Kopdar Jepret, KVers Bersama Arbain Rambey

             Mengasah skill tentu saja penting bagi setiap orang. Ketrampilan apapun itu, jika seseorang mengusainya, dia akan menjadi yang terbaik di bidangnya. Atau, setidaknya bisa menunjang pekerjaannya. Atau, untuk having fun saja juga boleh. Termasuk fotografi. Jika dulu kemampuan fotografi hanya dimiliki kalangan tertentu seperti jurnalis foto atau fotografer studio, kini dimana-mana orang bisa memotret. Sebagian dari mereka mungkin tidak puas dengan hanya bisa jepret, tetapi ingin tahu lebih dalam bagaimana ilmu jepret itu. Berangkat dari itulah teman-teman Kagama Virtual (Kvers) di Jabodetabek berkumpul belajar motret di ODPS (Occi Digital Photography School), Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Sabtu 1 September 2012.

           Peserta yang awalnya ditargetkan 35, ternyata melebihi kuota hingga 40 orang. Mereka dari Jabodetabek, bahkan ada yang dari luar itu. Sebenarnya daya magnet apa yang membuat mereka bersedia meluangkan waktu ke sana? Padahal Jakarta yang macet dan jalanan ruwet seringkali bikin malas orang-orang untuk bepergiaan. Apalagi hanya untuk belajar motret. Bukankah cukup utak-atik sendiri fitur-fitur kamera di rumah? Tentu mereka punya alasan sendiri. “Dari SMA aku sudah minat foto-foto je. Kalau aku ikut kegiatan ini karena acara Kagama, jadi wajib dateng hukumnya, silaturahmi.” demikian alasan Alfian Rasyid, alumni Geofisika fakultas MIPA.

         Lain dengan Alfian, Sofyan Khoirul Anwar, alumni Teknik Geodesi, beralasan “Bukan karena tertarik fotografi, namun karena ingin bertemu teman-teman dan mempererat silaturahmi.” Lhoh!? Sofyan ini tinggal di Bekasi, menuju Jakarta Utara tentu saja bukan jarak yang pendek. Ditambah sepanjang jalan lalu lintas padat merayap dibalut terik matahari yang begitu menyengat. Namun, dia bela-belain datang.

          Sedangkan Mbak Utty Damayanti juga punya alasan sendiri. Selain ingin tahu tentang fotografi, secara umum/sedikit teknisnya, katanya juga ingin, “ketemu temen-teman dan bonus foto-foto yang fun!”

         Oke deh. Apapun alasannya, belajar sesuatu yang dikemas dengan acara berkumpul dengan teman-teman sealmamater memang bisa menjadi alasan penting untuk mengalahkan kendala. Termasuk kendala macet dan malas keluar rumah. Di sana bukan hanya berkumpul belajar fotografi, tetapi menemukan keluarga kedua. Teman-teman yang aman dan nyaman untuk berbagi. “Bukankah Rasulullah bersabda, siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diperbanyak rezekinya hendaknya ia memperpanjang silaturahmi.” tambah Sofyan mempertegas alasannya. Hoho.

Arbain Rambey mengenakan kaos Kelompok Fotografi Kagama buatan KVers. Photo by Eka Novianto N.

Apapun judul acaranya, ketika Kagama Virtual mengadakan “kopi darat” konon memang punya daya tarik tersendiri. Anggotanya terus bertambah. Kegiatannya makin variasi. Suasananya pun makin hangat. Lain waktu jika diadakan pelatihan membuat jamu, pesertanya pun mungkin akan banyak. Ups! Tapi kali ini tentang belajar motret dulu. Pematerinya nggak tanggung-tanggung, kami mengundang fotografer profesional, Arbain Rambey. Redaktur foto Kompas ini jurnalis yang memiliki keahlian dalam fotografi dan penulisan sekaligus.

                Melalui layar proyektor, sore itu Mas Arbain menunjukkan bagaimana mengatur komposisi objek alam dalam pemotretan. Seperti tajuk pohon, perahu sampan, dan sungai dalam satu frame. Gambar yang diambil dengan meletakkan perahu berada di bagian kanan, tentu hasilnya berbeda ketika motret dari angle lain. Arah datangnya cahaya matahari juga akan mempengaruhi hasil foto. Satu obyek alam bisa dipotret dengan berbagai sudut pandang. Keuntungannya, “Bisa dijual ke dua pihak yang berbeda,” ujar mas Arbain.

