Reportase Kopdar Syawalan Kagama Virtual Jabodetabek: Cinta Sehangat Teh Kwam In

Reportase Kopdar Syawalan Kagama Virtual Jabodetabek: Cinta Sehangat Teh Kwam In

Meriah. Satu kata yang mungkin dapat menggambarkan kesan yang tercipta setelah mengikuti Kopdar syawalan Kagama Virtual Jabodetabek, 25 September 2011 lalu. Acara syawalan yang dibungkus berbeda dari pakem syawalan yang ada selama ini. Betapa tidak, acara ini saja sudah dibungkus dengan judul ‘The Way of Tea’.

Bertempat di kedai teh milik mas Bambang Laresolo di Agripark, Bogor mampu menyerap perhatian sekitar 40 orang untuk bersilahturahmi, berbagi dan berempati tanpa memandang jurusan maupun angkatan. Semua melebur jadi satu. Hal ini sudah dimulai semenjak Mas Eko Shp memandu games seru sebagai pemanasan acara. Kurang lebih ada tiga games yang dibawakan mas eko yaitu gerak lagu, tarzan&jane dan games berhitung. Dari games ini sudah terlihat bila mbak andi rahmah dan mas anung itu bila sudah bertemu dapat bersahabat dekat dan akrab, walupun di milis seringkali mereka berdebat.

Dan games puncak yaitu berhitung dimenangkan oleh duet mbak andi rahmah dan mbak ona. Namun, hadiah jatuh ke tangan mbak ona karena mbak andi rahmah mendapat hadiah khusus yaitu hadiah ‘top posting milis’ dan ketika dibuka hadiah itu…eng…ing…eng…sesuatu yang bewarna merah muda banget lah…memang diberikan khusus dari produk Matahari-nya mas Irvan untuk yang sering posting di milis.

Acara berlanjut dengan cerita pengalaman mas Bambang menemukan ‘passion’ nya tentang teh. Cerita tentang bagaimana ia mengarungi daerah-daerah yang terkenal dengan Teh nya. Dan ‘passion’ nya itulah yang kini membawanya menjadi ‘Tea Specialist’ dengan membuka kedai teh yang menawarkan berbagai macam teh di seluruh dunia dan agen penjual teh.

‘Tasted your personalities’ begitulah yang tertera di kartu nama mas Bambang Laresolo. Mungkin, pilih teh mu dan rasakan pribadi mu.

Selain bercerita tentang teh, mas Bambang juga mengajak kita menikmati sensasi minum teh yang kuno dari negeri Cina. Ada tiga jenis teh yang diseduh langsung oleh mas Bambang. Pertama kami mencicipi Teh Longcing, tehnya kaisar Cina. Kami menikmatinya dengan gelas kecil seperti minum sake, hmm….berasa seperti kaisar dengan permaisurinya. Lalu kami diberikan teh Kwam In—yang asal usulnya dari kisah seorang petani yang rajin membersihkan patung Dewi Kwam Im yang kemudian petani tersebut mendapat mimpi bertemu Dewi Kwam In dan menemukan pohon The, maka disebutlah The Kwam In. Dan yang terakhir, kami menikmati Puerh Teh, Teh dengan usia 20 tahun dan bernilai 2 juta rupiah. Wooooowww….berasa kaya banget! Dan rasanya….membuat melayang…..

Acara semakin meriah dengan adanya dooprize dan lelang produk Matahari cap Guangzhou nya mas Irvan. Ada kaos, tas anak, tas wanita, celana jins, baju wanita, jaket hingga pigura. Semua orang memeriahkan lelang semua produk yang dimulai dari harga sepuluh ribu rupiah. Hampir semua peserta mendapatkan lelang produk-produk mas irvan itu karena mereka tidak jaim sama sekali. Seperti pada umumnya, ibu-ibu seperti mbak andi rahmah, mbak ayi, mbak ona, Istri mas ryan, dan mbak Ratih memborong produk lelang untuk anak dan suaminya. Namun, anak muda seperti Tisna dan Indri pun tak mau kalah, mereka juga berpartisipasi aktif mendapatkan produk lelang. Yah lumayanlah dapat celana jins dan baju wanita. Ya gak Tis? Ndri?

