Menjadi Mahasiswa yang Belajar

Menjadi Mahasiswa yang Belajar
Hasanudin Abdurakhman

 

Banyak orang mengeluh sulit mencari kerja. Khususnya bagi lulusan baru yang tidak punya pengalaman kerja. Tidak sedikit yang melamar ke sana sini tapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Namun dari sisi sebaliknya saya merasakan hal yang juga tak enak. Dari sisi pemberi kerja (perusahaan), saya sering merasa kesulitan mendapat tenaga kerja sesuai dengan yang kami butuhkan.

 

Waktu memimpin sebuah perusahaan manufaktur kecil di Karawang saya punya kebijakan untuk memprioritaskan lulusan baru ketika merekrut karyawan. Pertimbangannya, saya ingin memberi kesempatan seluas-luasnya bagi lulusan baru.  Saya menyediakan diri untuk membimbing dan melatih karyawan, juga memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar secara mandiri.

Apa hal terpenting yang saya perhatikan ketika saya menyeleksi calon karyawan? Kemampuan belajar. Prinsip saya, seorang karyawan yang baik dan bisa diandalkan adalah orang yang mampu belajar dan mau terus belajar. Perusahaan akan maju bila para karyawannya adalah orang yang cerdas, kreatif, dan penuh inisiatif. Tapi bagaimana bisa menilai semua itu dari suatu wawancara yang singkat? Meski tidak 100% akurat, hal itu bisa dilakukan.

Continue reading

200.000 SPBU Asing Katanya?

– 200.000 SPBU Asing Katanya? –

Dalam acara Security Summit SKK Migas – KKKS Migas di Nusa Dua Bali 20 November lalu, seorang pembicara bertanya secara blak-blakan dari atas podium. “Saya challenge anda-anda yang berasal dari perusahaan migas asing. Sanggupkah perusahaan anda berlaku seperti Pertamina, mendistribusikan BBM subsidi ke seluruh pelosok Indonesia, dan dibayar entah kapan oleh pemerintah?.”

Tak ada yang merespon tantangan tersebut dan tentu saja begitu. Mendistribusikan BBM di Indonesia bukan perkara mudah. Secara kasar saya sudah melihatnya di Pertamina selama tiga tahun terakhir, dalam perjalanan saya memberikan security awareness di unit-unit bisnisnya yang tersebar di berbagai penjuru tanah air. Jadi betapa menyedihkan jika ada yang percaya, bahwa akan ada 200.000 SPBU asing yang segera beroperasi di Indonesia. Mereka akan buka disini, iya. Jumlahnya banyak, memang. Namun 200 ribu unit?. Memangnya Shell mau, jika disuruh membuka SPBU di Rangkasbitung atau Pagar Alam?.

Perusahaan Migas asing pasti berfikir business oriented. Mereka, seperti pelaku bisnis lainnya, sangat pragmatis. Yang paling masuk akal adalah membuka SPBU di kota-kota besar padat penduduk, padat kendaraan bermotor dan murah dari sisi biaya distribusi. Dari sini saja sudah bisa diperkirakan barrier entry yang akan dihadapi : ketersediaan lahan, izin operasional dari Pemda setempat, Amdal, HO dan entah apa lagi.

Jadi 200.000 unit?. Barangkali seekor babi akan dapat terbang dalam waktu dekat ini, namun saya sangat meragukannya.

Sawangan, 1 Desember 2014

Lifestyle series – 3: Slow Food

Lifestyle series – 3: Slow Food
Dyna Andriani

Pecel_08Sedulur, pernah dengar belum?

Kalau fastfood pasti dah jamak lah ya..kita sering dengar ‘fast food‘. Ada hubungannya nggak sih? Ada. Cuma kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya jadi lain dah..

‘Fastfood’ biasanya diterjemahkan sebagai makanan ‘cepat saji’, apakah kalau ‘slowfood’ terus.. lambat saji??? Selak luwe tho ya….
Bukan. Hubungannya tidak terkait dengan kecepatan dalam penyajian tetapi lebih ke konsep ‘kenikmatan’, ‘kesadaran’, dan ‘regionalitas’ dari suatu makanan. Menikmati makanan dengan kesadaran dan kepedulian… kira2 begutu kali ya?!

Istilah ‘Slowfood’ sebenarnya berasal dari sebuah gerakan, gerakan melawan ‘Fastfood‘!

