The Way of Tea: Tadisi Minum teh keluarga saya

Tadisi Minum teh keluarga saya
Bambang Laresolo

 Afternoon tea adalah ritual minum teh sore hari yang sangat populer di Inggris. Walaupun sebenarnya tradisi ini merupakan adaptasi dari ritual upacara minum teh di Jepang, tetapi keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Di Jepang ritual tersebut dipengaruhi oleh unsur keagamaan Budha Zen, sedangkan di Inggris tradisi tersebut lebih merupakan gaya hidup yang pada awalnya diselenggarakan oleh para nyonya rumah dengan mengundang teman-teman mereka untuk minum sekitar jam 4 sore. Biasanya minuman teh dicampur dengan susu dan ditemani dengan beberapa macam sandwich. Persamaannya, kedua ritual tersebut diselenggarakan oleh para nyonya rumah. Jadi yang menyiapkan dan menghidangkan teh adalah Nyonya rumah.

Pada awalnya, minum teh di Inggris hanya dilakukan di coffe-coffe house, sehingga hanya mereka yang berduit saja yang mampu melakukannya. Dengan makin popularnya teh, membuat Thomas Twinning, salah seorang pedagang teh di Inggris, mulai menjual teh kering sehingga bisa disimpan para nyonya rumah yang tidak memiliki banyak kesempatan untuk pergi ke coffe house dan dapat menikmati teh tersebut di rumah setiap saat.

Sejarah tradisi Afternoon tea dipelopori oleh Puteri Anna Russel, salah seorang bangsawan Inggris yang hidup pada masa 1783-1857. Pada saat itu, dia merasa lapar, tetapi waktu masih menunjukkan pukul lima sore, dan makan malam masih sekitar dua jam kemudian. Mungkin karena terlalu lapar untuk menunggu makan malam, dia mendapatkan ide untuk menyuruh kepala pelayannya mengantar teh dan beberapa roti ke ruangannya. Semenjak itulah dia mulai mengundang teman-temannya untuk datang ke ruang tamunya untuk minum teh dan makan roti bersama pada event-event tertentu

Sejarah tradisi minum teh di keluarga saya dipelopori siapa lagi kalau bukan ibu saya sendiri. Beliau yang menjadi host, dan tamu-tamunya adalah suami dan anak-anaknya. Bahkan tradisi minum teh telah dimulai dari pagi hari.

Saya ingat betul setiap hari ibu selalu bangun pagi buta. Setelah selesai sholat subuh, ibu langsung ‘nggodhog wedang’. Ini sebenarnya sebuah bahasa yang hyperbolic. Nggodok artinya masak. Sedangkan wedang berarti air minum yang sudah dimasak. Wedang teh, wedang jahe, wedang ronde, semua adalah air yang sudah siap dan layak diminum. Jadi kalau diterjemahkan, nggodhog wedang adalah memasak air minum yang sudah dimasak. Wah, mbulet banget.

Tempat menyeduh teh disebut porong, yaitu sebuah teko yang terbuat dari semacam campuran besi dan aluminium. Saya tidak tahu pasti material yang dipakai. Tidak ada ritual atau cara-cara khusus untuk menyeduh teh. Setelah teh selesai diseduh dengan air panas, porong ditutup dengan tutup yang berbentuk bantal. Ya, bentuknya memang mirip sekali dengan bantal karena memakai kapuk yang dibungkus kain. Ibu biasanya membuat sendiri tutup porong tersebut. Tujuannya agar teh yang diseduh tetap awet panas. Tentu saja kami belum kenal dengan apa yang namanya warmer. Teh yang sering digunakan ibu adalah teh 999 atau teh cap sepeda balap. Kadang-kadang teh gopek.

Setiap bangun pagi, di meja makan pasti sudah tersedia gelas teh yang masing-masing gelas memiliki warna tutup yang berbeda. “Le, iki wedange le”, begitu sapa ibu setiap membangunkan saya. Biasanya ibu akan menunjukkan gelas mana yang punya saya, dan gelas mana yang punya bapak atau kakak. Sebagai teman minum pasti sudah tersedia tempe goreng dan beberapa cabe rawit. Karena kebetulan tetangga sebelah rumah yang memproduksi tempe tersebut, ibu selalu pesan tempe yang belum jadi. Yaitu tempe yang belum sempurna proses peragiannya sehingga butiran kedelai masih tampak nyata. Selain tempe yang selalu tersedia adalah kerupuk pasar yang berwarna merah muda atau kuning. Terkadang tersedia juga karak, yaitu kerupuk dari gendar. Kerupuk memang tidak pernah hilang dalam kuliner keluarga saya. Bahkan tukang kerupuk sempat meminjamkan blek atau kaleng kerupuk yang berbentuk kotak dari seng dengan tutup bulat macam topi, dan satu sisi memiliki kaca tembus pandang. Karak disimpan dalam lodhong atau toples kaca berbentuk silider dan bertup bulat . Gurih tempe, dipadu pedas rawit, disusul kriuk kerupuk kemudian digelontor teh melati manis. Hmm…nikmat sekali.

Itu baru menu pembukaan makan pagi. Setelah itu biasanya tersaji pondoh pecel, yaitu semacam gendar tetapi digunakan santan sebagai pengganti bleng. Selain itu juga tersedia pecel bongko yang terbuat dari kedelai. Itu baru appetizer semacam salad. Main coursenya adalah nasi putih dengan lauk tumis kulit melinjo dan tentu saja tempe goreng dan kerupuk.

Ritual minum teh tersebut akan berulang lagi pada sore harinya dan yang pasti tidak ketinggalan sebagai teman adalah tempe goreng dan kerupuk. Ritual minum teh sore biasanya dilanjutkan dengan mengobrol ringan di meja makan sampai tiba waktu magrib. Selesai Sholat, kami kembali ke meja makan untuk makan malam.

Hingga kini, setiap kami pulang kampung, dalam kerentaannya, dengan tertatih-tatih ibu masih saja menyediakan teh buat anak-anaknya. Padahal kami sudah besar semua. Punya anak dan istri masing-masing. Bahkan ibu sudah punya buyut, tetapi ibu tetap merasa itu adalah sebuah kewajiban dalam menunjukkan cinta kasihnya terhadap keluarga. Beliau merasa bahwa jabatan sebagai host dalam tradisi minum teh keluarga tidak tergantikan. Teh untuk cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s