OASE PAHLAWAN

OASE PAHLAWAN

Muhamad Kundarto

Pahlawan hanyalah sebutan
Bagi mereka yang sudah ditelan jaman
Pahlawan hanyalah penghargaan
Tanpa terasa bagi yang melakukan

Sebutan pahlawan bukanlah tujuan
Karena perbuatan jadi pengabdian
Tanpa berharap gelar pahlawan
Karena semua untuk banyak orang

Pahlawan masa lalu tinggallah pusara
Membisu diantara tanah-tanah pesarean
Tak peduli tabur bunga dalih kepedulian
Tak peduli siapa pemetik kemenangan

Pahlawan masa kini jadi dagangan
Bertebar figur-figur yang sok pahlawan
Semakin pudar makna sebuah pengabdian
Semakin sedih memaknai pengorbanan

Pernahkah kita bermimpi
Jadi pahlawan untuk semesta
Menabur bakti tanpa mengejar pundi
Pernahkah……

created by Ki Asmoro Jiwo

Advertisements

mengenal kehidupan kucing

MENGENAL KEHIDUPAN KUCING

Doeloe tahun 80an di kampoeng halaman (Kendal-JawaTengah), aku terbiasa memelihara beberapa ekor kucing. Bagaimana cara memberi makan, cara mengelus agar dia tunduk, dan mengamati pola kehidupan kucing dan anak-anaknya.

Untuk memberi makan, kami biasa mengunyah gereh (ikan asin, red) goreng tepung, kemudian hasil kunyahan itu dicampur dengan nasi secukupnya. Ramuan nasi terselimuti oleh aroma gereh, membuat kucing-kucing lahap memakannya. Kalau aroma ikan asin tidak merata dengan nasi, maka kebanyakan hanya ikannya saja yang dimakan, kecuali si kucing memang sudah super kelaparan. Bahkan gorengan atau roti kering pun disantap. Kalau sudah darurat hehe….

Untuk mengelus agar kucing menjadi lebih jinak, elus bagian atas hidung ke arah kepala atas dan tengkuk. elusan di atas hidung biasanya membuat mata kucing menjadi terpejam. Elusan terus menerus membuat mata terpejam terus menerus, sehingga tangan lain bisa mengelus bagian badan. Kesemuanya ini mampu merileks-kan si kucing. Bahkan saat jinak, dia akan selalu mendekati kita, duduk di samping kita, tertidur, atau bahkan bisa kita pangku.

Untuk pola reproduksi, kucing betina suka didatangi oleh kucing jantan dalam kurun waktu tertentu. Tetapi saat hamil, melahirkan dan merawat anak, dilakukan oleh kucing betina sendirian. Bahkan konon kalo anak-anaknya jantan telon (telon:telu, mempunyai 3 warna), akan dibunuh oleh bapaknya, karena dianggap sebagai pesaing. Alhasil, induk kucing betina akan berusaha mencari tempat aman untuk melahirkan seperti gudang, kolong langit-langit atap rumah, lemari, dll. Setelah lahiran, si induk kadang memindahkan anak-anaknya beberapa kali dengan alasan keamanan. Teknik membawa anaknya cukup unik karena si induk akan menggigit seluruh leher si anak, tapi tanpa melukai, lalu di bawa ke tempat aman. Kalo anaknya 3, ya induk betina akan mondar-mandir 3 kali.

Selang waktu 30 tahun berikut, khususnya sebulan terakhir ini, dalam kehidupan di rumah kontrakan, ada beberapa kucing liar (baca: tidak dipelihara) yang hilir-mudik berseliweran sering mendatangi rumah, khususnya area tempat sampah. Agaknya mereka mencari makanan yang bisa dimakan. Kehidupan liar membuat bulu-bulu tubuhnya menjadi kusam dan tidak menarik. Sampai suatu waktu si kucing beranak seekor berwarna kuning tua (orange).

Dasar si kucing masih balita, ternyata pola sifatnya jauh berbeda dengan induknya. Kucing-kucing liar induk biasanya pantang kita sentuh. Tapi beda dengan anak-anak kucing. Sentuhan tangan kita seakan memberikan kehangatan dan perlindungan. Di awal memang mereka meronta, takut atau malu. Tapi lama kelamaan mereka akrab dengan sentuhan tangan kita. Bahkan dia akan cenderung mendekati kita, lalu mencoba menempelkan bagian kepala digesek-gesekkan ke kaki kita. Kalo dia sedang lapar, suara “meong” akan sering terdengar. Tapi kalo sudah kenyang, dia mendekat tanpa suara. Kode panggilan “ck ck ck!” sudah cukup memanggil kehadirannya. Atau dengan sebutan “pus…pus…”.