Saya yang memandu lelang bersama Indri pun tak mau kalah. Sempat ketar ketir takut tak dapat produk lelang yang memang bagus-bagus. Sebenarnya saya naksir dengan kemeja dan dasi ungu merek Arrow, namun ternyata peminatnya banyak dan harganya menembus 175 ribu. Dan jatuh deh di tangan mbak Andi Rahmah. Tapi yah alhamdulilah saya masih dapat tiga kaos bermerk dengan harga 20 ribu per kaosnya. Selain itu sebagai hadiah dari mas irvan karena udah nge-mc, saya dapat celana jins panjang dan ‘ehm’ yang kembar dengan mbak Iim (suatu saat pasti itu akan berguna kan, mbak :p). Sempat berfikir, ini celana jinsnya buat siapa, secara saya sudah tidak biasa pakai celana. Namun akhirnya celana jins itu saya berikan untuk Bapak saya dan ternyata ‘pas’ yah hitung-hitung mengambil hati Bapak supaya diperbolehkan ikut kegiatan Kagama Virtual terus hehehe…

Akhirnya acara pun selesai setelah semua produk lelang sudah laris manis dan menghasilkan 1,8 juta untuk disumbangkan ke beasiswa Kagama Virtual. Eit, tunggu dulu, kejutan tak berakhir disini. Setiap peserta mendapatkan goody bag dari mas Bambang Laresolo yang isinya tiga jenis teh yang bisa dicoba di rumah yaitu blooming tea, mint tea dan teh hitam dari Tambi. Tak lupa sebelum berpisah, kami selalu sempat berfoto bersama.

Pulang dari acara ini, saya benar-benar dapat tersenyum bahagia. Sungguh bahagia rasanya ada sebuah ikatan pertemanan tanpa memandang label-label manusia, dan bagaikan satu keluarga. Dimana lagi bila bukan di Kagama Virtual.

Usut demi usut, dari acara ini ada yang mulai menemukan cinta sejati. Mari kita doakan semoga mereka menjadi pasangan yang abadi. Namun, terlepas dari itu, kebersamaan disini, di Kagama Virtual ini menciptakan cinta yang hangat diantara kita, sehangat minum teh Kwam In di sore hari.

28 September 2011

-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

Advertisements

Ketika Senja, Kami Bicara Emas

Siang itu-setelah menghadiri resepsi pernikahan salah satu anggota keluarga Kagama Virtual yaitu Mas Valdi,beberapa dari kami memutuskan tuk menuju Foodfest di jalan kaliurang dan kembali bicara. Ya,sebuah pembicaraan yang penting namun bukan sebuah rahasia.

Kami bicara emas.

Mengapa emas? Bukan karena saat ini harga emas sedang tinggi ataupun kami tergila gila akan emas.

Kami hanya ingin belajar,mumpung ada rekan yang ahli dalam investasi akan emas sedang berkumpul. Mas Denny P. Sambodo dan Mas Anam Alhabsyi,itulah rekan yang sore itu menjelentrehkan ilmu dan pengalamannya tentang investasi emas.

Banyak hal menarik yang kami dapat. Dari apa tujuan kita membeli dan menyimpan emas, bagaimana bentuk fisik emas sampai dinar dan dirham yang berlaku di pasaran (mas denny dan mas anam sampai membawa dan memperlihatkan contohnya).

Kami juga belajar bagaimana dan dimana membeli emas,dinar dan dirham. Ada yang mungkin suka beli fisik langsung, ada yang mencicil dengan program KLM di BRI,ada yang gadai sampai deposito berjamin emas.

