Lentera awal Juni

Lentera awal Juni
Tri Harso Sulistiyo

Kumeniti langkah kaki ini dijalanan ibukota yang telah basah oleh derasnya hujan yang sudah mulai mereda. Semilir angin sepoi inipun tidak luput menyapu tengkuk leherku, sembari membetulkan letak kacamataku, pandanganku mulai menyapu jalanan di pusat Ibukota jakarta itu, masih saja terlihat orang berlalu lalang dengan mengenakan payung yang tergenggam erat di tangan, pun yang mengenakan jas hujan. Kaki ini terus menatap dan melangkah menuju ke halte busway Harmony, sebuah halte besar dan sekaligus tempat alih jalur bus transjakarta. Petugas berseragam abu-abu itu pun mulai sibuk untuk melayani para calon penumpang, karcis seharga 3500 pun, laris manis layaknya kacang goreng yang diserbu habis oleh para karyawan yang kelaparan.

Karcis itupun segera disobek, aku pun segera beranjak menuju ke kerumunan orang yang telah terlebih dahulu mengantri menunggu datangnya bus transjakarta, yang akan mengantar mereka semua pulang kembali menuju ke peraduan masing-masing. Kumerogoh saku tas punggungku, dan kuambil botol air mineral berukuran sedang, segera saja, tegukan demi tegukan inipun mengalir membasahi kerongkongan dan menghilangkan dahaga yang datang meronta. Ketika aku masih menikmati segarnya air mineral ini, aku dikagetkan oleh tepukan yang mendarat dibahuku.

“plokkk…”

“Donnnyyyyyyyy cayannggg……apa kabar”

Tepukan keras dibahuku, dan disusul dengan teriakan agak keras dari seorang wanita berambut lurus sebahu yang dibiarkannya tergerai, dipadu dengan blouse berwarna putih berenda dengan padanan rok hitam sebatas lutut yang membalut kulit kuning langsatnya. Dalam bengong, aku masih tetap belum sadar dan ingat, siapakah wanita cantik dihadapanku tersebut, masih dengan rasa penasaran, aku mulai menyapu tiap inchi badan wanita tersebut.

“Arrgghhh….kamu itu tidak berubah, masak kamu uda lupa ma Aku?”

“Playen…KKN UGM..Sub Unit 3…ihhh kesel deh aku ma kamu…!!”

Aku mulai menggaruk kepalaku, walaupun ku tahu kulit kepalaku tidak terasa gatal. Masih tetap saja memory ini tertutup oleh rapatnya dinding tebal yang menghalangi ku untuk kembali menelusur kisah 4tahun yang lalu. Sudah sepuluh menit berlalu dan aku pun masih memandangi wanita yang wajah nya mulai cemberut, semenjak aku tidak mengenalinya, dan diapun belum mau juga untuk membuka jati dirinya, meskipun aku sudah menyatakan menyerah tanpa syarat.

“Vita ya…” kataku sembari melirik sebuah gelang berwarna coklat tua yang sudah mulai memudar warnanya, namun masih melilit dengan indah di pergelangan tangan kirinya.

Vita pun segera menghambur memelukku, tidak peduli walau saat itu dia berada di keramaian dan kerumunan orang yang terkaget-kaget serta melihat penuh dengan tanda tanya. Masih dengan pelukan eratnya, tanpa berusaha untuk sekedar memberikanku ruang untuk bernafas, dia mulai membisikkan lirih ke telingaku, kata demi kata pun segera keluar dari bibir tipis yang dibalur oleh lipstik berwarna merah muda.

“Donn…kamu tau ga? Vita kangen banget ma Donnyy…., Vita ga pernah berpikir bahwa kita akan bisa bertemu lagi di sore ini, sudah 4tahun semenjak KKN selesai, kau pun menghilang tanpa ada kabar sedikitpun”

Tanpa disadari buliran panas itu mengalir membasahi pipinya dan meluap mengalir ke pipiku.

Ketika Vita mulai untuk melepaskan pelukannya, mendadak ada tepukan lagi di bahu sebelah kananku…

“plokkkk…. Donnnyyy jelekkkkkk….gimana kabarnya..”

Dengan sedikit terkejut aku segera membalikkan badan, dan kumelihat seorang wanita yang serasa tidak asing, dikarenakan ingatanku masih kuat memaku gadis bermata jernih itu.

“ehhh…haloooo Diannnnnn….seperti yang kamu liat aku masih kurus seperti dahulu kala..” balasku sambil mencubit pipi kemudian berganti ke hidungnya. Akupun lupa, bahwa dibelakangku ada Vita yang melihat semua tingkah laku konyolku. Dian pun ketawa dan membalas dengan mencubit pipiku..

“lah..bukanya dibelakang kamu itu Vita, Don?”

ya Tuhan, aku melupakan Vita…, kulihat wajahnya semakin cemberut, namun berusaha untuk ditutupi dengan sebuah senyuman. Tanpa aku komandoi, kedua sahabat lama itu pun saling berpelukan, layaknya sudah berpuluh tahun tidak pernah bersua.

