Kopdar Jepret, KVers Bersama Arbain Rambey

             Mengasah skill tentu saja penting bagi setiap orang. Ketrampilan apapun itu, jika seseorang mengusainya, dia akan menjadi yang terbaik di bidangnya. Atau, setidaknya bisa menunjang pekerjaannya. Atau, untuk having fun saja juga boleh. Termasuk fotografi. Jika dulu kemampuan fotografi hanya dimiliki kalangan tertentu seperti jurnalis foto atau fotografer studio, kini dimana-mana orang bisa memotret. Sebagian dari mereka mungkin tidak puas dengan hanya bisa jepret, tetapi ingin tahu lebih dalam bagaimana ilmu jepret itu. Berangkat dari itulah teman-teman Kagama Virtual (Kvers) di Jabodetabek berkumpul belajar motret di ODPS (Occi Digital Photography School), Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Sabtu 1 September 2012.

           Peserta yang awalnya ditargetkan 35, ternyata melebihi kuota hingga 40 orang. Mereka dari Jabodetabek, bahkan ada yang dari luar itu. Sebenarnya daya magnet apa yang membuat mereka bersedia meluangkan waktu ke sana? Padahal Jakarta yang macet dan jalanan ruwet seringkali bikin malas orang-orang untuk bepergiaan. Apalagi hanya untuk belajar motret. Bukankah cukup utak-atik sendiri fitur-fitur kamera di rumah? Tentu mereka punya alasan sendiri. “Dari SMA aku sudah minat foto-foto je. Kalau aku ikut kegiatan ini karena acara Kagama, jadi wajib dateng hukumnya, silaturahmi.” demikian alasan Alfian Rasyid, alumni Geofisika fakultas MIPA.

         Lain dengan Alfian, Sofyan Khoirul Anwar, alumni Teknik Geodesi, beralasan “Bukan karena tertarik fotografi, namun karena ingin bertemu teman-teman dan mempererat silaturahmi.” Lhoh!? Sofyan ini tinggal di Bekasi, menuju Jakarta Utara tentu saja bukan jarak yang pendek. Ditambah sepanjang jalan lalu lintas padat merayap dibalut terik matahari yang begitu menyengat. Namun, dia bela-belain datang.

          Sedangkan Mbak Utty Damayanti juga punya alasan sendiri. Selain ingin tahu tentang fotografi, secara umum/sedikit teknisnya, katanya juga ingin, “ketemu temen-teman dan bonus foto-foto yang fun!”

         Oke deh. Apapun alasannya, belajar sesuatu yang dikemas dengan acara berkumpul dengan teman-teman sealmamater memang bisa menjadi alasan penting untuk mengalahkan kendala. Termasuk kendala macet dan malas keluar rumah. Di sana bukan hanya berkumpul belajar fotografi, tetapi menemukan keluarga kedua. Teman-teman yang aman dan nyaman untuk berbagi. “Bukankah Rasulullah bersabda, siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diperbanyak rezekinya hendaknya ia memperpanjang silaturahmi.” tambah Sofyan mempertegas alasannya. Hoho.

Arbain Rambey mengenakan kaos Kelompok Fotografi Kagama buatan KVers. Photo by Eka Novianto N.

Apapun judul acaranya, ketika Kagama Virtual mengadakan “kopi darat” konon memang punya daya tarik tersendiri. Anggotanya terus bertambah. Kegiatannya makin variasi. Suasananya pun makin hangat. Lain waktu jika diadakan pelatihan membuat jamu, pesertanya pun mungkin akan banyak. Ups! Tapi kali ini tentang belajar motret dulu. Pematerinya nggak tanggung-tanggung, kami mengundang fotografer profesional, Arbain Rambey. Redaktur foto Kompas ini jurnalis yang memiliki keahlian dalam fotografi dan penulisan sekaligus.

                Melalui layar proyektor, sore itu Mas Arbain menunjukkan bagaimana mengatur komposisi objek alam dalam pemotretan. Seperti tajuk pohon, perahu sampan, dan sungai dalam satu frame. Gambar yang diambil dengan meletakkan perahu berada di bagian kanan, tentu hasilnya berbeda ketika motret dari angle lain. Arah datangnya cahaya matahari juga akan mempengaruhi hasil foto. Satu obyek alam bisa dipotret dengan berbagai sudut pandang. Keuntungannya, “Bisa dijual ke dua pihak yang berbeda,” ujar mas Arbain.

