Pemenang Lomba Cerpen KAGAMA VIRTUAL

 Cover Buku
Cover Buku

Juara I : Dua Arus Selokan Mataram
Pengarang : Hanif Junaedi Ady Putra, Mahasiswa Fakultas Hukum UGM

Juara II : Kedarpan
Pengarang : Hasanudin Abdurakhman, Alumnus FMIPA UGM

Juara III : Lanang
Pengarang : Midun Aliassyah, Mahasiswa Pasca Sarjana FIB UGM

Juara Harapan I : Sebelum Telepon Berdering
Pengarang : Kun Andyan Anindito, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Juara Harapan II : Drupadi dan Lelakinya
Pengarang : Maya Saputri, Penulis, Jurnalis

Juara Harapan III :Tersangka Teroris Itu Teman Istimewaku di Masa Lalu
Pengarang : Nur Laeliyatul Masruroh, Penulis, Editor, Alumnus Fakultas Biologi UGM

Yang masuk dalam antologi :

1. Apa yang Mungkin dari Pintu Itu
Pengarang : Asep Saeful Anwar, Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

2. Perjumpaan di Candi Prambanan
Pengarang : Sunaryo Broto, Alumnus Teknik Kimia UGM

3. Menikah
Pengarang : Haji Arif Arofah (Nama Pena : Hara Hope), Penulis, Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

4. Saputangan Merah Jambu
Pengarang : R. Toto Sugiarto, Penulis, Alumnus Fakultas Ilmu Budaya, UGM

Pemenang Favorit dan yang akan menjadi cover Buku :

Tersangka Teroris Itu Teman Istimewaku di Masa Lalu, Pengarang : Nur Laeliyatul Masruroh, Penulis, Editor, Alumnus Fakultas Biologi UGM

Pengumuman Lomba Cerpen, Pentas, dan Dialog Budaya

Kepada

Yth. Peserta Lomba Cerpen Kagama Virtual

di tempat

Hal : Undangan Pengumuman Lomba Cerpen

Dengan hormat, Kami atas nama penyelenggara Lomba Cerpen Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Virtual (Kagama Virtual) mengucapkan terimakasih atas partisipasinya dalam lomba cerpen yang kami selenggarakan. Sehubungan dengan lomba tersebut kami mengundang untuk menghadiri acara dengan rinci sebagai berikut:

Acara : Pengumuman Lomba Cerpen, Pentas, dan Dialog Budaya

Hari : Kamis, 12 Desember 2103

Tempat : Galeri Indonesia Kaya West Mall, lantai 8 (samping Blitz Megaplex), Grand Indonesia Jl. MH Thamrin No 1 Jakarta Pusat

Acara : 17.00 – 18.00 wib : Registrasi dan hiburan musik

 18.00 – 18.30 wib : Pentas budaya

18.30 – 19.00 wib : Pengumuman pemenang

19.00 – 20.30 wib : Dialog budaya dan pentas budaya

 Pengisi acara : 1. Taufiq Rahzen (budayawan)

                        2. Nirwan Ahmad Arsuka (pengamat budaya)

3. AS Laksana (sastrawan)

                        4. Jay Wijayanto (pemusik, penyanyi klasik)

                        5. Mardiyah Chamim (wartawan)

Demikian undangan dari kami dan kedatangan dari peserta Lomba Cerpen Kagama Virtual sangat kami harapkan dalam acara ini.

Untuk konfirmasi aroem.naroeni@kagamavirtual.com

Asiknya Datang Reuni

Pertama kali datang reuni akbar Temu Kangen Kagama 2010, kesan saya super bete. Tak ada yang kenal, kesana kemari, lantang luntung seperti orang hilang. Saat itu datang bersama seorang sahabat. Di sana hanya bertemu satu sahabat yang lain, lalu berpisah. Kembali sendiri, dalam keramaian merasa sunyi, lalu pulang sambil gigit jari.

Ada beberapa orang terkenal yang saya pun tidak tahu caranya menyapa, kecuali Ikang Fauzi dan salah seorang artis. Itupun karena untuk kepentingan liputan. Rasanya saya pulang dengan tekad, saya tak ingin datang reuni lagi! Kapook. Kalau ada teman yang enggan mengikuti acara reuni kampus karena memiliki asumsi acara bakal bikin bete, penuh basa basi, dan semacamnya, saya bisa paham. Padahal, kalau tahu caranya, sebenarnya tidak bikin bete lho.

Lalu, saya kenal komunitas Kagama Virtual (teman-teman alumni yang banyak dipertemukan di dunia virtual). Selanjutnya disingkat Kavier/KV. Komunitas ini saya temukan di grup Facebook, mailing list, dan grup BBM. Selanjutnya, saya terima undangan reuni Donor Darah di MM UGM, Jakarta. Sepertinya  di situlah saya mulai merasakan sedang menemukan “keluarga” baru. Berikutnya, Mei 2012 ada kegiatan Fotografi ke Kepulauan Seribu, dibuka pendaftaran terbatas untuk 30an alumni. Saya ikut. Di sanalah saya merasa ada perbedaan signifikan. Saya merasa benar-benar menemukan keluarga baru, atau semacam sodara lama yang terpisah, lalu kembali bertemu. Reuni kali itu berhasil meninggalkan kesan terbaik di ingatan saya. Terima kasih Tongfaaang. Eh.

Selanjutnya tak terhitung lagi, entah berapa kali saya ikut kopdar Kagama Virtual. Malah jadi ketagihan kopdar. Mulai dari nongkrong ngopi, nonton pameran, kuliner, hingga karaokean. Lhoh kopdar kok isinya malah main? Hidup bukan melulu untuk meribetkan pemahaman yang berbeda (seperti di grup FB akhir-akhir ini), ada banyak cara untuk mencapai kebersamaan.  Yang berbeda tidak perlu diperuncing.  Dari acara-acara santai seperti ngopi-lah saya menemukan teman-teman alumni yang kemudian menjadi layaknya sodara.

