Kopdar Angkringan Jabodetabek di Angkringan Jabrik Gandaria

Kopdar Kagama chapter Gandaria, versi seingatnya.
oleh Sopril Amir

Jam 6 petang lewat dikit, sms Komo van Sulastama Raharja masuk mengabarkan Kang Irvan Kristanto dan kembang angkatannya, sudah berada di lokasi, bahkan sebelum sing mbaurekso tempat Jabrik van Gandaria datang. Aku segera telp Kang Irvan berjanji segera sampai, karena rumahku tak jauh dari sana.

Ketika sampai di sana, tampak crew angkringan Jabrik sedang bersiap membuka lahan dan beberapa orang sedang berbincang rada canggung. Meski belum pernah ketemu, aku segera tahu yang mana kang Irvan, dan segera menyapanya. Buahnya, aku dikenalkan dengan mbak Wine, sang kembang, ehm. Menyapa pula beberapa teman yang sudah datang, belum hapal, yang jelas angkatan mereka lebih muda, pertengahan kedua 90-an.

Awak Kagama terus berdatangan, tua dan muda, hanya kenal beberapa, tapi Insya Allah semua mendapat jabat tangan. Angkringan mulai siap, Kagama-wan dan Kagama-nita mulai bisa memesan dan menyantap. Kang Arief Prihantoro dan Mas Ganjar Pranowo Full pun tak lama juga datang. Sambil ikut guyon dan hahahehe, Kang Irvan Kristanto terus moto dengan asyiknya. Aku yang juga membawa kamera, jadi tak pede untuk ikutan, dan lebih-lebih tak sempat. Wislah, mari kita serahkan pada ahlinya, hehe.

Sesuai kata mas Puthut Gambul, galeri Tembi itu bisa dipakai, maka aku dan Jabrik segera menggelar tikar. Setelah merasa semua telah dapat minuman dan bertegursapa dan gojeg kere, aku mengajar mas Ganjar untuk segera memulai reriungan (sepertinya sudah menjelang setengah delapan petang), dan yang lain pun segera mengiyakan.

Kami memulai dengan memperkenalkan diri satu per satu. Selembar kertas sobekan dari buku tamu ikut beredar untuk minta diisi nama, email dan nomor hape. Kertas itu kini dipegang Indarto Purwoko yang malam itu bersama Niken Novianty Risdianasari bersukarela menyalinnya ke format excel. Gongnya adalah presentasi eh tausyiah dari Mas Ganjar tentang pengalamannya sebagai anggota DPR sekaligus alumni Gadjah Mada.

Sependek yang bisa kuingat, kurang lebih paparannya berisi curhat sebagai anggota DPR betapa hasil reformasi begitu rentan dan rapuh karena ketidaksiapan berbagai pihak. Persoalan ideologis, ekonomi pembangunan dan korupsi datang tak habis-habisnya. Mulai dari toleransi beragama, kebangsaan sampai penanggulangan bencana, seperti Merapi. Masuknya para alumni dari berbagai perguruan tinggi, termasuk pula Gadjah Mada, ke jajaran legislatif (dan eksekutif) tak banyak membantu memperbaiki keadaan. Kesetiaan mereka terbelah, kepada kelompok, partai, almamater dan tentu saja pribadi. Yang lebih menyakitkan, semua itu dipraktekkan dengan jauh dari elegan. Dalam bahasa mas Ganjar, korupsi itu tidak mengenal perbedaan partai, ideologi, agama, kelamin, umur dan basis pendidikan. Semua nyaris sama kasar dan banalnya. Tentu ada beda lulusan UGM dengan lulusan PT lainnya, seperti misalnya, ITB dan UI. Kedua yang disebut terakhir lebih terasah individualismenya sehingga relatif lebih siap untuk menyongsong liberalisme yang kian populer.

Demokratisasi yang digelar reformasi tengah mengalami kebangkrutan karena masyarakat kita ternyata belum siap. Masyarakat pemilih masih terbingkai pada sisi popularitas calon daripada kapabilitas (dia mencontohkan kasusnya sendiri, yang populer lebih karena sering masuk TV dan rajin membalas semua sms daripada karena kejelasan gagasan dan track record kerjanya). Dengan karakter masyarakat yang lebih butuh solusi instan seperti ini, Mas Ganjar setuju pada ide dana aspirasi bagi setiap anggota legislatif.

Mas Ganjar lalu mengajak untuk menengok gagasan mereformasi kembali Indonesia. Tidak seperti 1998, kali ini dengan persiapan lebih matang. Mulai dengan menginventarisir gagasan-gagasan pembaruan sampai menyusun rambu-rambu reformasi itu sendiri. Reformasi sekarang ini seperti membuka jalan tol tanpa rambu, akibatnya banyak terjadi tabrakan yang tidak perlu. Kagama bisa mengambil peranan di sini, karena beragamnya jenis ilmu yang dipelajari para alumninya. Tidak hanya menyumbang pada isu teknis, tapi juga pada sisi pluralismenya.

Tanggapan yang datang pertama dari Defiyan Cori yang menjelaskan alasannya mempertanyakan kemungkinan menghukum anggota legislatif yang melanggar, lalu pak Bram (peserta tertua, angkatan 1976!) yang meminta mas Ganjar memperluas perhatian kepada daerah-daerah yang kerap terluput dari radar pembangunan, mbak Andi Rahmah yang bertanya masalah regulasi aviasi hingga kang Arief Prihantoro yang bertanya tentang calon kandidat pemimpin masa depan.

Semua ditanggapi mas Ganjar bahwa itu semua jadi perhatiannya dan sekali lagi mengajak semua untuk peduli.
Setelah itu acara (yang lebih) santai. Ngobrol dan makan minum lagi. Kali ini disertai penegasan bahwa semua dalam tanggungan mas Ganjar dengan menggunakan pos dana komunikasi intensif (yang kemarin heboh dengan sebutan dana pulsa, karena itu aku sempat kepikiran, apa di depan ada yang jual voucher pulsa, hehehe). Eh, sempat datang pula Danang Giriwardhana, sang ketua Ombudsman yang terpilih dengan lobby-lobby Kagama.
Photo-photo berlanjut. Pemberi tausyiah lalu berangkat ke Bandung dengan membawa kaos Kagama Virtual berwarna merah. Yang lain, ngobrol lagi, makan lagi, minum lagi. Jabrik pun sumringah.
Monggo yang lain mengoreksi, melengkapi dan menambahi sendiri, sesuai versi ingatan masing-masing.
Khusus untuk kang Kristanto, lengkapilah dengan hasil bidikanmu.
Tabik, Suwun, Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s