Nenek, sang penguat jiwa….

pernahkan anda melabuhkan kepala ke pangkuan nenek, atau orang-orang terdekat & terkasih anda saat masalah terasa “menghimpit”? ingatkah anda akan mereka, akan masa-masa itu?
aku punya banyak nenek.. satu dari ibunya bapakku yang kupanggil simbah, satu dari ibunya ibuku yang kupanggil mamak, serta tiga nenek angkat dari ibuku yang kupanggil ibu dan simbok (ibuku diangkat anak oleh pamannya yang tak beranak, meski sudah punya lima istri. setelah mengangkat anak ibuku, kakek angkatku ini kemudian mengambil istri lagi dan punya anak sendiri. istri yang keenam ini kupanggil simbok..— waktu aku lahir, istri kakek angkatku “tinggal” tiga). selain itu, ada satu bibi ibuku yang sering datang menginap ke rumah kami, pun kami sering menginap dirumah beliau, yang kupanggil simbah putri.

memoriku akan simbah sangat banyak. simbahlah teman tidurku saat aku belum sekolah dan takut segala macam hantu yang sering kudengar ceritanya :)) bahkan saat masih balita itu, kalau tetangga & saudara ramai-ramai menonton tvri yang menayangkan ketoprak berbau hantu pocong, aku akan ketakutan, dan simbah akan mengendongku ke luar rumah, mengajakku pergi ke warung tetangga yang selalu ramai pembeli atau ke pinggir sawah di depan rumah, dan mengayun-ayunku hingga ku tertidur. setelah aku masuk SD, umurku baru enam tahun dan selalu berangkat dan pulang sekolah tanpa diantar orang dewasa. kadang selintas kulihat sosok simbahku memandangku di kejauhan, di saat aku masih bermain main di sawah sebelum atau sepulang sekolah. juga saat sore hari atau saat liburan sekolah dan aku bermain di sungai atau di kuburan. simbah selalu memijitku dengan lembut saat aku tidur “klisikan” (jawa: gelisah karena kecapaian atau mimpi buruk). simbah juga selalu siap menggantikanku kalau aku tidak bisa “daden” (jawa: membuat api di tungku untuk memasak) atau capek “marut” kelapa — jaman dulu, dengan keluarga yang tinggal di rumah sebanyak 10 orang dan saudara serta tetangga sering mampir untuk makan, simbah atau ibu atau asisten selalu memasak dengan jumlah banyak, sering-sering juga bersantan.

selain simbah, simboklah nenek kedua yang dekat denganku. simbok rajin bercerita disaat aku berangkat tidur. favoritku adalah cindelaras dan ande ande lumut. aku suka sekali simbok bernyanyi “kukuruyuk, jagone cindelaras, omahe tengah alas…” atau “putraku si ande ande lumut.. tumuruno ono putri nggah-unggahi.. putrine sing ayu rupane.. kleting abang iku kang dadi asmane..”.. sepertinya, simbokku sangat bosan bercerita, tapi aku selalu merayunya untuk bercerita lagi dan lagi… hhhmmm, kadang juga kupikir lagu ini tertanam di otakku, seolah simbok menghipnotisku, sehingga aku jadi anak yang besar dengan berbagai masalah, namun tetap gigih dan terus berpegang pada keyakinan bahwa: sebentar lagi masalah ini akan berlalu, aku akan berbahagia.. sebagaimana cindelaras & kleting kuning yang terus berusaha dan akhirnya berhasil keluar dari masalah mereka😀 .. oh ya, dan aku adalah putri yang ngunggah-unggahi (melamar duluan) suamiku yang sekarang😀
masakan simbokku sangat enak, meski hanya masakan sederhana yang bahannya diambil dari kebun. aku sering minta atau dianterin makan simbokku yang rumahnya dibelakang rumahku.. favoritku adalah terancam daun kencur/kenikir, jangan bobor, bubur ganyong, bubur garut, rebusan uwi ditaburi kelapa, gethuk, gadhung, tempe koro, pepes simbukan/mlandingan, buntil daun talas, gorengan ulat turi, pecel kembang turi… waduh, banyak sekali😀 .. kalau ngambeg, aku sering masuk ke salah satu kamar di rumah simbok dan tidur atau membaca disana hingga sore tiba. biasanya, simboklah yang “ngerih-erih” atau melunakkan hatiku dengan berbagai cerita dan jajanan buatannya sehingga kejengkelanku mereda dan aku mau pulang…