Acara kopdar bukan hanya duduk manis, nonton orang ngisi sambutan ini itu, lalu menyimak pertunjukan di panggung. Namun, juga ada kegiatan yang manfaatnya lebih nyata seperti menanam pohon di Lereng Merapi, Lava Tour, melepas penyu di pantai, berburu objek fotografi, galang dana beasiswa untuk adik-adik UGM, ataupun pendampingan anak jalanan. Bahkan, kami pernah naik kereta rame-rame sebanyak 88 orang, serentak dari Stasiun Gambir menuju Jogja demi menyelamatkan lereng Merapi. Jiaaaah!

Untuk acara Temu Kangen kagama DKI, memang diadakan setahun sekali. Namun, untuk reuni/kopdar/ngumpul-ngumpul KV hampir tiap bulan ada saja agenda pertemuan. Nah, pertemuan-pertemuan seperti ini yang membuat alumni saling menemukan rasa kekeluargaan. Kalau tertarik ikut kegiatan-kegiatan KV atau ingin menemukan ‘sodara lama’, seringlah tengok grup KV di FB, atau mlipir ke salah satu teman yang aktif berkegiatan, nanti dikasih tahu kalau ada acara-acara kopdar. 😉

Tahun lalu, ada lomba joget dalam acara tahunan Temu Kangen 2012 di Ancol. Kagama Virtual berhasil juara II. Mereka menampilkan joget kuda jingkrak Gangnam Style. Saat itu joget Gangnam sedang ngetren. Saya pun ikut, bahkan teman-teman latihan di tempat saya satu hari sebelumnya.

Tahun ini sedang ngetren Joget Cesar, jadi dalam acara Temu Kangen 2013 diadakan lomba joget tersebut. Teman-teman KV ikut lagi, kali ini juara III. Kali ini saya tidak ikut. Sebelumnya saya dinasehatin teman agar jangan ikut. Kenapa? Soalnya ntar kalau ada  yang naksir saya, batal pedekate. :D. Joget saya fals, malu-maluin ajah. Atau, kalau ada calon mertua yang hadir, ntar batal menjadikan menantu. Hm, betul juga ya. Baiklah, saya tidak akan ikut Joget Cesar! Tapi oh tapi, musiknya itu memanggil-manggil buat joget, seolah mengatakan, kalau tertarik joget, apa salahnya gabung. Jadi, pada akhir acara, saya ikut joget dangdutan meski gerakan tetap fals. Bikin calon mertua yang lihat jadi mikir-mikir? Bodo amat! :p

Saat reuni terbaru itu tentu saja saya tak bete lagi. Kesana-kemari, saya bisa menyapa orang. Menyapa yang akrab, yang kenal, yang agak kenal, yang kenal di dunia virtual, hingga mencoba kenal dengan orang baru. Menyapa siapa saja yang bahkan sepertinya lupa sama saya. “Halo Mas, Mba, Pak, Bu, saya L…, kita pernah ketemu saat kopdar di bla bla.” Lhoh kok jadi sok akrab? Ya nggak lah. Mereka pun menyambut baik sapaan saya. Saya yakin siapa pun yang di sana, pasti juga ingin disapa dan menyapa orang lain.

Ada saatnya kita merayakan kebahagiaan, ada saatnya kita serius mengerjakan hal-hal penting yang lain. Dan yang sangat berharga adalah terjalinnya hubungan yang baik dan kebersamaan yang hangat dengan teman-teman. Mekaten.

 

~ L~

Depok, 22 Oktober 2013.

Uematsu Sensei

Uematsu Sensei

Hasanudin Abdurakhman

Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, aku bahkan tak mengenalnya sebagai orang Jepang. Aku kira dia orang Cina Malaysia. Waktu itu aku baru saja tiba di Kuala Lumpur, dan masuk ke dormitory yang akan aku tempati selama setahun ke depan. Rupanya ada kelambatan dalam persiapan dormitory sehingga saat aku masuk mereka masih harus membenahi banyak hal. Beliau hadir bersama seorang perempuan yang aku duga adalah istrinya. Dia memantau dan memberi saran untuk ini dan itu. Jadi aku langsung mengira dia adalah pengusaha Cina yang memasok barang-barang kebutuhan untuk dormitory kami.

Malam hari ketika aku menghadiri jamuan makan malam penyambutan, barulah aku tahu bahwa dia adalah calon guru bahasa Jepangku. Ia akan mengajar dalam program yang akan aku ikuti selama setahun ke depan. Hal pertama yang dia ajarkan kepadaku adalah cara memanggil orang dalam budaya Jepang. Kami saling memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris.

“What’s your name?”

“My name is Hasan, I’m from Indonesia.”

“I’m Uematsu.”

“Oh, Uematsu san….”

“No. Uematsu Sensei. You have to call me sensei, because I’m your teacher.”

Aku mengira setiap orang Jepang dipanggil san di belakang namanya. Baru tahu aku bahwa ada panggilan lain.

Kejadian itu aku alami saat baru bergabung dalam Asian Youth Fellowship (AYF) Program. Ini adalah program beasiswa untuk kuliah S2-S3 ke Jepang. Program ini ditujukan untuk mahasiswa dari 11 negara ASEAN ditambah Bangladesh. Setiap Negara diberi jatah dua mahasiswa, tapi ketika program ini dimulai tahun 1996 hanya dapat dilakukan seleksi di enam negara, dan dari Indonesia waktu itu hanya aku sendiri yang lolos. Jadi jumlah pesertanya hanya 11 orang.

Program beasiswa untuk kuliah ke Jepang biasanya diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Jepang (Monbusho). Sebenarnya AYF juga begitu, kami para pesertanya akan kuliah dengan beasiswa Monbusho. Bedanya dengan program Monbusho biasa, kepada kami diberikan program tambahan berupa pelatihan bahasa Jepang intensif selama setahun. Pelatihannya pun tidak dilaksanakan di Jepang, tapi di Kuala Lumpur. Penyelenggara program bekerja sama dengan lembaga pendidikan lokal, yaitu Yayasan Pelajaran Mara yang menyediakan fasilitas tempat belajar.

