NASRUN

NASRUN
Hasanudin Abdurakhman 

Perpustakaan ini masih seperti yang kuingat saat aku rutin mengunjunginya sepuluhan tahun yang lalu. Tentu ada yang berubah. Gedungnya sudah dipugar jadi lebih besar. Dan otomatis menjadi lebih baru. Tapi bila aku masuk ke tempat di mana buku-buku disimpan, suasananya tak berubah. Ada deretan rak buku berjajar panjang seakan tak ada ujungnya. Di sisi deretan rak itu memanjang pula sebuah ruangan, tempat kursi dan meja diatur berjajar. Di kursi-kursi itu papa pengunjung duduk membaca. Di situlah dulu, sepuluhan tahun yang lalu, aku selalu menghabiskan waktu.

Aku pertama kali ke perpustakaan ini diajak abangku. Ini bermula dari keluhanku.

„Pelajaran yang menyebalkan.“

„Pelajaran apa?“ tanya abangku.

“Bahasa Indonesia.”

“Hah???” abangku tampak kesal.

Aku tahu mengapa dia kesal. Dia seorang guru mata pelajaran tersebut. Tentu bukan di sekolahku. Aku murid kelas satu, di sebuah madrasah tsanawiyah. Abangku guru SD. Dia mengajar sambil kuliah di Fakultas Keguruan, jurusan bahasa Indonesia. Keluhanku seperti gugatan terhadap dia pribadi.

„Iyalah. Orang disuruh menghafal. Aku benci hafalan.“

„Apa yang harus kau hafal?“

„Penulis sastra. Si anu mengarang novel anu, si Fulan mengarang buku ini. Juga menghafal ringkasan isinya. Untuk apa pelajaran macam ini? Tak ada faedahnya.“

“Kalau pelajaran matematika kita disuruh berhitung. Otak kita terpakai. Lagipula hitung-hitungan itu terpakai untuk hidup sehari-hari. Ini, sudahlah tak pakai otak, tak ada pula faedahnya.” kataku melanjutkan omelan.

Abangku terdiam.

Esoknya, sore hari dia ajak aku pergi.

„Ikut aku.“ katanya sambil mengeluarkan sepeda motornya.

„Ke mana?“

„Ikut saja lah.“

Aku menurut. Dan dia membawaku ke perpustakaan. Hari itu pengalaman pertamaku ke perpustakaan. Luar biasa. Aku suka perpustakaan. Di situ aku temukan buku-buku yang hanya tertulis judulnya di buku pelajaran bahasa Indonesia. Buku-buku itu benar-benar ada. Meski ditulis oleh para Pujangga Baru puluhan tahun yang lalu, ternyata masih ada dan masih bisa kubaca. Luar biasa. Dan cerita-cerita yang mereka tulis itu begitu memukau. Aku bisa duduk berjam-jam tanpa merasakan waktu berlalu kalau sedang membaca buku-buku itu. Beberapa buku bahkan aku baca berulang kali.

Sejak itu pelajaran bahasa Indonesia tak lagi membosankan. Aku tak cuma hafal siapa mengarang novel apa. Tapi aku juga tahu apa isi novel-novel itu. Sebut saja. Aku tahu semua. Tak Putus Dirundung Malang, Hulubalang Raja, Harimau, Harimau. Sutan Takdir, Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli. Sebut saja. Aku bukan Cuma hafal nama berikut karya mereka, aku sudah membaca semuanya. Di kelas aku bisa mendahului guruku ketika dia menjelaskan tentang pujangga-pujangga itu.

Tak cuma itu. Aku membaca banyak buku lain. Buku sejarah, termasuk sejarah Islam. Buku-buku agama yang biasanya hanya dibaca oleh orang-orang dewasa. Kelak ketika aku sudah SMA aku mulai membaca buku-buku politik.

Begitulah. Selama sekolah, hingga tamat SMA aku rutin mengunjungi perpustakaan ini. Terakhir aku berkunjung ke sini adalah beberapa hari menjelang keberangkatanku ke Yogya untuk kuliah. Kini aku kembali lagi ke kota ini. Usai kuliah dan jadi dosen. Aku ke perpustakaan ini untuk mencari beberapa buku, sekaligus bernostalgia.