Kadang aku tersenyum sendiri melihat perilaku si kucing balibul (bawah lima bulan) ini. Kalo kucing besar, sekali dibentak akan kabur. Tapi kucing kecil ini ketika dibentak malah bengong melihatku. Matanya yang bening lugu seakan tidak tahu kode bahwa aku menyuruh dia pergi. Bahkan sekali disentuh, dia akan mengajak bergumul lucu, seakan benda lain dianggap sebagai teman bermainnya.
Kadang dia ditinggal lama oleh ibunya. Pertemuan sesekali dimanfaatkannya untuk meminta ASI atau sekedar tidur dengan selimut kehangatan dari induknya. Saat belajar mandiri, dia mencoba mencari alas karpet untuk mendapatkan kehangatan.

Beberapa hari yang lalu aku membeli anyaman kawat 2 meter untuk menutup pintu samping agar kucing tidak masuk ke wilayah dapur di belakang rumah. Maksudku agar wilayah jelajah mereka cukup di halaman depan. Tapi karena 2 mingguan si kucing kecil ini sudah akrab denganku, bahkan 2x aku mandikan dengan shampoo sisa, juga waktu mata kirinya sakit, aku coba tetesi dengan tetes mata bekas. Dan dia sering aku ajak main-main agar badanya reaktif seperti berkelahi; maka ‘perpisahan’ dengan pagar ini membuat dia 2 malam berjuang keras masuk ke halaman belakang. Hebatnya dia berhasil masuk 3x lewat celah sempit di pintu satunya lagi. Kadang sedih juga melihat dia berjuang keras agar bisa kembali ke halaman belakang. Sedih, karena aku seperti merampas kenyamanan hidupnya.

Setelah dia di halaman depan, kadang aku melatih dia dengan menaruh di atas cabang pohon rambutan dengan ketinggian 1,8 meter. lucunya, dia bukannya takut lalu lompat, tapi malah main-main dulu di atas, jalan ke beberapa cabang, menggigit beberapa ranting. Setelah 5 menitan baru dia nyadar, bingung gimana turunnya hehe. Akhirnya dia bisa turun walau harus melompat dari ketinggian 1 meter. Setelah kejadian itu, 4-5x aku sering menaruh dia di cabang yang sama. “buat latihan otot”, pikirku tersenyum sendiri.

Dia belum juga dewasa, ibunya sudah reproduksi lagi dengan 3 anak mungil dan lucu. Perilaku 3 anaknya ini lebih gemes lagi. Tadinya mereka beranak di rumah depanku, tapi karena pemiliknya pindah, mereka tahu harus ‘transmigrasi’ kemana.
Entah ide darimana, tahu-tahu aku mendapati 3 anak itu sudah menyusup di bawah mesin mobil tua-ku, tepatnya di atas besi body. Bertiga menyusup tanpa suara, agaknya mereka mencari kehangatan. Aku ngeri dan kawatir, andai tidak ketahuan, lalu mesin kujalankan, mereka bisa mati kepanasan. Gemesnya lagi, kalo kucing besar dibentak akan kabur, ini bertiga ketika tahu ada aku, malah menyusup makin erat diantara besi. haduh!
Akhirnya aku pindahkan ke dus mie bekas, sekedar mengamankan saat mobil mau jalan. Tapi mereka tidak nyaman dengan kotak kardus itu, karena saat aku pulang mereka entah ada dimana.

Ketika rutinitas memberika makan kucing-kucing dewasa sebanyak 2-3x sehari, aku menemukan kucing-kucing kecil itu menyusup di selokan depan rumah. Kebetulan ada selokan kering dengan tinggi lubang hanya 10 cm dengan panjang antar lubang 4 meteran. Mereka bertiga kompak menyusup di ruang itu dari pagi sampai sore. Hanya muncul saat induknya datang dan minta ASI. Saat aku datang, mereka kompak ngumpet ke dalam lubang. lucu dan menyenangkan memandang perilaku mereka ini. Semoga tidak nekad lagi menyusup ke mesin mobil yaa……

Kucing memang bukan manusia. Memberikan perhatian sewajarnya kepada sesama makhluk-Nya, adalah bagian dari upaya mempraktekkan untuk berbagi kenikmatan kepada seluruh alam ini. Berinteraksi dengan kucing membuat fenomena hikmah tentang kehidupan lain dari sisi kebinatangan, yang punya lapar dan butuh kasih sayang pula.

