Sungai di depan rumah kami

Sungai di depan rumah kami
Wahyu W. Basjir

Dibanding masyarakat urban, mereka yang tinggal di desa konon lebih menghargai sungai. Penghargaan itu antara lain dicirikan oleh posisi rumah yang mereka bangun di sekitar sungai. Di berbagai desa yang belum tersentuh industrialisasi, rumah-rumah biasanya dibangun menghadap ke sungai, dengan jamban ada di belakang atau samping rumah. Sedangkan di lingkungan yang sangat urban, seperti daerah sepanjang sungai-sungai di Jakarta, rumah-rumah dibangun membelakangi sungai. Dengan posisi jamban di bagian belakang rumah, praktis tempat pelepasan limbah itu lebih dekat ke badan sungai.

Rumah orangtuaku di Banjarnegara dibangun dengan posisi tradisional yang aku sebutkan di atas; menghadap ke sungai, dengan sumur, kamar mandi dan jamban ada di belakang rumah. Sumur resapan dan septic tank juga ada di belakang rumah, sehingga tidak ada limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai. Meskipun sudah mengalami berkali-kali renovasi sejak masih berujud rumah berdinding anyaman bambu puluhan tahun silam, posisi itu tidak berubah.

Cara masyarakat memperlakukan sungai tampaknya ikut menciptakan perbedaan pada kualitas air sungai di desa dan di kota. Sungai di kota biasanya berair lebih keruh atau malah berwarna hitam dan bau. Sedangkan sungai-sungai di pedesaan lebih bersih dan alirannya lebih lancar.

Sayangnya, air yang jernih seperti pada masa kanak-kanakku tidak lagi kulihat di sungai depan rumah ayah. Setiap hari, yang kulihat adalah air berwarna coklat lumpur. Meskipun tidak berbau menyengat, tidak ada lagi ikan-ikan seperti tawes, lele, mujahir yang dulu sering aku dapat hanya dengan beberapa menit memancing.

Dulu, hanya dengan duduk-duduk di jembatan sambil memegang joran pancing pada malam hari, aku bisa membawa pulang empat sampai lima ekor ikan lele yang lumayan besar. Kalau malas memancing, hanya dengan bermodal senter aku bisa “memanen” udang yang biasa naik permukaan menempel di dinding sungai. Dalam seperempat jam setelah shalat maghrib, aku bisa menyediakan udang untuk lauk aku dan adikku.

Begitulah, sungai di depan rumah ayah menjadi sumber penghidupan yang tidak terlalu jelek bagi aku dan keluargaku, sebagaimana juga bagi teman-temanku dan keluarga mereka.

Lebih dari itu, sungai juga menjadi tempat bermain yang menyenangkan dan murah. Dan aku masih ingat betul, bagaimana aku menjadi bocah yang sangat menikmati sungai itu.

Dulu, aku hampir selalu pulang dengan membonceng sepeda ayah yang juga guru di SDku. Setelah melalui jalan yang naik turun, kami akan sampai ke sungai yang mengalir lewat depan rumah ayah. Saat itulah awal kesenangan selepas sekolah untuk bocah kampung seperti aku.

Sesampai kami di sungai, ayah akan menghentikan sepedanya dan membiarkan aku turun. Dan sesaat kemudian aku sudah telanjang bulat, sementara baju dan celana aku gulung lalu aku jepitkan di boncengan sepeda ayah. Bersamaan dengan ayah yang mengayuh sepedanya menyusur jalan sepanjang sungai menuju rumah, aku berenang mengikuti arus yang membawaku pulang.

Sudah pasti, ayah lebih dulu tiba di rumah karena aku selalu asyik bermain di sungai, saat aku berenang sendiri ataupun bersama teman-teman kecilku. Setelah puas bermain, aku naik dari sungai tepat di depan rumah. Dalam keadaan telanjang bulat, aku biasanya tidak langsung masuk rumah untuk mengambil handuk. Aku lebih suka berjemur di halaman sambil melihat air menetes dari tubuhku.

