Syawalan Serba Salak

Setelah menempuh perjalanan motor Kebumen—Jogja selama nyaris 5 jam, pagi itu Selasa 21 Juli 2015, sampailah saya di tempat acara Syawalan Kagama Virtual di Desa Wisata Kelor, Turi, Sleman. Perjalanan lazimnya mencapai 3—3,5 jam. Namun, saya kesulitan mencari lokasi, padahal sudah bawa peta manual. GPS tidak berfungsi karena sinyal antara ada dan tiada. Ini masih di wilayah Jogja kan? Haha. Juga sempat nyasar berputar-putar membelah jalan setapak di kebun salak. Di daerah itu memang membentang kebun salak di mana-mana.

Segera setelah sampai lokasi, saya menemui sejumlah teman yang duduk di meja penerima tamu di samping gazebo. Nampak sebuah rumah tua berdinding bambu yang di dalamnya terbentang aula luas. Jajanan pasar seperti ketela pohon rebus dan klepon terhidang di meja emperan rumah. Tersedia minuman panas teh dan secang, tinggal pilih. Tak lupa sekeranjang salak yang bisa dipastikan memetik di kebun sebelah. Di depan rumah, sejumlah sosok tak asing duduk menghadap meja tamu. Salah satunya, Mbak Destina Kawanti (Biologi 1992), yang mencatat pendaftaran. Saya sudah kenal sebelumnya, bertemu kali pertama di acara reuni Goes Green 2012 dan selanjutnya saling interaksi di media sosial. Setiap peserta yang mendaftar diberi label nama untuk memudahkan mengingat nama satu sama lain.

Beberapa wajah familiar, tapi belum pernah berjumpa langsung. Di antaranya Pinjung Nawang Sari, Mbak Yunita Makarim, Pak Gusti, Pak Boy, Mbak Ratih Puspita (juragan cerita humor), dan Mas Gebyar Andono.  Saat bertemu kali pertama, seperti yang sudah-sudah dalam kopdar dengan teman sealmamater, langsung bisa akrab seolah berjumpa teman lama. Padahal beda jurusan, beda angkatan. Selain juga karena selama ini sudah saling familiar di media sosial.

Setelah ngobrol sana sini, ternyata bukan hanya saya yang kesulitan mencari tempat tersebut. Siapa sih yang milih lokasi? 🙂 Sst… acara itu konon awalnya dimaksudkan untuk sepeda bersama dengan rute menjelajah area di sekitarnya. Namun, karena satu dan lain hal, menurut koordinator Acara, Mas Eka Priastana Putra, Akuntansi 1992, acara bersepeda hanya diikuti oleh beberapa peserta, tidak bisa melibatkan semua. Bentuk jalanan dan rute memang cocok untuk gowes, jalanan mulus dan lumayan sepi. Oh ya, saya curhat begini bukan sedang komplain soal tempat acara, saya apresiasi teman-teman yang sudah mengusahakan acara ini hingga terselenggara dengan meninggalkan kesan yang menyenangkan. Sedangkan saya tinggal datang, menikmati hidangan, dan ngobrol dengan teman kiri kanan. Mencari alamat lokasi acara yang jauh dari kota dengan kendaraan motor dan tidak sendirian, buat saya cukup menantang dan tentu menjadi satu kenangan tak terlupakan. 🙂

Saya datang bersama seorang ponakan, dia yang mengendarai motor sepanjang perjalanan. Jadi nyasar pun, setidaknya ada teman. Oh ya, peserta memang boleh membawa keluarganya. Sebelumnya di undangan acara via Facebook, memang sudah diumumkan terkait bisa membawa pasangan dan anak-anak. Juga diberitahu untuk membawa baju ganti jika tertarik ingin main di air. Acara dimulai pukul 10.30 dengan pembawa acara Mbak Lucy Laksita, penyiar kondang di Jogja. Ada banyak kegiatan yang merekatkan para alumni dan keluarganya. Pertama, lomba menangkap ikan di kolam untuk anak-anak. Kegiatan ini diikuti hampir semua anak. Hasil tangkapan mereka dibakar saat itu juga untuk lauk makan siang. Kedua, pertandingan sepak bola untuk peserta alumni lelaki, dibagi dua grup. Grup Pak Gusti Ngurah Putra (Komunikasi 1980an) dan grup Pak Boy Rahardjo Sidharta (Biologi 1980an). Acara ini paling gayeng karena riuh suporter yang teriak-teriak memberi semangat. Ketiga, lomba berjalan menyeberang air kolam untuk dewasa dan anak-anak. Sekilas lomba ini terkesan gampang, tetapi saat para orang dewasa mencobanya banyak yang tak sanggup, limbung di tengah jalan. Keempat, lomba menangkap bebek untuk anak-anak.

Peserta yang  datang, baik alumni maupun keluarganya, mencapai 150 orang. Lintas angkatan, lintas jurusan. Jumlah yang sangat fantastik mengingat tempat acara jauh di pedamalan kebun salak. Eh, salak lagi. Hihi. Mulai dari angkatan 1970an hingga angkatan 2010an. Dari masing-masing dekade, setidaknya satu yang mewakili memberikan kesan terhadap acara ini.

“Seru banget, benar-benar erat. Ketemu teman-teman baru. Selama ini di dunia kerja saya lebih banyak ketemu lelaki, jadi di sini ingin ketemu teman-teman perempuan,” ujar Mbak Nunung Sukiman, Teknik Sipil 1978, dosen universitas swasta di Jakarta. Oh ya banyak teman-teman alumni yang sehari-hari tinggal di Jakarta, saat itu kebetulan mudik di sekitar Jogja, menyempatkan datang. Contohnya Mas Iskandar Eoq Wibisono dan Rika Tsan, keduanya bukan wajah baru, biasa muncul di kopdar Jabodetabek. Termasuk saya, sehari-hari di ibukota, mudik ke Kebumen, menyempatkan ke Jogja. Ah, Jogja memang magnet untuk siapa saja yang pernah tinggal di sana. “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu.” demikian penggalan lirik lagu “Yogyakarta”. Sebagian yang lain, punya alasan tersendiri hadir di sini.

