Pentas KV di Ancol Bermodal Nekad dan 1 Motor Vixion

cari-cari video flashmob

sebelum pentas, Sabtu 6 Oktober 2012 kami latihan di Depok. Hanya 5 orang yang latihan dan 3 supporter yang datang. Saat itu ada Alfian, Tisna, Rio, Laeli, dan Ulfia yang ikut latihan, sedangkan Imtiyaz, Mas Mimi, dan Siti mensupport kami. hari Sabtu banyak yang sudah memiliki agenda tersendiri, jadi dimaklumi yang bisa datang latihan segelintir saja. Yang penting saat tampil sebanyak sekitar 25 personel bisa menggoyang ballroom.

motor Vixion milik Rio yang digondol maling.

Selain modal nekad, pentas ini juga bermodal 1 Vixion! X_X. Saat latihan ada musibah, motor Vixion milik teman kami, Rio, hilang. Padahal sudah dikunci gembok depan dan belakang. Kami saat itu latihan di lantai dua. Motor di bawah, di dalam gerbang, di sampingnya ada motor lain dan bahkan di belakangnya tertutup mobil. Saat itu ada penjual bakso keliling yang melihat pencurian itu tapi diancam dengan todongan pistol oleh pelaku.

coba-coba pilih koreo.

Latihan dimulai sekitar pukul 10.30 pagi. Kami latihan dengan cari inspirasi dari beberapa video flashmob Gangnam Style di internet. Usai latihan sekitar pukul 16, selanjutnya kami rencana ke Jl. Margonda untuk bergabung dengan Mbak Ayi untuk makan bersama. Saat itu Alfian hendak pulang lebih dulu karena mau malem mingguan (eh! :p), saat turun ke lantai 1,  aku hendak mengantarnya sampai gerbang sembari bilang, “Fian, fotoin aku dengan motor Rio ya.” Sejak latihan di atas, entah kenapa aku ingin sekali foto di atas motor itu, rasanya ingin segera turun mau foto. Karena motor itu memang keren. “Memang motor Rio di parkir dimana?” tanya Fian. Saat itulah kami baru menyadari ternyata motor tidak ada di tempat.

saat di kantor polisi.

Lalu Fian, Tisna, Rio, dan aku mencari dengan motor menembus ke segala arah jalan di area itu. Karena kami berada di kompleks perumahan militer, kami sempat lapor ke tentara. Tetapi karena mereka hanya bertanggungjawab terhadap keamanan di dalam asrama, maka kami disarankan lapor polisi saja. Kemudian barulah kami bolak-bolak ke kantor polisi untuk melapor, lalu menjemput polisi untuk olah TKP ke rumah (saat itu mobil polisi sedang keluar tugas semua, jadi kami harus memfasilitasi kendaraan untuk jemput, kami jemput mereka pakai taksi), mengantar lagi polisi dan saksi, lalu pemeriksaan lagi. Kantor Polsek Cimanggis jaraknya cukup jauh dan ditambah sore itu macet, sekitar 40 menit untuk menempuhnya, hingga tak terasa kami pulang dari kantor polisi sekitar pukul 9 malam. Rio dan Iim diantar Ulfia dengan mobil. Alfian mengantarkan pulang si penjual bakso. Saat itu semua bisa saling diandalkan untuk segera mengambil sikap dan mengurus segala sesuatunya. Salut buat Alfian, Rio, Tisna, Ulfia, dan Iim. Turut prihatin untuk Rio, semoga segera mendapatkan ganti rizki yang lebih baik. Saat pulang malam itu baru saya ingat bahwa sepanjang hari sejak jam 11 pagi teman-teman belum makan. X_X (Pantesan lututku gemeteran). Saat itu ikut shock dan tidak nafsu makan, berita motor ilang memang tiap hari bisa dilihat di TV, tapi baru kali ini menyaksikan kehilangan di depan mata, dalam keadaan pengamanan yang cukup pula.

saat instal pemotong lagu ternyata trial, jadi mau dipotong pake gunting ajah.

Bolak-balik dalam keadaan genting dan derai hujan, tak terasa waktu tiba-tiba semakin malam. Saat itu urusan musik belum kelar, karena sepanjang hari kami belum berhasil memotong dan menggabung lagu. Saat itu yang bisa memotong lagu hanya Mas Mimi, dan dia sudah pulang sebelum kejadian motor hilang. Malam itu dia datang lagi ke kantor polisi untuk mengantarku pulang dan memotong lagu hingga pukul 11 malam. Terima kasih Mas Mimi. Dalam kantuk dan betis berkonde, aku kirimkan lagu hasil potongan ke Fian dkk sebagai back-up. “Kok lagunya cuma 2 menit?” tanya Fian dan Tisna kompak. “Tambahin lagi dong.” Zzzzzzz. Aku pusing, rasanya udah nggak bisa mikir soal lagu, kutinggal bobo.