            Selain itu dibahas juga tentang bagaimana memotret objek manusia dengan latar belakang  alam ataupun bangunan. Menurut Arbain, saat pemotretan, objek manusianya bukan malah menjauh ke belakang mendekati bangunan, tetapi justru maju hingga separuh badan saja yang nampak dengan latar belakang bangunan yang penuh.

            Setelah mendapatkan sekian materi teknik fotografi, lalu mau diapakan hasil jepretan kita? Untuk koleksi pribadi dong atau dipajang di Facebook! Oh, kalau itu wajib. Selain itu, bisakah agar bernilai daya jual? Bagaimana caranya? Arbain mengatakan, seringlah untuk mengunggah hasil jepretan kita di internet, terutama situs yang memang memberi ruang fotografi. Di sana akan membuka peluang foto jepretan kita dilirik untuk kemudian dibeli. Bahkan, Arbain mengaku hidupnya 100% dari fotografi. Dia juga bercerita pernah diundang ke Eropa lantaran seorang nun jauh di sana tertarik dengan karyanya hingga ingin menggunakan keahlian fotografinya.

Tadaaaaa! Inilah salah satu hasilnya. ;-). Photo by Alfian Rasyid.

Meskipun tema acara kali ini “Travelling Photography” namun tidak terbatas hanya soal itu. Peserta boleh bertanya apa saja tentang fotografi dalam kategori apapun. Termasuk fotografi jurnalistik dan studio. Acara diakhiri menjajal praktek fotografi di studio dengan pencahayaan lampu. Seperti biasa, lebih banyak yang dipotret daripada yang motret. Hu-ha, dimaklumi. Oh ya, Arbain sempat menyinggung singkat mengenai sejarah narsis. Berawal dari seorang pemuda bernama Narcissus yang sering bercermin di air karena begitu mencintai dirinya sendiri sehingga tidak bosan melihat wajah sendiri. Jadi, “Foto narsis itu syah!” kira-kira begitu kata Arbain. Baiklah, siap? Satu dua, jepret! 😉

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, Minggu 2 September 2012.

Arbain Rambey : Yang Terpenting dari Fotografi adalah Kemampuan Melihat

“Kamera hanya alat! Sebuah foto tercipta dengan pilihan posisi, pilihan komposisi dan pilihan saat yg tepat untuk menjepretkan rana. “Arbain Rambey.

Maksudnya bagaimana ya quote di atas? Baiklah, ayo kita temui langsung narasumbernya. Kelompok Fotografi Kagama (KFK) akan mengadakan acara Travelling Photography pada Sabtu, 1 September 2012. Lokasi di ODPS Kelapa Gading Work#6, Apartement Summit Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tepatnya pukul 14.00-17.00. Rencananya kita akan dipandu oleh fotografer profesional Arbain Rambey (redaktur foto Kompas, jurnalis yang menguasai fotografi dan penulisan sekaligus).

Menurut lelaki alumni Teknik Sipil ITB itu, “Bagus atau buruk itu tergantung kebutuhan. Semua kamera diperkirakan bagus oleh produsernya, maka dilepas ke pasaran.” Jadi, kalau kita ingin belajar fotografi dengan kamera apapun, ponsel sekalipun, nggak masalah kan?

Acara ini terbuka untuk alumni UGM yang tertarik fotografi, yang pemula, yang amatir, ataupun yang sudah jago.  Beberapa catatan ringkas dan bernas tentang fotografi dari twitter Mas Arbain perlu kita simak :

Apakah kamera saku cukup bagus? Iya! Terutama kalau dilihat kepraktisannya…

Kamera saku juga selalu ada di dalam tas fotografer profesional sekali pun..

Kamera saku 6 Megapiksel sudah sangat cukup untuk membuat foto cetakan 30×20 cm dengan SANGAT BAGUS…..

Bagus atau buruk itu tergantung kebutuhan. Semua kamera diperkirakan bagus oleh produsernya, maka dilepas ke pasaran…

Kamera mahal + tas murahan itu ibarat udah dandan dan nyalon abis2an tapi lalu sandalan ke pesta….

Memakai barang2 terbaik dlm fotografi, sedikit banyak memacu kita utk jg membuat karya2 yg lbh baik…Kalau bersemangat jangan nanggung..

Kamera memang hanya alat, tp bgmn pun Anda tergantung dia….Perlakukan dengan baik!

