Gowes Guyub 2012 membelah Jakarta

Gowes Guyub 2012 membelah Jakarta.

Demo sepeda (amat) mini

Walker dan Goweser Jogja

Tak terasa tanggal 2 September 2012 tinggal beberapa hari lagi dan aku masih juga belum dapat sepeda untuk acara gowes guyub 2012 membelah Jakarta. Sepeda lipat Dahonku sudah kulipat dan kukirim ke Jogja, sehingga aku harus beli sepeda baru atau meminjam milik teman-teman pesepeda Jakarta.

Masalahnya kalau meminjam sepeda teman, maka kita harus mengembalikan dan biasanya semangat meminjam dengan semangat mengembalikan sepeda berbeda cukup jauh, jadi kuputuskan saja untuk meminjam sepeda panitia. Mungkin memang tidak senyaman sepeda milik teman tetapi tidak ada kewajiban untuk mengembalikan ke rumah teman.

Paling enak memang sepeda Specialized kesayangan di Jogja, tapi akan merepotkan lagi mengambil sepeda di Jogja dan nanti harus mengembalikan lagi ke Jogja.

 

Acara Gowes Guyub ini memang acara yang sudah kutunggu, tetapi tidak kusangka secepat ini terjadi, sehingga aku masih belum siap betul mengikutinya. Aku juga belum sounding seberapa banyak pesepeda alumni UGM yang ada di Jakarta, sehingga sampai saat…

