Akankah Kita Hanya Mau Menjadi Penonton Saja?

– Akankah Kita Hanya Mau Menjadi Penonton Saja? –

Haryoko R. Wirjosoetomo

Saya pertama kali “berurusan” dengan Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK tiga tahun lalu, ketika seseorang disana mengudang meeting di kantornya. Waktu itu mereka memerlukan pelatihan Risk Management dan saya spontan menyanggupinya. Hanya saja, di ujung pembicaraan tersirat ada sedikit keraguan pada dirinya.

“Begini Pak Haryoko. Kami memperoleh nama anda dari seorang mantan penyidik kami. Ia telah resign dari Polri dan sekarang bekerja sebagai loss prevention manager di …. (ia menyebut nama sebuah perusahaan migas). Kapan hari ia bercerita bahwa team loss prevention di perusahaannya memperoleh beberapa pelatihan dari Bapak dan kami sangat tertarik juga mengenainya. Hanya saja ada satu hambatan disini…”

“Apa hambatannya kalau saya boleh tahu?.”

“Professional fee bapak, saya sudah mendengar dari kawan kami itu, benar-benar jauh diluar budget KPK. Sebagai lembaga negara, kami terikat pada peraturan-peraturan tentang honor pengajar…”

“Itu sama sekali bukan hambatan pak. Saya tunduk kepada peraturan negara saya sendiri. Silakan bapak beri honor mengajar kepada saya sesuai dengan ketentuan yang berlaku…”

“Tapi tidak ada pengurangan materi kan pak?,” selorohnya sambil tertawa.

“Yang terbaik pak, saya pastikan yang terbaik…”

“Wah, terimakasih banyak pak…”

Terimakasih kepada saya?. Saya menjadi malu hati, seharusnya sayalah yang berterimakasih kepada mereka. Apapun motivasi pribadinya, mereka telah berani menempatkan diri pada posisi yang berbahaya, in the line of fire, untuk memperbaiki negeri ini. Karena itulah saya tidak mau hanya sekedar menjadi penonton saja, harus turut berkontribusi dengan apa yang saya punya.

– 000 –

Tiga minggu lalu didalam taksi, dalam perjalanan dari hotel kekantor Husky-CNOOC Madura Limited di Surabaya, saya ditelepon seseorang dari Samarinda. Ia memperoleh nama saya dari seorang sahabat, yang menjabat sebagai Security-Safety Manager sebuah gedung perkantoran prestisius di Jakarta. Singkat kata, ia memerlukan jasa konsultan pengamanan.

“Apakah bapak ada client di Kalimantan Timur pak?. Untuk referensi kami,” tanyanya.

“Ada beberapa pak. Kami menangani Pertamina RU V di Balikpapan, Pupuk Kaltim di Bontang, Vico Indonesia di Muara Badak dan KPC di Sangatta. Semoga referensi ini cukup pak…”

“Waduh, raksasa semua, kami hanya perusahaan kecil pak. Apa mampu kami membayar bapak?.”

“ Apa bidang bapak?.”

“Developer pak, kami sedang membangun sebuah perumahan kecil, sekitar tigaratus rumah. Hanya saja kami ingin memiliki sistem manajemen pengamanan yang bagus, sehingga penghuni merasa aman. Tapi melihat daftar pendek client bapak disini, saya jadi merinding….”

Saya tertawa mendengar gurauannya.

“Begini saja pak. Saya akan submit proposal ke Bapak, tanpa ada nilai jasa disana. Setelah itu saya akan ke Samarinda dan mendiskusikan dengan Bapak. Soal budget saya jamin akan sesuai dengan anggaran anda, jadi merindingnya disimpan saja untuk masalah lain…”

Saya sudah lama berkeinginan, perusahaan-perusahaan kecil dan menengah di Indonesia mampu menerapkan sistem manajemen pengamanan yang baik, yang selama ini hanya bisa dilakukan dan dinikmati oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Banyak yang bersemangat, banyak yang menyadari tingkat kepentingan dan manfaatnya; namun selalu terbentur kendala yang sama. Tingginya biaya jasa konsultansi untuk membangunnya. Dan saya bertekad untuk urusan ini, tidak sekedar menjadi penonton saja.

– 000 –

Hidup di negeri ini, kita hanya disodori dua pilihan. Menjadi penonton dan merutuki kondisi negara saat ini, atau turut mengambil bagian untuk memperbaiki keadaan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semua pasti berujung kepada biaya, kendati langkahnya sangat sederhana semisal beralih dari konsumsi bahan bakar subsidi ke non subsidi. Namun yang terpenting adalah, sekecil apapun langkah itu, seminim apapun biaya yang dikeluarkan, akan mampu membuat perubahan yang berarti. Sebuah perubahan besar bisa dimulai dari serangkaian perubahan kecil-kecil dan grup ini amat sangat mampu untuk menginisiasinya, jika mau.

Sawangan, 29 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s