Out of focus/misfocus itu kalau yg difokus meleset, tapi ada bagian lain tajam….Soft focus itu tajam tapi lembut…

Foto jurnalistik sejatinya berwarna krn realita mmg berwarna. Kini, jika menampilkan hitam putih, harus menyebutkan bhw aslinya berwarna

Backfocusing adl: yg tajam di bagian belakang yg diincar…Frontfocusing sebaliknya….Keduanya akibat kesalahan kalibrasi lensa..

Kerja berat akan terasa sangat ringan kalau ditinggal tidur…(Arbain Rambey, Maret 2011, sedang ngantuk banget…!)

Foto jurnalistik tak perlu model release…. Motret presiden aja bebas kok….

Fotografi digital, selama kameranya OK, kemungkinan kesalahan cuma di metering…sisanya bisa dikoreksi dan diulangi pasca pemotretan..

Harga lensa adalah harga optik…stabil, malah cenderung naik…Kamera adalah harga teknologi yg cepat basi…..

kamera spt Leica, harganya bukan semata harga bahan…dia juga positioning…memilh pangsa pasar/kelas pembeli nya….

Tapi, kalau udah beli kamera, pakai saja…jangan mikir kamera untuk investasi…

Jangan menunda beli kamera hanya karena ingin harganya turun…kapan belinya? Harga terus turun kok…..

Belilah kamera pada saat Anda yakin sedang memerlukannya….Kalau merasa msh bisa menunda, tunda saja! Artinya sebenarnya Anda blm butuh

Para profesional makai kamera gak sempat lihat harga karena semahal apa pun kelau diperlukan, ya harus dibeli…

Beli kamera itu untuk dipakai. Kalau Anda sempat menyesal membeli merek tertentu, berarti Anda beli kamera sekadar untuk punya….

Setelah dipakai lebih dari 4 tahun, kalau kamera digital Anda mati, tak usah mikir untuk reparasi. Udahlah, beli baru saja..

Masih belum puas dengan penjelasan singkat-singkat itu kan? Makanya, ayo ikutan acaranya. Cuma Rp. 50.000 kok (untuk snack dan minum, selebihnya akan disumbangkan untuk beasiswa KAGAMA Virtual). Jangan lupa daftar yah.

Sasaran KPK Gathering : Pulau Rambut

Reportase versi mbak Laeliyatul Masruroh

Pulau Rambut 0

Akhirnya keinginan saya ke Kepulauan Seribu jadi kenyataan. Setelah sekian kali janjian sama teman-teman, sulit mempertemukan jadwal pergi ke sana bersama, akhirnya ketika Group Kagama Virtual -Keluarga Alumi Universitas Gadjah Mada yang diawali bertemu secara virtual-,mengumumkan akan mengadakan reuni di Kepulauan Seribu, tanpa pikir panjang saya langsung daftar.

Untuk mendapatkan kesempatan ke sana, tidaklah terkabul begitu saja. Saat mendaftar, saya bahkan masuk waiting list dahulu, karena peserta terbatas 60. Lalu akhirnya bisa mendapatkan kesempatan setelah diantara 60 orang yang lebih dulu daftar ada yang membatalkan. Asiiik.

Beberapa hari sebelum berangkat, diantara sekian banyak teman itu, sejujurnya hanya satu nama yang benar-benar saya kenal cukup lama, yaitu Dhanti. Kami bersahabat sudah 10 tahun, sejak di kampus UGM. Lainnya, ada yang sudah kenal via Group BBM, sesama alumni JS, ataupun hanya lihat foto dan kalimat-kalimatnya yang beredar di Group Kagama. Eh iya, ada Ulfia, teman yang pernah sekali bertemu ketika acara reuni Kagama di MetroTV, Februari 2012 lalu. Malam sebelum berangkat, saya menginap di rumah Ulfia, karena paginya akan berangkat bareng dijemput mobil Mbak Ayi (Lestari Octavia).

Sebelum berangkat, saya mencari informasi tentang Pulau Rambut. Saat itu baru tahu pulau tersebut ternyata berupa hutan, berlumpur, tidak berpenghuni, dan tentu saja tidak ada penjual. Kami akan menginap di pos jaga atau bikin tenda, bukan di penginapan. Hah?! Terus terang, selama ini saya bukan termasuk orang yang suka jalan-jalan ke medan berat seperti hutan atau pegunungan. Saya hanya khawatir tubuh saya nggak kuat di medan seperti itu, lalu seandainya sakit akan merepotkan orang. Hehe. Ya sudahlah tidak apa-apa, yang lebih penting silaturrahimnya, bertemu kawan-kawan baru, sodara-sodara baru. Bertemu teman-teman sealmamater meski dulu di kampus sama sekali belum pernah bertemu, tetapi biasanya segera akrab dan seperti menemukan sodara lama.

