Menentukan pilihan antara Ibu Rumah tangga, Ibu yang bekerja atau Ibu berprofesi Ganda

From: Ruri Anitasari

To: Alumni UGM

Kepada Bapak” dan Ibu”,
kepada yang sudah berkeluarga,
saya ingin bertanya,

Kepada para istri:
kenapa setelah menikah, njenengan” memutuskan untuk tetap bekerja (atau tidak bekerja)?

kepada para suami:
kenapa setelah menikah, istri njenengan” memutuskan untuk tetap bekerja (atau tidak bekerja)?😀

Nuwuunn…
Regards,
Ruri

Respon:

1.     Sulastama raharja

Kalau pada Ibunya Afa:
1. Untuk menjaga projonya orang tua, lah sudah disekolahkan tinggi-tinggi, sampai kuliah di fku ugm, ndak enak kalau menganggur.
2. untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama sekolah dengan cara membagikannya kepada anak2 muda yang potensial menjadi penerus masa depan bangsa
3. agar memiliki lingkungan sosial yang bagus, yang berguna untuk untuk tetap menjaga eksistensi dan kompetensi.
4. nanti lagi ditambahkan…

2.     Lestari Octavia

Ikut komen ya,mbak

Sy menikah pas msh kuliah,baru 6 bln menempuh S2. Tamat kuliah sy kerja, di Nutricia, researcher lepas utk project. Mengharuskan bnyk di field, jd kl sdh pny anak..repot, saya ngga sanggup.
Saya diperbolehkan bekerja oleh suami,stlh pny anak, tp tdk full time, so saya kembali mengajar, dosen tdk tetap. Anak terurus, tetap bs bekerja. Kl sdh nikah kan sy hrs patuh sm suami.
Suami yg jadi pencari nafkah utama. Saya domisili di depok, ngajar di bogor. Naik kereta tp ngelawan arus, berangkat ngajar sy ngga mesti berjibaku sm penumpang lain, bs nerusin tdr. Di kampus, kami mengajar dlm bentuk tim (sktr 6 org), tiap sub judul diampu oleh 2 org (jd kalo satu ngga masuk, ada yg menggantikan). Jd saya bs hadir ketika anak butuh (sakit, dirawat di RS, undangan ke sekolah, event luar sekolah).
Tawaran jd researcher senior pernah ada yg pasti menagih waktu luar rmh lbh banyak, tp rasanya sayang meninggalkan golden period mereka…
Sbtlnya kembali pd masing2, kt memilih..kt siap dgn semua konsekuensi pilihan kita…

3.     Arum kusumaningtyas

Ikut nimbrung yah…..
Betul mba Lestari. Yg paling mencolok pendapatan, saat ini sy bekerja hanya jadi pegawai kontrak by project sebuah perush O&G asing. Sy memutuskan utk tidak memperpanjang kontrak sbg permanent worker karena resiko yg sy alami sbg full time working mom adalah ke anak 1 sy, dia jadi korban kekerasan baby sitter nya.
Ternyata menjadi ibu jauh lebih sulit dan bikin pusing daripada ngerjain tugas2 kantor. Saat ini sy sdg proses belajar menjadi full time ibu dan part time career woman.

3.1  Salis Musta Ani

Ya betul mbak, tentu pendapatan kita juga berkurang, tetapi betapa bahagianya bisa mengatur waktu sekehendak hati kita. Sejak pagi saya mengantar anak2 sekolah, belanja ke pasar dan melakukan tugas selayaknya ibu2 RT yang lain. Setelah selesai saya baru pergi mengajar. Jam 14 saya sudah selesai mengajar dan berada di stasiun manggarai menunggu kereta ke Depok. Mengajar bisa membuat kejenuhan sebagai ibu RT menjadi berkurang.