“Ini tempat berkumpul sebagai rasa bersyukur dan silaturrahim. Saya merasa lebih muda lagi. Buat perbandingan diri sendiri, sekolahnya dulu di tempat yang sama, kok jadinya beda-beda, dan enjoy saja. Kebetulan saya dulu teman kos Jokowi, dia jadi presiden dan saya menekuni bidang saya,” tutur Hermanto yang dikenal sebagai pemilik usaha bernama Magnet Jogja, alumnus Sosiatri 1982.

“Aku wis langganan datang kopdar. Komunitas ini cair dan asyik. Kalau bukan komunitas ini, aku belum tentu datang. Sebagian sudah kenal, interaksi dengan teman-teman juga menarik. Untuk anak-anak acaranya juga bagus, mengalir. Aku ikut bal-abalan, ngegolin satu ke kelompok yang kalah,” urai Ary Lesmana, Komunikasi 1991. Saran dari Ary untuk ke depan, “acara yang berbau seni, termasuk untuk anak-anak, belum terwakili. Semoga lain waktu bisa ada.”

“Beberapa orang selama ini hanya interaksi di dunia maya. Mumpung ada momen kumpul bareng, nambah teman, nambah saudara, atau juga ‘saudaranya saudara’. Acara ini menyenangkan, tidak ada batasan usia, berbaur jadi satu. Mungkin karena alumni UGM supel-supel,” tutur Pinjung Nawang Sari, Pertanian 2002, dosen muda UGM. ‘Saudaranya saudara’ yang dimaksud Mbak Pinjung sudah ditemukan belum ya? Mari bantu dia mencarinya. Haha.

“Saya baru lulus tahun 2015 ini. Ini baru pertama kali mengikuti acara pertemuan alumni. Ingin tahu di luar sana kegiatannya seperti apa. Tambah link juga,” ujar Amanda, Pertanian 2011 yang datang bersama mantan dosennya, Pinjung (lagi). 🙂

Acara juga dihadiri oleh Rektor UGM yang baru saja menjabat, Ibu Dwikorita Karnawati (Teknik Geologi 1983). Beliau menyampaikan, “Acara seperti ini sangat penting untuk menghubungkan para alumni, mengumpulkan balung pisah, mendekatkan, dan silaturrahim. Juga, saling mendengarkan, saling sharing, siapa tahu ada jalan keluar di kemudian hari. Seperti tadi soal gifted children.” Saat itu ada alumnus membawa putrinya yang memiliki bakat khusus, usia 15 tahun diterima di UGM. Bu Rektor juga berharap pertemuan seperti ini bisa membuka peluang manfaat untuk banyak pihak.

Seorang alumni yang sedang mendapatkan perawatan intensif sekian bulan ini, Yuslan (Teknik Kimia, 1997) juga datang. Yuslan adalah alumni UGM yang saat mahasiswa semester awal mengalami kecelakaan berat hingga kehilangan banyak memori. Hal tersebut membuatnya sulit berinteraksi dengan lingkungan sehingga selalu butuh perawatan dan perlindungan. Setelah kecelakaan dulu, Yuslan sempat hilang sekian tahun hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan butuh perawatan RS dan kemudian dirawat oleh sejumlah alumni UGM. Salut buat teman-teman yang memiliki jiwa sosial tinggi, saling membantu tanpa pamrih. Keterikatan kuat dengan almamater dan pertemanan yang erat membuka jalan untuk membantu yang membutuhkan dan mengatasi masalah-masalah yang bisa diselesaikan bersama.

Saat makan besar, ada menu tak biasa. Tumis salak dan sambal salak. Banyak peserta, termasuk saya, baru kali pertama mencoba menu tersebut. Perfomanya seperti jamur, tapi rasanya beda. Banyak yang terkecoh. Saya kira hampir semuanya terkesan dengan menu tersebut. Enak dan jadi terinspirasi untuk kelak mencoba menumis salak. Oh ya, peserta juga mendapatkan sebungkus daun mint gratis yang dipetik dari kebun Mbak Sribudi Astuti, Pertanian 1994. Juga tersedia buku gratis dalam jumlah terbatas, yang ditulis oleh Mas Adi Mardianto, alumnus Psikologi. Tidak lupa tandatangan dan foto bersama penulisnya. 🙂

Saat tiba acara sesi foto bersama, mulanya akan foto bersama tiap fakultas. Dimulai dari fakultas Biologi. Kenapa Biologi? Karena itu fakultas saya. Eh, bukan. Karena Biologi diawali huruf B, dibandingkan dengan nama fakultas lain, Biologi menempati urut pertama berdasarkan urutan abjad. Dalam berbagai acara di kampus dulu, seperti wisuda, biasanya juga fakultas Biologi dipanggil yang pertama. Alumni Biologi yang hadir hanya 5, angkatan berbeda-beda. Saat alumni Biologi sudah berbaris berderet siap dipotret, tiba-tiba teman lain satu persatu berlarian ingin ikut foto, semua ngaku lulusan Biologi. Akhirnya batal foto perangkatan. Haha.

