Balada Asam Jawa di Tanah Rencong

Balada Asam Jawa di Tanah Rencong
Sisa catatan dari Aceh

Wahyu W. Basjir

Sekitar 25 tahun silam, ada sebatang pohon asam jawa sangat tua, yang tumbuh rimbun menaungi warung nasi pecel ibuku di pinggir jalan Banjarnegara-Bawang. Tepatnya di depan SMPN II Bawang, tak jauh dari rumah orang tuaku. Setiap musim, buahnya selalu lebat dan menjadi sumber kegembiraan anak-anak dusunku. Jika sudah mulai ada masak, maka anak-anak akan ramai berebut memanjat dan menggoyang keras-keras dahan dan rantingnya. Aku dan teman-teman yang tidak cekatan memanjat, berkerumun di bawah pohon, menunggu buah-buah asam yang masak atau mengkal jatuh dari tangkainya. Bertahun-tahun hal itu terjadi, dan kurasa teman-teman seumurku di kampung dulu masih ingat kegembiraan kami saat memanennya.

Pada pertengahan tahun 80-an Pemerintah melebarkan jalan raya karena lalu-lintas yang kian padat. Saat itu pula salah satu sumber keriangan anak kampung seperti aku berakhir. Atasnama pembangunan, pohon asam itu ditebang. Kayunya dibakar untuk memanaskan aspal dalam drum-drum besar yang akan memperhalus jalan raya itu.

Di Banda Aceh, keriangan masa kecil itu hadir kembali dalam ingatanku. Sebabnya sederhana; pohon asam jawa (Tamareindus indica, Linn.) bertebaran di berbagai sudut Banda Aceh. Mulai dari Bandara SIM sampai Lampineung. Mulai dari Tungkup sampai Punge. Di jalan depan rumah kostku, berjajar pohon asam jawa yang baru berumur beberapa tahu. “Pohon-pohon yang tua banyak yang mati setelah tsunami,” kata Oki, teman sekalogus pemilik rumah kost.

Bedanya, di sini tidak pernah kulihat seorangpun memanjat pohon asam jawa, apalagi memungut buahnya yang jatuh ke tanah. Mungkin anak-anak memang tidak lagi melihat ada keriangan yang bisa dinikmati dari pohon-pohon itu. Mungkin mereka lebih senang kebut-kebutan di jalan raya. Mungkin orang tua mereka tidak pernah menggunakannya sebagai bahan pangan maupun obat-obatan.

Semua itu kusebut mungkin karena aku sendiri tidak yakin. Padahal, di salah satu toko buah di kawasan Setui, aku menemukan beberapa kemasan kotak bermerk yang isinya buah asam jawa. Harganya Rp 18 ribu satu kotak. Apakah ada yang membelinya? Aku tidak tahu. Satu hal pasti, buah asam jawa dalam kotak itu diimpor dari Thailand!

Di kampungku, asam jawa disebut asem kamal. Buah itu disebut juga tamarind (Inggris), tamarinier (Perancis), celangi (Sunda) atau asam (Melayu). Buah tropis yang entah berasal dari mana ini berasa asam saat masih muda karena kandungan asam tartarat yang tinggi. Semakin tua, kandungan tartaric acid itu berkurang, sementara kandungan gulanya naik sehingga berasa lebih manis.Buah asam yang matang terdiri atas 40-50% bagian yang dapat dimakan, dan per 100 g berisi: air 17,8-35,8 g, protein 2-3 g, lemak 0,6 g, karbohidrat 41,1-61,4 g, serat 2,9 g, abu 2,6-3,9 g, kalsium 34-94 mg, fosfor 34-78 mg, besi 0,2-0,9 mg, tiamin 0,33 mg, riboflavin 0,1 mg, niasin 1,0 mg, dan vitamin C 44 mg. Biji segarnya mengandung 13% air, 20% protein, 5,5% lemak, 59% karbohidrat, dan 2,4% abu. Menurut para ahli, kandungan bahan kimianya yang kaya membuat buah asam jawa dapat dipakai untuk membuat obat-obatan. Situs PDII-LIPI menyebut setidaknya ada 15 gangguan medis yang dapat dikurangi oleh buah asam jawa muda maupun tua yang diolah dengan berbagai cara.

Di Jawa, buah asam jawa biasa diolah dengan kunyit untuk mendapatkan jamu kunir asem. Tetapi, aku tidak tahu lagi adakah jamu tradisional lain yang juga menggunakan asam jawa. Dan di Banda Aceh, orang mungkin samasekali tidak mengkonsumsi ataupun membudidayakan tanaman buah tersebut. Padahal selain dapat dikonsumsi, asam jawa dapat dibudidayakan dengan nilai jual yang baik. Contohnya, ya beberapa kotak yang kulihat ada di toko di Setui itu.

Di Thailand, tanaman itu dikembangkan secara serius, terutama di kawasan Delta Tengah. Berkat budidaya yang serius, pohon hasil penyambungan sudah bisa berbuah dan dipanen pada usia 3-4 tahun. Di Filipina, buah dari kultivar asam dipanen dalam dua tahap: polong hijau untuk bumbu penyedap, dan polong matang untuk diproses. Buah kultivar manis dipanen dalam dua tahap pula: setengah matang (tahap “maiasebo”) dan tahap matang penuh. Pada tahap setengah matang, kulitnya mudah dikupas; daging buahnya berwarna hijau kekuningkuningan dan konsistensinya mirip daging buah apel. Buah mengkal ini yang paling kusuka sewaktu aku kanak-kanak dulu.

Di Filipina, angka 200-300 kg polong/pohon dianggap hasil yang bagus. Sedangkan di India dan Sri Langka, olahan daging buah per pohon (besar) mencapai 170 kg/tahun; hasil rata-ratanya 80-90 kg. Untuk 100 pohon/ha angka di atas berarti 8-9 ton daging buah olahan per hektar per tahun. Kalau satu kotak 2,5 ons berharga Rp 18 ribu, maka dari lahan satu hektar mungkin dapat diperoleh hasil senilai Rp 648 juta dalam setahun! Mengingat biaya perawatannya yang relatif mudah dan murah, pendapatan dari budidaya asam jawa sebenarnya cukup menggiurkan.

Sambil geleng-geleng kepala membayangkan hal itu, kurasakan keriangan masa kanak-kanak dari buah asam jawa yang kupungut di pinggir jalan tadi.

One thought on “Balada Asam Jawa di Tanah Rencong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s