Apa yang kau cari wahai pemuda?

Apa yang kau cari wahai pemuda?

Umi Gita

(1928)

Apa yang kau cari, wahai pemuda? Di tengah sebuah negeri subur makmur, bagaikan sebongkah tanah surga turun ke dunia. Inilah negeri zamrud khatulistiwa yang dikaruniakan Tuhan. Maka kita pantas berbangga karena negeri kita menyilaukan mata dunia—mata kerajaan China, pedagang Gujarat hingga orang-orang Eropa.

Wahai Ibunda, pantaskah kita menyebut tanah ini adalah sebuah negeri kita? Mungkin kejayaan hanyalah milik Majapahit yang mampu mempersatukan Nusantara. Ataupun milik Sriwijaya yang menguasai seluruh Nusantara. Tapi kini….lihatlah kita tertunduk patuh pada koloni kulit putih bangsa Belanda. Kita berikan semua kekayaan alam kita dengan harga murah, kita kerjakan semua pekerjaan rodi dengan diam. Kita tunduk patuh dalam aturan mainnya. Inilah negeri yang terjajah!

Apa yang kau inginkan, wahai pemuda? Apa yang akan kau lakukan? Beribu-ribu perang hanyalah jalan yang tak berguna. Hanyalah meninggalkan nama-nama yang mati melayang begitu saja.

Wahai Ibunda, tak ada kemenangan tanpa persatuan. Dan tak ada pencapaian tujuan tanpa pengorbanan. Bukankah itu sudah termaktub dalam kitab akhir zaman? Bahwa Tuhan mencintai mereka yang berperang dalam barisan yang teratur. Sehingga tak ada kata lain, kita harus bersatu!

(…..rekaman sumpah pemuda)

——————-

(1945)

Apa yang kau cari pemuda? Mengapa kau mendesak tuk memerdekakan negeri ini? Para penjajah itu sudah berjanji tuk keluar dari Indonesia dengan sendirinya. Dan mereka akan memberikan kemerdekaan pada kita? Lihatlah perpolitikan dunia, bukankah Jepang sudah menyerah pada sekutu? Dan kita hanya tinggal menunggu waktu.

Wahai Ibunda, kemerdekaan itu adalah sebuah gerakan nurani. Bahwa tidak ada hukum apapun di muka bumi ini yang membenarkan penjajahan, lebih lagi penindasan manusia di atas manusia lainnya. Kemerdekaan bukanlah sebuah penantian. Dan bukan pula pemberian penjajah.

Apa yang kau inginkan wahai pemuda? Apa yang akan kau lakukan? Janganlah gegabah dengan tindakan. Janganlah sembrono dengan keputusan. Ini nasib seluruh rakyat Indonesia.

Ibunda,

merdeka saat ini atau tidak sama sekali!

(…..rekaman teks proklamasi)

—————–

(1998)

Apa yang kau cari lagi, pemuda? Di tengah negara yang kini sudah merdeka. Negara yang sedang membangun setiap jengkal tanahnya. Dan dipimpin seorang jenderal yang terus dipercaya hingga tiga puluh dua tahun lamanya. Negeri ini sudah lebih baik dari dahulu kala.

Wahai Ibunda, sesungguhnya negeri ini tidak baik-baik saja. Pembangunan infrastruktur yang tak dibarengi dengan suprastruktur masyarakat. Mental mental priyayi dan pengkultusan individu mewarnai tata pemerintahan yang membodohi rakyat. Biarkanlah kami bergulat dengan pemikiran kami. Biarkanlah kami mencari kebenaran yang hakiki. Bahwa keadilan harus tegak menghempaskan tirani. Bahwa kesejahteraan seluruh rakyat adalah hak yang pasti. Dan suara akan perbedaan tak layak tuk dibungkam di dalam jeruji besi.

Apa yang kau inginkan wahai pemuda? Apa yang akan kau lakukan? Pelajaranmu di kampus ini belumlah usai. Tak perlulah bersikeras dengan idealisme yang belum menyeluruh walaupun semangatmu tak tertandingi.

Ibunda tercinta, maka ijinkanlahh kami berjuang. Biarkan pemikiran hasil diskusi setiap malam-malam ini diletupkan di Ibukota-di gedung-gedung tempat bercokolnya hegemoni kekuasaan itu. Agar perubahan Indonesia yang tereformasi pasti terjadi.

Ibunda, maaf… aku pulang terlambat waktu.

(….rekaman kerusuhan 1998)

————–

(2010)

Kini, apa yang kau cari wahai pemuda? Setelah engkau berusaha menyatukan identitas atas nama ‘Indonesia’. Setelah engkau mendesak tuk proklamirkan kemerdekaan. Dan setelah engkau berjuang meruntuhkan kuasa yang absolut. Tapi kini…mengapa engkau terkapar tak berdaya di hadapan obat-obat ectasy, di hadapan majalah dan video porno juga gaya hidup yang konsumtif. Engkau puas dalam gairah cinta dan pesta di bawah lampu diskotik yang berkilat kilat dan dentuman musik disko. Engkau senang untuk mencari mati konyol melalui tawuran dan pertikaian konflik yang tak berujung.

(…..musik diskotik)

Kini lihatlah bangsamu, wahai pemuda. Lihatlah bangsamu bermental pengemis dengan mencari pinjaman luar negeri. Lihatlah bangsamu yang menjadi beringas dan pecundang, karena yang senang bertikai tak hanya rakyat tapi juga pejabat. Lihatlah kini bangsamu yang minim akan prestasi dunia, dari soal ekonomi hingga olahraga. Dan lihatlah bangsamu yang tak dapat menghargai putera-puteri terbaiknya, sehingga mereka rela menggadaikan kemampuannya untuk negara lain.

Apa yang kau cari pemuda? Mengapa kau hanya diam melihat ini semua? Dimana idealis mu yang selama ini kau agungkan? Dimana semangat perubahanmu yang selama ini kau banggakan?

Bangun pemuda…bangun! Karena ternyata perjuanganmu tak berakhir disini. Engkau masih perlu mengada untuk perubahan di setiap zaman.

 

By: Umi Gita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s