Mbak Penjaga Toko HP

Pelajaran di Sabtu Sore menjelang malam Minggu
Hirmaningsih Rivai

Kemarin sore, ku dan seorang teman mencari sebuah kado. Salah satu dari alumni kost-kost kami menikah seminggu yang lalu lalu di Kampung halamannya. Ia bekerja dan mendapatkan belahan jiwanya di Medan. Setelah mendapatkan kado sesuai dengan jumlah saweran teman-teman kost, maka kami berjalan-jalan cuci mata sepanjang Mall….

Ku senang berjalan-jalan dengan temanku ini. Ia berasal dari Pekanbaru juga, sedang mengambil Spesialis penyakit dalam, sudah menikah, dan yang pasti gayanya cuek. Kami bisa makan dimana saja tanpa peduli tempatnya seperti apa, yang penting halal, bersih dan ramai orang sebagai penanda makanannya enak. Jika cari barang ia memperhatikan dengan teliti. Jadi seringnya ia yang memilih barang termasuk barang pribadi yang ingin ku beli ha ha ha. Jadi asyik…asyik.. aja. Jika ketemu cowok cakep maka ia gak peduli karena ia sudah punya suami. Tapi ia akan berbaik hati memberikan kode agar ku bisa menikmati Maha Karya Yang Indah itu sendirian, ha ha ha ha ha…

Kami juga singgah di sebuah toko hp. Bukan mau promosi. Tapi ya karena mau cerita yang menarik saja dari toko hp ini. Aku terpaksa harus beli hp baru karena sudah diamuk banyak orang. Ku punya 2 hp, yang satu BB. BB ku beli Juni 2010 yang lalu karena waktu itu aku butuh kamera dan Perekam jika turun lapangan mengambil data. Aku juga butuh cepat mengecek email. Saran temanku saat itu beli 1 dengan multi fungsi. Jadi no yang di BB hanya di ketahui secara terbatas, keluarga atau kolega yang sifatnya temporer. Jadi gak mengganggu pekerjaanku. Yang satu hp mungil hanya bisa SMS dan telpon tanpa fasilitas apa-apa. Usianya sudah 5 tahun lebih. Lebih tepatnya 5 tahun 4 bulan. Pada awal April 2011 yang lalu, saat tersungkur dalam banjir Medan, Hp tersebut yang ku letakan dalam kantung HP turut berenang. Jadinya suka tulalit. Kadang jelas suaranya, kadang kresek-kresek kadang gak dengar sama sekali. Makanya aku jadinya diamuk orang setiap aku menelpon atau menerima telpon.

Ketika sampai di toko hp itu, mbaknya yang cantik menyambut kami dengan ramah. Mbaknya memang cantik loh. Cantik menurut pandangan kebanyakan. Ia tinggi tapi tidak kurus, putih, rambutnya lurus sebahu, ada jerawat sedikit, dan memakai kawat gigi dengan karet yang berwarna biru. Ia menanyakan kebutuhanku apa dan mendengarkan dengan baik. Ia menunjukkan dummy dan harganya. Ketika ada beberapa pilihan, ia menjelaskan kelebihan dan kekurangan masing2. Ketika sudah ada 2 pilihan, ia perkuat alasan mana yang seharusnya aku pilih.

Nah yang aku suka dari mbak ini, ia mendengarkan dengan penuh perhatian dan bisa menjelaskan dengan lancar tanpa terbata-bata alias dia menguasai apa yang dijualnya. Ia tetap ramah dan masih becanda, ketika aku mulai kumat jahilku menanyakan yang macam-macam, alias rada-rada ngetes apakah ia menguasai semuanya atau tidak dan ternyata ia memang ahlinya. Sedangkan 2 temannya yang lain yang sedang melayani orang lain malah cenderung kaku, sering bertanya dengannya… he he he.