Paginya, jreeeeng! Aku sebenarnya cemas, ntar pentas entah seperti apa, latihan belum optimal dan jangan-jangan teman-teman kelelahan. Tapi ternyata, hari H, semua tetap semangat. Bahkan Rio yang kehilangan motor pun tetap semangat pentas. Sebelumnya dia bilang, jika tidak ketemu motornya sudah diikhlaskan, jika masih rejekinya, Insyaallah kembali. Sip! Jadi, semua pun terbawa semangat. Ternyata teman-teman yang lain yang tak ikut latihan, dengan mudahnya mau gabung dan bersedia menggila. Dan hasilnya? Tadaaaaa! Baca di sini aja. Terima kasih semuanya. Kalian memang bener-bener kompak, seru, dan syalalala.

Cheers!

Depok, 11 September 2012.

Nur Laeliyatul Masruroh.

Advertisements

Menggila 2 Menit, Pentas Kagangnam Style Juara II di Temu Kangen Kagama 2012

PARODI JOGET KUDA JINGKRAK

KViers saat kalem, setelah menggila.

Euforia Kagama Virtual (Kviers) dalam acara Temu Kangen Kagama di Ecopark Ancol, Minggu 7 Oktober 2012 sepertinya masih terasa hingga kini. Bagaimana tidak, pasukan Merah Hitam itu sepanjang acara riang mondar mandir memenuhi depan panggung, berjoget bebas melengkapi (atau bahkan melebihi) performer utamanya.

Jogetnya pause demi foto dulu. Hebohnya melebihi performer utamanya Sammy Kerispatih.

Mereka tidak saja riang, tetapi juga nekad. Kenekadan itu dimulai sejak group paduan suara berbaju putih-putih (entah apa nama groupnya) menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada, teman-teman Kaviers yang berpakaian dominan merah dan hitam itu duduk berbaris 2 saf persis di depan panggung, juga ketika Ikang Fauzi dan Keris Patih perform, mereka pun turut meriahkan dengan berarak joget bebas di tempat yang sama.

     Terlebih saat pentas utama mereka, Gangnam versi KV alias Kagangnam Style, berlangsung heboh dan spontan. Mereka menggila 2 menit dengan iringan musik Gangnam Style versi Jowo Style digabung versi aslinya milik Psy. Tidak hanya saat pentas, tetapi sepanjang acara aksi mereka menyita perhatian penonton. Dari manakah datangnya sekelompok Merah Hitam itu? Kompak bener? Bahkan, saat pentas mereka menarik Wakil Rektor yang berada di antara penonton untuk ikut joget. Nekad bener!

   

Maksud hati mau niru K-Pop, tapi alamaak susahnya! #Duh Gusti, sinten niki?

“Naje neun ttasaroun ingan jeogin yeoja. Keopi hanjanui yeo yureul. Huo ewyo. Hayyaah, iki opo tho?” Seorang lelaki ingin menunjukan kemampuan gaya K-Pop pada si perempuan. Karena tidak fasih mengucap bahasa Korea, dia perlu membaca teks. Dia bermaksud meniru Korea Pop, bernyanyi dengan bahasa mereka dan bergaya seperti mereka, tapi ternyata alamaak susahnya.

    “Aku wong Jowo, senajan ora iso koyo ngono. Hei, ayo podo jogo budoyo. Hei.” Si lelaki sebagai orang Jawa, meski tidak bisa bergaya ala Korea, ingin meyakinkan untuk menjaga budaya saja. Itulah konsep yang mulanya ingin disampaikan oleh Kagangnam Style. Jaga budaya? Kok begini jadinya? Ups!

   Lupakan soal tema jaga budaya. Mereka itu kami. Pentas kami, Kagangnam Style, bukan sedang membawa tema tersebut, bukan juga untuk merusak budaya. Kami bukan dancer, bukan performer, dan bukan pula juara lomba baris-baris tingkat kecamatan. Kami mungkin semacam orang-orang nekad, nggilani, kreatif, dan semangat menghibur. Justru karena kenekadan itulah yang mungkin mengantarkan kami menjadi juara II. Juara I diraih oleh Fakultas Kedokteran yang menyajikan tarian daerah. Acara yang dihadiri ribuan alumni UGM itu menampilkan kompetisi pentas sekitar 7 kelompok, diantaranya Fakultas Kedokteran, Kagama Virtual, Fisipol, Teknik Arsitektur, dll.

