Lifestyle series – 3: Slow Food

Lifestyle series – 3: Slow Food
Dyna Andriani

Pecel_08Sedulur, pernah dengar belum?

Kalau fastfood pasti dah jamak lah ya..kita sering dengar ‘fast food‘. Ada hubungannya nggak sih? Ada. Cuma kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya jadi lain dah..

‘Fastfood’ biasanya diterjemahkan sebagai makanan ‘cepat saji’, apakah kalau ‘slowfood’ terus.. lambat saji??? Selak luwe tho ya….
Bukan. Hubungannya tidak terkait dengan kecepatan dalam penyajian tetapi lebih ke konsep ‘kenikmatan’, ‘kesadaran’, dan ‘regionalitas’ dari suatu makanan. Menikmati makanan dengan kesadaran dan kepedulian… kira2 begutu kali ya?!

Istilah ‘Slowfood’ sebenarnya berasal dari sebuah gerakan, gerakan melawan ‘Fastfood‘!

Gerakan ini bermula di Itali yang berusaha mempertahankan ‘‘regionalitas Dapurnya‘, artinya bahan makanan diusahakan dari produk lokal. Slowfoodterkait dengan otentitas karakter (regional dan musim), serta cara pembuatan serta menikmatinya harus memperhatikan tradisi dan pengetahuan asal mulanya.

Carlo Petrini adalah peletak mula gerakan ini di tahun 2006 dengan parameter : ‘‘bueno, pulito e giusto‘‘ yang artinya enak, bersih dan fair. Kalau salah salah satu kriteria ndak ada, namanya bukan ‘slowfood’.

Terkait dengan ‘fair’, secara luas, bahan makanan -dalam kriteria‘Slowfood‘- adalah yang di tanam, diproduksi, dijual dan dimakan seharusnya akan memperkuat lingkaran ekonomi regional dan mengikat manusianya melalui mata, telinga, mulut serta tangan di region tersebut.

http://3.bp.blogspot.com/…/A…/FY6Tafv3w5U/s1600/Pecel_08.jpg

Lifestyle series -2: Keju-Analog

Lifestyle series -2: Keju-Analog
Dyna Andriani

Pernahkah sedulur berpikir, kalau keju yang kita makan mungkin saja adalah ‘bukan keju‘ , tetapi keju-analog? (Kalau keju digital mana bikin kenyang ?! hhaa..)

Serius, ini tentang ‘‘Keju Analog‘‘, atau dikenal dengan keju imitasi dimana produksinya tidak berasal dari susu tetapi dari sumber lainnya, misalnya pada mulanya dari lemak sapi . Jelas keju imitasi lebih murah dari keju konventional. Saat ini, keju analog berbahan air, kedelai, minyak nabati seperti minyak sawit sebagai bahan dasar, dll.Bahan lainnya sperti aroma, pewarna, penyedap rasa dll. Intinya Keju imitasi saat ini adalah Lemak nabati dengan aroma keju.
Apakah keju imitasi buruk? Katanya buruk terkait penyakit jantung, diabetes, dan kolestrol.

Bagaimana membedakan keju asli (dari susu) dan keju imitasi ? Bila kita membeli makanan yang di pack, biasanya ada deklarasi: lemak nabati. Bila tidak… sayang susah! Tanya ke penjualpun, mereka biasanya tidak tahu.

Jadi mikir, di Pizza Hut, Papa Johns, Domino, Dr. Oetker… gimana ya? Jadi penasaran..

Tetapi apabila anda seorang Veganer (bukan Vegaterier lho ya..)..beruntunglah, karena bahannya tidak dari binatang. Tetapi resiko kesehatan tetap saja ada.

Salam.

diambil dari macem-macem sumber.

http://snipmagazin.files.wordpress.com/…/800px-supreme_pizz…

Lifestyle series – 1: STEVIA

Lifestyle series – 1 :STEVIA
Dyna Andriani

 

steviaPernahkah sedulur dengar tentang si Stevi yang manis ini?

