Dedikasi Tim Dokter Gigi Kagama untuk Karimun Jawa

Oleh: drg Fitri Arini

Dedikasi Tim Dokter Gigi Kagama untuk Karimun Jawa

Setelah berdiskusi panjang lebar akhirnya wacana tersebut dapat terealisasikan. Sebuah kegiatan sosial pun tercetus dan terlaksana pada medio November 2015. Karimun Jawa pun dipiliha, dikarenakan wilayah tersebut yang cukup terpencil, sangat membutuhkan bantuan dan bisa diakses relatif mudah oleh teman-teman KAGAMA. Pengda Jateng, Kagama dan Kagama Virtual akhirnya turun tangan buat program seperti: Konservasi terumbu karang, Pelayanan Kesehatan dan Pengembangan pariwisata.

12243565_10205310427982026_6072935521756326360_n

“tim dokter Kagama”

Acara Kagama “Goes to Desa“ ini didukung banyak pihak. Diantaranya ialah, Bapak Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah dan selaku ketua dari Kagama. Diikuti pula oleh Sekda Propinsi Jateng, Pangdam Diponegoro, Danlanal, Kapolda, Bupati Jepara, Muspida setempat berpartisipasi semua.

12278821_10205310426221982_2559422436355852838_n

“Gubernur Jawa Tengah sekaligus ketua Kagama, Bpk Ganjar Pranowo”

Salah satu program bakti sosial di karimun jawa ialah Bakti Sosial di bidang Kesehatan. KAGAMA mengirimkan Tim Kesehatan lumayan lengkap yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Karimun Jawa. Tim Medis UGM ini dipimpin oleh Dr Cahyono SpOG (K) yang terdiri dari:
Tim Pasukan Dokter spesialis kandungan dan kebidanan 2 orang
Tim Pasukan Dokter spesiakis THT 1 orang
Tim Pasukan Dokter gigi 10 orang
Tim Pasukan dokter umum 2 orang

Cerita bagaimana Tim Pasukan Dokter Gigi KAGAMA membangun gugus kendali mutu kerja dalam bakti sosial ini membekas di perasaan saya secara dalam yang ingin saya share di tulisan ini:

Gugus Kerja Tim Pasukan Dokter Gigi dibagi 2 yaitu Tim Dental Observation dan Tim Dental Treatment.

Tim Medical Observation ini terjun ke lapangan langsung ke dua SD di Karimun Jawa. Tim Dental Observation melakukan penyuluhan kesehatan gigi pada siswa-siswa di Karimun Jawa. Setelah itu ratusan anak-anak sekolah berbaris mengantri untuk di-observasi dengan cepat. Koordinator tim ini adalah Drg. Yayik Gayatri kakak angkatan sayaxsaat kuliah dibantu adek2 kagama: drg Aziz Pratama, drg Rifky, drg Novi dan drg Evi Rosmawati alumnus UMY kebetulan bekerja di klinik saya “Maxilla Clinic dan Apotek”.

12279183_10205310429582066_5735458736339904559_n

“Merawat Pasien”

Bagi yang membutuhkan tindakan ringan maka langsung diselesaikan di tempat itu juga (lokasi ada di SD 1 dan SD 2 Karimun Jawa) misalkan dengan pencabutan gigi susu. Bagi yang membutuhkan tindakan khusus maka segera dikirim ke Puskesmas dimana disana telah menunggu Tim Dental Treatment.

Di Puskesmas yang menjadi Markas Komando Tim Pasukan Dental Treatment berjibaku bekerja. Kiriman pasien benar-benar berlimpah ruah seperti air bah dikarenakan memang daerah ini cukup minim fasilitas pengobatan dan tindakan atas kesehatan gigi. Kebetulan saya berada di Tim ini bersama Drg. Budi dari Pati, drg Agus Ramli dan Devi perawat gigi puskesmaa Karimun. Selain itu, Drg. Mayu yang ahli dalam dikajian Kesehatan Gigi menjadi supporting system dan advisor-nya yang kebetulan riset PhD-nya dulu di Jepang relevan dengan hal ini.

Pencabutan Gigi Susu, Pencabutan Gigi Tetap, Scaling (Pembersihan Karang Gigi), Filling (Tambal Gigi), juga termasuk pengarahan kepada perawat gigi yg bertugas di sana untuk mengatasi komplikasi pasca pencabutan gigi seperti dry socket treatment, penanganan infeksi serta pendarahan, dll.

Para Dokter Gigi dari Tim Pasukan Dental Treatment berjibaku sampai gigi-gigi terakhir si pasien bisa diobati. Tapi dasar pasiennya tahu betul ini pengobatan gratis maka bukannya malah berkurang, malah makin tambah panjang saja antriannya. Lah karena biaya pengobatan gigi amat mahal disini. Untuk cabut gigi misalkan kadang harus ke Jepara. Biaya transport ke Jepara 400 ribu, biaya akomodasi selama di Jepara bisa 300 ribu, biaya cabut gigi dan tindakan lainnya bisa 200-300 ribu. Total Jenderal bisa 1 juta sendiri.