Kembali ke Mbak Destina yang saya temui di awal kedatangan, mengenai acara itu, “Owh… kesannya seru, anak-anak ceria. Mereka bisa main air puas.” Kegiatan berjalan menyenangkan dan lancar, meskipun tidak ada struktur kepanitiannya. Acara dikerjakan atas kerjasama banyak pihak yang rela lebih repot daripada peserta, termasuk Mbak Ratih Puspitasari, Mas Eko Eshape, dan Mas Sulastama Raharja (Teknik Geologi 1994) yang terlibat aktif menangani terselenggaranya acara meskipun dia jauh di California, Amerika Serikat.  Masukan dari Mbak Destina untuk ke depan adalah, “ada acara yg saling mengenalkan atau kemasan ke situ jadi lebih akrab kenal satu sama lain.“

Acara selesai pukul sekitar pukul 15.30. Nampak beberapa anak, pulang dengan wajah berseri-seri menggendong bebek hasil tangkapannya. Makanan masih tersisa banyak, beberapa ibu-ibu maupun bapak-bapak membawanya pulang untuk oleh-oleh. Saya juga, mengantongi beberapa salak. Saya mengambil buah berkulit cokelat itu sembari tersenyum sendiri, mengingat tadi pagi yang nyasar muter-muter di kebun salak. Sejumlah orang dewasa melanjutkan kopdar malam di salah satu rumah makan untuk membahas soal pendidikan berbasis sumber daya alam, dimoderatori oleh Mbak Aula Wijiasih. Saya tertarik gabung, tetapi tidak memungkinkan. Saya janji malam itu menemani ponakan jalan-jalan ke Malioboro, dan selesai sudah larut malam. Kemudian nginap di rumah Mbak Bibien Bintang Wisnuwardani, terima kasih banyak atas tumpangannya. Saya pulang esoknya pagi-pagi sekali karena siangnya mendadak harus kembali ke Ibukota. Aku terlupa membawa salak kemarin yang kusimpan di meja rumah Mbak Bibien. Haha.

Agustus 2015

Laeliya

Advertisements

Outbond dan berkebun untuk Kagama Virtual (Kavir) dan keluarga

Sudah lama tak ada acara kumpul bareng. Panitia KGG II (Kagama Goes Green II) akan mengadakan outbond anggota Kagama Virtual (KaVir) dan berkebun bagi anak-anak anggota KaVir (little farming).

Kapan? Dimana? Berapa kontribusinya?
Hari minggu, 22 Desember 2013 jam 08.00-selesai.

Kawasan Outbondholic Ancol (utk outbond) dan area little farming di Eco Convention Park (utk berkebun).

Kontribusi outbond Rp 100.000 (termasuk makan siang dan tiket masuk kawasan Ancol dan Outbondholic, tarif normal Rp 120.000 diluar konsumsi).

Bagi 20 peserta berkebun untuk anak-anak (usia : 3-13 tahun) pertama akan mendapatkan GRATIS biaya masuk (di luar biaya makan siang, Rp 40.000).
Setelah kuota 20 anak terpenuhi, kontribusi dikenakan Rp 90.000 (termasuk makan siang, biaya masuk kawasan Ancol dan Eco Convention Park).

Acara outbond ini juga akan memberikan merchandise KaVir pada member ke 10,001.

Utk kontribusi, silakan transfer ke rekening Utty Damayanti , BCA 5235145569.
PIC acara outbond KaVir : Rika (085 7774 200 39).

Disclaimer :
Bagi peserta, terutama berkebun, diharapkan membawa pakaian ganti dan peralatan bersih-bersih diri.

Meeting point berangkat (boleh diusulkan titik2 yg lain) : blok M, Depok, …

Salam,

Lestari Octavia

Catatan dari Panitia Lomba Cerpen KAGAMA VIRTUAL 2013

Kegiatan ini terselenggara berawal dari kerinduan untuk membiasakan dan membudayakan menulis di antara teman-teman alumni UGM yang tergabung dalam KAGAMA (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada ) VIRTUAL. Banyaknya bioskop dan film-film yang dapat diunduh secara gratis membuat dunia membaca dan menulis banyak ditinggalkan. Kami mengamati setiap hari puluhan thread di Grup Facebook Kagama Virtual muncul dengan dinamika diskusi yang tinggi. Kadang kami menemukan mutiara –mutiara pemikiran yang bernilai dalam lautan thread, tetapi hanyut begitu saja. Oleh karena itu dimulailah dengan mengumpulkan blog teman-teman dan mengambil beberapa tulisan untuk dimuat di website www.kagamavirtual.com. Selanjutnya dari diskusi sejumlah alumni, muncul pemikiran yang sama untuk menerbitkan buku. Pilihan pertama adalah membuat antologi cerpen karya teman-teman dan umum. Pembuatan antologi bertujuan meningkatkan mutu tulisan sehingga dibuatlah lomba cerpen untuk umum.

 Kami berharap kegiatan ini menjadi suatu event tahunan, rutin, dan dipertimbangkan dalam karya tulis dan sastra di Indonesia. Panitia Pelaksana adalah AM Lilik Agung, Aroem Naroeni, dan Nur  Laeliyatul Masruroh dengan dukungan dari teman-teman KAGAMA. Pengumuman lomba cerpen mulai dipublikasikan sejak Selasa 1 Oktober 2013 dan waktu akhir pengiriman 11 November 2013. Tema cerpen: “Kisah Masa-Masa Kuliah (Isih Penak Jamanku tho?)”.

 Pada pertengahan Oktober 2013,  baru 21 cerpen masuk, kemudian publikasi digencarkan dengan menyebarkan ke berbagai jaringan media sosial, kampus-kampus di Jakarta, dan tentu saja di kampus UGM. Pada minggu terakhir, 100 naskah cerpen masuk. Lalu pada tiga hari sebelum tanggal penutupan pengiriman naskah, 150 naskah cerpen masuk. Bahkan hingga beberapa hari setelah tanggal penutupan, naskah masih terus berdatangan. Naskah yang datang melewati batas waktu yang ditentukan, sayang sekali tidak bisa diikutkan lomba.

