Sebuah pembelajaran dari Sepakbola

Right Man, Right Position- Sebuah pembelajaran dari Sepakbola
Umi Gita

Ajang sepakbola paling bergengsi Piala Dunia sudah berakhir. Sang juara pun sudah menikmati kemenangannya. Hingar bingar para penggila bola pun sedikit melemah. Namun, ada hal penting yang dapat kita petik sebagai pembelajaran dari sebuah olah raga sepakbola. Terlihat jelas, pemenang Piala Dunia itu adalah kumpulan orang-orang atas nama tim yang mampu melakukan peran dan fungsinya dengan maksimal. Selain memiliki kompetensi diri dalam mengocek bola yang cemerlang, ia berada dalam posisi yang tepat—entah itu sebagai striker, gelandang ataupun pemain belakang.

Analogi tersebut selayaknya dapat kita terapkan dalam berorganisasi, dimana ketika bekerja dalam sebuah organisasi, diri ini menyadari sepenuhnya sebagai bagian dari sebuah keberhasilan organisasi. Oleh karena itu, sudah barang tentu setiap pribadi harus memberikan kontribusi. Agar kontribusi dapat maksimal, tentu saja posisi sebuah jabatan atau jenis pekerjaan disesuaikan dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki orang tersebut.

Dapat dibayangkan bila seseorang berada dalam posisi yang tidak sesuai dengan kemampuannya? Ada dua hal kemungkinan, pertama orang tersebut akan berusaha belajar untuk memiliki kemampuan yang dibutuhkan dalam melakukan tugas posisinya. Ini merupakan suatu hal yang positif dan patut dihargai walaupun pengorbanan yang ia keluarkan tidaklah sedikit. Kemungkinan yang kedua adalah, seseorang tersebut tidak menjalankan tugasnya dengan baik sehingga yang muncul bukanlah sebuah kontribusi melainkan beban tugas yang tak terselesaikan menjadi bertambah.

Itulah pembelajaran dari sepak bola dimana filosofi ‘Right Man, Right Position’ penting untuk diterapkan dalam menejemen SDM sebuah organisasi, karena nantinya seseorang akan bekerja sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dan pada umumnya, kemampuan yang dimiliki seseorang dalam bekerja adalah hasil dari proses belajar ataupun karena ia memang mencintai apa yang ia kerjakan.

Filosofi penting lainnya dari sepak bola adalah ketika pemain berada di lapangan, ia memahami sepenuhnya bahwa ia adalah bagian dalam sebuah tim, sehingga tidak ada keegoisan untuk menjadi bintang yang paling bersinar. Begitu pula dengan bekerja dalam organisasi, kemampuan boleh hebat, pendidikan boleh tinggi, namun yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan yang besar adalah kerjasama dan kordinasi yang baik dari masing-masing individu dalam organisasi itu.

Jadi sudahkah, kita menjadi ‘Right Man’ dalam ‘Right Position’ dan bekerja laiknya ‘TIM’ dalam organisasi kita? Jika belum, mungkin kita sama dengan Negara yang belum saatnya menjadi juara dunia.

Salam,
Umi Gita

hanya mengenang setahun yang lalu, saya suka nonton piala dunia…dan jagoan saya adalah Der Panzer, dengan pemain kesukaan saya; Phillip Lahm ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s