            Selain itu dibahas juga tentang bagaimana memotret objek manusia dengan latar belakang  alam ataupun bangunan. Menurut Arbain, saat pemotretan, objek manusianya bukan malah menjauh ke belakang mendekati bangunan, tetapi justru maju hingga separuh badan saja yang nampak dengan latar belakang bangunan yang penuh.

            Setelah mendapatkan sekian materi teknik fotografi, lalu mau diapakan hasil jepretan kita? Untuk koleksi pribadi dong atau dipajang di Facebook! Oh, kalau itu wajib. Selain itu, bisakah agar bernilai daya jual? Bagaimana caranya? Arbain mengatakan, seringlah untuk mengunggah hasil jepretan kita di internet, terutama situs yang memang memberi ruang fotografi. Di sana akan membuka peluang foto jepretan kita dilirik untuk kemudian dibeli. Bahkan, Arbain mengaku hidupnya 100% dari fotografi. Dia juga bercerita pernah diundang ke Eropa lantaran seorang nun jauh di sana tertarik dengan karyanya hingga ingin menggunakan keahlian fotografinya.

Tadaaaaa! Inilah salah satu hasilnya. ;-). Photo by Alfian Rasyid.

Meskipun tema acara kali ini “Travelling Photography” namun tidak terbatas hanya soal itu. Peserta boleh bertanya apa saja tentang fotografi dalam kategori apapun. Termasuk fotografi jurnalistik dan studio. Acara diakhiri menjajal praktek fotografi di studio dengan pencahayaan lampu. Seperti biasa, lebih banyak yang dipotret daripada yang motret. Hu-ha, dimaklumi. Oh ya, Arbain sempat menyinggung singkat mengenai sejarah narsis. Berawal dari seorang pemuda bernama Narcissus yang sering bercermin di air karena begitu mencintai dirinya sendiri sehingga tidak bosan melihat wajah sendiri. Jadi, “Foto narsis itu syah!” kira-kira begitu kata Arbain. Baiklah, siap? Satu dua, jepret! 😉

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, Minggu 2 September 2012.

Reuni, Bukan Hanya Tempat Singgah, Tapi Rumah

Sebagai pendatang di suatu kota, siapapun pasti ingin memiliki banyak teman. Mencari komunitas yang bukan hanya tempat singgah, tetapi juga rumah. Dimana di sana kita bisa menemukan keluarga kedua. Itulah mengapa kita menjadi merasa memiliki hubungan kekeluargaan ketika di perantauan bertemu dengan teman sealmamater. Karena itu, teman-teman alumni UGM yang berada di Depok mengadakan acara Buka Bersama pada Sabtu, 28 Juli 2012 di Pondok Laras, Depok.

Sore itu diawali dengan 6 orang di Pondok Laras. Ada yang sebelumnya sudah saling kenal, ada yang belum. “Kayaknya aku nggak asing denganmu. Apakah kita pernah kenal?” itu pertanyaan saya untuk Adit. Alumni Peternakan, angkatan 2005. “Tapi dimana ya?” Setelah diingat-ingat, ternyata kami memang pernah kenal. Enam tahun lalu, kami pernah berkegiatan dalam satu tim. Pendampingan sekolah darurat di Bantul, usai gempa Mei 2006. Setelah itu saling kehilangan kontak. Baru ketika reuni kecil itu, kami dipertemukan kembali. Alhamdulillah.

Begitulah, reuni mempertemukan tulang-tulang yang berserakan. Mempertemukan Mas Mimi (Sriyanto, Akuntansi 2000), Adit, dan Ivan Manbaul Munir (Peternakan 2005) yang ternyata dulu pernah satu kos di Klebengan. Acara ini ngobrol bebas, saling bercerita dan menanyakan tentang kesibukan selama ini. Dan tentang apa saja. Acara dibuka oleh Tisna Surya Adi Prenanto (Sosiologi, 2005), dilanjutkan Kultum oleh Adit. Saya juga bertemu dengan dua teman yang pernah satu kos di Asrama Putri Pertiwi, Pogung Kidul. Siti Zuhriyyah Musthofa (Biologi 2000, istri Sriyanto) dan Desti Isnaeni (Biologi 2005). Saat itu hadir juga Ajeng Prameswari (Administrasi Negara 2007, pacar Tisna :)). Kami yang duluan datang, menunggu teman-teman lain yang masih terjebak macet.

