Menebak Arah Muhammadiyah Ke Depan

Menebak Arah Muhammadiyah Ke Depan
Agam Fatchurrochman

 

Bagaimana arah Muhammadiyah ke depan, sebenarnya bisa dilacak dari pemikiran para pemimpinnya. Hanya karena Muhammadiyah kepemimpinnnya kolegial, maka corak pemikiran satu ketua umum misalnya, tidak akan berpengaruh banyak terhadap arah Muhammadiyah. Muhammadiyah sudah punya institutional ideology atau organisational culture yang kuat. Hanya branding yang bisa terpengaruh.

Sistem pemilihan PP Muhammadiyah sebenarnya cukup moderat, memadukan model pemilihan langsung, dengan memilih 13 formatur, yang dianggap berilmu dan berakhlak baik, yang kemudian 13 formatur tersebut memilih satu diantaranya sebagai ketua umum dan lainnya ketua (sepertinya ini primus inter pares, dituakan diantara yang setara). Tapi namanya ketua umum, pasti lebih bergengsi.

Ketua umum juga lebih bisa membawa branding organisasi ini. Di bawah Pak AR, Muhammadiyah menjelma menjadi kekuatan amal usaha kesehatan dan pendidikan yang disegani. Pak AR yang lemah lembut, moderat, tidak mudah memberi cap, dan dalam tanya jawabnya selalu memaparkan pro cons dalam sesuatu, sehingga kita diminta memilih mana yang lebih baik, sebenarnya sangat modern, karena memandang manusia itu mampu memilih apa yang terbaik bagi dirinya.

Di sambung Pak Azhar Basyir yang dosen Filsafat UGM, sayangnya saya tidak sempat mengamati model kepemimpinannya.
Tipologi gerakan Islam Indonesia sebenarnya ada bermacam-macam. Versi lama seperti Geertz sudah tidak pas dipakai. Ada lagi pembagian ala Deliar Noer (Traditionalist untuk NU dan modernist untuk Muhammadiyah), ala Greg Barton, penulis biografi Gus Dur (Traditionalist [NU], Revivalist [Maududi, Natsir –Masyumi yang ingin mengakkan negara Islam], Modernist [Muhammadiyah], Neo Modernist [Gus Dur, Cak Nur]), ada yang menyebut neo-traditionalist (anak-anak muda NU). Ada lagi Neo Revivalist (Salafi Wahbbi dan ala HTI yang ingin mendirikan khalifah transnasional, meski kedua hal ini beda kelompok. Atau IM yang peduli khalifah internasional tapi lebih pragmatis, dengan membangun mulai dari keluarga, kelompok, partai menuju negara Islam, baru nanti bicara khalifah).

Nah, kalau memakai tipologi di atas, Pak AR dan Pak Azhar Basyir biasanya dikategorikan Modernist, dalam arti beragama dengan membuat tafsir yang mengacu langsung ke Quran dan Hadist, dan tidak terlalu menganggap penting pemikiran fikih dari berbagai mazhab atau ulama abad pertengahan. Bahkan lebih mengutamakan konteks ketika melakukan tafsir. Ini misalnya tanya jawab soal agama oleh Pak AR yang sangat rileks, tidak menggebu-gebu, menghindari pembahasan yang menurut kacamata modern kontroversial (misalnya gambaran surga yang dalam tafsir abad pertengahan sangat menawarkan kenikmatan fisik –malah bisa seperti orgy, atau soal perbudakan. Kebetulan dua hal ini sangat disukai kalangan salafi wahabbi radikal seperti ISIS, Al Qaeda).

Pak AR seingat saya kalau ditanya soal bunga bank misalnya, jawabannya akan membeberkan pro cons dan lebih bersifat memaklumi dan ada sifat darurat yang cenderung bersyarat dan bahkan bisa permanen. Pak AR bukan tipe yang mengharamkan transaksi di bank karena adanya riba, tapi lebih baik kalau bisa menghindari. Ketika pak AR meninggal, seingat saya Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama masih dipersiapkan.