Dulu, saya ingin bekerja full time, tapi sekarang melihat betapa berartinya kehadiran seorang ibu bagi anak-anak, saya nggak melirik lg pekerjaan full time.Dulu saya juga berkeinginan untuk melanjutkan kuliah setelah anak-anak saya besar, tapi trnyt menurut teman yang putra/inya sudah besar, katanya semakin besar anak semakin butuh kehadiran orang tuanya. Apalagi semakin besar anak, pengeluarannya juga semakin besar.

3.2  Lestari Octavia

Betul,mbak arum. Anak saya skrg 2, yg besar 5 thn yg kecil 7 bln. Bertahun2 sy gonta2 mbak asisten. Baru skrg sy nemu yg bs dipercaya. Anak pertama wkt saya ngajar sy bawa beserta mbaknya. Saya titip di rmh teman dekat kampus, krn sy ngga mau putus asi eksklusifnya dan anak saya dl ngga mau asi perah. Jd sy ke kampus dgn gembolan seabreg, so kudu bawa mobil. Kl nangis di jalan, berhenti dl, menyusui dl. Alhamdulilah, yg kedua mau asi perah, jd sy bs naik kereta, tentengan sy cooler aja..

Spt sy utarakan td, pilihan ya, boleh dilakoni boleh jg cari opsi lain. Teman saya memilih susu formula utk bayinya jd bs ditinggal, yo monggo..sy hormati pilihannya,

3.3  Arum kusumaningtyas

Yup, pemberian ASI ekslusif juga tantangan tersendiri utk wanita bekerja. Alhamdulillah, anak 1 sy yg sekarang 2 thn minum ASI sampe 19 bln. Dan tidak ada masalah dg ASI perahan. Kebayang repotnya mb Lestari deh🙂
Anak yg ke-2, usia 1 bln juga gak masalah dg ASI perahan. Semoga bisa seperti kakaknya bisa ASI ekslusif.
Selain pendapatan yg berubah, yg saya rasakan pribadi smp hari ini adalah kebingungan karena pekerjaan “otak” berkurang. Ya, sy workaholic dan suka bgt tantangan di bidang pekerjaan sy. Hehehe, tetapi hal itu sy salurkan ke hobi membaca sy.

 4.     Albert Pratama

Saat ini istri saya praktek di rumah. Ini kemauan dia sendiri. Bahkan sejak awal dia memutuskan kuliah di FKG dengan tujuan agar bisa bekerja di rumah, supaya bisa sambil mengawasi anak.

Saya pribadi lebih mendukung dia untuk bekerja, tidak perlu bekerja berat, dan bukan soal pendapatannya, tapi agar ada aktivitas buat dia, sehingga ilmunya terpakai dan kepandaiannya terus terasah. Istri saya partner diskusi yang asyik, dan dengan mendorongnya untuk beraktivitas
sesuai bidang ilmunya akan membuat wawasannya makin luas.

5.     Jimmy Mboe

Kedua anak saya semuanya ASI, anak pertama sampai 1,5 tahun pake proses disapih, anak kedua sampai 2 tahun lebih..dia brenti karena malu udah gede katanya. Keduanya sehat2.
Sejak sebelum menikah saya stop rokok.

Yang jadi pertanyaan saya, apakah sudah ada penelitian ttg hubungan antara pemberian ASI oleh seorang ibu yg bersuamikan perokok dg kesehatan anak?

5.1  Arum Kusumaningtyas

Ada. Anak sy yg pertama muncul semacam pembengkakan kelenjar di daerah leher bawah telinga karena sering terpapar udara yg tercemar asap rokok dan ekses rokok yg menempel di badan suami sy. Dari luar tampak seperti benjolan kecil gitu. Tak ada obatnya, hanya mesti dijauhkan dari paparan asap rokok dan sisa-sisa zat rokok yg menempel ditangan ayahnya. So….say no to rokok!!!!!

5.2  Andi Rahmah

Mas Jimmy hebat, bisa mengutamakan kesehatan keluarga daripada kesenangan diri.
Bahayanya adalah resiko yg tinggi terhadap kesehatan janin. Masih ingat peringatan di bungkud rokoknya kan?