11221769_10205310428862048_1113942428033743_n

“Berkumpul”

Hari ini ada Tim Pasukan Dental Treatment KAGAMA memberi pelayanan gratis. Yah sudah berebut datang bahkan ada minta kedua giginya yang rusak (memang harus dicabut), minta dicabut keduanya sekaligus saat itu juga karena tahu ini tindakan medis gratis. Lah karena yang antri untuk dapat tindakan banyak sekali terpaksa Tim Dentist cuma bisa layani hanya beberapa pasien saja yg cabut langsung 2 gigi. Terlalu kewalahan dengan banyaknya pasien yg harus dilayani, apalagi kursi gigi hanya satu dengan bur saja dan belum lagi lampu yang mati. Disini pengalaman dan jam terbang dokter-dokter gigi KAGAMA benar-benar diuji dalam tantangan kasus riil di lapangan: pasien.
Tetapi tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Setelah seluruh barisan pasien selesai dikerjakan. Dari wajah-wajah desa nan polos mereka tersenyum ucapan tulus terima kasih yang benar-benar maknyus lega di hati yang menerimanya. ”Maturnuwun Bu Dokter”, ”Maturnuwun Pak Dokter”, terucap polos yang membuat hati bahagia mendengarnya. Kepala puskesmas dr Dino juga mengapresiasi tim drg kagama ini dan berharap kegiatan ini rutin dilakukan

Akhir dari bakti sosial ini ditutup dengan menikmati keindahan Kepulauan Karimun Jawa.

Pantai Karimun Jawa, 20 November 2015

Bakti Kami: Kepedulian Alumni UGM untuk Karimunjawa

Bakti Kami: Kepedulian Alumni UGM untuk Karimunjawa

 

IMG_7591.2
Foto: Harits Yunan

Pengurus Pusat Keluarga alumni Universitas Gadjah Mada (PP Kagama), Pengurus Daerah (Pengda) Jawa Tengah, Pengurus Cabang (Pengcab) Jepara, Pati, dan Blora serta KAGAMA Virtual pada tanggal 13-15 November 2015 mengadakan acara bakti sosial yang dikenal dengan “Bakti Kami untuk Karimunjawa”. Acara diikuti oleh 86 peserta. Kegiatan dimulai dengan keberangkatan peserta dari Pelabuhan Kartini Jepara menuju Karimunjawa pada Jumat 13 November 2015.
Panitia acara adalah Satuan Tugas (Satgas) Kagama untuk Karimunjawa yang dikukuhkan dengan SK dari PP Kagama. Program kepedulian ini akan berjalan selama tiga tahun. Program tersebut berupa konservasi terumbu karang, pelayanan kesehatan, dan pariwisata di wilayah Karimunjawa. Acara ini mendapat dukungan dari UGM dan beberapa sponsor seperti PT KMI Wire and Cable, Perhutani, Brantas Abipraya, PT Sinergi Media Lestarindo, Bank Jateng, dan Jimmy & Associates.
Ganjar Pranowo, selaku ketua Kagama sekaligus Gubernur Jawa Tengah, membuka acara secara simbolik dengan pemukulan gong di Puskesmas Karimunjawa.
“Harapan kita agar Karimunjawa dapat dijadikan wilayah wisata yang maju tetapi juga tidak seperti daerah lainnya yang kurang memperhatikan budaya setempat. Wisata di sini harus tetap memperhatikan sopan santun lokal yang tetap harus dijaga,” Ganjar penuh semangat menyampaikan kepada peserta bakti sosial.
Selanjutnya, sambutan oleh Bupati Jepara H. Achmad Marzuki SE dan dilanjutkan sambutan ketua pelaksana Satgas, Heri Kustanto ST yang menjelaskan tentang latar belakang acara.

IMG_7560
Foto: Harits Yunan

Setelah itu Ketua Kagama dan peserta mengunjungi para pasien yang sedang dirawat di Puskesmas, lalu ke lokasi pantai untuk melepas beberapa penyu ke laut. Berdasarkan PP no 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, penyu merupakan hewan yang dilindungi. Penyu yang berada di darat ini awalnya karena terjerat jaring pukat nelayan, kemudian Balai Taman Nasional menyitanya. Atas inisiatif Satgas Karimun Kagama, penyu-penyu tersebut dilepas di laut bebas dan diberikan tanda/taging sesuai prosedur yang ada.
Untuk program konservasi terumbu karang, Ketua Kagama bersama tim selam UGM dan pemandu lokal yang berpengalaman, menyelam untuk melihat terumbu karang yang telah ditanam sejak 28 Oktober oleh tim selam UGM. Tujuan konservasi adalah memindahkan karang yang sudah ditanam ke nursey ground-nya, pemindahan ruang/tempat pembesaran, atau pemeliharaan karang yang sudah ditransplantasi.
Karimunjawa merupakan daerah kepulauan yang dikelola dengan manajamen Taman Nasional dan diatur berdasarkan zonasi, secara konservasi bisa disebut lahan basah (wetland) berupa hamparan hutan Mangrove. Selain konservasi terumbu karang, tim selam juga melatih peserta bagaimana cara menyelam yang benar sesuai dengan prosedur.
Untuk program kesehatan, Satgas Kagama memberikan pelayanan kesehatan secara gratis ke masyarakat di sekitar Karimunjawa. Tim kesehatan terdiri dari 10 dokter gigi, 2 dokter umum, 2 dokter kandungan, dan 1 dokter THT. Mereka melakukan penyuluhan dan bakti sosial kesehatan. Dalam sehari total pasien sebanyak 215 orang. Untuk yang periksa gigi sebanyak 54 orang, THT 9 orang, kebidanan dan kandungan 37 orang, dan periksa kesehatan umum sebanyak 17 orang. Untuk pemeriksaan gigi juga dilakukan di Sekolah Dasar yang diikuti oleh 300 orang dan yang dilakukan tindakan sebanyak 150 orang. Terkait dengan kebidanan dan kandungan diadakan edukasi dan pemeriksaan ibu-ibu hamil dengan risiko tinggi.
Untuk program pariwisata, diselenggarakan dialog dengan warga tentang pentingnya menjaga kelestarian Karimunjawa dan mempertahankan kearifan lokal yang baik sebagai nilai penting pariwisata. Selain itu, diselenggarakan pelatihan tata kelola homestay dan dialog dengan operator tur lokal untuk menciptakan paket pariwisata yang inovatif. (Aji)