Stevia adalah tanaman Stevia rebaudiana pengganti gula kristal yang kita guanakn sehari-hari. Tanaman ini berasal dari pegunungan Amambai yang membentang di Paraguay – Brasil. Di daerah itu, sejak dari dulu digunakan oleh penduduk asli sebagai pemanis makanan dan minuman. Tahun 1887 ditemukan oleh Bertoni (orang Swiss). Hanya dengan beberapa lembar daunnya, bisa memberi efek manis secangkir Kopi / Teh kental.

Sejak awal 1920, Stevia mulai dibudidayakan di daerah asalnya dan sepuluh tahun kemudian dipelajari dan diuji dampaknya di Eropa. Melalui berbagai penelitian mulai dari budidaya dan dampak penggunaannya terhadap manusia, Stevia-extrak di tahun 1970an mulai terkenal di pasar Jepang dan China. Saat ini, stevia dibudidayakan hampir di seluruh dunia seperti Amerika Selatan dan tengah, Israels, Thailand, China, Eropa, Australia dan New Zealand.

Terus terang, secara sengaja saya belum pernah mencobanya. Secara tidak sengaja, kemungkinan saya makan dari coklat, permen atapun minuman .
Apakah Stevia sudah menjadi alternative? Berdasarkan study dan informasi, Stevia ‘aman‘ digunakan dan dianjurkan untuk Diabetiker. Stevia rendah kalori dan tidak menimbulkan kerusakan gigi (kariogen) tentu menarik untuk dipertimbangkan.

Plus, Stevia ada extraknya lho, khabar bagus tho? Hee..

Salam.

Dirangkum dari http://de.m.wikipedia.org/wiki/Stevia
gambar : http://entheopedia.org/pics/crazyreefer/stevia.jpg

Hidup Boleh Sederhana, Pendidikan Jangan Sederhana

Hidup Boleh Sederhana, Pendidikan Jangan Sederhana

 

 

10830717_10152616968133978_8064159947472748289_oIbu saya tidak lulus SD, sekolah hanya sampai kelas 2, cuma bisa baca tulis dan berhitung. Ketika remaja, Ibu menjadi pelayan toko kain. Selama itu, beliau menabung gajinya dengan membeli emas. Setelah menikah dengan Bapak (katanya sih lulus SD, tapi kami tidak pernah melihat ijazahnya), Ibu menjual emasnya untuk modal buka toko. Bapak menjahit dan Ibu berjualan alat-alat jahit seperti benang, kancing, jarum.

Keluarga kami hidup sederhana. Kami tinggal di kios satu lantai. Saya tidur di kasur busa tipis yang digelar ketika toko sudah tutup. Kami tidak punya TV, kalau ada acara menarik (misalnya ketoprak TVRI), kami harus menonton di TV tetangga. Benda-benda mewah seperti kulkas dan sambungan telepon baru kami punya setelah saya lulus SMP.

Tapi Ibu tidak pernah berhemat untuk biaya pendidikan saya. SPP tidak pernah telat, buku-buku pelajaran terbeli semua. Meski saya harus puas menggunakan tas yang sama selama enam tahun. Saya sekolah di SMP terbaik di kabupaten. Lulus dengan nilai terbaik se kabupaten. Saya melanjutkan SMA di kota Yogyakarta yang jaraknya 20 km dari rumah. Setiap hari saya harus naik kendaraan umum sampai usia saya cukup untuk membuat SIM. Meski saya sempat sulit beradaptasi dengan gaya hidup remaja kota, saya lulus dengan nilai terbaik di SMA.

Ibu membiayai kuliah saya di UGM sampai lulus. Memang waktu itu SPP UGM masih cukup murah dibanding sekarang. Tapi bagi orang tua saya yang penjahit, membiayai kuliah anak di kota sampai lulus adalah komitmen panjang yang tidak semua orang sanggup. SPP dan uang praktikum saya tidak pernah telat. Uang untuk fotokopi buku juga selalu tersedia. Tapi uang saku saya tak pernah cukup sebenarnya. Saya harus mencari tambahan sendiri dengan berjualan sprei dan tas.

