Emak Kedua

Emak Kedua

Hasanuddin Abdurakhman

Namanya Rukaiyah. Aku selalu memanggilnya Ibu. Sejak dulu, sampai sekarang. Ibu hanya berbeda dalam satu hal dengan Emak: bahwa antara dia dan aku tak ada hubungan darah. Selebihnya, dia adalah Emak.

Ibu adalah guruku waktu aku sekolah di Madrasah Tsanawiyah. Dia mengajar Bahasa Inggris dan Matematika. Secara kebetulan dia menjadi wali kelasku sejak kelas satu sampai kelas tiga. Sejak mulai masuk sekolah, aku suka sekali dengan guru yang satu ini. Dia tidak galak, kata-katanya lembut. Terhadap anak yang paling nakal sekalipun suaranya tetap begitu. “Ehhhhhh, janganlah begitu………….” begitu kalimat dia saat menegur anak yang nakal. Karena dia lembut, tak ada anak yang melawan dengan kurang ajar kepadanya. Cara dia mengajar juga cukup baik. Penjelasan pada pelajaran Matematika cukup mudah dipahami.

Di luar soal itu, Ibu secara khusus sangat baik padaku. Dia selalu memberiku kue-kue, sisa kue yang disediakan untuk guru-guru. Pada saat penerimaan rapor semester pertama, aku juara kelas. Ibu menghadiahi aku dengan sejumlah buku dan alat tulis yang cukup untuk keperluanku semester berikutnya. Dan itu kemudian berlangsung setiap semester, sehingga orang tuaku tak perlu lagi membelikan semua itu.

Suatu hari saat aku kelas dua sekolah kami kedatangan tamu. Mereka adalah santri-santri dari Gontor. Mereka memamerkan kemampuan, berpidato dalam bahasa Arab dan Inggris. Aku langsung tertarik, dan berminat untuk sekolah di situ kalau aku tamat dari madrasah ini kelak. Minatku ini aku sampaikan ke Ibu pada suatu kesempatan. Dan dia langsung menyetujui. “Ibu lihat kamu pintar. Kalau belajar serius kamu pasti bisa.” katanya memberi semangat.

Niat itu aku sampaikan ke Ayah. Ayah langsung menolak. Alasannya, aku masih terlalu kecil untuk pergi jauh-jauh dari orang tua. Tapi ada alasan yang lebih penting lagi: Ayah tidak punya uang untuk membiayai. Ibu kecewa betul ketika mendengar laporanku tentang jawaban Ayah. “Tak apa. Ibu siap membantu biayanya.” kata Ibu. Aku sampaikan itu kepada Ayah. Tapi Ayah bergeming. “Kita tak boleh berharap terlalu banyak pada bantuan orang lain. Ayah juga tak mau berhutang budi banyak-banyak.” Itu keputusan akhir, aku tak berani melawannya.

Aku sangat sedih ketika itu. Sebenarnya aku punya cita-cita yang jarang aku bicarakan di rumah. Aku ingin sekolah ke luar negeri. Sesekali aku baca di koran, ada anak-anak pintar yang dikirim pemerintah untuk kuliah di luar negeri setamat mereka dari SMA. Aku ingin juga disekolahkan seperti itu. Untuk bisa seperti itu tentu aku harus bisa berbahasa Inggris. Pelajaran bahasa Inggris di sekolah tak cukup untuk membuatku bisa berbicara. Jawaban Ayah seakan lubang kubur bagi cita-citaku itu.

“Sudahlah. Tak harus ke Gontor kalau mau belajar bahasa Inggris. Kau ambil kursus saja.” kata Ibu menghibur.

“Tapi kursus juga mahal, Bu.”

“Biar Ibu yang bayar.” kata dia lagi.

Sejak itu aku ikut kursus. Ini tempat kursus terbaik di Pontianak waktu itu. Yang ikut kursus di situ hanya anak orang kaya. Tiga kali seminggu, malam hari, aku kursus. Dengan mengayuh sepeda ke pusat kota aku mendatangi tempat kursus. Aku satu-satunya yang naik sepeda. Yang lain naik motor, atau diantar dengan mobil. Dan tak semua yang ikut kursus itu pelajar. Orang yang sudah bekerja juga kursus di situ.

