Bertemu dan Berbagi Itu Sumber Energi

Bertemu dan Berbagi Itu Sumber Energi,

by Sopril Amir

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu”

begitu syair lagu “Yogyakarta” dari KLa Project itu mengalun, spontan kami semua tersengat bersemangat. “Aduh lagu ini bagusnya nanti saja, pas kita sudah selesai,” kata Heni H. Yusuf yang berdiri di dalam kelas, tengah menanti ibu-ibu warga Bukit Duri yang hendak mengambil bingkisan sebelum pulang.

Ya, kami saat itu tengah berbagi, dalam rangka reuni (untuk kesekiankalinya, hahaha) Kagama Virtual di SD Pendidikan Rakyat II di Bukit Duri. Pertemuan kami kali ini pada awalnya ingin ikut berbagi, membantu korban banjir Jakarta. Kebetulan banjir awal tahun ini tergolong meluap besar, termasuk tradisi banjir lima tahunan. Dari hasil berembug di rumah R Kristiawan Kristiawan, kami menyimpulkan bahwa bantuan pasti sangat banyak, jangan-jangan bantuan dari kami, yang tidak banyak dan jenisnya sama dengan lainnya, akan “kurang nendang”, seperti menggarami laut. Lalu terbetik ide, bagaimana kalau kita membantunya sesudah banjir saja? Ini mungkin melawan arus, ketika trend bantuan menyurut mengiringi banjir yang pulang, kami malah datang menghampiri, tapi tidakkah itu bagus juga? Lalu disepakati mencari lokasi yang sekiranya masih perlu bantuan setelah banjir, yang terpikir adalah sekolah. Karena bisa saja sanitasi sekolah itu rusak hanyut terseret banjir, sementara bantuan sedikit sekali mengarah ke sana.

Ketua panitia tertunjuk, Alfian Rasyid, rupanya type cukup rajin dan tangguh. Dia rajin menyisir tempat yang sekiranya layak dibantu. Singkat cerita, didapatlah Kampung Melayu Kecil di kawasan Bukit Duri ini. Tapi tunggu dulu, rencana bantuan kami ternyata tidak laku. Masyarakat di sini, sudah cukup akrab dengan banjir dan juga sudah sering mendapat bantuan terkait banjir. Karena itu, mereka ingin, kalau masih mau membantu, kami membawa bantuan jenis lain saja. Berupa apa? Warga bilang ada kenakalan remaja, kasus HIV/AIDS sudah pula muncul. Waks! Kami tak menyiapkan diri ke sana.

Tapi janji sudah terucap, operasi bantuan harus tetap digelar, meski tak langsung menjawab permintaan. Panitia kemudian memutuskan untuk membuat penyuluhan mengenai penanganan gizi anak dikala bencana dan membantu peringatan Hari Kartini di SD setempat.

Pengumuman dan undangan, serta press release dibuat dan disebar. Kami berkabar kepada sesama Kagama di Jakarta, online atau pun off line, bahwa akan ada pertemuan di sebuah titik di Jakarta. Tidak hanya bertemu, alias kopdar, tapi pertemuan itu akan jadi ajang berbagi dengan warga setempat.

Lalu jadilah.

Sebagian warga Kagama Virtual pun datang dan bercengkerama di halaman sekolah. Aku sendiri, datang agak telat, karena kesasar, hehe. Bersama Raisah Suarni dan bang Ujang Syafnir, kami berbagi cerita tentang pekerjaan dan kehidupan di Jakarta yang tak jauh dari minat kami bersama: kebijakan publik.

Mumpung masih sepi, sebagian warga Kagama sedang membantu peringatan hari Kartini, kami sempatkan diri untuk bertukar cerita dan, apalagi kalau bukan, photo bersama. Di sini aku ketemu lagi dengan Lei, Utty Damayanti dan pertamakali dengan Linda Tjhin. Ada bintang tamu impor dari Yogya, Milona Ilza Sakantira dan Eka Priastana Putra. Dipandu Aroem Naroeni, kami lalu berkenalan satu sama lain, sambil menulis lagu pesanan untuk dinyanyikan kelompok Klik Kustik, termasuk pula lagu Yogyakarta nan legendaris itu. Saat itu juga kami sempatkan untuk makan siang. Dan saat itu pula menyempatkan diri untuk menyapa dan menggoda pengantin “agak” baru, Imtiyaz dan Rio.

Pertemuan kami harus berakhir separuh jalan, karena ibu-ibu warga sekitar yang diundang penyuluhan telah mulai berdatangan. Kami persilakan para warga duduk di barisan kursi yang tersedia. Entah mantera apa yang disemburkan panitia, penyuluhan ini laris manis. Peserta membludak. Kursi di bawah tenda di tengah lapangan sekolah itu dengan cepat habis terpakai. Lapangan segera penuh sesak. Apalagi tak lama hujan pun turun, dari sedikit dengan cepat menjadi deras. Mungkin karena memang sudah akrab dengan hujan, tak tampak cemas di wajah ibu-ibu dan anak warga akan kedatangan hujan yang deras. Tenda tak tertutup sempurna dan atapnya tempias, tak membuat keceriaan di muka mereka pergi. Penyuluhan, meski harus bersaing dengan desau hujan dan genangan di kaki, berlangsung lancar.

Di tepi lapangan, pintu beberapa kelas terbuka. Di sana, panitia mengadakan lomba melukis pot untuk anak sekolah, temanya “Bumiku Emakku”. Entah karena sungkan atau gagal mendapatkan orang yang bersedia, panitia menyeretku untuk jadi juri dadakan. Dengan tampilan yang dibagus-baguskan, jadilah aku bersama ketua panitia, juri lomba lukis. Dilihat dari senyum malu tapi semangat beberapa anak, sepertinya penampilan kami berhasil.

Lepas dari juri dadakan, aku kembali bergabung dengan Heni dan Milona bersiap menyambut rombongan ibu-ibu warga yang menjemput bingkisan sebelum pulang. Bingkisan kecil itu berisi minyak, beras dan gula, volumenya tentu jauh dari sumbangan yang biasa diterima ibu-ibu itu, tapi kami berharap semoga itu tetap cukup membantu. Saat itulah, lagu Yogyakarta pesanan terlantunkan.

Semangat kami yang sudah mulai menurut menjelang akhir acara mendadak naik lagi. Yogyakarta, kota yang mempertemukan kami semua dan mungkin sekaligus jadi momen pembentukan karakter kami hingga seperti sekarang.

Pembagian bingkisan berjalan lancar. Kami berkumpul lagi di lapangan, lagu pesanan lainnya terus dinyanyikan, dan kami pun ikut berdendang. Kursi kami tumpuk, kami pun merapat. Lelah belum terasa, justru semangat keakraban yang terus bertambah. Kami terus bergurau dan bernyanyi hingga kami pulang. Mungkin inilah yang membuat kami ketagihan bertemu dan bertemu lagi. Dengan bertemu, bersama, berbagi tak membuat rugi, tapi malah jadi sumber energi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s