Acara tambah ramai karena diantara kami ada 4 balita. Putra mas Ivan, putra Mas Mimi, dan dua putra putri pasangan Mbak Ayi (Lestari Octavia, Kimia 1994)-Mas Muhammad Sholeh (Teknik Mesin 1996).  Oh iya, Mas Ivan datang bersama istrinya, putranya masih berumur hitungan bulan.

Kemudian satu persatu berdatangan. Ada Septy Nurul (Teknik Geodesi, 2005), Sofyan Khairul Anwar (Teknik Geodesi 2005), Widiantoro (Hukum 2003), dan Ulfia Mutiara (Farmasi 2005). Jadi, berapakah jumlah semua yang hadir? Coba deh hitung. 🙂

Saat itu acara ramai sekali. Bukan hanya karena kelompok kami, tetapi juga kelompok lain di meja sebelah. Dalam bulan Ramadhan seperti ini memang musimnya Buka Bersama, rumah makan selalu penuh pengunjung. Apalagi Pondok Laras. Untuk bisa pesan tempat tersebut, butuh perjuangan tersendiri. Hoho.

Saat perkenalan, suara kami tertelan oleh bising di sekitarnya. Makanya kami harus menyebut nama berkali-kali. Perlu dicek ulang apakah satu sama lain saling ingat nama. Ketika diantara kami ternyata ada yang lupa nama teman, sebelum pulang dia harus cuci piring. Untunglah semua pulang tanpa harus cuci tangan dulu, apalagi cuci piring. :p

Pondok Laras

Di Depok, ada beberapa pilihan rumah makan yang oke buat ngumpul. Saat itu pilihan kami jatuh pada Pondok Laras karena kami mencari tempat makan selain mall. Di sana saungnya oke dan tempatnya strategis. Selain itu, harganya cukup terjangkau. Harga tiap menu makanan besar kira-kira Rp. 30-60 ribu. Bandingkan dengan Rice Bowl Detos yang permenu minimal Rp.110.000an.  Jadi berapakah iuran perorang? Sebenarnya tergantung pilihan menu masing-masing. Jika uang iuran berlebih, akan disumbangkan ke kas Beasiswa Kagama Virtual. Saat itu uang sisa Rp. 159.000. Uang dibawa Ulfia untuk segera ditransfer kepada yang berhak.

Acara ini merupakan bagian dari acara-acara Buka Bersama Kagama Virtual di wilayah lain. Reuni-reuni seperti ini memang dapat mengikatkan kembali kontak yang telah lepas. Atau menambah ikatan baru. Diharapkan juga bisa makin mempererat silaturrahim dan membuka banyak jalan kebaikan. Kita yang tadinya merasa sendiri di suatu kota, kini bisa menemukan komunitas yang (semoga) bukan hanya tempat singgah, tetapi juga “rumah.” Tempat dimana hati-hati kita berkumpul. Tempat yang aman dan nyaman untuk berbagi dan bercanda. Jiaaah! :p. Kita akan bertemu lagi di acara-acara reuni atau kopdar Kagama berikutnya. Insyaallah.

Arbain Rambey : Yang Terpenting dari Fotografi adalah Kemampuan Melihat

“Kamera hanya alat! Sebuah foto tercipta dengan pilihan posisi, pilihan komposisi dan pilihan saat yg tepat untuk menjepretkan rana. “Arbain Rambey.

Maksudnya bagaimana ya quote di atas? Baiklah, ayo kita temui langsung narasumbernya. Kelompok Fotografi Kagama (KFK) akan mengadakan acara Travelling Photography pada Sabtu, 1 September 2012. Lokasi di ODPS Kelapa Gading Work#6, Apartement Summit Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tepatnya pukul 14.00-17.00. Rencananya kita akan dipandu oleh fotografer profesional Arbain Rambey (redaktur foto Kompas, jurnalis yang menguasai fotografi dan penulisan sekaligus).

Menurut lelaki alumni Teknik Sipil ITB itu, “Bagus atau buruk itu tergantung kebutuhan. Semua kamera diperkirakan bagus oleh produsernya, maka dilepas ke pasaran.” Jadi, kalau kita ingin belajar fotografi dengan kamera apapun, ponsel sekalipun, nggak masalah kan?

Acara ini terbuka untuk alumni UGM yang tertarik fotografi, yang pemula, yang amatir, ataupun yang sudah jago.  Beberapa catatan ringkas dan bernas tentang fotografi dari twitter Mas Arbain perlu kita simak :

Apakah kamera saku cukup bagus? Iya! Terutama kalau dilihat kepraktisannya…

Kamera saku juga selalu ada di dalam tas fotografer profesional sekali pun..

