Apa yang salah dengan paradigma pertumbuhan ?

Apa yang salah dengan paradigma pertumbuhan
Hari Purwanto

quote: Revrisond melihat, penyebabnya adalah kelas menengah ini didominasi oleh mereka yang berpengeluaran 2 dollar-4 dollar AS. Mereka belum cukup kuat secara finansial sehingga mereka juga tidak kuat secara politik.

 
Sementara itu, ekonom Tony Prasetyantono menyatakan, naiknya jumlah kelas menengah mempunyai implikasi positif ataupun negatif. ”Positifnya, kelas menengah menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi melalui pengeluaran. Peran konsumsi (consumption expenditure) dalam PDB kita sekitar 60 persen. Saya yakin tahun ini perekonomian Indonesia tumbuh 6,5 persen,” kata Tony.


Ngerti sithik2 melu rembugan kan oleh tho, yo ?

Kedua pernyataan tentang pengelompokan golongan ekonomi berdasar konsumsi dan kelas menengah menjadi motor penggerak pertumbuhan membuktikan bahwa kita semua terjebak pada mindset pertumbuhan ekonomi yang berdasar konsumsi. Konsep berpikir pertumbuhan ekonomi seperti itu menimbulkan persepsi ‘buruk’ pada paradigma pertumbuhan yang pada ujungnya menyalahkan pertumbuhan itu sendiri. Apa yang salah sih, dengan pertumbuhan (ekonomi)?

Menurut saya tak ada yang salah dengan pertumbuhan. Siapa yang nggak mau tumbuh? Siapa yang gak mau gaji tumbuh? (alias gaji naik bagi yang makan gaji seperti saya). Petani mana yang nggak mau panenannya makin banyak; pedagang yang nggak mau untungnya tambah; pengusaha yang nggak mau bidang usahanya makin luas; pejabat yang tak mau pangkatnya naik; negara yang tak mau wilayahnya makin luas ? (tapi ini nggak bener karena berarti menginvasi Negara tetangga, kecuali kalau ngurug pantainya terus menerus dengan pasir dari Negara tetangga, he, he . . .). Pertanyaan yang relevan: negara mana yang tak ingin pendapatannya bertambah?

Lho mas, itu kan urusan tambah pendapatan ? Lha iya, menurut saya bila penggede2 itu bicara tentang pertumbuhan memang bicara tambahnya pendapatan kok, tambahnya pendapatan Negara, tambahnya GDP alias PDB yang dibaca sebagai pertumbuhan ekonomi. Lalu di mana salahnya?

Yaitu, menurut saya, salahnya adalah konsentrasi pola berpikir, mind set pertumbuhan ekonomi yang mengukur pendapatan Negara (dan aplikasinya dalam mengambil kebijakan sector riil) dengan pendekatan konsumsi. Secara salah, lagi.

Sebelum diteruskan kita dengar kata pakar dulu. Kata pakar, pendapatan Negara dapat dihitung dengan 3 pendekatan: 1. pendekatan pemasukan/penghasilan/income (yang dalam pengertian umum justru sering disebut pendapatan); 2. pendekatan produksi, baik barang dan jasa dan 3. pendekatan konsumsi/pengeluaran/belanja, yaitu belanja publik, belanja Negara, investasi dan net export (yang dikenal dengan rumus Y=C+G+I+(X-M))

Bagi individu nggak ada bedanya mengukur pendapatan dari income atau pengeluaran; nggak jauhlah kedua besaran itu. Tapi kata mereka (saya nggak ikutan) karena mengukur konsumsi dianggap lebih mudah untuk mengukur pendapatan Negara, yaaa gitulah mind set pertumbuhan ekonomi jadi berdasar konsumsi; yang dipopulerkan dengan rumus Y=C+G+I+(X-M) itu lho. Aplikasi yang saya lihat yang digenjot C, belanja publik. Mal, plaza, city di mana2, 500 ribu bawa pulang motor dsb. Pokoknya belanja menjadi makin mudah dan banyak varian barang konsumsinya. Repotnya (dalam pemaparan verbal saya sering pakai ekspresi ‘celakanya’) yang dijajakan kebanyakan barang import, lagi (salah juga sih kita yang import minded). Mau mobil? beli! nggak usah bikin,biar dibi Jadi C besar menjadi kurang bermakna jika M juga besar. Memang kampanye mengundang investasi I juga besar, tapi investasi untuk itulah, mal, plaza, lebih buruk lagi untuk menggusur lahan produktif, membabat hutan dsb.

Coba kalau mind setnya pendekatan produksi, yang menghitung pendapatan berdasar berapa banyak produksi kita, saya kira semua pihak akan berpikir bagaimana menaikkan produksi untuk menumbuhkan pendapatan. Baik pertanian, industry, manufaktur, UMKM dan penunjangnya (listrik, komunikasi, infrastruktur fisik dsb). Memang perlu juga investasi sih, tapi bukan se-mata2 karena dengan pendekatan konsumsi dan untuk konsumsi, tapi investasi yang ditujukan untuk peningkatan produksi; sukur2 yang berhubungan dengan peningkatan ekspor X. Gitu, kali.

Salam,
Hari Purwanto

One thought on “Apa yang salah dengan paradigma pertumbuhan ?

  1. Setuju sekali. Selama ini pertumbuhan selalu dijadikan sbg indikator utama keberhasilan ekonomi. Pdhal pertumbuhan yg spt apa? Pertumbuhan yg mayoritas dr konsumsi yg notabene byk yg dg ngutang, bukanlah mencerminkan kesejahteraan rakyat. Buat apa juga pertumbuhan tinggi tapi tanpa diimbangi dg pemerataan? Yg kaya makin kaya, yg miskin makin miskin. Mestinya juga pemerataan pendapatan dijadikan salah satu indikator keberhasilan. Jd jangan hanya mengejar pertumbuhan semata tanpa pemerataan. Salam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s