Selanjutnya Pak Amien Rais, yang harus diakui karena menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, maka ibarat punya kekebalan diri dalam mengkritik Pak Harto dan Orde Baru. Pak Amien menjadi kritikus besar Pak Harto yang tak bisa disentuh. Beda misalnya dengan George Junus atau Arief Budiman, yang mengkritik tanpa membawa gerbong besar di belakangnya, sehingga harus menyelamatkan diri ke Australia. Muhammadiyah sendiri tidak terus menjadi kritikus Orde Baru, hanya Pak Amien dan beberapa tokoh (Muhammadiyah) Yogya saja. Saat itu Muhammadiyah kelompok Jakarta agak gamang dengan kelompok Yogya yang vokal. Tapi kritik jalan terus.

Seingat saya, pembahasan buku Greg Barton tidak menyentuh pemikiran Pak Amien Rais. Jadi belum dikategorikan apakah Modernist atau Post-Modernist seperti Gus Dur. Pak Amien saya lihat tidak tertarik melakukan tafsir dengan rujukan kuat ke Quran dan Hadist. Pak Amien cenderung tidak perduli dengan itu, dan lebih menggunakan ilmu politik sesuai bidangnya, common sense dan moralitas universal. Kalau melihat bagaimana Pak Amien mencoba membawa wacana soal zakat profesi 20% dulu, sedikit sekali rujukannya, lebih ke bagaimana memperkuat ekonomi umat. Ketika Pak Amien menggugat Freeport dan Pak Harto, lebih menggunakan prinsip amar makruf nahi munkar, nasionalisme ekonomi, dan transisi menuju demokrasi. Waktu itu kritik Pak Amien diberi nama sebagai “high politics”.

Dalam prakteknya, kritik Pak Amien jalan sendiri, Muhammadiyah tetap menjadi organisasi modernist yang fokus pada amal usaha.

Hanya harus diakui, dalam tindakan politik, Pak Amien lebih melihat umat Islam Indonesia sebagai aset dalam pemilu dan yang perlu diperjuangkan secara struktural. Tapi tidak berarti, misalnya NU tidak melihat itu juga. PKS dan PBB juga beranggapan yang sama.

Kemudian Buya Syafii memimpin. Ini sebenarnya merupakan periode emas penyegaran pemikiran Muhammadiyah kontemporer, ketika anak-anak muda Muhammadiyah didorong dan dilindungi oleh Buya sendiri, untuk mendorong penyegara pemikiran dan gerak amal usaha Muhammadiyah. Tidak seperti anak-anak muda NU yang lebih liberal, westernized tapi tetap tradisional dengan berpijak pada kitab kuning, berani frontal dan bertualang dalam kancah politik (Post Traditional tapi juga Political Islam), anak-anak muda Muhammadiyah ini berpendidikan (ala) barat yang modern tapi lebih terasa Indonesia (malah lebih Islam Nusantara?), dengan pemikiran yang lebih moderat, sangat ingin menjaga Indonesia dari berbagai penyelewengan dan kurang tertarik untuk berpolitik. Tema-tema HAM, korupsi, bencana alam, kemiskinan, dsb, jadi sesuatu yang akrab.

Penyegaran pemikiran langsung dipraktekkan. Pemikiran mengenai zakat sebagai kekuatan ekonomi umat langsung dipraktekkan dalam berbagai riset terkait filantrofi Islam dan juga memperkuat LAZIS Muhammadiyah.

Pasca 98 ketika Indonesia mengalami masa kekacauan dan gerakan Neo-Revivalist mulai berani tampil melalui PKS (IM) dan HTI (dulu di Yogya mereka misalnya memakai berbagai jubah, seperti Pusat Studi Al Ummah, yang diplesetkan oleh kawan-kawan saya menjadi Al Mlumah alias terlentang), tahun 2004 saya ikut Buya ke Padang dalam acara tabligh akbar antikorupsi, bersama Bambang Widjojanto, Pak Masdar F Mas’udi NU, HS Dillon, dsb). Datang sekitar 1.000 orang di aula milik Muhammadiyah. Salah satu hadirin berbicara bahwa kalau mau menghilangkan korupsi, kita harus menerapkan hukum Islam, potong tangan, dsb. Belum sempat orang tsb berhenti bicara, Buya langsung memotong dan berbicara keras bahwa bentuk Indonesia dan Pancasila sudah final. Tidak usah berpikir mendirikan negara Islam karena Indonesia akan hancur berantakan dan para founding fathers, yang diantarnya ulama Muhammadiyah, akan menangis.

