Haruskah saya memikirkan kesehatan anak orang lain??

– Haruskah saya memikirkan kesehatan anak orang lain? –
Haryoko R. Wirjosoetomo

Lantaran pernah bekerja sebagai konsultan Unicef lah, yang membuat saya peka terhadap isu kesehatan anak, khususnya anak saya.

Sejak Bee mulai sekolah di Taman Bermain dua tahun lalu, saya sadar betul bahwa sekolah merupakan tempat ideal bagi transmisi penyakit menular di antara murid-muridnya. Itulah sebabnya jika Bee terkena flu, selalu saya karantina dirumah. Bagi saya sangat tidak fair untuk para orang tua lain, jika Bee tetap sekolah dan menulari kawan2nya, sementara saya bisa bertindak untuk mencegahnya.

Sikap tersebut saya komunikasikan kepada guru2 pengasuh dan orang tua lainnya. Saya berharap akan terbentuk keseragaman persepsi, sehingga kesehatan anak2 di sekolah itu bisa terjaga.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya terbentur pada realita bahwa harapan saya ternyata terlalu tinggi. Para orang tua murid, yang rata2 berpendidikan sarjana, enggan repot2 mengambil langkah sama dengan saya. Anaknya sakit ya tetap masuk saja. Entah berapa kali Bee tertular flu, batuk dan pilek dari kawan2nya di sekolah.

Sejauh ini saya masih berusaha bersabar, hingga terjadi dua kasus yang membuat saya berang dan menegur keras manajemen sekolahnya; tatkala Bee tertular cacar air dan flu singapura dari kawannya. Bee sempat harus menjalani opname di rumah sakit gara2 itu. Dalam pertemuan rutin para orang tua murid, saya lontarkan kecaman cukup keras terhadap sikap cuek mereka. Eh, tidak mempan juga. Sama sekali tidak ada perubahan, sama sekali tidak bergeming.

Pagi ini, sehabis memandikan Bee yang tengah batuk-pilek dan merengek2 ingin sekolah, tanpa berpikir panjang saya ambil baju olah raga hari Jum’at nya, mengenakannya dan mengantarkannya ke sekolah. Memang anak saya sedang sakit flu, yang bisa menulari kawan2nya. Namun ngapain pula saya musti repot-repot memikirkan kesehatan anak orang lain, sementara mereka sama sekali tidak mau memikirkan kesehatan anak saya?.

Depok, 13 September 2013

Kutitipkan selembar nyawa ini kepadamu

– Kutitipkan selembar nyawa ini kepadamu –
Haryoko R. Wirjosoetomo

Dua hari lalu, tatkala saya dalam perjalanan pulang ke rumah. Di Cinere, tepatnya di perempatan Kompleks Angkatan Laut – Rumah Sakit Puri Cinere, saya harus melambatkan laju kendaraan lantaran di depan ada sebuah sepeda motor unik. Kendati hampir setiap hari saya bersua dengan motor sejenis, tetap saja unik bagi saya. Sebuah sepeda motor pengangkut rombong barang yang menjulang dari bawah ke atas. Saking besarnya, dari belakang Anda tidak pernah tahu siapa yang sedang duduk di sadel mengemudikan kendaraan itu; apakah manusia, beruk pemetik kelapa ataukah beruang sirkus yang terlepas dari kandangnya.

Setiap kali saya bersua dengan motor ajaib seperti itu, selalu saja muncul rasa takjub di hati. Bagaimana bisa mereka tetap survive dan selamat di tengah padatnya lalu-lintas Jakarta, dengan kendaraan yang setan pun enggan mengendarainya?. Bagaimana cara orang ini berbelok ke kiri dan kekanan, sementara ia tidak bisa memantau situasi di belakang tengkuknya?. Apakah cukup menghidupkan lampu sign dan ngeloyor begitu saja?. Hingga kini pertanyaan itu tinggal pertanyaan, karena belum pernah sekalipun melihat mereka berbelok tepat didepan hidung saya.

Sudah empat bulan ini saya menikmati kemewahan yang disediakan oleh Jokowi. Kopaja S602 jurusan Ragunan – Monas. Tentu saja bus ini berbeda kasta dengan Kopaja rongsokan itu; yang kelak semua sopirnya diduga keras masuk surga, karena setiap hari mampu memaksa ribuan penumpangnya khusuk berdoa kepada Tuhan.

Kopaja S602 adalah bus kota eksekutif, dilengkapi dengan AC yang adem. Istimewanya, ia berjalan di jalur khusus busway. Berangkat dari Ragunan, Kopaja S 602 akan menyusuri jalur busway hingga perempatan Kuningan, belok kanan masuk jalur busway Gatot Subroto, kemudian berbelok kiri ke Semanggi, masuk jalur busway Sudirman dan lurus hingga halte transit busway di Monas. Karena client saya berada di sepanjang Thamrin – Sudirman, keberadaan bus ini sangat menguntungkan. Apalagi sopir-sopirnya pun hasil seleksi ketat, katanya begitu, dari sekian banyak sopir-sopir Kopaja. Dijamin pasti nyaman.

Kenyataannya tidaklah demikian, maksud saya, perilaku sopirnya. Terlalu lama mengemudikan Kopaja tua membuat perilaku mereka terpola, sulit untuk dirubah hanya dengan training sehari dua. Tetap saja nubras-nubras, tetap saja semua lubang dijalur akan dilibas. Celakalah Anda jika duduk di kursi tepat diatas roda. Minimal potensial menderita usus buntu, maksimal terancam mengalami osteoporosis bagi wanita atau turun berok bagi penumpang pria.

Dan tadi siang saya ditelepon dealer mobil di Cinere. Ia dengan penuh semangat berbagi kabar gembira : era mobil murah akan tiba dan menawarkan indent suatu merek tertentu kepada saya. “Murah pak,” katanya penuh promosi, “para pengendara motor pasti akan beralih ke mobil kami…”

Pengendara motor beralih ke mobil?. Jika benar demikian, ini isu menarik. Sebagian besar pengendara motor di Jakarta tipikal selonong boy, gemar potong sana-sini sembari menitipkan nyawanya kesana kemari. Belajar dari perilaku sopir Kopaja Eksekutif yang tidak banyak berubah dibanding Kopaja tua, bisakah perilaku pengendara motor yang migrasi ke mobil ini berubah?. Akankah mereka mengendarai mobil, dengan perilaku bikers?. Apa jadinya jika kendaraan roda empat diperlakukan pengemudinya bagai kendaraan roda dua?. Akankah angka kecelakaan kendaraan roda empat akan meningkat?.

