“Are you proud of me, Sweetie?”

(kutulis sebagai refleksi diriku saat pembagian rapor anak)

Pertanyaan ini terngiang-ngiang sedari tadi siang dan semakin keras terdengar saat malam ini kunikmati samar samar dentingan lagu-lagu lembut Feelings, Edelweis, Rhythm of the Rain, dkk yang dimainkan Lili dari balik pintu kamarnya. Dua hari ini merupakan hari penerimaan raporku sebagai orang tua. Hari ini aku mendapat penilaian, bagaimana aku “mendidik” kedua putriku, adakah mereka mampu  menjadi diri yang positif, yang mampu mengenali keilahian dalam diri, yang sportif  & bersemangat dalam mengembangkan seluruh potensi diri mereka..  Terasa tidak ada yang “istimewa”, karena bu guru Ais kemarin bilang “Ais sempurna.. ” dan hari ini bu guru Lili pun berkata “subhanalloh, Lili sempurna..” .. Terasa tidak istimewa karena setiap kali aku menerima rapor anakku, ucapan semacam itulah yg selalu kudengar dari guru di sekolah. My children.. they are just fine..

Saat terima rapor, yang dilakukan di sekolah anakku adalah satu per satu wali murid maju menghadap guru, dan disitulah guru memberitahu orang tua apa yang “terjadi” pada sang anak selama satu semester. Setiap wali murid, akan berdiskusi dengan guru selama 10-30 menit. Hari ini pun nyaris sama. Aku berada dikelas selama kurang lebih 40 menit, karena harus mengantri (hari ini antrian didepanku adalah dua ibu dan sepasang suami istri). Dan.. selama ini, nyaris selalu pula aku diajak “diskusi” orangtua teman teman Lili saat antri. Temanya macam macam, kadang mereka menanyakan bagaimana bisa Lili begini begitu (biasanya Lili disebut mandiri, berprestasi, mudah diatur, dst, lalu diikuti: bagaimana caraku mengasuhnya?) .. Tapi lebih banyak lagi adalah pertanyaan yang harus kujawab: kenapa anak mereka begini begitu (temanya biasanya tidak mandiri, manja, belum bisa bertanggung jawab, tidak konsentrasi, ceroboh, kurang berprestasi), dan kadang diakhiri dengan pertanyaan tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan (anak disini tidak saja yang sekelas dengan Lili, tapi bisa jadi yang sudah kuliah). Tentu saja, aku juga sesekali memperhatikan diskusi bu guru dengan wali murid.. Dan yang mereka bicarakan rasa rasanya juga tidak jauh beda dengan diskusi mereka denganku…. Bahwa anak mereka begini & begitu seperti di atas.

Hari pembagian rapor sekolah terasa sebagai hari raporku sebagai orangtua, karena saat itu orang tua murid lain dan guru melihat & menilai peran utamaku dalam  mendidik anak. Namun, aku baru menyadari hari ini, penerimaan rapor anakku terasa “aneh”. Tadi, di luar kelas aku benggong dan ricek pada suamiku “Loh, kok kita selalu cepat kalau ngambil rapor ya? Dihitung hitung, orang tua yang lain bisa sampai 20 menitan..t Tadi kayaknya kita cuma dua menit??” (isinya cuma sedikit bincang & tawa, dan diselingi tawa Lili yang asik bergurau dengan guru??). Aku jadi bertanya tanya sendiri, saat kedua putri kami tidak mendapat masalah apa pun di sekolah, apakah ada kemungkinan sebenarnya mereka punya masalah, dan kamilah yang sesungguhnya keterlaluan sehingga tidak menengarai masalah itu, untuk kemudian didiskusikan & dicari solusinya bersama guru? Dan lagi aku merasa, saat putri putri kami dinilai guru & orang tua lain sebagai anak yang mudah ditangani dan berprestasi, lalu aku ditanyai apa resepnya, aku selalu merasa, mereka sempurna dan berprestasi melalui cara mereka sendiri..  “They make it on their own”… I did nothing.. Justru aku merasa aku tak “sempurna” sebagai orangtua anak-anakku. Mereka melakukan pembelajaran & menjalani kehidupan yang “sempurna” bukan karena aku yang mengejar anakku untuk mengulang pelajaran, atau menyuruh les ini-itu, mengarahkan mengikuti lomba ini-itu (yang kutahu, banyak ortu yang begitu).. Bahkan kadangkala ada event penting disekolah mereka yang nyaris kulupakan. Aku lebih banyak membaca & menulis laporan pekerjaan sendiri dimeja kerjaku, bukannya bermain atau menuntun mereka belajar. Aku tidak rutin memasak makanan yang sehat & bergizi maupun meladeni keperluan sehari-hari mereka..

Mungkin, yang dapat kujawab dari segala tanya mengapa putri kami “sempurna” dan membuat bangga adalah: I take them for granted… Aku cuma berusaha keras untuk menyayangi mereka apa adanya.. Aaku  menerima kekurangan mereka sebagai bagian dari diri mereka yang merupakan anugrah bagiku. I always said it’s oke for them to be not perfect, to have faults. Dan aku mendukung pengembangan kelebihan/potensi mereka selama mereka menginginkannya. Aku selalu siap tertawa dan menangis bersama mereka kapan pun mereka bercerita tentang hari-hari mereka padaku atau membutuhkan jempol ke atas atau meminta pelukanku. That’s why I never care about jobs or deadlines, kalau anakku sakit atau bahkan cuma merengek terluka ringan. I will leave everything to soothe them, to hug & caress them.  Aku hanya berusaha untuk jujur dalam berkata dan bersikap.  Dan justru rapor hari ini membuatku bertanya pada kedua putriku.. “Ibu bangga pada kalian, tapi banggakah kalian punya ibu seperti Ibumu ini?” Yaaa… kuharap jawabnya ya….. Selalu…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s