Ada hal yang menarik yang dipaparkan oleh mas Anam terkait dirham dan atau perak. Memang,saat ini perak masih undervalue. Namun, harga perak terhadap emas dari tahun ke tahun perbandingannya selalu mengecil sehingga bisa jadi sepuluh atau dua puluh tahun ke depan,memiliki perak atau dirham menjadi sangat menguntungkan.

Satu hal pula yang menjadi tambahan ilmu,ada keuntungan menyimpan dinar daripada emas batangan apabila kita sedang di luar negeri. Hal ini karna dinar mudah dikonversi pada timbangan emas international yaitu Tryoz (bener gak ya,tulisane?mohon koreksi). Jadi kalau lagi sekolah di London atau di Muenchen kayak Uda Ferizal, kemudian butuh uang,dengan pegang dinar bisa cepet ditukar. Tapi kalau pergaulan kita hanya di sekitaran Bantul apa Sleman ya simpanan emas batangan kita bisa langsung dijual.

Juga yang tidak kalah penting adalah bahwa untuk investasi emas atau dinar dan dirham ini, gunakanlah uang anda yang menganggur alias tidak digunakan untuk kebutuhan pokok. Tapi, kita juga bisa menabung sedikit demi sedikit untuk melakukan investasi ini.

Dan soal menabung,saya selalu teringat kata kata dosen saya yang mendalami psikologi ekonomi, Pak Rahmat Hidayat; intensi untuk menabung itu tidak berkorelasi positif dengan pendapatan. Belum tentu orang yang pendapatannya 10 juta bisa menabung sebanyak orang yang pendapatannya 2 juta.

Akhir kata,senja yang hangat itu memberikan sebuah energi positif. Bahwa semua orang bisa bicara emas dan berkebun emas.

Jogja, 5 september 2011
-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

Peserta bicara emas;
Mas luq,mb eka,mas yasir,mas rizal,mas komo dan migit.

Reportase Syawalan Kagama Virtual di Jambon Resto Jogja

Reportase Syawalan Kagama Virtual di Jambon Resto Jogja

Sabtu,3 September 2011. Sebuah restoran bernama Jambon Resto menjadi saksi bagaimana balung balung Kagama Virtual yang terpisah pisah menyatu bersama.

Ada yang datang dari Jakarta. Ada yang datang dari Surabaya. Pekanbaru pun tak ketinggalan,walaupun acara ini bertajuk Kopdar Syawalan Kagama Virtual Mataram Raya.

Semua saling menyatu,berkenalan dan bercanda ria. Dari yang paling tua Mas Nugroho Rahmat (TE 75) sampai yang kinyis kinyis Migit (psikologi 2004). Dari yang masih single sampai yang bawa buntutnya (baca: anak).

Acara semakin meriah dengan dipandu oleh Kang Wahyu W. Basyir yang dengan kumis juga jambangnya berhasil menggaet hati lima wanita ayu sekaligus.

Tak lupa acara ini juga sebagai ajang pembuatan langkah nyata agar Kagama Virtual tak hanya tempat nongkrong. Muncullah up date berita beasiswa yang sudah diserahkan pada pihak rektorat. Berjalannya KLC di Jakarta dan Jogja. Juga berita dari sesama anggota yang merupakan satu keluarga.

Hal lucu pun terjadi ketika di akhir acara melakukan sesi foto bersama. Jembatan apung milik restoran tersebut sampai lepas drumnya karena tak kuat menanggung 35 orang peserta syawalan. Kericuhan terjadi karena jembatan menjadi goyang dan hampir tenggelam. Para perempuan yang mengelilingi Kang Wahyu W.Basyir berteriak teriak seketika dan mencari pegangan. Kang Wahyu W. Basyir pun diam kebingungan. Sekonyong konyong semua lari dari jembatan apung itu.
Agak memalukan memang,apalagi dilihat oleh orang lain yang juga makan di restoran itu.