Joget kuda jingkrak oleh Kagama Virtual ini terinspirasi dari K-Pop Gangnam Style yang akhir-akhir masih ramai dibicarakan. Gangnam style sendiri konon sebenarnya parodi gaya orang-orang borjuis di sebuah tempat di Korea yang bernama Gangnam. Sedangnya dance-nya sendiri, menurut penyanyi dan rapper Korea yang mempopolerkan gaya itu, Psy, bahwa Gangnam dance pada dasarnya adalah tari dengan imaging the horse. Karena itu banyak koreo yang meniru gerakan kuda. Gerakan dasarnya sangat mudah, yaitu hentakan kaki kanan-kiri-kanan-kanan dan kiri-kanan-kiri-kiri dengan goyangan khas mirip kuda berjingkrak.

karena belum menemukan dokumentasi pentas, ini versi latihan sesaat sebelum pentas.

Pentas yang berlangsung selama 2 menit (tepatnya 2 menit dan 12 detik) dengan jumlah personel sekitar 25 itu, sebagian gerakan dilakukan secara spontan. Sebagian yang lain terinspirasi dari gabungan flashmob Gangnam Style yang banyak bermunculan di Youtube. Termasuk video dari Jowo Style, yaitu parodi Gangnam Style versi Jawa yang musiknya digunakan di menit pertama pentas mereka. Menit kedua menggunakan musik asli Psy dengan volume lebih keras dari menit pertama untuk menciptakan semangat hentakan berlipat.

      Pada kompetisi pentas itu ternyata tidak hanya Kagama Virtual yang menampilkan musik Gangnam, ada kelompok lain di acara tersebut juga menampilkan pentas dengan musik yang senada. Musik ini memang sedang sangat popoler. Padahal pada awal September 2012, musik ini hanya diketahui oleh para penggemar K-Pop. Namun, karena jogetnya yang khas, popularitasnya melejit dan mendunia. Di Youtube juga banyak ditemukan flashmob Gangnam dari berbagai negara. Dengan berbagai parodi yang tidak menghilangkan gerakan dasar kuda jingkrak.

KViers benar-benar menghadirkan kuda jingkrak. Ckckck!
eh, nemu receh

Gangnam versi KViers juga menampilkan adegan kuda-kudaan seperti yang dilakukan Psy. Adegan spontanitas yang bisa dipastikan mencuri perhatian penonton. Selain itu, saat adegan robot dance,  kami rebutan koin receh yang tumpah dari saku salah satu personel. Jangan tanya apa maksudnya yah, nikmati saja. 😀

     Selamat menikmati. Semoga tidak menyesal menonton kami, karena kami sungguh menikmati joget nekad ini. Terima kasih tidak terjadi penggalangan sandal penonton atas kegilaan ini. 😀

PS. 1. Berhubung juru kamera dan juru video KV malah ikut joget, jadi  foto pentas yang representatif tidak terdokumentasi. Menunggu penonton ada yang memberitahu kami bahwa mereka memiliki foto kami. 😀

2. Selain modal nekad, pentas ini juga bermodal 1 Vixion, selengkapnya baca di sini.

Depok, 10 Oktober 2012.

Nur Laeliyatul Masruroh

Kopdar Ngumpulin Tanda Tangan

Photo by Novian Wijaya

“Mas pernah pacaran dengan kembang kampus?” tanya seorang perempuan memulai perkenalan dengan laki-laki yang sedang berdiri di antara kerumunan. Perempuan itu sembari menyodorkan selembar kertas dan pena, sekaligus minta tanda tangan. Apa nggak ada topik lain ya, mulai perkenalan kok dengan pertanyaan seperti itu? Tunggu dulu, ini bukan perkenalan biasa. Acara ospek? Hm, ikuti dulu lanjutannya.

“Diantara kolom ini ada yang sesuai dengan njenengan, Mbak?” pertanyaan kali ini untuk perempuan berjilbab yang sedang duduk di halaman bertenda. Seorang yang bertanya itu masih dengan kertas berkolom dan pulpen untuk mengumpulkan tanda tangan.

Di teras bertenda, Komplek PJA DPR RI, D3-300

“Oh, aku cinlok dengan Mas Ganjar saat KKN,” jawab mbak Atik, istri tuan rumah sembari menandatangani sebuah kolom. Mereka, sekitar 70 orang yang berkerumun pernah menjadi mahasiswa di kampus UGM Yogyakarta. Saat itu, Ahad 16 September 2012, bukan sedang kegiatan ospek, melainkan acara reuni Kagama Virtual sekagus syawalan di kediaman Mas Ganjar Pranowo di komplek Perumahan Anggota DPR RI, Kalibata, Jakarta Selatan.

