Asterix, Obelix, Qederix & Ompongix

Asterix, Obelix, Qederix & Ompongix 

Arief Prihantoro

Mengenang jaman SMA dulu, saat mau tawuran dg sekolahan lain kami para penggembira tawuran selalu datang ke “orang pintar” terlebih dulu.

Ada “orang pintar” di kampung kami yg terkenal mampu menghentikan hujan dan membuat seseorang kebal badan, namanya Lik Gimin. Lik Gimin ini orangnya masih muda, grapyak dan disegani oleh orang2 sekitar krn “kesaktiannya”. Kesaktian ilmunya tsb sering kami saksikan sendiri, terutama ilmu menghentikan hujan dan ilmu kebal badan, sehingga kami percaya dengan keampuhan ilmunya.

Setiap kami mau berangkat tawuran, pagi2 sekali sebelum masuk kelas kami sdh bertandang ke rumah Lik Gimin. Kebetulan tempat tinggal Lik Gimin tidak jauh dari sekolahan kami. Yg dilakukan Lik Gimin pada kami hanya kasih minuman air putih sama jopa-japu komat-kamit. Biarpun cuma segelas air putih buat kami, namun itu sangat manjur membangkitkan semangat berani mati.

Seingatku, tawuran jaman kami SMA dulu tidak seperti jaman sekarang, yg sering menggunakan senjata tajam. Senjata kami untuk tawuran dulu hanya tongkat pukul untuk bermain kasti. Tapi kalau tongkat kasti tsb kena kepala sekeras2nya ya lumayan jg, salah2 bisa pecah jg kepala yg kena pukul. Jadi sebenarnya ya nggak ada beda bahaya alat tawuran jaman dulu dengan jaman sekarang. Namun karena dibekali keyakinan diri setelah minum air putih dari Lik Gimin tersebut, rasanya kami sdh tidak memiliki rasa takut lagi.

Hal yg sering bikin aku senyam-senyum kalau mengenangnya adalah setelah minum air putihnya Lik Gimin aku suka membayangkan ceritanya Asterix dan Obelix. Kami datang bertandang ke rumahnya Lik Gimin serasa datang ke pondoknya dukun suku Galia, simbah Panoramix. Kalau Asterix mendapat seguci air ramuan sakti dari simbah Panoramix, kami mendapat seteguk air putih hasil jopa-japu dan celupan jari-jari Lik Gimin.

Kawan2 dulu memanggilku Qeder (juling), karena waktu masih remaja mataku memang juling. Setelah minum air putihnya Lik Gimin aku dipanggil Qederix oleh kawan2. Masing2 kawan memiliki panggilan sendiri2 sesuai dengan nama parapannya, jika sudah minum airnya Lik Gimin nama parapannya tinggal ditambah akhiran “ix”.

Di medan tawuran, pasukannya simbah Panoramix aka Lik Gimin tsb mmg ampuh2. Hantaman pemukul kasti dr lawan tidak mampu membuat kami jeri dan kesakitan. Entah karena efek plasebo dari air putihnya Lik Gimin ataukah krn air jopa-japunya Lik Gimin memang benar2 membikin kami kebal dengan pukulan, sehingga tdk merasakan sakit saat kena pukul. Padahal kalau nggak minum air putihnya Lik Gimin kami ya jiper juga menerima pukulan dr tongkat kasti. Ah, apapun itu yg penting kami bisa selamat pulang ke rumah dan tidak ada yg pecah kepalanya.

Duh, kalau ingat kenakalan kami jaman dulu suka nggak habis pikir. Sekarang kalau lihat anak2 sekolah pada tawuran suka ngeri sendiri, nggak kebayang gimana waktu tawuran jaman masih muda dulu kok bisa nekat dan kehilangan hati. Kenapa dulu kami bisa kehilangan rasa takut dan rasa kasihan ya ? Kadang2 suka takut kalau membayangkan anak2 laki-laki ku sudah memasuki masa2 SMP atau SMA di Jakarta.

***************************

Air putih sebagai “jamu sakti” ternyata tidak hanya aku temui saat masih SMA saja. Saat aku tugas kerja di Indramayu dan melihat orang2 di desa tempatku tinggal ternyata praktik kebal badan menggunakan “jamu sakti” air putih tsb juga dipraktekkan disini.

