Prof. DR. H. Mochammad Maksum Machfoedz

Prof. DR. H. Mochammad Maksum Machfoedz
Saatnya Berkiblat Pada Bidang Pertanian
Asteria Febrawati

Memperbincangkan pembangunan berbasis pertanian bersama Prof. DR. H. Mochammad Maksum Machfoedz, Guru Besar Sosial Ekonomi Industri Pertanian Fakultas Tekologi Pertanian (FTP) UGM, sangatlah menarik dan menambah wawasan. Itu yang dirasakan Kabare KAGAMA ketika bertandang ke kantornya di Pusat Studi Pedesaan dan Kependudukan (PSPK) UGM.

Perbincangan pertanian pagi itu diawali dengan cerita Maksum ketika bulan lalu menjadi salah satu penilai di kompetisi karya intelektual nasional. Dari sekian banyak peserta yang mendaftar, hanya 15 peserta yang lolos, dan 11 di antaranya dari bidang pertanian. “Pertanian itu hebat,” ujar Maksum. Dari sini ia melihat bahwa komitmen dan kaliber bidang pertanian sangat menonojol.

Keunggulan sumber daya pertanian sangat banyak, dimana keunggulan komparatif kita ada di bidang pertanian. Tetapi lanjut Maksum, negara melupakan hal tersebut karena terbuai oleh industrialisasi. Sehingga kerapkali pemerintah hanya memprioritaskan keunggulan kompetitif non agro. Menurutnya, keunggulan kompetitif harusnya dibangun pada sektor yang memiliki keunggulan komparatif. “Industrialisasi bidang pertanian misalnya, jadinya kita tidak perlu ekspor barang mentah tetapi barang jadi,” terangnya.

Pemerintah pun seringkali menjadikan pertanian sebagai tumbal pembangunan perekonomian. Dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.011/2011 tentang Penetapan Sistem klasifikasi Barang dan Pembebasan Tarif Bea Masuk atau Barang Impor untuk 57 pos tarif misalnya, dipastikan dapat merusak pasaran komoditas dalam negeri. Pemerintah mencananangkan swasembada tetapi membanjiri dengan barang impor. “Pemerintah membuka lebar-lebar pintu impor meskipun membunuh petani,” tandas Maksum.

Menurut Maksum, negara ini berjalan pada kebijakan pembangunan perekonomian yang salah kiblat. Seharusnya kebijakan pembangunan kita berkiblat pada bidang pertanian, kenyataannya malah membelakangi bidang pertanian. Sepatutnya menuju pertanian hebat, yang terjadi malah meninggalkan bidang pertanian. “Pertanian hanya untuk menghasilkan pangan murah,” ujarnya.

Oleh karena itu, sesegera mungkin harus dirombak ke arah agro industri. Pembangunan pertanian harus berorientasi komoditas dan sosial kultural, sehingga pencapaiannya adalah efisiensi produktivitas, dan memiliki nilai tambah. “Tetapi itu tidak dibangun oleh negara,” tandas Maksum. Pemerintah sama sekali tidak memberikan intensif proteksi kepada para petani, sehingga sampai sekarang petani kesejahteraan petani masih jauh.

Menurut Maksum, ada tiga alasan mengapa bidang pertanian perlu untuk diproteksi dan diutamakan. Pertama, pertanian adalah penyangga mayoritas kehidupan bangsa. Pertanian punya banyak peran penting dalam pembangunan perekonomian. Kedua, pangan tidak bisa kita sampingkan dalam kehidupan bangsa. Dan ketiga, bidang pertanian merupakan bidang penting dalam lapangan kerja.

Jauh sebelum menjadi Guru Besar Sosial Ekonomi Industri Pertanian  FTP UGM, Maksum hanyalah anak desa yang yang kesehariannya hidup dalam kehidupan yang agamis. Lahir di Kota Wali, Demak, 23 Juni 1954. Setelah menyelesaikan madrasah, sekolah dasar dan sekolah lanjutan di Demak, Jawa Tengah, ia melanjutkan pendidikannya di UGM. “Saya ikut ujian masuk UGM bersama 13 orang teman dari Demak,” ungkap Maksum. Namun, yang diterima menjadi mahasiswa di UGM hanya ia seorang.

