Apakah Kita Sudah Siap Menjadi Orang Yang Bisa Dipercaya?

catatan ringan seorang advokat: Apakah Kita Sudah Siap Menjadi Orang Yang Bisa Dipercaya?
Jimmy Mboe

Hari Selasa kemaren jadwal pekerjaan lumayan padat. Pagi2 saya & rekan (cah FH’98) sudah di Mabes Polri untuk menjenguk klien yg ditahan sekaligus mendampingi klien dalam proses BAP Tambahan.

Pukul 11.00 saya meninggalkan rekan yg masih mendampingi klien,  meluncur ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena ada agenda sidang jam 12.00. Sesampai di Pengadilan, menghadap ke Panitera & dapat informasi bahwa sidang akan dimulai jam 12.30 di lantai 2.

Sembari menunggu saya menuju kantin utk makan siang ditemani mas Ari Andy Prastowo (anggota milis juga lho..). Menu pilihan saya nasi gudeg pake ayam balado & teh setengah manis anget..kalo mas Ari milih kopi & gorengan.

Setelah makan saya & mas Ari ke lantai 2 ngobral ngobrol trus nonton sidang perkara bank century, acara sidang pemeriksaan saksi. Saksi yg dihadirkan Jaksa Penuntut Umum rupanya Kagama  angkatan 78 kalo gak salah. (Kalo salah tolong dikoreksi yo Ri..)

Sementara perkara saya yang menurut Panitera dijadwalkan sidang pukul 12.30..akhirnya berlangsung pukul 15.10…hehehe..lumayanlah CUMA  molor 2 jam 40 menit.

Selesai sidang saya kembali ke kantor..dalam perjalanan ke kantor salah satu klien saya telpon.

Klien: “hallo..selamat siang pak jimmy..apa kabar”
Saya: “hallo pak kabar baik..gimana pak..dimana posisi?”
Klien: “ee..saya lagi di plaza semanggi pak..pak kapan ada waktu..ada hal yang perlu saya bicarakan dengan bapak nih”
Saya: “nanti malam boleh pak..jam 7”
Klien: “dimana pak?”
Saya: “di sarinah aja pak dekat kantor saya”
Klien: “oke pak saya sampe jam 7.30”

Sesampai di kantor saya menyiapkan ruang kelas, selain kantor advokat saya juga mengelola Pendidikan Khusus Profesi Advokat (kelas untuk calon advokat). Kelas selesai pukul 19.00, selesai beberes saya meluncur ke sarinah langsung ke dunkin pesan hot coklat tanpa susu.

Pukul 20.00 muncul klien saya, seorang duda tanpa anak umur 46 tahun.

Saya: “malam pak macet ya..”
Klien: “iya pak..dari jam berapa pak?”
Saya: “7.15 saya udah sampe..gimana pak ada apa?”
Klien: “gini pak..surat yang ke A dan B sudah dikirim?”
Saya: “lho..kan sudah dikirm dari bulan lalu..bapakkan sudah saya kasih copy tanda terimanya”
Klien: “oh iya pak..enggak pak..gini..saya minggu lalu habis dari semarang & jogja”
Saya: “oo..trus”
Klien: “bapak coba lihat foto di henpon saya ini”
——
Klien menyodorkan handphonenya & saya lihat ada foto perempuan.
——
Saya: “siapa ini pak”
Klien: “ini notaris di ***** teman saya sma..ambil notariatnya di ugm”
Saya: “oo gitu..trus..”
Klien: “iya pak kebetulan kami jadian neh..kalo saya sih maunya serius.. dia katanya juga serius tapi kok..kalo sabtu minggu dia lebih sering milih kumpul2 sama temen2nya daripada sama saya..”
Saya: “hah…hehe..hehe..”

——-
Kata saya dalam hati: “..DIANCUKKK…takpikir ono masalah sing gawat…jebule mung curhatan wong jatuh cinta….whooallaaah wes tuwo kok yo koyok abg..hahahaha..”
——

Catatan:
*menurut saya ini adalah salah satu konsekuensi yang harus dihadapi ketika Klien sudah percaya & merasa nyaman dengan kita…hal2 yang mungkin sifatnya pribadipun akan disharingkan kepada kita.

*pertanyaannya: apakah kita sudah siap menjadi orang yang bisa dipercaya?

Salam
Jimmy Mboe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s