Tuesday With Morrie

Tuesday With Morrie
Umi Gita

Ini buku merupakan salah satu buku bagus dan mengena banget buat aku. Sebuah buku yang mengisahkan bagaimana seorang mahasiswa dengan dosennya, baik ketika masih kuliah ataupun ketika sang dosen tersebut hidupnya sudah tak lama, karena mengidap penyakit amyotropic lateral sclerosis (ALS), atau penyakit Lou Gehrig, sebuah penyakit ganas, tak mengenal ampun, yang menyerang sistem saraf.

Inilah kisah Mitch bersama guru sejatinya, Morrie Schwartz.

Mitch, ia seorang kolumnis rubrik olahraga di Detroit Free Press, penulis buku-buku olahraga sekaligus pengusaha. Jadwal kerjanya begitu ketat hingga ia selalu merasa dikejar oleh waktu. Ia tenggelam dalam dunia kerjanya yang menghasilkan begitu banyak uang sekaligus prestasi yang membawa prestise tersendiri.

Hingga suatu ketika, ia tergerak untuk menemui lagi dosennya ketika ia melihat sang dosen diwawancara oleh sebuah acara TV dengan judul ’Kuliah Akhir Seorang Profesor: Kematiannya Sendiri!’. Mitch pun segera ke Boston, menemui guru sejatinya, dan mereka berdua membuat kesepakatan untuk adanya kuliah terakhir, sebuah pertemuan sepekan sekali, setiap hari selasa. Kuliah itu tak diberi nilai, tetapi setiap minggu ada ujian lisan. Buku tak diperlukan, namun banyak topik yang diperbicangkan seperti cinta, kerja, kemasyarakatan, keluarga, menjadi tua, semangat memaafkan dan akhirnya tentang kematian.

Hubungan antara Mitch dan Morrie sebenarnya sudah lama terbangun baik ketika Mitch masih menjadi mahasiswa dan mengambil mata kuliah sosiologi yang diampu oleh Morrie. Saat itu, Mitch hanyalah mahasiswa biasa yang seringkali minder bahkan merasa bermasalah dengan keluarganya. Namun, kehadiran Morrie membuat Mitch bangun untuk optimis terhadap masa depan. Dialog-dialog tentang mata kuliah hingga kehidupan mereka lakukan, hingga mereka bagaikan sahabat, dan panggilan ’coach’ pun ditujukan oleh Morrie dari Mitch.

”Belajar tentang cara mati, maka kita belajar tentang cara hidup”
Begitulah yang dikatakan oleh Morrie. Dengan memahami kematian, mungkin kita akan belajar memahami bagaimana harus hidup dengan arif dan sebaik-baiknya. Kematian itu memang absurd, kita yang hidup tak pernah tahu bagaimana rasanya kematian. Hanya ada sebuah kepercayaan dan keyakinan akan kematian yang mungkin kita dapatkan dari ajaran agama.

Begitu banyak pelajaran dalam hidup. Hingga ada sebuah pepatah cina mengatakan bahwa manusia itu diturunkan ke bumi untuk belajar. Yah, aku cukup mengamininya, dari sejak kita lahir, kita belajar bergerak untuk beradaptasi. Ketika masa kanak-kanak, kita belajar untuk mengetahui segala sesuatu. Ketika remaja, kita belajar tentang hubungan antara manusia. Ketika dewasa, mungkin kita belajar tentang dunia. Dan kesemua itu dalam lingkukap bernama hidup.

Banyak hal yang dapat diambil dari buku ini, seperti bagaimana dunia ini membutuhkan diri kita sehingga kita mampu mendapatkan makna hidup kita. Morrie mengatakan, ”Abdikan dirimu untuk mencintai sesama, abdikan dirimu kepada masyarakat sekitar, dan abdikan dirimu untuk menciptakan sesuatu yang mempunyai tujuan dan makna hidup bagimu.”
Begitu pula yang cukup menyentakku yaitu tentang bagaimana memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Aku seringkali menyesal dengan apa yang terjadi dengan masa lalu, menyesal karena seharusnya aku bisa bekerja lebih keras, seharusnya aku bisa menghindai peristiwa tertentu dan segala penyesalan-penyesalan lainnya. Namun Morrie ternyata juga memiliki perasaan yang sama, dan penyesalan itu semua tidak berguna. Maka berdamailah. Berdamailah dengan diri sendiri dan semua orang di sekitar kita.

Morrie dan Mitch pun membahas tentang cinta dan perkawinan, sesuatu yang mungkin sudah ‘retak eksistensi-nya’ di negara Paman Sam, dimana disitu begitu banyak masalah, orang-orang dengan mudahnya untuk menyambung dan memutus sebuah ikatan suci bernama perkawinan. Morrie pun mengatakan bahwa dalam perkawinan, sesungguhnya kita diuji. Kita mencari tahu siapa kita, siapa orang lain yang menjadi pasangan kita, mana yang haus kita sesuaikan, mana yang tidak. Begitu banyak nilai-nilai hidup yang harus saling dikompromikan, yang harus saling dihormati dan begitu banyak hal-hal yang harus di-terbuka-kan dengan pasangan kita. Dan yang paling penting untuk disepakati bersama adalah nilai dimana keyakinan tentang pentingnya perkawinan itu.

Buku ini disusun dengan apik, dimana alurnya dibuat sebelah menyebelah antara masa lalu dengan masa saat ini. Masa lalu dimana Mitch masih mahasiswa kuliah Sosiologi-nya Morrie, dan masa saat ini dimana Mitch merupakan mahasiswa kuliah Kematian-nya Morrie. Dan buku ini ditutup dengan wisuda dimana itu adalah kematian Morrie. Dan itu adalah hari selasa.

“Pengaruh seorang guru bersifat kekal; ia tak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir.”

—Henry Adams

Dan kutemukan sosok Morrie pada sebagian dosenku…..

-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s