Pagi hari, kami berkumpul di kelas, berpakain rapi, lengkap dengan dasi. Memakai dasi adalah salah satu aturan yang ditetapkan pihak sekolah. Sensei masuk, memulai pelajaran pertama. Aku mengira dia akan menjelaskan panjang lebar tata bahasa Jepang dalam bahasa Inggris. Tapi itu tidak terjadi. Ia menghampiri salah seorang murid.

“Watashi…. Anata…..” katanya. Saat menyebut “watashi” ia menunjuk ke dirinya, dan saat ia mengatakan “anata” ia menunjuk ke murid. Lalu ia minta murid mengulangi. Setiap murid mendapat giliran. Dengan cara itu ia mengajarkan bahwa “watashi” itu artinya saya, dan “anata” artinya kamu.

Selanjutnya ia mulai mengajari kami menyusun kalimat. “Watashi wa Uematsu desu. Anata wa dare desuka.” Kami menjawab sesuai nama kami masing-masing. “Watashi wa Hasan desu.” Satu jam berlalu, kami asyik mengulangi contoh-contoh kalimat Sensei. Dalam satu jam itu kami sudah bisa membuat satu dua kalimat perkenalan. Ya, dalam satu jam itu kami sudah mulai berbicara dalam bahasa Jepang! Sensei tidak mengajari kami tata bahasa, tapi mengajari kami berbicara.

Ada dua orang guru lain yang mengajar kami, keduanya perempuan. Satu orang berumur sekitar 30 tahun, berasal dari sekolah bahasa Jepang yang sama dengan Uematsu Sensei, namanya Adachi. Satu lagi masih sangat muda, berumur 23 tahun. Dia mahasiswa S2 bidang Pendidikan Bahasa Jepang di Yokohama National University, ikut mengajar di program itu sebagai bagian dari kerja praktek. Namanya Kohata. Setiap hari kami belajar dalam enam jam pelajaran, artinya kami akan bertemu dengan setiap sensei selama dua jam. Masing-masing punya keunikan tersendiri.

Uematsu Sensei kami pandang sebagai sosok yang kami segani. Berumur sekitar 50 tahun lebih, ia tampak matang sebagai seorang guru. Pada kelas Adachi Sensei kami agak lebih santai, karena dia masih muda. Sedangkan Kohata Sensei, umurnya lebih muda dari kami semua, dan dia cantik.

Namun kesan angker pada Uematsu Sensei segera sirna. Suatu hari di kelas Adachi Sensei seorang murid agak nakal membuat contoh kalimat. “Uematsu Sensei wa omoi desu.” (Uematsu Sensei itu berat). Dengan keterbatasan kosa kata ia hendak meledek, bahwa Uematsu Sensei itu gendut. Kami sekelas tertawa. Jam pelajaran berikutnya giliran Uematsu Sensei. Ia mulai dengan menirukan kalimat tadi. Rupanya Adachi Sensei melaporkan kelucuan pada kelas sebelumnya. Kami sempat mengira Uematsu Sensei akan marah. Tapi kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Itu adalah momen yang mencairkan hubungan kami dengannya.

Suatu hari di kelas dia bertanya, “Do you like wearing necktie?” Semua murid menggeleng. “Then, take it off.” Ia mulai dari dirinya sendiri, melepas dasi. Kami semua menirunya. Sekal itu aturan di kelas kami berubah, kami tak perlu lagi pakai dasi.

Seminggu berjalan, pelajaran mulai terasa sulit. Banyak kata-kata baru yang harus dihafal. Hiragana dan katakana juga harus diingat. Beberapa murid mulai keteteran, termasuk aku. Satu dua murid rupanya pernah belajar bahasa Jepang sebelumnya. Ada yang kursus 3 bulan, bahkan ada yang pernah berkunjung ke Jepang selama beberapa minggu. Mereka mendominasi kelas, dan aku merasa tertinggal. Kudatangi Uematsu Sensei di ruang guru, untuk protes.

“You’re going too fast, I can’t follow you. Please slow down.”

“OK, OK.” jawabnya sambil tertawa. Ia terlihat tak serius menanggapi protesku.

“Some students has started learning Japanese before entering this program. You have to consider this, so you don’t make them benchmark for the progress of the class.” lanjutku.

“You worry too much. Calm down.” jawab Uematsu Sensei.

Aku keluar kelas dengan dongkol karena merasa protesku tak ditanggapi serius. Tapi dia benar. Seminggu kemudian, saat aku mulai menguasai cara membaca dan menulis hiragana dan katakana, aku tak lagi ketinggalan. Pelajaran selama tiga bulan yang pernah ditempuh oleh beberapa murid ternyata bisa kami lewati dalam waktu kurang dari dua minggu. Kini aku yang mulai mendominasi kelas. Nilai-nilai tes harian dan mingguanku selalu teratas. Dan aku juga paling aktif berbicara di kelas.

Di sebelah ruang kelas ada student lounge. Kami biasa duduk di situ saat istirahat. Ada satu set pemutar CD, TV, dan pemutar video. Sensei menyediakan banyak CD musik klasik dari berbagai komposer. Aku suka memutar CD itu, menikmati musiknya di sela-sela jam pelajaran. Sesekali Sensei ikut bergabung duduk di situ.

“Suki desuka?” tanyanya dalam bahasa Jepang.

“Hai, suki desu. Kirei desune.”

“Soudesuyo. Kurasiku wa kirei desu.”

Meski dengan kosa kata yang terbatas, Sensei selalu meladeni kami dalam bahasa Jepang. Ia tak lagi mau berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Uniknya, ia selalu bisa mengungkapkan hal-hal yang sulit dengan kosa kata sederhana.

Semakin hari beban pelajaran makin tambah berat, khususnya bagi beberapa murid. Ada yang mulai tampak stress. Di kelas juga mulai terlihat kesenjangan. Aku berada di depan, selalu paling dulu paham pelajaran baru. Kemudian di bawahku ada mahasiswa Filipina, Bangladesh, dan Vietnam yang cukup baik penguasaannya. Lalu di bawahnya ada satu mahasiswa Vietnam, dan dua dari Kamboja yang selalu terlihat keteteran. Bukannya mengendorkan tekanan, Sensei justru menambahnya. Ia memberi banyak sekali PR. Kami harus menuliskan berbagai pola kalimat. Itu harus dikerjakan malam hari. Sangat melelahkan. Aku lagi-lagi protes.