Para tamu yang hadir adalah alumni UGM dari berbagai angkatan dan berbagai fakultas, jadi tidak semua saling kenal. Makanya perlu dibuat perkenalan khusus untuk memudahkan saling mengingat. Setiap peserta dibagi satu lembar kertas yang berisi 25 kotak. Masing-masing kotak berisi keterangan khusus, diantaranya “pernah pacaran dengan kembang kampus”, “memakai kaos Kagama Virtual”, “pernah cinlok saat KKN” dll. Mereka saling mencari tanda tangan teman yang sesuai dengan keterangan kolom.

Beginilah ruang tengah rumah dinas anggota DPR RI. 🙂

Selanjutnya acara agak berbeda dengan reuni-reuni Kagama sebelumnya. Karena Mas Ganjar baru saja mendaftar calon Gubernur Jawa Tengah, dalam sambutannya tak bisa dihindari muncul muatan politik. Mas Ganjar menyinggung tentang pengelolaan pajak bangsa ini yang belum optimal. Juga hal-hal yang bisa dikonstruksikan dalam konteks kepemimpinan. Selain itu anggota DPR Komisi IV dari fraksi PDIP ini mengaku memiliki strategi gerakan khusus, namun tidak bisa diungkapkan saat itu. Lhoh kenapa? Saat itu kebetulan dia menjawab pertayaan dari teman kader PKS. “Strategi tidak akan saya kasih kecuali PKS juga akan mendukung saya hari ini! “ sahutnya. Gelak tawa teman-teman pun pecah di ruang tamu. Suasana makin seru dan hujan banyolan lantaran kehadiran senior Mas Puthut Gambul, Mas Hasto, dan Mas Irvan yang punya sejuta komentar. Membuat acara tambah gerrr.

“Ssst.. ssst…sst..” bisik-bisik, awas inteligen dimana-mana.

                Saat makan siang dan waktu ibadah, mereka menikmati acara bebas. Yang di dekat pintu sedang ngobrol soal pekerjaan, yang di kursi makan sedang nostalgia jaman kuliah, yang di teras ngobrol ngalor ngidul, yang di pojokan sedang curhat masalah gebetan, dan yang di ujung tenda samar-samar terdengar nama Jokowi disebut-sebut. Ah iya, sekian hari lagi pemilihan Gubernur DKI. Jokowi sebagai kandidat DKI 1 sekaligus keluarga alumni UGM, tentunya tidak mengherankan jika punya pendukung dari kalangan teman-teman sealmamaternya. Pantas saja sejumlah orang berbaju kotak-kotak hadir di sana. Entah penyusup atau memang Kagama juga ya? Hihi. Juga, penulis buku tentang Jokowi, yang juga anggota Kagama, hadir di sana.

Duh, nyanyinya jangan keras-keras Mbak, Mas. Khawatir didengar produser rekaman. Khawatir ditolak! :p

Meski acara diwarnai nuansa politik, jangan pikir acara ini lantas membosankan. Buat yang tidak tertarik politik pun, punya ruang untuk hal lain. Bahkan, karaoke di teras bertenda sampai sore. Dengan suara pas-pasan, dan lebih banyak yang fals, diiringi organ tunggal, mereka nyanyi lagu-lagu lawas. Ini karena menyesuaikan yang pegang alat musik, koleksinya hanya lagu-lagu lama. Maklumlah, yang bersangkutan angkatan senior. Untunglah, ada satu lagu yang familiar oleh semua generasi. “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut…” lagu Yogyakarta ini membawa mereka kembali ke masa kampus. Merekatkan kembali kenangan-kenangan yang mungkin hampir retak. Termasuk kenangan seperti yang tercantum di salah satu kolom lembar perkenalan, kenangan bagi mereka yang pernah memiliki cerita dengan kembang kampus.

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, 17 September 2012.

Kopdar Jepret, KVers Bersama Arbain Rambey

             Mengasah skill tentu saja penting bagi setiap orang. Ketrampilan apapun itu, jika seseorang mengusainya, dia akan menjadi yang terbaik di bidangnya. Atau, setidaknya bisa menunjang pekerjaannya. Atau, untuk having fun saja juga boleh. Termasuk fotografi. Jika dulu kemampuan fotografi hanya dimiliki kalangan tertentu seperti jurnalis foto atau fotografer studio, kini dimana-mana orang bisa memotret. Sebagian dari mereka mungkin tidak puas dengan hanya bisa jepret, tetapi ingin tahu lebih dalam bagaimana ilmu jepret itu. Berangkat dari itulah teman-teman Kagama Virtual (Kvers) di Jabodetabek berkumpul belajar motret di ODPS (Occi Digital Photography School), Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Sabtu 1 September 2012.

