Pak Mansur, Guru yang tak Dikenang

Pak Mansur, Guru yang tak Dikenang
Hasanudin Abdurakhman

Badannya kecil dan kurus. Mukanya juga kecil, runcing, dihiasi kumis tipis. Ia suka tersenyum menyeringai. Sungguh tak menyenangkan melihat senyum itu. Terlebih setelah terlebih dahulu tahu siapa pemilik wajah dan senyum itu. Dia adalah Pak Mansur, salah satu guruku saat sekolah di Madrasah Tsanawiyah. Cerita tentang Pak Mansur tak pernah berupa cerita penuh inspiratif, tentang seorang guru yang cerdas dan baik hati. Pak Mansur adalah kebalikan dari semua cerita yang baik-baik tentang guru.

Ia guru kesenian, sebuah mata pelajaran yang sering dianggap tak penting. Karenanya kalau tak ada yang bisa, siapapun boleh mengajar mata pelajaran itu. Pak Mansur bukanlah seniman. Ia bahkan tak mengerti sama apapun tentang seni. Maka ketika ia mengajar kesenian, ia membawa buku dan menyuruh kami menghafal isinya. “Andante adalah bla bla bla. Adagio adalah bla bla bla.” Aku bukan tak suka menghafal, aku jago dalam hal ini. Pelajaran Quran dan Hadist adalah pelajaran hafalan. Setiap minggu kami disuruh menghafal beberapa ayat serta hadist beserta isinya. Menghafal ayat dan hadist sungguh menyenangkan bila kau sedikit mengerti bahasa Arab. Dalam banyak hal, menghafal ayat dan hadist memperkaya pengetahuan bahasa Arabku dengan berbagai kosa kata dan bentuk kalimat baru. Tapi hafalan yang disodorkan Pak Mansur sungguh tak ada manfaatnya. Aku benar-benar harus menghafal gerombolan kata-kata, tepat sampai ke titik koma, tanpa paham sedikitpun maknanya.

Tapi itu belum seberapa. Pak Mansur ini bukan pribadi yang menyenangkan. Ia suka menghina murid yang bodoh: murid yang tak mampu menghafal pelajarannya. Ia sering menghukum, bahkan memukul. Tapi pada saat yang sama dia juga membenci anak-anak yang pintar. Berbagai cara ia lakukan untuk memojokkanku ketika tak berhasil membuat aku terhukum oleh hafalan. Akhirnya, meski cemerlang dalam pelajaran lain, nilai mata pelajaran kesenianku tak pernah beranjak dari angka 6 atau 7.

Semua murid memandang buruk pada Pak Mansur. Bahkan sebelum kami masuk sekolah itu kami sudah memandangnya buruk. Kebetulan abangku sekolah di madrasah ini, dua tahun di atasku. Banyak dari kami yang begitu. Kami sudah mendengar cerita tentang Pak Mansur dari abang-kakak, sebelum kami masuk. Yang tak punya abang atau kakak sekolah di sini segera tahu tentang keburukan itu di hari pertama mereka masuk. Dalam gunjingan itu anak-anak tak lagi menyebutnya Pak, melainkan Si Mansur.

Saat aku kelas tiga, ada Rusli temanku yang cukup badung. Badannya tinggi besar. Waktu itu dia sudah masuk sasana tinju, menjadi petinju amatir. Suatu hari, entah karena apa, ia marah besar pada Pak Mansur. Ia lalu menghajarnya. Sebuah pukulan telak menghantam perut Pak Mansur, sampai tubuhnya melengkung menahan sakit. Kami segera melerainya. Rusli pun tampaknya tak berani bertindak lebih jauh dari itu. Aku sempat terenyuh melihat kondisi Pak Mansur. Tapi simpati itu segera sirna. Kuliah wajah Pak Mansur tetap angkuh saat berlalu dari situ.

Aku mengira Rusli akan dikeluarkan karena perbuatannya itu. Tapi ternyata tidak. Rupanya guru-guru lain pun tak berpihak pada Pak Mansur.

Kini, saat aku dewasa, aku selami lagi sosok Pak Mansur. Ia mungkin hanyalah seorang dengan bakat yang sangat minim. Tak ada keahlian selain baca tulis. Tak ada kelebihan. Bahkan ia mungkin tak diberi berkah yang cukup memahami bagaimana ia harus bersikap terhadap orang lain. Bagaimana menjadi sosok yang menyenangkan.

Ia menjadi guru bukan karena pintar, melainkan karena tak ada orang lain lagi yang mau mengambil pekerjaan itu. Pada sisi lain, ia juga tak punya pilihan lain untuk hidup, selain menjadi guru. Ah, aku lupa menegaskan bahwa Pak Mansur adalah guru honorer, bukan pegawai negeri. Dan setahuku ia tak diangkat jadi pegawai, tak ada yang mengusulkan dia untuk diangkat. Juga tak pernah ada yang mengusulkan guru tetap untuk pelajaran kesenian yang tak penting itu.

Aku bahkan kesulitan mencari manfaat apa yang pernah aku peroleh dari dia. Ketika kemudian aku mulai menyukai musik klasik, aku menemukan istilah andante, adagio, dan sebagainya. Aku lalu teringat pada Pak Mansur. Mungkin hanya itu manfaat yang pernah aku dapatkan dari dia. Tapi bagaimanapun juga, dia adalah guru. Setidaknya, dengan adanya dia sekolah bisa memenuhi syarat untuk menyelenggarakan pendidikan.

Dengan honor yang cuma beberapa puluh ribu rupiah sebulan itu tentu tak mungkin bagi Pak Mansur untuk meningkatkan kemampuannya. Ia bahkan mungkin tak tahu bahwa kemampuannya harus ditingkatkan. Ia hanya tahu bahwa ia harus pergi ke sekolah untuk mengajar.

Tapi tidakkah itu penting? Ya, dengan dibayar murah, dibenci oleh murid-murid, tak disenangi oleh rekan-rekan sesama guru, Pak Mansur tak pernah absen dari mengajar. Ia tetap hadir menjalankan amanah yang dia terima. Tidak protes pada gajinya yang kecil, pun tidak menuntut untuk diangkat jadi pegawai negeri. Ia rela penjadi pelengkap yang tak penting. Pelengkap yang sering dilupakan orang.

Ada banyak guru seperti Pak Mansur. Guru yang membuat kita sakit hati, yang membuat kita tak ingin mengingatnya. Tapi sekali lagi, mereka tetap guru kita, bagian dari seluruh guru yang pernah hadir di depan kita, memberi pelajaran yang membuat kita jadi kita yang sekarang.

Untuk Pak Mansur dan guru-guru yang terlupakan: Selamat hari guru!

One thought on “Pak Mansur, Guru yang tak Dikenang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s