Waktu Omar dirawat 10 hari di RS jantung & Kardiovakular Harkit, setiap ibu yg anaknya mengalami kelainan jantung ( bocor, perletakan pembuluh  jantungnya terbalik), hampia semuanya adalah anak dan atau cucu seorang perokok.

 5.3  Lestari Octavia

Yg disebutkan mbak AR hny satu dr sekian bnyk anak yg pny ortu perokok. Scr teori, suami perokok akan memiliki kualitas benih yg kurang baik dibandingkan tidak perokok. Krn rokok mengandung racun yg akan merusak zat gizi.

Terhadap kualitas asi, mgkn tdk berhubungan lgsg, tp jika suami perokok maka pasangannya akan menjadi perokok pasif. Spt bnyk sosialisasi sdh sampaikan, perokok pasif memiliki resiko sama bahkan bisa jauh lbh besar, tergantung kondisi dan jumlah zat yg dipaparkan.
Blm lg jika pny pasangan merokok, menabung hrs lbh bnyk ya, biasanya penyakit akan berderet mengikuti seiring bertambahnya usia.
So, buat yg msh merokok, stop merokok ya..sekarang jg

5.4  Andi Rahmah

 Mbak Tari,
10 hari di RSJHK, saya bertemu sangat banyak anak2 dgn kasus jantung bocor. Cobalah ke sana, di lantai khusus anak. Maka Mbak Tari akan menemui anak2 yg bemain dengan perban besar di dadanya.

Ada juga yg belum, tanda mereka adalah ‘gagal tumbuh’. Anak usia 2 thn, secara fisik seperti 8 bulan. Kemampuan motoriknya pun terlambat.

Jadi, bukan cuma satu orang Mbak Tari. Kalau mau menjadikan hal ini obyek penelitian, amati dlm 10 hari, dengan waktu pengamatan 12 jam /hari. maka Mbak Tari bisa menghitung, berapa banyak jenazah yg keluar perharinya, yang digantikan  pasien baru. Tanyakan pada mereka, apakah ada orang serumah dgn si anak yang perokok?
Selain itu, kunjungi juga poli jantung anak2, khususnya di bagian umum. Ada juga yg kelas eksekutif, Mbak Tari akan bisa mencatat, ada berapa kasus anak dengan kelainan klep jantung karena awal kehadiran dalam kandungan ibunya terpapar asap rokok.

6.     Syafriadi Hepi

Mbak Ruri, mnrt saya, ada sisi negatif dan positifnya diantara 2 keputusan tsb. Jika beruntung dan mampu mengolahnya, bisa jadi jauh bermanfaat bekerja sambil “bekerja”. Berlaku sebaliknya. Namun jgn terjebak utk menjeneralisir, sesuaikan dg kondisi kita saja.

Sekedar berbagi saja. Sampai usia 2 tahun anak pertama kami, istri saya masih bekerja (kagamaers juga). Enak lho ; mau belanja lebih gampang ; mau jalan2 lebih gak mikir ; lebih bisa mengakomodasi “keinginan“, tak sekedar kebutuhan.

Pengasuh anak saya “kelihatannya“ lembut dan baik. Namun tetap saja dia bukan ibunya anak saya. Dan mungkin ada yg salah dlm cara kami mendidiknya, pada waktu yg tersisa.

Lalu scr mental sy lihat ada yg salah dg anak ; agresif dan anti sosial.

Pada saat itu sy memutuskan scr sepihak, anak atau “keinginan“. Saya serahkan keputusan pada istri ; saya atau istri yg dominan “bekerja“. 6 bln kemudian istri tercinta saya menjawab “saya jaga anak mas“.

Selesai? Belum. Org tua kurang setuju! Namun bagi saya jelas, laki2 “milik“ ibunya, perempuan “milik“ suaminya. Syukur istri memilih saya. Kami berusaha jalankan keputusan dg komitmen.

