Sudahkah anda mengambil makanan secukupnya ke dalam piring dan menghabiskannya ???

Sudahkah anda mengambil makanan secukupnya ke dalam piring dan menghabiskannya ???

Ketika membaca thread Mas Bambang N Karim tentang hal-hal kecil yang dampaknya tidak menyenangkan. Aku menuliskan komentar yang intinya sama dengan judul thread ini. Ingatan ku langsung melayang pada kejadian suatu sore dan sungguh… sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya.

Aku pindah kembali ke Pekanbaru kel…as 5 SD, setelahmasa kecilku berputar-putar di Kepulauan Riau. Ku punya teman SD yang merupakan adik kelasku sebutnya saja Dira (bukan nama yang sebenarnya). Ia lebih tua 2 tahun dariku. Akibat terlambat masuk sekolah dan tinggal kelas maka ia adalah adik kelas di SD. Di Madrasah sore kami sekelas, dan di malam hari saat mengaji di mesjid kami satu kelompok. Tidak terlalu dekat karena beda tingkat, beda SMP bahkan beda SMA. Ia tidak kuliah karena ayahnya adalah buruh pelabuhan yang sudah tua. Ibunya adalah PRT harian. Maksudnya tidak menginap, pergi pagi pulang sore. Ketika aku ke jogja dan sesekali pulang, aku cuma menyapanya saat ketemu di mesjid saat sholat taraweh, ketemu dii warung atau di jalan.

Dekat kembali dengannya ketika tahun 2003 aku kembali ke Pekanbaru dan bekerja di tanah kelahiranku itu. Dira bekerja di rumah tetanggaku sebagai PRT. Jika ia lewat depan rumahku, maka kami akan saling menyapa dan ngobrol barang sebentar. Ia selalu menyebut dirinya pergi bekerja. Karena datang jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore. Untuk hari-hari tertentu, ia pulang awal karena ikut pengajian dan arisan ibu-ibu RT di tempat ia tinggal. Kami tinggal berseberangan jalan sehingga beda RW. Dira sudah memiliki 2 orang anak. Setamat SMK ia bekerja sebentar di toko, lalu menikah dan punya anak. Suaminya tukang bangunan yang bekerja serabutan alias tidak tetap. Ia bekerja sebagai PRT sejak anaknya sudah masuk sekolah.

Tetanggaku itu sudah kami anggap saudara. 2 orang menantu ibuku “turun” dari rumah tante itu. Maksudnya turun adalah pada saat menikah, dua adik iparku memakai rumahnya sebagai tempat melangkah ke rumah kami. (Adik iparku semuanya dari luar kota). Jadi icak-icaknya tante itu adalah besan ibuku. Tante itu juga tidak punya anak perempuan. 3 anaknya laki-laki dan sangat hormat pada kami. Mereka memanggilku, adik-adikku dengan kakak. Kami pun leluasa makan di sana. Saat lebaran kemarin mama gak dirumah karena lebaran di Jakarta, maka kami buat kue dan lain-lainnya di sana.

Karena sudah dianggap anak maka jika tante itu ada acara, kami akan membantu. Biasanya jatahku ku adalah cuci mencuci piring. Ha ha ha ha gimana lagi, ku kan kerja mana bisa membantu masak, lagian aku gak sehebat Da Hasanudin Abdurakhman dalam masak memasak. Pulang kerja selalu sore, jadi ya dapat jatahnya cuci piring. Kegiatan kemasyarakatan, sering sekali dilakukan sehabis Ashar (sore) atau malam.

Kali ini tante tersebut punya acara arisan. Cukup ramai karena anggotanya 100 orang jika hadir semua. Kenyataannya yang hadir selalu lebih dari 100 orang. Karena ibu-ibu tersebut selalu bawa anak, entah itu anak kecil atau anak yang statusnya untuk sementara adalah tukang ojek ibunya. he he he he. Dan karena si tante itu punya kebun sawit, murah hati, dan pandai memasak pula, maka makanan yang dibuat sangat banyak dan beraneka ragam. Benar-benar sangat menggoda untuk diambil dan disantap.