           Peserta yang awalnya ditargetkan 35, ternyata melebihi kuota hingga 40 orang. Mereka dari Jabodetabek, bahkan ada yang dari luar itu. Sebenarnya daya magnet apa yang membuat mereka bersedia meluangkan waktu ke sana? Padahal Jakarta yang macet dan jalanan ruwet seringkali bikin malas orang-orang untuk bepergiaan. Apalagi hanya untuk belajar motret. Bukankah cukup utak-atik sendiri fitur-fitur kamera di rumah? Tentu mereka punya alasan sendiri. “Dari SMA aku sudah minat foto-foto je. Kalau aku ikut kegiatan ini karena acara Kagama, jadi wajib dateng hukumnya, silaturahmi.” demikian alasan Alfian Rasyid, alumni Geofisika fakultas MIPA.

         Lain dengan Alfian, Sofyan Khoirul Anwar, alumni Teknik Geodesi, beralasan “Bukan karena tertarik fotografi, namun karena ingin bertemu teman-teman dan mempererat silaturahmi.” Lhoh!? Sofyan ini tinggal di Bekasi, menuju Jakarta Utara tentu saja bukan jarak yang pendek. Ditambah sepanjang jalan lalu lintas padat merayap dibalut terik matahari yang begitu menyengat. Namun, dia bela-belain datang.

          Sedangkan Mbak Utty Damayanti juga punya alasan sendiri. Selain ingin tahu tentang fotografi, secara umum/sedikit teknisnya, katanya juga ingin, “ketemu temen-teman dan bonus foto-foto yang fun!”

         Oke deh. Apapun alasannya, belajar sesuatu yang dikemas dengan acara berkumpul dengan teman-teman sealmamater memang bisa menjadi alasan penting untuk mengalahkan kendala. Termasuk kendala macet dan malas keluar rumah. Di sana bukan hanya berkumpul belajar fotografi, tetapi menemukan keluarga kedua. Teman-teman yang aman dan nyaman untuk berbagi. “Bukankah Rasulullah bersabda, siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diperbanyak rezekinya hendaknya ia memperpanjang silaturahmi.” tambah Sofyan mempertegas alasannya. Hoho.

Arbain Rambey mengenakan kaos Kelompok Fotografi Kagama buatan KVers. Photo by Eka Novianto N.

Apapun judul acaranya, ketika Kagama Virtual mengadakan “kopi darat” konon memang punya daya tarik tersendiri. Anggotanya terus bertambah. Kegiatannya makin variasi. Suasananya pun makin hangat. Lain waktu jika diadakan pelatihan membuat jamu, pesertanya pun mungkin akan banyak. Ups! Tapi kali ini tentang belajar motret dulu. Pematerinya nggak tanggung-tanggung, kami mengundang fotografer profesional, Arbain Rambey. Redaktur foto Kompas ini jurnalis yang memiliki keahlian dalam fotografi dan penulisan sekaligus.

                Melalui layar proyektor, sore itu Mas Arbain menunjukkan bagaimana mengatur komposisi objek alam dalam pemotretan. Seperti tajuk pohon, perahu sampan, dan sungai dalam satu frame. Gambar yang diambil dengan meletakkan perahu berada di bagian kanan, tentu hasilnya berbeda ketika motret dari angle lain. Arah datangnya cahaya matahari juga akan mempengaruhi hasil foto. Satu obyek alam bisa dipotret dengan berbagai sudut pandang. Keuntungannya, “Bisa dijual ke dua pihak yang berbeda,” ujar mas Arbain.

            Selain itu dibahas juga tentang bagaimana memotret objek manusia dengan latar belakang  alam ataupun bangunan. Menurut Arbain, saat pemotretan, objek manusianya bukan malah menjauh ke belakang mendekati bangunan, tetapi justru maju hingga separuh badan saja yang nampak dengan latar belakang bangunan yang penuh.

            Setelah mendapatkan sekian materi teknik fotografi, lalu mau diapakan hasil jepretan kita? Untuk koleksi pribadi dong atau dipajang di Facebook! Oh, kalau itu wajib. Selain itu, bisakah agar bernilai daya jual? Bagaimana caranya? Arbain mengatakan, seringlah untuk mengunggah hasil jepretan kita di internet, terutama situs yang memang memberi ruang fotografi. Di sana akan membuka peluang foto jepretan kita dilirik untuk kemudian dibeli. Bahkan, Arbain mengaku hidupnya 100% dari fotografi. Dia juga bercerita pernah diundang ke Eropa lantaran seorang nun jauh di sana tertarik dengan karyanya hingga ingin menggunakan keahlian fotografinya.

Tadaaaaa! Inilah salah satu hasilnya. ;-). Photo by Alfian Rasyid.

