Dongeng Pangan: Teh Oolong….

Dongeng Pangan: Teh Oolong….

Imtiyaz Hawan

Teh oolong merupakan salah satu jenis teh selain teh hitam (black tea) dan teh hijau (Green tea) yang biasa kita kenal. Teh Oolong dikenal juga dengan wulong yang diambil dari nama seorang pria cina yakni Wu long yang menemukan teh oolong secara tidak sengaja ketika daun teh yang dipetiknya ditinggalkan demi mengejar seekor kijang. Ketika kembali teh itu sudah terfermentasi . cerita lain menyebutkan bahwa oolong dalam bahasa cina berarti naga hitam, karena daunnya mirip naga hitam kecil yang tiba-tiba terbangun pada saat diseduh. Heheheheee….hebat banget ya teh satu ini……….

Lalu apa bedanya teh oolong dengan teh hijau dan teh hitam?….lets cekidot…

Teh oolong merupakan teh semi fermentasi atau lebih tepat semi oksidasi enzimatis. proses oksidasi pada teh oolong yang lebih kuat dari teh hijau , tetapi lebih ringan dari pada teh hitam.

Proses pengolahan teh oolong juga lebih sulit dibandingkan dengan teh hijau dan teh hitam. Bahan baku teh oolong berasal dari pucuk burung (doormant banji bud) dengan 2 atau 3 daun muda. Dalam proses pelayuan teh oolong pucuk dibeberkan tipis diatas tampah selama 10-30 menit diatas sinar matahari, kemudian pucuk dibawa ke ruangan untuk didinginkan selama 30-60 menit. Proses pelayuan ini dilakukan lebih dari satu kali untuk menurunkan kadar air hingga 10-20%.

Tahap selanjutnya adalah proses pememaran, pada tahapan ini daun-daun teh dimasukkan ke dalam keranjang atau kain yang ditutup rapat untuk kemudian digesekkan dengan kayu atau bahan lain. Pada tahapan ini terjadi gesekkan antar daun dan mengganggu organisasi seluler tepi daun, dan menyebabkan oksidasi enzimatis disekitar tepi daun. Pememaran dilakukan dalam ruangan dengan suhu 20-25’C dan kelembapan 75-85%. Pucuk kemudian dibeberkan kembali ke tampah. Pememaran dan pembeberan diulang 5-10 kali selama 7-10 jam tergantung pada jenis teh oolong yang akan dihasilkan…(hah….capek banget, pantas saja harganya lebih mahal dari teh biasa).

Selama pememaran ini, oksidasi enzimatis terjadi pada tepi daun dan secara berangsur-angsur berkembang ke tulang daun. Oksidasi dianggap optimal apabila tepi daun menjadi merah, bagian daun yang berwarna hijau dikelilingi warna merah, dan menimbulkan aroma harum.

Teh kemudian dipanaskan pada suhu 160-250’C selama 3-10 menit, untuk menginaktivkan enzim. Daun kemudian digulung untuk mendapatkan bentuk keriting pada pada pucuk. Selanjutnya dilakukan proses pengeringan hingga kadar air 3-5%.

Dari segi taste, hasil seduhan teh oolong memang berbeda dengan teh hitam dan teh hijau, teh oolong mempunyai taste yang mirip teh hijau tapi tanpa rasa grassy (seperti daun mentah atau rumput) dan sedikit manis. Warna seduhan teh oolong mirip seduhan teh hitam, akan tetapi teh oolong dari indonesia misalnya teh oolong 63 lebih mendekati teh hijau baik dari segi taste dan warna seduhan, ini mungkin dipengaruhi oleh proses pengolahan dan tingkat oksidasi enzimatisnya.

Untuk mengetahui taste oolong yang sebenarnya memang sebaiknya dilakukan tanpa gula dan di seduh pada suhu tidak terlalu tinggi, misalnya suhu 60-75’C.

Dari segi kesehatan, teh oolong mengandung oolong tea polyphenol yang dapat mempercepat proses metabolisme dalam tubuh sehingga pembakaran kalori lebih cepat.

*_*

lala nana lala nana

(iim)
I love today more than yesterday but not as much as tomorrow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s