Menjaga Hubungan Baik

Menjaga Hubungan Baik

Hasanudin Abdurakhman

Di suatu hari, sekitar bulan Oktober 1999, sensei (profesor pembimbing) memanggil saya. Waktu itu saya baru saja selesai studi di tingkat master dan mulai menjalani masa studi program doktor. “Saya akan pindah ke Kumamoto. Dan saya ingin kamu ikut saya.” katanya. Saya terkejut.

“Kenapa? Kenapa Sensei pindah ke Kumamoto?” tanya saya.

“Saya akan jadi profesor di sana.” jawabnya.

Sensei saya ketika itu adalah seorang Associate Professor di Tohoku University. Tadinya dia berharap menjadi profesor saat profesor atasan dia pensiun. Tapi harapannya tak terlaksana, orang lain yang menjadi profesor di grup riset dia, sedangkan dia tetap jadi Associate. Lalu dia mencari universitas lain di mana dia bisa menjadi profesor, akhirnya dapatlah dia pekerjaan sebagai profesor di Kumamoto University. Saya waktu itu adalah satu-satunya mahasiswa di bawah bimbingan dia. Selama ini sayalah yang mengelola, merawat, mengoperasikan, dan menjaga alat-alat eksperimen miliknya. Karena itulah dia mengajak saya.

Tentu saja saya bimbang, karena saya tak tahu Kumamoto itu seperti apa. Saya cari tahu, dan saya temukan bahwa tak ada komunitas Indonesia di sana. Mahasiswa Indonesia di Kumamoto saat itu hanya ada satu orang, dan sulit dihubungi. Sulit bagi saya untuk membayangkan hidup di kota yang tidak ada orang Indonesia di sana. Saya sudah terbiasa dengan Sendai, di mana ada sekitar 50 orang mahasiswa Indonesia.

Tapi saya sendiripun tidak punya banyak pilihan. Menolak ikut dengan Sensei berarti saya harus melepaskan diri dari bimbingan akademik dia, yang bisa berarti saya harus memulai topik riset baru. Pengalaman beberapa kawan yang saya dengar menunjukkan bahwa hal ini tidak mudah. Banyak mahasiswa yang harus memperpanjang masa studi karena masalah ini. Akhirnya saya putuskan untuk ikut Sensei pindah ke Kumamoto. Hanya saja status kemahasiswaan saya tetap di Tohoku University. Di Kumamoto saya hanya akan menjadi research student.

Menjelang berangkat, salah seorang teman istri saya yang dia kenal melalui sebuah kegiatan yang melibatkan orang asing memberi kami nomor telepon pamannya. Dia bilang, kalau ingin berkenalan, silakan saja. Karena saya memang tidak punya kenalan sama sekali, saya teleponlah orang itu tak lama setelah kami tiba. Di luar dugaan saya, sambutannya luar biasa. Dia langsung mengajak kami pergi makan malam. Dan setelah itu komunikasi terus berlanjut. Kami diundang ke rumah mereka, dan diperkenalkan dengan kawan-kawan dia yang lain. Dari situ kenalan kami di Kumamoto bertambah drastis. Dari berbagai kenalan baru itu kami banyak menerima bantuan dalam berbagai bentuk.

Setelah itu kami mendapat lebih banyak kenalan lagi, dari berbagai sumber. Dari program homestay, kerja paruh waktu, kegiatan kursus bahasa Jepang istri saya, dan sebagainya. Ada pula yang kami kenali dari interaksi harian, seperti pasangan kakek-nenek yang tinggal di depan apartemen kami, atau ibu-ibu yang berjualan di pasar. Ada juga dokter yang merawat istri saya sejak hamil hingga melahirkan, dan setelahnya, serta dokter yang merawat Sarah anak kami. Meski berbeda latar belakang, beda bangsa, suku, agama, kami berhubungan sangat baik. Mereka ini serba ramah belaka.

Ketika kami hendak pulang, terasa benar beratnya meninggalkan mereka. Terasa benar betapa kami selama ini banyak berhutang budi. Karena itu kami sempatkan berkeliling mendatangi mereka satu per satu untuk berpamitan. Beberapa kelompok kemudian menyelenggarakan pesta berpisahan (soubetsukai) untuk kami.

Pesta perpisahan dengan salah satu keluarha.

Memeriksakan kehamilan (Ghifari) sekaligus berpamitan dengan dokter.