Saya berharap fenomena ini tidak terjadi, saya berharap masyarakat mampu dengan cepat menyesuaikan diri. Namun begitulah, barangkali seekor babi pun akan bisa terbang dalam waktu dekat, namun saya sangat meragukannya.

Depok, 11 September 2013

Tomomi

Tomomi

Hasanudin Abdurakhman

Ia gadis Jepang pertama dan satu-satunya yang pernah membuat aku jatuh cinta. Sejak pertama kali bertemu aku menyukainya. Dia guru bahasa Jepang ku waktu aku belajar di Kuala Lumpur. Saat itu ia masih mahasiswi di Universitas Yokohama, mengambil cuti setahun untuk menjadi guru pada program yang aku ikuti.

Waktu masuk ke kelas ia terlihat sangat canggung, mungkin grogi. Kami murid-muridnya, laki-laki dan lebih tua dari dia. Ini pengalaman pertama dia mengajar. Patutlah bila ia merasa grogi. Sikapnya yanag canggung itu justru membuatnya makin tambah menarik.

Beberapa murid jelas terlihat naksir dia. Tapi tak ada yang berani mendekat. Pada program kami kebetulan ada pelajaran bahasa Melayu dan bahasa Inggris yang tak perlu aku ikuti. Pelajaran bahasa Melayu jelas tidak perlu. Aku satu-satunya yang diperkenankan untuk tidak ikut. “Kalau kau ikut, kau akan mengacau saja.” kata Cik Gu yang mengajar. Adapun bahasa Inggris, aku dan beberapa pelajar yang sudah baik bahasa Inggrisnya tidak perlu ikut. Hanya pelajar yang berasal dari Myanmar, Kamboja, dan Vietnam yang ikut. Dua jam pelajaran seminggu yang kosong ini sering aku manfaatkan untuk mendekati Tomomi.

Aku minta dia memberi pelajaran tambahan dengan alasan aku masih banyak tertinggal. Dia setuju. Kami berdua “belajar” di student lounge sambil mendengarkan musik klasik. Tapi pelajaran privat ini kemudian lebih sering jadi ajang ngobrol. Sebabnya?

“You don’t really need extra lesson. Actually you learn much better than othe students.” komentar Tomomi setelah beberapa kali kami berduaan.

“I’m glad you understand that.” jawabku sambil ketawa ngakak.

Dia tidak keberatan menghabiskan waktunya ngobrol denganku. “You are very smart.” katanya memujiku beberapa kali.

Tapi rasa suka ku pada Tomomi akhirnya harus aku bunuh. Dalam suatu trip santai ke Trengganu yang tadinya aku organisir (waktu itu aku ditunjuk sebagai Student Chairman), saat makan malam aku lihat Tomomi memesan bir. Aku shock. Tidak mungkin gadis pujaanku minum bir! Tidak mungkin aku mencintai dia. Kami terlalu berbeda. Tembok yang memisahkan kami terlalu tinggi. Malam itu juga aku putuskan untuk pergi. Pagi-pagi aku minta diantar sopir pergi ke airport, pulang sendirian dari Trengganu ke Kuala Lumpur. Anak-anak lain melanjutkan trip dengan mobil.

Tomomi sangat terkejut dengan tingkahku. Ketika kembali ke Kuala Lumpur ia menanyakan sikapku. Aku jelaskan sebabnya.

“What is wrong with beer? I drink beer, and I frequently drink beer with my father.” katanya.

“May be there is nothing wrong. Just we are so different.”

Dia tampak sedih. “I’m sorry.” katanya.

“It is not your foul.” jawabku.

Masa-masa berikutnya adalah masa-masa menyakitkan. Aku berusaha sangat keras untuk melupakan Tomomi. Tapi itu sungguh mustahil, karena aku bertemu dia di kelas setiap hari. Berbulan-bulan aku perlukan untuk menyembuhkan luka itu.

Dongeng Pangan: Teh Oolong….

Dongeng Pangan: Teh Oolong….

Imtiyaz Hawan

Teh oolong merupakan salah satu jenis teh selain teh hitam (black tea) dan teh hijau (Green tea) yang biasa kita kenal. Teh Oolong dikenal juga dengan wulong yang diambil dari nama seorang pria cina yakni Wu long yang menemukan teh oolong secara tidak sengaja ketika daun teh yang dipetiknya ditinggalkan demi mengejar seekor kijang. Ketika kembali teh itu sudah terfermentasi . cerita lain menyebutkan bahwa oolong dalam bahasa cina berarti naga hitam, karena daunnya mirip naga hitam kecil yang tiba-tiba terbangun pada saat diseduh. Heheheheee….hebat banget ya teh satu ini……….

Lalu apa bedanya teh oolong dengan teh hijau dan teh hitam?….lets cekidot…

Teh oolong merupakan teh semi fermentasi atau lebih tepat semi oksidasi enzimatis. proses oksidasi pada teh oolong yang lebih kuat dari teh hijau , tetapi lebih ringan dari pada teh hitam.

Proses pengolahan teh oolong juga lebih sulit dibandingkan dengan teh hijau dan teh hitam. Bahan baku teh oolong berasal dari pucuk burung (doormant banji bud) dengan 2 atau 3 daun muda. Dalam proses pelayuan teh oolong pucuk dibeberkan tipis diatas tampah selama 10-30 menit diatas sinar matahari, kemudian pucuk dibawa ke ruangan untuk didinginkan selama 30-60 menit. Proses pelayuan ini dilakukan lebih dari satu kali untuk menurunkan kadar air hingga 10-20%.

Tahap selanjutnya adalah proses pememaran, pada tahapan ini daun-daun teh dimasukkan ke dalam keranjang atau kain yang ditutup rapat untuk kemudian digesekkan dengan kayu atau bahan lain. Pada tahapan ini terjadi gesekkan antar daun dan mengganggu organisasi seluler tepi daun, dan menyebabkan oksidasi enzimatis disekitar tepi daun. Pememaran dilakukan dalam ruangan dengan suhu 20-25’C dan kelembapan 75-85%. Pucuk kemudian dibeberkan kembali ke tampah. Pememaran dan pembeberan diulang 5-10 kali selama 7-10 jam tergantung pada jenis teh oolong yang akan dihasilkan…(hah….capek banget, pantas saja harganya lebih mahal dari teh biasa).