Aku cari beberapa buku yang aku butuhkan. Lalu aku duduk di salah satu kursi, lalu mulai membaca. Tenggelam dalam buku yang aku baca, aku tak sadar betul sudah berapa lama aku duduk ketika lenganku digamit seseorang. Ketika aku menoleh, di sebelahku rupanya sudah duduk seseorang. Dia menatapku sambil tersenyum tipis.

“Nasrun!!!” nyaris aku berteriak, spontan.

„Masih ingat rupanya kau sama aku.“

„Bah, mana mungkin aku lupa. Sedang apa kau di sini?“ tanyaku spontan. Seingatku Nasrun dulu bukan pengunjung perpustakaan.

„Aku kerja di sini.“

„Oh ya? Bagian apa?“

„Tukang sapu.“ jawab Nasrun tenang, dan tetap tersenyum. Aku agak terkejut dengan jawaban itu, dan berusaha menyembunyikannya.
Lalu kami berbincang tentang masa lalu, juga tentang masa kini.

+++
Nasrun teman sekelasku waktu kelas satu tsanawiyah. Dia duduk persis di belakangku. Agak pendiam, tapi selalu tersenyum tipis. Ada bercak-bercak putih di wajahnya, mirip panu. Dua hal itu, senyum dan bercak putih, selalu aku ingat tentang Nasrun. Makanya saat melihat wajahnya tadi mulutku spontan meneriakkan namanya. Dua ciri itu masih melekat di wajahnya.

Meski wajahnya selalu tersenyum, kisah Nasrun adalah kisah sedih. Ia tak cukup pintar untuk mengikuti pelajaran sekolah. Hampir semua pelajaran dia tak bisa. Dia langganan kena pukulan rotan oleh guru matematika Juga langganan disuruh menunggu di luar kelas karena gagal menghafal hadis saat pelajaran quran hadis. Tak semua guru kami galak, memang. Ada beberapa guru perempuan yang tak pernah menghukum kalau murid tak bisa. Tapi tetap saja Nasrun sepertinya tak nyaman sekolah.

Nasrun baru tampak senang pada jam istirahat, saat kami bisa bermain di halaman sekolah. Juga saat pelajaran olah raga. Di pelajaran itu tak ada yang tak bisa. Semua bisa bermain.

Tapi Nasrun juga suka saat piket membersihkan WC. Dia kebetulan satu kelompok dengan aku. Bersama empat lima orang siswa lain aku membersihkan seluruh WC sekolah. Termasuk WC guru. Aku tahu Nasrun suka benar kalau mendapat giliran membersihkan WC. Itu karena ada ibu guru bahasa Inggris, wali kelas kami. Dia sangat sayang padaku. Semua anak di kelas kami tahu hal itu. Dan mereka pun tahu sebabnya. Karena aku pintar.

Tiap kali usai membersihkan WC, ibu guru itu selalu memanggilku ke ruang guru. Di mejanya sudah tersedia bubur kacang hijau, atau jajanan. Itu sisa makanan yang disediakan untuk para guru. Makanan itu diberikan padaku setiap aku selesai membersihkan WC. Tak semua anak dipanggil, karena makanan itu memang tak banyak. Biasanya cuma aku, dan anak lain yang kebetulan sedang di ]dekat aku. Karena itu Nasrun selalu berada di dekat aku kalau kami kebetulan sedang piket.

Makanan yang diberikan ibu guru itu selalu aku sambut dengan sukacita. Perutku sering lapar kalau sedang sekolah. Aku tak dapat uang jajan seperti kebanyakan kawan-kawanku. Tak ada uang untuk jajan. „Jangan minta-miinta uang jajan, ya. Kita orang miskin. Kau bisa sekolah saja sudah bagus.” Itu pesan Emak berulang-ulang waktu aku mau berangkat ke kota untuk melanjutkan sekolah usai lulus SD. Di kota aku tinggal bersama abang-abangku yang juga sedang sekolah.