Gerakan ini bermula di Itali yang berusaha mempertahankan ‘‘regionalitas Dapurnya‘, artinya bahan makanan diusahakan dari produk lokal. Slowfoodterkait dengan otentitas karakter (regional dan musim), serta cara pembuatan serta menikmatinya harus memperhatikan tradisi dan pengetahuan asal mulanya.

Carlo Petrini adalah peletak mula gerakan ini di tahun 2006 dengan parameter : ‘‘bueno, pulito e giusto‘‘ yang artinya enak, bersih dan fair. Kalau salah salah satu kriteria ndak ada, namanya bukan ‘slowfood’.

Terkait dengan ‘fair’, secara luas, bahan makanan -dalam kriteria‘Slowfood‘- adalah yang di tanam, diproduksi, dijual dan dimakan seharusnya akan memperkuat lingkaran ekonomi regional dan mengikat manusianya melalui mata, telinga, mulut serta tangan di region tersebut.

http://3.bp.blogspot.com/…/A…/FY6Tafv3w5U/s1600/Pecel_08.jpg

Lifestyle series -2: Keju-Analog

Lifestyle series -2: Keju-Analog
Dyna Andriani

Pernahkah sedulur berpikir, kalau keju yang kita makan mungkin saja adalah ‘bukan keju‘ , tetapi keju-analog? (Kalau keju digital mana bikin kenyang ?! hhaa..)

Serius, ini tentang ‘‘Keju Analog‘‘, atau dikenal dengan keju imitasi dimana produksinya tidak berasal dari susu tetapi dari sumber lainnya, misalnya pada mulanya dari lemak sapi . Jelas keju imitasi lebih murah dari keju konventional. Saat ini, keju analog berbahan air, kedelai, minyak nabati seperti minyak sawit sebagai bahan dasar, dll.Bahan lainnya sperti aroma, pewarna, penyedap rasa dll. Intinya Keju imitasi saat ini adalah Lemak nabati dengan aroma keju.
Apakah keju imitasi buruk? Katanya buruk terkait penyakit jantung, diabetes, dan kolestrol.

Bagaimana membedakan keju asli (dari susu) dan keju imitasi ? Bila kita membeli makanan yang di pack, biasanya ada deklarasi: lemak nabati. Bila tidak… sayang susah! Tanya ke penjualpun, mereka biasanya tidak tahu.

Jadi mikir, di Pizza Hut, Papa Johns, Domino, Dr. Oetker… gimana ya? Jadi penasaran..

Tetapi apabila anda seorang Veganer (bukan Vegaterier lho ya..)..beruntunglah, karena bahannya tidak dari binatang. Tetapi resiko kesehatan tetap saja ada.

Salam.

diambil dari macem-macem sumber.

http://snipmagazin.files.wordpress.com/…/800px-supreme_pizz…

Lifestyle series – 1: STEVIA

Lifestyle series – 1 :STEVIA
Dyna Andriani

 

steviaPernahkah sedulur dengar tentang si Stevi yang manis ini?

Stevia adalah tanaman Stevia rebaudiana pengganti gula kristal yang kita guanakn sehari-hari. Tanaman ini berasal dari pegunungan Amambai yang membentang di Paraguay – Brasil. Di daerah itu, sejak dari dulu digunakan oleh penduduk asli sebagai pemanis makanan dan minuman. Tahun 1887 ditemukan oleh Bertoni (orang Swiss). Hanya dengan beberapa lembar daunnya, bisa memberi efek manis secangkir Kopi / Teh kental.

Sejak awal 1920, Stevia mulai dibudidayakan di daerah asalnya dan sepuluh tahun kemudian dipelajari dan diuji dampaknya di Eropa. Melalui berbagai penelitian mulai dari budidaya dan dampak penggunaannya terhadap manusia, Stevia-extrak di tahun 1970an mulai terkenal di pasar Jepang dan China. Saat ini, stevia dibudidayakan hampir di seluruh dunia seperti Amerika Selatan dan tengah, Israels, Thailand, China, Eropa, Australia dan New Zealand.

Terus terang, secara sengaja saya belum pernah mencobanya. Secara tidak sengaja, kemungkinan saya makan dari coklat, permen atapun minuman .
Apakah Stevia sudah menjadi alternative? Berdasarkan study dan informasi, Stevia ‘aman‘ digunakan dan dianjurkan untuk Diabetiker. Stevia rendah kalori dan tidak menimbulkan kerusakan gigi (kariogen) tentu menarik untuk dipertimbangkan.