BAKTI KAMI… MBANGUN KARIMUN JAWA….

​BAKTI KAMI… MBANGUN KARIMUN JAWA….

photo

Kawan-kawan sekalian,
Kagama Virtual MENGUNDANG partisipasi teman teman untuk HADIR dan BERPERAN SERTA AKTIF dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Kagama Virtual bekerja sama dengan PP Kagama – Kagama Pengda Jateng dan Kagama Pengcab Jepara.

Kegiatan yang akan dilaksanakan merupakan kegiatan yang berkelanjutan sebagai perwujudan semangat “BAKTI KAMI” dengan tema “Mbangun Karimunjawa”.

Kegiatan tersebut meliputi:
1. Bidang kepariwisataan, berupa Pelatihan bagi Pelaku Pariwisata Karimunjawa

2. Bidang Konservasi Ekosistem Laut, berupa: Penanaman Terumbu Karang, Pelepasan Tukik dan Penanaman Mangrove

3. Bidang Pengabdian Kesehatan Masyarakat, berupa: Pemeriksaan dan Pengobatan Kesehatan, Pemeriksaan Gigi, Penyuluhan Kesehatan.

4. Bidang Pengabdian Umum berupa Pasar Murah dan Pentas Hiburan

Kegiatan tersebut akan dihadiri oleh Ketua Umum PP Kagama/Gubernur Jawa Tengah yang BERSAMA KITA mewujudkan semangat BAKTI KAMI dengan melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan tersebut.

WAKTU KEGIATAN.
Tanggal berangkat : Jumat, 13 Nov 2015 – jam 08.00 dg titik kumpul di Kagama Jepara, menuju Karimun

Tanggal kembali : Minggu 15 Nov 2015- jam 14.00 tiba di Jepara (dengan demikian para peserta dapat mengatur jadwal selanjutnya menuju ke kota asal)

BIAYA.
Iuran wajib – IDR 1,125,000/peserta untuk:
1. Tiket kapal Jepara-Karimun (2/)PP
2. Hotel/penginapan (2 malam)
3. Makanan box (5 kali)
4. Makan makan dan mbakar ikan pada hari Sabtu malam, tgl 14 Nov
5. Kaos lengan pendek
6. Kaos lengan panjang
7. Topi
8. Drybag – untuk melindungi barang2 dari air
9. Paket wisata keliling pulau Karimun

Biaya ini belum termasuk:
– Tiket pesawat/kreta/travel dari masing-masing kota asal dan biaya transportasi Semarang – Jepara – Semarang (dengan menggunakan mobil carter).
– Transport Smg-Jpr-Smg akan di koordinasikan dengan panitia, tetapi transport dari masing-masing kota asal menuju ke Semarang mesti diatur oleh masing-masing peserta – panitia hanya memberikan pilihan yang ada.

KEGIATAN.
Jumat, 13 Nov 2015 – daftar ulang, perjalanan ke Karimun, wisata keliling pulau, snorkeling, feeding baby shark, ditutup dengan temu kawan dan tokoh karimun

Sabtu, 14 Nov 2015 – acara baksos di bidang layanan kesehatan, penyuluhan, pendidikan pariwisata, jalan-jalan dsb.

Ada kegiatan extra berupa penanaman terumbu karang, penanaman mangrove, mangrove trekking, pelepasan tukik – tetapi ada biaya tambahan untuk ini (IDR 400,000 untuk penanaman terumbu karang dan IDR 300,000 untuk mangrove – karena ada material, biaya sewa alat selam, sewa kapal dst.)

Malam hari ditutup dengan mbakar ikan, panggung musik, temu keluarga Kagama Jateng dan Jepara.

Minggu, 15 Nov 2015 – souvenir time, jam 11.00 berlayar kembali ke Jepara.