Kamera saku 6 Megapiksel sudah sangat cukup untuk membuat foto cetakan 30×20 cm dengan SANGAT BAGUS…..

Bagus atau buruk itu tergantung kebutuhan. Semua kamera diperkirakan bagus oleh produsernya, maka dilepas ke pasaran…

Kamera mahal + tas murahan itu ibarat udah dandan dan nyalon abis2an tapi lalu sandalan ke pesta….

Memakai barang2 terbaik dlm fotografi, sedikit banyak memacu kita utk jg membuat karya2 yg lbh baik…Kalau bersemangat jangan nanggung..

Kamera memang hanya alat, tp bgmn pun Anda tergantung dia….Perlakukan dengan baik!

Out of focus/misfocus itu kalau yg difokus meleset, tapi ada bagian lain tajam….Soft focus itu tajam tapi lembut…

Foto jurnalistik sejatinya berwarna krn realita mmg berwarna. Kini, jika menampilkan hitam putih, harus menyebutkan bhw aslinya berwarna

Backfocusing adl: yg tajam di bagian belakang yg diincar…Frontfocusing sebaliknya….Keduanya akibat kesalahan kalibrasi lensa..

Kerja berat akan terasa sangat ringan kalau ditinggal tidur…(Arbain Rambey, Maret 2011, sedang ngantuk banget…!)

Foto jurnalistik tak perlu model release…. Motret presiden aja bebas kok….

Fotografi digital, selama kameranya OK, kemungkinan kesalahan cuma di metering…sisanya bisa dikoreksi dan diulangi pasca pemotretan..

Harga lensa adalah harga optik…stabil, malah cenderung naik…Kamera adalah harga teknologi yg cepat basi…..

kamera spt Leica, harganya bukan semata harga bahan…dia juga positioning…memilh pangsa pasar/kelas pembeli nya….

Tapi, kalau udah beli kamera, pakai saja…jangan mikir kamera untuk investasi…

Jangan menunda beli kamera hanya karena ingin harganya turun…kapan belinya? Harga terus turun kok…..

Belilah kamera pada saat Anda yakin sedang memerlukannya….Kalau merasa msh bisa menunda, tunda saja! Artinya sebenarnya Anda blm butuh

Para profesional makai kamera gak sempat lihat harga karena semahal apa pun kelau diperlukan, ya harus dibeli…

Beli kamera itu untuk dipakai. Kalau Anda sempat menyesal membeli merek tertentu, berarti Anda beli kamera sekadar untuk punya….

Setelah dipakai lebih dari 4 tahun, kalau kamera digital Anda mati, tak usah mikir untuk reparasi. Udahlah, beli baru saja..

Masih belum puas dengan penjelasan singkat-singkat itu kan? Makanya, ayo ikutan acaranya. Cuma Rp. 50.000 kok (untuk snack dan minum, selebihnya akan disumbangkan untuk beasiswa KAGAMA Virtual). Jangan lupa daftar yah.

Tips Persiapan PhD di Jerman

Tips ini disampaikan oleh Mas Ferizal Ramli saat diskusi di tread group Kampung UGM, 19 Juni 2012. Dari pada info hanya melintas di tread, kemudian lenyap, lebih baik saya copy paste di sini. 🙂

:

Ada hal penting untuk dapat sekolah di Jerman jika kita tidak ingin incar bea siswa. Kunci utamanya adalah dapatkan Professor Pembimbing untuk Program Doktor. Harus diingat filosofis Program Doktor di Jerman itu hubungan antara pembimbing dengan yang dibimbing ibarat Kyai dan Santri. Sangat erat!

Jika disistem Anglo-Saxon maka Professor Pembimbing disebut Supervisor atau Promotor, klo disistem Jerman maka disebut Doktorvater atau Doktormutter alias Bapaknya Doktor atau Ibunya Doktor. Jadinya, Professor pembimbing itu amat berkuasa penuh atas nasib anda seperti nasib anak balita kita yang amat tergantung pada kita.

Oleh karena itu kuncinya cari Professor pembimbing.

Apa tipsnya untuk bisa berburu Professor?
Pertama: Siapkan semua modal anda untuk menjual diri

Kedua: Ikuti saran saya untuk strategi pendekatannya

PERTAMA:

Modal anda adalah:
1. Proposal Riset Doktor yang bagus!