“PR terlalu banyak. Saya tidak perlu 10 kalimat untuk memahami satu pola kalimat. 5 kalimat sudah cukup.”

“OK, kalau begitu kamu cukup kerjakan separuhnya.” jawab Sensei santai.

Untuk mengurangi ketegangan, Sensei menyuruh kami pergi. Sebagai ketua kelas (aku dipilih karena aku satu-satunya yang paham bahasa Melayu) aku diminta mengatur perjalanan keluar kota. Memakai mobil milik sekolah kami dan dua guru perempuan pergi ke kota-kota di sekitar Kuala Lumpur untuk rekreasi. Pernah pula kami adakan pertandingan ping pong. Saat ada yang ulang tahun, kami selenggarakan pesta kecil. Semua itu selain untuk keakraban, juga untuk mengurangi beban stress. Sensei juga pernah berpeluh-peluh memberi pijatan refleksi kepada setiap muridnya.

Tujuh bulan berlalu, kami tiba di akhir tahun, di mana kami harus ikut ujian Japanese Language Proficiency Test Level 2. Pelajaran di kelas separuhnya sudah berisi berbagai latihan soal. Semua tegang, khawatir tidak lulus. Ancamannya, kalau tidak lulus tidak boleh pergi ke Jepang. Hari yang kami khawatirkan itu akhirnya tiba. Diantar 3 sensei kami pergi tes. Setelah itu kami kembali belajar, meneruskan sisa program yang masih tersisa selama 3 bulan.

Dalam masa itu diselenggarakan lomba pidato bahasa Jepang tingkat nasional Malaysia. Sensei menawarkan kepada kami untuk ikut. “Kalian tidak akan diikutkan dalam pertandingan karena ini khusus untuk warga Malaysia. Kalian hanya akan ikut sebagai peserta tamu.” Aku bersama mahasiswa dari Vietnam mengajukan diri untuk ikut serta. Aku memilih topik tentang kamera, yang waktu itu baru kubeli. Sensei membimbing kami menulis naskah pidato.
Ketika membaca naskah pidatoku pada kalimat pertama, Sensei sangat terkesan. Tapi kemudian ia mencibir. “Kalimat pertamamu sungguh alami. Tapi pada kalimat selanjutnya, kamu sudah berlagak macam dosen yang serba tahu, dan menganggap pendengarmu tak tahu apa-apa.”

Lalu Sensei membimbingku menuliskan pidato dalam bahasa sederhana, dengan aliran alami, tapi bermakna dalam. Dengan menjadikan kamera sebagai simbol, aku menceritakan keadaan kami peserta program AYF, datang dari berbagai latar belakang, dengan minat yang berbeda-beda, tapi berkumpul untuk suatu tujuan. Ketika judul pidatoku disampaikan oleh MC di acara lomba, sebagian orang tertawa mendengarnya. Judul pidatoku terdengar sangat kanak-kanak. “Watashi wa atarashii kamera wo kaimashita.” Saya membeli kamera baru.

Aku ingat betul. Para juri, yang salah satunya adalah Direktur Japan Foundation Kuala Lumpur, mendengar pidatoku dengan seksama. Dan aku lihat ia seperti terpesona pada kalimat di akhir pidatoku, yang merupakan penegasan dari keseluruhan simbol yang hendak kusampaikan. Setelah itu dia bertanya panjang, dalam bahasa yang sudah tak lagi bisa kupahami. Kurasa ia sudah salah mengira bahwa bahasa Jepangku sudah sangat mahir. Padahal untuk peserta sebelumnya kudengar pertanyaan yang diajukan sangat sederhana. Kulihat di belakang Sensei menepok jidatnya. Walhasil, pembawa acara harus menerjemahkan pertanyaan untukku ke dalam bahasa yang lebih sederhana.

Menjelang akhir program hasil tes diumumkan. Dari sebelas peserta di kelas kami, hanya dua yang lulus. Aku dengan nilai tertinggi, dan mahasiswa Bangladesh di bawahku. Kami semua tegang. Bayangan kegagalan berangkat ke Jepang menghantui semua yang tak lulus. Tapi Sensei menghibur kami.

Ia menulis evaluasi panjang lebar, dia kirim ke Japan Foundation dan Kementerian Luar Negeri yang menjadi penanggung jawab program. Ia dengan tegas mengatakan bahwa kegagalan kami adalah wajar, karena waktu yang tersedia sangat sempit. Kelulusan dua peserta bagi Sensei adalah pencapaian luar biasa. Akhirnya penyelenggara bersikap lunak. Kami semua boleh berangkat ke Jepang!
Saat lulus dari program, aku sudah berencana menikah, sebelum berangkat ke Jepang. Sebagai kata perpisahan, Sensei menulis pesan di belakang ijazahku.

“人間は一人で生まれ、一人で死ぬ。だからこそ生きているときには二人で。ご結婚おめでとうございます。“
“Manusia itu lahir sendirian, dan mati sendirian. Karena itu selama hidup harus berdua. Selamat atas pernikahanmu.”

Terkahir kali aku bertemu Sensei, saat aku sudah lulus doktor. Sengaja aku mampir ke Kuala Lumpur untuk mengunjungi peserta AYF, memberi kuliah untuk menyemangati mereka. Sensei saat itu sudah tidak mengajar di program itu. Ia menjadi guru di University of Malaya. Malam hari ia mengundnagku makan. Kami berbincang lama.

DERU (Disaster Response Unit) UGM bantu korban Banjir Jakarta

Mari kita peduli kepada para korban Banjir Jakarta. Salurkan bantuan anda melalui rekening UGM Peduli Bencana, atas nama Rektor UGM di Bank Mandiri dengan no rekening 137.0000.767.778 (SWIFT Code: BMRIIDJA)

Runner dan Goweser Jogja

Tim DERU UGM tiba di Jakarta hari ini. Tim yang sudah terbiasa menangani masalah bencana ini akan mulai bergerak setelah bekerja sama dengan tim lainnya yang sudah lebih dulu ada di lokasi dan sudah bergerak dengan sistem kerja masing-masing. DERU adalah singkatan dari Disaster Response Unit yang dibentuk khusus untuk menangani bencana yang ada dan mendokumentasikannya sebagai pembelajaran untuk penanganan selanjutnya.