 Oleh karena banyaknya karya yang masuk dan melebihi perkiraan, juri yang terdiri dari Wahyu W Basjir, Tulus Wijanarko, Andreas Maryoto, Sopril Amir, Dwi Nastiti Arumsari Oscar, Suluh Pratita, dan  Sulastama Raharja memutuskan untuk memperpanjang waktu penilaian. Butuh tambahan waktu untuk mereka membaca dan menilai semua naskah yang masuk. Peserta terbuka untuk semua alumni UGM (termasuk panitia) dan umum. Hanya para juri yang tidak diijinkan mengikuti lomba. Para juri menerima naskah tanpa nama peserta sehingga penilaian dilakukan secara objektif sesuai kriteria yang telah ditentukan.

 Total naskah cerpen yang masuk dan bisa disertakan lomba sebanyak 248 dari 213 penulis. Sebanyak 52 peserta atau 24,4% di antaranya adalah mahasiswa dan alumni UGM. Naskah berasal dari seluruh penjuru Indonesia, sampai kabupaten-kabupaten kecil di Jawa, Kalimantan, Sumatra, NTT dan lain-lain. Bahkan ada peserta dari alumni UGM yang tinggal di luar negeri.  Penulis sangat beragam, dari usia SMP sampai pensiunan, dari penulis profesional sampai yang baru saja menulis untuk kali pertama. Mungkin inilah kekuatan dunia media sosial yang mampu menyebarkan informasi ke berbagai penjuru.

Akhirnya dari 248 naskah cerpen itu terpilih pemenang sebagai berikut :

Juara I : Dua Arus Selokan Mataram. Pengarang : Hanif Junaedi Ady Putra (mahasiswa Fakultas Hukum UGM).

Juara II : Kedarpan. Pengarang : Hasanudin Abdurakhman ( alumnus FMIPA UGM)

Juara III : Lanang. Pengarang : Midun Aliassyah (mahasiswa Pasca Sarjana UGM.

 Juara Harapan I : Sebelum Telepon Berdering. Pengarang : Kun Adyan Anindito (mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

 Juara Harapan II : Drupadi dan Lelakinya. Pengarang : Maya Saputri (penulis dan jurnalis)

Juara Harapan III :Tersangka Teroris Itu Teman Istimewaku di Masa Lalu. Pengarang : Nur Laeliyatul Masruroh (penulis, editor, dan alumnus Fakultas Biologi UGM)

Yang masuk dalam antologi:

1. Apa yang Mungkin dari Pintu Itu. Pengarang : Asef Saeful Anwar (mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada).

2. Perjumpaan di Candi Prambanan. Pengarang : Sunaryo Subroto (alumnus Teknik Kimia UGM).

3. Menikah. Pengarang : Haji Arif Arofah (Nama Pena : Hara Hope), penulis, dan alumnus UIN Sunan Kalijaga,Yogyakarta.

4. Saputangan Merah Jambu. Pengarang : R. Toto Sugiarto(penulis dan alumnus Fakultas Ilmu Budaya, UGM)

Pemenang Favorit dan yang akan menjadi cover  buku : Tersangka Teroris Itu Teman Istimewaku di Masa Lalu. Pengarang : Nur Laeliyatul Masruroh (penulis, editor, dan alumnus Fakultas Biologi UGM)

Para pemenang mendapatkan hadiah. Juara I : 3 juta+hadiah dari sponsor. Juara II : 2 juta +hadiah dari sponsor. Juara III : 1 juta + hadiah dari sponsor. Harapan I : 500 ribu + hadiah dari sponsor. Harapan II : 500 ribu + hadiah dari sponsor. Harapan III : 500 ribu + hadiah dari sponsor. Favorit : 1 juta + hadiah dari sponsor.

 Pengumuman pemenang diselenggarakan di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, pada Kamis, 12 Desember 2013, dikemas dalam Dialog Budaya dengan pembicara Anthony Dio Martin (psikolog dan pembicara publik) dan Andrias Harefa (penulis dan pembicara publik). Host acara AM Lilik Agung.

Semua pemenang dan semua peserta lomba cerpen akan mendapatkan buku antologi cerpen.

Buku antologi cerpen ini akan diterbitkan atas biaya Sampoerna Foundation, oleh PT Elex Media Komputindo. Selain dijual di toko buku Gramedia, buku ini akan disebarkan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah di seluruh Indonesia yang memerlukannya, didistribusikan oleh TNT, dan disalurkan melalui Indonesia Mengajar. Panitia mengucapkan terima kasih kepada:

1.      Sampoerna Foundation

2.      PT Elexmediakomputindo

3.      TNT

4.      Galeri Indonesia Kaya

5.       Sinergi

6.      Seluruh pihak yang mendukung kegiatan ini.

Pemenang Lomba Cerpen KAGAMA VIRTUAL

 Cover Buku
Cover Buku

Juara I : Dua Arus Selokan Mataram
Pengarang : Hanif Junaedi Ady Putra, Mahasiswa Fakultas Hukum UGM

Juara II : Kedarpan
Pengarang : Hasanudin Abdurakhman, Alumnus FMIPA UGM

Juara III : Lanang
Pengarang : Midun Aliassyah, Mahasiswa Pasca Sarjana FIB UGM

Juara Harapan I : Sebelum Telepon Berdering
Pengarang : Kun Andyan Anindito, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Juara Harapan II : Drupadi dan Lelakinya
Pengarang : Maya Saputri, Penulis, Jurnalis

Juara Harapan III :Tersangka Teroris Itu Teman Istimewaku di Masa Lalu
Pengarang : Nur Laeliyatul Masruroh, Penulis, Editor, Alumnus Fakultas Biologi UGM