Catatan: Workshop yang akan saya adakan di Yogya salah satu materinya pelatiah bagaimana membuat Proposal Doktor yang bagus. Jika anda sudah kirim CV ke saya melalui email ferizal.ramli@yahoo.com maka nanti akan saya ikut sertakan.

Salah seorang trainer berpengalaman akan ajarakan anda bagaimana membuat proposal riset yang bagus menurut standard Jerman.

2. Membuat CV yang bagus
3. (Akan lebih baik lagi) nilai sekolah Master anda bagus dari Univ yang punya reputasi tinggi
4. Tentu saja memenuhi administrasi TOEFL (klo B. Jerman tidak mutlak karena nanti akan dikasih kursusnya).

KEDUA:
Bagaimana cara berburu Professor?

1. Anda bisa searching di link ini http://www.hochschulkompass.de/en.html

Itu link adalah host yang terhubung diseluruh Univ di Jerman. Nah cari Universitas mana yang menawarkan jurusan yang anda inginkan.

2. Setelah anda menemukan Univ yang tawarkan jurusan yang anda inginkan maka mulai masuk ke websitenya lalu cari nama-2 Professornya.

3. Setelah anda menemukan nama Professor maka segera cari informasi publikasi apa saja serta riset apa saja yang sedang dan sudah dilakukan.

4. Pahami publikasi yang telah di-publish di Jurnal oleh sang Professor tersebut. Cari titik-titik persinggungan antara proposal riset anda dengan publikasi sang Professor tersebut.

5. Setelah anda mendapatkan semua point titik persinggungan, anda tahu persis apa keahlian Professor tersebut maka saatnya anda ontak langsung melalui email.

Tunjukkan bahwa anda sudah melahap semua jurnal-2 yang dipulikasikan si Professor. Ceritakan bahwa anda berminat dengan kajian. Dan minta dia membimbing anda.

Biasanya cara ini langsung membuat Professor jatuh hati pada anda.

6. Untuk wawancara dengan Professor Jerman akan lebih bagus jika ikut Workshop di Yogya bulan September sehingga bisa tahu point mana yang paling penting diartikulasikan saat bicara dengan Professor Jerman

7. Jika anda sudah dapat Letter of Acceptance maka urusan biaya, dll bisa anda bicarakan dengan Professor

“Jadi gampangkan untuk bisa Kuliah Doktor di Jerman? :)” kata Mas Ferizal.

Photography Gathering KV Lakukan Bersih Pantai

Sampah Kiriman dari 13 Mulut Sungai Jakarta, Kotori Pulau Rambut

Oleh Nur Laeliyatul Masruroh

Image

Sebuah kapal kecil yang mengangkut 60 pecinta fotografi mendarat di Pulau Rambut, salah satu area konservasi di Kepulauan Seribu, pada akhir Mei 2012. Mereka disambut oleh serakan sampah plastik yang tidak sedikit jumlahnya. Sebagai area konservasi yang vegetasi dan satwanya dilindungi, mengapa sampai ada gunungan sampah mengotori pantai? Rupanya sampah ini kiriman dari tempat lain. Menurut penjaga pulau, ada 13 mulut sungai dari Jakarta dan Tangerang yang memuntahkan material sampah ke Pulau Rambut.

Serakan sampah tersebut berupa plastik bungkus, ban bekas, sandal, sepatu, dan berbagai materi yang tidak bisa terurai dalam waktu hitungan tahun. Ombak di bibir pantai Pulau Rambut berdebur besar. Seringkali saat ombak pasang tinggi, air masuk menggenangi area pohon bakau. Sampah-sampah itu pun turut terbawa ombak ke daratan hutan mangrove dan tentu saja mengotori tanahnya.Image