“Vita..kamu makin cantik aja, wahh uda jadi wanita karier yang sukses ini..” kedua anak manusia itu segera larut dalam dunia mereka, nostalgia mereka. Entah Dian menyadari atau tidak akan wajah cemberut Vita.

“kamu pun semakin cantik juga Dee, wajahmu pun masih halus seperti waktu kuliah dahulu..hihihihi..” sahutnya.

“Dony tu ya, kalo sama Dian langsung ingat, tapi untuk mengingat Vita, perlu waktu lama..ihh Vita jengkel deh ma Donny, Dee…” rajuk nya sambil merangkul erat sahabatnya itu.

“ahh, itu dikarenakan kamu sekarang menjadi tambah cantik Vit, jadine Donny tidak ingat ama kamu, pasti waktu kamu sapa dia tadi garuk-garuk kepala ya Vit? Hihihihi” jawab Dian melumerkan suasana.

+++

“Vit, coba kamu catat semua hal yang akan kita presentasikan kepada Pak Lurah dan warga di Playen ini, jangan lupa pemaparan program kita secara umum harus disertakan dan terpapar dengan jelas.”

Kataku kepada Shelia Nurvitasari, anak teknik Geologi yang menjadi sekertaris sub unit KKN ku. Sebagai seorang Kormasit, aku mempunyai kewajiban untuk mengatur semua yang ada di sub unitku terkendali dan berjalan sesuai dengan rencana awal, dan aku pun masih mempunyai tanggung jawab sebagai penghubung informasi antara sub unit satu dengan sub unit lain yang masih termasuk dalam unit untuk wilayah Playen ini.

Waktu briefing pertama kali, jantungku ini hampir saja berhenti berdetak, aku bertemu lagi dengan Dian Ayu Nilasari, mantanku sewaktu SMA dahulu. Selepas sekolah menengah atas, Dian melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Umum, dan tidak disangka-sangka, aku bisa bertemu lagi dengannya pada waktu KKN, tergabung dalam satu Unit lagi. Bagi teman satu unit yang tidak mengetahui latar belakang kami berdua, pasti menganggap kami adalah sepasang pemuda yang baru terjerat oleh indahnya asmara, dikarenakan tingkah laku kami berdua teramat sangat intim. Hampir disemua kegiatan Unit, dimana ada Dian disitu ada Dony. Dan teman-temanpun selalu mengamini kami untuk segera meresmikannya.

+++

“Heyyy…kebiasaan ya, melamun…ada dua wanita cantik ko kamu diamkan aja sih Don, tu liat dari tadi Vita itu melihatmu loh…” seloroh Dian memecah lamunanku.

“ ahhh kamu bisa aja Dee, kamu sendiri juga ngelihatin Donny…” kata Vita sembari menjulurkan lidahnya.

Kami bertiga pun segera tertawa bersama, entah apa yang ada dalam pikiran mereka berdua, apa yang ada dalam hati mereka, aku hanya bisa menerka dan meraba. Sudah hampir satu setengah jam kami bertiga duduk di halte Harmony itu, setelah saling tukar menukar nomer handphone, kami pun segera masuk ke dalam busway yang dari tadi hilir mudik melewati pemberhentian itu. Kulihat Vita berhenti di daerah Benhil, sedangkan Dian turun di Bundaran HI, aku sendiri masih terus sampai Blok M, sebelum akhirnya disambung perjalanan naek Bus kopaja 57 atau 75 ke arah Mampang Prapatan.

Baru lima menit tubuh ini merebahkan diri di kasur, mendadak handphone ku berdering menandakan datangnya sms masuk. Disusul kemudian dering yang kedua.

From : KKN Vita

Asslm..Wr..Wb..

Donny..uda sampai kost apa belum? Ni Vit uda smp kost dr tadi lho, ini baru aja selese mandi, jd Vit uda wangi loh :p

Ini lg mo mam ma Pecel lele, Don mau ga?kl mau maen ke kost Vita dunk :D

Oia, ini gelang yang Donny kasih wkt kita jadian pas KKn masi Vit pake lho :”>

Btw on the way busway, km mau ga sabtu ini nemenin Vit cari baju di Sensi?mau ya… :D

From : SMA Dian Ay

Asslm..

Donnny jelekkk..pie uda smp kost ta?mg2 km masih ingat jalan pulang ke kost :p

Wah, udah lama juga ya kita ga ketemu, trnyta kamu makin cakep aja :D

Oia, kamu uda g jalan ma Vita lagi kan Don??

Eh..aku kangen ma masa2 indah kita waktu SMA, kamu kangen ga?

Oia, jalan yuk sabtu ini, dari pada bengong di kost. Kamu ntar jemput ak di kost ya Donn?

Untuk beberapa saat aku tidak membalas dan merespon sms mereka berdua, ku hanya menerawang kembali ke masa itu.

tHs

nanti disambung lagi, uda ada ide namun belum mampu menggoreskannya ke dalam tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s