Saat perut lapar, melihat kawan-kawan jajan kue-kue atau bakso, sangat tersiksa rasanya. Ada satu dua kawan yang mau berbaik hati berbagi makanan. Tapi tak sering. Aku pun malau kalau sering-sering ikut makan. Nah, saat perut lapar, makanan dari ibu guru tadi terasa sungguh lezat.

Aku suka Nasrun karena dia pendiam. Tak pernah mengganggu orang. Karenanya aku selalu sedih kalau melihat Nasrun dihukum. Tapi tak banyak yang bisa aku lakukan untuk membebaskannya dari hukuman.

Suatu hari, menjelang setahun sejak kami masuk madrasah ini, Nasrun tak masuk sekolah. Ini bukan yang pertama. Sesekali ada saja di antara kami yang tak masuk. Karena sakit atau halangan lain. Aku dan Nasrun pun begitu. Tapi kali ini berbeda. Sehari, tiga hari, lalu seminggu Nasrun tak masuk sekolah. Minggu berikutnya pun Nasrun tak masuk.

„Ke mana Nasrun?“ tanya wali kelas kami.

Tak ada yang menjawab. Kami semua tak tahu. Sakitkah dia?

“Siapa yang rumahnya dekat rumah Nasrun?“

“Saya, Bu.” jawabku.

“Nah, cobalah pulang nanti kau mampir ke rumahnya. Tanyakan kenapa dia tak masuk sekolah. Bilang sama dia, Ibu meminta dia kembali masuk sekolah.“

Aku mengangguk.

Siang itu aku sebenarnya sudah lapar dan ingin segera sampai ke rumah. Tapi ibu sudah menyuruhku, jadi harus aku laksanakan. Lagipula aku juga ingin tahu ada apa dengan Nasrun. Jadi aku tak langsung pulang.

Rumah Nasrun ada di sebuah gang, berjarak tiga gang dari rumahku. Aku hanya tahu itu. Tak pernah sebelum ini aku mampir ke rumah Nasrun. Setelah bertanya kepada orang barulah aku tahu persis di mana rumah Nasrun. Dan aku segera menuju ke situ.

Rumah itu sederhana sekali. Jauh lebih sederhana dari rumah kecil yang aku tempati. Beratap daun nipah, berdinding papan tak bercat. Lantainya juga papan. Rumahku juga berlantai papan. Tapi rumahku beratap sirap dan berdinding semen. Nasrun tak ada di rumah. Ia aku temukan sedang bermain layang-layang di sebuah tanah kosong tak jauh dari rumahnya. Aku langsung mendatanginya.

Nasrun agak terkejut melihatku. Dia tentu tak menyangka aku datang. Dia lalu tersenyum tipis, tapi tetap melanjutkan main layang-layang.

„Mengapa kau tak sekolah?“ tanyaku tanpa basa-basi.

Nasrun diam.

„Hey, menagapa kau tak sekolah?“

Nasrun tetap diam.

„Orang tua kau tak punya duit untuk bayar?“

Nasrun menatapku. Lalu dia mengangguk.

„Kau masuklah dulu besok. Ketemu ibu wali kelas. Mungkin dia bisa membantu. Dia kan baik sama kita.“

Nasrun kini menggulung tali layang-layangnya. Ia hendak menyudahi permainan. Aku tunggu sampai dia selesai. Lalu kami sama-sama duduk.

„Untuk apa kau sekolah?“ tanya Nasrun.

„Aku ingin lulus, menyambung, lalu kuliah. Kalau sudah jadi sarjana, kita kan bisa dapat kerja bagus. Gaji cukup. Nanti bisa bantu orang tua kita.“

„Nah, itu kau.“

„Kau kenapa?“ tanyaku.

„Aku tak bisa begitu. Naik kelas saja aku belum tentu. Lulus juga belum tentu. Melanjutkan ke SMA? Kuliah? Belum lagi soal biayanya. Ah, jauh kali itu mimpi.“

Aku diam. Nasrun benar.

„Aku bisa bantu kamu belajar.“ Aku mencoba menyemangati, tapi tak terlalu meyakinkan. Nasrun cuma diam, tersenyum tipis.

Itulah hari terakhir aku bertemu Nasrun, sebelum hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s