang ini, dan pada pertemuan terakhir barulah dia omong akan memindahkan mereka. Semua tidak dilakukan satu dua kali pendekatan saja (mungkin kalau bahasa saya ialah personal approach) namun melalui proses yang panjang dan berliku. Disaat akhir itu lah dia berhasil mempergunakan kekuatan mind nya akan hal yang memang seharusnya.
Selain itu, penggantian ketua satpol PP dari pria berkumis dengan Ibu yang cantik pun, merupakan sebuah breakthrough yang sangat luar biasa.
“mulai saat ini kandangkan semua tameng dan pentungan, dan mulai besok anda saya copot”
Kembali lagi, ada sebuah tantangan dari mas Ganjar, untuk memperbaiki masalah leadership di lingkungan keluarga KAGAMA ini, apakah sudah siap untuk belajar serta memperkuat karakter leadership ini? Dan selain itu, jaringan, jarak antar alumni yang sudah melebar ini mungkinkah bisa di perkuat lagi. Jika di ibaratkan Jokowi adalah Loko, bagaimana alumni yang lain mensupport dan mungkin bahkan mendorongnya jika loko itu ada masalah?
Jadi sudah siapkah?
Hal itulah yang menjadi kegalauan mas Ganjar selama ini, dan memang kegalauan yang sangat beralasan. Dikarenakan negara tanpa seorang pemimpin yang nasionalis, tegas, bediri dengan rakyat serta mengabdikan seluruh jiwa dan raga demi negeri ini, rasanya sangat mustahil semua persoalan negeri ini akan bisa terurai.
“besama mas Ganjar”
Selain mendengarkan cerita dari mas Ganjar, kemaren juga dipresentasikan beberapa kegiatan dari kagama virtual sendiri, walaupun kegiatan ini masih bisa dikatakan sebuah embrio kecil, namun tekat dari teman2 yang sangat luar biasa memungkinkan untuk membesarkan semua embrio ini menjadi sebuah kegiatan nyata yang lebih besar lagi. Adapun sedikit kegiatan yang di ceritakan oleh teman2 ialah mengenai hutan pendidikan konservasi Koesnadi Hardjasoemantri di lereng merapi, KPK alias Kelompok Photography Kagama virtual, KLC alias Kagama Learning Community.
Mengenai hutan pendidikan konservasi koesnadi hardjasoemantri ini, merupakan kegiatan dari alumni untuk menghijaukan lereng merapi selepas terkena erupsi yang meluluh lantakkan lereng merapi. Mas Sandhya Yuddha mempresentasikan dengan sangat manteb mengenai konsep ini.
“mas Sandhya Yuddha”
Adapun kegiatan Photography ini merupakan kegiatan untuk menampung hobi dari rekan kagama di bidang perphotographian. Kegiatan ini sendiri kemaren sudah di deklarasikan di Pulau rambut, dan sudah mendapatkan beberapa order pemotretan. Kedepan semoga kegiatan ini akan semakin bisa menjangkau untuk semua alumni. Sore itu dibawakan dengan sangat ciamik oleh mas Novian mengenai kegiatan ini.
Sedangkan wadah yang lain inilah sebuah forum diskusi kecil, forum ini sangatlah menarik terutama untuk alumni fresh, dikarenakan dengan forum diskusi kecil dengan mendatangkan pembicara dari alumni yang sudah terlebih dahulu menancapkan taringnya di dunia nyata, bisa memberikan sebuah pencerahan, ide-ide segar serta membuat alur logika berpikir menjadi semakin terasah dan kritis. Walaupun ada beberapa kendala, namun setelah sedikit bercakap dengan mas Ganjar dan alumni lain malam itu, sepertinya mereka akan selalu support kegiatan ini.
“malam itu”
Ya, terlihat sebuah semangat yang sangat menyala, tidak ada yang dinamakan sebuah gap, dikarenakan semua alumni dari banyak generasi bisa berkumpul serta berbaur menjadi satu. Semoga semua mimpi ini bisa teraih satu demi satu untuk kemajuan Universitas Gadjah Mada.
~Tri H Sulistiyo (ths) ~
kumpul bareng

Terima kasih

Terima kasih

oleh: Sri Marpinjun

Beruntung jadi angkatan tua: diminta memegang kepala Hasan Abdurahman. Bayangkan! Padahal tak sedikitpun aku merencanakan bakal melakukannya sebelum bertemu orang ini. Gimana tidak terkesan, wong aku sangat menaruh hormat pada Doktor satu ini, wis direktur ahli agama maneh. Aneh rasanya memegang kepalanya, gara-gara dia ingin memperlihatkan benjolan di belakang kepalanya. Untuk apa…aku juga sudah lupa. Maaf. Yang jelas tidak ada alasan klomoh.