Ibu juga membiayai sekolah Adik saya yang lebih moncer. Hidup boleh sederhana, tapi pendidikan harus yang terbaik, mahal pun harus diusahakan. Adik saya sekolah di SMP elit di Jogja dan SMA terbaik di kota yang sama. Ibu tidak pernah mengeluhkan biaya uang gedung, meski kadang harus mengambil dari uang untuk kulakan benang dan kancing. Adik saya juga lulusan UGM dan sekarang bekerja di penerbit paling masyhur di Jogja.

Sekarang Ibu dan Bapak saya masih tinggal di desa yang sama. Masih hidup sederhana di rumah dengan listrik 450 watt, yang harus gantian kalau mau menghidupkan mesin cuci atau menyetrika. Ibu tidak mengenyam bangku sekolah, tapi dia tahu mana yang seharusnya menjadi prioritas dalam hidup. Entah bagaimana reaksi Ibu kalau sampai tahu ada orang-orang yang mempermasalahkan “gaya hidup sederhana kok menyekolahkan anaknya di sekolah mahal”. Mungkin beliau cuma gumun dan bertanya-tanya orang itu sekolahnya di mana.

Gaya hidup seharusnya sederhana, tapi pendidikan tidak boleh sederhana. Jangan terbalik

 

Akankah Kita Hanya Mau Menjadi Penonton Saja?

– Akankah Kita Hanya Mau Menjadi Penonton Saja? –

Haryoko R. Wirjosoetomo

Saya pertama kali “berurusan” dengan Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK tiga tahun lalu, ketika seseorang disana mengudang meeting di kantornya. Waktu itu mereka memerlukan pelatihan Risk Management dan saya spontan menyanggupinya. Hanya saja, di ujung pembicaraan tersirat ada sedikit keraguan pada dirinya.

“Begini Pak Haryoko. Kami memperoleh nama anda dari seorang mantan penyidik kami. Ia telah resign dari Polri dan sekarang bekerja sebagai loss prevention manager di …. (ia menyebut nama sebuah perusahaan migas). Kapan hari ia bercerita bahwa team loss prevention di perusahaannya memperoleh beberapa pelatihan dari Bapak dan kami sangat tertarik juga mengenainya. Hanya saja ada satu hambatan disini…”

“Apa hambatannya kalau saya boleh tahu?.”

“Professional fee bapak, saya sudah mendengar dari kawan kami itu, benar-benar jauh diluar budget KPK. Sebagai lembaga negara, kami terikat pada peraturan-peraturan tentang honor pengajar…”

“Itu sama sekali bukan hambatan pak. Saya tunduk kepada peraturan negara saya sendiri. Silakan bapak beri honor mengajar kepada saya sesuai dengan ketentuan yang berlaku…”

“Tapi tidak ada pengurangan materi kan pak?,” selorohnya sambil tertawa.

“Yang terbaik pak, saya pastikan yang terbaik…”

“Wah, terimakasih banyak pak…”

Terimakasih kepada saya?. Saya menjadi malu hati, seharusnya sayalah yang berterimakasih kepada mereka. Apapun motivasi pribadinya, mereka telah berani menempatkan diri pada posisi yang berbahaya, in the line of fire, untuk memperbaiki negeri ini. Karena itulah saya tidak mau hanya sekedar menjadi penonton saja, harus turut berkontribusi dengan apa yang saya punya.

– 000 –

Tiga minggu lalu didalam taksi, dalam perjalanan dari hotel kekantor Husky-CNOOC Madura Limited di Surabaya, saya ditelepon seseorang dari Samarinda. Ia memperoleh nama saya dari seorang sahabat, yang menjabat sebagai Security-Safety Manager sebuah gedung perkantoran prestisius di Jakarta. Singkat kata, ia memerlukan jasa konsultan pengamanan.

“Apakah bapak ada client di Kalimantan Timur pak?. Untuk referensi kami,” tanyanya.

“Ada beberapa pak. Kami menangani Pertamina RU V di Balikpapan, Pupuk Kaltim di Bontang, Vico Indonesia di Muara Badak dan KPC di Sangatta. Semoga referensi ini cukup pak…”

“Waduh, raksasa semua, kami hanya perusahaan kecil pak. Apa mampu kami membayar bapak?.”

“ Apa bidang bapak?.”