CATATAN.
Saat ini sedang diusahakan untuk mendapatkan sponsor, dengan demikian diharapkan akan dapat mengurangi pos-pos biaya yang ada.
Kami juga menerima donasi pribadi untuk konservasi terumbu karang (jangka panjang).

PENDAFTARAN.
Di trit Kavir, atau kontak:
1. Aroem Naroeni 0815.1432.6180
2. Lestari Octavia 0812.1816.0350
3. Utty Damayanti 08111.4949.57

Biaya pendaftaran (uang muka) Rp. 200,000.-
Sisanya dapat di lunasi tgl 2 Nov 2015
Pembayaran:
BCA an. Utty Damayanti
Account: 523.514.5569
Konfirmasi pembayaran ke 08111.4949.57

Satu Hari yang Menyenangkan

Saat pulang dari Syawalan Kagama Virtual di rumah makan Kampung Nirwana, Cisauk, kami berempat menuju stasiun untuk kembali ke tempat masing-masing. Salah seorang dari kami bertutur, “semua orang yang pernah kuliah di Jogja selalu punya kenangan khusus. Selalu ingin kembali ke Jogja dengan perasaan sentimentil. Gitu kan? Kok aku sama sekali nggak.”

Kok bisa? “Mungkin karena selama 5 tahun kuliah aku nggak pernah punya pacar,” lanjutnya mencoba mengurai. Entah penjelasan itu serius atau cuma bercanda.

“Nggak harus punya pacar kali untuk memiliki kenangan khusus. Misal pergi sama teman-teman, nongkrong minum kopi jos di angkringan dekat stasiun, saat-saat nggak punya uang cuma makan gorengan di Warung Burjo, foto-foto di depan Tugu, jalan merem di alun-alun, atau apalah kenangan khusus khas Jogja sama teman-teman, masa nggak ada berbekas?” selidik saya.

“Nggak ada yang benar-benar berkesan, semua biasa saja,“ sahutnya, dia yang oleh teman-teman dijuluki Putra Altar (alumnus fakultas Teknologi Pertanian, angkatan 1980an akhir, silakan tebak nama aslinya! Yang bisa menebak paling cepat dengan benar, dapat doorprize dari Komp*s. :D).

Itu satu contoh alumnus mahasiswa Jogja yang tidak biasa, tidak merasakan romantika Jogja. Uh, sayang sekali. Sangat berbeda dengan saya, yang melihat lampu Jogja dari balik jendela kereta saja sambil membatin “Jogja sweeeeet bangetlah”. Banyak kenangan manis, asam, asin yang tak terlupakan di kota itu.

Dan saya yakin banyak yang sama dengan saya, punya kenangan khusus tentang Jogja yang istimewa. Ketika di tengah acara Syawalan, saat MC Komandan Hasto Atmoko membagikan doorprize, sebelum melemparkan pertanyaan-pertanyaan ke peserta, berkisah terkait kampus UGM dan sekitarnya. Setiap peserta punya kenangan kuat yang berbeda di zamannya. Misalnya kenangan terkait Yu Darmi di era 1980an, kenangan perjuangan para aktivis menurunkan Soeharto di era 1990an, dan kenangan disidak Ustad Maulana di era 2000an.🙂

Lalu, muncul seorang asing, di luar peserta, menghampiri dan bertanya, “apakah ini alumni UGM? Saya kebetulan sedang bersama keluarga di sini, samar-samar mendengar Jogja dan UGM disebut,” ujarnya. Dia alumni Fakultas Pertanian angkatan 80an, sempat memeriksa presensi untuk mengetahui apakah ada teman yang dikenalnya. Keterikatan yang kuat tentang Jogja membuat sinyalnya langsung nyala.

Syawalan KV Jabodetabek pada Sabtu, 01 Agustus 2015 kali ini diselenggarakan di Cisauk, tempat yang bagi sebagian kami, jauh nggak ketulungan. Namun, jarak tidak menghalangi untuk datang. Di Cisauk atau di manapun, tetap rasa Jogja. Menurut salah salah seoarang peserta, “Di acara ini aku senang karena akrab. Menunjukkan ciri khas UGM, sederhana.” Andreas Maryoto, Teknologi Pertanian, angkatan 1989. Acara dihadiri oleh sekitar 60 peserta, lintas angkatan, lintas jurusan. Mulai dari angkatan 70an hingga 2010an. Sebagian besar dari kami sudah saling kenal di reuni-reuni kecil sebelumnya, tapi belum tentu kenal saat di kampus dulu. Ya iyalah, kan banyak yang beda zaman. Semua saling terhubung melalui grup Kagama Virtual di Facebook.

Acara dimulai pukul 10.00, dibuka dengan perkenalan masing-masing. Selanjutnya permainan, pembagian doorprize sambil makan siang, dan bebas bercengkrama. Satu hal yang selalu dilakukan dalam pertemuan terencana KV adalah tiap peserta diberi tagname untuk memudahkan mengingat nama. Perlu disebut “pertemuan terencana” karena banyak sekali pertemuan/kopdar KV yang spontan. Dan, salah satu hal yang menyenangkan dari komunitas ini adalah interaksi yang setara, tidak memandang status dan jabatan, tidak ada Almukarram ataupun Yang Terhormat, kalau yang Tergila mungkin ada (silakan cek foto-foto acara!).

