Kucing-Kucingku

Sepuluh hari menelusuri tanah kelahiran
Menjalankan sebuah budaya mulia
Selaraskan arus mudik dan arus balik
Tiada hitung waktu, tenaga dan beaya

Ketika kaki menapak di padepokan ini
Ketika bertiga kau datang siang ini
Aku terpana melihat perut kempesmu
Terbayang penyesalan dan kesedian

Sepuluh hari engkau makan dimana
Sementara para penghuni rumah mudik
Sepuluh hari engkau makan apa
Maafkan aku yang telah lupa

Andai engkau manusia
Tentu sudah kubekali semua
Dengan beras dan uang belanja

Tapi kau bukan manusia
Hanya pintu-pintu terkunci jadi saksi
Akan kalian yang mencoba bertahan
Akan kalian yang terlihat menderita

Puisi : Akhirnya Kumemilih

Terbuai figur nan mengesankan
Membuat batin mengharap asa
Harapan muncul tanpa terencana
Menyeruak dalam sebuah rasa

Berharap dalam kepastian janji
Tapi semua datang lalu pergi
Aku goyah terus menanti
Tanpa satupun terpenuhi

Kering air mata harapan
Langkah hilang sesekali
Kemana wahai tambatan hati
Kuingin kau teguhkan nurani

Kini kumenanti dengan langkah
Kini kumencari dengan ketegaran
Smoga terengkuh sebuah cita
Bersama sejatinya sebuah cinta

KATANYA MENUNGGUKU

KATANYA MENUNGGUKU
Muhamad Kundarto

Pertemuan demi pertemuan
Pandangan demi pandangan
Bait kata terujar penuh makna
Langkah berdua seakan tertuju sama

Kami dalam keluguan cinta ingusan
Ingin bertemu sepanjang waktu
Tanpa tahu kenapa begitu
Hanya senyuman slalu jadi penantian

Suatu kesempatan
Kami duduk di rerumputan
Tiada rayuan dan selalu jarak aman

Suatu kesempatan
Kami berjalan membedah malam
Tiada rayuan dan selalu jarak aman

Sampai waktu terus berjalan
Sampai jarak yang memisahkan
Sampai bulan berganti tahunan

Ketika aku tidaklah sendiri
Sedang menapaki pulau seberang
Terdengar dering penantian
“katanya engkau menungguku….”

Begitu lemah penuh pengharapan
Sukmaku menerawang kelu
Tanpa mampu berucap pembelaan

Walau dulu tiada perjanjian
Namun rasa mengalahkan segala
Semoga semua jadi keabadian
Semoga semua jadi kebahagiaan

Ki Asmoro Jiwo

CARIKAN AKU SEPERTIMU

CARIKAN AKU SEPERTIMU
Muhamad Kundarto

Dawai kisah masa lalu
Menyeruak dalam angan kosong
Ketika keluguan mewarnai langkah
Antara mau dan senyum tersipu

Kadang aku tersenyum ragu
Mengapa langkahku serba lugu
Selalu kalah dalam kesigapan peran
Hingga menerima uluran tanganmu

Waktu terus berjalan sendu
Sering kita bicara antar hati
Walau terbatasi jendela berjeruji
Tapi mesra menyusup pasti

Sampai suatu ujung perpisahan
Ketika kita mengambil jalan berbeda
Engkau memohon penuh tersirat
“Carikan aku sepertimu…..”

Berasa kelu lidah terucap
Tiada kata pas kan terlontar
Sendu hati memaknai ucapmu
Duka menyusup dalam batas antara

Lepas waktu melewati sewindu
Ketika langkah menemukanmu
Santun kutanyakan kabarmu
Tapi engkau lupa permohonan nan lalu

Sementara aku sangat mengingatnya
Walau bukan janji bersama
Sementara aku mengukir prasasti rasa
Meramu kasih dalam doa-doaku

Ki Asmoro Jiwo