Adakah Cinta Dalam Kerak Nasi?

ADAKAH  CINTA  DALAM KERAK NASI?

Hirmaningsih Rivai

+++++++++++++++++++++++

 INTIP,… aku bingung kenapa diberi  nama intip. Dari kecil aku cuma menyebutnya kerak. Ya.. ya kerak, kerak nasi. Aku tidak asing dengan kerak nasi. Nenek-nenekku menanak nasi dengan kayu, ibuku dulu bahkan sampai sekarang sebenarnya lebih suka dengan kompor. Katanya aroma nasi dan rasanya lebih enak  dimasak dengan cara tradisional itu daripada dengan peralatan elektronika yang serba modern dan serba cepat saji.

Aku pikir benar juga. Apalagi kalau berasnya berasal dari beras mudik ataupun beras Solok dari Sumatera Barat. “Bareh Solok” , kami menyebutnya. Ada lagu yang melantunkan  bahwa jika makan dengan bareh Solok betapa nikmatnya, “indak tantu mantua lalu.’ Maksudnya gak sadar atau gak tahu kalau mertua nya lewat. Ha ha ha ha demikianlah penggambarannya tentang bareh Solok. Sesungguhnya pun aku memang lebih suka bareh mudiak  atau barek Solok. Nasinya badarai tapi indak kareh,. Du du maaf,.. maaf… Maksudnya nasi dari beras mudik atau beras Solok berderai tapi gak keras. Kalau beras-beras di Jawa, kesanku bergetah alias agak-agak menyatu. Waduch.. aku susah menjelaskan perbedaan ini. Bagi yang tinggal lama di Jogja atau di Jawa dan pernah juga tinggal di Sumatera terutama Sumbar dan Riau tentu taulah perbedaannya.

Nah, kembali lagi ke kerak nasi, maka itu adalah panganan dan camilanku sehari-hari. Tentu saja dengan cara memasak nasi dengan kayu yang bara apinya di kurangi sedikit demi sedikit atau kompor dengan cara apinya dikecilkan sedikit demi sedikit maka tetap akan ada keraknya. Aku masih jago loh masak dengan cara tradisional ini. Dibutuhkan keterampilan sendiri agar keraknya tidak banyak. Jika keraknya sedikit, biasanya ku makan saja langsung ketika memindahkan nasi dari periuk ke tempat nasi. Tapi kalau tebal keraknya maka diletakanlah ke dalam “piriang kanso yang laweh”. Piring kanso yang laweh artinya piring besar dari seng. Nah jika ada mentari langsunglah dijemur. Setelah kering  digoreng, dan disantaplah. Para ponakanku juga suka.

Susahnya jika mentari tidak bersahabat, mendung atau hujan melulu. Nasib si kerak nasi tadi berjamur karena tidak cepat kering dengan sempurna. Biasanya itu jadi santapan ikan-ikan di kolam ikanku. Ho ho ho aku berpikir begitu alam mengatur keseimbangannya. Tetap ada jatah untuk ikan-ikan,.. gak perlu beri makanan ikan khusus.

Berkaitan denga kerak nasi itu, aku melihat banyak cinta di sana. Inilah kisah-kisahnya yang ku temui Cerita pertama berkaitan dengan ponakanku yang suka makan kerka nasi. Adik dan adik iparku sangat telaten menjemur kerak-kerak itu, karena meraka tahu para ponakanku sangat suka. Kalau hari hujan, kayaknya kerak itu yang diselamatkan terlebih dahulu baru pakaian yang dijemur.