Namun itulah Kagama Virtual, sekonyol dan se malukan apapun kita tetap bersama dan saling menghargai juga saling mengapresiasi dalam bingkai Gadjah Mada.

Karena cinta yang menyatukan kita.

Senja utama solo, 5 september 2011
-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

Thanks to panitia syawalan,
Mb bibien,mb arum,mb ratih,mb niken dan mb eka.

Tuesday With Morrie

Tuesday With Morrie
Umi Gita

Ini buku merupakan salah satu buku bagus dan mengena banget buat aku. Sebuah buku yang mengisahkan bagaimana seorang mahasiswa dengan dosennya, baik ketika masih kuliah ataupun ketika sang dosen tersebut hidupnya sudah tak lama, karena mengidap penyakit amyotropic lateral sclerosis (ALS), atau penyakit Lou Gehrig, sebuah penyakit ganas, tak mengenal ampun, yang menyerang sistem saraf.

Inilah kisah Mitch bersama guru sejatinya, Morrie Schwartz.

Mitch, ia seorang kolumnis rubrik olahraga di Detroit Free Press, penulis buku-buku olahraga sekaligus pengusaha. Jadwal kerjanya begitu ketat hingga ia selalu merasa dikejar oleh waktu. Ia tenggelam dalam dunia kerjanya yang menghasilkan begitu banyak uang sekaligus prestasi yang membawa prestise tersendiri.

Hingga suatu ketika, ia tergerak untuk menemui lagi dosennya ketika ia melihat sang dosen diwawancara oleh sebuah acara TV dengan judul ’Kuliah Akhir Seorang Profesor: Kematiannya Sendiri!’. Mitch pun segera ke Boston, menemui guru sejatinya, dan mereka berdua membuat kesepakatan untuk adanya kuliah terakhir, sebuah pertemuan sepekan sekali, setiap hari selasa. Kuliah itu tak diberi nilai, tetapi setiap minggu ada ujian lisan. Buku tak diperlukan, namun banyak topik yang diperbicangkan seperti cinta, kerja, kemasyarakatan, keluarga, menjadi tua, semangat memaafkan dan akhirnya tentang kematian.

Hubungan antara Mitch dan Morrie sebenarnya sudah lama terbangun baik ketika Mitch masih menjadi mahasiswa dan mengambil mata kuliah sosiologi yang diampu oleh Morrie. Saat itu, Mitch hanyalah mahasiswa biasa yang seringkali minder bahkan merasa bermasalah dengan keluarganya. Namun, kehadiran Morrie membuat Mitch bangun untuk optimis terhadap masa depan. Dialog-dialog tentang mata kuliah hingga kehidupan mereka lakukan, hingga mereka bagaikan sahabat, dan panggilan ’coach’ pun ditujukan oleh Morrie dari Mitch.

”Belajar tentang cara mati, maka kita belajar tentang cara hidup”
Begitulah yang dikatakan oleh Morrie. Dengan memahami kematian, mungkin kita akan belajar memahami bagaimana harus hidup dengan arif dan sebaik-baiknya. Kematian itu memang absurd, kita yang hidup tak pernah tahu bagaimana rasanya kematian. Hanya ada sebuah kepercayaan dan keyakinan akan kematian yang mungkin kita dapatkan dari ajaran agama.

Begitu banyak pelajaran dalam hidup. Hingga ada sebuah pepatah cina mengatakan bahwa manusia itu diturunkan ke bumi untuk belajar. Yah, aku cukup mengamininya, dari sejak kita lahir, kita belajar bergerak untuk beradaptasi. Ketika masa kanak-kanak, kita belajar untuk mengetahui segala sesuatu. Ketika remaja, kita belajar tentang hubungan antara manusia. Ketika dewasa, mungkin kita belajar tentang dunia. Dan kesemua itu dalam lingkukap bernama hidup.

