Sekat yang Menentukan

Sekat yang Menentukan
Ade Siti Barokah

Sore itu selepas coffee break, aku memilih bergabung dengan kelompok Gender and Development. Ada sekitar 15 peserta yang hadir di sana. Selain aku, hampir semuanya adalah ahli gender atau feminist yang cukup kondang di negara masing-masing. Aku duduk kikuk di sudut memperhatikan para pakar itu berbagi pengalaman dan berdebat. Luar biasa kisah mereka mendampingi perempuan di negara masing-masing. Seorang peserta dari Mozambique menceritakan bagaimana kejamnya perlakuan para pria terhadap perempuan di sana. Pemerkosaan terus terjadi, tanpa ada yang berani melapor dan apalagi diajukan ke pengadilan. Seorang wakil dari Fiji sampai nyaris menangis menceritakan kisah tragis beberapa perempuan di sana. Wakil dari Belgia melaporkan hasil penelitian mengenai nasib perempuan di Arab Saudi. Sampai di sini suasana hening….

Semua khidmat dalam perenungan. Hanya bunyi pensil yang diketuk-ketukkan ke meja mengisi kekosongan.

Perempuan nyaris tak ada harganya di dunia islam, seseorang menggeram.

Perempuan dipaksa membungkus tubuhnya rapat-rapat, sementara para lelaki dibiarkan bermain mata dengan perempuan nakal di klab-klab tertutup.

Perempuan dipaksa kawin di usia belia kemudian dikurung di dalam kamar.

Perempuan berselingkuh dirajam, sedangkan lelakinya dibiarkan berkeliaran mencari mangsa lain.

Perempuan…

Oh perempuan, betapa malangnya. Suara bersahut-sahutan.

Sebuah suara datang dari sudut. Seorang perempuan berambut pirang. Cantik dengan bola mata terlihat cerdas. “Ada perempuan muslim di sini, mungkin ia bisa berbagi pendapat.” Katanya.

Semua mata mengarah padaku.

Memang di dalam ruangan ini, –bahkan di sesi panel dimana hadir sekitar 270 peserta dari 74 negara di ruang utama–, hanya aku seorang yang menutup kepala. Berjilbab. Pakaian yang kerap kali identik dengan simbol fanatisme, keterkungkungan, ketidakberdayaan, dan bahkan kebodohan. Eit, jangan protes dulu. Bagi kita, anggapan itu tentu terdengar mengada-ada karena setiap hari kita bisa melihat perempuan berjilbab yang bebas merdeka. Tapi bagi sebagian orang yang masih asing melihat pakaian seperti ini, anggapan seperti itu adalah wajar. Tak perlu marah, aku pun menenangkan diriku.

Bicaralah semampumu, bisikku dalam hati.

Sebelum kubuka mulut, kuedarkan pandang merata ke semua peserta dari sudut kiri hingga kanan. Setting ruangan ini berbentuk U, sehingga kita bisa leluasa saling pandang. Mereka perempuan-perempuan luar biasa yang sangat kuhormati. Kumulai kalimat pertama dengan senyuman.

“Saya tidak menyangkal apa yang disampaikan sebelumnya, karena itu berdasarkan penelitian yang saya tidak terlibat di dalamnya. Mungkin saja fakta-fakta itu benar. Tapi hanya berdasar penelitian itu semata kemudian menyimpulkan islam kejam terhadap perempuan, saya tidak sependapat. Saya islam. Apakah saya terlihat tidak merdeka dan teraniaya? Saya perempuan muslim, apakah ada tanda-tanda yang terlihat bahwa saya baru saja dipukuli atau diperkosa?

Penelitian itu dibatasi oleh sekat geografis dan juga kultural. Menyamakan Arab Saudi dengan Islam adalah kesalahan pertama, karena Arab Saudi sama sekali tidak bisa mewakili Islam. Ada banyak hal yang dilakukan warga Arab Saudi yang bertentangan dengan islam, seperti juga banyak terjadi di negara lain. Kalau ada sekumpulan geng mafia di Italia yang tak segan membunuh, tidak serta merta saya mengatakan orang Khatolik itu kejam. Itu catatan pertama saya.”