Saat berjemur itupun sering aku gunakan untuk bermain-main, terutama kalau aku kebelet kencing. Jika aku merasa kepengin kencingm, aku akan mencari gundukan debu halus yang cukup untuk membentuk gunung kecil. Setelah gunung debu itu terbentuk, aku menekan puncaknya yang runcing dengan siku sehingga terbentuk semacam lubang kawah yang bertepi bundar. Di lubang kawah itulah aku kencing.

Air kencing yang meresap di lubang kawah itu, aku tahu, akan membentuk lapisan tanah yang basah dan lebih lengket dengan ketebalan tertentu. Setelah lapisan itu terbentuk, aku kemudian mengorek bagian bawahnya yang tidak basah sehingga kudapat wajan kecil dari tanah yang basah oleh air kencingku. Wajan kecil itu biasanya aku kumpulkan di bawah pohon jeruk bali yang ada di depan rumah. Setelah itu, barulah aku masuk ke rumah dan berpakaian seadanya.

Di hari libur atau Minggu, aku tidak pernah bermain jauh-jauh dari sungai itu. Seperti kebiasaan anak-anak kampung, meskipun punya sumur aku lebih suka mandi di sungai itu. Airnya jernih dan bersih, dan bisa bermain sepuasnya. Lagipula, dengan berlama-lama berenda di air, daki di tubuh jadi lebih mudah lepas sehingga aku tidak pernah mandi dengan menggunakan sabun. Tidak jarang, aku dan teman-temanku saling bergantian menggosok punggung dengan batu yang kami dapat dengan menyelam ke dasar sungai. Kalau tidak dengan batu, ya dengan rumput yang tumbuh di dinding sungai. Persis seperti cara memandikan kerbau. Meski tidak pernah memakai sabun, seingatku, tidak ada satupun di antara aku dan teman-temanku yang panuan atau sakit gatal-gatal.

Boleh dibilang, mandi beramai-ramai di sungai itu menjadi saat yang paling menyenangkan bagiku dan teman-teman kecilku. Laki-laki ataupun perempuan, kami tidak sungkan untuk sama-sama telanjang bulat, berlarian di pinggir sungai kemudian beramai-ramai terjun ke air. Kadang-kadang kami bertanding menyelam, dengan salah satu dari kami menjadi pemberi aba-aba sekaligus wasit yang menentukan siapa pemenangnya di antara kami.

Bagi aku dan teman-temanku, mandi dan bermain disungai bersama-sama laki-perempuan seperti itu tidak ada tabunya. Setidaknya sampai kami lulus SD. Beberapa dari kami, termasuk aku, bahkan masih sering mandi telanjang bulat di sungai itu, meskipun sudah duduk di SMP. begitupun teman-teman seumurku yang perempuan. Hanya saja, kebiasaan itu langsung berhenti setelah kami yang laki-laki dikhitan dan yang perempuan mengalami menstruasi pertama. Sejak itulah, semuanya menjadi tidak biasa.

Khitan dan menstruasi, ternyata membawa berbagai macam tabu bagi kami yang laki-laki maupun yang perempuan. Kami dianggap sudah cukup dewasa sehingga tidak lagi pantas untuk membiarkan alat kelamin kami masing-masing dilihat orang. Sejak itu pula, aku berinteraksi dengan teman perempuanku sedusun yang dulu biasa mandi telanjang bersama, secara berbeda.

Setelah dewasa, entah bagaimana ceritanya, tidak ada satupun dari teman seumuranku yang dulu itu saling menikah atau pernah pacaran. Aku sendiri tidak pernah tertarik –sebagai lelaki kepad aperempuan yang sama aqil baligh– kepada salah satu dari teman perempuan sepermandianku. Padahal, beberapa kawan SMA bilang dua-tiga tetanggaku adalah gadis yang cantik dan ayu.

Ketika ditanya, kenapa tidak tertarik kepada salah satu gadis sedusunku, aku tidak bisa menjawab samasekali. Apakah karena aku sudah terbiasa melihat mereka telanjang bulat, begitu pula sebaliknya? Wallahualam bissawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s