Banyak hal yang dapat diambil dari buku ini, seperti bagaimana dunia ini membutuhkan diri kita sehingga kita mampu mendapatkan makna hidup kita. Morrie mengatakan, ”Abdikan dirimu untuk mencintai sesama, abdikan dirimu kepada masyarakat sekitar, dan abdikan dirimu untuk menciptakan sesuatu yang mempunyai tujuan dan makna hidup bagimu.”
Begitu pula yang cukup menyentakku yaitu tentang bagaimana memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Aku seringkali menyesal dengan apa yang terjadi dengan masa lalu, menyesal karena seharusnya aku bisa bekerja lebih keras, seharusnya aku bisa menghindai peristiwa tertentu dan segala penyesalan-penyesalan lainnya. Namun Morrie ternyata juga memiliki perasaan yang sama, dan penyesalan itu semua tidak berguna. Maka berdamailah. Berdamailah dengan diri sendiri dan semua orang di sekitar kita.

Morrie dan Mitch pun membahas tentang cinta dan perkawinan, sesuatu yang mungkin sudah ‘retak eksistensi-nya’ di negara Paman Sam, dimana disitu begitu banyak masalah, orang-orang dengan mudahnya untuk menyambung dan memutus sebuah ikatan suci bernama perkawinan. Morrie pun mengatakan bahwa dalam perkawinan, sesungguhnya kita diuji. Kita mencari tahu siapa kita, siapa orang lain yang menjadi pasangan kita, mana yang haus kita sesuaikan, mana yang tidak. Begitu banyak nilai-nilai hidup yang harus saling dikompromikan, yang harus saling dihormati dan begitu banyak hal-hal yang harus di-terbuka-kan dengan pasangan kita. Dan yang paling penting untuk disepakati bersama adalah nilai dimana keyakinan tentang pentingnya perkawinan itu.

Buku ini disusun dengan apik, dimana alurnya dibuat sebelah menyebelah antara masa lalu dengan masa saat ini. Masa lalu dimana Mitch masih mahasiswa kuliah Sosiologi-nya Morrie, dan masa saat ini dimana Mitch merupakan mahasiswa kuliah Kematian-nya Morrie. Dan buku ini ditutup dengan wisuda dimana itu adalah kematian Morrie. Dan itu adalah hari selasa.

“Pengaruh seorang guru bersifat kekal; ia tak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir.”

—Henry Adams

Dan kutemukan sosok Morrie pada sebagian dosenku…..

-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

BukBer Kagama Virtual Tangerang: “Bukan Sekedar Nongkrong”

BukBer Kagama Virtual Tangerang:  “Bukan Sekedar Nongkrong”
Umi Gita

 

Lagi lagi hari jumat. Hari yang penting bagi segelintir anggota KV di Tangerang. Ya, ini Kopdar yang kedua kalinya dengan bungkus ‘Buka Puasa Bersama’. Dan kegiatan ini tiba tiba saja muncul hanya dengan email seorang Irvan Kristanto ke milis KV dengan menyebut nama seorang anggota milis; Umigita…kapan Bukber KV Jabodetabek?”

 

Lalu gayung pun bersambut dari anggota lainnya yang merasa berdomisili di Tangerang, baik karena tempat tinggal maupun pekerjaan. Singkat cerita, tanpa banyak ba-bi-bu, didapuk lah irvan kristanto dan umi gita untuk menjadi panitia yang mengurusi acara ini. Dan tanpa banyak ba-bi-bu, tempat dan waktu ditentukan. Jumat, 19 Agustus 2011 di Solaria BSD Square.