View original post 373 more words

Advertisements

Lack Of Leadership dan Sebuah Mimpi

Sebuah tulisan sederhana akan sebuah kejadian yang terlaksana dengan sangat apik bersama mas Ganjar Pranowo
TIM  04 Agustus 2012
17:00 – 21:00 WIB
“kagama virtual”
Lack of leadership, itulah yang dapat saya tangkap tentang kultum di Taman Ismail Marjuki Sabtu 4 Agustus 2012 oleh Mas Ganjar Pranowo. Seperti kita semua ketahui bahwa di negeri ini pemimpin yang sangat mempunyai ketegasan dalam bersikap sangatlah jarang dan mungkin bisa dihitung dengan Jari. Salah satunya ialah seseorang yang mempunyai isial JK, dan hal itu memang bisa mengarah ke dua orang Jusuf kala dan Jokowi. Untuk masalah Leadership sendiri, dari lulusan Gadjah Mada sangatlah kurang bisa memunculkan embrio2 muda yang terlihat berbeda dalam sebuah karakter kuat dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang sangat egaliter serta bisa diandalkan untuk mencoba mengurai benang kusut yang sudah melanda dan merusak negeri ini.
“mas Ganjar Pranowo”
Mungkin juga masyarakat sudah muak dengan beberapa model kepemimpinan yang cenderung hanya mengandalkan gaya dan tanpa ada tindakan nyata. Mungkin pemimpin sekaliber Bung Karno itu hanya akan ada setiap seratus tahun sekali untuk bisa muncul dan sudah barang tentu jika dibairkan berlarut akan pasti mengganggu stabilitas negeri ini. Kembali lagi soal Jokowi yang kebetulan tidak bisa hadir dalam pertemuan kemaren, mas Ganjar ternyata pernah mengadakan sebuah pertemuan dengan 4 walikota dan salah satunya ya Jokowi tadi,
“acara di buka oleh kang Gambul”
“mas, kok bisa memindahkan PKL tanpa ada kerusuhan, dilakukan suka rela bahkan dilakukan dengan sebuah kirab budaya yang sangat ramai”
 “diskusi”
Metode mengambil hati ini yang dilakukan Jokowi, mengajak makan malam selama kurang lebih 54 kali para pedagang ini, dan pada pertemuan terakhir barulah dia omong akan memindahkan mereka. Semua tidak dilakukan satu dua kali pendekatan saja (mungkin kalau bahasa saya ialah personal approach) namun melalui proses yang panjang dan berliku. Disaat akhir itu lah dia berhasil mempergunakan kekuatan mind nya akan hal yang memang seharusnya.
Selain itu, penggantian ketua satpol PP dari pria berkumis dengan Ibu yang cantik pun, merupakan sebuah breakthrough yang sangat luar biasa.
“mulai saat ini kandangkan semua tameng dan pentungan, dan mulai besok anda saya copot”
Kembali lagi, ada sebuah tantangan dari mas Ganjar, untuk memperbaiki masalah leadership di lingkungan keluarga KAGAMA ini, apakah sudah siap untuk belajar serta memperkuat karakter leadership ini? Dan selain itu, jaringan, jarak antar alumni yang sudah melebar ini mungkinkah bisa di perkuat lagi. Jika di ibaratkan Jokowi adalah Loko, bagaimana alumni yang lain mensupport dan mungkin bahkan mendorongnya jika loko itu ada masalah?
Jadi sudah siapkah?
Hal itulah yang menjadi kegalauan mas Ganjar selama ini, dan memang kegalauan yang sangat beralasan. Dikarenakan negara tanpa seorang pemimpin yang nasionalis, tegas, bediri dengan rakyat serta mengabdikan seluruh jiwa dan raga demi negeri ini, rasanya sangat mustahil semua persoalan negeri ini akan bisa terurai.
“besama mas Ganjar”
Selain mendengarkan cerita dari mas Ganjar, kemaren juga dipresentasikan beberapa kegiatan dari kagama virtual sendiri, walaupun kegiatan ini masih bisa dikatakan sebuah embrio kecil, namun tekat dari teman2 yang sangat luar biasa memungkinkan untuk membesarkan semua embrio ini menjadi sebuah kegiatan nyata yang lebih besar lagi. Adapun sedikit kegiatan yang di ceritakan oleh teman2 ialah mengenai hutan pendidikan konservasi Koesnadi Hardjasoemantri di lereng merapi, KPK alias Kelompok Photography Kagama virtual, KLC alias Kagama Learning Community.
Mengenai hutan pendidikan konservasi koesnadi hardjasoemantri ini, merupakan kegiatan dari alumni untuk menghijaukan lereng merapi selepas terkena erupsi yang meluluh lantakkan lereng merapi. Mas Sandhya Yuddha mempresentasikan dengan sangat manteb mengenai konsep ini.
“mas Sandhya Yuddha”
Adapun kegiatan Photography ini merupakan kegiatan untuk menampung hobi dari rekan kagama di bidang perphotographian. Kegiatan ini sendiri kemaren sudah di deklarasikan di Pulau rambut, dan sudah mendapatkan beberapa order pemotretan. Kedepan semoga kegiatan ini akan semakin bisa menjangkau untuk semua alumni. Sore itu dibawakan dengan sangat ciamik oleh mas Novian mengenai kegiatan ini.
Sedangkan wadah yang lain inilah sebuah forum diskusi kecil, forum ini sangatlah menarik terutama untuk alumni fresh, dikarenakan dengan forum diskusi kecil dengan mendatangkan pembicara dari alumni yang sudah terlebih dahulu menancapkan taringnya di dunia nyata, bisa memberikan sebuah pencerahan, ide-ide segar serta membuat alur logika berpikir menjadi semakin terasah dan kritis. Walaupun ada beberapa kendala, namun setelah sedikit bercakap dengan mas Ganjar dan alumni lain malam itu, sepertinya mereka akan selalu support kegiatan ini.
“malam itu”
Ya, terlihat sebuah semangat yang sangat menyala, tidak ada yang dinamakan sebuah gap, dikarenakan semua alumni dari banyak generasi bisa berkumpul serta berbaur menjadi satu. Semoga semua mimpi ini bisa teraih satu demi satu untuk kemajuan Universitas Gadjah Mada.
~Tri H Sulistiyo (ths) ~

Terima kasih

Terima kasih

oleh: Sri Marpinjun

Beruntung jadi angkatan tua: diminta memegang kepala Hasan Abdurahman. Bayangkan! Padahal tak sedikitpun aku merencanakan bakal melakukannya sebelum bertemu orang ini. Gimana tidak terkesan, wong aku sangat menaruh hormat pada Doktor satu ini, wis direktur ahli agama maneh. Aneh rasanya memegang kepalanya, gara-gara dia ingin memperlihatkan benjolan di belakang kepalanya. Untuk apa…aku juga sudah lupa. Maaf. Yang jelas tidak ada alasan klomoh.

