Kopdar Bandung bukan (sekedar) hura hura

“Jendral yang baik adalah prajurit yang baik”

Wah kita ini jendral semua nih”

“Hahahaha… ya oke, mari sekali-kali kita juga bisa berperan sebagai prajurit yang baik”

Begitulah kalau memimpin permainan yang pesertanya semua jendral di bidangnya masing-masing. Permainan sederhana bisa menjadi rumit kalau pesertanya merasa kedudukannya paling tinggi. Diperlukan sedikit helaan nafas dan senyum yang selalu terpasang agar suasana tetap riuh terkendali.

“Aku hanya menawarkan permainan yang akan membuat kebersamaan kita menjadi makin bermakna. Berpulang kepada teman-teman, apakah mau bermain atau kita kembali ke ruangan dalam dan cerita ngalor ngidul saja”

“Oke. Siap! Mari kita bermain!”

Permainanpun dimulai dan gelak tawa makin meriah ketika para peserta permainan mulai masuk ke dalam permainan “team building” ini. Seperti permainan yang khas diadakan saat outbound, maka Emosi peserta diaduk-aduk agar proses penyelesaian permainan menimbulkan kesan yang mendalam bagi para peserta permainan.

Itulah salah satu acara dalam rangka kopdar para alumni UGM yang diadakan di rumah mantan Ketua Kagama Riau dan sekaligus juga mantan Kagama Pusat.

Kopdar yang biasanya diisi dengan kegiatan hura-hura, kangen-kangenan dan kegiatan lain yang lebih ditekankan pada acara non formil, kali ini dicoba disisipi dengan kegiatan yang lebih bermakna.

Sharing alumni dilakukan begitu para peserta kopdar sudah kekenyangan dan mulai mengantuk.

“Agar setelah selesai acara ini kita bisa membawa sesuatu yang bermakna, mari kita mulai dengan sharing tentang kampus kita”

“……”

“Apa yang bisa kita lakukan untuk almamater agar ada pemasukan rutin ke almamater?”

“……”

“Kalau kita pakai kartu BNI Kagama ini, maka akan ada 0.3% terhadap transaksi yang dilakukan oleh kita melalui kartu ini yang secara otomatis masuk ke rekening UGM”

“Wah kok kecil amat mas?”

“Yes! Memang kecil, tapi kalau kit amelihat jumlah alumni, maka kita akan bicara angka dalam digit milyard rupiah”

“……..”

Pembicaraan tentang kartu kredit BNI Kagama ini akhirnya menyerempet pada plus minus memakai kartu kredit dan juga kelebihan dan kekurangan masing-masing kartu kredit yang dimilki oleh para peserta kopdar.

Beberapa trik dan tips tentang kartu kredit yang kusampaikan diamini oleh beberapa peserta, sehingga suasana makin cair dan semua peserta kopdar sepakat untuk memiliki kartu kredit BNI Kagama dan membuang kartu kredit lama mereka, atau menambah koleksi kartu kredit mereka.

Sharing selanjutnya adalah bagaimana setiap kopdar harus ditindaklanjuti dengan langkah yang nyata.

“Kopdar yang lalu mas Wawan telah menunjukkan betapa perlunya sinergi di antara peserta kopdar. Silahkan mas Wawan sampaikan”

“Ya mas Eko, beberapa proyek yang kujalani telah memakai jasa dari para peserta kopdar ini, tapi aku tidak mau pertemanan ini rusak gara-gara kita masih amatiran. Jadi aku tetap mengedepankan profesionalis di antara kita. Aku pakai jasa dari teman-teman kalau memang itu membuat kita sama-sama untung”

“Wah ini prinsip ISO 9001“, kataku dalam hati.

“Di luar peserta kopdar inipun kalau dia masih alumni kita ya kita dahulukan”

“Lho KKN dong mas”

“Tidak seratrus persen benar, karena aku tetap profesional. Kalau dia tidak punya kompetensi yang kubutuhkan, maka ya tidak akan kupakai jasanya, meskipun dia kawan baik kita semua”

“……”

“Kawan hanya dalam arti pemberian kesempatan pertama untuk bernegosiasi, tapi tidak harus dipakai jasanya. Kita harus tetap profesional agar sama-sama untung”

Kalau sudah mulai cerita tentang dunia bisnis, maka pertanyaan yang muncul pasti akan berkisar pada komunitas TDA (tangan di atas), sebuah komunitas wirausaha Indonesia terbaik versi majalah SWA.

Kalau sudah bicara TDA, maka pasti juga akan sampai pada bahasan tentang kelompok mastermind, sebuah kelompok kecil yang ada di komunitas TDA.

“Tidak dianggap anggota TDA jika belum mempunyai kelompok mastermind!”

Di akhir acara sharing, maka tanpa dapat ditahan lagi muncul sebuah pertanyaan yang terpaksa kujawab dengan cukup panjang lebar.

“Konsep mie sehati itu gimana mas Eko?”

“Ini adalah bisnis kuliner yang berkonsep hijau, jadi mie yang dibuat sendiri pada hari itu, dijual pada hari itu dan tidak memakai pengawet maupun penyedap”

“Kalau gak laku dimakan sendiri donk”

“Kita punya cara untuk mengatasi hal itu. Kita giling mie per setengah kilo atau setara 9 mangkok, bila sudah habis kita giling lagi, demikian seterusnya, sehingga mie selalu siap saji dan tidak basi”

“Mienya warnanya Hijau?”

“Benar. Mienya berwarna hijau. Pewarnanya berasal dari juice sawi yang kita saring dan dipakai sebagai air adukan mie ini”

Segala pertanyaan tentang mie kusambut dengan jawaban antusias, sehingga semua puas dan koppdar ini terasa menjadi lain dari kopdar yang biasa kita lakukan. Tidak hanya sekedar hura-hura tapi ada nilai yang membuat kita ingin datang lagi di kopdar selanjutnya.

Waktu jua akhirnya yang membuat acara kopdar ini harus ditutup. Dalam kopdar ini beberapa peserta memintaku untuk menanda tangani buku yang kuterbitkan.

“Harus difoto dan ada tulisan namaku di buku itu”

Jadilah acaranya seperti penulis dan fans-nya.

Terima kasih kawan-kawan terbaikku, sampai jumpa di kopdar yang akan datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s