Yang masuk dalam antologi :

1. Apa yang Mungkin dari Pintu Itu
Pengarang : Asep Saeful Anwar, Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

2. Perjumpaan di Candi Prambanan
Pengarang : Sunaryo Broto, Alumnus Teknik Kimia UGM

3. Menikah
Pengarang : Haji Arif Arofah (Nama Pena : Hara Hope), Penulis, Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

4. Saputangan Merah Jambu
Pengarang : R. Toto Sugiarto, Penulis, Alumnus Fakultas Ilmu Budaya, UGM

Pemenang Favorit dan yang akan menjadi cover Buku :

Tersangka Teroris Itu Teman Istimewaku di Masa Lalu, Pengarang : Nur Laeliyatul Masruroh, Penulis, Editor, Alumnus Fakultas Biologi UGM

Pengumuman Lomba Cerpen, Pentas, dan Dialog Budaya

Kepada

Yth. Peserta Lomba Cerpen Kagama Virtual

di tempat

Hal : Undangan Pengumuman Lomba Cerpen

Dengan hormat, Kami atas nama penyelenggara Lomba Cerpen Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Virtual (Kagama Virtual) mengucapkan terimakasih atas partisipasinya dalam lomba cerpen yang kami selenggarakan. Sehubungan dengan lomba tersebut kami mengundang untuk menghadiri acara dengan rinci sebagai berikut:

Acara : Pengumuman Lomba Cerpen, Pentas, dan Dialog Budaya

Hari : Kamis, 12 Desember 2103

Tempat : Galeri Indonesia Kaya West Mall, lantai 8 (samping Blitz Megaplex), Grand Indonesia Jl. MH Thamrin No 1 Jakarta Pusat

Acara : 17.00 – 18.00 wib : Registrasi dan hiburan musik

 18.00 – 18.30 wib : Pentas budaya

18.30 – 19.00 wib : Pengumuman pemenang

19.00 – 20.30 wib : Dialog budaya dan pentas budaya

 Pengisi acara : 1. Taufiq Rahzen (budayawan)

                        2. Nirwan Ahmad Arsuka (pengamat budaya)

3. AS Laksana (sastrawan)

                        4. Jay Wijayanto (pemusik, penyanyi klasik)

                        5. Mardiyah Chamim (wartawan)

Demikian undangan dari kami dan kedatangan dari peserta Lomba Cerpen Kagama Virtual sangat kami harapkan dalam acara ini.

Untuk konfirmasi aroem.naroeni@kagamavirtual.com

Asiknya Datang Reuni

Pertama kali datang reuni akbar Temu Kangen Kagama 2010, kesan saya super bete. Tak ada yang kenal, kesana kemari, lantang luntung seperti orang hilang. Saat itu datang bersama seorang sahabat. Di sana hanya bertemu satu sahabat yang lain, lalu berpisah. Kembali sendiri, dalam keramaian merasa sunyi, lalu pulang sambil gigit jari.

Ada beberapa orang terkenal yang saya pun tidak tahu caranya menyapa, kecuali Ikang Fauzi dan salah seorang artis. Itupun karena untuk kepentingan liputan. Rasanya saya pulang dengan tekad, saya tak ingin datang reuni lagi! Kapook. Kalau ada teman yang enggan mengikuti acara reuni kampus karena memiliki asumsi acara bakal bikin bete, penuh basa basi, dan semacamnya, saya bisa paham. Padahal, kalau tahu caranya, sebenarnya tidak bikin bete lho.

Lalu, saya kenal komunitas Kagama Virtual (teman-teman alumni yang banyak dipertemukan di dunia virtual). Selanjutnya disingkat Kavier/KV. Komunitas ini saya temukan di grup Facebook, mailing list, dan grup BBM. Selanjutnya, saya terima undangan reuni Donor Darah di MM UGM, Jakarta. Sepertinya  di situlah saya mulai merasakan sedang menemukan “keluarga” baru. Berikutnya, Mei 2012 ada kegiatan Fotografi ke Kepulauan Seribu, dibuka pendaftaran terbatas untuk 30an alumni. Saya ikut. Di sanalah saya merasa ada perbedaan signifikan. Saya merasa benar-benar menemukan keluarga baru, atau semacam sodara lama yang terpisah, lalu kembali bertemu. Reuni kali itu berhasil meninggalkan kesan terbaik di ingatan saya. Terima kasih Tongfaaang. Eh.

Selanjutnya tak terhitung lagi, entah berapa kali saya ikut kopdar Kagama Virtual. Malah jadi ketagihan kopdar. Mulai dari nongkrong ngopi, nonton pameran, kuliner, hingga karaokean. Lhoh kopdar kok isinya malah main? Hidup bukan melulu untuk meribetkan pemahaman yang berbeda (seperti di grup FB akhir-akhir ini), ada banyak cara untuk mencapai kebersamaan.  Yang berbeda tidak perlu diperuncing.  Dari acara-acara santai seperti ngopi-lah saya menemukan teman-teman alumni yang kemudian menjadi layaknya sodara.

Acara kopdar bukan hanya duduk manis, nonton orang ngisi sambutan ini itu, lalu menyimak pertunjukan di panggung. Namun, juga ada kegiatan yang manfaatnya lebih nyata seperti menanam pohon di Lereng Merapi, Lava Tour, melepas penyu di pantai, berburu objek fotografi, galang dana beasiswa untuk adik-adik UGM, ataupun pendampingan anak jalanan. Bahkan, kami pernah naik kereta rame-rame sebanyak 88 orang, serentak dari Stasiun Gambir menuju Jogja demi menyelamatkan lereng Merapi. Jiaaaah!