Rumah Hasan Abdurahman, keluarganya, dan masakannya benar-benar semenarik yang telah di tunjukkannya melalui face book selama ini. Semua kelihatan harmoni…dan sungguh dia orang yang saleh karena setelah “pamer” dia suka berbagi kemakmurannya itu kepada kami semua. Untuk memudahkan kami hadir, dia mengirim satu mobil untuk menjemput kami. Wah, kami merasa sangat terlayani oleh keluarga ini. Ketika pulang, dia juga menawarkan makanan yang berlebih untuk kami bawa pulang…. Kalau tahu akan begini, tentu aku bawa rantang yang dapat kukirim untuk mbak Denies yang setahuku ngeces pingin ngicipi masakannya. Tapi sayang aku pulang ke Jogja baru minggu depan, jadi dengan halus menolak tawarannya. Terima kasih Hasan Abdurahman. Hanya Allah SWT yang akan membalasnya!

Itu salah satu pengalaman paling menarik hari ini kopdar Kavir hari ini. Tentu saja pengalaman menarik lain adalah bertemu Ratna Widyastuti dan keluarga, THS, HMK, Firdaus, dan Sudarsono. Mereka semua baru kutemui hari ini tapi rasanya seperti telah berteman lama sekali. Untuk kedua kali aku bertemu kembali dengan Raisah, ML dan Indarto.

Tentu saja perlu diceritakan sedikit bagaimana Raisah kembali ke dalam grup. Baru kutahu, ehem, Raisah yang terkesan sangat mandiri dan punya strong personality, tak kuasa menahan rayuan HMK untuk kembali. Padahal iming-imingnya cuma: gimana kamu dapat ditag fotomu kalau kamu tidak ikut grup? Yang ini lebai. Yang tidak lebai: Raisah itu penting ada di dalam grup Kavir supaya dia dapat meningkatkan kualitas diskusi di grup. Seperti kita tahu dia ini pintar dan kritis. Jadi selamat datang kembali Raisah!

Kopdar di rumah Hasan Abdurahman memang output utamanya makan siang sampai kenyang. Tapi bonusnya adalah makin eratnya silaturahmi di antara para Kavir. Asumsi-asumsi tentang orang ini atau orang itu saya yakin juga telah terverifikasi karena kami semua pulang dengan pengertian yang lebih utuh tentang masing-masing (hopefully).

Aku pribadi kebetulan pulang ikut mobil HMK yang mulus bersama THS dan Raisah. Berempat kami mampir ngopi di Kalibata…lalu diskusi sampai lupa waktu ternyata kami berada di warung kopi itu hampir 4 jam! Kali ini HMK berkehendak untuk membayar semua jajanan kami. Terimakasih ya!

Ya ampun, hari ini sangat menyenangkan kawan-kawan. Terima kasih ….

Mencicipi lidah bakar di delta mas

Mencicipi lidah bakar di delta mas

oleh : Tri H Sulistiyo

Sabtu kemaren, rekan2 kv mendapatkan undangan bersantap di kediaman Kang Hasan yang berada di delta mas. Adapun rombongan dari Jakarta ada yang berkumpul di kalibata (mba Pipin, mba Ratna, kang HMK serta saya) dan ada yang berangkat dari jalur tol Jorr (mas Indarto, mba Firdaus serta mba Lei) sayang dab Irvan serta mba Ellen berhalangan hadir.

Tiba dirumah kang Hasan sekitar pukul 11.09 an dan sudah tersedia beberapa menu makanan yang sangat menggugah selera, seperti gulai ayam bumbu hitam, sayur daun genjer, beberapa lalapan, sambal terasi serta 2 buah ikan kuwe yang masing masing mempuyai berat kurang lebih 1 kg. mantab. seperti biasa saya kebagian untuk bakar membakar, adapun yang pertama dibakar ialah lidah, ya lidah. Lidah ini diolah dengan dua rasa, yaitu rasa manis dan rasa asin. Kemaren merupakan pengalaman pertama saya membakar lidah. Sebelumnya pembakar dipersiapkan lebih dahulu, dengan arang batok kelapa dan arang kotak, setelah itu lidah pun dibakar, tips untuk membakar lidah ialah jangan terlalu lama, dikarenakan daging lidah akan menjadi alot dan kurang tasti.
lidah bakar manis dan asin
menu siang itu
ayam bumbu hitam
urap genjer
selanjutnya ialah membakar ikan kuwe. Bumbu yang dipergunakan cukup sederhana saja, garam dan mentega. Ikan kuwe diolesi mentega serta ditaburi garam kemudian dibakar sampai matang merata. terasa mantab disantap dengan saos yakiniku. Sembari melahap masakan yang sangat enak ini, diskusi pun mengalir dengan riuhnya, adapun cerita ini sudah ditulis oleh mba Pipin di FB (monggo dilihat) saya nulis masaknya saja 😀
ikan kuwe bakar
dan acara mbakar ini ditutup dengan ketela bakar. silahkan dicoba dirumah resep bakar yang sederhana ini, dijamin sangat enak dan ikan atau daging akan terasa.
telo bakar
halo itu kami
nuwun