Selama pememaran ini, oksidasi enzimatis terjadi pada tepi daun dan secara berangsur-angsur berkembang ke tulang daun. Oksidasi dianggap optimal apabila tepi daun menjadi merah, bagian daun yang berwarna hijau dikelilingi warna merah, dan menimbulkan aroma harum.

Teh kemudian dipanaskan pada suhu 160-250’C selama 3-10 menit, untuk menginaktivkan enzim. Daun kemudian digulung untuk mendapatkan bentuk keriting pada pada pucuk. Selanjutnya dilakukan proses pengeringan hingga kadar air 3-5%.

Dari segi taste, hasil seduhan teh oolong memang berbeda dengan teh hitam dan teh hijau, teh oolong mempunyai taste yang mirip teh hijau tapi tanpa rasa grassy (seperti daun mentah atau rumput) dan sedikit manis. Warna seduhan teh oolong mirip seduhan teh hitam, akan tetapi teh oolong dari indonesia misalnya teh oolong 63 lebih mendekati teh hijau baik dari segi taste dan warna seduhan, ini mungkin dipengaruhi oleh proses pengolahan dan tingkat oksidasi enzimatisnya.

Untuk mengetahui taste oolong yang sebenarnya memang sebaiknya dilakukan tanpa gula dan di seduh pada suhu tidak terlalu tinggi, misalnya suhu 60-75’C.

Dari segi kesehatan, teh oolong mengandung oolong tea polyphenol yang dapat mempercepat proses metabolisme dalam tubuh sehingga pembakaran kalori lebih cepat.

*_*

lala nana lala nana

(iim)
I love today more than yesterday but not as much as tomorrow

Memerangi Korupsi : Empat Syarat Agar Tuan Selamat

Memerangi Korupsi : Empat Syarat Agar Tuan Selamat
oleh: Haryoko R. Wirjosoetomo

Prof. Dr. Rudi Rubiandini ditangkap KPK. Orang yang sebelumnya mempersilakan KPK untuk masuk ke SKK Migas, malah ditangkap tamu yang justru diundangnya. Inilah ironi upaya memerangi korupsi, itulah ironi yang akan dihadapi oleh orang yang berniat bersih-bersih dalam organisasi tanpa persiapan diri.

Sepuluh tahun berprofesi sebagai investigator fraud, memberikan banyak pemahaman kepada diri saya tentang apa yang bernama keserakahan manusia. Tentang kemunafikan, tentang begitu mudah orang mengangkat sumpah atas nama Tuhan untuk menyatakan dirinya bersih, sementara bukti-bukti di lapangan jelas menunjuk kepadanya. Tentang kelicikan, dimana orang akan melakukan segala cara untuk menghentikan proses investigasi dan saya sudah merasakan pahit-getirnya.

Sepuluh tahun berprofesi sebagai investigator fraud, cukup memberi bekal kepada saya untuk membuat sebuah rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh client, sebelum saya memutuskan menerima kontrak darinya. “Anda gila ya…,” kata seorang President Director dengan takjub. “Anda akan saya beri kontrak sangat besar, namun malah memberikan syarat kepada saya…” Pernyataan seperti itu sering saya dengar dan saya tidak peduli. Biasanya setelah mendengar empat syarat yang saya ajukan, mereka akan terdiam, saling pandang, atau samar memucat.

Dan saat itulah saya akan menyandarkan tubuh saya ke kursi, membiarkan pikiran mereka bekerja membuat kalkulasi, sebelum akhirnya memberikan jawaban.

“ Syarat Pertama. Tuan harus bersih, tidak setitikpun bermain di perusahaan ini. Karena jika Tuan sampai bermain, orang-orang yang ada di jalur investigasi saya akan berusaha mencari-cari kesalahan tuan dan melaporkannya ke Komisaris atau bahkan pemilik. Tuan bisa ditendang keluar dari organisasi ini…”

“Saya jamin diri saya bersih,” jawab calon saya client saya dengan yakin. “Nah, apa syarat keduanya?”

“Syarat kedua, kehidupan pribadi tuan harus bersih. Tuan tidak boleh ada isteri simpanan, wanita idaman lain atau hobby berkunjung rutin ke mabes polri. Tahu maksud saya tuan?. Mabes polri, mangga besar pol belok kiri. Panti pijat layanan premium yang hanya menerima pembayaran dengan kartu kredit, pelacuran terselubung dengan PSK kelas tinggi impor dari Hongkong, Ukraina, Uzbekistan dan berbagai tan tan yang lain…”

“Ehm, boleh saya tahu alasannya?.”

“Jika saya mau memukul tuan, paling gampang adalah menghajar lewat keluarga tuan, khususnya isteri tuan…” saya selalu menjawab lugas untuk pertanyaan itu. “Salah satu pekerjaan yang nantinya saya lakukan adalah surveillance, mengintai kegiatan sehari-hari orang yang saya investigasi. Saya punya team yang sangat bagus, dengan orang2 pro untuk itu. Dan diluar sana banyak orang2 yang menjual jasa serupa, surveillance, lengkap dengan peralatan pengintai dari Eropa Timur berkualitas tinggi, yang sekarang ini banyak dijual murah di Glodok. Bisa Tuan bayangkan, isteri, anak atau mertua Tuan dirumah mendadak menerima foto Tuan ukuran 10 R, sedang berdua2an di kamar hotel dengan PSK dari Ukraina?.”

“Eh ya, anda benar. Lalu yang ketiga?.”

“Syarat ketiga. Tuan harus mau dikawal oleh team pengamanan saya, bersenjata api, duapuluh empat jam dalam sehari. Tuan dan keluarga akan kami awasi dibawah prosedur pengamanan yang sangat ketat. Mengapa harus demikian?. Jika orang ini sudah mencuri sepuluh atau duapuluh milyar dari perusahaan Tuan, percayalah, ia akan mempertimbangkan betul opsi untuk menyewa hitman. Saat ia mencari-cari kesalahan tuan di kantor tidak memperoleh, mencari-cari kelemahan kehidupan pribadi tuan tidak dapat, cara tersingkat untuk menghentikan investigasi adalah dengan membunuh Tuan.”

“Benarkah?.”

“Di Indonesia mulai bermunculan orang-orang yang bekerja sebagai hitman. Dengan biaya tigapuluh sampai limapuluh juta,mereka bahkan siap untuk menembak neneknya sendiri. Pro, dijamin bersih, tidak akan terkait ke penyewanya. Saya yakin Tuan tidak ingin menyandang predikat almarhum dalam waktu dekat kan?”

Tawa hambar meledak.

“Yang terakhir?.”