Untuk acara Temu Kangen kagama DKI, memang diadakan setahun sekali. Namun, untuk reuni/kopdar/ngumpul-ngumpul KV hampir tiap bulan ada saja agenda pertemuan. Nah, pertemuan-pertemuan seperti ini yang membuat alumni saling menemukan rasa kekeluargaan. Kalau tertarik ikut kegiatan-kegiatan KV atau ingin menemukan ‘sodara lama’, seringlah tengok grup KV di FB, atau mlipir ke salah satu teman yang aktif berkegiatan, nanti dikasih tahu kalau ada acara-acara kopdar. 😉

Tahun lalu, ada lomba joget dalam acara tahunan Temu Kangen 2012 di Ancol. Kagama Virtual berhasil juara II. Mereka menampilkan joget kuda jingkrak Gangnam Style. Saat itu joget Gangnam sedang ngetren. Saya pun ikut, bahkan teman-teman latihan di tempat saya satu hari sebelumnya.

Tahun ini sedang ngetren Joget Cesar, jadi dalam acara Temu Kangen 2013 diadakan lomba joget tersebut. Teman-teman KV ikut lagi, kali ini juara III. Kali ini saya tidak ikut. Sebelumnya saya dinasehatin teman agar jangan ikut. Kenapa? Soalnya ntar kalau ada  yang naksir saya, batal pedekate. :D. Joget saya fals, malu-maluin ajah. Atau, kalau ada calon mertua yang hadir, ntar batal menjadikan menantu. Hm, betul juga ya. Baiklah, saya tidak akan ikut Joget Cesar! Tapi oh tapi, musiknya itu memanggil-manggil buat joget, seolah mengatakan, kalau tertarik joget, apa salahnya gabung. Jadi, pada akhir acara, saya ikut joget dangdutan meski gerakan tetap fals. Bikin calon mertua yang lihat jadi mikir-mikir? Bodo amat! :p

Saat reuni terbaru itu tentu saja saya tak bete lagi. Kesana-kemari, saya bisa menyapa orang. Menyapa yang akrab, yang kenal, yang agak kenal, yang kenal di dunia virtual, hingga mencoba kenal dengan orang baru. Menyapa siapa saja yang bahkan sepertinya lupa sama saya. “Halo Mas, Mba, Pak, Bu, saya L…, kita pernah ketemu saat kopdar di bla bla.” Lhoh kok jadi sok akrab? Ya nggak lah. Mereka pun menyambut baik sapaan saya. Saya yakin siapa pun yang di sana, pasti juga ingin disapa dan menyapa orang lain.

Ada saatnya kita merayakan kebahagiaan, ada saatnya kita serius mengerjakan hal-hal penting yang lain. Dan yang sangat berharga adalah terjalinnya hubungan yang baik dan kebersamaan yang hangat dengan teman-teman. Mekaten.

 

~ L~

Depok, 22 Oktober 2013.

Uematsu Sensei

Uematsu Sensei

Hasanudin Abdurakhman

Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, aku bahkan tak mengenalnya sebagai orang Jepang. Aku kira dia orang Cina Malaysia. Waktu itu aku baru saja tiba di Kuala Lumpur, dan masuk ke dormitory yang akan aku tempati selama setahun ke depan. Rupanya ada kelambatan dalam persiapan dormitory sehingga saat aku masuk mereka masih harus membenahi banyak hal. Beliau hadir bersama seorang perempuan yang aku duga adalah istrinya. Dia memantau dan memberi saran untuk ini dan itu. Jadi aku langsung mengira dia adalah pengusaha Cina yang memasok barang-barang kebutuhan untuk dormitory kami.

Malam hari ketika aku menghadiri jamuan makan malam penyambutan, barulah aku tahu bahwa dia adalah calon guru bahasa Jepangku. Ia akan mengajar dalam program yang akan aku ikuti selama setahun ke depan. Hal pertama yang dia ajarkan kepadaku adalah cara memanggil orang dalam budaya Jepang. Kami saling memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris.

“What’s your name?”

“My name is Hasan, I’m from Indonesia.”

“I’m Uematsu.”

“Oh, Uematsu san….”

“No. Uematsu Sensei. You have to call me sensei, because I’m your teacher.”

Aku mengira setiap orang Jepang dipanggil san di belakang namanya. Baru tahu aku bahwa ada panggilan lain.

Kejadian itu aku alami saat baru bergabung dalam Asian Youth Fellowship (AYF) Program. Ini adalah program beasiswa untuk kuliah S2-S3 ke Jepang. Program ini ditujukan untuk mahasiswa dari 11 negara ASEAN ditambah Bangladesh. Setiap Negara diberi jatah dua mahasiswa, tapi ketika program ini dimulai tahun 1996 hanya dapat dilakukan seleksi di enam negara, dan dari Indonesia waktu itu hanya aku sendiri yang lolos. Jadi jumlah pesertanya hanya 11 orang.

Program beasiswa untuk kuliah ke Jepang biasanya diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Jepang (Monbusho). Sebenarnya AYF juga begitu, kami para pesertanya akan kuliah dengan beasiswa Monbusho. Bedanya dengan program Monbusho biasa, kepada kami diberikan program tambahan berupa pelatihan bahasa Jepang intensif selama setahun. Pelatihannya pun tidak dilaksanakan di Jepang, tapi di Kuala Lumpur. Penyelenggara program bekerja sama dengan lembaga pendidikan lokal, yaitu Yayasan Pelajaran Mara yang menyediakan fasilitas tempat belajar.

Pagi hari, kami berkumpul di kelas, berpakain rapi, lengkap dengan dasi. Memakai dasi adalah salah satu aturan yang ditetapkan pihak sekolah. Sensei masuk, memulai pelajaran pertama. Aku mengira dia akan menjelaskan panjang lebar tata bahasa Jepang dalam bahasa Inggris. Tapi itu tidak terjadi. Ia menghampiri salah seorang murid.