Nah kembali ke Dira, temanku itu. Kami berdua kebagian cuci piring. Yang mengangkat piring-piring kotor ya ibu-ibu yang lain. Ketika kami mau mencuci piring, kami mendahulukan gelas, sendok, mangkok, piring, barulah panci-panci. Tujuannya biar air tidak terlalu berminyak di dalam ember, walau air tetap dalam keadaan mengalir. Selain itu untuk memudahkan pencucian dan pengaturan pengeringan saja. Saat mencuci piring, kami memisahkan kotoran tisue dan sisa makanan. Sisa makanan dikumpulkan jadi satu untuk makanan ternak yang di pelihara di rumah. Kebetulan Dira memelihara ayam dan bebek di rumahnya.

Ku memilih menyabun barang-barang itu dan dia bagian memisahkan sisa-sia makanan itu. Saat ia melakukannya ia lebih banyak diam,… padahal biasanya kami suka bercerita. Matanya berkaca-kaca dan berusaha menahan air mata. Aku tahu apa yang di pikirannya. Maka aku berujar “Memanglah orang-orang ini keterlaluan, ambil makanan banyak-banyak, tapi gak dihabiskan, bahkan ada lauk-pauk yang gak disentuh sama sekali.” Saat itu Dira hanya mengangguk lalu mengatakan “iya,.. padahal banyak yang gak makan.” Lalu ia bercerita bagaimana ia berjuang dalam hidupnya. Mengatur gajinya.. dan gaji suami agar bisa makan dan menyekolahkan anak-anaknya. Walau selama bekerja di rumah tante tersebut ia gak pernah masak lagi di rumah karena tante tersebut selalu memintanya membawa pulang makanan yang dimasak karena ia sudah seharian disana. Jadi gajinya utuh bahkan jauh lebih besar dibandingkan tempat dia yang dulu dan dengan pekerjaan yang lebih sedikit. Waktu itu ia bekerja dengan tante tersebut baru beberapa bulan. Ia bercerita ada masa yang sangat sulit dia hadapi sehingga makan dengan telur adalah kemewahan keluarganya. Jadi hatinya teriris-iris ketika ia melihat lauk-pauk yang ada dipiring kotor yang tidak dihabiskan bahan tidak disentuh sama sekali.

Bagiku, sulit rasanya menghilangkan kenangan ekspresi wajahnya di sore hari itu. Bagaimana ia dengan tatapan diam namun matanya berkaca-kaca membersihkan piring kotoran itu. Bisakah dibayangkan ? Dan aku pun merasa berdosa setiap kali tidak menghabiskan makanan. Lebih baik ambil seperlunya. Kita bisa menakar kok bakalan habis seberapa. Jika rantanganku saat ini gak akan ku sentuh, maka akan ku lelang ke teman-teman kostku. Biasanya mereka tertawa setiap kali mendengar aku yang mengucapkan terimakasih karena telah ada yang mau menghabiskan. Teman-temanku yang usianya 20 tahunan itu merasa aneh dan mengatakan seharusnya dia yang berterimakasih. Akhirnya hanya ku respon, ya sudah kita saling berterima kasih. Dia berterimakasih karena mendapat makanan dan aku berterimakasih karena aku tidak menyia-nyiakan makanan.

Jadi, benarlah… aku memang sebal, jika di acara arisan, mantenan atau acara apapun yang orangnya yang mengambil sendiri makanannya, sewenang-wenang. Ambil banyak, lalu gak tanggung jawab. Gak bisa memperkirakan takaran perutnya seberapa. Kalau ambil banyak lalu dihabiskan ya,.. gak apa-apa sih.

Jadi……. sudahkah anda mengambil makanan secukupnya ke dalam piring dan menghabiskannya ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s