Seorang perempuan menyela, “Tapi mengapa islam mewajibkan perempuan menutup tubuhnya? Apakah perempuan tidak memiliki kemerdekaan terhadap tubuhnya sendiri? Dan kau sendiri, meski saya yakin perempuan terpelajar, mengapa tunduk dengan aturan itu?”

Aku tahu berdebat mengenai jilbab dengan menggunakan perspektif theologis tidak akan memuaskan mereka. Tidak bisa misalnya aku menjawab, “karena itu cara islam untuk melindungi perempuan”, karena itu akan memancing perdebatan yang melelahkan. Aku sudah mengalami puluhan kali. Maka aku memilih dengan jawaban sangat sederhana.

Sekali lagi kulemparkan senyum. “Dan kenapa saya harus sama dengan anda? Apakah penampilan saya mengganggu?” Beberapa perempuan mengeleng. “Kalau begitu biarkan saya dengan pakaian saya, karena saya juga tidak mempertanyakan cara pakaian anda. Kami menyukai pakaian seperti ini. Sejak kecil, saya melihat ibu saya berpakaian tertutup dan itu terlihat nyaman sekali. Saya tidak harus menarik-narik rok saya untuk menutupi paha ketika duduk di bus, atau tidak perlu merasa jengah datang ke ruangan yang isinya laki-laki semua. Banyak juga dari kami yang memilih menutup kepala untuk menunjukkan identitasnya bahwa ia muslim. Sama dengan anda yang bangga mengenakan kalung salip, atau teman-teman di India yang setia dengan sari. Sama juga dengan anda (kataku sambil menunjuk seorang perempuan muda) yang suka dengan t’sirt bergambar Dalai Lama atau Che Guevara. Itu adalah kebanggan. Identitas. Dan tak ada yang salah dengan itu.”

“Tapi anda tahu Taliban kan?” Kali ini yang bertanya fasilitatornya.

Aku mengangguk. Aku tahu mereka akan menggiring pada satu fakta bahwa Taliban mewajibkan bahkan dengan kekerasan, agar semua perempuan dewasa menutup seluruh tubuhnya dengan menyisakan jaring-jaring samar di kedua matanya. Bagi Feminist, Taliban adalah simbol paling nyata dari kebiadaan hegemoni laki-laki terhadap perempuan. Dalam beberapa level, akupun sependapat.

“Saya tidak berhak menjawab pertanyaan tentang taliban, karena saya bukan bagian dari mereka dan sama sekali tidak mengenalnya. Bahwa ada sebagian komunitas muslim yang memiliki keyakinan dan mempraktekkan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang berlaku umum, itu bisa saja terjadi. Dan saya yakin mayoritas muslim pun menentangnya. Sama halnya ketika saya melihat sekumpulan perempuan di Belanda berdemonstrasi telanjang bulat tidak berarti kemudian saya meminta anda untuk menjelaskan kepada saya apakah Kristen menyetujui tindakan seperti itu.”

Dengan bahasa inggris yang makin belepotan (penyakit kalau bicara panjang), aku mengisahkan tentang gerakan feminisime di Indonesia. Tentang Kartini, Cut Nya’ Dien, Dewi Sartika, Rohana Kudus dan para pejuang perempuan lainnya yang juga muslim. Dan itu terjadi berabad lampau. (Tentu aku tidak menyampaikan kontroversi mengenai apakah mereka golongan proletar atau bangsawan. Nggak penting). Jujur kuakui di depan mereka bahwa aku bukanlah ahli gender yang menguasai teori-teori feminisme, tapi berdasarkan pengalaman sebagai perempuan dari keluarga muslim, aku tidak merasakan diskriminasi. Tentu saja tidak berarti aku menutup mata masih banyaknya diskriminasi dan pelanggaran hak-hak perempuan. Banyak sekali. Aku juga tidak mengabaikan adanya fakta banyaknya kaum muslim yang menistakan perempuan, memberangus hak-haknya dan memperlakukannya secara tidak adil, tapi itu tidak bisa dikatakan mewakili islam. Dan sudah pasti aku menentang praktek-praktek semacam itu.