Rumah Hasan Abdurahman, keluarganya, dan masakannya benar-benar semenarik yang telah di tunjukkannya melalui face book selama ini. Semua kelihatan harmoni…dan sungguh dia orang yang saleh karena setelah “pamer” dia suka berbagi kemakmurannya itu kepada kami semua. Untuk memudahkan kami hadir, dia mengirim satu mobil untuk menjemput kami. Wah, kami merasa sangat terlayani oleh keluarga ini. Ketika pulang, dia juga menawarkan makanan yang berlebih untuk kami bawa pulang…. Kalau tahu akan begini, tentu aku bawa rantang yang dapat kukirim untuk mbak Denies yang setahuku ngeces pingin ngicipi masakannya. Tapi sayang aku pulang ke Jogja baru minggu depan, jadi dengan halus menolak tawarannya. Terima kasih Hasan Abdurahman. Hanya Allah SWT yang akan membalasnya!

Itu salah satu pengalaman paling menarik hari ini kopdar Kavir hari ini. Tentu saja pengalaman menarik lain adalah bertemu Ratna Widyastuti dan keluarga, THS, HMK, Firdaus, dan Sudarsono. Mereka semua baru kutemui hari ini tapi rasanya seperti telah berteman lama sekali. Untuk kedua kali aku bertemu kembali dengan Raisah, ML dan Indarto.

Tentu saja perlu diceritakan sedikit bagaimana Raisah kembali ke dalam grup. Baru kutahu, ehem, Raisah yang terkesan sangat mandiri dan punya strong personality, tak kuasa menahan rayuan HMK untuk kembali. Padahal iming-imingnya cuma: gimana kamu dapat ditag fotomu kalau kamu tidak ikut grup? Yang ini lebai. Yang tidak lebai: Raisah itu penting ada di dalam grup Kavir supaya dia dapat meningkatkan kualitas diskusi di grup. Seperti kita tahu dia ini pintar dan kritis. Jadi selamat datang kembali Raisah!

Kopdar di rumah Hasan Abdurahman memang output utamanya makan siang sampai kenyang. Tapi bonusnya adalah makin eratnya silaturahmi di antara para Kavir. Asumsi-asumsi tentang orang ini atau orang itu saya yakin juga telah terverifikasi karena kami semua pulang dengan pengertian yang lebih utuh tentang masing-masing (hopefully).

Aku pribadi kebetulan pulang ikut mobil HMK yang mulus bersama THS dan Raisah. Berempat kami mampir ngopi di Kalibata…lalu diskusi sampai lupa waktu ternyata kami berada di warung kopi itu hampir 4 jam! Kali ini HMK berkehendak untuk membayar semua jajanan kami. Terimakasih ya!

Ya ampun, hari ini sangat menyenangkan kawan-kawan. Terima kasih ….

kumpul bareng

Mencicipi lidah bakar di delta mas

Mencicipi lidah bakar di delta mas

oleh : Tri H Sulistiyo

Sabtu kemaren, rekan2 kv mendapatkan undangan bersantap di kediaman Kang Hasan yang berada di delta mas. Adapun rombongan dari Jakarta ada yang berkumpul di kalibata (mba Pipin, mba Ratna, kang HMK serta saya) dan ada yang berangkat dari jalur tol Jorr (mas Indarto, mba Firdaus serta mba Lei) sayang dab Irvan serta mba Ellen berhalangan hadir.