+++

Ketika saya mulai bekerja di perusahaan tempat saya bekerja sekarang di tahun 2007, pada suatu kesempatan saya berkunjung ke perusahaan induk. Saat itu President Director yang sekaligus pemilik perusahaan berpesan, “Saya punya banyak teman. Sangat banyak. Dan kamu sekarang bergabung di perusahaan saya. Kamu sudah menjadi salah satu teman saya. Saya selalu menjaga hubungan baik dengan teman-teman saya. Saya harapkan kamu juga begitu. Kalau ada teman yang kamu kenal selama kamu tinggal di Jepang, sensei kamu, jaga hubungan dengan mereka. Atur waktu kamu agar kamu bisa mengunjungi mereka.”

Saat itu pesan yang saya tangkap hanyalah “menjaga hubungan baik”. Soal kunjungan, saya anggap itu basa basi belaka. Saya datang jauh-jauh ke Jepang untuk urusan pekerjaan. Rasanya tak patut bagi saya untuk memanfaatkannya bagi kepentingan pribadi. Di samping itu biaya untuk bepergian dari Hiroshima, tempat kantor pusat perusahaan saya, ke Kumamoto atau Sendai juga tak sedikit. Pesan tadi akhirnya saya laksanakan dengan menelepon berbagai kenalan itu.

Tapi ternyata saya keliru. Bos memang menginginkan saya pergi mengunjungi orang-orang itu. “Biayanya ditanggung perusahaan. Kamu pergi lah. Terserah, mau ke Kumamoto atau ke Sendai. Sensei kamu khususnya pasti akan senang kamu kunjungi.” kata dia. Lalu saya putuskan untuk pergi. Tadinya saya berniat pergi ke Sendai, tempat sensei saya menghabiskan masa pensiun. Tapi karena perjalanan ke Sendai cukup melelahkan, saya putuskan untuk pergi ke Kumamoto saja. Kebetulan sekarang sudah ada jalur shinkansen yang memungkinkan perjalanan Hiroshima-Kumamoto ditempuh dalam waktu 1,5 jam saja.

Dua hari waktu saya di Kumamoto saya habiskan untuk bertemu dengan banyak teman. Mereka sangat senang bisa bertemu kembali. Mereka berkumpul untuk menyambut saya, dan kami makan bersama. Uniknya, beberapa di antara mereka selama ini tidak pernah bertemu, dan jadi bertemu lagi karena saya. Saya juga mengunjungi mahasiswa Indonesia di Kumamoto, yang saat ini mencapai lebih dari 50 orang.

Dalam perjalanan pulang ke Indonesia saya juga menyempatkan diri bertemu dengan guru bahasa Jepang saat dulu masih belajar bahasa di Kuala Lumpur. Hadir pula pengelola program beasiswa yang saya pakai saat studi di Jepang. Sungguh sebuah pertemuan nostalgia, karena kami tidak bertemu selama 15 tahun.

Perjalanan ke Jepang kali ini cukup melelahkan. Tapi saya senang, bisa bertemu kembali dengan banyak orang. Sebenarnya masih ada beberapa orang yang hendak saya temui, tapi batal karena berbagai hal. Untuk apa semua itu? Secara khusus tak ada manfaatnya, kecuali bahwa kami bertemu kembali satu sama lain. Dan saya memang tidak mengharapkan lebih dari itu. Lalu, apa pula untungnya bagi perusahaan sehingga pimpinan rela membiayai perjalanan saya? Tak jelas juga. Semata-mata, seperti kata pemilik perusahaan tadi, menjaga hubungan baik.

Tapi seingat saya hubungan baik itu selalu ada saja manfaatnya. Kita tak pernah menyangkanya. Tapi manfaatnya selalu ada. Saat mulai bekerja di perusahaan, pengetahuan saya tentang dunia bisnis adalah nol. Untuk mengatasi berbagai masalah saya selalu bertanya kepada siapa saja. Di saat itu hubungan baik dengan orang terasa benar manfaatnya. Ada teman waktu kuliah dulu. Ada juga teman dari satu program beasiswa di Jepang, yang sebenarnya nyaris tak pernah bertemu sebelumnya. Dan mereka ini mau membantu.

Di masa depan, hubungan yang kita miliki saat ini mungkin akan berguna. Atau mungkin tak berguna, selain untuk keperluan nostalgia belaka. Tapi bagi saya tak masalah. Teman adalah harta yang tak terhingga nilainya. Tak peduli apakah harta itu akan kita pakai atau sekedar kita simpan saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s