Yogyakarta, 20 September 2011 pukul 22.34 WIB

Ki Asmoro Jiwo

Malam…

Malam…
Ketika selimut sepi menemani hari-harimu
Keceriaan itu hanya pengalih rasa
Senyum itu mengguratkan duka

Malam…
Mungkin engkau selalu kelihatan ceria
Seakan semua berjalan tanpa cela
Sampai langkah tegap mengukir makna

Malam…
Ketika waktu tergelincir pagi
Kegelisahanmu makin menjadi
Bahwa semua hari kian sepi

Malam…
Engkau ingin tersenyum manja
Bersama orang-orang tercinta
Bukan sekedar kata bersambut kata

Carikan Aku Sepertimu

Dawai kisah masa lalu
Menyeruak dalam angan kosong
Ketika keluguan mewarnai langkah
Antara mau dan senyum tersipu

Kadang aku tersenyum ragu
Mengapa langkahku serba lugu
Selalu kalah dalam kesigapan peran
Hingga menerima uluran tanganmu

Waktu terus berjalan sendu
Sering kita bicara antar hati
Walau terbatasi jendela berjeruji
Tapi mesra menyusup pasti

Sampai suatu ujung perpisahan
Ketika kita mengambil jalan berbeda
Engkau memohon penuh tersirat
“Carikan aku sepertimu…..”

Berasa kelu lidah terucap
Tiada kata pas kan terlontar
Sendu hati memaknai ucapmu
Duka menyusup dalam batas antara

Lepas waktu melewati sewindu
Ketika langkah menemukanmu
Santun kutanyakan kabarmu
Tapi engkau lupa permohonan nan lalu

Sementara aku sangat mengingatnya
Walau bukan janji bersama
Sementara aku mengukir prasasti rasa
Meramu kasih dalam doa-doaku

Katanya Menungguku

Pertemuan demi pertemuan
Pandangan demi pandangan
Bait kata terujar penuh makna
Langkah berdua seakan tertuju sama

Kami dalam keluguan cinta ingusan
Ingin bertemu sepanjang waktu
Tanpa tahu kenapa begitu
Hanya senyuman slalu jadi penantian

Suatu kesempatan
Kami duduk di rerumputan
Tiada rayuan dan selalu jarak aman

Suatu kesempatan
Kami berjalan membedah malam
Tiada rayuan dan selalu jarak aman

Sampai waktu terus berjalan
Sampai jarak yang memisahkan
Sampai bulan berganti tahunan

Ketika aku tidaklah sendiri
Sedang menapaki pulau seberang
Terdengar dering penantian
“katanya engkau menungguku….”

Begitu lemah penuh pengharapan
Sukmaku menerawang kelu
Tanpa mampu berucap pembelaan

Walau dulu tiada perjanjian
Namun rasa mengalahkan segala
Semoga semua jadi keabadian
Semoga semua jadi kebahagiaan

Kemana Lagi

Bukan hanya satu-dua kali
Langkah terjatuh dan terjatuh lagi
Sungguh derita tanpa sisa air mata
Karna habis bekukan rasa

Aku ingin mencari cahaya
Walau kutahu diri ini siapa
Aku ingin membangun cita-cita
Walau melangkah jauh dari mula

Kini energi mengumpul pasti
Aku tersenyum di sela duka
Diantara nasib orang buangan
Bersama senyum sang buah hati

Dalam ratap aku berbisik doa
Smoga cahaya merasuk sukma
Inginkan kembali bersama cinta
Sejati-NYA Pemilik Segala Rasa

Gersang

Aku adalah aku seorang
Menerjang bersama prinsip
Melangkah atas nama kebebasan

Sekian lama asyik dalam kesendirian
Terkadang sepi akan kebersamaan
Terkadang gersang kasih sayang

Kuingin cinta dengan gelora
Melepas segala penat yang ada
Kuingin kasih yang meneduhkan
Tuk redakan amarah nan menggunung

Inikah bulan menjadi awalan
Untuk berkaca pada semua nestapa
Untuk mengoreksi kekhilafan nurani
Tuhanku, berikan aku kesempatan itu….