Plus, Stevia ada extraknya lho, khabar bagus tho? Hee..

Salam.

Dirangkum dari http://de.m.wikipedia.org/wiki/Stevia
gambar : http://entheopedia.org/pics/crazyreefer/stevia.jpg

Hidup Boleh Sederhana, Pendidikan Jangan Sederhana

Hidup Boleh Sederhana, Pendidikan Jangan Sederhana

 

 

10830717_10152616968133978_8064159947472748289_oIbu saya tidak lulus SD, sekolah hanya sampai kelas 2, cuma bisa baca tulis dan berhitung. Ketika remaja, Ibu menjadi pelayan toko kain. Selama itu, beliau menabung gajinya dengan membeli emas. Setelah menikah dengan Bapak (katanya sih lulus SD, tapi kami tidak pernah melihat ijazahnya), Ibu menjual emasnya untuk modal buka toko. Bapak menjahit dan Ibu berjualan alat-alat jahit seperti benang, kancing, jarum.

Keluarga kami hidup sederhana. Kami tinggal di kios satu lantai. Saya tidur di kasur busa tipis yang digelar ketika toko sudah tutup. Kami tidak punya TV, kalau ada acara menarik (misalnya ketoprak TVRI), kami harus menonton di TV tetangga. Benda-benda mewah seperti kulkas dan sambungan telepon baru kami punya setelah saya lulus SMP.

Tapi Ibu tidak pernah berhemat untuk biaya pendidikan saya. SPP tidak pernah telat, buku-buku pelajaran terbeli semua. Meski saya harus puas menggunakan tas yang sama selama enam tahun. Saya sekolah di SMP terbaik di kabupaten. Lulus dengan nilai terbaik se kabupaten. Saya melanjutkan SMA di kota Yogyakarta yang jaraknya 20 km dari rumah. Setiap hari saya harus naik kendaraan umum sampai usia saya cukup untuk membuat SIM. Meski saya sempat sulit beradaptasi dengan gaya hidup remaja kota, saya lulus dengan nilai terbaik di SMA.

Ibu membiayai kuliah saya di UGM sampai lulus. Memang waktu itu SPP UGM masih cukup murah dibanding sekarang. Tapi bagi orang tua saya yang penjahit, membiayai kuliah anak di kota sampai lulus adalah komitmen panjang yang tidak semua orang sanggup. SPP dan uang praktikum saya tidak pernah telat. Uang untuk fotokopi buku juga selalu tersedia. Tapi uang saku saya tak pernah cukup sebenarnya. Saya harus mencari tambahan sendiri dengan berjualan sprei dan tas.

Ibu juga membiayai sekolah Adik saya yang lebih moncer. Hidup boleh sederhana, tapi pendidikan harus yang terbaik, mahal pun harus diusahakan. Adik saya sekolah di SMP elit di Jogja dan SMA terbaik di kota yang sama. Ibu tidak pernah mengeluhkan biaya uang gedung, meski kadang harus mengambil dari uang untuk kulakan benang dan kancing. Adik saya juga lulusan UGM dan sekarang bekerja di penerbit paling masyhur di Jogja.

Sekarang Ibu dan Bapak saya masih tinggal di desa yang sama. Masih hidup sederhana di rumah dengan listrik 450 watt, yang harus gantian kalau mau menghidupkan mesin cuci atau menyetrika. Ibu tidak mengenyam bangku sekolah, tapi dia tahu mana yang seharusnya menjadi prioritas dalam hidup. Entah bagaimana reaksi Ibu kalau sampai tahu ada orang-orang yang mempermasalahkan “gaya hidup sederhana kok menyekolahkan anaknya di sekolah mahal”. Mungkin beliau cuma gumun dan bertanya-tanya orang itu sekolahnya di mana.

Gaya hidup seharusnya sederhana, tapi pendidikan tidak boleh sederhana. Jangan terbalik

 

Akankah Kita Hanya Mau Menjadi Penonton Saja?

– Akankah Kita Hanya Mau Menjadi Penonton Saja? –

Haryoko R. Wirjosoetomo

Saya pertama kali “berurusan” dengan Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK tiga tahun lalu, ketika seseorang disana mengudang meeting di kantornya. Waktu itu mereka memerlukan pelatihan Risk Management dan saya spontan menyanggupinya. Hanya saja, di ujung pembicaraan tersirat ada sedikit keraguan pada dirinya.