“Developer pak, kami sedang membangun sebuah perumahan kecil, sekitar tigaratus rumah. Hanya saja kami ingin memiliki sistem manajemen pengamanan yang bagus, sehingga penghuni merasa aman. Tapi melihat daftar pendek client bapak disini, saya jadi merinding….”

Saya tertawa mendengar gurauannya.

“Begini saja pak. Saya akan submit proposal ke Bapak, tanpa ada nilai jasa disana. Setelah itu saya akan ke Samarinda dan mendiskusikan dengan Bapak. Soal budget saya jamin akan sesuai dengan anggaran anda, jadi merindingnya disimpan saja untuk masalah lain…”

Saya sudah lama berkeinginan, perusahaan-perusahaan kecil dan menengah di Indonesia mampu menerapkan sistem manajemen pengamanan yang baik, yang selama ini hanya bisa dilakukan dan dinikmati oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Banyak yang bersemangat, banyak yang menyadari tingkat kepentingan dan manfaatnya; namun selalu terbentur kendala yang sama. Tingginya biaya jasa konsultansi untuk membangunnya. Dan saya bertekad untuk urusan ini, tidak sekedar menjadi penonton saja.

– 000 –

Hidup di negeri ini, kita hanya disodori dua pilihan. Menjadi penonton dan merutuki kondisi negara saat ini, atau turut mengambil bagian untuk memperbaiki keadaan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semua pasti berujung kepada biaya, kendati langkahnya sangat sederhana semisal beralih dari konsumsi bahan bakar subsidi ke non subsidi. Namun yang terpenting adalah, sekecil apapun langkah itu, seminim apapun biaya yang dikeluarkan, akan mampu membuat perubahan yang berarti. Sebuah perubahan besar bisa dimulai dari serangkaian perubahan kecil-kecil dan grup ini amat sangat mampu untuk menginisiasinya, jika mau.

Sawangan, 29 November 2014

PNS, Hotel dan Garuda Indonesia

PNS, Hotel dan Garuda Indonesia

Umi Gita Nugraheni

satu hari ini saya dan beberapa teman kantor saya cukup asyik berdiskusi tentang isu alias gosip tentang adanya kebijakan bahwa PNS tidak boleh naik pesawat Garuda ketika melakukan tugas kedinasan di luar daerah. Selain itu PNS juga tidak boleh lagi melakukan rapat atau konsinyering di hotel. kalau ini sepertinya sudah bukan gossip lagi karena Menteri PAN dan RB sudah membuat
(walau belum ada edaran resmi nya). Kebijakan Menteri PAN dan RB ini (katanya) membuat banyak pengusaha
hotel protes.

“Industri dalam negeri kita mau dihancurin. Garuda mau dilemahin. tuh kan jokowow berpihak pada asing!” kata salah satu teman, sebut saja Andi.

“Banyak orang yang gak tahu kalau PNS konsi di hotel atau melakukan perjalanan Dinas itu memberikan multiplayer effect ekonomi. PNS melakukan konsi…anggaran masuk ke hotel dan hotel bisa merangkul tenaga kerja dan lain lain. begitu juga dengan melakukan perjalanan, pake garuda juga memberikan perputaran uang pada maskapai.” jelas teman yang lain, sebut saja Budi.

“Well…tapi mari kita lihat juga temuan BPK dimana banyak kasus perjalanan dinas dan konsinyering yang bodong.” ungkap teman lain lagi, sebut saja Cepi.

Aku pun nimbrung…”Sebenarnya efektif tidak sih kita melakukan rapat di hotel itu? jujur saja…enggak kan?!”

Entah saya cukup heran mengapa begitu pesimis dengan PNS tidak rapat di hotel? PNS tidak memakai Garuda? akan sebegitu bangkrutnya kah dua usaha itu dengan kebijakan itu?

Asal muasal ada kebijakan PNS rapat di hotel dan keluar daerah itu ketika tahun 2003an dimana industri pariwisata kita jatuh karena bom Bali. nah PNS dengan menggunakan Anggaran negara disuruh untuk rapat di hotel dan di luar daerah agar industri pariwisata bangkit. PNS jadi kail pemerintah.