Kepastian datangnya DERU di Jakarta kuketahui kemarin melalui pesan masuk dari pak Budi WS, wakil rektor UGM Bidang Sumber Daya Manusia dan Aset :

“Sebagai respon terhadap musibah bencana banjir yang terjadi di Jakarta, maka UGM pada sore hari ini pukul 17.00 akan mengirim 30 relawan dosen dan mahasiswa dari berbagai fakultas, pusat studi dan UKM Kemahasiswaan.

Tim yang bergabung dalam Disaster Response Unit (DERU) LPPM UGM ini akan menempati Posko utama di Kampus UGM Jakarta di jln Saharjo Jakpus, kemudian bersama dgn Kagama DKI membuka posko lapangan di…

View original post 387 more words

KV Peduli Banjir Jakarta

Rekening Kagama Virtual (KV) Peduli Banjir Jakarta :
BCA An. Heni Hendriyati.
No. 8990369934. (konfirmasi pengiriman dana via SMS ke ponsel Heni 08158207176)
Rekn. Mandiri a.n AA Sagung Indriani Oka.
No. 1660.0002.07498. (konfirmasi pengiriman dana via SMS ke ponsel Indri 081804050864)

Runner dan Goweser Jogja

Gerakan Peduli Banjir Jakarta langsung terbentuk sore ini begitu melihat kondisi lapangan yang makin memprihatinkan. Berita perkembangan terbaru dari BMKG mengindikasikan hujan dan banjir akan terus berlangsung selama tiga hari ke depan. Diperkirakan keadaan banjir akan terus berlangsung esok hari dan mungkin akan lebih buruk dari hari ini. Joko Wi juga sudah mengumumkan kondisi Jakarta ada pada status kondisi tanggap darurat. Dari liputan 6 SCTV kita tahu apa yang diucapkan Joko Wi tentang Jakarta.

“Karena kondisi seperti ini, mulai hari ini sampai tanggal 27 Januari 2013, kami nyatakan posisinya tanggap darurat,” kata Joko Wi usai rapat gabungan dengan Menko Kesra, Agung Laksono, BNPB, BMKG, dan Kementerian PU.

Rekening untuk membantu penyaluran dana ke korban banjir segera ditentukan dan inilah keputusan dari panitia “KV Peduli Banjir Jakarta” :

Rekening Kagama Virtual (KV) Peduli Banjir Jakarta :
BCA An. Heni Hendriyati.
No. 8990369934. (konfirmasi pengiriman dana via SMS ke ponsel Heni 08158207176)
Rekn…

View original post 281 more words

Cari Satu Cinta di Antara Ribuan Orang, Yang Kutemukan Kegilaan, Receh, dan Persahabatan.

oleh : Cindy Silvia Hadi
                 Berawal dari event Pesbuk tentang reuni kagama, aku mulai merencakan untuk bisa rehat sejenak dari rutinitas. Aku mengajukan jadwal cuti hingga bulan Desember nanti, dan atasanku hanya berkata “its okey.” Yes! Teriakku dalam hati. Di kalenderku tak mengenal weekend, dan tanggal bisa mendadak menjadi “merah” (libur) ketika ada kata “it’s okey” dari pihak yang berwenang.
                Satu minggu sebelum hari kebebasanku, aku memantau info-info kegiatan melalui gadget. “besok ber-gangnam versi jowo style ya” membaca sambil melongo dan garuk2 kepala. Apalagi nie ya? “Hatchi!!” video kiriman mba Laely masuk di BBM. Ngakak sendiria liat video nya.
                   Kamis malam aku sudah tiba di Bekasi. Kacamata, okey. Kain sifon, okey. Baju merah, okey. Kupastikan tak ada yang tertinggal, karena aku malas mencari2nya lagi.
           Jum’at…
             Sabtu…
              Horee, hari Minggu!!! Ini pertama kalinya naik kereta sendirian, antara ragu dan was-was. Berbekal informasi yang didapat, tiba di stasiun Klender pukul 07.30 dan  aku tidak ketinggalan kereta. Entah kenapa, hari itu sepertinya dress code nya merah, banyak banget orang berlalu lalang menggunakan baju merah. Berharap ada salah satu diantara mereka yang berniat datang ke reuni Kagama. Sepertinya harapan itu hanyalah sebuah harapan. Ha ha ha, hanya kebetulan banyak yang menggunakan baju merah. Meeting point nya di stasiun kota. Menunggu Indri yang terlambat datang, akhirnya aku memutuskan untuk sarapan pagi terlebih dahulu.
Indri dan Ndari datang… lets go to Ancol and we will having fun!!
Tidak pake bingung , tidak pake kesasa, kami tiba di Ecovention Hall Ecopark, banyak orang dominan menggunakan baju merah. Kalau yang ini tak diragukan lagi, pasti mau reuni Kagama. Di sini aku bertemu dengan teman-teman yang kenal berawal dari social media. Setelah bercipika cipiki, dan say hai, kami diajak untuk gladi bersih tarian Jowo Style. Dibilang gladi bersih, tapi nggak seperti gladi bersih. Ada yang sibuk menyapa teman, ada yang hanya melihat latihannya, dan ada sibuk dengan kameranya. Gladi bersih selama 20 menit, dirasa sudah cukup dan siap membaur dengan teman-teman lainnya.
                Aku bertemu dengan senior yang juga partner kerja selama 1 tahun, memang sengaja kami janjian disini. Tapi dia memilih untuk resign dan meninggalkanku seorang diri menjadi baby sister untuk para nila-nila ku… >_<
           Alumni paduan suara menjadi pembuka acara reuni. Tiba-tiba “maju… maju!” Apa ya? Dan ngapain ya? Aku mengikuti teman-teman Kagama Virtual berdiri di depan panggung tanpa mengerti maksud dan tujuannya. Ternyata menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada dan diperkenalkan sebagai panitia “Kagama Goes Green”.
          Kami menunggu jadwal aksi panggung sembari bercakap-cakap, menyapa teman lama, makan, bercanda. “pertunjukan kedua, Kagama Virtual” duo MC memanggil kami. Diawali salto dari Alfian kemudian diikuti teman-teman yang bermodalkan “nekat” untuk meramaikan dan menunjukkan kekompakannya. Lagu berdurasi 2 menit, ditutup dengan atraksi ngesot dari Mas Irvan.
            Setelah berganganam ria, rasa nya kaki, tangan, dan badan masih ingin digerakkan. Kami selalu meramaikan dan membuat penuh pelataran panggung. Dan mungkin merusak suasana penonton yang hanya duduk di bangku. Ada sebuah lagu, aku lupa judulnya, ada beberapa alumni ke depan panggung dan menarikan poco-poco. Rasanya gerakan poco-poco yang sudah dikombinasikan kurang familiar bagi kami. Kami tetap bertahan di depan panggung tetapi sudah mulai tangan dan kaki di goyang, ajeb-ajeb.
               Bintang tamunya Ikang Fauzy dan Sammy Simonangkir. “Saya Alumni dari MM UGM, jika rekan-rekan alumni kasian pada saya, silahkan beli album saya yang di jual di Stan Depan” kata Ikang Fauzy. PROMO !!!
                 Kita heboh di depan panggung ternyata dilihat oleh orang orang penting sekelas Anis Baswedan, Roy Suryo, Rektor Ugm dan Sekjen PP Kagama Pak Budi Wignyosukarto.Tapi cuek aja tuh! Lanjutin lagi ajeb-ajebnya mang!
                   “Tiba-tiba cinta datang kepadaku, saat kumulai mencari cinta. Tiba-tiba cinta datang kepadaku, kuharap dia rasakan yang sama”
Hm, aku menemukan sesosok yang menarik, mau kenalan tapi nggak pede. Cukup curi-curi pandang. Intermezo! Kalimat Mbak Laely (2012) berikut ini mewakili apa yang yang ada di hatiku, “Sebenarnya saya mencari satu cinta di antara ratusan atau ribuan orang itu, tapi yang kutemukan kegilaan, receh, dan persahabatan. “
           Hohoho.
           Saat yang ditunggu tiba, pengumuman lomba tari spontanitas. “Juara 2, Kagama Virtual mendapatkan Rp. 1.500.000 ” ujar MC. Yippyy… !!! Beberapa dari kami bersorak-sorak. Untuk merayakan kemenangan kami, maka reuni kali ini ditutup dengan Foto keluarga Kagama Virtual. Dan hadiah tersebut akan kami sumbangkan untuk Beasiswa Kagama Virtual.
              Bagiku, Reuni kali ini selain bertemu dengan teman-teman tetapi juga berolahraga dan menggalang dana untuk Beasiswa Kagama Virtual. Capek, seneng, dan pengen ikut lagi.
Menantikan Reuni “Kagama Goes Green” yang akan diadakan di Yogyakarta tanggal 8-9 Desember 2012. kalau kata mba Aroem “Aku tak lagi Virtual.