Tidak ada ekspresi yang mengesankan dia kesal dengan pertanyaanku yang macam-macam. Bahkan ketika ia tahu kondisiku maka ia menyarankan hp yang jauh lebih murah dibandingkan pilihan yang lain. Artinya yang benar-benar aku butuhkan karena fungsinya. Dan dengan harga yang relatif yang sama ia pilihkan yang mana kelihatan cantik. Jadi ia gak ngotot ku harus pilih yang mahal, walaupun pilihan itu masih masuk anggaranku. Kalau penjaga hp yang lain… tentunya lebih suka “maksa” beli yang lebih mahal. Ia juga gak keberatan kami meninjau harganya di toko yang lain, ketika kami nawar diskon gak dapat, ha ha ha, padahal mulutnya sudah berbusa hampir setengah jam menjelaskan.

Tiba-tiba raut wajahku merubah, ketika aku menangkap seraut wajah pemilik toko yang menunjukkan gak senang pada kami. Ia mendekat dan perlahan-lahan mengambil dummy-dummy yang ada di atas meja dan menyusunnya kembali dalam rak. Ha ha ha keisenganku ku kumat. Aku bilang: Mbak, kami pergi sholat Magrhib dulu ya dan perlu ke ATM ambil uangnya. Ok. Kalau gak kembali berarti kami nemu hp di tempat lain yang lebih menarik. Mbaknya dengan ramah mempersilahkan dan pemilik toko makin kecut aja wajahnya… ha ha ha ha

Setelah Sholat di lantai yang lain, mengambil uang di ATM, dan cuci mata melihat -lihat yang lain, satu jam kemudian kami ke toko itu lagi. Cuma ada satu pembeli. Ku menanyakan mana mbak yang melayani kami tadi, ho ho ho ternyata ia sedang melalang buana ke depan lorong tokonya mencoba baju di stand batik di lorong tersebut. Pas dia melihat kami, maka ia segera melepaskan rok batik yang sedang dicobanya dan menyapa kami. Dia gak mempersalahkan kami akan muncul atau tidak, mau beli atau tidak. Ku bertanya mana bossnya, ia jawab sudah pulang. Ketika ku bilang bossmu galak ya ? Dia hanya tersenyum, tertawa kecil dan mengatakan boss lagi sakit gigi kayaknya, ha ha ha. Dia gak menjelek-jelekan bossnya. Kayaknya dunia itu ceria aja.

Jika aku putuskan kembali ke toko itu, karena aku sangat menghargai pelayanan yang diberikan dengan tulus dan ramah oleh mbak penjaga toko tersebut. Ia cantik, tapi tidak sombong dan senyumnya selalu ada menghiasi wajahnya. Ekspresi wajahnya cerah jadi orang gak jutek melihatnya. Ia pun menguasai apa yang dijualnya sehingga ku mendapatkan gambaran yang jelas. Tidak menutupi kekurangan dari produknya. Ia gak memaksa-maksa dan selalu sopan. Sehingga berbicara dengannya seperti bicara dengan teman. Ia juga sabar, ketika dengan jelas-jelas aku kerjain, seperti memintanya mengambilkan bonus-bonusnya dulu, baru aku bayar…. kebetulan ada bonus 2 boneka mungil cantik dan kartu perdana. Aku sengaja memilih mana boneka yang ku maui, mana no yang juga ku maui. Ku juga memintanya mengisi kartu memory dengan lagu-lagu yang aku pilih ha ha ha ha.. Ceriwis ya,.. yo wis lah.

Ketika kami pulang: kami masih memperbincangkan mbak penjaga toko hp tadi. Ia cantik, pintar dan cerdas, ramah dan sabar. Mungkin nasibnya kurang beruntung sehingga gak bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Jika ia punya perjalanan hidup yang lebih baik dan dengan kepribadaiannya seperti itu, ku rekomendasikan untuk jadi costumer service bank, perusahaan atau lembaga. Jika dibimbing dengan baik maka bisa diprediksikan kinerjanya bagus dan memuaskan. ha ha ha

Sebagai konsumen, itu yang kurasakan… aku benar-benar puas dengan pelayanan yang diberikannya…

Medan, 16 Oktober 2011
Refleksi di Minggu Pagi Yang Dingin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s