Kali ini ada game-game seru. Sekitar 22 orang terlibat aktif dalam permainan yang dipandu Mbak Istiqomatul Hayati, yang kece badai.🙂 Permainan dibagi menjadi 3 kelompok, sebagian dari mereka pasangan suami istri. Tetapi yang pasangan tidak boleh dalam satu kelompok. Permainan tersebut di antaranya tutorial jilbab oleh pria untuk pria, merias wajah pria, mencari koin dalam tepung pakai mulut, dan origami ala-ala anak TK. Lhoh alumni UGM kok mengadakan permainan nggak penting kayak gitu? Haha. Baiklah, terserah kita mau memandang ini seperti apa. Ini waktu berkualitas bersama-sama teman-teman untuk menciptakan kenangan manis yang tak terlupakan. Dalam acara yang penuh canda tawa yang lepas lebih meninggalkan kenangan manis daripada diskusi ndakik-ndakik dalam seminar kan? Haha. Para alumni ini juga orang-orang yang profesional di bidang masing-masing, diajak diskusi ndakik-ndakik juga bisa. Namun, untuk kali ini lupakan itu semua, mari bersenang-senang. Jika ingin kenal mereka lebih dalam, sebenarnya acara-acara kopdar KV bukan sekadar senang-senang, ada penggalangan dana beasiswa, membantu sesama, diskusi, donor darah, dll. Bagi para perantau seperti saya, tinggal di kota asing, menemukan teman-teman yang terikat oleh sejarah yang sama, pernah sekolah di tempat yang sama, dengan ikatan persaudaraan yang erat adalah sebuah kebahagiaan.

Salah seorang peserta yang terlibat permainan membagi kesan. “Tadi asyik, tapi panas karena pas jam 12. Tapi nggak papa sih. Menyenangkan, tapi masih ada yang malu-malu, ada yang baru. Lain waktu, semoga lebih banyak lagi yang datang,” ujar Krisma Perwitasari, Teknik Sipil 2008.

Peserta yang tidak ikut permainan di taman, ngobrol di sejumlah meja. Nah, kalau di sini ada ngobrol santai tema serius terkait perkembangan baru di berbagai bidang. Ini bukan diskusi yang terarah, tapi dari berbagi pengetahuan lewat obrolan macam ini, itu sudah sesuatu. Di sini ada komandan tentara, pengacara, dosen, peneliti, tim sukses presiden (eh), pemangku kebijakan dalam satu meja, dan perakit bom (ups, yang terakhir canda!). Mereka bisa ngobrol tingkat tinggi sampai gojek kere. Bahkan ada yang datang ke acara macam ini karena sebelumnya tertarik dengan obrolan santai  semacam ini, “Tadinya saya bolak-balik mikir mau datang nggak, tempatnya jauh banget, tapi saya ingin nyoba kereta (Commuterline). Saya ikut ngobrol gabung sama bapak-bapak di meja. Saya dapat informasi baru yang menarik dan aktual. Tentang sumber-sumber yang bisa didaulat. Dari acara  ngobrol seperti ini, tahu informasi terbaru sudah sesuatu yang bagus, ” tutur Mbak Ino Von Kiara, Elektro 1980.

Acara syawalan ini bukan hanya untuk muslim, melainkan buat siapapun alumnus UGM. Teman-teman yang hadir dari berbagai latar agama dan kepercayaan. Memperat tali pertemanan dan persaudaraan dengan berbagi keceriaan. Di era isu keragaman keyakinan seringkali bisa memicu perselisihan, kerukunan seperti ini akan dirindukan. Saya kira, Tuhan juga senang melihat kebersamaan indah ini. Secara keseluruhan acara berjalan lancar. Meskipun demikian, ada beberapa catatan yang disampaikan peserta, yaitu “Acaranya kurang terstruktur, konsepnya kurang,” ujar Meri Kurniawan, Ekonomi 1992. Selain itu, “Tahun depan agar lebih rapi. Gamenya lebih seru, kali ini anak-anak kurang terlibat, lain kali lebih dilibatkan,” pesan Mbak Dariah Suhaedi, Kimia 1992. Baiklah, itu mungkin bisa menjadi catatan untuk panitia acara selanjutnya.

Untuk acara syawalan santai seperti ini ketua panitia acara, Arwan Kurniawan (Pertanian 2005) menyampaikan, “Di acara seperti ini, diharapkan Kagama bisa bersatu, tidak terkotak-kotak lagi setelah pemilu presiden. Halal bil Halal ini  menjadikan kita semakin akrab, saling mengenal satu sama lain. Hubungan akrab dalam bisnis maupun kekeluargaan”. Saat interaksi di media sosial, beberapa di antara kami memang ada saja yang terlibat berdebatan dengan sedikit berlebihan, termasuk saat menjelang kampanye Pilpres maupun sesudahnya. Kopdar seperti inilah yang kemudian bisa mencairkan. Terima kasih untuk satu hari yang menyenangkan.