“Begini Pak Haryoko. Kami memperoleh nama anda dari seorang mantan penyidik kami. Ia telah resign dari Polri dan sekarang bekerja sebagai loss prevention manager di …. (ia menyebut nama sebuah perusahaan migas). Kapan hari ia bercerita bahwa team loss prevention di perusahaannya memperoleh beberapa pelatihan dari Bapak dan kami sangat tertarik juga mengenainya. Hanya saja ada satu hambatan disini…”

“Apa hambatannya kalau saya boleh tahu?.”

“Professional fee bapak, saya sudah mendengar dari kawan kami itu, benar-benar jauh diluar budget KPK. Sebagai lembaga negara, kami terikat pada peraturan-peraturan tentang honor pengajar…”

“Itu sama sekali bukan hambatan pak. Saya tunduk kepada peraturan negara saya sendiri. Silakan bapak beri honor mengajar kepada saya sesuai dengan ketentuan yang berlaku…”

“Tapi tidak ada pengurangan materi kan pak?,” selorohnya sambil tertawa.

“Yang terbaik pak, saya pastikan yang terbaik…”

“Wah, terimakasih banyak pak…”

Terimakasih kepada saya?. Saya menjadi malu hati, seharusnya sayalah yang berterimakasih kepada mereka. Apapun motivasi pribadinya, mereka telah berani menempatkan diri pada posisi yang berbahaya, in the line of fire, untuk memperbaiki negeri ini. Karena itulah saya tidak mau hanya sekedar menjadi penonton saja, harus turut berkontribusi dengan apa yang saya punya.

– 000 –

Tiga minggu lalu didalam taksi, dalam perjalanan dari hotel kekantor Husky-CNOOC Madura Limited di Surabaya, saya ditelepon seseorang dari Samarinda. Ia memperoleh nama saya dari seorang sahabat, yang menjabat sebagai Security-Safety Manager sebuah gedung perkantoran prestisius di Jakarta. Singkat kata, ia memerlukan jasa konsultan pengamanan.

“Apakah bapak ada client di Kalimantan Timur pak?. Untuk referensi kami,” tanyanya.

“Ada beberapa pak. Kami menangani Pertamina RU V di Balikpapan, Pupuk Kaltim di Bontang, Vico Indonesia di Muara Badak dan KPC di Sangatta. Semoga referensi ini cukup pak…”

“Waduh, raksasa semua, kami hanya perusahaan kecil pak. Apa mampu kami membayar bapak?.”

“ Apa bidang bapak?.”

“Developer pak, kami sedang membangun sebuah perumahan kecil, sekitar tigaratus rumah. Hanya saja kami ingin memiliki sistem manajemen pengamanan yang bagus, sehingga penghuni merasa aman. Tapi melihat daftar pendek client bapak disini, saya jadi merinding….”

Saya tertawa mendengar gurauannya.

“Begini saja pak. Saya akan submit proposal ke Bapak, tanpa ada nilai jasa disana. Setelah itu saya akan ke Samarinda dan mendiskusikan dengan Bapak. Soal budget saya jamin akan sesuai dengan anggaran anda, jadi merindingnya disimpan saja untuk masalah lain…”

Saya sudah lama berkeinginan, perusahaan-perusahaan kecil dan menengah di Indonesia mampu menerapkan sistem manajemen pengamanan yang baik, yang selama ini hanya bisa dilakukan dan dinikmati oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Banyak yang bersemangat, banyak yang menyadari tingkat kepentingan dan manfaatnya; namun selalu terbentur kendala yang sama. Tingginya biaya jasa konsultansi untuk membangunnya. Dan saya bertekad untuk urusan ini, tidak sekedar menjadi penonton saja.

– 000 –

Hidup di negeri ini, kita hanya disodori dua pilihan. Menjadi penonton dan merutuki kondisi negara saat ini, atau turut mengambil bagian untuk memperbaiki keadaan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semua pasti berujung kepada biaya, kendati langkahnya sangat sederhana semisal beralih dari konsumsi bahan bakar subsidi ke non subsidi. Namun yang terpenting adalah, sekecil apapun langkah itu, seminim apapun biaya yang dikeluarkan, akan mampu membuat perubahan yang berarti. Sebuah perubahan besar bisa dimulai dari serangkaian perubahan kecil-kecil dan grup ini amat sangat mampu untuk menginisiasinya, jika mau.

Sawangan, 29 November 2014