simbah dan simbok mengenal beberapa “teman laki-laki”ku. biasanya simbah atau simbok menemani atau hanya melihat aku ngobrol dengan teman laki laki yang datang ke rumah, duduk bersandar ke dinding dengan kaki terlilit jarit terlipat (jawa: simpuh). salah satu pria yang kutaksir saat abg, adalah tetangga baruku, yang ternyata juga ditaksir teman ngajiku. aku ingat sekali komentar simbokku saat itu: kamu cantik, pandai, banyak teman, sedang temanmu kurang cantik, tak pandai, pun pergaulannya sempit.. untuk apa kamu bersaing mendapat cinta si T, kasihanilah temanmu, mundurlah.. hihihi… rupa-rupanya inilah yang membuat saya sampai sekarang berprinsip tidak mau bersaing dalam cinta😀 ucapan yang sama ini dikeluarkan lagi oleh simbok saat orang yang naksir aku saat SMA, bertemu lagi saat aku sudah kuliah, dan dia CLBK serta terus-terusan menyambangiku di kos dan di rumah padahal sudah beristri😀

hanya pacar keduaku yang selalu berusaha menemui simbahku di kamar paling belakang kalau datang ke rumah dan tak melihat simbahku. waktu aku putus dari pacar keduaku, kurasa simbahku tahu, tapi mungkin dia memilih untuk diam dan membiarkanku mengatasi rasa luka sendiri dan bertumbuh karenanya.. padahal biasanya simbah sering bercerita tentang masa lalunya, atau merecokkiku dengan pilihan makanan yang aneh aneh atau dilayani dengan mandi, berdandan, dan merawati bajunya. tapi entah kalau simbah juga berbincang-bincang dengan simbok sebagai yuniornya, mengingat mereka sering rumpis😀 simboklah yang kemudian mengajakku bercerita tentang pacarnya, kasihnya yang tak sampai, dan mengatakan bahwa apa yang aku alami, sudah pernah dia alami, dan kalau dia survive, aku juga pasti survive…

uniknya, simbahku tak pernah mengomentari teman-temanku ini, kecuali satu, pacar ketigaku. waktu itu, kami belum pacaran, dan mantan pacar ketiga sedari beberapa tahun sebelumnya sudah sering datang. ucapan simbah yang selalu kukenang dan bahkan sampai sekarang kuingat dan kunasehatkan pada yuniorku adalah “bojo bagus marakke weteng nggerus” .. yang artinya kurang lebih wajah tampan itu hanya menyakiti perut😀 tapi benar juga kata simbah, beberapa saat kemudian aku berpacaran yang ketiga kalinya dan pacarku yang ketiga ini minta ampun bener kelakuannya, dimana-mana tebar pesona, kalau ketahuan, pasti jawabnya: loh dia yang naksir aku kok, aku sendiri cuma mencintaimu… :((

di saat aku remaja, banyak saudara bilang aku 90% mirip simbahku, baik wajah, perawakan, maupun sifat.. sekarang pun aku sering dikomentari “seperti melihat mbah sono (atau mbah peni, nama gadis simbahku)” .. simbahku meninggal disaat aku sudah kuliah .. aku tidak sedih, karena aku sudah “puas” bersamanya, dan simbah pun sudah membentukku dengan segala cerita dan perilakunya.. kenangan indah dan buruk melebur, membuatku dapat melepaskannya … simbok, hingga kini masih banyak cerita & tertawa.. semoga umur panjang melimpahinya dengan kesehatan.

simbah dan simbokku, pahlawanku…
(tulisan ini terinspirasi dari lagu wali band, nenekku pahlawanku)
http://www.youtube.com/watch?v=VpS8bthFNYs&feature=related

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s