Tiba dirumah kang Hasan sekitar pukul 11.09 an dan sudah tersedia beberapa menu makanan yang sangat menggugah selera, seperti gulai ayam bumbu hitam, sayur daun genjer, beberapa lalapan, sambal terasi serta 2 buah ikan kuwe yang masing masing mempuyai berat kurang lebih 1 kg. mantab. seperti biasa saya kebagian untuk bakar membakar, adapun yang pertama dibakar ialah lidah, ya lidah. Lidah ini diolah dengan dua rasa, yaitu rasa manis dan rasa asin. Kemaren merupakan pengalaman pertama saya membakar lidah. Sebelumnya pembakar dipersiapkan lebih dahulu, dengan arang batok kelapa dan arang kotak, setelah itu lidah pun dibakar, tips untuk membakar lidah ialah jangan terlalu lama, dikarenakan daging lidah akan menjadi alot dan kurang tasti.
lidah bakar manis dan asin
menu siang itu
ayam bumbu hitam
urap genjer
selanjutnya ialah membakar ikan kuwe. Bumbu yang dipergunakan cukup sederhana saja, garam dan mentega. Ikan kuwe diolesi mentega serta ditaburi garam kemudian dibakar sampai matang merata. terasa mantab disantap dengan saos yakiniku. Sembari melahap masakan yang sangat enak ini, diskusi pun mengalir dengan riuhnya, adapun cerita ini sudah ditulis oleh mba Pipin di FB (monggo dilihat) saya nulis masaknya saja :D
ikan kuwe bakar
dan acara mbakar ini ditutup dengan ketela bakar. silahkan dicoba dirumah resep bakar yang sederhana ini, dijamin sangat enak dan ikan atau daging akan terasa.
telo bakar
halo itu kami
nuwun
KV ERS bareng pak prijanto,happy salma dan sentilan sentilun

KV nampang di Sentilan Sentilun Metro TV

KV nampang di Sentilan Sentilun Metro TV
oleh Umi Gita 

Sabtu, 28 Januari 2012

Pagi pagi bangun pagi langsung ke Bunderan HI. Jam 6.30 ternyata kami sudah dijemput Metro TV buat nampang di acara Sentilan Sentilun. Sampai di Metro TV kami dapat sarapan pagi dan merchandise sabun susu kuda liar hasil karya dan usaha mbak Dhanti (kimia, 2000). Kami pun berkenalan masing masing walau sesaat kala waktu menunggu syuting dimulai. Kami berkumpul ada sekitar 25 orang dari berbagai fakultas, ada dari statistika, sosiologi, hukum, teknik, farmasi dan psikologi.

Jam 9 syuting dimulai. Tapi ternyata Butet belum datang, alhasil kami menunggu sembari bermain game dan berkenalan dengan penonton lain yaitu adik adik mahasiswa dari perguruan tinggi ilmu Al-Quran Ciputat. Juga kenalan dengan produser Sentilan Sentilun yang ternyata Kagama juga, namanya mas faisal (Geografi, 2000).

Akhirnya jam sebelas, Butet sudah datang dan syuting pun dimulai. Sesi pertama menghadirkan tokoh Bang Yos, pasti udah pada tau kan siapa beliau. Bang Yos banyak cerita tentang bagaimana mengatur transportasi ibukota, dia belajar dari Bogota dimana mengusahakan 5 jenis transportasi massal untuk menggantikan transportasi pribadi. Selain itu Bang Yos juga mengungkapkan konsep Megapolitan dimana ada simbiosis mutualisme antara Jakarta dan kota kota penyangganya.

Sesekali ketika ganti adegan, Sentilan (Slamet Raharjo) dan Sentilun (Butet) menyapa kami dan berkata “Liat kalian, aku jadi kangen jogja.”

Sesi kedua menghadirkan Prijanto, wakil gurbenur DKI yang mengundurkan diri. Dia bercerita banyak alasan mengundurkan dirinya karna tak dianggap ada sebagai Wagub. Semua kisah dan bukti surat surat dinas, ia jadikan buku yang judulnya “mengapa saya mundur dari wagub DKI JAKARTA.” yang pada hari itu ia berikan gratis pada penonton.

Ah, hari itu hari yang menyenangkan. Selain bisa berpartisipasi dalam acara Sentilan Sentilun yang kritis namun kocak abis, kami bisa ngumpul kopdar, dan belajar sedikit tentang pertelevisian. Saya cukup memperhatikan bagaimana para kru TV bekerja, ada sutradara, ada kameramen, penyelaras suara dsb. Tertarik juga dengan mas2 kameramen yang tanggap dan berkacamata, sayang, saya tidak berani berkenalan.