Aku lihat masih banyak peserta yang gemas ingin menanggapi, tapi moderator memutuskan untuk membatasi diskusi. Kami beralih ke topik lain hingga satu setengah jam berikutnya.

Ketika melangkah menuruni tangga usai diskusi kelompok, seseorang menjajari langkahku. Ia adalah aktivist feminisme dari Amerika yang ikut mempertanyakan jilbab yang kukenakan. “It was great.” Katanya singkat. Kulirik name tag yang tergantung di lehernya. Seorang perempuan Amerika keturunan Pakistan. Namanya berakhiran Khan.

****

Suatu hari di sebuah kamar kos-kosan sempit di daerah Karang Malang, aku diadili oleh para ukhti. Sebutan untuk kawan-kawan perempuan yang ikut gerakan tarbiah atau yang rajin berdakwah. Pangkal soalnya adalah karena hari itu aku mengenakan celana panjang. Para ukhti menasehati bahwa itu tidak islami. Para laki-laki masih bisa menatap lekuk tubuhku dan itu haram hukumnya. (padahal aku tipis kerempeng jauh dari seksi :D) Tapi begitulah, gara-gara celana panjang aku bersitegang dengan murrobi (guru)ku.

“Lihat itu, si X, pakai jilbab tapi diiket ke belakang membiarkan lekuk dadanya terlihat. Lama-lama dia mirip pocong berjalan.” Aku menahan senyum.

Kali lain ia mengomentari dengan sinis beberapa perempuan dari agama lain yang pergi beribadah dengan mengenakan pakaian ketat. “Aneh ya, masa mau sembahyang pakaiannya kayak gitu?”

Atau dengarlah pendapatnya ketika melihat gambar perempuan suku anak dalam yang sehari-hari bertelanjang dada. “Itulah kalau hatinya belum diterangi cahaya, belum dapat hidayah, tidak tahu kalau perempuan telanjang dijamin masuk neraka. Kasihan sekali.” Sebaliknya, aku kasihan padanya yang terlalu sederhana memandang surga dan neraka.

Pernah pula kudengar seorang ustadz berdakwah di televisi. Suaranya menggelegar. “Astaghfirullah, ibu-ibu… Artis-artis itu apa tidak takut masuk neraka ya? Paha dan dada diobral begitu? Jangan heran nanti kalau di neraka ketemunya sama artis-artis melulu. Tapi jangan harap mengenali wajah mereka, karena di sana nanti, mereka babak belur dicambuki dan (maaf) kemaluannya ditusuk dengan tongkat timah panas yang mendidih dan berduri.”

Hmmm, mungkin ustadz ini sudah pernah backpacking ke neraka sampai bisa menceritakannya dengan begitu detil.

Sekat. Kata inilah yang kutemukan ketika memikirkan tentang fenomena ini. Betapa mudah manusia di kotak-kotakkan dan disekat-sekat menjadi “kami” dan “mereka.” Kami berjilbab, kami lebih dekat ke surga. Mereka berpakaian seksi calon penghuni neraka. Atau kami berpakaian terbuka, kami terpelajar, modern, dan bahagia. Sementara mereka yang berjilbab, bodoh, terbelakang, terkungkung dan tidak bahagia. Sungguh sederhana. Kebebasan dan kebahagiaan dilihat dari cara berpakaian semata. Padahal aku pernah menemukan buku kedokteran hasil penelitian dan kajian yang njelimet dan menjadi rujukan universitas ternyata ditulis oleh seorang perempuan bercadar. Di sisi lain, banyak juga perempuan berjilbab yang menipu ataupun korupsi.

Sebaliknya, aku juga pernah bertemu seorang perempuan yang sehari-hari bercelana pendek dan kaus tanpa lengan tapi memiliki hati dan kepedulian sosial seperti malaikat. Namun ada juga perempuan yang disimbolkan merdeka karena tak segan memamerkan seluruh tubuhnya, merasa tertekan karena sesungguhnya ia juga ‘terkungkung’ oleh cengkeraman ‘taliban’ industri yang mewajibkannya tetap mulus, tetap langsing, bebas jerawat dan selalu berkuku indah.

Lalu siapa yang lebih merdeka?
Dan siapa pula yang berhak masuk surga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s