Tapi sekarang industri pariwisata sudah pulih. kebijakan anggaran pun perlahan (dilakukan dari tahun 2013) telah mengarahkan agar PNS kembali rapat di kantor. Secara teknis, itu terlihat jelas dengan Peraturan menteri keuangan di standar biaya (SBM) yang mengatur segala jenis kegiatan yang dilakukan di instansi pemerintah. Terlihat jelas biaya untuk melakukan rapat di hotel diperkecil, dan dimunculkan biaya rapat dalam kantor.

apa sebegitu tergantungnya roda perekonomian Hotel dan Garuda Indonesia pada APBN? apa tidak ada customer lain selain para PNS? toh saat ini wisatawan banyak, begitu juga pengusaha. Dan apakah para pengusaha hotel dan maskapai itu tidak memiliki inovasi bisnis agar gak selalu menggantungkan diri dari APBN.

Kalau masalah tambahan kesejahteraan PNS mengapa tidak anggarannya untuk membuat merit system yang lebih baik. Untuk tunjangan kinerja yang lebih baik bagi PNS yang kinerjanya gemilang. Ini juga meminimalisir temuan BPK dimana masalah perjalanan dinas dan konsiyering sering fiktif.

Selain itu anggaran tersebut juga dapat dialokasikan untuk permasalahan yang lebih pelik yaitu pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.

Ah…saya hanya seorang PNS kroco yang hanya mencoba melihat sisi positif apapun kebijakan yang dijalankan di negeri ini.

Dan diskusi itu diakhiri dengan pernyataan Andi, ” Gue generasi galon, gagal move on.”

Halaaaahhh

Outbond dan berkebun untuk Kagama Virtual (Kavir) dan keluarga

Sudah lama tak ada acara kumpul bareng. Panitia KGG II (Kagama Goes Green II) akan mengadakan outbond anggota Kagama Virtual (KaVir) dan berkebun bagi anak-anak anggota KaVir (little farming).

Kapan? Dimana? Berapa kontribusinya?
Hari minggu, 22 Desember 2013 jam 08.00-selesai.

Kawasan Outbondholic Ancol (utk outbond) dan area little farming di Eco Convention Park (utk berkebun).

Kontribusi outbond Rp 100.000 (termasuk makan siang dan tiket masuk kawasan Ancol dan Outbondholic, tarif normal Rp 120.000 diluar konsumsi).

Bagi 20 peserta berkebun untuk anak-anak (usia : 3-13 tahun) pertama akan mendapatkan GRATIS biaya masuk (di luar biaya makan siang, Rp 40.000).
Setelah kuota 20 anak terpenuhi, kontribusi dikenakan Rp 90.000 (termasuk makan siang, biaya masuk kawasan Ancol dan Eco Convention Park).

Acara outbond ini juga akan memberikan merchandise KaVir pada member ke 10,001.

Utk kontribusi, silakan transfer ke rekening Utty Damayanti , BCA 5235145569.
PIC acara outbond KaVir : Rika (085 7774 200 39).

Disclaimer :
Bagi peserta, terutama berkebun, diharapkan membawa pakaian ganti dan peralatan bersih-bersih diri.

Meeting point berangkat (boleh diusulkan titik2 yg lain) : blok M, Depok, …

Salam,

Lestari Octavia

Catatan dari Panitia Lomba Cerpen KAGAMA VIRTUAL 2013

Kegiatan ini terselenggara berawal dari kerinduan untuk membiasakan dan membudayakan menulis di antara teman-teman alumni UGM yang tergabung dalam KAGAMA (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada ) VIRTUAL. Banyaknya bioskop dan film-film yang dapat diunduh secara gratis membuat dunia membaca dan menulis banyak ditinggalkan. Kami mengamati setiap hari puluhan thread di Grup Facebook Kagama Virtual muncul dengan dinamika diskusi yang tinggi. Kadang kami menemukan mutiara –mutiara pemikiran yang bernilai dalam lautan thread, tetapi hanyut begitu saja. Oleh karena itu dimulailah dengan mengumpulkan blog teman-teman dan mengambil beberapa tulisan untuk dimuat di website www.kagamavirtual.com. Selanjutnya dari diskusi sejumlah alumni, muncul pemikiran yang sama untuk menerbitkan buku. Pilihan pertama adalah membuat antologi cerpen karya teman-teman dan umum. Pembuatan antologi bertujuan meningkatkan mutu tulisan sehingga dibuatlah lomba cerpen untuk umum.