Sebetulnya waktu itu aku pengen juga menjajal air sakti made in Indramayu tsb, dan berubah menjadi Ompongix, sesuai dengan parapanku jaman kuliah, si Ompong. Namun karena sdh berkeluarga dan lebih mikirin anak istri aku nggak jadi menjajal air putih made in Indramayu tsb, serta merubah diri jadi Ompongix. Sudah bukan umurku lagi, pikirku.

Ternyata begitu melihat tawuran model Indramayu waktu itu aku jadi bergidik. Pantas saja orang2 disana berbekal kebal badan jika berangkat tawuran. Untung saja aku tidak ikut2an berubah jadi Ompongix.

Tidak hanya di Indramayu, praktek air putih untuk obat sakti kebal badan tsb ternyata dipraktekkan juga di daerah Serang – Banten. Aku sempat melihat saat main ke tempat kawanku di Serang, yg kebetulan calo pasukan demo.

Kebetulan abahnya kawanku ini salah satu pendekar di daerahnya. Menjelang berangkat demo ke Jakarta, malam sebelumnya pasukan demo tsb sdh berkumpul di rumah kawanku ini. Masing2 orang datang dengan berbekal sebotol kecil Aqua. Si abah duduk ditikar, dikelilingi para pasukan tsb, sambil komat-kamit baca rapalan, entah rapalan apa aku juga nggak tahu.

Setelah baca rapalan selesai, jari telunjuk si Abah kemudian dicelupkan ke masing2 botol para pasukan tsb. Minuman Aqua sbg jampi kebal badan tsb menurut ceritanya biasanya diminum menjelang keberangkatan menuju tempat demo, supaya tahan gebuk.

****************************

Ternyata ilmunya simbah Panoramix dalam cerita Asterix & Obelix juga ngetrend di dunia kependekaran di Indonesia. Jangan2 simbah Panoramix tsb aslinya orang Indonesia yang terdampar di lembah gunung Alpen dan dijadikan dukunnya suku Galia…… hihihihihi…….

Tulisan ini ditulis diseberang kali suku Gallia di lembah Gunung Alpen.

Oleh Qederix aka Ompongix

Xixixixixixixi……. Xixixixixixi……

Advertisements

Maaf Yang Masih Tersimpan Untuk Bapak

Maaf Yang Masih Tersimpan Untuk Bapak

Arief Prihantoro

— Sudahkah anda menyampaikan permohonan maaf pada orang-orang yang anda cintai ? Segera sampaikanlah selagi kesempatan itu ada.–

Saat awal-awal kerjaku di Jakarta, bapakku sering berkunjung menengok aku. Mungkin karena tempat kos-ku tidak jauh dari terminal Kampung Rambutan sehingga bapak seringkali datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu dan tidak perlu minta dijemput.

Seperti halnya pada malam itu, di tahun 1995, sepulang dari tempat kerjaku aku menjumpai bapak sedang tidur di kamar kos-ku, nyenyak sekali. Bapak leluasa masuk kamar kos-ku krn aku selalu menitipkan kunci ke ibu kos setiap berangkat kerja. Karena bapak sudah sering berkunjung, ibu kos sudah cukup hafal dengan bapak, sehingga percaya memberikan kunci kamar kos-ku pada bapak.

Malam itu, tidak seperti hari-hari sebelumnya, kamar kos-ku nampak sangat rapi. Buku-buku tersusun rapi. Pakaian2 kotor yg tadi pagi menumpuk, sdh bersih, terseterika serta tertata dengan rapi. Kebetulan seminggu itu aku tidak sempat mencuci dan seterika, karena sedang ada training di kantor pusat, di daerah Sunter. Pagi2 sekali aku sdh berangkat kantor dan pulang menjelang tengah malam.

Pulang kantor melihat kamarku rapi, hasil kerja bapak, aku merasa tidak enak hati dengan bapak. Ada perasaan galau. Terbayang, seharian itu bapak cukup sibuk mencuci, menyeterika dan merapikan kamarku. Bahkan menyiapkan masakan buat aku. Sementara beliau masih capek baru datang dari Semarang.

Malam itu aku tidak bisa cepat tidur, memperhatikan wajah bapak yg sedang tidur nyenyak. Dari kerut di wajahnya aku sadari bahwa bapak nampak makin kelihatan tua. Aku merenung, mengingat sikap2ku pada bapak selama ini. Sbg anak laki-laki tertua aku paling sering ribut mulut dengan bapak, padahal bapak begitu sering menunjukkan perhatiannya yg berlebih padaku.