Semasa kuliah, ia pun aktif di kegiatan kemahasiswaan. Walaupun secara resmi tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), namun pergaulannya di kampus lebih dekar dengan teman-teman di Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI). Tak hanya itu, Maksum pun memperluas pergaualan dengan anak-anak Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di luar UGM. “Saya orangnya agak longgar, cair-cair saja,” ungkapnya.

Lulus dengan gelar Sarjana Muda di bidang Mekanisasi Pertanian dari FTP UGM tahun 1977, ia menjadi Asisten Dosen tetap di FTP. “Waktu itu saya sudah punya Nomor Induk Pegawai,” terangnya. Setahun kemudian, ia diangkat sebagai dosen Sarjana Muda. Padahal Maksum tidak pernah bercita-cita menjadi dosen. “Karena saya tidak memiliki modal, tidak tahu apakah dapat melajutkan untuk meraih gelar sarjana,” tambahnya lagi.

Maksum pun bercerita, ia bersama kedua adiknya dibesarkan oleh seorang ibu yang berprofesi sebagai guru. Ibunya hanya mampu membiayai kuliahnya, sehinga kedua adiknya tidak merasakan duduk di bangku perkuliahan. Untuk diterima sebagai dosen, ia mendaftar pada bidang studi yang saingannya tidak banyak. Dari 13 pendaftar untuk tiga bidang studi, Maksum menjadi satu-satunya pendaftar di bidang studinya. “Jadi saya tidak ada saingannya,” terang Maksum.

Di tahun 1979 Maksum juga pernah menjadi Sinder (kepala kebun) Kebun Penelitian UGM di Kendari. Profesi ini hanya dijalaninya selama setahun. Ia pun melanjutkan pendidikannya di Filipina. Master of Science in Agricultural Engineering (M.Sc) di bidang Teknik Pengolahan Hasil Pertanian berhasil ia raih di University Filipina, Los Banos.

Selama menempuh pendidikan di Filipina, ia banyak mengikuti kegiatan keagamaan. “Saya senang pada kegiatan-kegiatan keagamaan, missal ngajar ngaji mulai dari anak kecil hingga orang tua,” kenang Maksum. Karena alasan ini pula ia berusaha berkeinginan melanjutkan pendidikannya di Filipina. Akan tetapi jurusan yang ditempuh Maksum belum memiliki lanjutan Strata 3 di Filipina.

Akhirnya, ia menempuh pendidikan di luar jalur keilmuwannya, yakni Teknologi Pertanian, hanya agar dapat melanjutkan kegairahan kegiatan keagamaannya di Filipina. Maksum pun akhirnya menempuh bidang ekonomi pertanian di Fakultas Ekonomi di University Filipina, Los Banos. Derajat kepangkatan Guru Besar Sosial-Ekonomi Industri Pertanian FTP-UGM diperolehnya 2007 dengan pidato pengukuhan pada 2008 yang berjudul: “Kembali ke Pedesaan dan Pertanian: Landasan Rekonstruksi Perekonomian Nasional”.

Karena keaktifan di kegiatan keagamaan, membuat Maksum tercatat pernah menduduki jabatan Sekretaris Jenderal dan Vice President di International Moslem Students Association, Filipina. Ia pun aktif dalam jaringan diskusi sarjana-sarjana Nahdlatul Ulama (NU). Hingga di tahun 2001 ia mulai aktif secara struktural di NU, menempati jabatan Wakil Ketua PWNU Yogyakarta. Di tahun 2009 ia menjabat sebagai Ketua PWNU DIY, dan setahun kemdian ia diangkat menjadi Ketua Pengurus Besar NU.

Sejak tahun 1992 Maksum aktif di PSPK UGM. Dalam posisinya sebagai peneliti senior, mantan deputy director, dan direktur, ia lebih banyak terlibat sebagai pengamat dan peneliti dalam bidang pengembangan pedesaan, ketahanan pangan, pembangunan pertanian, dan manajemen sumberdaya alam. Selain itu, ia juga aktif dalam bidang pengembangan masyarakat, pertambangan, CSR, collective violence, access to justice, kajian multikultural, dan lain sebagainya. Dalam segala macam keaktifannya, Maksum memiliki pegangan hidup yang sederhana, yakni nggelundung saja. Ya, ia biarkan hidupnya mengalir apa adanya.[] Asteria Febrawati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s