[Chapter 1] Pulau Rambut, Kelor, Onrust dalam cerita

Awalnya perjalanan ini dimulai dari sebuah obrolan santai, beberapa ahli kameragraphy mengemukakan sebuah gagasan, ide serta sebuah plot plan akan sebuah wadah kegiatan yang positif bagi alumni kagama, dan diharapkan semua energi ini bisa tersalurkan dengan pas dan terarah. Selanjutnya untuk menindaklanjuti ide tersebut dibentuk lah team kecil, dan team kecil ini ialah aktor sangat hebat dibalik suksesnya acara gathering Photography di pulau Rambut ini. Namun, sebelum melangkah lebih jauh lagi, mari kita urai siapa sajakah mereka ini.

 “terbingkai di Pulau Rambut”

Ada om Luq sang maestro Nikon dibantu oleh para wanita super seperti Sagung Indriani Oka, Anita Puspita Negara, Ulfia Mutiara, mba Aroem Naroeni, dan didukung penuh oleh Dewo sang bunga Seroja, tak lupa pula dab Irvan yang selalu support dengan sepenuh tenaga untuk semuanya. Tidak lupa pula big thanks untuk mas Haris Yunant untuk semuanya.

“the actor behind the Show”

Perjalanan ini dimulai dengan mematangkan semua konsep di Blok M, sebuah tempat dilantai lima Blok M Square. Menggenerate serta menganalisa semua persiapan dan memetakan serta mensimulasikan semua kebutuhan selama gathering. Dan setelah semua persiapan clear dan masalah terpecahkan, paginya perjalanan ini pun dimulai.

  

“at Blok M” 

Terminal B1 Soekarno-Hatta 08.00 WIB

Tempat ini merupakan stand pertemuan, kunci dari semua aliran peserta ada ditempat ini. Tangerang, Bandar lampung, Jogja, Magelang dan Jakarta menuju titik ini pada pagi hari, 26 May 2012. Pada pukul 08.00 tepat semua sudah berkumpul menjadi satu kesatuan yang utuh di tempat itu. Perjalanan dengan iring2an mobil pun segera dimulai untuk menuju titik point pertemuan kedua yang berada di tanjung pasir. Semua peserta sudah berkumpul ditempat itu, setelah dilakukan proses absensi dan perkenalan awal, semua peserta bergerak menuju ke dermaga, yang sayangnya kotor dengan sampah. Sebuah Boat tradisional yang terbuat dari Kayu sudah menunggu rombongan, kami pun bergantian satu demi satu naik ke boat tersebut. Segera saja rombongan itu pun diangkut menuju P.Rambut. Pada awalnya saya berpikir disana sangatlah ekstrim, tanpa ada aliran listrik dan sinyal, namun ternyata semua perkiraan saya salah besar.

“meeting point Soekarno Hatta”

Perjalanan dikapal pun sangat lancar, dengan deburan ombak yang sesekali menderu berusaha untuk menembus kapal kayu itu, logistik pun tidak luput dari terjangan air laut, ada beberapa tas yang basah terkena air asin. Kurang lebih 50 menit kapal ini mulai berlabuh di Pulau rambut, sekilas mengamati pada pandangan pertama, “oh My Dog….”

“naik kapal”

Rombongan pun segera menuruni perahu kayu itu, semua logistik diturunkan, namun ada satu keranjang buah lecy yang hilang? Kalau tidak salah ingat saya masih melihat box Lecy itu tergeletak di pantai, waktu itu saya sudah mengangkat box jeruk selain membawa carier di punggung. Namun, yasudahlah jika memang Lecy itu hilang.

Kondisi pulau rambut, sudah bisa dilihat dari beberapa foto yang beredar, bahwa sampah sudah menyerang dengan ganas tempat itu. Pulau dengan luas sekitar 45 Hektar itu dihuni beberapa satwa burung air (merandai) serta merupakan tempat transit burung migran. Ada sekitar 15 jenis burung air yang menghuni tempat itu (mardiastuti, 1992). Merupakan cagar budaya yang harus kita lestarikan dan kita jaga. Setelahnya semua peserta langsung membongkar bawaan dan beristirahat ditempat itu, sekedar untuk memecah rasa capek yang didapat dari perjalanan singkat tadi.

bersambung chapter-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s