Pulau Rambut secara administratif termasuk dalam Kabupaten Kepulaun Seribu, propinsi DKI Jakarta, memiliki luas 45 hektar, dan merupakan kerajaaan burung. Ribuan burung dengan berbagai jenis beterbangan dan berumah di tajuk pepohonan. Kita bisa melakukan birdwaching di sebuah Menara Pandang di tengah hutan. Ekosistem di sana berupa hutan mangrove dan tidak berpenduduk. Pulau ini bukanlah area wisata untuk umum. Untuk memasuki kawasan tersebut memerlukan ijin khusus dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam, DKI Jakarta. Di pinggir pantainya, kita bisa menikmati pemandangan debur ombak sambil merebahkan tubuh di rerumputan. Meskipun siang terbalut terik matahari, di sana kita bisa dengan nyaman berteduh di bawah kanopi Cemara Pantai yang rindang. Sekawanan burung terbang ke sana kemari membawa sepotong serasah tumbuhan untuk membangun sarang. Mereka membawa daun-daun dan ranting yang menggenang di permukaan laut. Burung-burung tersebut juga sesekali berenang mencari pakan ikan laut. Sayangnya momen indah itu terganggu oleh bau busuk sampah di sana sini.Image

Saat kita memasuki hutan mangrove Pulau Rambut, ditemukan potongan-potongan koral serupa tulang-tulang berserakan di antara akar nafas pohon bakau. Juga, lubang-lubang mulut pintu rumah kepiting besar. Jalan setapak menuju rawa-rawa tersebut tumbuhlah pohon endemik Pulau Rambut, yakni sebuah pohon dari keluarga jeruk. Selain itu berbagai pepohonan termasuk Kepuh, Waru Pantai, dan Jati pasir, mendominasi vegetasi di sana. Umbi Gadung dan sejumlah liana khas juga tumbuh dalam ekosistem tersebut. Ekosistem seperti ini harus dijaga agar tetap lestari. Sampah-sampah yang telanjur masuk ke hutan mangrove bisa merusak tanah dan akhirnya merusak ekosistem.

Para pecinta fotografi tersebut merupakan sekelompok alumni Universitas Gadjah Mada, mendatangi Pulau Rambut bermaksud mengambil gambar untuk mengabadikan momen. Keindahan alam di Pulau Rambut pantas untuk diketahui dan menjadi tempat riset. Adanya gambar-gambar atau video yang dibuat dapat sebagai kontrol perubahan ekosistem beserta kekayaan hayatinya yang terjadi dari waktu ke waktu. Mereka juga menanam bibit bakau yang sudah tersedia di sana. Selain itu melakukan bersih pantai. Mereka mengumpulkan sampah-sampah yang tidak bisa terurai, ke dalam sejumlah plastik besar untuk kemudian dibawa petugas ke tempat pembuangan akhir di Pulau Untung Jawa. Di Pulau Rambut tidak diijinkan menyalakan api untuk membakar sampah ataupun sekedar menyalakan api unggun, mungkin karena di sana banyak ranting kering, dikhawatirkan bisa memicu kebakaran hutan.Image

Bersih pantai tersebut sekilas nampaknya tidak seberapa dalam mengurangi sampah. Namun ini sangat berarti, setidaknya mereka membantu mengurangi dan tentu saja jangan sampai menambah. Meskipun banyak sampah plastik berserakan, namun air lautnya masih jernih dan biru. Karena pulau ini cukup jauh dari aktifitas penduduk. Dari Tanjung Pasir yang terletak di batas Pulau Jawa, untuk mencapai Pulau Rambut memerlukan waktu kurang dari 1 jam menggunakan kapal kayu.

Permasalahan sampah tidak berhenti di bibir pantai Pulau Rambut. Saat kapal kembali ke Tanjung Pasir, mendekati bibir pantai, kita kembali dikejutkan oleh airnya yang sangat keruh. Bukan hanya sampah plastik yang mencemari, tetapi juga limbah cair yang menghitamkan air laut. Jika sampah dan polutan dibiarkan terus menerus mengotori sungai dan laut, akan merusak keseimbangan ekosistem secara keseluruhan di bumi.Image

Mustinya warga Jakarta dan sekitarnya malu membuang sampah di sungai. Hal ini menjadi tanggungjawab bersama untuk tidak meremehkan buang sampah sembarangan. Mungkin seseorang berpikir bahwa satu sampah plastik yang dibuang sembarangan ke sungai tidak akan mempengaruhi kehidupan di bumi. Namun, apa jadinya jika seribu orang berpikiran sama? Seribu plastik akan menyumbat aliran sungai dan saat hujan turun andil bikin banjir. Sungguh, ini bisa dimulai dari diri sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya. Memastikan bahwa di wilayah tempat tinggal kita, terutama di kota, ada pengambilan sampah tiap rumah yang terpadu secara rutin. Pastikan sampah plastik kita hari ini dibuang ke tempat yang tepat.

Depok, 2 Juni 2012

Ditulis juga untuk riverforlife.org