 Kami berharap kegiatan ini menjadi suatu event tahunan, rutin, dan dipertimbangkan dalam karya tulis dan sastra di Indonesia. Panitia Pelaksana adalah AM Lilik Agung, Aroem Naroeni, dan Nur  Laeliyatul Masruroh dengan dukungan dari teman-teman KAGAMA. Pengumuman lomba cerpen mulai dipublikasikan sejak Selasa 1 Oktober 2013 dan waktu akhir pengiriman 11 November 2013. Tema cerpen: “Kisah Masa-Masa Kuliah (Isih Penak Jamanku tho?)”.

 Pada pertengahan Oktober 2013,  baru 21 cerpen masuk, kemudian publikasi digencarkan dengan menyebarkan ke berbagai jaringan media sosial, kampus-kampus di Jakarta, dan tentu saja di kampus UGM. Pada minggu terakhir, 100 naskah cerpen masuk. Lalu pada tiga hari sebelum tanggal penutupan pengiriman naskah, 150 naskah cerpen masuk. Bahkan hingga beberapa hari setelah tanggal penutupan, naskah masih terus berdatangan. Naskah yang datang melewati batas waktu yang ditentukan, sayang sekali tidak bisa diikutkan lomba.

 Oleh karena banyaknya karya yang masuk dan melebihi perkiraan, juri yang terdiri dari Wahyu W Basjir, Tulus Wijanarko, Andreas Maryoto, Sopril Amir, Dwi Nastiti Arumsari Oscar, Suluh Pratita, dan  Sulastama Raharja memutuskan untuk memperpanjang waktu penilaian. Butuh tambahan waktu untuk mereka membaca dan menilai semua naskah yang masuk. Peserta terbuka untuk semua alumni UGM (termasuk panitia) dan umum. Hanya para juri yang tidak diijinkan mengikuti lomba. Para juri menerima naskah tanpa nama peserta sehingga penilaian dilakukan secara objektif sesuai kriteria yang telah ditentukan.

 Total naskah cerpen yang masuk dan bisa disertakan lomba sebanyak 248 dari 213 penulis. Sebanyak 52 peserta atau 24,4% di antaranya adalah mahasiswa dan alumni UGM. Naskah berasal dari seluruh penjuru Indonesia, sampai kabupaten-kabupaten kecil di Jawa, Kalimantan, Sumatra, NTT dan lain-lain. Bahkan ada peserta dari alumni UGM yang tinggal di luar negeri.  Penulis sangat beragam, dari usia SMP sampai pensiunan, dari penulis profesional sampai yang baru saja menulis untuk kali pertama. Mungkin inilah kekuatan dunia media sosial yang mampu menyebarkan informasi ke berbagai penjuru.

Akhirnya dari 248 naskah cerpen itu terpilih pemenang sebagai berikut :

Juara I : Dua Arus Selokan Mataram. Pengarang : Hanif Junaedi Ady Putra (mahasiswa Fakultas Hukum UGM).

Juara II : Kedarpan. Pengarang : Hasanudin Abdurakhman ( alumnus FMIPA UGM)

Juara III : Lanang. Pengarang : Midun Aliassyah (mahasiswa Pasca Sarjana UGM.

 Juara Harapan I : Sebelum Telepon Berdering. Pengarang : Kun Adyan Anindito (mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

 Juara Harapan II : Drupadi dan Lelakinya. Pengarang : Maya Saputri (penulis dan jurnalis)

Juara Harapan III :Tersangka Teroris Itu Teman Istimewaku di Masa Lalu. Pengarang : Nur Laeliyatul Masruroh (penulis, editor, dan alumnus Fakultas Biologi UGM)

Yang masuk dalam antologi:

1. Apa yang Mungkin dari Pintu Itu. Pengarang : Asef Saeful Anwar (mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada).