Saya tinggal di Depok, yang ternyata tak jauh dari rumah Ulfia. Ketika Ulfia menjemput, dia bilang bawaan saya banyak banget. Dia bilang cuma bawa diri dan tas slempang kecil. Hah?! Saya pikir, saya membawa barang-barang sesuai dengan petunjuk panitia. Bahkan masih kurang, tidak membawa sleeping bag, karena tidak punya. Satu tas ransel digendong, satu tas tangan, satu lagi tas untuk jaket tebal. Isinya lengkap, baju 3 potong dan pakaian dalam, peralatan mandi, mukena, selimut tebal, obat-obat pribadi, kaos kaki, kaos tangan, topi, senter, make up, cemilan, dan air mineral 1800 liter. Bahkan tadinya saya mau bawa koper beroda. Beginilah tipikal anak rumahan yang hendak pergi ke hutan, rempong! 😀

Lalu, pagi-pagi kami dijemput Mbak Ayi dan Mas Sholeh, di jalanan kami mengangkut juga Mbak Andi Rahmah, Mbak Raisah, Pak Endro, dan Pak WWB. Satu mobil berdelapan! Saat di Bandara Soekarno Hatta barulah kami bertemu dengan teman-teman lain, wajah-wajah yang bagi saya asing.

Dari bandara, kami menuju Tanjung Pasir untuk persiapan naik kapal dan pembagian kaos. Kaosnya ada dua warna, hitam dan putih, desainnya OK banget, meski ukuran terkecil M masih kedodoran buat saya. Di sini suara toa Indri, panitia acara, terdengar untuk pertama kali, untuk mengabsen dan membagi kaos.

Pulau Rambut 1

Lalu, kami naik kapal menuju Pulau Rambut. Saya lupa menghitung waktu, tapi kira-kira 1 jam. Gelombang air laut sedang cukup besar, yang mabuk laut disarankan minum obat.

Sampai di bibir pantai Pulau Rambut, kami disambut dengan sampah-sampah berserakan. Sayang sekali area konservasi seperti ini dipenuhi sampah yang tidak bisa terurai. Banyak plastik, karet ban bekas, sandal jepit, sepatu, juga beberapa sandal bermerk, sayangnya cuma sebelah. Haha.

Setelah meletakkan barang bawaan, suara toa Indri kembali memanggil kami. Sembari menunggu makan siang datang, kami berkenalan dengan permainan. Nama saya Laeli, saya ingin ke Bulan membawa Lampu Peromaks. Boleh? “Boleh.” Kata teman-teman. Sip! Siapa namamu? Lalu, permainan Hujan Badai. Selanjutnya kami dibagi kelompok laki-laki dan perempuan, untuk permainan lagi. Pokoknya seru deh.

Pulau Rambut 3

Makan siang telah siap. Makan siang didatangkan dari pulau seberang. Pulau Untung Jawa, pulau terdekat dengan Pulau Rambut. Di Pulau tersebut konon airnya tidak asin. Nuansa di Pulau untung Jawa juga konon seperti di kota, banyak rumah dan area pertokoan. Kami makan siang yang enak. Ikan laut bakar, sayur kangkung, cumi tepung goreng, dan sambal kecap yang mantap. Mungkin karena ikannya segar ditambah rasa lapar, dilidah rasanya sangat lezat.

Setelah jamaah shalat dhuhur yang di-jamak-qosor dengan ashar, kami berangkat menyusuri hutan, kelompok saya menuju Menara Pandang, untuk melihat bermacam burung yang beterbangan dan duduk di ranting pohon. Menara dibuat dari baja, kami perlu menaiki tangga yang cukup membuat jantung berdebar. Apalagi bagi yang takut ketinggian. Turunnya lebih menyeramkan. Tetapi menyesal kalau tidak mencoba. Karena di atas sana, pemandangannya sangat indah. Jika pakai topi, pastikan terikat kuat. Karena topi salah satu teman kami terbang ditiup anging, nyangkut di tajuk pohon.

