Selendang Nabi

– Selendang Nabi –

Bagi sebagian terbesar rakyat di negeri ini, agama adalah masalah keyakinan. Namun di lain fihak bagi sebagian kecil orang, agama merupakan bisnis yang sangat menguntungkan. Setidaknya itulah yang terjadi, ketika saya menyaksikan traksaksi yang sangat menggelikan di kantor client minggu kemarin. Salah seorang counterpart saya di organisasi itu, katakanlah Pak S, adalah penggemar batu permata kelas berat. Ia bukan sekedar kolektor, namun bahkan membeli bahan mentah dan menggosoknya sendiri dirumah.

Beberapa waktu lalu Pak S bertugas ke Ambon. Disana ia membeli sebongkah batu mentah yang disebutnya batu Bacan, seharga enam juta rupiah. Sesampai dirumah ia memotong bongkahan tersebut menjadi duapuluh bagian. Ada yang dibeli kawan-kawannya, seharga antara tujuh ratus ribu hingga satu juta per potong, ada pula yang digosoknya sendiri. Salah satu hasil gosokannya pagi itu ditunjukkan kepada saya di meja kerjanya. Teksturnya indah, warnanya aneh, kombinasi antara hijau, coklat gelap dan abu-abu.

Waktu saya tanya nama corak ini, ia menggelengkan kepala. “Baru kali ini saya melihatnya pak…,” ujarnya seraya mengagumi hasil gosokannya sendiri. Sebelum saya bertanya lagi, lewatlah Pak A, kepala Biro pak S. Melihat saya tengah menyenter-nyenter batu Pak S dengan sebuah senter khusus, tentu saja milik pak S, ia mendadak menghentikan langkahnya dan berjalan mendekati kami berdua.

“Batu baru ya S?,” tanya pak A.

‘Siap, benar pak,” sahut Pak S sigap.

“Bisa gue lihat S?. Boleh saya lihat sebentar pak Haryoko?.”

Saya ulurkan batu itu kepada Pak A, yang langsung memeriksanya dengan teliti.

“Batu apa ini S?. Bacan ya?. Koq gue baru lihat corak seperti ini?. Apa namanya?.”

“Siap, ini memang bacan langka pak. Coraknya langka, namanya corak Selendang Nabi. Cocok nih dipakai Bapak, saat memberi khotbah sholat Jum’at di masjid sini….,” jawab Pak S lagi.

Saya harus berpegangan kursi menahan geli, tidak percaya mendengar apa yang terucap dari mulut pak S. Baru saja mengatakan kepada saya kalau ia asing dengan corak batunya, namun hanya dalam beberapa detik saja, Pak S sudah melabelkan nama Selendang Nabi pada batu hasil gosokannya yang tersohor itu.

“Eh, begitu ya, boleh gue beli nih?.”

“Siap, silakan pak, namun…ehm…, ini agak mahal pak, soalnya corak Selendang Nabi itu langka sekali…”

“Soal harga gampang itu, loe buka harga berapa?”

“Eh, …hhhhmmmm…., Pak Haryoko tadi sudah menawar mahar delapan juta, saya masih pikir-pikir pak….”

Mendadak kepala terasa bagai disambar petir, terperanjat mendengar pak S dengan enak mencatut nama saya. Saat saya masih kicat-kicat mencari posisi, pak A menoleh dan bertanya kepada saya.

‘Oh begitu…, pak Haryoko rupanya tertarik juga pada Selendang Nabi ini?.”

“Wah kalau saya harus bersaing dengan Bapak, saya tak berani,” jawab saya tertawa kecut sembari mengutuki pak S dalam hati. “Silakan pak, saya mengundurkan diri dari pelelangan ini…”

“Wah terimakasih Pak Haryoko. S, nanti loe ke ruangan gue ya, bawa batu itu. Kita omongkan maharnya disana…’

Setelah itu beliau pun berlalu, meninggalkan Pak S yang tersenyum-senyum senang dan saya yang terduduk menderita luka hati. Namun ternyata luka hati saya tak lama. Siang harinya ketika kami makan siang bersama pak S mengabarkan, jika batu bernama Selendang Nabi itu dibeli bosnya seharga limabelas juta rupiah. Sambil tersenyum simpul Pak S mengulurkan amplop berisi uang dua juta rupiah kepada saya, yang disebutnya sebagai “marketing fee.”

Luka hati saya tadi pagi pun sembuh seketika.

-000-

Fenomena batu bacan Selendang Nabi, bukankan dalam skala besar terjadi juga dalam dunia perpolitikan kita?. Ada elite politik yang tanpa sungkan memperdagangkan agama dan hebatnya, berduyun-duyun orang membelinya. Setelah laku keras, selebihnya adalah masalah moral dan etika pedagangnya. Saat keduanya diabaikan, para konsumen pun akan lahap menelan isu-isu murahan bahkan fitnah, yang sengaja dilontarkan sang pedagang untuk menghantam lawan-lawan politik mereka.

Dan bukankah fenomena itu yang sekarang ini tengah terjadi di Indonesia?.

Sawangan, 7 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s