29 Januari 2012
Migit

senci

Kopdar Dadakan di Urban Kitchen Senayan City Jakarta

Kopdar Dadakan di Urban Kitchen Senayan City Jakarta
Ngobrol dengan ketua IAGI

Tri H Sulistiyo

Hari selasa malam kemaren, menindaklanjuti dari pemberitahuan mas dab Irvan, bahwa ada acara ngobrol2 sama temen2 di Senayan City, saya selasa sore langsung menuju ke tkp, dengan disertai rintik hujan yang mengguyur Jakarta. Jam 18.30an saya sampai di senayan city dan terus mencari mas dab Irvan, setelah ketemu kami langsung menuju ke Urban Kitchen, dimana ternyata Pakdhe RDP dan Budhe Yuenda sudah menunggu.

“semoga besok segera jadi mentri pakdhe”

Itulah ucapan saya pertama kali yang terlontar dari mulut saya. Kami pun ngobrol2 bertiga, termasuk rencana mau motrek burung di rambut serta mendengarkan sikit cerita ttg proses menuju ketua IAGI. Selalu menyenangkan mendengarkan cerita dari Beliau, masi membekas dalam ingatan kisah yang diceritakan beliau 4th yang lalu. Beberapa saat kemudian datanglah Rio, Umi, mas Komo, mas Jimmy, mas Lukman dan mas Novian.

Dari cerita pakdhe RDP, beliau mengatakan bahwa alumni UGM itu cenderung malu untuk maju, dan lebih suka mendukung dibelakang, “mbok koe wae sek maju ojo aku” mungkin kita sudah sering mendengar kata seperti ini. Ya, itulah mengapa ITB lebih terdengar gaungnya. oia, selain itu selisih suara yang beliau dapat kemaren cumak 4 biji, jadi satu suara pun bisa sangat berpengaruh.

Mas Jim pun tidak lupa bercerita mengenai dibalik dondar, ketika beliau dan mba Andi menemui pengurus MM, ada beberapa kejadian yang membuat bapak pengurus MM tercengang dan beliau pun menanyakan beberapa hal seperti:

Bpk MM: lah, kagama virtual itu punya badan hukum tidak?
Mas Jim: ga ada Pak

Bpk MM: loh kenalnya bagaimana?
Mas Jim: lewat milis Pak

Bpk MM:kok bisa menggalang dana untuk beasiswa?
Mas Jim: :-)

Ya, dari sedikit cerita dari mas Jim itu, kemaren juga sempat terlontar ide untuk membuat sebuah yayasan KV atau ormas KV, dimana tentunya ada nilai positif dan negatifnya. Selain cerita membahas mengenai cerita diatas, mas dab Irvan juga memberikan penjelasan mengenai tas project KV, dimana masih akan ada beberapa revisi dan bagaimana investasinya.

Banyak ide sebenarnya yang terlontarkan malam itu, tapi keburu mas mas yang ada disana megang sapu dan mulai menyapu dan mungkin ada beberapa percakapan yang terlewat, dikarenakan konsentrasi saya terpecah ke eda mame :D

terima kasih
ths

umigita

Reportase Kopdar Syawalan Kagama Virtual Jabodetabek: Cinta Sehangat Teh Kwam In

Reportase Kopdar Syawalan Kagama Virtual Jabodetabek: Cinta Sehangat Teh Kwam In

Meriah. Satu kata yang mungkin dapat menggambarkan kesan yang tercipta setelah mengikuti Kopdar syawalan Kagama Virtual Jabodetabek, 25 September 2011 lalu. Acara syawalan yang dibungkus berbeda dari pakem syawalan yang ada selama ini. Betapa tidak, acara ini saja sudah dibungkus dengan judul ‘The Way of Tea’.