2. Perjumpaan di Candi Prambanan. Pengarang : Sunaryo Subroto (alumnus Teknik Kimia UGM).

3. Menikah. Pengarang : Haji Arif Arofah (Nama Pena : Hara Hope), penulis, dan alumnus UIN Sunan Kalijaga,Yogyakarta.

4. Saputangan Merah Jambu. Pengarang : R. Toto Sugiarto(penulis dan alumnus Fakultas Ilmu Budaya, UGM)

Pemenang Favorit dan yang akan menjadi cover  buku : Tersangka Teroris Itu Teman Istimewaku di Masa Lalu. Pengarang : Nur Laeliyatul Masruroh (penulis, editor, dan alumnus Fakultas Biologi UGM)

Para pemenang mendapatkan hadiah. Juara I : 3 juta+hadiah dari sponsor. Juara II : 2 juta +hadiah dari sponsor. Juara III : 1 juta + hadiah dari sponsor. Harapan I : 500 ribu + hadiah dari sponsor. Harapan II : 500 ribu + hadiah dari sponsor. Harapan III : 500 ribu + hadiah dari sponsor. Favorit : 1 juta + hadiah dari sponsor.

 Pengumuman pemenang diselenggarakan di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, pada Kamis, 12 Desember 2013, dikemas dalam Dialog Budaya dengan pembicara Anthony Dio Martin (psikolog dan pembicara publik) dan Andrias Harefa (penulis dan pembicara publik). Host acara AM Lilik Agung.

Semua pemenang dan semua peserta lomba cerpen akan mendapatkan buku antologi cerpen.

Buku antologi cerpen ini akan diterbitkan atas biaya Sampoerna Foundation, oleh PT Elex Media Komputindo. Selain dijual di toko buku Gramedia, buku ini akan disebarkan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah di seluruh Indonesia yang memerlukannya, didistribusikan oleh TNT, dan disalurkan melalui Indonesia Mengajar. Panitia mengucapkan terima kasih kepada:

1.      Sampoerna Foundation

2.      PT Elexmediakomputindo

3.      TNT

4.      Galeri Indonesia Kaya

5.       Sinergi

6.      Seluruh pihak yang mendukung kegiatan ini.

Pemenang Lomba Cerpen KAGAMA VIRTUAL

 Cover Buku
Cover Buku

Juara I : Dua Arus Selokan Mataram
Pengarang : Hanif Junaedi Ady Putra, Mahasiswa Fakultas Hukum UGM

Juara II : Kedarpan
Pengarang : Hasanudin Abdurakhman, Alumnus FMIPA UGM

Juara III : Lanang
Pengarang : Midun Aliassyah, Mahasiswa Pasca Sarjana FIB UGM

Juara Harapan I : Sebelum Telepon Berdering
Pengarang : Kun Andyan Anindito, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Juara Harapan II : Drupadi dan Lelakinya
Pengarang : Maya Saputri, Penulis, Jurnalis

Juara Harapan III :Tersangka Teroris Itu Teman Istimewaku di Masa Lalu
Pengarang : Nur Laeliyatul Masruroh, Penulis, Editor, Alumnus Fakultas Biologi UGM

Yang masuk dalam antologi :

1. Apa yang Mungkin dari Pintu Itu
Pengarang : Asep Saeful Anwar, Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

2. Perjumpaan di Candi Prambanan
Pengarang : Sunaryo Broto, Alumnus Teknik Kimia UGM

3. Menikah
Pengarang : Haji Arif Arofah (Nama Pena : Hara Hope), Penulis, Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

4. Saputangan Merah Jambu
Pengarang : R. Toto Sugiarto, Penulis, Alumnus Fakultas Ilmu Budaya, UGM

Pemenang Favorit dan yang akan menjadi cover Buku :

Tersangka Teroris Itu Teman Istimewaku di Masa Lalu, Pengarang : Nur Laeliyatul Masruroh, Penulis, Editor, Alumnus Fakultas Biologi UGM

Sambut Ulang Tahun UGM, Alumni UGM Di Jakarta Gelar Dialog Budaya dan Lomba Cerpen

KAGAMA VIRTUAL

Belajar Peduli dan Berbagi, Sepanjang Hayat

Lifetime Learning, Sharing and Caring

https://www.facebook.com/groups/kagamavirtual/

 