Meskipun tema acara kali ini “Travelling Photography” namun tidak terbatas hanya soal itu. Peserta boleh bertanya apa saja tentang fotografi dalam kategori apapun. Termasuk fotografi jurnalistik dan studio. Acara diakhiri menjajal praktek fotografi di studio dengan pencahayaan lampu. Seperti biasa, lebih banyak yang dipotret daripada yang motret. Hu-ha, dimaklumi. Oh ya, Arbain sempat menyinggung singkat mengenai sejarah narsis. Berawal dari seorang pemuda bernama Narcissus yang sering bercermin di air karena begitu mencintai dirinya sendiri sehingga tidak bosan melihat wajah sendiri. Jadi, “Foto narsis itu syah!” kira-kira begitu kata Arbain. Baiklah, siap? Satu dua, jepret! 😉

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, Minggu 2 September 2012.

Reuni, Bukan Hanya Tempat Singgah, Tapi Rumah

Sebagai pendatang di suatu kota, siapapun pasti ingin memiliki banyak teman. Mencari komunitas yang bukan hanya tempat singgah, tetapi juga rumah. Dimana di sana kita bisa menemukan keluarga kedua. Itulah mengapa kita menjadi merasa memiliki hubungan kekeluargaan ketika di perantauan bertemu dengan teman sealmamater. Karena itu, teman-teman alumni UGM yang berada di Depok mengadakan acara Buka Bersama pada Sabtu, 28 Juli 2012 di Pondok Laras, Depok.

Sore itu diawali dengan 6 orang di Pondok Laras. Ada yang sebelumnya sudah saling kenal, ada yang belum. “Kayaknya aku nggak asing denganmu. Apakah kita pernah kenal?” itu pertanyaan saya untuk Adit. Alumni Peternakan, angkatan 2005. “Tapi dimana ya?” Setelah diingat-ingat, ternyata kami memang pernah kenal. Enam tahun lalu, kami pernah berkegiatan dalam satu tim. Pendampingan sekolah darurat di Bantul, usai gempa Mei 2006. Setelah itu saling kehilangan kontak. Baru ketika reuni kecil itu, kami dipertemukan kembali. Alhamdulillah.

Begitulah, reuni mempertemukan tulang-tulang yang berserakan. Mempertemukan Mas Mimi (Sriyanto, Akuntansi 2000), Adit, dan Ivan Manbaul Munir (Peternakan 2005) yang ternyata dulu pernah satu kos di Klebengan. Acara ini ngobrol bebas, saling bercerita dan menanyakan tentang kesibukan selama ini. Dan tentang apa saja. Acara dibuka oleh Tisna Surya Adi Prenanto (Sosiologi, 2005), dilanjutkan Kultum oleh Adit. Saya juga bertemu dengan dua teman yang pernah satu kos di Asrama Putri Pertiwi, Pogung Kidul. Siti Zuhriyyah Musthofa (Biologi 2000, istri Sriyanto) dan Desti Isnaeni (Biologi 2005). Saat itu hadir juga Ajeng Prameswari (Administrasi Negara 2007, pacar Tisna :)). Kami yang duluan datang, menunggu teman-teman lain yang masih terjebak macet.

Acara tambah ramai karena diantara kami ada 4 balita. Putra mas Ivan, putra Mas Mimi, dan dua putra putri pasangan Mbak Ayi (Lestari Octavia, Kimia 1994)-Mas Muhammad Sholeh (Teknik Mesin 1996).  Oh iya, Mas Ivan datang bersama istrinya, putranya masih berumur hitungan bulan.

Kemudian satu persatu berdatangan. Ada Septy Nurul (Teknik Geodesi, 2005), Sofyan Khairul Anwar (Teknik Geodesi 2005), Widiantoro (Hukum 2003), dan Ulfia Mutiara (Farmasi 2005). Jadi, berapakah jumlah semua yang hadir? Coba deh hitung. 🙂

Saat itu acara ramai sekali. Bukan hanya karena kelompok kami, tetapi juga kelompok lain di meja sebelah. Dalam bulan Ramadhan seperti ini memang musimnya Buka Bersama, rumah makan selalu penuh pengunjung. Apalagi Pondok Laras. Untuk bisa pesan tempat tersebut, butuh perjuangan tersendiri. Hoho.

Saat perkenalan, suara kami tertelan oleh bising di sekitarnya. Makanya kami harus menyebut nama berkali-kali. Perlu dicek ulang apakah satu sama lain saling ingat nama. Ketika diantara kami ternyata ada yang lupa nama teman, sebelum pulang dia harus cuci piring. Untunglah semua pulang tanpa harus cuci tangan dulu, apalagi cuci piring. :p

Pondok Laras

Di Depok, ada beberapa pilihan rumah makan yang oke buat ngumpul. Saat itu pilihan kami jatuh pada Pondok Laras karena kami mencari tempat makan selain mall. Di sana saungnya oke dan tempatnya strategis. Selain itu, harganya cukup terjangkau. Harga tiap menu makanan besar kira-kira Rp. 30-60 ribu. Bandingkan dengan Rice Bowl Detos yang permenu minimal Rp.110.000an.  Jadi berapakah iuran perorang? Sebenarnya tergantung pilihan menu masing-masing. Jika uang iuran berlebih, akan disumbangkan ke kas Beasiswa Kagama Virtual. Saat itu uang sisa Rp. 159.000. Uang dibawa Ulfia untuk segera ditransfer kepada yang berhak.