Menggila 2 Menit, Pentas Kagangnam Style Juara II di Temu Kangen Kagama 2012

PARODI JOGET KUDA JINGKRAK

KViers saat kalem, setelah menggila.

Euforia Kagama Virtual (Kviers) dalam acara Temu Kangen Kagama di Ecopark Ancol, Minggu 7 Oktober 2012 sepertinya masih terasa hingga kini. Bagaimana tidak, pasukan Merah Hitam itu sepanjang acara riang mondar mandir memenuhi depan panggung, berjoget bebas melengkapi (atau bahkan melebihi) performer utamanya.

Jogetnya pause demi foto dulu. Hebohnya melebihi performer utamanya Sammy Kerispatih.

Mereka tidak saja riang, tetapi juga nekad. Kenekadan itu dimulai sejak group paduan suara berbaju putih-putih (entah apa nama groupnya) menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada, teman-teman Kaviers yang berpakaian dominan merah dan hitam itu duduk berbaris 2 saf persis di depan panggung, juga ketika Ikang Fauzi dan Keris Patih perform, mereka pun turut meriahkan dengan berarak joget bebas di tempat yang sama.

     Terlebih saat pentas utama mereka, Gangnam versi KV alias Kagangnam Style, berlangsung heboh dan spontan. Mereka menggila 2 menit dengan iringan musik Gangnam Style versi Jowo Style digabung versi aslinya milik Psy. Tidak hanya saat pentas, tetapi sepanjang acara aksi mereka menyita perhatian penonton. Dari manakah datangnya sekelompok Merah Hitam itu? Kompak bener? Bahkan, saat pentas mereka menarik Wakil Rektor yang berada di antara penonton untuk ikut joget. Nekad bener!

   

Maksud hati mau niru K-Pop, tapi alamaak susahnya! #Duh Gusti, sinten niki?

“Naje neun ttasaroun ingan jeogin yeoja. Keopi hanjanui yeo yureul. Huo ewyo. Hayyaah, iki opo tho?” Seorang lelaki ingin menunjukan kemampuan gaya K-Pop pada si perempuan. Karena tidak fasih mengucap bahasa Korea, dia perlu membaca teks. Dia bermaksud meniru Korea Pop, bernyanyi dengan bahasa mereka dan bergaya seperti mereka, tapi ternyata alamaak susahnya.

    “Aku wong Jowo, senajan ora iso koyo ngono. Hei, ayo podo jogo budoyo. Hei.” Si lelaki sebagai orang Jawa, meski tidak bisa bergaya ala Korea, ingin meyakinkan untuk menjaga budaya saja. Itulah konsep yang mulanya ingin disampaikan oleh Kagangnam Style. Jaga budaya? Kok begini jadinya? Ups!