KV nampang di Sentilan Sentilun Metro TV

KV nampang di Sentilan Sentilun Metro TV
oleh Umi Gita 

Sabtu, 28 Januari 2012

Pagi pagi bangun pagi langsung ke Bunderan HI. Jam 6.30 ternyata kami sudah dijemput Metro TV buat nampang di acara Sentilan Sentilun. Sampai di Metro TV kami dapat sarapan pagi dan merchandise sabun susu kuda liar hasil karya dan usaha mbak Dhanti (kimia, 2000). Kami pun berkenalan masing masing walau sesaat kala waktu menunggu syuting dimulai. Kami berkumpul ada sekitar 25 orang dari berbagai fakultas, ada dari statistika, sosiologi, hukum, teknik, farmasi dan psikologi.

Jam 9 syuting dimulai. Tapi ternyata Butet belum datang, alhasil kami menunggu sembari bermain game dan berkenalan dengan penonton lain yaitu adik adik mahasiswa dari perguruan tinggi ilmu Al-Quran Ciputat. Juga kenalan dengan produser Sentilan Sentilun yang ternyata Kagama juga, namanya mas faisal (Geografi, 2000).

Akhirnya jam sebelas, Butet sudah datang dan syuting pun dimulai. Sesi pertama menghadirkan tokoh Bang Yos, pasti udah pada tau kan siapa beliau. Bang Yos banyak cerita tentang bagaimana mengatur transportasi ibukota, dia belajar dari Bogota dimana mengusahakan 5 jenis transportasi massal untuk menggantikan transportasi pribadi. Selain itu Bang Yos juga mengungkapkan konsep Megapolitan dimana ada simbiosis mutualisme antara Jakarta dan kota kota penyangganya.

Sesekali ketika ganti adegan, Sentilan (Slamet Raharjo) dan Sentilun (Butet) menyapa kami dan berkata “Liat kalian, aku jadi kangen jogja.”

Sesi kedua menghadirkan Prijanto, wakil gurbenur DKI yang mengundurkan diri. Dia bercerita banyak alasan mengundurkan dirinya karna tak dianggap ada sebagai Wagub. Semua kisah dan bukti surat surat dinas, ia jadikan buku yang judulnya “mengapa saya mundur dari wagub DKI JAKARTA.” yang pada hari itu ia berikan gratis pada penonton.

Ah, hari itu hari yang menyenangkan. Selain bisa berpartisipasi dalam acara Sentilan Sentilun yang kritis namun kocak abis, kami bisa ngumpul kopdar, dan belajar sedikit tentang pertelevisian. Saya cukup memperhatikan bagaimana para kru TV bekerja, ada sutradara, ada kameramen, penyelaras suara dsb. Tertarik juga dengan mas2 kameramen yang tanggap dan berkacamata, sayang, saya tidak berani berkenalan.

29 Januari 2012
Migit

Kopdar Dadakan di Urban Kitchen Senayan City Jakarta

Kopdar Dadakan di Urban Kitchen Senayan City Jakarta
Ngobrol dengan ketua IAGI

Tri H Sulistiyo

Hari selasa malam kemaren, menindaklanjuti dari pemberitahuan mas dab Irvan, bahwa ada acara ngobrol2 sama temen2 di Senayan City, saya selasa sore langsung menuju ke tkp, dengan disertai rintik hujan yang mengguyur Jakarta. Jam 18.30an saya sampai di senayan city dan terus mencari mas dab Irvan, setelah ketemu kami langsung menuju ke Urban Kitchen, dimana ternyata Pakdhe RDP dan Budhe Yuenda sudah menunggu.