Acara ini merupakan bagian dari acara-acara Buka Bersama Kagama Virtual di wilayah lain. Reuni-reuni seperti ini memang dapat mengikatkan kembali kontak yang telah lepas. Atau menambah ikatan baru. Diharapkan juga bisa makin mempererat silaturrahim dan membuka banyak jalan kebaikan. Kita yang tadinya merasa sendiri di suatu kota, kini bisa menemukan komunitas yang (semoga) bukan hanya tempat singgah, tetapi juga “rumah.” Tempat dimana hati-hati kita berkumpul. Tempat yang aman dan nyaman untuk berbagi dan bercanda. Jiaaah! :p. Kita akan bertemu lagi di acara-acara reuni atau kopdar Kagama berikutnya. Insyaallah.

Arbain Rambey : Yang Terpenting dari Fotografi adalah Kemampuan Melihat

“Kamera hanya alat! Sebuah foto tercipta dengan pilihan posisi, pilihan komposisi dan pilihan saat yg tepat untuk menjepretkan rana. “Arbain Rambey.

Maksudnya bagaimana ya quote di atas? Baiklah, ayo kita temui langsung narasumbernya. Kelompok Fotografi Kagama (KFK) akan mengadakan acara Travelling Photography pada Sabtu, 1 September 2012. Lokasi di ODPS Kelapa Gading Work#6, Apartement Summit Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tepatnya pukul 14.00-17.00. Rencananya kita akan dipandu oleh fotografer profesional Arbain Rambey (redaktur foto Kompas, jurnalis yang menguasai fotografi dan penulisan sekaligus).

Menurut lelaki alumni Teknik Sipil ITB itu, “Bagus atau buruk itu tergantung kebutuhan. Semua kamera diperkirakan bagus oleh produsernya, maka dilepas ke pasaran.” Jadi, kalau kita ingin belajar fotografi dengan kamera apapun, ponsel sekalipun, nggak masalah kan?

Acara ini terbuka untuk alumni UGM yang tertarik fotografi, yang pemula, yang amatir, ataupun yang sudah jago.  Beberapa catatan ringkas dan bernas tentang fotografi dari twitter Mas Arbain perlu kita simak :

Apakah kamera saku cukup bagus? Iya! Terutama kalau dilihat kepraktisannya…

Kamera saku juga selalu ada di dalam tas fotografer profesional sekali pun..

Kamera saku 6 Megapiksel sudah sangat cukup untuk membuat foto cetakan 30×20 cm dengan SANGAT BAGUS…..

Bagus atau buruk itu tergantung kebutuhan. Semua kamera diperkirakan bagus oleh produsernya, maka dilepas ke pasaran…

Kamera mahal + tas murahan itu ibarat udah dandan dan nyalon abis2an tapi lalu sandalan ke pesta….

Memakai barang2 terbaik dlm fotografi, sedikit banyak memacu kita utk jg membuat karya2 yg lbh baik…Kalau bersemangat jangan nanggung..

Kamera memang hanya alat, tp bgmn pun Anda tergantung dia….Perlakukan dengan baik!

Out of focus/misfocus itu kalau yg difokus meleset, tapi ada bagian lain tajam….Soft focus itu tajam tapi lembut…

Foto jurnalistik sejatinya berwarna krn realita mmg berwarna. Kini, jika menampilkan hitam putih, harus menyebutkan bhw aslinya berwarna

Backfocusing adl: yg tajam di bagian belakang yg diincar…Frontfocusing sebaliknya….Keduanya akibat kesalahan kalibrasi lensa..

Kerja berat akan terasa sangat ringan kalau ditinggal tidur…(Arbain Rambey, Maret 2011, sedang ngantuk banget…!)

Foto jurnalistik tak perlu model release…. Motret presiden aja bebas kok….

Fotografi digital, selama kameranya OK, kemungkinan kesalahan cuma di metering…sisanya bisa dikoreksi dan diulangi pasca pemotretan..

Harga lensa adalah harga optik…stabil, malah cenderung naik…Kamera adalah harga teknologi yg cepat basi…..

kamera spt Leica, harganya bukan semata harga bahan…dia juga positioning…memilh pangsa pasar/kelas pembeli nya….

Tapi, kalau udah beli kamera, pakai saja…jangan mikir kamera untuk investasi…

Jangan menunda beli kamera hanya karena ingin harganya turun…kapan belinya? Harga terus turun kok…..

