Parodi Buruh

PARODI BURUH

Haryoko R. Wirjosoetomo

Tanggal 28 besok organisasi2 buruh di Indonesia sepakat melakukan mogok massal. Tentu saja di sisi perusahaan, hajatan itu akan sangat menyibukkan mereka2 yang bertanggungjawab atas urusan SDM, sebuah posisi yang pernah saya duduki dulu. Sebuah posisi yang banyak meninggalkan kenangan, terutama yang menggelikan. Beberapa di antaranya adalah ini :

– Speedometer –

Saya mengawali karir saya di dunia kerja pada sebuah industri makanan. Hari pertama orientasi lapangan, saya masuk ke pabrik dan meninjau ruang oven. Kepala regu oven menyambut saya dan menjelaskan cara kerja mesinnya.

“Begini pak. Tiap pagi kami harus menghidupkan oven ini. Dipanasi sampai spidometernya mencapai angka 600. Setelah itu pelan-pelan spidonya diturunkan sampai angka 400 dengan cara mengecilkan apinya. Setelah itu oven siap digunakan…”

Spidometer, tentu saja saya paham bahwa yang dimaksudnya adalah termometer. Ketika melihat saya terus mengangguk-anggukkan kepala, kepala regu itu bertanya dengan nada puas : “Paham kan ya pak?.”

“Iya… saya sekarang paham. Pantas saja tembok ruangan anda retak2 begini, karena ovennya dipaksa harus berlari sekencang itu setiap hari…”

– Bangkit dari kubur –

Suatu pagi saya dikomplain oleh Direktur Produksi. Ia mengeluh di pabrik B tingkat absensinya sangat tinggi sehingga target produksi tidak tercapai. Selesai meeting dengannya, saya pun menelepon Manajer Personalia di pabrik B untuk menyiapkan data dan ruang meeting.

Setelah makan siang saya pun pergi ke pabrik B. Menarik… sangat menarik. Ada beberapa pekerja yang absennya memang keterlaluan, mayoritas alasannya adalah nenek atau kakek meninggal. Saya minta kepada Manajer Personalia untuk memanggil dan mengumpulkan mereka di ruang meeting.

Setahun setelah menjabat sebagai Direktur HRGA di grup industri tekstil itu, saya akhirnya tahu ada istilah2 tertentu di karyawan terkait dengan masakah disiplin. Jika dipanggil Kepala Shift untuk diberi teguran, mereka bilang dipanggil PM. Bilamana dipanggil Manajer Personalia, dibilangnya akan disidang oleh dewa kecil. Nah jika saya yang memanggil, mereka katakan dipanggil dewa besar dan itu gawat, karena dewa besar bisa memutuskan untuk memecat orang saat itu juga. Maka tak heran jika wajah mereka pucat semua.

“Kalian tahu tidak kenapa saya panggil?,” tanya saya kepada mereka.

“Tidak pak….,” sahut mereka serempak.

“Ini menyangkut absensi kalian, ijin nenek dan kakek meninggal…”

“Maaf bapak…,” sahut seorang dari mereka memberanikan diri. “Apakah ijin tidak masuk kerja karena nenek meninggal, apakah dilarang?.”

“Siapa yang bilang?. Tentu saja tidak. Saya panggil kalian karena saya merasa takjub, beruntung sekali kalian punya nenek dan kakek lebih suci daripada Yesus Kristus…”

“Maksud Bapak?.”

“Yesus meninggal sekali, dibangkitkan Tuhan untuk diangkat ke surga…,” kata saya pelan sambil menatap wajah mereka. ” Saya lihat kamu, Peno, tahun ini saja ijin nenek meninggal sepuluh kali. Artinya nenekmu itu meninggal, hidup lagi, meninggal, hidup lagi, meninggal dan hidup lagi…begitu?. Atau kamu punya penjelasan lain atas keajaiban yang baru saja saya temukan ini?.”

Memang, kadangkala rasa geli bisa mengalahkan rasa takut. Ruang meeting kecil itupun dipenuhi cekikikan tertahan, tanpa mereka tahu bahwa sayapun tengah berusaha keras menahan tawa yang nyaris meledak.

– Lembur libur –

Hari Minggu itu giliran saya yang masuk kantor, piket direksi. Belum lagi saya meletakkan tas kerja di meja dan hendak Baru saja saya meletakkan tas kerja di meja dan hendka menyeduh kopi, telepon saya berdering. Rupanya sekretaris saya menghubungi lewat interkom.

“Pak, pengurus serikat pekerja mau menghadap…”

“Ok, suruh mereka masuk ke ruang meeting direksi. Saya temui disana…”

Ada lima orang pengurus inti serikat pekerja di ruangan itu. Setelah berbasa-basi sebentar, sang ketua pun membuka pembicaraan.

“Kami menghadap bapak membawa aspirasi anak2. Hari ini kan hari minggu pak, berarti kita kerja lembur kan?.”

“Benar…,” sahut saya kepadanya. “Dan manajemen selalu memenuhi seluruh hak2 anda. Lalu apa masalahnya?”

“Hari ini juga bertepatan dengan hari Kenaikan Isa Al Masih, hari besar pak…”

“Benar, lalu?.”

“Anak2 bertanya, untuk hari ini dapat lembur dobel enggak pak?”

Sungguh saya tidak tahu, apakah saya harus menangis atau tertawa mendengar pertanyaan itu.

 

Depok, 27 Oktober 3013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s