Depok, Agustus 2015

Laeliyaa

Syawalan Serba Salak

Setelah menempuh perjalanan motor Kebumen—Jogja selama nyaris 5 jam, pagi itu Selasa 21 Juli 2015, sampailah saya di tempat acara Syawalan Kagama Virtual di Desa Wisata Kelor, Turi, Sleman. Perjalanan lazimnya mencapai 3—3,5 jam. Namun, saya kesulitan mencari lokasi, padahal sudah bawa peta manual. GPS tidak berfungsi karena sinyal antara ada dan tiada. Ini masih di wilayah Jogja kan? Haha. Juga sempat nyasar berputar-putar membelah jalan setapak di kebun salak. Di daerah itu memang membentang kebun salak di mana-mana.

Segera setelah sampai lokasi, saya menemui sejumlah teman yang duduk di meja penerima tamu di samping gazebo. Nampak sebuah rumah tua berdinding bambu yang di dalamnya terbentang aula luas. Jajanan pasar seperti ketela pohon rebus dan klepon terhidang di meja emperan rumah. Tersedia minuman panas teh dan secang, tinggal pilih. Tak lupa sekeranjang salak yang bisa dipastikan memetik di kebun sebelah. Di depan rumah, sejumlah sosok tak asing duduk menghadap meja tamu. Salah satunya, Mbak Destina Kawanti (Biologi 1992), yang mencatat pendaftaran. Saya sudah kenal sebelumnya, bertemu kali pertama di acara reuni Goes Green 2012 dan selanjutnya saling interaksi di media sosial. Setiap peserta yang mendaftar diberi label nama untuk memudahkan mengingat nama satu sama lain.

Beberapa wajah familiar, tapi belum pernah berjumpa langsung. Di antaranya Pinjung Nawang Sari, Mbak Yunita Makarim, Pak Gusti, Pak Boy, Mbak Ratih Puspita (juragan cerita humor), dan Mas Gebyar Andono.  Saat bertemu kali pertama, seperti yang sudah-sudah dalam kopdar dengan teman sealmamater, langsung bisa akrab seolah berjumpa teman lama. Padahal beda jurusan, beda angkatan. Selain juga karena selama ini sudah saling familiar di media sosial.

Setelah ngobrol sana sini, ternyata bukan hanya saya yang kesulitan mencari tempat tersebut. Siapa sih yang milih lokasi?🙂 Sst… acara itu konon awalnya dimaksudkan untuk sepeda bersama dengan rute menjelajah area di sekitarnya. Namun, karena satu dan lain hal, menurut koordinator Acara, Mas Eka Priastana Putra, Akuntansi 1992, acara bersepeda hanya diikuti oleh beberapa peserta, tidak bisa melibatkan semua. Bentuk jalanan dan rute memang cocok untuk gowes, jalanan mulus dan lumayan sepi. Oh ya, saya curhat begini bukan sedang komplain soal tempat acara, saya apresiasi teman-teman yang sudah mengusahakan acara ini hingga terselenggara dengan meninggalkan kesan yang menyenangkan. Sedangkan saya tinggal datang, menikmati hidangan, dan ngobrol dengan teman kiri kanan. Mencari alamat lokasi acara yang jauh dari kota dengan kendaraan motor dan tidak sendirian, buat saya cukup menantang dan tentu menjadi satu kenangan tak terlupakan.🙂

Saya datang bersama seorang ponakan, dia yang mengendarai motor sepanjang perjalanan. Jadi nyasar pun, setidaknya ada teman. Oh ya, peserta memang boleh membawa keluarganya. Sebelumnya di undangan acara via Facebook, memang sudah diumumkan terkait bisa membawa pasangan dan anak-anak. Juga diberitahu untuk membawa baju ganti jika tertarik ingin main di air. Acara dimulai pukul 10.30 dengan pembawa acara Mbak Lucy Laksita, penyiar kondang di Jogja. Ada banyak kegiatan yang merekatkan para alumni dan keluarganya. Pertama, lomba menangkap ikan di kolam untuk anak-anak. Kegiatan ini diikuti hampir semua anak. Hasil tangkapan mereka dibakar saat itu juga untuk lauk makan siang. Kedua, pertandingan sepak bola untuk peserta alumni lelaki, dibagi dua grup. Grup Pak Gusti Ngurah Putra (Komunikasi 1980an) dan grup Pak Boy Rahardjo Sidharta (Biologi 1980an). Acara ini paling gayeng karena riuh suporter yang teriak-teriak memberi semangat. Ketiga, lomba berjalan menyeberang air kolam untuk dewasa dan anak-anak. Sekilas lomba ini terkesan gampang, tetapi saat para orang dewasa mencobanya banyak yang tak sanggup, limbung di tengah jalan. Keempat, lomba menangkap bebek untuk anak-anak.

Peserta yang  datang, baik alumni maupun keluarganya, mencapai 150 orang. Lintas angkatan, lintas jurusan. Jumlah yang sangat fantastik mengingat tempat acara jauh di pedamalan kebun salak. Eh, salak lagi. Hihi. Mulai dari angkatan 1970an hingga angkatan 2010an. Dari masing-masing dekade, setidaknya satu yang mewakili memberikan kesan terhadap acara ini.