Bertempat di kedai teh milik mas Bambang Laresolo di Agripark, Bogor mampu menyerap perhatian sekitar 40 orang untuk bersilahturahmi, berbagi dan berempati tanpa memandang jurusan maupun angkatan. Semua melebur jadi satu. Hal ini sudah dimulai semenjak Mas Eko Shp memandu games seru sebagai pemanasan acara. Kurang lebih ada tiga games yang dibawakan mas eko yaitu gerak lagu, tarzan&jane dan games berhitung. Dari games ini sudah terlihat bila mbak andi rahmah dan mas anung itu bila sudah bertemu dapat bersahabat dekat dan akrab, walupun di milis seringkali mereka berdebat.

Dan games puncak yaitu berhitung dimenangkan oleh duet mbak andi rahmah dan mbak ona. Namun, hadiah jatuh ke tangan mbak ona karena mbak andi rahmah mendapat hadiah khusus yaitu hadiah ‘top posting milis’ dan ketika dibuka hadiah itu…eng…ing…eng…sesuatu yang bewarna merah muda banget lah…memang diberikan khusus dari produk Matahari-nya mas Irvan untuk yang sering posting di milis.

Acara berlanjut dengan cerita pengalaman mas Bambang menemukan ‘passion’ nya tentang teh. Cerita tentang bagaimana ia mengarungi daerah-daerah yang terkenal dengan Teh nya. Dan ‘passion’ nya itulah yang kini membawanya menjadi ‘Tea Specialist’ dengan membuka kedai teh yang menawarkan berbagai macam teh di seluruh dunia dan agen penjual teh.

‘Tasted your personalities’ begitulah yang tertera di kartu nama mas Bambang Laresolo. Mungkin, pilih teh mu dan rasakan pribadi mu.

Selain bercerita tentang teh, mas Bambang juga mengajak kita menikmati sensasi minum teh yang kuno dari negeri Cina. Ada tiga jenis teh yang diseduh langsung oleh mas Bambang. Pertama kami mencicipi Teh Longcing, tehnya kaisar Cina. Kami menikmatinya dengan gelas kecil seperti minum sake, hmm….berasa seperti kaisar dengan permaisurinya. Lalu kami diberikan teh Kwam In—yang asal usulnya dari kisah seorang petani yang rajin membersihkan patung Dewi Kwam Im yang kemudian petani tersebut mendapat mimpi bertemu Dewi Kwam In dan menemukan pohon The, maka disebutlah The Kwam In. Dan yang terakhir, kami menikmati Puerh Teh, Teh dengan usia 20 tahun dan bernilai 2 juta rupiah. Wooooowww….berasa kaya banget! Dan rasanya….membuat melayang…..

Acara semakin meriah dengan adanya dooprize dan lelang produk Matahari cap Guangzhou nya mas Irvan. Ada kaos, tas anak, tas wanita, celana jins, baju wanita, jaket hingga pigura. Semua orang memeriahkan lelang semua produk yang dimulai dari harga sepuluh ribu rupiah. Hampir semua peserta mendapatkan lelang produk-produk mas irvan itu karena mereka tidak jaim sama sekali. Seperti pada umumnya, ibu-ibu seperti mbak andi rahmah, mbak ayi, mbak ona, Istri mas ryan, dan mbak Ratih memborong produk lelang untuk anak dan suaminya. Namun, anak muda seperti Tisna dan Indri pun tak mau kalah, mereka juga berpartisipasi aktif mendapatkan produk lelang. Yah lumayanlah dapat celana jins dan baju wanita. Ya gak Tis? Ndri?

Saya yang memandu lelang bersama Indri pun tak mau kalah. Sempat ketar ketir takut tak dapat produk lelang yang memang bagus-bagus. Sebenarnya saya naksir dengan kemeja dan dasi ungu merek Arrow, namun ternyata peminatnya banyak dan harganya menembus 175 ribu. Dan jatuh deh di tangan mbak Andi Rahmah. Tapi yah alhamdulilah saya masih dapat tiga kaos bermerk dengan harga 20 ribu per kaosnya. Selain itu sebagai hadiah dari mas irvan karena udah nge-mc, saya dapat celana jins panjang dan ‘ehm’ yang kembar dengan mbak Iim (suatu saat pasti itu akan berguna kan, mbak :p). Sempat berfikir, ini celana jinsnya buat siapa, secara saya sudah tidak biasa pakai celana. Namun akhirnya celana jins itu saya berikan untuk Bapak saya dan ternyata ‘pas’ yah hitung-hitung mengambil hati Bapak supaya diperbolehkan ikut kegiatan Kagama Virtual terus hehehe…

Akhirnya acara pun selesai setelah semua produk lelang sudah laris manis dan menghasilkan 1,8 juta untuk disumbangkan ke beasiswa Kagama Virtual. Eit, tunggu dulu, kejutan tak berakhir disini. Setiap peserta mendapatkan goody bag dari mas Bambang Laresolo yang isinya tiga jenis teh yang bisa dicoba di rumah yaitu blooming tea, mint tea dan teh hitam dari Tambi. Tak lupa sebelum berpisah, kami selalu sempat berfoto bersama.