“Watashi…. Anata…..” katanya. Saat menyebut “watashi” ia menunjuk ke dirinya, dan saat ia mengatakan “anata” ia menunjuk ke murid. Lalu ia minta murid mengulangi. Setiap murid mendapat giliran. Dengan cara itu ia mengajarkan bahwa “watashi” itu artinya saya, dan “anata” artinya kamu.

Selanjutnya ia mulai mengajari kami menyusun kalimat. “Watashi wa Uematsu desu. Anata wa dare desuka.” Kami menjawab sesuai nama kami masing-masing. “Watashi wa Hasan desu.” Satu jam berlalu, kami asyik mengulangi contoh-contoh kalimat Sensei. Dalam satu jam itu kami sudah bisa membuat satu dua kalimat perkenalan. Ya, dalam satu jam itu kami sudah mulai berbicara dalam bahasa Jepang! Sensei tidak mengajari kami tata bahasa, tapi mengajari kami berbicara.

Ada dua orang guru lain yang mengajar kami, keduanya perempuan. Satu orang berumur sekitar 30 tahun, berasal dari sekolah bahasa Jepang yang sama dengan Uematsu Sensei, namanya Adachi. Satu lagi masih sangat muda, berumur 23 tahun. Dia mahasiswa S2 bidang Pendidikan Bahasa Jepang di Yokohama National University, ikut mengajar di program itu sebagai bagian dari kerja praktek. Namanya Kohata. Setiap hari kami belajar dalam enam jam pelajaran, artinya kami akan bertemu dengan setiap sensei selama dua jam. Masing-masing punya keunikan tersendiri.

Uematsu Sensei kami pandang sebagai sosok yang kami segani. Berumur sekitar 50 tahun lebih, ia tampak matang sebagai seorang guru. Pada kelas Adachi Sensei kami agak lebih santai, karena dia masih muda. Sedangkan Kohata Sensei, umurnya lebih muda dari kami semua, dan dia cantik.

Namun kesan angker pada Uematsu Sensei segera sirna. Suatu hari di kelas Adachi Sensei seorang murid agak nakal membuat contoh kalimat. “Uematsu Sensei wa omoi desu.” (Uematsu Sensei itu berat). Dengan keterbatasan kosa kata ia hendak meledek, bahwa Uematsu Sensei itu gendut. Kami sekelas tertawa. Jam pelajaran berikutnya giliran Uematsu Sensei. Ia mulai dengan menirukan kalimat tadi. Rupanya Adachi Sensei melaporkan kelucuan pada kelas sebelumnya. Kami sempat mengira Uematsu Sensei akan marah. Tapi kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Itu adalah momen yang mencairkan hubungan kami dengannya.

Suatu hari di kelas dia bertanya, “Do you like wearing necktie?” Semua murid menggeleng. “Then, take it off.” Ia mulai dari dirinya sendiri, melepas dasi. Kami semua menirunya. Sekal itu aturan di kelas kami berubah, kami tak perlu lagi pakai dasi.

Seminggu berjalan, pelajaran mulai terasa sulit. Banyak kata-kata baru yang harus dihafal. Hiragana dan katakana juga harus diingat. Beberapa murid mulai keteteran, termasuk aku. Satu dua murid rupanya pernah belajar bahasa Jepang sebelumnya. Ada yang kursus 3 bulan, bahkan ada yang pernah berkunjung ke Jepang selama beberapa minggu. Mereka mendominasi kelas, dan aku merasa tertinggal. Kudatangi Uematsu Sensei di ruang guru, untuk protes.

“You’re going too fast, I can’t follow you. Please slow down.”

“OK, OK.” jawabnya sambil tertawa. Ia terlihat tak serius menanggapi protesku.

“Some students has started learning Japanese before entering this program. You have to consider this, so you don’t make them benchmark for the progress of the class.” lanjutku.

“You worry too much. Calm down.” jawab Uematsu Sensei.

Aku keluar kelas dengan dongkol karena merasa protesku tak ditanggapi serius. Tapi dia benar. Seminggu kemudian, saat aku mulai menguasai cara membaca dan menulis hiragana dan katakana, aku tak lagi ketinggalan. Pelajaran selama tiga bulan yang pernah ditempuh oleh beberapa murid ternyata bisa kami lewati dalam waktu kurang dari dua minggu. Kini aku yang mulai mendominasi kelas. Nilai-nilai tes harian dan mingguanku selalu teratas. Dan aku juga paling aktif berbicara di kelas.

Di sebelah ruang kelas ada student lounge. Kami biasa duduk di situ saat istirahat. Ada satu set pemutar CD, TV, dan pemutar video. Sensei menyediakan banyak CD musik klasik dari berbagai komposer. Aku suka memutar CD itu, menikmati musiknya di sela-sela jam pelajaran. Sesekali Sensei ikut bergabung duduk di situ.

“Suki desuka?” tanyanya dalam bahasa Jepang.

“Hai, suki desu. Kirei desune.”

“Soudesuyo. Kurasiku wa kirei desu.”

Meski dengan kosa kata yang terbatas, Sensei selalu meladeni kami dalam bahasa Jepang. Ia tak lagi mau berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Uniknya, ia selalu bisa mengungkapkan hal-hal yang sulit dengan kosa kata sederhana.

Semakin hari beban pelajaran makin tambah berat, khususnya bagi beberapa murid. Ada yang mulai tampak stress. Di kelas juga mulai terlihat kesenjangan. Aku berada di depan, selalu paling dulu paham pelajaran baru. Kemudian di bawahku ada mahasiswa Filipina, Bangladesh, dan Vietnam yang cukup baik penguasaannya. Lalu di bawahnya ada satu mahasiswa Vietnam, dan dua dari Kamboja yang selalu terlihat keteteran. Bukannya mengendorkan tekanan, Sensei justru menambahnya. Ia memberi banyak sekali PR. Kami harus menuliskan berbagai pola kalimat. Itu harus dikerjakan malam hari. Sangat melelahkan. Aku lagi-lagi protes.