“Seru banget, benar-benar erat. Ketemu teman-teman baru. Selama ini di dunia kerja saya lebih banyak ketemu lelaki, jadi di sini ingin ketemu teman-teman perempuan,” ujar Mbak Nunung Sukiman, Teknik Sipil 1978, dosen universitas swasta di Jakarta. Oh ya banyak teman-teman alumni yang sehari-hari tinggal di Jakarta, saat itu kebetulan mudik di sekitar Jogja, menyempatkan datang. Contohnya Mas Iskandar Eoq Wibisono dan Rika Tsan, keduanya bukan wajah baru, biasa muncul di kopdar Jabodetabek. Termasuk saya, sehari-hari di ibukota, mudik ke Kebumen, menyempatkan ke Jogja. Ah, Jogja memang magnet untuk siapa saja yang pernah tinggal di sana. “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu.” demikian penggalan lirik lagu “Yogyakarta”. Sebagian yang lain, punya alasan tersendiri hadir di sini.

“Ini tempat berkumpul sebagai rasa bersyukur dan silaturrahim. Saya merasa lebih muda lagi. Buat perbandingan diri sendiri, sekolahnya dulu di tempat yang sama, kok jadinya beda-beda, dan enjoy saja. Kebetulan saya dulu teman kos Jokowi, dia jadi presiden dan saya menekuni bidang saya,” tutur Hermanto yang dikenal sebagai pemilik usaha bernama Magnet Jogja, alumnus Sosiatri 1982.

“Aku wis langganan datang kopdar. Komunitas ini cair dan asyik. Kalau bukan komunitas ini, aku belum tentu datang. Sebagian sudah kenal, interaksi dengan teman-teman juga menarik. Untuk anak-anak acaranya juga bagus, mengalir. Aku ikut bal-abalan, ngegolin satu ke kelompok yang kalah,” urai Ary Lesmana, Komunikasi 1991. Saran dari Ary untuk ke depan, “acara yang berbau seni, termasuk untuk anak-anak, belum terwakili. Semoga lain waktu bisa ada.”

“Beberapa orang selama ini hanya interaksi di dunia maya. Mumpung ada momen kumpul bareng, nambah teman, nambah saudara, atau juga ‘saudaranya saudara’. Acara ini menyenangkan, tidak ada batasan usia, berbaur jadi satu. Mungkin karena alumni UGM supel-supel,” tutur Pinjung Nawang Sari, Pertanian 2002, dosen muda UGM. ‘Saudaranya saudara’ yang dimaksud Mbak Pinjung sudah ditemukan belum ya? Mari bantu dia mencarinya. Haha.

“Saya baru lulus tahun 2015 ini. Ini baru pertama kali mengikuti acara pertemuan alumni. Ingin tahu di luar sana kegiatannya seperti apa. Tambah link juga,” ujar Amanda, Pertanian 2011 yang datang bersama mantan dosennya, Pinjung (lagi).🙂

Acara juga dihadiri oleh Rektor UGM yang baru saja menjabat, Ibu Dwikorita Karnawati (Teknik Geologi 1983). Beliau menyampaikan, “Acara seperti ini sangat penting untuk menghubungkan para alumni, mengumpulkan balung pisah, mendekatkan, dan silaturrahim. Juga, saling mendengarkan, saling sharing, siapa tahu ada jalan keluar di kemudian hari. Seperti tadi soal gifted children.” Saat itu ada alumnus membawa putrinya yang memiliki bakat khusus, usia 15 tahun diterima di UGM. Bu Rektor juga berharap pertemuan seperti ini bisa membuka peluang manfaat untuk banyak pihak.

Seorang alumni yang sedang mendapatkan perawatan intensif sekian bulan ini, Yuslan (Teknik Kimia, 1997) juga datang. Yuslan adalah alumni UGM yang saat mahasiswa semester awal mengalami kecelakaan berat hingga kehilangan banyak memori. Hal tersebut membuatnya sulit berinteraksi dengan lingkungan sehingga selalu butuh perawatan dan perlindungan. Setelah kecelakaan dulu, Yuslan sempat hilang sekian tahun hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan butuh perawatan RS dan kemudian dirawat oleh sejumlah alumni UGM. Salut buat teman-teman yang memiliki jiwa sosial tinggi, saling membantu tanpa pamrih. Keterikatan kuat dengan almamater dan pertemanan yang erat membuka jalan untuk membantu yang membutuhkan dan mengatasi masalah-masalah yang bisa diselesaikan bersama.