“semoga besok segera jadi mentri pakdhe”

Itulah ucapan saya pertama kali yang terlontar dari mulut saya. Kami pun ngobrol2 bertiga, termasuk rencana mau motrek burung di rambut serta mendengarkan sikit cerita ttg proses menuju ketua IAGI. Selalu menyenangkan mendengarkan cerita dari Beliau, masi membekas dalam ingatan kisah yang diceritakan beliau 4th yang lalu. Beberapa saat kemudian datanglah Rio, Umi, mas Komo, mas Jimmy, mas Lukman dan mas Novian.

Dari cerita pakdhe RDP, beliau mengatakan bahwa alumni UGM itu cenderung malu untuk maju, dan lebih suka mendukung dibelakang, “mbok koe wae sek maju ojo aku” mungkin kita sudah sering mendengar kata seperti ini. Ya, itulah mengapa ITB lebih terdengar gaungnya. oia, selain itu selisih suara yang beliau dapat kemaren cumak 4 biji, jadi satu suara pun bisa sangat berpengaruh.

Mas Jim pun tidak lupa bercerita mengenai dibalik dondar, ketika beliau dan mba Andi menemui pengurus MM, ada beberapa kejadian yang membuat bapak pengurus MM tercengang dan beliau pun menanyakan beberapa hal seperti:

Bpk MM: lah, kagama virtual itu punya badan hukum tidak?
Mas Jim: ga ada Pak

Bpk MM: loh kenalnya bagaimana?
Mas Jim: lewat milis Pak

Bpk MM:kok bisa menggalang dana untuk beasiswa?
Mas Jim: 🙂

Ya, dari sedikit cerita dari mas Jim itu, kemaren juga sempat terlontar ide untuk membuat sebuah yayasan KV atau ormas KV, dimana tentunya ada nilai positif dan negatifnya. Selain cerita membahas mengenai cerita diatas, mas dab Irvan juga memberikan penjelasan mengenai tas project KV, dimana masih akan ada beberapa revisi dan bagaimana investasinya.

Banyak ide sebenarnya yang terlontarkan malam itu, tapi keburu mas mas yang ada disana megang sapu dan mulai menyapu dan mungkin ada beberapa percakapan yang terlewat, dikarenakan konsentrasi saya terpecah ke eda mame 😀

terima kasih
ths

Reportase Kopdar Syawalan Kagama Virtual Jabodetabek: Cinta Sehangat Teh Kwam In

Reportase Kopdar Syawalan Kagama Virtual Jabodetabek: Cinta Sehangat Teh Kwam In

Meriah. Satu kata yang mungkin dapat menggambarkan kesan yang tercipta setelah mengikuti Kopdar syawalan Kagama Virtual Jabodetabek, 25 September 2011 lalu. Acara syawalan yang dibungkus berbeda dari pakem syawalan yang ada selama ini. Betapa tidak, acara ini saja sudah dibungkus dengan judul ‘The Way of Tea’.

Bertempat di kedai teh milik mas Bambang Laresolo di Agripark, Bogor mampu menyerap perhatian sekitar 40 orang untuk bersilahturahmi, berbagi dan berempati tanpa memandang jurusan maupun angkatan. Semua melebur jadi satu. Hal ini sudah dimulai semenjak Mas Eko Shp memandu games seru sebagai pemanasan acara. Kurang lebih ada tiga games yang dibawakan mas eko yaitu gerak lagu, tarzan&jane dan games berhitung. Dari games ini sudah terlihat bila mbak andi rahmah dan mas anung itu bila sudah bertemu dapat bersahabat dekat dan akrab, walupun di milis seringkali mereka berdebat.

Dan games puncak yaitu berhitung dimenangkan oleh duet mbak andi rahmah dan mbak ona. Namun, hadiah jatuh ke tangan mbak ona karena mbak andi rahmah mendapat hadiah khusus yaitu hadiah ‘top posting milis’ dan ketika dibuka hadiah itu…eng…ing…eng…sesuatu yang bewarna merah muda banget lah…memang diberikan khusus dari produk Matahari-nya mas Irvan untuk yang sering posting di milis.

Acara berlanjut dengan cerita pengalaman mas Bambang menemukan ‘passion’ nya tentang teh. Cerita tentang bagaimana ia mengarungi daerah-daerah yang terkenal dengan Teh nya. Dan ‘passion’ nya itulah yang kini membawanya menjadi ‘Tea Specialist’ dengan membuka kedai teh yang menawarkan berbagai macam teh di seluruh dunia dan agen penjual teh.