Aku memang anak kesayangan bapak, sehingga bapak sangat perhatian padaku. Seringkali bahkan bersikap over protective, berlaku ketat dalam banyak aturan. Sikap yg sebetulnya sangat tidak aku suka dan selalu membuatku berontak dan melawan.

Sebagai salah satu sikap berontakku, aku sering berantem di luar rumah, krn merasa terkekang di rumah. Selain itu, sbg bentuk perlawananku yg lain, sejak masih kelas 3 SD aku sdh berkali-kali nekat pergi keluar kota sendiri. Dengan berbekal tabungan uang saku sekolahku, aku sering berangkat sendiri ke rumah nenek di Pati dan di Yogya, . Tentunya dengan memberi tahu ibu bahwa aku mau ke Pati atau ke Yogya. Jaman itu kejahatan penculikan tidak semarak seperti sekarang, shg aku blm takut dengan penculikan dan ibu pun tdk terlalu kawatir. Setelah itu biasanya ibu menjadi sasaran kemarahan bapak. Tapi aku tidak pernah kapok dan ibu selalu siap dimarahi bapak jika aku bepergian ke Pati atau Yogya sendiri.

Sebaliknya dengan bapak, ibu justru lebih memberi keleluasan padaku dalam mengambil sebuah pilihan, dan mengajariku untuk berani bersikap dan bertindak. Pilihanku untuk sekolah di Yogya salah satunya juga karena aku ingin bisa menentukan pilihan2ku sendiri tanpa ada intervensi dari bapak. Aku tidak terlalu perduli mau sekolah dimana dan ambil jurusan apa, yang penting aku bisa keluar dari Semarang.

Sebagai seorang intel di kepolisian, selain ingatannya yg sangat tajam, bapak orangnya sangat disiplin, detail, taat waktu dan taat tempat. Beliau tidak suka melihat kondisi rumah yang berantakan. Setiap barang harus diletakkan pada tempatnya semula, bergeser sedikit saja tangan bapak serasa risi untuk menatanya kembali. Setiap aktivitas harus disiapkan dengan matang dan sangat rinci. Sementara aku orangnya easy going. Bapak orangnya cenderung serius, sedangkan aku terlalu sering bercanda. Bapak Koleris-Melankolis, cenderung Koleris kuat, aku Sanguinis-Plegmatis, cenderung Sanguinis kuat. Seringkali aku ribut sama bapak hanya gara-gara soal kecil, mungkin karena perbedaan kepribadian yang sangat mencolok tersebut.

Pernah suatu kali aku bertanya sama ibu, kenapa bapak over protective padaku sehingga seringkali kami ribut hanya gara2 persoalan yg menurut pertimbanganku hanya soal kecil. Menurut cerita ibu, bagi bapak aku adalah anak istimewanya. Hari wetonku sama dengan weton bapak. Menurut adat Jawa jaman dulu, jika weton bapak dan weton anak laki-lakinya sama maka akan sering timbul ketidakcocokan dan perselisihan antara bapak dan si anak lelakinya. Bahkan seringkali membawa korban pada salah satunya.

Dalam adat Jawa, karena sama dalam weton, si anak harus dibuang atau dijual untuk menyelamatkan masa depan keduanya. Hal itulah yang disarankan oleh nenek dan bude-bude, kakaknya bapak, waktu itu. Bapak marah besar dengan saran itu, dan sempat selama setahun tidak mengijinkan nenek dan bude-bude utk menengok aku, bayi lelaki pertama bapak. Bapak takut aku diculik oleh nenek dan bude-bude untuk kemudian dijual. Pikiran naif bapak menjadikan beliau bersikap over protective padaku. Sikap ini ternyata berkelanjutan hingga aku besar dan membuatku merasa tidak nyaman.

Entah karena kebetulan atau karena adat Jawa tersebut secara empiris memang benar, aku dan bapak terbukti sering “berantem”. Hal itu terjadi bertahun-tahun hingga aku dewasa. Dan seringkali berakhir dengan rasa penyesalan dalam diriku.