Aku punya seorang tetangga, usianya sebaya dengan mama. Waktu dua orang adikku menikah, maka menantu mamaku turunnya dari tante tersebut. Menantu-menantu ibuku semuanya dari luar kota. Jadi harus dicarikan rumah dan keluarga sebagai tempat ia turun. Ia sangat suka intip Jogja. Saking sukanya ia menitipkan agar aku membeli Intip Jogja dan yang paling besar katanya. Walah demi keinginan si tante itu, ku membelikan yang paling besar dan bulat. Hebatnya  aku naik pesawat yang mesti transit. Intip yang hanya kerak nasi juga ikutan naik pesawat. Dan yang lebih hebatnya lagi, kerak itu sampai ke tangan tante dengan bulat utuh. Kenapa bisa begitu, karena aku memangkunya sepanjang perjalanan. Dan aku senang sekali lihat mata tante yang bersinar  melihat intip yang besar bulat utuh. Ha aha ha. Bisa bayangkan Jogjakarta – Pekanbaru dengan membawa intip yang tetap utuh. Kenapa aku memangkunya. Karena sebelumnya ada yang mengirimi si tante intip dari Jogja, pas sampai di Pekanbaru dalam keadaan remuk. Nah aku lihat sedikit kekecewaannya ketika gak melihat intip yang remuk itu. Kayaknya sensasinya beda. Ha ha ha ahah

Cerita yang menarik lagi tahun lalu, ibu kostku terpaksa membongkar lemarinya mencari periuk nasi. Gara-gara sudah sangat lama periuk itu disimpan. Ia akan menanak nasi dengan periuk dengan kompor. Apa yang terjadi ternyata… ho ternyata… si Anak dan mantunya yang tinggal bertahun-tahun di Aussie akan pulang dan jauh-jauh hari sudah pesan agar disediakan kerak nasi sebanyak-banyaknya. Ibu kostku yang berusia 70 tahun itu tertawa aja ketika ia bolak-balik menjemur kerak nasi tersebut. Ia mengatakan “permintaan yang aneh, sudah lama di negera asing, pulang-pulang minta kerak nasi”.  Andai di Medan banyak yang jualan kerak nasi atau intip di Jogjakarta. Tentu beliau tidak terlalu repot mengadakannya.  Ketika aku usulkan agar pesan di Jogjakartanya aja. Ibu mengatakan anak dan mantu maunya yang buatan ibu. ho ho ho ho, aku jadi terkenang almarhum nenekku yang biasa melakukan hal yang sama dengan telaten.

Saat ini kerak nasi atau Intip banyak di toko-toko wisata. Yang di toko akan mudah kita dapatkan, cukup dengan menukar  rupiah dengan harga yang relatif terjangkau maka kita bisa makan sepuasnya. Aku percaya  juga kerak nasi atau Intip yang akhirnya dibuat dengan sengaja sebagai makanan yang dijajakan dengan dipikul  bahkan naik gengsinya di toko-toko wisata merupakan hasil kerja keras para pengrajin makanan rumahan yang dikemas dengan indah. Banyak mulut yang bergantung dari hasil upaya keras itu tapi hasilnya tidak seberapa karena harganya yang relatif murah. Namun tetap banyak orang yang mengupayakan agar anaknya tetap sekolah, agar tetap bertahan hidup, agar bisa bayar sewa rumah, agar bisa makan dan sebagainya. Sepertinya halnya penjaja kerak telor  (kerak dengan model ala Betawi) di Jakarta yang panennya sesekali saja.

Akhir kata, marilah kita bernostalgia. Masihkah teman-teman ingat pengalaman makan kerak nasi , intip, kerak telor, atau kerak-kerak yang lainnya. Terutama yang buatan rumah sendiri atau memang kerak benaran dari hasil menanak nasi setiap hari. Ingatlah lagi bagaimana proses itu sampai ke mulut kita. Bagaimana kerak itu bernyanyi gembira dengan renyah saat kita mengunyahnya. Betapa panjangnya,… terutama pada proses menjemurnya. Jika teman-teman punya pengalaman ini, ingatlah ketika mengunyah renyah bahwa sebenarnya ada cinta yang tersisa di sana.

>>>>>Kenangan Pada Kerak Nasi.  Medan, 2 Desember 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s