Sejak itu aku mulai bisa berbahasa Inggris. Dan sejak itu Ibu rutin memberiku uang. Tak hanya untuk kursus. Kalau dilihatnya sepatuku sudah bolong, dia beri aku uang untuk beli sepatu. Juga baju seragam.

Waktu tamat Madrasah (SMP) aku lulus dengan nilai terbaik. Waktu itu pemerintah kota melalui Dinas P dan K menetapkan bahwa anak yang lulus dengan nilai tertinggi di sekolahnya bisa masuk ke SMA Negeri tanpa tes. Tapi SMA tujuan sudah ditetapkan berdasarkan rayon. Nah, sekolahku yang bukan sekolah umum tak jelas apakah kena aturan itu atau tidak. Berbekal surat keterangan bahwa aku lulusan terbaik dari sekolah, bersama abangku, aku menghadap petugas di Kanwil P dan K menanyakan masalah itu. Atas pertanyaan kami, aturan itu diberlakukan buat aku. Istimewanya, aku tidak dikenakan rayon. Jadi aku boleh memilih mau masuk ke SMA Negeri mana saja yang aku suka.

Ibu menyuruhku masuk ke SMA1. Ini adalah SMA terbaik di kota kami. Tapi abangku, yang jadi wakil Ayah bagi kami, tidak setuju karena sekolah itu agak jauh dari rumah kami. “Nanti Ibu belikan sepeda.” kata Ibu memberi jalan. Tapi sekali lagi itupun tidak diterima. “Di situ kumpulan anak orang kaya. Nanti kamu ikut-ikutan terpengaruh, bergaya macam anak orang kaya.” bantah abangku. Akhirnya aku menyerah. Masuk ke SMA 2, di dekat rumah.

Bantuan Ibu tak pernah berhenti walau aku bukan lagi muridnya. Aku tetap ikut kursus bahasa Inggris. Keperluan untuk baju seragam, buku, dan bahkan uang jajan selalu diberi oleh Ibu. Waktu itu dititipkan ke keponakanku yang masih sekolah di madrasah itu. Sesekali aku juga bersilaturrahmi ke rumah Ibu. Saat keponakanku lulus, Ibu masih tetap memberi bantuan. Dia meminta aku datang ke rumahnya setiap awal bulan.

Kursus yang aku ikuti tidak sia-sia. Sejak masuk SMA aku tak pernah lagi bicara dalam bahasa Indonesia kepada guru bahasa Inggris di sekolah. Aku selalu berbahasa Inggris. Ibu sungguh senang dengan hasil itu.

Sejak di SMA aku sudah merencanakan untuk kuliah. Tak pernah aku bicarakan soal ini di rumah. Aku takut dipupuskan lagi. Aku berniat kuliah ke Jawa, ke UGM. Tentu minatku untuk kuliah ke luar negeri tetap aku pelihara dengan mencari-cari informasi tentang itu. Ibu seperti biasa mendukung. Saat niat itu mulai tercetus, Emak dan Ayah lagi-lagi melarang. Alasannya sama: tidak ada biaya. “Kalau kau kuliah di sini, semua abang-abang kau di sini. Emak kasih biaya hidup untuk semua. Kurang-kurangnya kita rasakan bersama. Kalau jauh begitu, khusus untuk kamu harus disediakan. Jadi terasa benar.” kata Emak. Alasan itu masuk akal, karena aku tahu betul kondisi Emak.

Tapi kali ini Abangku jadi pahlawan. Dia baru lulus sarjana saat aku kelas satu SMA. Sejak lulus SPG dia jadi guru, dan sambil kerja dia kuliah. Begitu jadi sarjana dia diterima jadi dosen di tempat dia kuliah. Kebetulan waktu masih kuliah dia menjadi mahasiswa teladan yang diundang ke Istana Presiden untuk perayaan Hari Kemerdekaan. Di situ dia bertemu dengan mahasiswa teladan dari seluruh Indonesia. Dia ingin aku lebih baik dari dia, kuliah di universitas yang lebih baik seperti mahasiwa yang dia temui ketika itu.