Sangat sulit di tahun2 pertama. Tidak lagi banyak pilihan. Hampir semua “keinginan“ diawali dg berhitung, bahkan berulang2, bahkan akhirnya cukup dulu sebatas kebutuhan. Tdk lg bertanya mau jalan kemana? Namun perlukah jalan2 sekarang? Dsb..
Singkat cerita, ternyata perubahan & perkembangan anak saya sangat luar biasa. Pun demikian dg 2 anak berikutnya. BEDA. Alhamdulillah..semoga indah sampai di akhirnya..

Sekali lagi, bukan karena bekerja atau “bekerja“ nya. Tapi kualitas komunikasi yg tercipta dari hasil FOKUS.

Jadi saran saya, sesuaikan dg kondisinya saja, jika diperlukan maka diskusikan dan patuhi suami anda. Namun ketika pilihan adalah tetap bekerja, jangan kehilangan fokus saat “tubuh“ kita di rumah, apapun keadaan dan perasaan kita, selepas lelah bekerja.

7.     Nurhadi

istri saya bekerja sebagai konsultan, saya dosen. keputusan dia bekerja didasari atas pertimbangan bahwa sejak awal menikah kami untuk saling mendukung mengembangkan potensi masing2 semaksimal mungkin. Soal ngurusin anak, kami lakukan bersama-sama, dengan mengusahakan semaksimal mungkin agar “beban” terbagi secara fair.

8.     Mirza

Buat saya pribadi, istri bekerja bukan hanya untuk tambahan income, aktualisasi diri dan mengembangkan potensi, tapi juga sebagai backup bagi kelangsungan ekonomi keluarga.

Bukannya kami tidak ingin bisa membimbing anak2 dengan sebesar2nya waktu yg kami punya, atau suami bertanggung jawab penuh atas keuangan keluarga, tapi ini adalah salah satu cara kami melindungi masa depan anak-anak. Karena kita tidak tau umur atau pekerjaan kita saat ini bisa bertahan sampai kapan. Jika salah satu sumber mata pencaharian tiba2 hilang, setidaknya salah satu bisa menjadi backup income untuk keluarga. Kebetulan istri mendukung dan mengerti keinginan saya karena ia berasal dari keluarga yg ditinggal ayahnya ketika Alm masih dalam usia produktif, saat ia dan saudara saudarinya masih kecil, jadi tau betapa sulit seorang ibu membesarkan anak2 dengan kondisi tidak memiliki sumber penghasilan tetap. Ditambah melihat kondisi keluarga kakak yg baru2 ini ditinggal kepala keluarganya karena kecelakaan, ketika anak2nya masih kecil, saat istrinya tidak memiliki pekerjaan/ sumber penghasilan, sehingga sangat membuat perekonomian keluarga cukup terguncang. Kehilangan ini makin membuat kami menyadari betapa pentingnya memiliki backup income buat keluarga, dan juga membuat makin bisa menghayati mengapa Tuhan menyuruh kita mencintai anak-anak yatim.

Salut dan hormat saya buat para istri yg bisa tetap produktif sambil membesarkan anak2 di rumah.

8.1  Andi Rahmah

Mas Mirza,

Alasan yang sama saya sampaikan pd calon suami saat ta’aruf, mengapa saya harus tetap bekerja.
Ayah saya meninggal dunia pd usia 38 thn, dengan 6 anak yg harus dibesarkan Ibu saya. Saat itu yg paling besar 10 thn dan plg kecil 2 thn. Saya no. 4 yg saat itu berusia 5 thn.

Sampai saat ini, Ibu saya tetap bekerja sbg Prof. Emeritus di Pasca Sarjana FKIP Unlam dalam usia lebih dari 75 thn. Klo sekarang alasannya utk terus bekerja, yg tidak bisa anak-anaknya halangi, adalah keinginan utk tetap merasa diperlukan oleh habitatnya yang sudah ditekuni sejak jadi dosen pd thn 1960🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s