Di sepanjang jalan setapak menuju ke sana, kami menemukan pohon dari keluarga Jeruk, kata pemandu jalan, itu tanaman endemik Pulau Rambut. Banyak juga ditemukan Jati pasir, Waru Pantai, Kepuh, dan gadung. Buah kepuh sekilas dari jauh seperti apokat, begaitu juga pohonnya. Umbi gadung ini juga berserakan di sepanjang area hutan, untuk memakannya perlu pengolahan khusus.

Sepanjang perjalanan tidak saya temukan sama sekali tumbuhan keluarga benalu. Hanya ada jenis liana entah apa namanya yang menempel di pohon. Batangnya menempel dan menembus batang tanaman inang, namun akarnya menghujam ke tanah, saya yakin bukan dari keluarga benalu. Mungkin juga karena burung-burung di sana juga didominasi oleh burung sejenis elang, pemakan ikan. Hanya sedikit burung yang memakan buah-buahan. Sedangkan penyebaran biji benalu dibantu oleh burung-burung jenis tertentu.

Biawak narsis di Pulau Rambut 6
Biawak narsis di Pulau Rambut 6

Di sebuah papan di dekat pos jaga, juga terdaftar sejumlah hewan yang bisa ditemui di pulau tersebut. Diantaranya yang besar seperti biawak dan ular berbisa cincin emas. Dalam perjalanan, kami menemukan keduanya. Ular cincin emas kami temui di atas pohon. Menurut penjaga pantai, ular itu sudah seminggu di atas pohon tersebut. Biasanya setelah makan tikus atau bangkai burung, mereka tertidur cukup lama. Sedangkan biawak ditemukan ketika hari menjelang sore. Biawak ini pergi ke pantai pada pagi hari, lalu sorenya pulang ke hutan untuk kemudian tidur di bawah gorong-gorong di sekitar pohon besar.

Di dalam hutan, ada banyak rawa yang ditumbuhi pohon bakau, patahan koral dari laut berserakan seperti tulang diantara akar nafas yang muncul di sana sini. Banyak lubang di sana sini, konon lubang pintu rumah kepiting besar. Saya lulusan Biologi, tapi sepertinya baru pertama kali lihat langsung dari dekat ekosistem seperti ini. Huahahaha.

Setelah jalan-jalan masuk hutan, kami kembali lagi ke Pos Jaga dan tenda. Lalu menjelang magrib, sebagian besar kami masuk hutan lagi ke suatu area untuk mengabadikan momen sunset. Saya berada di rombongan terakhir. Sekitar 6 orang rombongan terakhir ini kehilangan jejak peserta di depannya. Maka kami bolak balik coba-coba arah malah nyasar, akhirnya balik ke tenda. Kami bingung, harus lari ke hutan atau belok ke pantai. Mungkin ini yang dirasakan oleh panyair puisi Kulari ke Hutan, yang dibacakan Dian Sastro dalam film Ada Apa dengan Cinta. Halah! Saya menuju ke dermaga bergabung dengan teman yang sudah ada di sana sejak tadi. Teman yang lainnya yang tadi nyasar, berangkat lagi setelah menemukan satu pemandu yang paham area.

Pulau Rambut 2

Saya menghabiskan senja di dermaga, menikmati matahari yang perlahan tenggelam. Kawanan burung bolak balik terbang, ombak masih terus berdebur kencang. Indah sekali. Menikmati sunset sembari mendengarkan cerita teman-teman angkatan yang lebih tua, tentang kuliah dan kos jaman dulu, jaman mesin ketik. Seru dan serasa saya masih muda banget. Wkwkwk.

Kami berkumpul kembali saat magrib untuk ibadah dan mandi, bagi yang tertarik mandi. Perlu diketahui air asin dan tidak berbusa ketika disabun. Menurut petugas jaga, hanya sabun L*febo* dan sampo *ante** yang mampu menghasilkan busa. Mereka sudah sekian lama di sana, sekian kali uji coba sabun dan sampo. 😀

Malamnya kami makan sup ikan dan tumis cumi. Enak sekali. Acara santai ngobrol apa saja. Lalu permainan dipandu oleh Mbak Any Re dan Mas Eko Eshape. Gayeng. Acara selalu heboh jika ada Koh Ivan dan Pak WWB. Banyak permainan, banyak dorprize. Sayangnya saat itu perut saya melilit, datang bulan tiba, obat pereda sakit gak ketemu, akhirnya cuma duduk menyimak.