“Salah satu ciri khas fraudster dari Indonesia, Tuan. Jika ia mencari-cari kesalahan Tuan tidak dapat, mencari-cari kesalahan pribadi Tuan tidak ada, mau menembak Tuan ternyata tuan dilindungi team bersenjata, maka ia akan menempuh cara terakhir.”

“Apa itu?.”

“Mereka akan pergi ke dukun. Tenung, santet, guna-guna, Tuan pasti tahu maksud saya.”

“Eh, apakah Anda akan menyediakan sistem proteksinya juga?.”

“Nah ini masalahnya Tuan. Saya tidak bisa menyediakannya, karena yang mampu menyediakan hanya satu.”

“Siapa?.”

Saya tidak akan menjawab apa-apa, hanya menunjuk ke atas.

Saya percaya melayani client dengan jujur adalah landasan utama dalam berbisnis. Meskipun karena kejujuran itu, dari sepuluh calon client yang mengundang saya, belum karuan bisa memperoleh sebuah kontrak dari mereka.

Nah, Tuan bertekad tampil di garis depan perang melawan korupsi?. Tips ini saya berikan kepada Tuan, gratis selamanya.

Depok, 17 Agustus 2013

Untuk Wisudawan

Untuk Wisudawan
oleh: Hasanudin Abdurakhman

(Tanggal 22 Agustus saya diminta mengisi acara pembekalan wisudawan UGM bersama Rektor dan beberapa orang lain. Materi yang akan saya sampaikan secara garis besar saya rangkum dalam tulisan ini. Secara keseluruhan tulisan ini mengandung beberapa hal yang pernah saya tulis pada tulisan-tulisan lain.)

Salah satu momen yang membuat saya bangga sebagai alumni UGM adalah ketika Sensei (profesor pembimbing) datang kepada saya dan berkata, “Grup riset kita diberi jatah untuk mendatangkan mahasiswa asing dengan beasiswa Monbusho. Kita diberi wewenang untuk memilih siapa saja yang kita anggap pantas dan layak. Seleksi di universitas hanyalah formalitas. Saya limpahkan wewenang itu kepada kamu, dan saya minta kamu memilih alumni UGM untuk kita undang. Ya, alumni UGM seperti kamu. Saya ingin lebih banyak lagi pekerja keras seperti kamu di grup kita.” Sebagai respon, saya kontak adik kelas saya di FMIPA UGM, kemudian dia memenuhi undangan kami. Kini dia sudah selesai kuliah di program doktor dan menjadi dosen di suatu PTN di Jawa Tengah.

Saat itu saya sudah lulus program doktor dan bekerja sebagai visiting researcher di bawah bimbingan Sensei, di Kumamoto University, Jepang. Saat itu sudah enam tahun lebih saya berinteraksi dengan beliau. Masa yang cukup panjang. Saat itu adalah titik diametral bila dibandingkan dengan saat saya pertama kali bertemu untuk mulai kerja riset di bawah bimbingan Sensei.

Kata-kata Sensei yang pertama saya dengar setelah kami berbasa-basi berkenalan adalah, “Tolong kamu kerja keras di sini. Jangan bawa-bawa budaya tropis kamu ke sini.”

“Maksud Sensei bagaimana? Budaya tropis itu apa?” tanya saya tak paham.

“Kalian orang-orang tropis itu kan pemalas. Makanya kalian tertinggal. Lihat kami orang Jepang, Korea, dan Cina. Apa yang kamu lihat di depanmu saat ini, kemajuan ekonomi dan teknologi, semua ini tidak gratis. Kami memperolehnya dengan kerja keras. Tirulah cara kerja kami.”

Tentu saja saya tersinggung dengan ucapan itu. Tapi saya memilih diam. Karena saya tahu, percuma berdebat dengan kata-kata. Perbuatan akan lebih meyakinkan. Maka saya tunjukkan kepada Sensei bahwa saya bukan pemalas. Butuh waktu yang panjang ketika akhirnya dia mengakui kerja keras saya. Dan dia tidak hanya melihat saya sebagai sosok pribadi. Dia memandang saya sebagai alumni UGM. Bahkan, dia memandang saya sebagai orang Indonesia. Kehadiran saya teleh mengubah pandangan Sensei tentang orang Indonesia.

Situasi yang saya hadapi saat pertama kali bertemu Sensei mungkin akan dihadapi oleh banyak orang saat akan mulai sesuatu. Termasuk di antaranya yang baru lulus. Lalu mereka akan menempuh perjalanan untuk membuktikan diri, sampai mendapat pengakuan. Ada yang butuh waktu sangat lama, ada yang lebih singkat. Tapi apapun juga, hanya pekerja keras dan pantang menyerah yang bisa lolos dari tantangan ini.

Kerja keras. Hanya itulah yang saya miliki saat itu. Kebetulan saya bukan mahasiswa yang sangat cerdas. Saya bukan orang brilliant. Menariknya, dalam kultur Jepang tata krama dan kerja keras lebih dihargai ketimbang kecerdasan belaka. Kerja riset itu sendiri, di samping membutuhkan kecerdasan, juga membutuhkan kreativitas. Tapi di atas itu semua, kerja keras memang paling menentukan.

Beberapa bagian dari kerja riset itu mirip kerja rodi. Saya misalnya bekerja dengan alat yang disebut diamond anvil cell, yang mengharuskan saya menempatkan sampel di dalam ruang berdiameter kurang dari 0.3 mm. Di situ kecerdasan tak banyak berperan. Hanya ketekunanlah yang berarti. Berbulan-bulan melatih tangan, barulah hal itu bisa dilaksanakan. Periset lainpun begitu. Ada yang menghabiskan waktu berhari-hari kerja nyaris tanpa henti untuk menumbuhkan kristal. Tidur di laboratorium, makan dan istirahat seadanya adalah hal yang biasa. Tak ada orang lain yang bisa disuruh untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan “sepele” itu. Peneliti sendiri yang harus melakukannya. Justru di situlah kunci sukses seorang peneliti. “Kenkyusha no ude”, hasil kerja tangan setiap peneliti, itulah yang membedakan hasil riset pada akhirnya. Data atau produk yang tak bisa dihasilkan oleh peneliti lain, bisa kita capai. Dalam hal itu intelejensi saja tidak cukup. Kerja keras secara fisik berperan cukup penting. Hasil kerja keras itulah yang secara perlahan mengubah pandangan Sensei tentang saya.