 

SIARAN PERS

Untuk disiarkan segera

 

 

Sambut Ulang Tahun UGM,

Alumni UGM Di Jakarta Gelar Dialog Budaya dan Lomba Cerpen

 

 

Jakarta 12 Desember 2013 – Sejumlah alumni UGM di Jakarta menggelar acara dialog budaya dan lomba penulisan cerita pendek (cerpen). Rangkaian acara ini dimaksudkan menghidupkan lagi semangat persatuan dan kepedulian yang menjadi ruh kehidupan kampus mereka di Yogyakarta, semangat yang kian langka dan terancam dalam kehidupan bangsa akhir-akhir ini karena menguatnya sektarianisme dan ketimpangan sosial.

 

Dialog budaya bertema “Pemuda dan Budaya Bangsa”  digelar di Galeri Indonesia Kaya, mall Grand Indonesia, Jakarta Kamis (12/12) petang dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba penulisan cerpen. Para pembicara dialog, psikolog dan motivator, Anthony Dio Martin, pengamat ekonomi A. Prasetyantoko dan penulis senior Andreas Harefa,   melalui bidang yang mereka kuasai masing-masing menekankan pentingnya peran para pemuda dalam menjaga persatuan dan penegakan keadilan bagi bangsa, untuk lebih menjamin masa depan bangsa. Mereka berbagi keprihatinan atas gampanganya kaum muda sekarang berselisih, hal mana mereka duga akibat hilangnya semangat kebangsaan dalam jiwa kaum muda itu.

 

Selain dialog ada pula pentas musik, monolog bertema sama oleh Ary Lesmana seorang alumni yang menjadi pekerja sosial kemanusiaan dan pengumuman pemenang lomba cerpen bertema kehidupan kampus. Perwakilan juri lomba menerangkan, lomba penulisan cerita pendek digelar dengan harapan dapat menemukan gagasan, harapan dan cerita terpendam tentang semangat kebangsaan di sela-sela kesibukan kuliah. Hasilnya panitia mendapat 248 karya dari dalam dan luar negeri, dan dari berbagai kelompok usia. Meski tema yang muncul kebanyakan berupa asmara dan moralitas pribadi, seperti harapan panitia dan juri, ada juga beberapa karya yang mengaitkan kehidupan kampus dengan persoalan kebangsaan. Dari semuanya, juri kemudian menetapkan 10 karya sebagai pemenang, tidak semuanya berasal dari alumni UGM sendiri. Selain mendapat hadiah uang dan barang, karya-karya terpilih itu akan diterbitkan dalam buku yang diluncurkan sekitar tanggal Dies Natalis UGM, 19 Desember 2013.

 

Lestari Octavia, ketua panitia menyatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya para alumni UGM mengobarkan lagi semangat kebangsaan dan kepedulian pada keadilan yang mereka terima semasa kuliah dulu. Sebelumnya, para alumni penyelenggara acara ini bergabung dalam grup Facebook. Melalui grup itu mereka memperkuat silaturrahmi, berbagi kepedulian termasuk dengan menggalang beasiswa bagi mahasiswa UGM yang tidak mampu tapi berprestasi.

 

Lestari menambahkan selain di Jakarta, sekelompok alumni lain di Yogya mengadakan kegiatan peduli lingkungan berupa pelepasan tukik (anak penyu) ke laut lepas. “Ini bagian dari cara kami menjaga hubungan dengan kampus dan spiritnya,” tandas Lestari.

 

Selain alumni UGM sendiri, kegiatan ini dihadiri pula oleh kalangan umum. Salah satunya, Jacky Prasetyo, bukan alumni UGM, mengaku terkesan dengan acara ini. “Semangat yang diusung panitia ini relevan sekali dengan kehidupan kebangsaan kita saat ini, semoga bisa menular kepada kalangan lebih luas,” katanya.

 

 

 

 

 Info lebih lanjut, hubungi

(1)  Aroem Naroeni, HP 0812 1027363, aroem.naroeni@kagamavirtual.com

(2)  Ajianto Dwi Nugroho HP +62 811 984144, ajianto2000@yahoo.com