Buya sendiri juga tidak berpretensi untuk melakukan tafsir ala fikih terhadap berbagai masalah saat ini. Bukan tipe Buya buat membuat tanya jawab agama ala Pak AR atau ekstrimnya Felix Siauw. Buya lebih mengambil nilai-nilai Islam yang universal untuk menjawab tantangan zaman, seperti masalah negara bangsa, korupsi, demokrasi dan sirkulasi kepemimpinan, dsb.

Buya mungkin dapat dikategorikan Post-Modernism, tapi Muhammadiyah tetap modernis. Muhammadiyah di era ini menjaga jarak ke kekuasaan dan partai. Pemikiran Buya yang moderat ini sendiri sebenarnya tidak mengakar kuat di warga Muhammadiyah, karena dipandang terlalu liberal, dekat Gus Dur, dsb yang agak traumatis bagi warga Muhammadiyah yang terbawa era lama ketika terjadi “perebutan” dalam berbagai posisi di Kementerian Agama dan berbagai IAIN.

Era Din Syamsuddin sebenarnya tidak banyak berubah. Din kurang membawa penyegaran pemikiran seperti Buya, tapi juga malu-malu membawa gerbong Muhammadiyah dalam politik. Yang menonjol adalah jihad konstitusi terhadap berbagai UU untuk diuji di MK. Warna nasionalisme Din cukup kuat di sini.

Ketika pemilu 2014, warga Muhammadiyah yang dekat dengan pemikiran Buya cenderung mendukung Jokowi, sementara bagian terbesarnya banyak lebih percaya Jonru dan PKS Kliyengan. Ini menjadikan warga Muhammadiyah yang Modernist menjadi mendekat ke Revivalist, meski tidak sampai ke Neo Revivalist seperti PKS dan HTI. Tapi akar Muhammadiyah yang berasal dari pemikiran Jamaluddin Al Afghani, Muhamamad Abduh, dan Rasyid Ridha, pembaruan agama dengan mengacu langsung ke Quran dan Hadist, dengan melepaskan diri dari kebiasaan lama yang membelit kemajuan umat, memang dekat dengan pemikiran Revivalist Al Maududi, yang belakangan mengilhami gerakan Neo Revivalist.

Nah, kemana Muhammadiyah ke depan di bawah calon-calon pimpinan PP Muhammadiyah?

Dari berbagai nama beredar, saya sendiri tidak kenal mereka secara langsung. Salah satu calon kuat adalah Dr Abdul Mu’ti. Saya hanya sekali bertemu tahun 2005 di Inggris ketika mas Mu’ti ini menjalani short course 3 bulan di Birmingham Unviersity dari British Council. Mas Mu’ti ikut ditanggap di keluarga pengajian Indonesia di Nottingham. Saya menangkap bahwa mas Mu’ti ini dekat secara pemikiran dengan Buya Syafii, tanpa harus dikategorikan sebagai orang dekat Buya. Orangnya moderat, paham konstelasi politik nasional dan internasional. Saya yakin wajah Islam yang ramah akan lebih terlihat.

Calon kuat lain adalah Dr Anwar Abbas. Saya punya bukunya, yang berasal dari disertasi di UIN Ciputat mengenai pemikiran Ekonomi Islam dari Hatta. Saya belum menangkap pemikiran Neo Revivalist di sini, masih Modernist.

Calon kuat lainnya adalah dosen UMY Dr Haedar Nashir, saya juga tidak mengetahui corak pemikirannya. Saya berharap Pak Haedar ini dekat secara pemikiran dengan Buya Syafii juga.

Hanya saya berharap agar Dr Rizal Sukma bisa masuk ke 13 formatur. Mengapa? Selain ini salah satu orang dekat Buya, Rizal juga salah satu penasihat Jokowi untuk urusan ekonomi politik Internasional, termasuk strategi memainkan kartu Cina vs Jepang vs US, dan tentu memilih yang terbaik buat ekonomi Indonesia. Saya berharap dengan Rizal masuk, maka bisa tampil lebih banyak menjelaskan bahwa permainan kartu tsb adalah bagian dari strategi dan bukan “tunduk kepada kepentingan asing aseng” yang banyak dilansir Jonru dan PKS Kliyengan. Dengan backing Muhammdiyah, tentu strategi ini bisa lebih mudah diterima kalangan umat Islam agar tidak kliyengan.

Tapi ke depan, arah Muhammadiyah masih sebagai organisasi Modernist yang langsung implementasi dalam hal amal usaha pendidikan dan kesehatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s