   Lupakan soal tema jaga budaya. Mereka itu kami. Pentas kami, Kagangnam Style, bukan sedang membawa tema tersebut, bukan juga untuk merusak budaya. Kami bukan dancer, bukan performer, dan bukan pula juara lomba baris-baris tingkat kecamatan. Kami mungkin semacam orang-orang nekad, nggilani, kreatif, dan semangat menghibur. Justru karena kenekadan itulah yang mungkin mengantarkan kami menjadi juara II. Juara I diraih oleh Fakultas Kedokteran yang menyajikan tarian daerah. Acara yang dihadiri ribuan alumni UGM itu menampilkan kompetisi pentas sekitar 7 kelompok, diantaranya Fakultas Kedokteran, Kagama Virtual, Fisipol, Teknik Arsitektur, dll.

Joget kuda jingkrak oleh Kagama Virtual ini terinspirasi dari K-Pop Gangnam Style yang akhir-akhir masih ramai dibicarakan. Gangnam style sendiri konon sebenarnya parodi gaya orang-orang borjuis di sebuah tempat di Korea yang bernama Gangnam. Sedangnya dance-nya sendiri, menurut penyanyi dan rapper Korea yang mempopolerkan gaya itu, Psy, bahwa Gangnam dance pada dasarnya adalah tari dengan imaging the horse. Karena itu banyak koreo yang meniru gerakan kuda. Gerakan dasarnya sangat mudah, yaitu hentakan kaki kanan-kiri-kanan-kanan dan kiri-kanan-kiri-kiri dengan goyangan khas mirip kuda berjingkrak.

karena belum menemukan dokumentasi pentas, ini versi latihan sesaat sebelum pentas.

Pentas yang berlangsung selama 2 menit (tepatnya 2 menit dan 12 detik) dengan jumlah personel sekitar 25 itu, sebagian gerakan dilakukan secara spontan. Sebagian yang lain terinspirasi dari gabungan flashmob Gangnam Style yang banyak bermunculan di Youtube. Termasuk video dari Jowo Style, yaitu parodi Gangnam Style versi Jawa yang musiknya digunakan di menit pertama pentas mereka. Menit kedua menggunakan musik asli Psy dengan volume lebih keras dari menit pertama untuk menciptakan semangat hentakan berlipat.

      Pada kompetisi pentas itu ternyata tidak hanya Kagama Virtual yang menampilkan musik Gangnam, ada kelompok lain di acara tersebut juga menampilkan pentas dengan musik yang senada. Musik ini memang sedang sangat popoler. Padahal pada awal September 2012, musik ini hanya diketahui oleh para penggemar K-Pop. Namun, karena jogetnya yang khas, popularitasnya melejit dan mendunia. Di Youtube juga banyak ditemukan flashmob Gangnam dari berbagai negara. Dengan berbagai parodi yang tidak menghilangkan gerakan dasar kuda jingkrak.

KViers benar-benar menghadirkan kuda jingkrak. Ckckck!
eh, nemu receh

Gangnam versi KViers juga menampilkan adegan kuda-kudaan seperti yang dilakukan Psy. Adegan spontanitas yang bisa dipastikan mencuri perhatian penonton. Selain itu, saat adegan robot dance,  kami rebutan koin receh yang tumpah dari saku salah satu personel. Jangan tanya apa maksudnya yah, nikmati saja. 😀

     Selamat menikmati. Semoga tidak menyesal menonton kami, karena kami sungguh menikmati joget nekad ini. Terima kasih tidak terjadi penggalangan sandal penonton atas kegilaan ini. 😀

PS. 1. Berhubung juru kamera dan juru video KV malah ikut joget, jadi  foto pentas yang representatif tidak terdokumentasi. Menunggu penonton ada yang memberitahu kami bahwa mereka memiliki foto kami. 😀

2. Selain modal nekad, pentas ini juga bermodal 1 Vixion, selengkapnya baca di sini.

Depok, 10 Oktober 2012.

Nur Laeliyatul Masruroh

Reportase Temu Kangen Kagama Jakarta 2011

Reportase Temu Kangen Kagama Jakarta 2011

 

Selamat Hari Senin semuanya

Semoga merupakan awal yang baik bagi anda semua dalam menjalani kegiatan satu minggu kedepan.

Untuk teman2 Kagama yang berada di Jakarta dan sekitarnya, baru saja kita lewati acara akbar Kagama Jakarta yang diadakan setiap tahunnya. Acara temu kangen Kagama tahun 2011 mengambil tema “Guyub Rukun, Mukti Bebarengan” yang terselenggara berkat kerjasama yang apik antara PP Kagama Jakarta dengan Kagama Kemenhut.

Darimana saya mengetahui adanya acara ini ? Awalnya saat kopdar KV Bogor dimana simbah Darsono sudah menyampaikan bahwa sekitar akhir Oktober akan diadakan acara temu kangen Kagama Jakarta, akan tetapi belum dipastikan waktu dan tempatnya. Kemudian sosialisasi yang apik dilakukan panita lewat milis, facebook, bahkan memanfaatkan twitter, yang mana bagi saya cukup cukses menjaring generasi muda kagama untuk tertarik datang ke acara tersebut. Spanduk pun terpasang di tempat2 strategis jauh-jauh hari sebelum acara. (mas Tikjo-Ilkom07, mengaku mengetahui acara ini ketika dalam perjalan dari tangerang menuju Jakarta dan memutuskan untuk mampir ke Manggala Wana Bakti, bahkan sempat saya dengar ada yang jauh2 dari Magelang khusus untuk ikut acara ini. Saya acungi jempol untuk kesuksesan sosialisasi yang dilakukan panitia). Apalagi dengan lomba parikan yang diadakan @kagamajkt dengan iming-iming mug cantik.. Membuat banyak yang penasaran dengan acara tersebut, dan tentu saja buat mengambil mug yang sudah dimenangkannya 🙂

Acara dimulai pukul 9. Ketika saya sampai di TKP tepat pukul 9, sudah cukup banyak peserta yang hadir melakukan registrasi, berasa selebritiis karena banyak fotografer yang menjepretkan kameranya ke saya hihi. Saat melakukan registrasi, panitia memberikan saya beberapa lembar kertas, yaitu kupon doorprize bernomor 0001614, lembaran kertas biodata untuk database panitia, dan selebaran lomba yang diadakan panitia (parikan, foto, dan penari latar).

