Buah Hatiku disana

Mengais rizki nun jauh di sana
Menerawang sepi mengingat buah hati
Semua materi terasa kurang ini
Memanjat doa yang tiada jeda

Kadang aku merasa kosong
Tiada terkasih di samping peraduan
Sepi lahir menyiksa batin
Ingin kuterbang memeluk juwita

Aku mencoba tegar apa adanya
Memaknai langkah dengan semesta
Aku mencoba senyum kepada semua
Walau perih kadang menerpa

Wahai cinta di ujung benua
Ingin datang dalam setiap lelapku
Wahai rindu yang tertunda
Tunggulah aku memelukmu segera

Menebar Budi

Dalam diam, kutebar budi
Sebagai jalan tuk memberi
Kepada semua tanpa perduli
Itulah mimpi yang kini terbeli

Tapak masa lalu hadirkan kini
Mengais mimpi dari hari ke hari
Hingga jalan menanjak kini
Jadikan diri dalam sebuah posisi

Kini aku mengenal semua kasta
Ketika menguak jendela dunia maya
Betapa cinta kasih untuk semesta
Begitu wejangan guru bersahaja

Niat hati mencari saudara
Tanpa memandang dia siapa
Hanya kesucian hati syarat utama
Agar keberkahan tuk berbagi rasa

Pengakuan Diri

Niat hati menyalurkan hobby menulis berdasarkan ide-ide yang muncul dalam situasi yang tidak terduga. Kadang muncul saat chatting, saat mandi, saat mendengarkan orang curhat, saat beribadah, dll. Kadang kalau munculnya saat naik kendaraan malah sering lupa ketika aku kemudian berhadapan dengan laptop berkoneksi internet.

Topik tulisan bisa tentang perjalanan diri, atau pengamatan dari fenomena di sembarang tempat, atau terilhami oleh kisah seseorang, dll. Selanjutnya tulisan diramu secara tersamar agar sesuai dengan kode etik jurnalistik dan membawa pesan untuk kebaikan. Bumbu tulisan biasanya naratif (urut waktu), pemaparan (deskriptif), lugu, lucu, logika sederhana, dan menutup pesan nasehat universal.

Namun demikian, niat baik belum tentu diterima baik. Menasehati belum tentu berkenan. Bahkan beberana berbalik menentang atau mencibir dengan sindiran. Menebarkan tulisan harus siap dengan segala respon, bukan hanya respon pujian. Tercatat sekitar 3 orang anggota grup ASMORO JIWO yang merasa terganggu dengan kiriman tulisan multitopik ini, Sehingga dengan berat hati memilih dikeluarkan. Bahkan dalam celoteh di wall umum pernah juga membuat berang beberapa orang, walaupun niat hati bukan untuk itu.

Ketika perjalanan bertemu lubang, atau harus terjatuh, penyesalan panjang menyusup ke dalam sanubari. Tiada niat sedikitpun untuk menyakiti orang lain. Sehingga kadang perlu menyepi beberapa waktu untuk mengoreksi diri, untuk menenangkan hati dan untuk merencanakan perbaikan langkah ke depan.

Demikian juga ketika bertemu dengan “hari baik” yang disepakati kebanyakan orang untuk saling maaf-memaafkan. Maka, dengan kerendahan diri saya menghaturkan permohonan maaf kepada semua pihak yang baik sengaja maupun tidak disengaja telah tersakiti oleh perkataan dan tulisan yang kubuat. Nasehat balasan sangat saya tunggu untuk perbaikan ke depan.

Semoga pertemanan atau persaudaraan yang lintas batas ini menjadikan keberkahan buat semua, untuk saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan nasehat-menasehati dalam ketaqwaan.

Selamat Idul Fitri bagi yang merayakan
Selamat berkumpul dan berbahagia bersama keluarga

Kucing-Kucingku

Sepuluh hari menelusuri tanah kelahiran
Menjalankan sebuah budaya mulia
Selaraskan arus mudik dan arus balik
Tiada hitung waktu, tenaga dan beaya

Ketika kaki menapak di padepokan ini
Ketika bertiga kau datang siang ini
Aku terpana melihat perut kempesmu
Terbayang penyesalan dan kesedian

Sepuluh hari engkau makan dimana
Sementara para penghuni rumah mudik
Sepuluh hari engkau makan apa
Maafkan aku yang telah lupa

Andai engkau manusia
Tentu sudah kubekali semua
Dengan beras dan uang belanja

Tapi kau bukan manusia
Hanya pintu-pintu terkunci jadi saksi
Akan kalian yang mencoba bertahan
Akan kalian yang terlihat menderita

Puisi : Akhirnya Kumemilih

Terbuai figur nan mengesankan
Membuat batin mengharap asa
Harapan muncul tanpa terencana
Menyeruak dalam sebuah rasa

Berharap dalam kepastian janji
Tapi semua datang lalu pergi
Aku goyah terus menanti
Tanpa satupun terpenuhi

Kering air mata harapan
Langkah hilang sesekali
Kemana wahai tambatan hati
Kuingin kau teguhkan nurani

Kini kumenanti dengan langkah
Kini kumencari dengan ketegaran
Smoga terengkuh sebuah cita
Bersama sejatinya sebuah cinta

KATANYA MENUNGGUKU

KATANYA MENUNGGUKU
Muhamad Kundarto

Pertemuan demi pertemuan
Pandangan demi pandangan
Bait kata terujar penuh makna
Langkah berdua seakan tertuju sama

Kami dalam keluguan cinta ingusan
Ingin bertemu sepanjang waktu
Tanpa tahu kenapa begitu
Hanya senyuman slalu jadi penantian

Suatu kesempatan
Kami duduk di rerumputan
Tiada rayuan dan selalu jarak aman

Suatu kesempatan
Kami berjalan membedah malam
Tiada rayuan dan selalu jarak aman

Sampai waktu terus berjalan
Sampai jarak yang memisahkan
Sampai bulan berganti tahunan

Ketika aku tidaklah sendiri
Sedang menapaki pulau seberang
Terdengar dering penantian
“katanya engkau menungguku….”

Begitu lemah penuh pengharapan
Sukmaku menerawang kelu
Tanpa mampu berucap pembelaan

Walau dulu tiada perjanjian
Namun rasa mengalahkan segala
Semoga semua jadi keabadian
Semoga semua jadi kebahagiaan

Ki Asmoro Jiwo