Pulang dari acara ini, saya benar-benar dapat tersenyum bahagia. Sungguh bahagia rasanya ada sebuah ikatan pertemanan tanpa memandang label-label manusia, dan bagaikan satu keluarga. Dimana lagi bila bukan di Kagama Virtual.

Usut demi usut, dari acara ini ada yang mulai menemukan cinta sejati. Mari kita doakan semoga mereka menjadi pasangan yang abadi. Namun, terlepas dari itu, kebersamaan disini, di Kagama Virtual ini menciptakan cinta yang hangat diantara kita, sehangat minum teh Kwam In di sore hari.

28 September 2011

-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

Kopdar Angkringan Jabodetabek di Angkringan Jabrik Gandaria

Kopdar Kagama chapter Gandaria, versi seingatnya.
oleh Sopril Amir

Jam 6 petang lewat dikit, sms Komo van Sulastama Raharja masuk mengabarkan Kang Irvan Kristanto dan kembang angkatannya, sudah berada di lokasi, bahkan sebelum sing mbaurekso tempat Jabrik van Gandaria datang. Aku segera telp Kang Irvan berjanji segera sampai, karena rumahku tak jauh dari sana.

Ketika sampai di sana, tampak crew angkringan Jabrik sedang bersiap membuka lahan dan beberapa orang sedang berbincang rada canggung. Meski belum pernah ketemu, aku segera tahu yang mana kang Irvan, dan segera menyapanya. Buahnya, aku dikenalkan dengan mbak Wine, sang kembang, ehm. Menyapa pula beberapa teman yang sudah datang, belum hapal, yang jelas angkatan mereka lebih muda, pertengahan kedua 90-an. Continue reading

Kopdar Dadakan di TIS

Sore itu, mendadak telp sayah berbunyi, dan dari kejauhan terdengar suara yang mengabarkan bahwa akan ada acara kopdar mendadak di daerah pancoran, tempatnya menyusul yang penting kamu ke TIS dolo. Suatu kebetulan juga bahwa sayah bisa pulang pas tepat waktu, dimana ini dolo nya merupakan suatu momen yang langka, Setelah sampai di kos sayah trus bersantai sejenak sembari menunggu matahari terbenam. kurang lebih pukul 6.40 sore, saya segera berangkat menuju ke pancoran, suasana sore itu sangatlah padat, apalagi di daerah pancoran, macet dan orang pun seakan tidak peduli lagi dikarenakan mereka seakan menjadi egois dan malas untuk sekedar mengalah. ahh sudahlah.

sayah kemudian turun di depan PH pancoran, sembari mengambil telp genggam sayah mencari mba Ruri dan akhirnya ketemu juga. sekejap kemudian hp sayah kembali berdering dan mengabarkan bahwa kopdarnya di kafe Hema. nampak disana sudah ada Dhe Komo, Uni Ona, Mas Ryan, Mas Apri, Mas Darmaji. selanjutnya setelah memesan cappucino ala kafe Hema, sayah pun mulai mendengarkan percakapan. sudah hampir 2th sayah tidak ketemu dengan Uni Ona, dan baru kemaren saya bertatap muka dengan mas Apri.