Belilah kamera pada saat Anda yakin sedang memerlukannya….Kalau merasa msh bisa menunda, tunda saja! Artinya sebenarnya Anda blm butuh

Para profesional makai kamera gak sempat lihat harga karena semahal apa pun kelau diperlukan, ya harus dibeli…

Beli kamera itu untuk dipakai. Kalau Anda sempat menyesal membeli merek tertentu, berarti Anda beli kamera sekadar untuk punya….

Setelah dipakai lebih dari 4 tahun, kalau kamera digital Anda mati, tak usah mikir untuk reparasi. Udahlah, beli baru saja..

Masih belum puas dengan penjelasan singkat-singkat itu kan? Makanya, ayo ikutan acaranya. Cuma Rp. 50.000 kok (untuk snack dan minum, selebihnya akan disumbangkan untuk beasiswa KAGAMA Virtual). Jangan lupa daftar yah.

Tips Persiapan PhD di Jerman

Tips ini disampaikan oleh Mas Ferizal Ramli saat diskusi di tread group Kampung UGM, 19 Juni 2012. Dari pada info hanya melintas di tread, kemudian lenyap, lebih baik saya copy paste di sini. 🙂

:

Ada hal penting untuk dapat sekolah di Jerman jika kita tidak ingin incar bea siswa. Kunci utamanya adalah dapatkan Professor Pembimbing untuk Program Doktor. Harus diingat filosofis Program Doktor di Jerman itu hubungan antara pembimbing dengan yang dibimbing ibarat Kyai dan Santri. Sangat erat!

Jika disistem Anglo-Saxon maka Professor Pembimbing disebut Supervisor atau Promotor, klo disistem Jerman maka disebut Doktorvater atau Doktormutter alias Bapaknya Doktor atau Ibunya Doktor. Jadinya, Professor pembimbing itu amat berkuasa penuh atas nasib anda seperti nasib anak balita kita yang amat tergantung pada kita.

Oleh karena itu kuncinya cari Professor pembimbing.

Apa tipsnya untuk bisa berburu Professor?
Pertama: Siapkan semua modal anda untuk menjual diri

Kedua: Ikuti saran saya untuk strategi pendekatannya

PERTAMA:

Modal anda adalah:
1. Proposal Riset Doktor yang bagus!

Catatan: Workshop yang akan saya adakan di Yogya salah satu materinya pelatiah bagaimana membuat Proposal Doktor yang bagus. Jika anda sudah kirim CV ke saya melalui email ferizal.ramli@yahoo.com maka nanti akan saya ikut sertakan.

Salah seorang trainer berpengalaman akan ajarakan anda bagaimana membuat proposal riset yang bagus menurut standard Jerman.

2. Membuat CV yang bagus
3. (Akan lebih baik lagi) nilai sekolah Master anda bagus dari Univ yang punya reputasi tinggi
4. Tentu saja memenuhi administrasi TOEFL (klo B. Jerman tidak mutlak karena nanti akan dikasih kursusnya).

KEDUA:
Bagaimana cara berburu Professor?

1. Anda bisa searching di link ini http://www.hochschulkompass.de/en.html

Itu link adalah host yang terhubung diseluruh Univ di Jerman. Nah cari Universitas mana yang menawarkan jurusan yang anda inginkan.

2. Setelah anda menemukan Univ yang tawarkan jurusan yang anda inginkan maka mulai masuk ke websitenya lalu cari nama-2 Professornya.

3. Setelah anda menemukan nama Professor maka segera cari informasi publikasi apa saja serta riset apa saja yang sedang dan sudah dilakukan.

4. Pahami publikasi yang telah di-publish di Jurnal oleh sang Professor tersebut. Cari titik-titik persinggungan antara proposal riset anda dengan publikasi sang Professor tersebut.

5. Setelah anda mendapatkan semua point titik persinggungan, anda tahu persis apa keahlian Professor tersebut maka saatnya anda ontak langsung melalui email.

Tunjukkan bahwa anda sudah melahap semua jurnal-2 yang dipulikasikan si Professor. Ceritakan bahwa anda berminat dengan kajian. Dan minta dia membimbing anda.

Biasanya cara ini langsung membuat Professor jatuh hati pada anda.

6. Untuk wawancara dengan Professor Jerman akan lebih bagus jika ikut Workshop di Yogya bulan September sehingga bisa tahu point mana yang paling penting diartikulasikan saat bicara dengan Professor Jerman

7. Jika anda sudah dapat Letter of Acceptance maka urusan biaya, dll bisa anda bicarakan dengan Professor

“Jadi gampangkan untuk bisa Kuliah Doktor di Jerman? :)” kata Mas Ferizal.