Ada hal lain lagi, yang juga tak terkait banyak dengan intelejensi, yaitu soal jaringan. Suatu hari kami pergi menghadiri seminar di luar kota (Hiroshima). Waktu itu karena saya baru beberapa bulan di Jepang, Sensei mengatur semua hal, termasuk reservasi hotel. Ternyata ketika saya hendak check in di hotel itu, nama saya tidak terdaftar, dan hotel sedang penuh. Melalui pengurus PPI saya cari orang Indonesia yang sedang belajar di kota tersebut dengan maksud minta dipandu mencari penginapan. Tapi akhirnya saya malah diajak menginap di apartemen teman baru tadi. Ketika mendengar pengalaman saya, Sensei geleng-geleng. “Network kalian orang Indonesia, luar biasa.” pujinya. Tidak cuma sekali itu. Di lain waktu, usai seminar di Tsukuba Sensei meminta saya memanggil taksi.

“Tidak perlu Sensei, saya bawa mobil.”

“Ha?? Mobil siapa?”

“Saya dipinjami teman Indonesia. Kebetulan mobilnya sedang tidak dipakai.”

Dia kembali tergeleng-geleng. “Saya yang orang Jepang tidak dapat pinjaman mobil, kamu orang asing kok bisa begitu. Luar biasa.” katanya.

Di masa-masa setelah kejadian di Hiroshima tadi, saya tak lagi tergantung pada Sensei. Saya urus sendiri setiap keperluan riset saya, termasuk urusan perjalanan. Perjalanan adalah bagian penting dari riset, baik dalam rangka seminar maupun melakukan eksperimen di lembaga lain. Tidak cuma itu. Beberapa kali saya pergi presentasi hasil riset ke konferensi internasional dengan dana yang saya usahakan sendiri melalui berbagai research foundation. Adanya dana semacam ini pun tadinya tidak diketahui oleh Sensei, saya yang memberi tahu dia. “Heran saya, kok kamu lebih tahu soal Jepang daripada orang Jepang.” komentar dia.

“Jadilah orang yang independent, jangan dependent.” nasihat Sensei di awal kedatangan saya. Itulah yang kemudian terjadi. Saya tidak menjadi beban, bahkan kemudian mengurangi beban Sensei. Dua tahun berlalu, saat saya tamat program master, saya sudah menjadi semacam asisten bagi Sensei. Saya mengurusi dan merawat peralatan eksperimen, membimbing mahasiswa yang lebih muda (orang Jepang), dan menangani berbagai tetek bengek administrasi.

Ketika pensiun, dalam catatan akhirnya di bulletin kampus, Sensei menyediakan paragraph pertama untuk memuji saya. Sensei mungkin teringat pada kata-kata kasarnya pada pertemuan pertama kami. Dua tiga tahun setelah itu, dia mencoba mengoreksi sikap itu. “Kamu itu seumuran dengan anak saya. Orang tua itu punya sikap, bahwa anak itu biar sudah dewasa sekalipun tetap dipandang seperti anak-anak. Itu namanya oyagokoro (hati orang tua). Saya kadang memperlakukan dan memarahi kamu seperti anak-anak, karena kamu itu anak saya.”

Pada masa selanjutnya, yang terjadi hanyalah ulangan dari hal-hal yang saya tulis di atas. Memasuki dunia industri, saya mulai dari pengetahuan nol tentang segala sesuatu. Belajar, mencoba, adalah hal yang terus saya lakukan hingga saat ini.

Begitulah. Ketika kita mulai sesuatu, mungkin orang tak melihat kemampuan kita. Mungkin kita diremehkan. Untuk menjawabnya kita hanya perlu menunjukkan hasil kerja. Dan untuk mencapai hasil kerja yang baik, tak hanya dibutuhkan kemampuan profesional atau hard skill. Tapi juga dibutuhkan kemampuan lain, yang biasa disebut soft skill. Dan kemauan untuk bekerja keras, mencoba terus, tanpa kenal menyerah. Dalam banyak hal, kita mungkin harus mengerjakan pekerjaan sepele yang sepertinya tak penting. Seperti saya harus kerja rodi dalam riset. Itupun harus kita kerjakan.

Orang yang merasa mentereng karena ia seorang sarjana dan karenanya tidak perlu lagi mengerjakan pekerjaan sepele, besar kemungkinan akan jadi orang yang gagal. Soerang sarjana baru punya sangat sedikit bekal. Ia masih perlu belajar lebih banyak lagi, termasuk dari hal-hal yang kelihatannya sepele.

.

Pentas KV di Ancol Bermodal Nekad dan 1 Motor Vixion

cari-cari video flashmob

sebelum pentas, Sabtu 6 Oktober 2012 kami latihan di Depok. Hanya 5 orang yang latihan dan 3 supporter yang datang. Saat itu ada Alfian, Tisna, Rio, Laeli, dan Ulfia yang ikut latihan, sedangkan Imtiyaz, Mas Mimi, dan Siti mensupport kami. hari Sabtu banyak yang sudah memiliki agenda tersendiri, jadi dimaklumi yang bisa datang latihan segelintir saja. Yang penting saat tampil sebanyak sekitar 25 personel bisa menggoyang ballroom.

motor Vixion milik Rio yang digondol maling.

Selain modal nekad, pentas ini juga bermodal 1 Vixion! X_X. Saat latihan ada musibah, motor Vixion milik teman kami, Rio, hilang. Padahal sudah dikunci gembok depan dan belakang. Kami saat itu latihan di lantai dua. Motor di bawah, di dalam gerbang, di sampingnya ada motor lain dan bahkan di belakangnya tertutup mobil. Saat itu ada penjual bakso keliling yang melihat pencurian itu tapi diancam dengan todongan pistol oleh pelaku.

coba-coba pilih koreo.

Latihan dimulai sekitar pukul 10.30 pagi. Kami latihan dengan cari inspirasi dari beberapa video flashmob Gangnam Style di internet. Usai latihan sekitar pukul 16, selanjutnya kami rencana ke Jl. Margonda untuk bergabung dengan Mbak Ayi untuk makan bersama. Saat itu Alfian hendak pulang lebih dulu karena mau malem mingguan (eh! :p), saat turun ke lantai 1,  aku hendak mengantarnya sampai gerbang sembari bilang, “Fian, fotoin aku dengan motor Rio ya.” Sejak latihan di atas, entah kenapa aku ingin sekali foto di atas motor itu, rasanya ingin segera turun mau foto. Karena motor itu memang keren. “Memang motor Rio di parkir dimana?” tanya Fian. Saat itulah kami baru menyadari ternyata motor tidak ada di tempat.

saat di kantor polisi.

