Memoir: Lebaran Haji bersama BB King, Jimmy Page dan Robert Plant

 Memoir; Lebaran Haji bersama BB King, Jimmy Page dan Robert Plant

Aku mengawali November dengan suasana hati yang baik. Kawan-kawan sekantor yang menyenangkan, suasana kerja yang memberi ruang cukup untuk imajinasi kreatif, hubungan kerja yang casual, mitra diskusi yang sungguh-sungguh dan beberapa lainnya lagi. Tapi akhir bulan itu aku akhiri dengan haru biru; bapak di kampung sakit sangat seriu…s sehingga aku harus buru-buru pulang. Jadilah aku LWOP (leave without pay). Itulah istilahnya, mirip judul film lama Jean-Claude Van Damme, AWOL alias absent without leave.

Desember tentu saja kumulai dengan perasaan takut kehilangan, rasa bersalah dan sebagainya; aku kembali ke Aceh meskipun bapak belum pulih benar, sementara anak-anakku menghendaki aku tinggal lebih lama bersama mereka di Jogja. Pokoknya, selama dua pekan pertama bulan ini I started the days in blue. Dan sampai saat aku membuat catatan ini, aku tahu bahwa kesehatan bapakku tidak pernah cukup stabil. I cross my fingers for him….

Menjelang pertengahan bulan, Manajer HRD meninggalkan surat di mejaku; kontrakku akan diperpanjang, setidaknya sampai pertengahan tahun depan. Aku tidak sepenuhnya gembira dengan itu karena perpanjangan masa kerja di Aceh berarti makin banyak mengurangi waktuku berkumpul bersama anak-anakku, menemani mereka belajar, mengantar ke sekolah, menyiapkan telur dadar jamur atau masak spaghetti kesukaan mereka. Tetapi, aku cukup senang dengan surat itu karena ada tantangan yang belum aku selesaikan selama dua bulan pertama aku bekerja di sini.

Sayangnya, menjelang tutup tahun, hampir tidak ada lagi hal baru yang menyenangkan. Sebaliknya, justru menyebalkan.

Mulai Senin 17 Desember, sebagian orang sudah mulai meninggalkan kantor. Mereka mengambil cuti panjang, sekalian memanfaatkan libur Lebaran Haji dan Natal yang berdekatan. Kantor sendiri menetapkan libur mulai 20-26 Desember. Maka, ada saja kawan yang sudah tidak di kantor sejak pertengahan bulan dan baru akan kembali 2 Januari tahun depan.

Sebenarnya aku ingin pulang, merayakan Lebaran Haji di rumah bersama istri dan anak-anak. Apalagi kami berkurban juga di Jogja. Tetapi, memang tidak ekonomis jika aku harus pulang untuk Lebaran Haji kali ini. Terlebih, tanggal 4 Januari nanti aku berencana menemani istri dan anak-anak liburan di Bogor dan Jakarta. Maka, jadilah aku merayakan Lebaran Haji di Banda Aceh.

Beberapa hari sebelumnya, orang-orang sudah mengingatkanku untuk bersiap-siap karena pada hari meugang, warung-warung biasanya tutup. Dan pada hari lebaran, Banda Aceh akan sepi. Transaksi ekonomi berhenti. Tidak ada orang jualan. Maka, Rabu kemarin aku sempatkan belanja, membeli sekotak sereal, beberapa bungkus biskuit dan sebotol air mineral. Kupikir cukuplah itu.

Dasar bodoh, rupanya aku salah hitung. Kupikir pasti tetap akan ada warung makan yang buka, sehingga aku tidak belanja makanan dalam jumlah yang cukup. Dan Rabu sore, aku terpaksa keliling Banda Aceh, mulai dari Peunayong sampai Ulee Kareng, untuk mencari sepiring nasi, sayur dan satu dua potong lauk. Tidak ada warung makanan buka. Hasilnya, nihil! Memang ada satu yang aku lihat, Bakso Lapangan Tembak di Jl. Tk. Nyak Makam. Tapi, aku sudah tahu bakso ini tidak enak, setidaknya menurut pengalamanku, dan dikonfirmasi beberapa teman sekantor.

Setelah lelah berkeliling akhirnya aku kembali ke Peunayong. Hari sudah lewat maghrib, perasaan dongkol menggumpal. Akhirnya, dengan putus asa aku masuk Intense Audio. Ini satu di antara beberapa toko non-makanan yang buka. Kupikir, kalau memang harus tetap ada di kost karena cari makan di luar pada Lebaran Haji pasti akan sia-sia, aku beli dua keping DVD Video untuk sekadar penghibur diri; Lightning in a Bottle dan No Quarter Unledded.

Keping pertama berisi rekaman pementasan puluhan artis untuk memberi tribute kepada musik blues di Radio City Music Hall, New York pada 7 February 2003. Ada BB King, Natalie Cole, Bonnie Raitt, John Fogerty, Solomon Burke, Neville Brothers, Buddy Guy, Moody Blues, Alison Krauss, Steve Tyler dan Joe Perry, Robert Cray, Shemekia Copeland dan masih banyak lagi. Sedangkan keping kedua adalah video Jimmy Page dan Robert Plant, berisi lagu-lagu Led Zeppelin yang diaransir ulang. Aku membeli CD-nya tahun 1996 dulu, ketika bekerja sebagai reporter di Jakarta.

Dalam video itu, Page dan Plant tampil begitu bagus. Tentu karena aransemen musik yang terasa baru berkat sentuhan instrumen-instrumen tradisional Maroko yang dimainkan oleh artis-artis negeri kawasan Maghribi itu. Dan yang paling menarik penampilan Jason Bonham pada drum. Dia masih sangat muda, tetapi menunjukkan passion yang luar biasa terhadap alat musik itu. Lebih penting lagi, dia adalah anak almarhum John Bonham, penabuh drum LZ yang meninggal awal 80-an. Ada lagi pemain bass Chalie Jones. Aku tidak yakin apakah dia anak John Paul Jones, bassist LZ dulu.

Keputusanku tidak salah. Setelah shalat Ied di masjid dekat kost padi tadi, aku benar-benar kesepian. Tidak ada yang dimakan, tidak ada kawan ngobrol. Yos di kamar sebelah sudah pergi berkunjung ke atasan dan kerabatnya yang ada di Banda Aceh. Untungnya, aku sempat minta air panas kepadanya untuk segelas sereal yang kubeli kemarin. Maka, BB King, Jimmy Page dan Robert Plant menjadi temanku sepanjang hari, melupakan rasa lapar seharian.

Beberapa saat setelah maghrib, istriku menelpon. “Aku baru saja bikin steak dari daging kurban,” katanya. Tiba-tiba, perutku menggelepar…

Banda Aceh, Desember 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s