“PR terlalu banyak. Saya tidak perlu 10 kalimat untuk memahami satu pola kalimat. 5 kalimat sudah cukup.”

“OK, kalau begitu kamu cukup kerjakan separuhnya.” jawab Sensei santai.

Untuk mengurangi ketegangan, Sensei menyuruh kami pergi. Sebagai ketua kelas (aku dipilih karena aku satu-satunya yang paham bahasa Melayu) aku diminta mengatur perjalanan keluar kota. Memakai mobil milik sekolah kami dan dua guru perempuan pergi ke kota-kota di sekitar Kuala Lumpur untuk rekreasi. Pernah pula kami adakan pertandingan ping pong. Saat ada yang ulang tahun, kami selenggarakan pesta kecil. Semua itu selain untuk keakraban, juga untuk mengurangi beban stress. Sensei juga pernah berpeluh-peluh memberi pijatan refleksi kepada setiap muridnya.

Tujuh bulan berlalu, kami tiba di akhir tahun, di mana kami harus ikut ujian Japanese Language Proficiency Test Level 2. Pelajaran di kelas separuhnya sudah berisi berbagai latihan soal. Semua tegang, khawatir tidak lulus. Ancamannya, kalau tidak lulus tidak boleh pergi ke Jepang. Hari yang kami khawatirkan itu akhirnya tiba. Diantar 3 sensei kami pergi tes. Setelah itu kami kembali belajar, meneruskan sisa program yang masih tersisa selama 3 bulan.

Dalam masa itu diselenggarakan lomba pidato bahasa Jepang tingkat nasional Malaysia. Sensei menawarkan kepada kami untuk ikut. “Kalian tidak akan diikutkan dalam pertandingan karena ini khusus untuk warga Malaysia. Kalian hanya akan ikut sebagai peserta tamu.” Aku bersama mahasiswa dari Vietnam mengajukan diri untuk ikut serta. Aku memilih topik tentang kamera, yang waktu itu baru kubeli. Sensei membimbing kami menulis naskah pidato.
Ketika membaca naskah pidatoku pada kalimat pertama, Sensei sangat terkesan. Tapi kemudian ia mencibir. “Kalimat pertamamu sungguh alami. Tapi pada kalimat selanjutnya, kamu sudah berlagak macam dosen yang serba tahu, dan menganggap pendengarmu tak tahu apa-apa.”

Lalu Sensei membimbingku menuliskan pidato dalam bahasa sederhana, dengan aliran alami, tapi bermakna dalam. Dengan menjadikan kamera sebagai simbol, aku menceritakan keadaan kami peserta program AYF, datang dari berbagai latar belakang, dengan minat yang berbeda-beda, tapi berkumpul untuk suatu tujuan. Ketika judul pidatoku disampaikan oleh MC di acara lomba, sebagian orang tertawa mendengarnya. Judul pidatoku terdengar sangat kanak-kanak. “Watashi wa atarashii kamera wo kaimashita.” Saya membeli kamera baru.

Aku ingat betul. Para juri, yang salah satunya adalah Direktur Japan Foundation Kuala Lumpur, mendengar pidatoku dengan seksama. Dan aku lihat ia seperti terpesona pada kalimat di akhir pidatoku, yang merupakan penegasan dari keseluruhan simbol yang hendak kusampaikan. Setelah itu dia bertanya panjang, dalam bahasa yang sudah tak lagi bisa kupahami. Kurasa ia sudah salah mengira bahwa bahasa Jepangku sudah sangat mahir. Padahal untuk peserta sebelumnya kudengar pertanyaan yang diajukan sangat sederhana. Kulihat di belakang Sensei menepok jidatnya. Walhasil, pembawa acara harus menerjemahkan pertanyaan untukku ke dalam bahasa yang lebih sederhana.

Menjelang akhir program hasil tes diumumkan. Dari sebelas peserta di kelas kami, hanya dua yang lulus. Aku dengan nilai tertinggi, dan mahasiswa Bangladesh di bawahku. Kami semua tegang. Bayangan kegagalan berangkat ke Jepang menghantui semua yang tak lulus. Tapi Sensei menghibur kami.

Ia menulis evaluasi panjang lebar, dia kirim ke Japan Foundation dan Kementerian Luar Negeri yang menjadi penanggung jawab program. Ia dengan tegas mengatakan bahwa kegagalan kami adalah wajar, karena waktu yang tersedia sangat sempit. Kelulusan dua peserta bagi Sensei adalah pencapaian luar biasa. Akhirnya penyelenggara bersikap lunak. Kami semua boleh berangkat ke Jepang!
Saat lulus dari program, aku sudah berencana menikah, sebelum berangkat ke Jepang. Sebagai kata perpisahan, Sensei menulis pesan di belakang ijazahku.

“人間は一人で生まれ、一人で死ぬ。だからこそ生きているときには二人で。ご結婚おめでとうございます。“
“Manusia itu lahir sendirian, dan mati sendirian. Karena itu selama hidup harus berdua. Selamat atas pernikahanmu.”

Terkahir kali aku bertemu Sensei, saat aku sudah lulus doktor. Sengaja aku mampir ke Kuala Lumpur untuk mengunjungi peserta AYF, memberi kuliah untuk menyemangati mereka. Sensei saat itu sudah tidak mengajar di program itu. Ia menjadi guru di University of Malaya. Malam hari ia mengundnagku makan. Kami berbincang lama.