Pulau Rambut 4

Paginya, sesaat usai subuh kami berangkat ke bagian timur Pulau untuk mengabadikan momen sunrise. Matahari muncul dari sebelah pulau Untung Jawa. Banyak burung terbang, ombak yang berdebur, dan tajuk pohon membuat sunset terekam sempurna. Sayangnya ada penampakan jalan-jalan sehingga mengganggu pemandangan. Wkwkwk. Kami mengambil momen tersebut diantara sampah-sampah berserakan. Plastik, botol, karet, boneka, sandal jepit, sepatu, dan sayangnya lagi-lagi tidak ada sepatu bagus yang sepasang berserakan. Mau buat oleh-oleh je! 😀

Selanjutnya kami balik ke tenda untuk makan pagi. Kemudian acara tanam hutan mangrove. Acara tanam bakau di Pulau rambut bagian utara. Perjalanan menyusuri pantai, lalu belok hutan. Lagi-lagi, serasa berada di puisi Tentang Kita yang dibacakan Dian Sastro. Setiap peserta dapat satu bibit bakau. Kami menanam di tanah rawa, diantara pohon bakau lainnya. Kemudian, acara bersih pantai, dengan mengumpulkan sampah ke dalam plastik-plastik besar. Sampah banyak sekali di Pulau Rambut karena ada 13 mulut sungai dari Jakarta dan Tangerang yang menuju ke Pulau tersebut. Kami berhasil mengumpulkan sekian plastik besar, mungkin ini tidak seberapa untuk membersihkannya, tapi setidaknya kami mengurangi sampah dan tentu saja jangan sampai menambah. Sampah-sampah yang sudah terkumpul dalam sekian plastik besar tersebut nantinya akan dibawa oleh petugas ke tempat pembuangan akhir di Pulau Untung Jawa, untuk dibakar di sana. Di Pulau Rambut tidak diijinkan menyalakan api untuk membakar sampah ataupun sekedar menyelakan api unggun. Mungkin karena di sana anginnya kencang dan dekat dengan hutan, banyak ranting kering, dikhawatirkan terjadi kebakaran hutan.

Setelah dari tanam bakau, selanjutnya acara bebas. Ada yang menghabiskan waktu di dermaga, atau sekedar memuaskan mendengarkan ombak sembari merebahkan tubuh di rerumputan. Toa Indri masih selalu terdengar, kali ini tentang kesan-kesan teman-teman mengikuti kegiatan ini. Hei acara belum selesai, karena masih ada 2 pulau yang akan kita lalui.

Setelah berkemas dari Pulau Rambut kami berkapal menuju Pulau Kelor. Perjalanan sekitar 30 menit. Dari jauh, pulau ini nampak eksotis. Dari dekat, ternyata memang indah. Pasirnya putih dan lebih bersih dibandingkan Pulau Rambut. Yang khas adalah sebuah benteng yang dibangun dari batu bata. Bagus sekali untuk foto-foto. Juga puluhan atau bahkan mungkin ratusan tetrapod beton yang sengaja ditanam di bibir pantai. Palau Kelor dipotret dari kapal.

Setelah itu kami ke Pulau Onrust, di sini banyak pengunjung dan tentu saja banyak penjual. Tidak semenarik Pulau Kelor, tapi di sini ada reruntuhan bangunan tua dan pepohonan yang asri, bukan hutan. Bagus juga untuk pemotretan. Tentu saja, acara kami kan judulnya Photography Gathering. Pesertanya lebih banyak yang suka dipoto dari pada yang moto. Namanya juga pecinta fotografi, bisa juga pecinta foto pribadi. Wkwkw. Saya tidak punya kamera besar, hanya bawa kamera HP. Tidak punya kamera bagus tidak papa, yang penting pulang bawa oleh-oleh foto-foto bagus. :D. Kami makan siang di Pulau onrust untuk kemudian dilanjutkan perjalanan kapal menuju ke Tanjung Pasir. Selanjutnya pulang ke rumah masing-masing.

Akhirnya sampai rumah dengan selamat, membawa kenangan yang tak terlupakan. Menemukan teman-teman baru, sodara-sodara baru, dan tentu saja foto-foto bagus dari kamera kawan-kawan fotografer. Terima kasih untuk semuanya yang telah mengupayakan acara ini, sehingga semua berlangsung dengan penuh kesan.

Menanam Pohon Bakau di Pulau Rambut
Menanam Pohon Bakau di Pulau Rambut

Diunggah dari notes Facebook mbak Laeliyatul Masruroh

+++

Foto-foto diambil dari sini dan dari FB hasil karya para fotografer KV