‘Tasted your personalities’ begitulah yang tertera di kartu nama mas Bambang Laresolo. Mungkin, pilih teh mu dan rasakan pribadi mu.

Selain bercerita tentang teh, mas Bambang juga mengajak kita menikmati sensasi minum teh yang kuno dari negeri Cina. Ada tiga jenis teh yang diseduh langsung oleh mas Bambang. Pertama kami mencicipi Teh Longcing, tehnya kaisar Cina. Kami menikmatinya dengan gelas kecil seperti minum sake, hmm….berasa seperti kaisar dengan permaisurinya. Lalu kami diberikan teh Kwam In—yang asal usulnya dari kisah seorang petani yang rajin membersihkan patung Dewi Kwam Im yang kemudian petani tersebut mendapat mimpi bertemu Dewi Kwam In dan menemukan pohon The, maka disebutlah The Kwam In. Dan yang terakhir, kami menikmati Puerh Teh, Teh dengan usia 20 tahun dan bernilai 2 juta rupiah. Wooooowww….berasa kaya banget! Dan rasanya….membuat melayang…..

Acara semakin meriah dengan adanya dooprize dan lelang produk Matahari cap Guangzhou nya mas Irvan. Ada kaos, tas anak, tas wanita, celana jins, baju wanita, jaket hingga pigura. Semua orang memeriahkan lelang semua produk yang dimulai dari harga sepuluh ribu rupiah. Hampir semua peserta mendapatkan lelang produk-produk mas irvan itu karena mereka tidak jaim sama sekali. Seperti pada umumnya, ibu-ibu seperti mbak andi rahmah, mbak ayi, mbak ona, Istri mas ryan, dan mbak Ratih memborong produk lelang untuk anak dan suaminya. Namun, anak muda seperti Tisna dan Indri pun tak mau kalah, mereka juga berpartisipasi aktif mendapatkan produk lelang. Yah lumayanlah dapat celana jins dan baju wanita. Ya gak Tis? Ndri?

Saya yang memandu lelang bersama Indri pun tak mau kalah. Sempat ketar ketir takut tak dapat produk lelang yang memang bagus-bagus. Sebenarnya saya naksir dengan kemeja dan dasi ungu merek Arrow, namun ternyata peminatnya banyak dan harganya menembus 175 ribu. Dan jatuh deh di tangan mbak Andi Rahmah. Tapi yah alhamdulilah saya masih dapat tiga kaos bermerk dengan harga 20 ribu per kaosnya. Selain itu sebagai hadiah dari mas irvan karena udah nge-mc, saya dapat celana jins panjang dan ‘ehm’ yang kembar dengan mbak Iim (suatu saat pasti itu akan berguna kan, mbak :p). Sempat berfikir, ini celana jinsnya buat siapa, secara saya sudah tidak biasa pakai celana. Namun akhirnya celana jins itu saya berikan untuk Bapak saya dan ternyata ‘pas’ yah hitung-hitung mengambil hati Bapak supaya diperbolehkan ikut kegiatan Kagama Virtual terus hehehe…

Akhirnya acara pun selesai setelah semua produk lelang sudah laris manis dan menghasilkan 1,8 juta untuk disumbangkan ke beasiswa Kagama Virtual. Eit, tunggu dulu, kejutan tak berakhir disini. Setiap peserta mendapatkan goody bag dari mas Bambang Laresolo yang isinya tiga jenis teh yang bisa dicoba di rumah yaitu blooming tea, mint tea dan teh hitam dari Tambi. Tak lupa sebelum berpisah, kami selalu sempat berfoto bersama.

Pulang dari acara ini, saya benar-benar dapat tersenyum bahagia. Sungguh bahagia rasanya ada sebuah ikatan pertemanan tanpa memandang label-label manusia, dan bagaikan satu keluarga. Dimana lagi bila bukan di Kagama Virtual.

Usut demi usut, dari acara ini ada yang mulai menemukan cinta sejati. Mari kita doakan semoga mereka menjadi pasangan yang abadi. Namun, terlepas dari itu, kebersamaan disini, di Kagama Virtual ini menciptakan cinta yang hangat diantara kita, sehangat minum teh Kwam In di sore hari.

28 September 2011

-gadis kecil dengan jutaan mimpi-