“mas Ryan, Uni Ona dan Mas Aprijoko” Continue reading

Kopdar Jabodetabek di Gedung Waskita 17 April 2011

Kopdar Jabodetabek di Gedung Waskita 17 April 2011

“Cheers”

simple dan mengena, itulah pandangan saya mengenai kopdar sore ini di gedung waskita di cawang. kenapa saya bilang simple, ya karena dengan niat yang sangat sederhana ini kita bisa menjadi sebuah embrio akan komunitas besar dari Universitas yang bernama Gadjah Mada.

kita yang pada awalnya dipertemukan di dunia maya, dunia yang hanya ada kata tanpa ekspresi, namun seiring dengan perjalanan waktu, ternyata kita bisa bertatap mata, berjabat tangan serta berbaur dalam ruangan yang sama tanpa memandang aku siapa dan kamu juga siapa, hanya ada satu kata, kita sama-sama dibesarkan Gadjah Mada. Continue reading

Kopdar Jabodetabek

Siapa mengira kalau mbak Paloepi yang begitu centil di milis maupun di Grup BB ternyata cantik luar biasa dan ternyata juga suka malu-malu kucing? Siapa mengira juga kalau mas Eviyan Yanuar TF/87 yang cekak aos kalau di milis ternyata juga bisa bercerita panjang lebar di pertemuan offline, bisa melucu lagi.

Ada juga gadis Bali (Ni Putu Nena BPR HK/05) yang rupanya sangat centil dan dengan sangat pedhe jualan tas kulit sambil memperkenalkan dirinya dan suaminya.

Continue reading

KopDar Citos “LUAR BIASA”

KopDar Citos “LUAR BIASA”
oleh : Indarto Purwoko [indarto.purwoko@yahoo.com]

Rekan,

Barangkali ini KopDar pertama kali untuk anggota milist ini di Jabodetabek yang kita lakukan dan “SUKSES LUAR BIASA”, pada hal koordinasi baru kemaren. Dibanding KopDar pertama milist ini di Jogja ( cerita Mas Eko) hanya di hadiri satu orang yakni  Mas Eko sendiri….he he, nah di Citos ini di hadiri cukup banyak yakni:

1. Mas ganteng Darmaji
2. Mas ganteng banget Ryan (seperti penyayi siapa tu… Pasha  ungu…ngak percaya nanti kenalan langsung sendiri iyaa)
3. Mas Ganteng Sinyo “TW”
4. Mas Ganteng dan baik hati Eko dan ibu  Eko SHP( sebagai penasehat dan berbagi pengetahuan dan pengalaman)
5. Mas Ganteng THS
5. Mbak Cantik Ruri
6. Mas Ganteng  Anung
7.Saya sendiri cukupan : Indarto
( Maaf lupa tidak berfoto ria)

Belum lagi kita juga kenalan dengan Senior-senior di aggota milist Kampung UGM yang sudah lama jalan milist nya dengan jumlah yang banyak dan bersemangat untuk KopDar ( Munas).

Dari pembicaraan bebas ( dapat diikuti semua angkatan) kita ingin merutinkan KopDar ini dan ingin membuat nama kusus  mungkin NGUBER = NGUmpul BERsama( atau apapun silahkan usul…..) biar lebih akrab dan kompak sesama Alumni UGM di JABODETABEK, atau di Indonesia pada umumnya. kita juga ingin menyelengarakan KLP V, namun dengan format yang lebih sederhana ( bisa juga dengan nama yang berbeda) sebagai wadah untuk saling berbagi dalam hal pengembangan diri baik leadership, komunikasi, enterpreneur, intrapreneur dll. Kita berharap KopDar atau apapun namanya, bisa lebih semarak di ikuti oleh anggota milist ini dan tidak hanya di JABODETABEk tapi juga seperti mas tomo sampaikan di Pekanbaru, di jogja, di Kalimatan, di Sulawesi, di Palembang dan lain-lain dan bisa menyumbangkan buah pikiran utk kemajuan kita bersama, dan lingkungan sekitar juga.

Terima kasih moderator yang sudah mediasi KopDar ini, Terima kasih mbak Destina  atas informasinya, terima kasih mas Eko atas sharingnya, Terima kasih mas Ryan yang sudah mentraktir acara ini, lain kali boleh di ulang kok..he he(lain kali gentian, atau iuran biar ngak kapok, terima kasih rekan yang sudah hadir. Semoga KopDar berikutnya dapat di hadiri lebih banyak rekan lagi, sebagai bagian untuk membangun Kebersamaan. Silahkan kalau ada usulan dari rekan-rekan mengenai penyelengaraan KopDar…..bisa di sharing….monggo!

Salam,

 

Indarto