Kucing-Kucingku

Sepuluh hari menelusuri tanah kelahiran
Menjalankan sebuah budaya mulia
Selaraskan arus mudik dan arus balik
Tiada hitung waktu, tenaga dan beaya

Ketika kaki menapak di padepokan ini
Ketika bertiga kau datang siang ini
Aku terpana melihat perut kempesmu
Terbayang penyesalan dan kesedian

Sepuluh hari engkau makan dimana
Sementara para penghuni rumah mudik
Sepuluh hari engkau makan apa
Maafkan aku yang telah lupa

Andai engkau manusia
Tentu sudah kubekali semua
Dengan beras dan uang belanja

Tapi kau bukan manusia
Hanya pintu-pintu terkunci jadi saksi
Akan kalian yang mencoba bertahan
Akan kalian yang terlihat menderita

Advertisements

Kemesraan dan Perselisihan

Kemesraan terbentuk
Karena ada perbedaan sudut pandang
Karena rasa saling pengertian
Karena keinginan untuk membahagiakan

Perselisihan terbentuk
Karena kebohongan dan tipuan
Karena kebosanan dan nafsu petualang
Karena rasa syukur yang mulai berkurang

Puisi : Akhirnya Kumemilih

Terbuai figur nan mengesankan
Membuat batin mengharap asa
Harapan muncul tanpa terencana
Menyeruak dalam sebuah rasa

Berharap dalam kepastian janji
Tapi semua datang lalu pergi
Aku goyah terus menanti
Tanpa satupun terpenuhi

Kering air mata harapan
Langkah hilang sesekali
Kemana wahai tambatan hati
Kuingin kau teguhkan nurani

Kini kumenanti dengan langkah
Kini kumencari dengan ketegaran
Smoga terengkuh sebuah cita
Bersama sejatinya sebuah cinta