“Tenang, jak. Selama kamu bisa lulus ujian masuk PTN, mau ke Jawa juga aku siap bertanggung jawab.” kata abangku. Dia ingin aku masuk kedokteran, atau MIPA. Salah seorang teman dia di acara mahasiswa teladan tadi adalah mahasiswa Fisika dari UI. Dia ingin menjadikan aku seperti temannya itu.

Tamat SMA aku ikut tes Sipenmaru dengan pilihan jurusan Fisika FMIPA UGM. Aku ikut tes dari Pontianak saja, karena tak ada biaya kalau hanya untuk sekedar pergi tes ke Yogya. Menjelang kelulusan, aku menemukan iklan penerimaan calon mahasiswa program Overseas Fellowship Program (OFP) dari BPPT. Aku gunting iklan koran itu, aku bawa ke rumah Ibu.

“Ya sudah, kamu melamar saja.” kata Ibu.

“Tapi ini testnya di Jakarta. Harus naik pesawat. Sayang juga uangnya kalau sampai ikut tes lalu tak lulus.” kataku.

“Tak apa. Semua harus dicoba. Ibu akan sediakan biayanya.”

Setelah beberapa minggu mengirim lamaran, aku dipanggil tes tahap pertama. Aku berangkat ke Jakarta, dan menunggu di Jakarta sampai pengumuman Sipenmaru selesai. Karena tak ada keluarga di Jakarta, aku tinggal di asrama pelajar daerah. Sayang aku tak lulus tes di BPPT. Aku hanya diterima di UGM. Lalu aku berangkat ke Yogya untuk kuliah. Sungguh kecewa aku ketika itu. Dan aku juga merasa bersalah, karena gagal meski sudah dibantu sekian banyak oleh Ibu.

Tapi Ibu selalu membesarkan hatiku. Dan lagi-lagi dia selalu mengirimi aku uang, tanpa diminta sekalipun. Itu berlangsung hingga aku lulus kuliah.

Diam-diam Ibu kemudian seperti menyimpan harapan lain. Dia punya anak perempuan, anak sulung yang usianya terpaut 2 tahun di bawahku. Dulu kami hanya sesekali bertemu kalau aku sedang main ke rumah Ibu. Tapi hanya pertemuan sekilas, sebatas dia membukakan pintu. Tapi ketika kami sudah sama-sama dewasa, Ibu lebih sering mengajak putrinya ikut mengobrol dengan aku. Bahkan sering membiarkan kami berdua.

Aku merasakan maksud Ibu itu. Dan tentu aku mau kalau diminta menjadi menantu Ibu. Sungguh sebuah kehormatan. Tapi ini soal perasaan. Saat aku mencoba mengarahkan perasaanku ke arah itu, aku sadar bahwa aku tak bisa. Emak yang tahu maksud Ibu, marah besar ketika aku sampaikan bahwa aku tak mau. Tapi kali ini aku tetap pada keputusanku sendiri.

Ibu sangat kecewa ketika aku memutuskan untuk melamar orang lain, lalu menikah. Tapi itu sama sekali tak merusak hubungan kami. Dan uniknya, anak Ibu tadi kemudian menikah dengan abangku, yang usianya dua tahun lebih tua dari aku tapi menikah terakhir di keluarga kami.

Sejak dulu aku sering bertanya, mengapa Ibu demikian sayang padaku. Karena aku dari keluarga miskin? Madrasah itu memang sekolah anak-anak miskin. Jarang anak orang kaya sekolah di situ. Jadi, aku bukan satu-satunya yang miskin. Dan banyak juga anak-anak miskin lain yang pintar. Tapi perhatian Ibu kepadaku sungguh istimewa. Karena dia hendak menjadikan aku menantu? Itupun tak masuk akal, karena semua itu bermula saat aku dan anaknya masih kecil. Lalu, kenapa? Bagi aku akhirnya itu pertanyaan yang tak perlu aku ajukan.

Kini Ibu sudah tua, menikmati masa pensiun. Sesekali aku pulang ke Pontianak, untuk berkunjung dan mencium tangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s