Kaisha, Kenshu Genba

Kaisha, Kenshu Genba

Hasanudin Abdurakhman

Atasan di perusahaan tempat saya bekerja dulu adalah seorang lulusan SMA. Dia menjabat sebagai managing director yang bertanggung jawab atas seluruh operasi perusahaan di Indonesia. Presiden direktur yang berkedudukan di Jepang lebih banyak berfungsi formal saja. Sebelum ditugaskan ke sini jabatan dia di kantor pusat adalah deputy factory manager. Di kantor pusat sendiri seluruh kegiatan perusahaan dikendalikan oleh managing director, yang merangkap sebagai presdir anak perusahaan di Indonesia. Presdir di kantor pusat, yang sekaligus adalah pemilik perusahaan, hanya berperan dalam hal-hal yang sifatnya strategis saja.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kabar bahwa managing director kantor pusat pensiun, dan akan digantikan oleh mantan atasan saya ini. Ini sebuah kejutan, karena ia menyalip beberapa orang lain yang sudah direktur ke posisi puncak, padahal ia sendiri selama ini belum menjadi direktur.


Struktur baru ini akan menarik, karena dua dari 4 direktur aktif adalah lulusan SMA. Selain mantan atasan saya yang akan jadi managing director ini sebelumnya sudah ada sales director yang juga lulusan SMA.

Kedua orang ini masuk ke perusahaan di usia belasan tahun, selepas tamat SMA. Mereka mendapat pelatihan dasar teknik injeksi plastik, kemudian bekerja dan terus menerus mendapat pendidikan selama bekerja. Skill mereka terus meningkat hingga menjadi ahli, tidak hanya dalam soal teknik injeksi plastik, tapi juga dalam hal manajemen produksi, serta urusan pengelolaan perusahaan secara menyeluruh.

Perusahaan tempat saya kerja dulu itu kecil saja. Di kantor pusat karyawannya cuma 200 orang, dengan nilai penjualan per tahun sekitar 3 milyar yen. Tapi saya melihat perusahaan ini adalah perusahaan yang inovatif. Banyak produk dihasilkan dari inovasi, bukan sekedar menadah pesanan dari pelanggan. Alat-alat produksi berbasis robotika juga banyak yang direkayasa sendiri.

Kalau saya berbincang dengan mantan atasan saya itu tak terasa bahwa dia hanya lulusan SMA. Ia adalah seorang engineer, seorang pakar. Tentu saja ia bukan ahli dalam segala hal. Untuk hal-hal seperti HRD, supply chain, logistik, perpajakan, ia harus banyak mengandalkan saya. Tapi kalau saya jelaskan, ia bisa memahami dengan baik, sehingga komunikasi kami lancar.

Seorang lulusan SMA bisa menjadi pimpinan puncak perusahaan bagi saya adalah kejadian yang lumayan langka di tengah dunia yang lebih memberikan posisi kepada orang-orang dengan gelar akademis. Ini bisa terjadi terutama karena prinsip yang dianut oleh bos besar, pemilik perusahaan. Dia sendiri drop out, tidak lulus kuliah. Bukan karena ia bodoh, tapi karena ia lebih suka belajar dengan caranya sendiri.

Bos besar ini adalah chairman dari perusahaan yang lebih besar, sebuah MNC yang punya cabang di 7 negara, dengan produk menjangkau pasar di lebih dari 40 negara. Sebelumnya ia adalah presdir di situ. Di tangannya perusahaan yang tadinya perusahaan keluarga berubah menjadi perusahaan terbuka, dan berkembang ke berbagai negara.

Ia memberikan perhatian yang sangat besar pada pembinaan karyawan. Setiap karyawan mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk belajar. Ia mendorong setiap orang untuk belajar, termasuk pemimpin perusahaan. Sebagai direktur saya dulu mendapat pelatihan dasar teknik injeksi, meski saya tidak bertugas menangani teknis produksi. “Supaya kamu punya wawasan lebih mendalam tentang bisnis yang kamu tekuni, dan kamu bisa pula mengajari bawahanmu,” pesan dia saat saya akan ikut pelatihan. Ia juga menuntut pimpinan perusahaan untuk mencoba melakukan pekerjaan kasar yang dilakukan para buruh, agar bisa menghayati masalah yang mereka hadapi.

Di sisi lain tentu saja kondisi di atas hanya bisa dicapai bila para karyawan mau belajar dan terus belajar. Hukum alamnya jelas, siapa yang belajar akan mendapat ilmu. Tak penting lagi apa latar belakang atau gelar akademik yang dimiliki oleh seseorang. Orang cerdas lulusan universitas nomor satu di dunia pun akan tertinggal bila ia berhenti belajar.

Saya berharap ada banyak pengusaha di sini yang seperti ini. Bisnis sejatinya bukan sekedar usaha untuk memperkaya diri, tapi membangun tempat-tempat belajar bagi anak bangsa. Seperti kata Kennosuke Matsushita, “Kaisha wo sodateru kotow a, ningen wo sodateru koto.” Membangun perusahaan itu adalah mengasuh manusia.

Sementara itu menjadi karyawan sejatinya bukan sekedar mencari uang untuk menyambung hidup. Kerja adalah proses belajar yang tidak pernah berhenti. Kaisha wa kenshu genba. Perusahaan adalah lapangan tempat belajar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s