Malam itu, sambil memandang wajah bapak, kembali terngiang penjelasan ibu tentang wetonku dan weton bapak. Di satu sisi kami saling sayang dan seringkali saling memberikan perhatian berlebih. Disisi lain kami berdua paling sering ribut, dibandingkan anggota keluarga lain di rumah. Saat itu tiba-tiba aku merasa kangen ingin memeluk bapak dan memijat bapak, yg tentunya sedang kelelahan krn seharian beres-beres kamarku, namun aku urungkan krn merasa kawatir bapak terbangun.

Ternyata tidak berapa lama bapak terbangun. Kemudian aku dan bapak terlibat pembicaraan santai. Bapak banyak cerita tentang kabar ibu serta kakak dan adik-adik. Lama-lama pembicaraan menjadi lebih serius. Bapak mulai membicarakan tentang menjaga kerapihan kamarku dan kemudian juga membicarakan pilihan kerjaanku. Bapak ingin aku menjadi pegawai negeri, atau setidaknya menjadi pegawai pemerintah di BUMN, sedangkan aku sejak lama ingin menjadi pedagang. Aku mulai merasa jengah.

Dengan bahasa Jawa halus namun dengan perasaan dongkol, aku bilang ke bapak “Sudahlah bapak, mulailah berhenti terlalu mengurusi pilihan2 hidup saya. Saya sudah besar dan memiliki hak untuk menentukan masa depan saya sendiri. Dan soal kerapihan kamar, saya juga berbeda dengan bapak. Saya justru sangat tidak nyaman jika kamar terlalu rapi seperti perempuan. Mestinya bapak tadi tidak perlu beres-beres kamar saya dan biarkanlah apa adanya. Saya sudah besar dan saya bisa ngurus diri saya sendiri, jangan perlakukan saya seperti anak kecil terus. Lain kali kalau bapak nengok saya tidak usah lagi repot-repot merapikan barang2 saya. SAYA TIDAK SUKA. Cukup bapak istirahat disini dan setelah saya pulang kerja kita jalan-jalan dan senang-senang saja.” Alih-alih mengucapkan terima kasih karena kamarku sudah dirapikan bapak, malah sebaliknya kalimat itu yg keluar.

Mendengar kalimatku tersebut bapak kemudian terdiam. Aku pikir bapak sedang merenungi kata-kataku dan berharap bapak bisa mengerti. Namun sebaliknya, tanpa aku sadari ternyata bapak menyimpan kekecewaan dengan kalimatku itu. Kalimat itu bagi bapak sangat menusuk perasaan beliau. Dan kekecewaan itu disimpan dan diingatnya hingga menjelang meninggalnya beliau. Setelah percakapan itu kami tidak lagi melanjutkan pembicaraan hingga tertidur. Bertahun-tahun aku tidak pernah menyadari bahwa bapak menyimpan kekecewaan padaku.

Tahun 2003, aku pindah kerja ke sebuah perusahaan BUMN yg cukup besar, krn ditarik oleh Direkturku, dr perusahaan sebelumnya, yg kebetulan pindah kerja ke BUMN tsb. Lima bulan setelah kerja di BUMN tersebut aku menelpon Bapak dengan niat ingin menyenangkan hati beliau krn sudah memenuhi harapannya. Diujung telepon dengan suara terbata-bata terdengar nada suara kebahagiaan dari tonasi bicara bapak. Akupun merasa puas. Saat itu bapak baru saja pulang ke rumah, setelah 3 bulan dirawat di rumah sakit, karena stroke. Aku berharap mudah2an kabar dariku itu membawa kebahagiaan buat bapak dan membangitkan semangat bapak utk sembuh kembali.

Malam hari, setelah aku berbicara melalui telepon dengan bapak, aku bermimpi gigiku tanggal dan dalam mimpiku aku melihat bapak berdiri diatas kuburan kakek, menatapku dengan senyum bahagia. Saat itu aku segera terbangun dengan napas sesak. Aku merasa tidak tenang mengingat mimpiku itu dan sulit memejamkan mata kembali. Jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Rasanya ingin segera telpon ke Semarang, namun aku urungkan menunggu subuh. Setelah subuh baru aku menelepon ke Ibu menanyakan kabar bapak. Alhamdulillah, ternyata masih mendengar kabar baik tentang bapak.

Sejak mimpi itu aku selalu terpikir ke bapak. Aku tidak pernah cerita tentang mimpiku itu ke keluargaku di Semarang, takut mengganggu ketenangan pikiran ibu. Aku hanya menceritakannya pada istriku saja. Namun perasaanku sangat kuat, usia bapak tersisa tidak berapa lama lagi.