Lalu Fian, Tisna, Rio, dan aku mencari dengan motor menembus ke segala arah jalan di area itu. Karena kami berada di kompleks perumahan militer, kami sempat lapor ke tentara. Tetapi karena mereka hanya bertanggungjawab terhadap keamanan di dalam asrama, maka kami disarankan lapor polisi saja. Kemudian barulah kami bolak-bolak ke kantor polisi untuk melapor, lalu menjemput polisi untuk olah TKP ke rumah (saat itu mobil polisi sedang keluar tugas semua, jadi kami harus memfasilitasi kendaraan untuk jemput, kami jemput mereka pakai taksi), mengantar lagi polisi dan saksi, lalu pemeriksaan lagi. Kantor Polsek Cimanggis jaraknya cukup jauh dan ditambah sore itu macet, sekitar 40 menit untuk menempuhnya, hingga tak terasa kami pulang dari kantor polisi sekitar pukul 9 malam. Rio dan Iim diantar Ulfia dengan mobil. Alfian mengantarkan pulang si penjual bakso. Saat itu semua bisa saling diandalkan untuk segera mengambil sikap dan mengurus segala sesuatunya. Salut buat Alfian, Rio, Tisna, Ulfia, dan Iim. Turut prihatin untuk Rio, semoga segera mendapatkan ganti rizki yang lebih baik. Saat pulang malam itu baru saya ingat bahwa sepanjang hari sejak jam 11 pagi teman-teman belum makan. X_X (Pantesan lututku gemeteran). Saat itu ikut shock dan tidak nafsu makan, berita motor ilang memang tiap hari bisa dilihat di TV, tapi baru kali ini menyaksikan kehilangan di depan mata, dalam keadaan pengamanan yang cukup pula.

saat instal pemotong lagu ternyata trial, jadi mau dipotong pake gunting ajah.

Bolak-balik dalam keadaan genting dan derai hujan, tak terasa waktu tiba-tiba semakin malam. Saat itu urusan musik belum kelar, karena sepanjang hari kami belum berhasil memotong dan menggabung lagu. Saat itu yang bisa memotong lagu hanya Mas Mimi, dan dia sudah pulang sebelum kejadian motor hilang. Malam itu dia datang lagi ke kantor polisi untuk mengantarku pulang dan memotong lagu hingga pukul 11 malam. Terima kasih Mas Mimi. Dalam kantuk dan betis berkonde, aku kirimkan lagu hasil potongan ke Fian dkk sebagai back-up. “Kok lagunya cuma 2 menit?” tanya Fian dan Tisna kompak. “Tambahin lagi dong.” Zzzzzzz. Aku pusing, rasanya udah nggak bisa mikir soal lagu, kutinggal bobo.

Paginya, jreeeeng! Aku sebenarnya cemas, ntar pentas entah seperti apa, latihan belum optimal dan jangan-jangan teman-teman kelelahan. Tapi ternyata, hari H, semua tetap semangat. Bahkan Rio yang kehilangan motor pun tetap semangat pentas. Sebelumnya dia bilang, jika tidak ketemu motornya sudah diikhlaskan, jika masih rejekinya, Insyaallah kembali. Sip! Jadi, semua pun terbawa semangat. Ternyata teman-teman yang lain yang tak ikut latihan, dengan mudahnya mau gabung dan bersedia menggila. Dan hasilnya? Tadaaaaa! Baca di sini aja. Terima kasih semuanya. Kalian memang bener-bener kompak, seru, dan syalalala.

Cheers!

Depok, 11 September 2012.

Nur Laeliyatul Masruroh.

Menggila 2 Menit, Pentas Kagangnam Style Juara II di Temu Kangen Kagama 2012

PARODI JOGET KUDA JINGKRAK

KViers saat kalem, setelah menggila.

Euforia Kagama Virtual (Kviers) dalam acara Temu Kangen Kagama di Ecopark Ancol, Minggu 7 Oktober 2012 sepertinya masih terasa hingga kini. Bagaimana tidak, pasukan Merah Hitam itu sepanjang acara riang mondar mandir memenuhi depan panggung, berjoget bebas melengkapi (atau bahkan melebihi) performer utamanya.

Jogetnya pause demi foto dulu. Hebohnya melebihi performer utamanya Sammy Kerispatih.

Mereka tidak saja riang, tetapi juga nekad. Kenekadan itu dimulai sejak group paduan suara berbaju putih-putih (entah apa nama groupnya) menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada, teman-teman Kaviers yang berpakaian dominan merah dan hitam itu duduk berbaris 2 saf persis di depan panggung, juga ketika Ikang Fauzi dan Keris Patih perform, mereka pun turut meriahkan dengan berarak joget bebas di tempat yang sama.

     Terlebih saat pentas utama mereka, Gangnam versi KV alias Kagangnam Style, berlangsung heboh dan spontan. Mereka menggila 2 menit dengan iringan musik Gangnam Style versi Jowo Style digabung versi aslinya milik Psy. Tidak hanya saat pentas, tetapi sepanjang acara aksi mereka menyita perhatian penonton. Dari manakah datangnya sekelompok Merah Hitam itu? Kompak bener? Bahkan, saat pentas mereka menarik Wakil Rektor yang berada di antara penonton untuk ikut joget. Nekad bener!

   

Maksud hati mau niru K-Pop, tapi alamaak susahnya! #Duh Gusti, sinten niki?

“Naje neun ttasaroun ingan jeogin yeoja. Keopi hanjanui yeo yureul. Huo ewyo. Hayyaah, iki opo tho?” Seorang lelaki ingin menunjukan kemampuan gaya K-Pop pada si perempuan. Karena tidak fasih mengucap bahasa Korea, dia perlu membaca teks. Dia bermaksud meniru Korea Pop, bernyanyi dengan bahasa mereka dan bergaya seperti mereka, tapi ternyata alamaak susahnya.

    “Aku wong Jowo, senajan ora iso koyo ngono. Hei, ayo podo jogo budoyo. Hei.” Si lelaki sebagai orang Jawa, meski tidak bisa bergaya ala Korea, ingin meyakinkan untuk menjaga budaya saja. Itulah konsep yang mulanya ingin disampaikan oleh Kagangnam Style. Jaga budaya? Kok begini jadinya? Ups!