 

Banyak anggota milis yang tidak tahu dimana itu Solrai BSD Square, tapi panitia berusaha memberikan gambaran tempat. Woro-woro pun disebar, dari milis, event di Fesbuk dan BBM. Sempat cemas juga karena yang konfirmasi jumlahnya minim, tapi namanya bukan KV kalo gak nekat jalan terus. Sempat panik juga ketika mas Anung memberi tahu kalo Solaria BSD Square tidak bisa di reservasi, hanya bisa ketika hari baru booking. Waduuhhhh, siapa nih yang bersedia berkorban untuk datang lebih awal dan booking? Lagi lagi tertuju pada Irvan Kristanto dan Umi Gita. Wah ini emang duet maut abad ini kali yeee…

 

Berjibaku dengan batin dan keadaan kantor, akhirnya dengan menerapkan ilmunya Santiago di Sang Alkemis.

“Aku emang berniat kesini, Mi…jadi yang awalnya aku harus ke toko di Bekasi, bisa dipindah ke toko di Tangerang aja.” Ungkap Irvan Kristanto. Umi Gita pun tersenyum dan merasakan hal yang sama. Ya, ketika kita menginginkan sesuatu, maka segenap alam semesta akan membantumu.

 

Satu persatu, aktivis KV berdatangan. Dimulai dari mas Gojis (T. Sipil, 92), Gusti Rizal (T. Kimia, 91), Arief Khumaidi (Filsafat, 90) dengan istrinya yaitu Rosmaria (Filsafat, 90), Heni H. Yusuf (T.Elektro, 97), Jimmy M. Mboe (hukum, 92), Bayu Utomo (T. Fisika, 2003), Nur Setianto (T. Fisika, 2000), Valdi Riovia (FKT, 96), Imtiyaz (TP, 2002) dan Syarif Budiman (Psiko, 2001).

Maghrib pun menjelang. Kami langsung menyatap hidangan yang ada dengan lahap. Datanglah aktivis yang lain seperti Anung (PN, 93), Indarto (PN, 93), Yaser Arafat (Fisika, 88), Nurul Putri (PN, 2005), Martinus Rachmat (TP, 91) dan Nennie (Filsafat, 77).

 

Setelah saling memperkenalkan diri, tak lupa didahului terkait informasi tentang kegiatan-kegiatan KV yang sudah dilakukan dan agenda mendatang, obrolan santai dan ketawa-ketiwi pun menghiasi malam itu. Bener-benar energi habis untuk ketawa, simpul mas Valdi. Bagaimana tidak, satu idom jadul sempat muncul yaitu teklek kecemplung kalen….dan Semar-Gareng-Petruk-Bagong (kalau yang ini hanya mas Anung yang dapat menjelaskan hehehe…).

 

Mbak Imtityaz pun tidak mau kalah untuk menunjukkan kamampuannya dengan memberikan teh hasil racikannya di kantornya. Satu persatu rekan mencicipi dan memberikan komentar yang dapat membangun rasa teh mbak Imtiyaz. Lalu mas Martin yang juga seperguruan dengan mbak Imtiyaz di TP, memberikan surprise dengan jualan buku-buku lawas dan antic dengan diskon yang besar. Langsung saja kawan-kawan pada berebutan.

 

Mbak Nennie yang merupakan pengurus Kagama Tangerang pun bercerita bagaimana ia sangat apresiasi dengan KV, ia bilang bahwa KV lebih guyub dan melakukan aksi nyata. Iapun sebenarnya mengikuti jalannya milis KV, hanya saja masih belum berkomentar ataupun posting….(jadi, mbak nennie, setelah postingan ini diharapkan untuk komentar yaa…). Sebenarnya kembali lagi ke masalah klasik kita, bahwa Kagama itu penuh dengan orang-orang yang hebat dan berada di level atas. Untuk di Tangerang Selatan saja, ketua DPRD nya Kagama, Rektor UNPAM kagama juga, belum lagi para pejabat di BATAN, LIPI, BPPT…yang juag Kagama. Hanya saja, kita ini kurang aksi nyata sebagai Kagama. Padahal kita bisa melakukan sebuah aksi kepedulian sosial yang sederhana tapi kelihatan.