Sudah 9 hari sejak mimpi itu tidak terjadi hal buruk dengan bapak. Akan tetapi selama 9 hari itu perasaanku masih kuat bahwa tidak berapa lama lagi Allah akan memanggil bapak. Pada hari itu, hari ke sepuluh sejak bermimpi gigiku tanggal, di kantor beberapa kali HPku berdering pelan. Aku tidak angkat karena kebetulan aku sedang meeting dengan direksi.

Saat istirahat meeting, aku buka HPku dan aku lihat ada 10 kali misscall dari nomer telepon rumah di Semarang. Pada saat yg sama, dengan tergopoh-gopoh sekretarisku mendatangiku seperti ingin menyampaikan sesuatu.

Sebelum sempat keluar satu katapun dari sekretarisku, dengan ekspresi tenang aku spontan bertanya pada dia “Kabar bapak meninggal ya ?” Aku juga nggak tahu kenapa secara spontan pertanyaan itu yg keluar. Aku kemudian heran dengan pertanyaanku sendiri.

“Oh, bapak sudah dapat kabar dari Semarang ?” tanya sekretarisku.

Aku jawab, “Belum !”

“Kok bapak sudah tahu ?” nada heran muncul dr mulut sekretarisku.

“Hanya feelingku saja,” ujarku lagi.

Kabar ini adalah “hadiah” Ulang Tahun yg paling menyedihkan buatku. Ya, saat itu, tanggal 1 Oktober 2003, adalah hari Ulang Tahunku dan aku tidak pernah menyangka bakal mendengar kabar menyedihkan di hari bahagiaku.

Entah, hari itu aku tidak kaget dengan kabar buruk itu, bahkan tanpa menunjukkan emosi sedih. Aku bahkan seperti sudah sangat siap mendengarnya. Segera aku beres-beres meja kerjaku dan kemudian mohon ijin pada direksi untuk pulang ke Semarang. Aku juga menelepon istriku, menyampaikan tentang kabar meninggalnya bapak dan agar segera menyiapkan diri untuk berangkat pulang ke Semarang.

Sepanjang perjalanan pulang baru muncul perasaan sedihku yg mendalam dan sesekali aku menyeka air mata yg menetes dari mataku. Aku semakin sedih dan berurai air mata saat sampai di Semarang kemudian bertanya pada ibu tentang pesan-pesan terakhir dari bapak.

Ibu menyampaikan bahwa seminggu sebelum meninggal bapak sempat bercerita jika bapak pernah sedih dan kecewa terkait soal kalimatku dalam percakapanku dengan bapak di kamar kos-ku tahun 1995 itu. Ternyata kalimat itu sangat membekas di hati bapak. Bapak mengira aku TIDAK SUKA atas perhatian-perhatian bapak selama ini padaku. Namun, meskipun sedih dan kecewa bapak sudah memaafkanku, itu kata ibu.

Selama seminggu menjelang meninggalnya bapak, beliau setiap malam duduk di bangku teras rumah. Setiap kali ditanya ibu, beliau menjawab sedang menunggu aku siapa tahu tiba-tiba aku pulang. Memang aku menjanjikan pada bapak akan segera pulang menengok bapak. Ternyata bapak tidak sabar menanti aku pulang, dan buru-buru pergi karena sudah waktunya Allah memanggilnya.

Aku sangat mencintai bapak. Namun aku tidak pandai menyampaikan rasa cintaku pada bapak. Dan cinta ini masih tertinggal.

Kekasihku….
Cintaku tidak dalam kata-kata
Aku tidak mampu menyusun kata indah untukmu
Namun percayalah cintaku jauh lebih indah dari kata-kata yg mampu aku susun
Sikapku nampak selalu buruk
Namun seandainya kamu tahu, cintaku tak sedikitpun ternoda dg keburukan untukmu
Yakinlah, tak sedikitpun cacat dalam cintaku untukmu

Kekasihku…..
Ada perasaan bersalah masih aku simpan hingga esok hari
Untaian kata maaf pun masih aku simpan dengan rapi
Ingin aku sampaikan sendiri padamu suatu saat nanti
Istirahat tenanglah kekasihku
Doaku tidak akan pernah putus untukmu
Salam cintaku dari atas tanah merahmu

1 Oktober 2011
in memories of my father