   Lupakan soal tema jaga budaya. Mereka itu kami. Pentas kami, Kagangnam Style, bukan sedang membawa tema tersebut, bukan juga untuk merusak budaya. Kami bukan dancer, bukan performer, dan bukan pula juara lomba baris-baris tingkat kecamatan. Kami mungkin semacam orang-orang nekad, nggilani, kreatif, dan semangat menghibur. Justru karena kenekadan itulah yang mungkin mengantarkan kami menjadi juara II. Juara I diraih oleh Fakultas Kedokteran yang menyajikan tarian daerah. Acara yang dihadiri ribuan alumni UGM itu menampilkan kompetisi pentas sekitar 7 kelompok, diantaranya Fakultas Kedokteran, Kagama Virtual, Fisipol, Teknik Arsitektur, dll.

Joget kuda jingkrak oleh Kagama Virtual ini terinspirasi dari K-Pop Gangnam Style yang akhir-akhir masih ramai dibicarakan. Gangnam style sendiri konon sebenarnya parodi gaya orang-orang borjuis di sebuah tempat di Korea yang bernama Gangnam. Sedangnya dance-nya sendiri, menurut penyanyi dan rapper Korea yang mempopolerkan gaya itu, Psy, bahwa Gangnam dance pada dasarnya adalah tari dengan imaging the horse. Karena itu banyak koreo yang meniru gerakan kuda. Gerakan dasarnya sangat mudah, yaitu hentakan kaki kanan-kiri-kanan-kanan dan kiri-kanan-kiri-kiri dengan goyangan khas mirip kuda berjingkrak.

karena belum menemukan dokumentasi pentas, ini versi latihan sesaat sebelum pentas.

Pentas yang berlangsung selama 2 menit (tepatnya 2 menit dan 12 detik) dengan jumlah personel sekitar 25 itu, sebagian gerakan dilakukan secara spontan. Sebagian yang lain terinspirasi dari gabungan flashmob Gangnam Style yang banyak bermunculan di Youtube. Termasuk video dari Jowo Style, yaitu parodi Gangnam Style versi Jawa yang musiknya digunakan di menit pertama pentas mereka. Menit kedua menggunakan musik asli Psy dengan volume lebih keras dari menit pertama untuk menciptakan semangat hentakan berlipat.

      Pada kompetisi pentas itu ternyata tidak hanya Kagama Virtual yang menampilkan musik Gangnam, ada kelompok lain di acara tersebut juga menampilkan pentas dengan musik yang senada. Musik ini memang sedang sangat popoler. Padahal pada awal September 2012, musik ini hanya diketahui oleh para penggemar K-Pop. Namun, karena jogetnya yang khas, popularitasnya melejit dan mendunia. Di Youtube juga banyak ditemukan flashmob Gangnam dari berbagai negara. Dengan berbagai parodi yang tidak menghilangkan gerakan dasar kuda jingkrak.

KViers benar-benar menghadirkan kuda jingkrak. Ckckck!
eh, nemu receh

Gangnam versi KViers juga menampilkan adegan kuda-kudaan seperti yang dilakukan Psy. Adegan spontanitas yang bisa dipastikan mencuri perhatian penonton. Selain itu, saat adegan robot dance,  kami rebutan koin receh yang tumpah dari saku salah satu personel. Jangan tanya apa maksudnya yah, nikmati saja. 😀

     Selamat menikmati. Semoga tidak menyesal menonton kami, karena kami sungguh menikmati joget nekad ini. Terima kasih tidak terjadi penggalangan sandal penonton atas kegilaan ini. 😀

PS. 1. Berhubung juru kamera dan juru video KV malah ikut joget, jadi  foto pentas yang representatif tidak terdokumentasi. Menunggu penonton ada yang memberitahu kami bahwa mereka memiliki foto kami. 😀

2. Selain modal nekad, pentas ini juga bermodal 1 Vixion, selengkapnya baca di sini.

Depok, 10 Oktober 2012.

Nur Laeliyatul Masruroh

Kopdar Ngumpulin Tanda Tangan

Photo by Novian Wijaya

“Mas pernah pacaran dengan kembang kampus?” tanya seorang perempuan memulai perkenalan dengan laki-laki yang sedang berdiri di antara kerumunan. Perempuan itu sembari menyodorkan selembar kertas dan pena, sekaligus minta tanda tangan. Apa nggak ada topik lain ya, mulai perkenalan kok dengan pertanyaan seperti itu? Tunggu dulu, ini bukan perkenalan biasa. Acara ospek? Hm, ikuti dulu lanjutannya.

“Diantara kolom ini ada yang sesuai dengan njenengan, Mbak?” pertanyaan kali ini untuk perempuan berjilbab yang sedang duduk di halaman bertenda. Seorang yang bertanya itu masih dengan kertas berkolom dan pulpen untuk mengumpulkan tanda tangan.

Di teras bertenda, Komplek PJA DPR RI, D3-300

“Oh, aku cinlok dengan Mas Ganjar saat KKN,” jawab mbak Atik, istri tuan rumah sembari menandatangani sebuah kolom. Mereka, sekitar 70 orang yang berkerumun pernah menjadi mahasiswa di kampus UGM Yogyakarta. Saat itu, Ahad 16 September 2012, bukan sedang kegiatan ospek, melainkan acara reuni Kagama Virtual sekagus syawalan di kediaman Mas Ganjar Pranowo di komplek Perumahan Anggota DPR RI, Kalibata, Jakarta Selatan.

Para tamu yang hadir adalah alumni UGM dari berbagai angkatan dan berbagai fakultas, jadi tidak semua saling kenal. Makanya perlu dibuat perkenalan khusus untuk memudahkan saling mengingat. Setiap peserta dibagi satu lembar kertas yang berisi 25 kotak. Masing-masing kotak berisi keterangan khusus, diantaranya “pernah pacaran dengan kembang kampus”, “memakai kaos Kagama Virtual”, “pernah cinlok saat KKN” dll. Mereka saling mencari tanda tangan teman yang sesuai dengan keterangan kolom.

Beginilah ruang tengah rumah dinas anggota DPR RI. 🙂

Selanjutnya acara agak berbeda dengan reuni-reuni Kagama sebelumnya. Karena Mas Ganjar baru saja mendaftar calon Gubernur Jawa Tengah, dalam sambutannya tak bisa dihindari muncul muatan politik. Mas Ganjar menyinggung tentang pengelolaan pajak bangsa ini yang belum optimal. Juga hal-hal yang bisa dikonstruksikan dalam konteks kepemimpinan. Selain itu anggota DPR Komisi IV dari fraksi PDIP ini mengaku memiliki strategi gerakan khusus, namun tidak bisa diungkapkan saat itu. Lhoh kenapa? Saat itu kebetulan dia menjawab pertayaan dari teman kader PKS. “Strategi tidak akan saya kasih kecuali PKS juga akan mendukung saya hari ini! “ sahutnya. Gelak tawa teman-teman pun pecah di ruang tamu. Suasana makin seru dan hujan banyolan lantaran kehadiran senior Mas Puthut Gambul, Mas Hasto, dan Mas Irvan yang punya sejuta komentar. Membuat acara tambah gerrr.