Saat makan besar, ada menu tak biasa. Tumis salak dan sambal salak. Banyak peserta, termasuk saya, baru kali pertama mencoba menu tersebut. Perfomanya seperti jamur, tapi rasanya beda. Banyak yang terkecoh. Saya kira hampir semuanya terkesan dengan menu tersebut. Enak dan jadi terinspirasi untuk kelak mencoba menumis salak. Oh ya, peserta juga mendapatkan sebungkus daun mint gratis yang dipetik dari kebun Mbak Sribudi Astuti, Pertanian 1994. Juga tersedia buku gratis dalam jumlah terbatas, yang ditulis oleh Mas Adi Mardianto, alumnus Psikologi. Tidak lupa tandatangan dan foto bersama penulisnya.🙂

Saat tiba acara sesi foto bersama, mulanya akan foto bersama tiap fakultas. Dimulai dari fakultas Biologi. Kenapa Biologi? Karena itu fakultas saya. Eh, bukan. Karena Biologi diawali huruf B, dibandingkan dengan nama fakultas lain, Biologi menempati urut pertama berdasarkan urutan abjad. Dalam berbagai acara di kampus dulu, seperti wisuda, biasanya juga fakultas Biologi dipanggil yang pertama. Alumni Biologi yang hadir hanya 5, angkatan berbeda-beda. Saat alumni Biologi sudah berbaris berderet siap dipotret, tiba-tiba teman lain satu persatu berlarian ingin ikut foto, semua ngaku lulusan Biologi. Akhirnya batal foto perangkatan. Haha.

Kembali ke Mbak Destina yang saya temui di awal kedatangan, mengenai acara itu, “Owh… kesannya seru, anak-anak ceria. Mereka bisa main air puas.” Kegiatan berjalan menyenangkan dan lancar, meskipun tidak ada struktur kepanitiannya. Acara dikerjakan atas kerjasama banyak pihak yang rela lebih repot daripada peserta, termasuk Mbak Ratih Puspitasari, Mas Eko Eshape, dan Mas Sulastama Raharja (Teknik Geologi 1994) yang terlibat aktif menangani terselenggaranya acara meskipun dia jauh di California, Amerika Serikat.  Masukan dari Mbak Destina untuk ke depan adalah, “ada acara yg saling mengenalkan atau kemasan ke situ jadi lebih akrab kenal satu sama lain.“

Acara selesai pukul sekitar pukul 15.30. Nampak beberapa anak, pulang dengan wajah berseri-seri menggendong bebek hasil tangkapannya. Makanan masih tersisa banyak, beberapa ibu-ibu maupun bapak-bapak membawanya pulang untuk oleh-oleh. Saya juga, mengantongi beberapa salak. Saya mengambil buah berkulit cokelat itu sembari tersenyum sendiri, mengingat tadi pagi yang nyasar muter-muter di kebun salak. Sejumlah orang dewasa melanjutkan kopdar malam di salah satu rumah makan untuk membahas soal pendidikan berbasis sumber daya alam, dimoderatori oleh Mbak Aula Wijiasih. Saya tertarik gabung, tetapi tidak memungkinkan. Saya janji malam itu menemani ponakan jalan-jalan ke Malioboro, dan selesai sudah larut malam. Kemudian nginap di rumah Mbak Bibien Bintang Wisnuwardani, terima kasih banyak atas tumpangannya. Saya pulang esoknya pagi-pagi sekali karena siangnya mendadak harus kembali ke Ibukota. Aku terlupa membawa salak kemarin yang kusimpan di meja rumah Mbak Bibien. Haha.

Agustus 2015

Laeliya

Menebak Arah Muhammadiyah Ke Depan

Menebak Arah Muhammadiyah Ke Depan
Agam Fatchurrochman

 

Bagaimana arah Muhammadiyah ke depan, sebenarnya bisa dilacak dari pemikiran para pemimpinnya. Hanya karena Muhammadiyah kepemimpinnnya kolegial, maka corak pemikiran satu ketua umum misalnya, tidak akan berpengaruh banyak terhadap arah Muhammadiyah. Muhammadiyah sudah punya institutional ideology atau organisational culture yang kuat. Hanya branding yang bisa terpengaruh.

Sistem pemilihan PP Muhammadiyah sebenarnya cukup moderat, memadukan model pemilihan langsung, dengan memilih 13 formatur, yang dianggap berilmu dan berakhlak baik, yang kemudian 13 formatur tersebut memilih satu diantaranya sebagai ketua umum dan lainnya ketua (sepertinya ini primus inter pares, dituakan diantara yang setara). Tapi namanya ketua umum, pasti lebih bergengsi. Continue reading

Bunga Bank

Bunga Bank
Hasanudin Abdurakhman

 

Riba diharamkan dalam Quran dan hadist. Tak ada masalah soal itu. Pertanyaannya, apakah bunga bank itu sama dengan riba?

Ijtihad itu adalah usaha untuk mengisi ruang kosong, atau gap, antara kehidupan manusia di Arab, pada abad VII, dengan manusia masa kini. Kehidupan pada zaman itu masih sederhana. Maka hukum untuk mengaturnya pun sederhana. Belasan abad kemudian kehidupan menjadi lebih rumit, maka aturan yang dirumuskan pada masa itu tak lagi cukup. Kini diperlukan aturan-aturan tambahan yang baru. Maka dilakukanlah ijtihad.

Ada beberapa cara melakukan ijtihad. Salah satunya adalah qiyas, atau analogi. Sesuatu yang ada pada masa kini dicarikan padanannya pada masa lalu. Keduanya dianggap sama atau sebangun. Hukum ditetapkan berdasarkan kesamaan antar keduanya, dengan mempertimbangkan perbedaannya. Continue reading