 

Memang KopDar KV itu bukan sekedar nonkrong yang berjumpa tuk mengobati rasa kangen akan kawan dan almamater. Namun lebih dari itu, karena ide bermunculan, jaringan terbangun dan tereratkan. Dan tak sekedar ngomong yang tanpa aksi.

 

Tak terasa, malam pun semakin larut. Para pelayan Solaria BSD Square pun mulai bersih-bersih. Wah jangan sampai kita mengulangi KopDar di Pondok Selasih dimana kami sampai diusir oleh penjaganya karena tidak selesai-selesai. Kami pun bergegas keluar restoran dan berfoto bersama. Tapi dasar KV, tak puas, di dalam, diskusi pun dilanjut di luar sembari berdiri dan mejeng ala anak muda hehehe…wah kalau tidak di stop, bisa-bisa sampe besok pagi baru selesai.

 

Inilah sekelumit kecil serunya KopDar KV Tangerang. Semoga KopDar KV di kota-kota lainhya dapat lebih menarik. Kami tunggu ceritanya yaa ^^

 

Satu paragraf yang mungkin mewakili perasaan kami setelah KopDar;

“Kami merindu Kampus Gadjah Mada. Kami merindu Jogjakarta. Namun, kami sadari sepenuhnya, disini bukan Jogjakarta ataupun Kampus Gadjah Mada. Disini adalah Tangerang. Namun kami temukan cinta Kampus Gadjah Mada dan nuansa Jogjakarta disini.” 

 

 

21 Agustus 2011

-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

Curhat Supir Taksi

*Curhat Supir Taksi*
Umi Gita
*
*

Virdo. Panggil saja ia begitu, seorang supir taksi brand yang cukup terkenal
di ibukota. Ya, setiap kali saya harus menjalankan tugas Negara untuk keluar
kota, dimana saya harus pergi ke bandara Soekarno Hatta. Atau pulang dari
luar kota, saya gunakan transportasi ini dari bandara tersebut menuju kantor
maupun rumah.

Mahal? Jelas iya. Tapi praktis tentunya. Dan juga cepat.

Tapi, dalam memilih taksi, saya gak asal. Saya selalu milih yang ‘brand’ nya
cukup terpercaya. Bukan apa-apa, saya perempuan, muda dan sendirian, bisa
saja terjadi sesuatu pada saya, bukan? Apalagi bila saya melakukan
perjalanan di malam hari. Dan saya ini kalau sudah begitu lelah, tidak
peduli tempat, saya suka tertidur. Saya pernah naik taksi, sendirian dan
tertidur pulas lalu bangun-bangun sudah di dekat rumah saya. Nah, betapa
saya menaruh kepercayaan besar pada supir taksi ini. Continue reading

Sebuah pembelajaran dari Sepakbola

Right Man, Right Position- Sebuah pembelajaran dari Sepakbola
Umi Gita

Ajang sepakbola paling bergengsi Piala Dunia sudah berakhir. Sang juara pun sudah menikmati kemenangannya. Hingar bingar para penggila bola pun sedikit melemah. Namun, ada hal penting yang dapat kita petik sebagai pembelajaran dari sebuah olah raga sepakbola. Terlihat jelas, pemenang Piala Dunia itu adalah kumpulan orang-orang atas nama tim yang mampu melakukan peran dan fungsinya dengan maksimal. Selain memiliki kompetensi diri dalam mengocek bola yang cemerlang, ia berada dalam posisi yang tepat—entah itu sebagai striker, gelandang ataupun pemain belakang.

Analogi tersebut selayaknya dapat kita terapkan dalam berorganisasi, dimana ketika bekerja dalam sebuah organisasi, diri ini menyadari sepenuhnya sebagai bagian dari sebuah keberhasilan organisasi. Oleh karena itu, sudah barang tentu setiap pribadi harus memberikan kontribusi. Agar kontribusi dapat maksimal, tentu saja posisi sebuah jabatan atau jenis pekerjaan disesuaikan dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki orang tersebut. Continue reading