“Ssst.. ssst…sst..” bisik-bisik, awas inteligen dimana-mana.

                Saat makan siang dan waktu ibadah, mereka menikmati acara bebas. Yang di dekat pintu sedang ngobrol soal pekerjaan, yang di kursi makan sedang nostalgia jaman kuliah, yang di teras ngobrol ngalor ngidul, yang di pojokan sedang curhat masalah gebetan, dan yang di ujung tenda samar-samar terdengar nama Jokowi disebut-sebut. Ah iya, sekian hari lagi pemilihan Gubernur DKI. Jokowi sebagai kandidat DKI 1 sekaligus keluarga alumni UGM, tentunya tidak mengherankan jika punya pendukung dari kalangan teman-teman sealmamaternya. Pantas saja sejumlah orang berbaju kotak-kotak hadir di sana. Entah penyusup atau memang Kagama juga ya? Hihi. Juga, penulis buku tentang Jokowi, yang juga anggota Kagama, hadir di sana.

Duh, nyanyinya jangan keras-keras Mbak, Mas. Khawatir didengar produser rekaman. Khawatir ditolak! :p

Meski acara diwarnai nuansa politik, jangan pikir acara ini lantas membosankan. Buat yang tidak tertarik politik pun, punya ruang untuk hal lain. Bahkan, karaoke di teras bertenda sampai sore. Dengan suara pas-pasan, dan lebih banyak yang fals, diiringi organ tunggal, mereka nyanyi lagu-lagu lawas. Ini karena menyesuaikan yang pegang alat musik, koleksinya hanya lagu-lagu lama. Maklumlah, yang bersangkutan angkatan senior. Untunglah, ada satu lagu yang familiar oleh semua generasi. “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut…” lagu Yogyakarta ini membawa mereka kembali ke masa kampus. Merekatkan kembali kenangan-kenangan yang mungkin hampir retak. Termasuk kenangan seperti yang tercantum di salah satu kolom lembar perkenalan, kenangan bagi mereka yang pernah memiliki cerita dengan kembang kampus.

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, 17 September 2012.

Kebersamaan itu indah…

Kebersamaan itu indah…  
oleh: Aroem Naroeni

Berawal dari acara buka bersama di Taman Ismail Marzuki, mas Ganjar Pranowo menyampaikan undangannya untuk semua anggota KV untuk halal bihalal di rumah beliau. Akhirnya hari ini Minggu 16 September 2012, terselanggara acara halal bihalal keluarga KV. Diawali dengan permainan yang dipimpin Mba Umi Gita untuk saling mengenal dengan hadiah yang uhuyyyyyyyy!!:-). Kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi tentang membangun jiwa kepemimpinan KAGAMA. Bagaimana kita bisa membangunnya untuk bangsa dan negara. Mungkin kesempatan untuk generasi perubahan belum ada tetapi kita harus memulainya.

Selanjutnya adalah acara makan bersama dan nyanyi bersama.:-)  

O yaaa mas Novian sempat membuat slide kegiatan KV yang dimulai dari sejarah berdirinya UGM, masa-masa kuliah yang unyu-unyu sampai kegiatan KV yang berawal dari berapa gelintir orang, berkembang dengan berbagai kegiatan KLC, KV Inc, Beasiswa,KPK, Hutan Pendidikan dan Konservasi Kusnadi Harjasumantri (HPKKH) dll.Mas Ryan dan mas Sinyo bercerita, dulu awalnya kita cuma berempat berkumpul sekarang sudah seperti sekarang. Banyak rencana-rencana bermunculan dari lomba foto, bedah buku, diskusi lanjutan dengan mas Ganjar….dll. Semua penuh antusias, penuh energi…..semoga semangat dan energi ini tertularkan ke yang lain dan setidaknya 1000 orang akan berkumpul di Merapi bulan Desember ini…………… SEMOGAAA!!    

Terima kasih untuk mas Ganjar Pranowo dan Mbak Atik….. Dan semua rekan yang membantu acara ini.

Berikut daftar hadir tetapi belum semua mengisi…. Sepertinya lebih dari 80 orang…. Terima kasih sudah datang. Dan maaf tidak bisa menyapa satu persatu , semoga di lain waktu bisa saling dekat.

  Daftar hadir :
1. Ganjar Pranowo
2. Atik
3. Aroem Naroeni
4. Irvan Kristanto
5. Indarto
6. Ryan Wuryanto
7. Heni Yusuf
8. Tri Harso S
9. Puthut Gambul
10. Novian Wijaya
11. Imitiyaz hawan
12. Sandya Yudha
13. Nur hatta luqman S
14. Cyndi Silvia
15. Alfian WS
16.Nur laeliyatul masruroh
17. Sinyo TW
18. Bima
19.Fadil
20.Mustofa
21.Engga kebaca
22.Rudy Umbara
23.Ulfia Mutiara
24.Lestari Octavia
25.Swandita adinata
26.Umi Gita
27 Raisah Suarni
28. Hendi Noor Irawan
29. Ajianto Dwi Nugroho
30. Utty Damayanti
31. Alief Afrian bargayu
32. M. Budi Santoso
33.Fajar Suryagama
34.Wied W winakto
35. Ujang Syafrir
36. Listiya manggiasih
37. Agus dwi praptana
38. Nara
39. Wira
40. Irawan
41.Ririn
42.Afif
43. Tisna
44. Yan
45. Nurul amri
46. Agus S
47. Iwan Hermawan
48.Ahmad fajar
49.Firda
50. Dewi nur cs
51. Putri kharisma
52.Yogaswara t g
53. Indah permata
54. Nita
56. Yunan novaris
57. Iwan manasa
58. Pendhi
59.Mayadi
60. Demo
61. Emelia Ratna Sari Dewi
62. Adhi Setyo
63. R. Agung wibowo putro
64. Andri Firsa
65. Dian Hidayat
66.Deny Purwo sambodo
67. Taufiq
68. Niken
69. Wibowo Arif
70. Andi Rahmah

Foto-foto bisa dilihat di : Kopdar Syawalan Kagama Virtual jakarta 1433 H