Sedikit menceritakan tentang lomba penari latar. Dua malam sebelumnya yakni malam sabtu dan malam minggu, di forum facebook dan multiple chat bbm saya sudah ribut membahas akan membawakan apa pada acara temu kangen tersebut, tergiur dengan hadiahnya yang katanya cukup besar, mbak Laily Mudzalifah, Andi Rahmah, Lestari Octavia, Rosmalia, dll mengajak kami2 yang masih polos dan imut ini seperti saya, Umi Gita, Imtiyaz, Ulfia, Tisna, dll sendiri untuk mengisi acara tersebut, mbak Andi siap membuat skenario untuk dibawakan, mbak Laily akan menyiapkan lagu yang oke, mbak Ayie (Lestari) menyiapkan make up dan kostum. Dengan segala halangan seperti mati lampu, modem down, pembantu mudik, Khadafi terbunuh, banjir di Thailand,, akhirnya kami ready to show keesokan harinya.

Kembali ketika registrasi,,mbak Ayie yang pertama sampai memberi tahu bahwa ternyata acara yang sudah kami siapkan itu tidak bisa ditampilkan berhubung panitia sudah menyiapkan lagu yang akan dibawakan dan itu terbatas hanya satu lagu (pilihannya antara catatan si boy, Anak sekolah, dan 2 lagu lagi saya lupa judulnya), waaah,, bikin puyeng mbak2 yang udah gerilya menyiapkan semua logistik perang untuk temu kangen, hiks2..

Keluar dari topik penari latar,, panita menyiapkan acara ini dengan sangat apik, setidaknya menurut standar saya yang baru pertama kali datang ke acara tersebut. Kami disambut mbak mas panitia yang sangat ramah, pertama kali masuk ada gerobak angkringan (kalo ga salah angkringan mas jabrik ya ?) Menanti untuk dihampiri, begitu juga dengan gerobak bakmi jawa, makanan dan minuman berlimpah ruah. Peserta pun diberi kesempatan untuk berbaur sebelum acara dimulai dengan diiringi nyanyian dari beberapa pemain musik,, wah pikir saya rugi banget jauh2 cuma duduk dan makan,, dengan sebelumnya menitipkan sebagian muka saya di dalam tas, saya langsung saja mengajak kenalan mas mbak yang kebetulan antri sama saya ambil makanan atau minuman,, cuek saja,, sayangnya, cuma kenalan nama doank ga tukar kartu nama (simpan untuk tahun depan, strategi baru kenalan :D)
Ketika suasana mulai menghangat dan peserta sudah mulai cukup banyak, acara temu kangen pun dimulai, tentunya dengan beberapa kata sambutan dari ketua panitia, ketua Kagama Jakarta, penyerahan mobil kesehatan, sambutan pak Djoko Kirmanto, sisanya saya ndak merhatiin lagi keburu diculik buat latian penari latar di belakang auditorium. Cara rekruitmentnya cukup sadis menurut saya, siapapun yang lewat dan kakmi kenal langsung ditarik masuk,, hahaha tidak heran beberapa memilih mundur karena tidak siap buat bergoyang didepan beberapa pejabat, namun itu tidak menyurutkan niat kami buat mempromosikan KV dengan cara berbeda. Akhirnya setelah melalui pendekatan baik personal maupun keroyokan, kami berhasil menjaring cukup banyak orang2 yang bersedia menorehkan kenangan manis di acara temu kangen Kagama Jakarta.
Musik menghentak, MC memanggil nama2 peserta, ada tim dari alumni psikologi (salut mereka memindahkan acara reuni mereka ke acara ini,, berani tampil pula :D) Kagama Muda, Tim dari Ancol, dan tentunya KV.

Jangan ditanya bagaimana penampilan kami,, kami cuma sekumpulan orang yang ingin berbagi kegembiraan dengan peserta lainnya 😀

Selesai bergoyang, acara dilanjutkan dengan makan siang, tak lupa berfoto bersama sebagai kenang2an, tukar menukar pin bb, lanjut di facebook, dan tentunya mengompori teman2 baru supaya gabung di milis dan facebook KV (simak wajah2 segar kami diacara kodpdar berikutnya)

Acara semakin hangat, penampilan mas Ikang Fauzi dan mas mantan penyiar swaragama yang suaranya oke, dan kelompok alumni berbaju hijau lumut (kayanya alumni arsitektur ya? Cmiiw), tibalah di penghujung acara, pembagian doorprize (hiks,, kupon saya ga tembus), pemenang lomba parikan, lomba foto, dan lomba penari latar. Dan seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, KV juara pertama ! YEAY! Hadiahnya voucher belanja di carrefour sebesar Rp. 3.500.000. Asekkk….

Seperti disepakati oleh semua pihak yang terlibat,, voucher tersebut akan kami jual perlembar minimal 100.000 yang hasilnya akan dipergunakan sebagian untuk beasiswa KV, dan sisanya untuk biaya Kopdar Donor Darah KV berikutnya. Kiranya mas mbak yang ingin membantu kedua kegiatan tersebut bisa menyalurkannya dengan membeli voucher kami (CP : mbak Raisah & mbak Andi)

Acara temu kangen Kagama Jakarta 2011 berakhir sudah, namun, bagi kami yang hadir disana telah menorehkan kenangan yang sangat manis yang membuat kami ingin kembali lagi ke acara tersebut tahun depan, semoga pertemanan yang baru terjalin semakin erat dan membawa kita sebagai generasi muda Kagama dan Indonesia yang penuh semangat membangun Indonesia.

Jayalah Indonesiaku,
Maju terus Kagama
Dimanapun kita berada 🙂

Cast :
Laily Mudzalifah, Andi Rahmah, Lestari Octavia, Eddy, Ari Andy Prastowo,Umi Gita, Indriani, Dwivandari, Heru Sutantyo, Septy Nurul, Sofyan Khairul Anwar, Fhajar Widhi, Cindy Silvia, Tisna Prananto, Satria Bayu Sejati, Aditya Yudha Kesuma, Rio Jupriono, Darmawan Arif Hakimi, Sudarmaji Gojis, Luqman, Baren, dan beberapa orang yang mungkin belum disebut, thanks buat partisipasinya dan senang berkenalan dengan anda semua

Regards
Indriani
Gizi05